.

Disclaimer : Masashi KIshimoto

T rate

Genre : Drama/Romance

Main Pair : Sasuke X Naruto

Side Pair : Itachi X Sasori

Slight Pair : SasukeXHinata/ItachiXHinata/SasoriXKonan/NarutoXSakura/GaaraXNaruto/OrochimaruXSasori/KankuroXSasori/KakashiXSasuke/SaiXNaruto/DeidaraXHidan/ItachiXDeidara/SasukeXNaruko

I WANT YOU BAD

.

Chapter 3

Coffee Shop, 12:30 siang

Sasori semakin yakin kalau hari ini dia benar-benar dikutuk. Mulai dari melayani pelanggan yang memaksanya memilih majalah gay, pernyataan Konan yang membuatnya semakin terluka, dan sekarang dia harus bertemu pelanggan gila itu lagi yang sekarang sedang duduk di hadapannya sambil tersenyum-senyum sok akrab. Sepertinya takdir sedang ingin mempermainkannya kali ini.

"Sedang apa kau di sini?" Tanya Sasori ketus dengan sikap yang dingin.

"Hei, ini jam makan siang dan aku sudah sering datang ke coffee shop ini," balas Itachi sambil memanggil seorang pelayan dan memesan sebuah espresso dingin. "Lalu, apa yang kau lakukan di sini? Aku baru melihatmu di sini." Tanya Itachi heran. Dia sudah lama berlangganan di coffee shop itu dan baru pertama-kalinya melihat wajah Sasori di sana.

"Itu bukan urusanmu," jawab Sasori galak. Ia menyeruput Americano miliknya dengan perasaan kesal bukan kepalang sehingga membuatnya tersedak.

"Uhuk…, uhuk…." Sasori menepuk-nepuk dadanya sendiri. Itachi yang melihatnya langsung tersenyum geli. Sebegitu antinya kah pemuda itu terhadap dirinya?

"Makanya hati-hati." Itachi menyambar selembar tisu. Dengan hati-hati dan tanpa permisi lagi ia segera menyekakan tisu itu ke sudut bibir Sasori yang belepotan kopi.

Untuk beberapa saat Sasori terkejut dengan tindakan Itachi yang tak terduga. "A-apa yang kau lakukan?" Sasori dengan cepat menepis tangan Itachi.

"Aku hanya membantumu," jawab Itachi bersikap polos.

"Hn…, pelayan!" Sasori segera memanggil pelayan. Rasanya ia ingin cepat-cepat pergi dari sana, karena Itachi, pemuda mesum itu bisa melakukan apa saja terhadap dirinya. Ya, apa saja.

Itachi terheran-heran melihat sikap Sasori yang benar-benar seperti seorang haters padahal mereka baru bertemu tadi pagi. Dia merasa tak pernah berbuat salah pada pemuda itu, meski dia akui kalau sikapnya pagi tadi cukup menyebalkan.

Begitu membayar minumannya Sasori bergegas pergi meninggalkan coffee shop. Langkahnya begitu cepat sehingga ia tak menyadari kalau Itachi mengikutinya dari belakang.

.

.

.

Sasori akhirnya kembali ke toko. Sesaat ia sempat menghela napas lega karena berpikir ia akan lepas dari Itachi.

"Selamat datang kembali Sasori, dan selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?" Sapa Kabuto saat melihat Sasori (juga Itachi) masuk ke dalam toko.

Sasori mengernyit sesaat. Kemudian ia berbalik dan mendapati Itachi yang sukses berada di belakangnya sambil memasang sebuah cengiran lebar.

'Bagus Sasori. Sekarang kau punya seorang stalker!' Ucap batinnya frustasi.

.

.

.

Kediaman Uchiha, Konoha, 1:00 siang

Sasuke saat ini sedang bermalas-malasan di atas ranjang kesayangannya. Entah kenapa hari ini dia malas sekali beraktifitas dan pikirannya selalu tertuju kepada pemuda yang tak dikenalnya malam itu.

"Lepaskan aku brengsek!"

