Disc: KnB © Tadatoshi Fujimaki
Main pair: AkaHurryyy /who
eh eum... e-eheheh /apa uh, r r rasanya udah lama ya nggak aktif di ffn;; sekolah lagi sibuk-sibuknya (plus ceritanya uda mulai ngesok gak terlalu ngeansos lagi[?]) y ya pokoknya itu.
w-well beware sama alur yang kadang nggak jelas***
anyhow, please enjoy!
.
.
.
1st ∝ First Encounter
Furihata Kouki menghentikan mobilnya di ujung jalan, berhadapan langsung dengan suasana malam mencekam, di mana hanya ada secuil penerangan yang menandai kehidupan. Lima ratus meter di depan sana, lampu fluoresen berpendar sedikit, seolah magis menariknya menghampiri. Meninggalkan realitas keseharian dan berjalan menuju padanya.
Astaga.
Geleng-geleng, apa yang ia pikirkan? Ia akan bertambah usia tahun ini, kurang beberapa bulan dari sekarang. Usianya saat ini sudah dua puluh, mahasiswa Desain Komunikasi Visual tingkat akhir dengan masa depan terpapar menjamin; (mungkin desainer web atau visual merchandiser?) Tapi tidak, itu bukan minatnya. Sama sekali. Namun setelah poros dunia mempermainkan, sebanyak apapun yang dia mau, Furihata Kouki akan bertitel manusia paling munafik apabila ditanya perihal kesukaannya terhadap jurusan yang ia geluti.
Mesin mobilnya baik-baik saja. Ia memeriksa berulang kali malam sebelumnya, dan mendapat bonus peringatan tanpa maksud menakuti dari teman sekamarnya di asrama, Kuroko Tetsuya. Si biru muda sempat memaksa untuk ikut pergi dengannya, waswas akan ada 'bencana' (atau /kesengsaraan/, minimal) yang membahayakan. 'Jangan pernah ambil jalan pintas, Furihata-kun. Tidak lupa kan dengan cerita pengalaman senpai-senpai di fakultas Arsitektur Lansekap? Mereka pergi pada Selasa sore, dan dinyatakan hilang sampai seminggu, sebelum ditemukan di perbatasan kota satu bulan kemudian.'
"Uh..."
Mengingatnya Kouki jadi senak sendiri.
Ia masih berada dalam mobil, tidak memutar lagu apapun tetapi radio menyelamatkannya dari sunyi. Seorang pembicara berusaha melempar guyon, saling meledek dengan rekan sejawatnya. Nampaknya wanita..cantik? Kouki terkekeh kecil, bangga dengan kemampuan /menarik/ miliknya yang dapat menebak rupa asli seseorang hanya bermediakan perantara suara, dan tulisan fisik termasuk tanda tangan.
["Apa yang Anda ingin lakukan sepuluh atau lima belas tahun mendatang, Fuyuri-san? Ada rencana yang tidak sempat Anda kerjakan di usia muda Anda?"]
[Tawa elegan, anggun disenandungkan. "'Usia muda'? Wah. Hati saya sedikit terluka mendengarnya."]
[Ada balasan tawa, meski terkesan diburu durasi. "Jadi?"]
[Fuyuri ini pintar membaca suasana, gemerisik mencapai telinga pendengar. Sepertinya ia bergerak, dan tanpa sengaja berada dalam jangkau terlalu dekat dengan alat pengeras suara. "Hmm... apa, ya? Saya bukan tipe muluk, bumi terus berputar dan begitu juga saya. Saya mengikuti apa kehendak bumi, maka bumi menerima saya. Maka dari itu- saya rasa di umur saya yang genap tiga puluh ini segalanya mulus-mulus saja. Tidak melenceng, lurus dan sesuai harapan."]
Kouki menyandarkan siku di dasbor, tidak melamun namun tidak pula berkonsentrasi. "Fuyuri-san perlu menenggak ekspektoran sehabis siaran ini," gumamnya yang lebih ditujukan pada diri sendiri. Toh si perempuan juga tidak mengenalnya.
Kepak kumbang yang mendarat barang sejenak di kap mobil, seolah jadi tempat pemberhentian sesaat, menyentaknya kembali. Geleng kepala pelan, tidak terlalu kuat sebab hanya akan menyebabkan pening; Kouki menyalakan mesin dan berniat melanjutkan perjalanan. Masih ada dua setengah jam (tiga kalau macet). "Oh? Kupikir rusak?"
Aneh – lebih ke arah ganjil, sesungguhnya—karena ia yakin betul ada yang bermasalah dengan mesin mobilnya tadi. Renault miliknya memang keluaran lama, model yang nyaris berakhir di tempat penghancuran apabila ayah tidak memohon belas kasih. Menggaruk kulit kepala didasari bingung, tangan kanan diposisikan pada kemudi; benar-benar siap untuk melanjutkan perjalanan kembali... kalau saja—
Ckiit.
—tidak ada Koenigsegg yang entah darimana memotong jalan dan menabrak bagian depan Renault hadiah ulangtahun ke sembilan belasnya.
Bump.
Seberkas cahaya terang memaksa jalan masuk ke retinanya, hingga di akhir ia menyerah dan membiarkan; sebelum perlahan membuka mata. Orbita melekuk, meresponi ringis akibat pedih di seluruh wajah dan... sekujur tubuh. Biru lebam menghiasi tampang –yang menurut penilaian sendiri– di bawah standarisasi lelaki abad 21, lengan kirinya memiliki carut-marut, sedang kedua kakinya bergarit.
"...kh, astaga. Ada apa?"
