.

Disclaimer : Masashi KIshimoto

T rate

Genre : Drama/Romance

Main Pair : Sasuke X Naruto

Side Pair : Itachi X Sasori

Slight Pair : SasukeXHinata/ItachiXHinata/SasoriXKonan/NarutoXSakura/GaaraXNaruto/OrochimaruXSasori/KankuroXSasori/KakashiXSasuke/SaiXNaruto/DeidaraXHidan/ItachiXDeidara/SasukeXNaruko

I WANT YOU BAD

.

Chapter 4

Kedua pemuda itu kini tengah berdiri saling berhadap-hadapan. Yang satu terlihat garang dengan sikap waspada, sementara satunya malah tampak senang dan memerlihatkan senyuman mesum(?)nya. Masing-masing dari mereka tenggelam ke dalam pikirannya sendiri-sendiri. Naruto yang berpikir, apa yang akan dilakukan oleh si raven? Apakah dia akan kembali berusaha melakukan tindakan asusila kepadanya? Lalu, Sasuke yang sedang memutar otak, bagaimana caranya ia bisa menikmati suara desahan indah itu lagi dari si pirang.

"Apa yang sedang kau lakukan di sini, hah!?" Tanya Naruto dengan geram.

"Seharusnya aku yang tanya. Kenapa kau bisa ada di sini, karena ini adalah kompleks perumahan Uchiha dan mayoritas yang tinggal di wilayah ini adalah keturunan Uchiha." Sasuke membalikkan pertanyaan Naruto dengan gaya yang arogan (di mata Naruto).

"Itu bukan urusanmu tahu." Naruto yang kesal memutuskan untuk segera angkat kaki sebelum kesabarannya benar-benar habis.

Naruto membalikkan tubuhnya, memunggungi si raven. Namun, belum ada satu langkah kakinya berjalan, tiba-tiba saja pemuda di belakangnya menarik kerah bajunya.

"Tunggu dulu. Kau pikir kau itu mau kemana?"

"Ck, lepas!"

Naruto dengan kasar menarik kerah bajunya, kemudian ia berbalik, menatap sang raven dengan penuh emosi. Sepintas terlihat ia seperti menggumamkan satu kata umpatan 'sialan'.

"Apa maumu, cepat katakan!?" tanya, atau lebih tepatnya perintah Naruto tanpa adanya urat-urat kesabaran. Ya, dia meluapkan segala perasaan kesalnya kepada Sasuke.

"Jangan lupa, minuman itu aku yang beli." Sasuke melirik ke arah Minuman kaleng berwarna merah-muda bercampur putih dan ada gambar dahan pohon Sakura di dalamnya.

"Ini ambil kalau mau, aku tidak butuh!" Naruto menggertakan gigi-giginya. Ia menyodorkan kaleng minuman tersebut dengan kasar ke tangan Sasuke.

Saat dirinya mengatakan tidak butuh, ia bohong. Jujur, Naruto sangat membutuhkan minuman tersebut untuk Naruko karena dia sudah tidak punya uang lagi untuk membelikan sesuatu kepada sang adik. Setidaknya ia ingin memberikan minuman teh sari sakura kesukaan Naruko di rumah sakit.

"Kau yakin tidak membutuhkan ini?" Ejek Sasuke dengan suara yang menggoda.

"Tidak. Lagipula aku baru tahu, ada orang yang begitu perhitungan hanya karena sekaleng minuman saja!" Meski si pirang menolak, tapi jelas secara tersirat kalau pemuda itu membutuhkan minuman yang sedang dipegang Sasuke.

"Aku akan memberikannya untukmu, dengan satu syarat…." Sasuke menggantung kalimatnya untuk menarik perhatian si blonde.

Benar saja dugaannya, ekor mata si pemuda pirang melirik ke arahnya, terlihat tertarik.

"Syarat apa?" Sasuke langsung menyeringai saat mendengar kata-kata yang ditunggunya diucapkan juga.

"Cium aku," ucap Sasuke sambil menunjuk bibirnya sendiri.

Naruto cengo, melongo setelah mendengar ucapan pemuda berambut hitam di hadapannya. Ternyata pemuda itu lebih sinting, gila, miring dari dugaan sebelumnya.

"Apa?" Naruto mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali. Berharap apa yang didengarnya hanyalah sebuah ilusi.

"Aku bilang cium aku. Apa kau ini tuli?" Suara arogan khas baritone kembali terdengar oleh Naruto. "3 menit," ucapnya lagi.

"Sini!" Naruto menyambar botol minuman yang masih berada dalam genggaman Sasuke dan langsung memasukkannya ke dalam tas ransel hitam yang ia bawa.

Tanpa pemberitahuan Naruto segera mendorong tubuh Sasuke dengan kasar ke tembok jalan dan langsung mencium bibir pemuda itu, kasar dan tanpa perasaan. Tetapi hal itu cukup dinikmati oleh Sasuke. Ia malah menyeringai setelah menyadari betapa amatirnya Naruto saat mencium dirinya.