Sasuke kembali menyeringai. Entah kenapa suara erangan pemuda itu begitu nikmat terdengar di telinganya, dan bentuk pemberontakannya malah membuat ia semakin bergairah. Dia tak mengerti kenapa penolakan yang keras seperti yang ditunjukkan si pirang malah membuatnya penasaran. Kemungkinan besar dia straight, tapi itu tak masalah 'kan? Banyak di luar sana pria-pria berstatus straight mencoba hubungan homosexual, hanya untuk kesenangan dan ingin tahu tanpa dilandasi cinta.

Tok Tok Tok!

Namun lamunannya buyar seketika disaat terdengar suara ketukan pintu dari arah luar kamarnya.

"Sa-Sasuke-kun…, a-apa kau masih tidur? Ini sudah wa-waktunya jam makan si-siang. Sasuke-kun?"

Sasuke berjengit kesal saat tahu siapa pemilik suara yang memanggil dirinya.

'Hinata….' Sasuke menggeram dalam hati. Sungguh api kemarahan dan kebenciannya pada gadis itu belumlah padam. Tinggal serumah dengan mantan kekasih yang kini resmi menjadi iparnya sungguh sangat menyiksa batin.

Tok Tok Tok Tok!

Pintu kamar Sasuke kembali diketuk dan kali ini lebih keras. Sasuke yang merasa terusik akhirnya mau tak mau berjalan ke arah pintu.

"Sasuke-kun, maka siang su—"

Hinata yang sedang menggedor pintu sang raven langsung berhenti berteriak ketika pintu kamar pemuda itu terbuka dan memerlihatkan sang pemilik kamar sedang menatapnya tajam.

"—dah siap…." Gadis itu segera menundukkan wajahnya ketika matanya beradu pandang dengan manik hitam segelap malam milik Sasuke.

"Enyahlah dari hadapanku!" Bentaknya kasar.

"Ba-baik, a-aku mengerti aku tidak sepantasnya di sini. Pe-permisi!" Tanpa bicara apa-apa lagi, gadis indigo itu segera berlari menjauh dari kamar Sasuke. Sepintas Sasuke dapat melihat cairan bening meleleh dari kedua manik lavendernya.

Untuk sesaat Sasuke merasa bersalah karena telah membentak seorang gadis. Tapi, hei, apa pedulinya? Toh, gadis itu jauh lebih kejam dari dirinya. Jangan pikir ia tidak tahu apa yang telah diperbuat oleh Hinata di belakang Itachi. Gadis itu tanpa sepengetahuan keluarganya pergi ke klub malam untuk mencari kepuasan batin dengan pria lain, karena dia tahu kalau Itachi adalah seorang gay.

"Hn!" Sasuke yang masih berdiri di depan kamarnya akhirnya kembali ke dalam.

.

.

Kediaman keluarga Namikaze pada waktu yang sama

"Aaaah, kepalaku benar-benar pusing kalau disuruh mempelajari rumus-rumus ini." Jeritan seorang pemuda pirang terdengar di seluruh penjuru ruangan kamarnya.

"Kau payah Naruto! Baru segini saja kau sudah menyerah?" Sindir seorang pemuda berambut merah yang tak lain adalah Gaara. Sementara seorang gadis berambut merah-muda hanya bisa tersenyum geli melihat keduanya mulai bertengkar.

Pemandangan ini memang sudah sering terjadi. Terkadang Sakura merasa lucu sendiri melihat Gaara dan Naruto bertengkar seperti sepasang kekasih saja.

"Masa bodo, aku capek! Lagipula kau tidak tahu 'kan kalau semalam aku pulang pagi gara-gara harus membantu seorang pelanggan sinting pulang ke rumahnya dan setelah sampai di sana aku malah hampir diperkosa!" Naruto tanpa sadar kelepasan bicara dan malah menceritakan kejadian yang hampir merenggut keperjakaannya.

"Kau bilang apa!?" Sakura dan Gaara mendelik bersamaan saat mendengar ucapan Naruto.