Kouki Furihata tidak menggumam. Ia bertanya, pada sosok diredupi kegelapan yang berdiri menjulang di pojok ruang. Tidak terlalu tinggi, hawa keberadaannya memunculkan tremor tersendiri bahkan tanpa Kouki sadar akan perihal itu. "Tidak ada apa-apa."
Dusta, ia mencibir. Dalam hati. Apanya yang 'tidak apa-apa' dengan kondisi penuh luka begini? Minimalnya ia butuh perawatan medis dasar, atau penjelasan. Mengenai momen apa yang terjadi sebelum ini. Ingatannya tidak dapat diandalkan, sakit.
"Uh, tapi-"
Menghampirinya, sosok tersebut; membantu ia berdiri di atas kedua kaki sendiri. "Aku bilang tidak ada apa-apa, berarti memang seperti itu adanya. Kautidak beranggapan aku seorang pendusta, kan?"
Susah-payah Kouki mereguk ludah, mengumpulkan banyak-banyak keberanian, meresapi omelan panjang ibunya di saat amarah menguasai—omelan-omelan yang menyudutkan dan terkadang melukai perasaan—mengenai betapa harus ia menjadi berani dan berhenti bersembunyi di balik rasa takut. Dilihat dari manapun juga, sosok ini jauh lebih belia dan tidak berpengalaman daripadanya! ...w-walau dia lebih tinggi, sih.
Perbedaan yang cukup jauh. Tidak sekadar tiga-empat senti, kepalanya hanyasanya mencapai dada sosok ini. Padahal yah, Kouki senantiasa berolahraga rutin di gimnasium uni. (Kalau sibuk, seminggu tak melebihi dua kali. Sering tidak sama sekali, malah.)
"B-Berasumsi buruk terhadap orang baru itu l-lancang... jadi.."
"Bagus." Ia tidak menunggu sampai bibir yang terus bergetar itu menemukan kombinasi morfem tepat untuk penutup. "Kuanggap kaumengerti posisimu."
Posisi?
Kouki tidak menyadari ia dituntun, memutar kenop lalu mendorong ke depan. Bingung masih bersisa, membuatnya terus-menerus diam sampai keremangan mengusai; dan kini tertinggal suasana riuh rendah kafe berdekorasi menggilap – seperti emas baru diupam.
"Waaah." Decak kagum, otomatis suara dalam ukuran normal itu keluar darinya. "Siapa pendekornya?" Mengarah ke dinding berpelitur toska klorofil ketakjubannya.
Lelaki yang jadi lawan bicaranya, berdominan merah-merah; pemilihan warna teramat tepat untuk membuat kesan pertama sempurna – apalagi bila targetnya adalah kaum hawa. Setelan bermerek warna merah terang, celana korduroi merah lebih gelap, dasi panjang hitam yang terikat rapi, sepasang sepatu bersol tebal... (ia menduga itu untuk menyamarkan tinggi sebenarnya si pemakai?) —ah. 'Tuan Orang Kaya', tidak diragukan lagi. "Aku."
"Apa?"
Ada senyum mengembang di sana. Sedikit, tipis. Barang sedetik dan tak bertahan untuk waktu lama. "Aku yang mendekornya."
Mata cerahnya seakan menyuarai pemikiran, 'Serius?!'
Lelaki itu berjalan ke depan, menuju meja kasir—oh tidak, ia melewatinya, dan berhenti kemudian di meja kosong dekat pot-pot digantung. Kouki yang polos mengekor dari belakang, terlalu takut menyejajari orang yang bahkan aura di sekelilingnya saja sudah beda jauh dengan miliknya. "Kau mengikutiku?"
Tersentak di tempat, bukannya tidak memperkirakan bentuk interogatif semacam ini sejak mula sih. "I-Iya? A..Aku-" Bagaimana caranya bicara benar? Akan sangat menggelikan untuk bilang ia takut, tidak mampu membaur dengan keramaian asing di tempat asing pula. Meski ia juga tidak bisa melihat lelaki ini sebagai 'seseorang baik'. (Bisa dibilang kecanduan film kriminal mengontaminasi polah tingkah dan cara berpikirnya.)
Duduk. "Akashi Seijuuro."
Siapa?
Kelihatannya sang paras elok menaruh minat pada raut tidak mengerti yang dipampang Kouki. "Kaubisa beritahu namamu? Kupikir setidaknya bertukar nama tidak akan mendatangkan kerugian?"
"T-Tidak masalah, bagiku.."
"Demikian halnya denganku."
Dirinya tahu, ajakan berjabat tangan untuk makhluk-makhluk /kalangan atas/ macam 'Akashi-siapa tadi?' ini akan jadi perbuatan paling dungu. Maka otaknya dikerahkan untuk berpikir keras, sebelum punggung yang sedari tadi berkeluk sebab tegang dibungkukkan lama-lama, serta dalam. "Ak–" ah, sialan! Ujung lidahnya tergigit. "F-F- Furihata Kouki, mulai sekarang m-mohon bantuannya!"
Seijuuro mengalihkan iris dwiwarnanya, ke jendela besar berkaca mengkilap seolah selalu diseka bersih tiap kesempatan. Rongga lekung pada kedua bibir menjelas, sebelum seringai terbentang lebar-lebar di sana. Tidak lagi tipis, tidak lagi disembunyi-sembunyikan dari publik.
"'Mohon bantuannya', ya?"
.
.
.
A/N: jengjeng/
dicut dulu ya ahem. sebenernya di awal awal rencana mau langsung plek oneshot tapi gatau kenapa males kalo hasilnya panjang panjang jadi apa boleh buat(?)
buat yang udah menyempatkan diri ngebaca, m makasih!
psst RnR btw? o/