Menit pertama, Naruto masih mencium Sasuke dengan galak, meski tanpa permainan lidah atau semacamnya. Menit kedua, ia mulai merasa tak nyaman ketika dirasanya tangan si raven masuk ke dalam kaos bajunya yang berwarna putih. Tapi, Naruto memilih untuk tak protes. Dia tetap fokus pada bibir Sasuke meskipun dia harus rela membiarkan bagian perut tubuhnya terekspos, tersapu oleh semilir angin dingin, juga oleh tangan asing yang mulai menggelitik di area sekitar perutnya.

Hingga akhirnya pada menit terakhir, Naruto buru-buru melepaskan Sasuke dan memisahkan diri. Naruto menjaga jaraknya dari Sasuke. Ia mengelap bibirnya sendiri dengan kasar sambil berkata, "kau curang! Memegang tubuh tidak ada dalam syaratmu tadi. Itu artinya kau harus memberikanku satu botol minuman lagi."

Sasuke menyeringai puas, tingkah lakunya seperti seseorang yang baru saja mendapatkan sebuah kemenangan besar.

"Ah, begitu ya? Tapi sayang sekali, yang tadi itu koin terakhirku. Kalau kau benar-benar menginginkannya, bagaimana kalau kau datang lagi besok sore kemari?" Ucapnya dengan sikap bingung yang dibuat-buat. Satu hal lagi, tentunya ia berbohong mengenai uang koin terakhir yang ia punya. Dia hanya ingin mencari kesempatan agar bisa bertemu dengan si pemuda pirang ini, berharap kalau cara ini akan berhasil, meskipun dia sendiri tak yakin kalau pemuda itu mau menemuinya lagi hanya demi satu kaleng minuman.

"Aku tunggu janjimu!" Balas Naruto sambil menunjuk Sasuke.

Setelah itu Naruto bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut, menyisakan Sasuke yang kini tengah berdiri sambil setengah tertawa.

"Hahaha, bodoh. Kenapa aku bisa lupa untuk menanyakan namanya?" Gumamnya pada diri sendiri sambil menepuk jidatnya.


Kediaman Uchiha, 6:00 Malam


"Selamat datang kembali, Sasuke-kun." Hinata sudah berdiri saja di depan pintu menyambut Sasuke, dan hal ini langsung membuat pemuda itu kembali bad mood setelah sebelumnya ia merasa senang bisa bertemu lagi dengan pemuda pirang itu.

"A-Ayah dan Ibu sudah menunggu di ruang makan," ucapnya lagi yang sama sekali tidak direspon oleh Sasuke. Hinata benar-benar sedang mencoba cari muka di depan Sasuke saat ini.

Sasuke lebih memilih meninggalkan Hinata. Ia berjalan melengos begitu saja ketika tiba-tiba suara Itachi terdengar dari arah belakang.

"Aku pulang semuanya!"

"Selamat datang kembali, Itachi!"

Hinata menampakkan seulas senyum dan menatap Itachi dengan riang. Sasuke melirik keduanya dari sudut ekor matanya.

"Ayah dan Ibu sudah menunggu di meja makan. Ayo makan malam bersama." Hinata mengapit lengan Itachi dan membawakan jas serta tas milik pemuda itu.

"Terimakasih, Hinata-chan," balas Itachi membalas senyuman Hinata.

Kemudian keduanya berjalan menuju ruang makan dengan kemesraan yang dibuat-buat. Sasuke jelas-jelas tahu kalau keduanya kini tengah memainkan sandiwara untuk mengelabui Mikoto dan Fugaku, kedua orang-tuanya.

Setelah pasangan pasutri jadi-jadian itu berlalu, Sasuke baru mengikutinya dari belakang.

.

.

.

Di meja makan keluarga inti Uchiha kini berkumpul tengah menikmati santap malamnya. Di sana duduk Fugaku dan Mikoto, sebagai pemimpin di dalam keluarga. Ada juga Uchiha Obito beserta istrinya yang kini sudah mengganti marganya menjadi Uchiha Rin. Obito merupakan kakak sepupunya Sasuke. Lalu ada Uchiha Itachi, Kakak Sasuke sekaligus pewaris utama kekayaan Uchiha dan di sebelahnya ada Hinata yang entah kenapa sampai saat ini masih belum mengganti nama belakangnya. Lalu, ada Sai yang merupakan kerabat jauh. Kedua orang-tuanya tinggal di Amerika, dia datang ke Konoha sebenarnya hanya dalam rangka liburan. Sejak kecil Sai dan Sasuke tidak pernah akur. Mereka selalu bersaing dalam segala hal, bahkan dari hal-hal sepele. Terakhir tentunya Sasuke, Uchiha Sasuke, putra kedua Mikoto dan Fugaku sekaligus anak kesayangan Mikoto.

"Bagaimana Hinata. Apa kau betah tinggal di sini?" Tanya Mikoto di sela-sela kesibukannya makan, memulai pembicaraan yang ringan.

"Te-tentu saja aku betah. Semua yang ada di sini ba-baik-baik," jawab Hinata yang dengan pintarnya menutupi segala sesuatu hal.