'Ops…, gawat. Kenapa bisa kelepasan begini?' Naruto merutuki mulutnya yang bisa-bisanya mengoceh tiada henti sampai akhirnya ia jadi keceplosan sendiri.

"Naruto, cepat katakan padaku. Siapa orang berani-beraninya melakukan pelecahan terhadapmu?" Tanya Gaara dengan nada geram. Tanpa sadar pemuda itu malah mencengkram leher baju Naruto.

"Ow, Gaara apaan sih!? Sakit tahu!" Cepat-cepat Naruto menjauh dari Gaara yang mendadak kalap.

"Naruto, ayo cepat jawab pertanyaan Gaara! Kau ini kebiasaan. Kalau ada masalah selalu saja ditutupi!" Sambar Sakura ikutan kesal bercampur khawatir.

"Yah, itu memang benar. Tapi aku tidak apa-apa kok!" Jawab Naruto yang akhirnya mengakui kejadian tersebut.

"Tidak apa-apanya bagaimana? Kau itu nyaris saja jadi korban homosexual!" Gaara mendengus kesal sambil menunjuk-nunjuk Naruto. Dia tak habis, kenapa Naruto bisa menanggapi masalah ini begitu santai.

"Kita lapor masalah ini ke pihak yang berwajib," ucap pemuda itu tiba-tiba sambil berdiri dan bersiap untuk segera meninggalkan ruangan.

"E-eh? Ka-kau itu apa-apaan Gaara?! Tidak perlu lapor polisi segala!" Naruto melotot kaget. Lekas-lekas ia berdiri, menarik tangan Gaara, meminta pemuda itu untuk duduk kembali.

"Tapi masalah ini tak bisa dibiarkan begitu saja, Naruto!" Gaara ngotot untuk tetap melapor ke polisi. "Bagaimana kalau orang itu datang lagi?" Tanyanya dengan gaya yang posesif.

"Sudahlah Gaara. Aku rasa selama Naruto baik-baik saja, kita tidak perlu melaporkan hal ini ke polisi," sergah Sakura mencoba meredam emosi Gaara yang sudah sampai ke ubun-ubun kepalanya.

"Sakura, bagaimana kau bisa menanggapi hal ini dengan enteng?"

"Maksudku bukan begitu Gaara. Tapi, kita juga perlu bukti dan lain halnya yang akan memakan waktu. Jadi aku rasa, lebih baik masalah ini dilupakan saja selama Naruto memang tidak apa-apa. Kecuali, dia memang benar-benar mengalami hal 'itu'."

Pada akhirnya Sakura dan Gaara malah bertengkar sendiri. Naruto yang seharusnya dimarahi jadi tertawa geli melihat betapa lucunya kedua temannya itu. Menyadari ada sesuatu yang aneh, kedua remaja berkepala merah itu menoleh ke arah Naruto yang sedang mengamati mereka berdua sambil tersenyum-senyum sendiri.

"Naruto, apanya yang lucu?!" Sakura memasang wajah masam. Gadis itu tengah mengembungkan kedua pipinya. Di sebelahnya, Gaara ikut mengerutkan dahi.

"Ahahaha, tidak-tidak, hanya saja…." Naruto terdiam sejenak sambil mengulum senyum, "aku jadi merasa seperti seorang anak yang sedang dimarahi oleh 'Ayah' dan 'Ibu'nya," ucapnya kemudian dan kembali terkekeh.

"A-apa?" Wajah Sakura memerah seketika.

"Tuh 'kan! Apa kalian tidak tahu, kalau kalian itu cocok?" Naruto menunjuk Sakura dan kemudian Gaara.

"Jangan mengada-ngada Naruto!" Sakura mendengus. Tersirat dari raut wajahnya kalau gadis itu tak suka bila harus disandingkan dengan Gaara.

"Benar. Itu tidak lucu," timpal Gaara.

"Hei, jangan marah dong. Iya-iya, aku tidak akan bilang seperti itu lagi deh!"

'Dasar bodoh!' Batin Sakura dan Gaara bersamaan.

Naruto memang pemuda yang spontanitas dan terkadang sikapnya itu bisa begitu polos. Saking polosnya ia tak menyadari kalau kedua sahabat terdekatnya sama-sama jatuh cinta kepada dirinya.

.

.

Di sisi lain, entah bagaimana caranya kini Itachi sukses membawa Sasori pergi keluar. Kini keduanya sedang berada di dalam sebuah restoran klasik bergaya Inggris-Eropa, dilayani oleh para pelayan yang berdandan seperti pada jaman victorian. Itachi memesan 2 buah beef steak dan satu botol wine.

"Kenapa kau dari tadi melihatku begitu? Ayo cepat dimakan, Sasori." Itachi mengernyit saat melihat Sasori hanya memainkan makannya sejak 5 menit yang lalu.

"Kau…!"Sasori menunjuk Itachi gemas dengan sebuah garpu yang sedang ia pegang. "Sebenarnya apa tujuanmu? Kenapa kau mengajakku kemari?" Tanya Sasori dengan urat-urat kekesalan yang nyaris meledak.

"Hm? Apa tujuanku?" Itachi tampak santai menanggapi Sasori. Sesekali ia memasukkan potongan-potongan beef steak ukuran besar itu ke dalam mulutnya. "Tidak ada," jawabnya sambil memotong makanannya. "Aku hanya ingin mengenalmu saja." Kali ini Itachi menuangkan wine ke dalam gelasnya juga gelas Sasori. "Selain itu, apa kau lupa kalau saat ini kita sedang berkencan?"

Sasori benar-benar tak habis pikir bagaimana lagi berhadapan dengan Itachi. Rasanya ia ingin sekali membentur-benturkan kepalanya ke tembok, SEKERAS mungkin.

Damn, if you didn't want me back why'd you have to act like that?

It's confusing to the core cause I know you want it

Tiba-tiba saja ponsel Itachi berdering. Entah apa yang dibicarakan dari seberang sana, tapi Itachi tampak begitu terganggu.

"Iya-iya, aku akan segera kembali. Lagipula aku sedang bersama dengan seorang klien di sini," ucapnya dengan sedikit nada kesal.

'Dasar bohong!' Batin Sasori melihat kelihaian Itachi berkelit. Bahkan di hari pertama saja Itachi sudah berbohong saat bertemu dengannya. Tampaknya berbohong sudah menjadi kebiasaan bagi Itachi, atau jangan-jangan itu malah hobinya.

"Maaf ya, Sasori. Sepertinya aku harus meninggalkanmu sekarang."

Tanpa banyak bicara Itachi memanggil seorang waitress dan membayar bill-nya. Sasori yang masih bingung dengan perubahan sikap Itachi yang begitu mendadak tak sempat bertanya apa-apa, karena pemuda dengan rambut panjangnya itu segera berdiri dan meninggalkan restoran dengan langkah yang tergesa.

'Dasar aneh!' Teriaknya dalam hati. Kalau tidak ingat saat ini dia sedang berada di dalam restoran berkelas tinggi. Mungkin saat ini ia sudah mencak-mencak, mengeluarkan kata-kata penuh dengan sumpah serapah.

Sungguh, Itachi adalah orang teraneh yang pernah ia temui selama dalam hidupnya. Sikapnya yang mudah berubah membuatnya sulit ditebak apa sebenarnya maksud dari pemuda itu. Dia datang begitu saja dan tiba-tiba pergi sesukanya, bagaikan angin yang tak jelas mau bertiup ke arah mana.

Baiklah keadaan sekarang menjadi awkward bagi Sasori karena semua mata para pengunjung restoran tertuju kepadanya. Hei, apakah dia tampak seperti seorang gadis yang baru saja dicampakkan oleh kekasihnya? Ah, tidak. Sasori menggeleng. Darimana dia bisa menyimpulkan saat ini ia seperti seorang perempuan dan Itachi sebagai kekasihnya?

Sasori yang mulai tak betah tidak menghabiskan makanannya dan memilih untuk buru-buru cabut dari sana dengan perasaan jengkel.