"Apa benar? Sasuke tidak menyulitkanmu 'kan?" Mikoto memasang wajah cemas. Yah, dia tahu siapa Hinata sebelum menikah dengan Itachi. Segurat rasa bersalah hinggap di hati wanita itu. Mikoto sesekali melirik Sasuke yang terlihat tenang-tenang saja.

"Ti-tidak kok. Sa-Sasuke-kun sama sekali tidak me-menyulitkanku," jawab Hinata lagi.

"Aku juga tidak berminat untuk mencari masalah dengannya," sambar Sasuke dengan dingin.

Mendadak pembicaraan yang tadi dibangun oleh Mikoto malah membuat keadaan di ruang makan menjadi tegang setelah mendengar ucapan Sasuke.

"A-ah, baguslah!" Mikoto tersenyum sambil memutar otak, mencari pembicaraan lain yang lebih tepat. "Lalu, kapan kalian berdua pergi berbulan madu?"

Itachi dan Hinata nyaris tersedak begitu mendengar pertanyaan Mikoto tentang bulan madu. Bagaimana tidak? Jangankan untuk berbulan madu. Tidur satu ranjang pun mereka tidak pernah. Selama ini Itachi selalu tidur di sofa yang ada di dalam kamar. Fugaku yang sejak dari tadi diam hanya mengamati reaksi Itachi. Tentu dia sudah tahu mengenai orientasi seks Itachi yang menyimpang. Dulu ia pernah memergoki putra sulungnya tengah berciuman dengan salah seorang karyawan di perusahaannya yang bernama Deidara. Tanpa pikir ulang, Fugaku langsung memecat karyawan itu karena takut Itachi akan semakin menyimpang.

"Aku akan mengajak Hinata berbulan madu kalau sudah ada waktu luang," jawab Itachi datar, terkesan tidak antusias.

"Iya, tapi jangan lama-lama! Ibu sudah tidak sabar ingin memiliki cucu!" Mikoto mengembungkan kedua-pipinya persis seperti anak ABG yang sedang ngambek.

"Pokoknya akan aku usahakan," jawab Itachi sekenanya. "Aku sudah selesai," ucapnya kemudian dan langsung berdiri meninggalkan meja makan.

"I-Itachi…." Hinata berusaha untuk memanggil Itachi agar kembali tapi suaranya hilang bagaikan tertelan angin.

"Sudahlah, Hinata. Mungkin Itachi sedang lelah karena seharian bekerja," sambar Mikoto sambil tersenyum tanpa menyadari kalau pembicaraan tadi sebenarnya sangat mengganggu Itachi.

"A-aku rasa aku harus menyusul Itachi. Maaf semuanya." Hinata berdiri dari bangkunya. Gadis itu masih sempat membungkuk untuk minta maaf sebelum akhirnya ia pergi mengejar Itachi yang pergi meninggalkan meja-makan seenaknya.

"Hn, aku juga sudah selesai." Tak lama setelah kepergian Itachi dan Hinata, Sasuke pun memutuskan untuk meninggalkan meja makan juga.

"Aku juga. Terimakasih atas makan malamnya." Disusul oleh Sai.

"Ara? Hari ini anak-anak kita terlihat terburu-buru sekali," ucap Mikoto dengan memasang wajah polos. Sementara Fugaku yang melihat sikap istrinya hanya bisa geleng-geleng kepala saja.

.

.

.

Hinata yang menyusul Itachi ke kamar tak jadi masuk ke dalam. Gadis itu tampak berdiri di luar, tepatnya di samping tembok kamar dengan sikap yang mencurigakan. Sasuke yang sebenarnya ingin naik ke atas dan tanpa sengaja melihat Hinata jadi heran. Kenapa gadis itu harus mengendap-endap seperti seorang penjahat. Apa yang sebenarnya sedang ia lakukan di sana?

"Apa yang sedang kau lakukan di sini, Sasuke? Melihat Istri orang dengan tatapan tajam seperti itu, eh."

Sasuke agak terkejut dengan suara dari arah belakangnya. Begitu ia membalikkan tubuh, Sai sudah berada di sana entah sejak kapan.

"Bukan urusanmu, Sai. Kau sendiri sedang apa di sini?" Balas Sasuke dengan sinis.

"Aku hanya sedang mengawasi sepupuku agar dia tidak berbuat macam-macam kepada iparnya," jawab Sai yang jelas sekali menyindir Sasuke. Sebuah seringai muncul pada wajah pucatnya saat ia melihat Sasuke menjadi kesal karena ucapannya.

"Jangan sok tahu. Aku dan Hinata sudah tidak ada hubungan apa-apa." Sasuke berkata dengan dingin. "Daripada kau mengurusi urusanku, lebih baik kau urus masalahmu sendiri." Kemudian Sasuke berlalu dari tempat itu menuju kamarnya yang berada di atas.

'Heh. Kita lihat saja nanti Sasuke. Aku akan menjatuhkanmu.'

TBC


A/N : Chapter ini memang fokus pada keluarga Sasuke dulu untuk memperjelas konflik di dalamnya.