Sore harinya di kediaman Uchiha. Hinata terlihat sedang berbicara serius dengan seseorang dari balik telepon. Sasuke secara tak sengaja melintas, dan secara samar-samar ia mendengar Hinata menyebut-nyebut nama Itachi di dalam percakapannya. Diliputi oleh rasa keingintahuan juga mengikuti insting, pemuda raven itu segera berjalan mendekati Hinata.

"Dengan siapa kau bicara dan apa yang sedang kau bicarakan?" Tanyanya langsung.

Mendengar suara Sasuke dari arah belakangnya membuat Hinata tersentak. Gadis itu buru-buru mematikan ponselnya, dan menyembunyikan benda elektronik berwarna hitam itu ke dalam saku bajunya.

"Sa-Sasuke-kun, ka-kau membuatku kaget saja," ucap Hinata terbata-bata dengan gelagat yang begitu mencurigakan. "Eh? Kau rapi se-sekali. Ma-mau kemana?" Tanya Hinata berusaha mengalihkan topik.

Hinata benar-benar mencurigakan. Tapi Sasuke memutuskan untuk tak menanyakannya lebih lanjut. Dia tahu kalau semakin dipaksa, Hinata akan semakin menghindar. Jadi pemuda itu memutuskan untuk mencari tahu sendiri secara diam-diam nanti.

"Hn. Aku hanya mau membeli minuman di depan gang," jawabnya dengan datar. Setelah itu, Sasuke berjalan pergi keluar rumah.

"Fiuh, syu-syukurlah Sasuke ti-tidak curiga…," gumam Hinata sambil menghela napas lega.

.

.

Waktu sudah menunjukkan pukul 5:00 sore waktu setempat. Sasuke berjalan dengan cepat menuju depan gang, di mana sebuah mesin kaleng minuman otomatis berdiri di sana. Sebenarnya ia bisa saja pergi ke supermarket terdekat yang banyak bertebaran di sekitar wilayah rumahnya, hanya saja di tempat itu tidak menyediakan minuman jus tomat favorite-nya.

Begitu tiba di tempat tujuan, Sasuke melihat seorang pemuda pirang memunggunginya sedang memukul-mukul mesin vending. Melihat kelakuan remaja itu membuat Sasuke geleng-geleng kepala dan bertanya sendiri dalam hati, apa semua anak jaman sekarang bertingkah barbar seperti itu? Tidak mendapat yang diinginkan langsung pakai kekerasan.

'Dasar anak jaman sekarang yang tidak tahu aturan. Bisanya hanya mrusak fasilitas umum saja,' ucapnya dalam hati sambil berjalan mendekati pemuda tersebut sebelum mesin itu benar-benar rusak dibuatnya.

"Kalau minumanya tidak mau keluar, masukan lagi uang koinmu, jangan menggebrak-gebrak mesin seperti orang kampung," ujar Sasuke dengan nada ketus sambil memasukkan 3 uang koin ke dalam mesin.

Klotak!

Minuman kaleng berwarna hijau jatuh dari dalam mesin vending.

"Ah, maaf. Sebenarnya aku tidak bermaksud untuk merusak mesin minuman ini." Pemuda pirang itu tanpa menoleh segera membungkuk untuk mengambil minuman kaleng yang telah keluar. "Tapi tadi adalah uang koinku yang terakhir dan aku ingin membelikan minuman ini untuk Adikku ja—"

Kata-kata pemuda itu terhenti ketika ia melihat pemuda raven yang berdiri di sebelahnya.

"KA-KAU!"

Kedua pemuda yang tengah berdiri di depan mesin vending kini sedang saling tunjuk. Namikaze Naruto dan Uchiha Sasuke sama sekali tidak menduga kalau mereka akan kembali dipertemukan oleh takdir secepat ini.

'Keparat!' Kesialan bagi Naruto saat melihat seringai si raven tertuju kepadanya.

'Bagus sekali.' Tapi menjadi suatu keberuntungan bagi Sasuke saat bertemu lagi dengan pemuda yang membuatnya selalu terbayang-bayang.

TBC


A/N : Sasuke on the move lol :v