KnB © Tadatoshi Fujimaki
psst... I genuinely am sorry about the tardiness and, uhm, i i it does not mean I abandon this one D;;;/
so uh, h happy reading folks!
2nd ∝ After The Rain
.
.
.
Zaaash.
Titik-titik air hujan jatuh serentak ke muka bumi, melembabkan tanah – jalanan setapak yang sedang dalam masa perbaikan dengan dana pemerintah perfektur. Adukan kapur untuk merekatkan batu bata tercecer, menciprati tiap pejalan kaki lewat apabila mereka-mereka itu tanpa maksud terperosok ke liang sebesar –kira-kira– sembilan belas sentian.
Berada di dalam bangunan tidak besar, yang dirancang nyaman dan menenteramkan; Kouki Furihata memperamat-amati, lagi-lagi ada orang malang yang melesak, tetapi kali ini jangan timpakan salah pada liang-liang tersebut. Benda padatlah yang jadi penyebab, dan baru ketika bibir kecilnya berniat membuka guna mengopinikan apa yang lewat dalam pemikiran sebentar, kedua bahunya dipegang.
"!"
Pemuda usia akhir fase remaja ini terlonjak, terperanjat pula. Biji kelereng menipiskan ukuran, menunjukkan bahwa tindakan tadi tiada lain semata keterkejutan. Bukan kepura-puraan belaka.
Tik-tik – detik meluncur bersamaan satuan partikel cair tembus pandang pada udara. Yang tadi dipegang saja kini diputarkan ke belakang, kernyit andalan yang sudah jadi tipikal; dari satu karikatur lelaki belia berperawakan tidak begitu tinggi. Pakaiannya rapi sebagaimana biasa, hanya sedikit lusuh dan kotor. Noktah menimbulkan bercak, meluber – taksirannya adalah tumpahan dawat di meja kasir (sewaktu pagi Kouki melihat wadah tempat dawat tak bertutup, dan sebagian likuidanya meluap mengotori tepi wadah).
"S-S- Seijuulo-san!"
Apiko-alveolar berkonsonan vokal. Kebiasaan, otot perutnya menegang pasti di momen ini.
Lelaki yang merasa nama depannya diseru melepas pegangan dari bahu sang 'pendatang', penegasan yang menggetarkan—namun tidak berkonotasi marah atau emosi negatif lain—bagi yang diajak bicara. "Aku tidak ingat kita membuat kesepakatan memanggil dengan nama depan?"
Oh, tidak demikian.
Sinisme /tidak akan/ mungkin terlintas dalam kepalanya, apabila berinteraksi dengan yang satu ini.
Kouki Furihata membeliak, tidak lagi terperangah akan ketololannya yang impresif, justru lebih ke arah maklum. Saking maklum sampai ia merutuk keras-keras dalam senyap, memilih tidak menyembunyikan raut memalukannya saat ini. Malu, malu, malu. Di mana cermin melonjong yang baru Seijuuro pasang kemarin? Ia ingin melihat seperti apa tampangnya sekarang! Memalukan, bodoh. Syukurlah jumlah pengunjung yang datang ke kafe sedikit susut hari ini.
Apa ia perlu memperterima kasihkan ketes-ketes hujan?
Yang sekalipun suram dan tidak kelihatan bersahaja barang di nominal terkecil tetap mencoba mempertunjukkan pemberian bantuan dengan langgam tak terduga?
"Uwaaahh—m-m-mAAF!"
Panik panik panik, bibirnya sampai mengerucut disertai tindakan mundur teratur. Suasana teduh yang mendorongnya meluruhkan kerasionalan, /siapapun tolong percaya padanya!/ Lagipula, siapa juga yang takkan luput dari fatal tiap kali bergerak seinci saja sudah dilayangkan dwiwarna indah membelalang?
Di momen ini Kouki /berupaya/ menanggalkan kebiasaan mengulum bawah bibit sampai bengkak, "H-Habis yang lain... m-m-memanggil begitu! A-Aku, entah mengapa tanpa sadar-" Lagi-lagi pembicaraan tidak mudah tertuntaskan, selagi mata berwarnakan cokelat tapakan tanah tersebut berkaca-kaca; hampir sembab—usaha kelewat keras menekan gejolak niatan mengosongkan isi perut. Tegang keterlaluan.
Akashi Seijuuro mengangkat alis sebelah kanan, kemeja putihnya bersih sekalipun tadi pagi-pagi sekali ia sempat turun tangan membantu mempersiapkan kelengkapan memasak di dapur (salah satu koki dikabarkan berkeperluan penting sehingga izin hari ini).
"Jadi kauingin dipanggil dengan nama kecilmu." Bantahan Kouki tak ubahnya kilahan aktris yang terlibat skandal dengan manager sendiri. Seijuuro terang-terangan menunjukkan betapa ia tak peduli dan betapa ketidakterimaan Kouki tak berpengaruh apa-apa terhadapnya.
Hal ini berimbas buruk, mimik spontanitas merona adalah yang pertama kali ditampilkan oleh lelaki dewasa ini sebelum terburu menyergah, "A-A..Aku tidak bilang begitu! Lebih nyaman pakai 'Akashi-san'..."
Fortuna tidak sedang menempatkan perhatinya. Bunyi klining disertai masuknya wanita berkuncir satu menyimpangkan fokus yang baru tadi dwiwarna tersebut terpaku padanya. Pelanggan pertama di deras hujan pagi. Senyum nyaris memecah di bibir kakunya, saat warna kemilau yang terefleksi oleh rambut itu memiripi perumpamaan embun yang hendak menetes dari selembar daun kemarin. "Ah, selamat datang!"
Ucapkan halo pada profesionalitas.
Seijuuro mengambil itu sebagai 'biar aku tangani', maka ia memberi tepuk-tepuk ringan ke bahu yang lebih tua sebelum kembali ke ruangnya di lantai atas.
"Otsukaresama!"
Ungkapan terakhir dari pegawai tersisa. Pintu kaca ditutup, meninggalkan lantun jaz dinamis menggema dilatari deras hujan. Kouki menaruh sapu dalam posisi berdiri, kemudian duduk dan menyeruput teh kayu manis. Hari ini tidak seberat dugaan. Kedatangan hujan mengurangi genap jumlah pelanggan. Walau itu berarti gaji yang diterimanya juga terkena imbas, setidaknya pemandangan menyejukkan hujan tidak pernah mengecewakan.
Kouki berdiri. Teh kayu manis seakan menggigit lidahnya. Ia butuh makanan ringan untuk dinikmati bersama teh. Maka ia menuju sepen, dan menemukan masih ada sisaan panettone dan buche de noel yang dibuat dalam porsi banyak untuk konsumsi pesta duta besar.
Apa Seijuuro mengizinkan?
Tapi ia lapar...
"Uh, b-b-bbbagaimana kalau ia tak senang akan ideku dan menjatuhi penalti?"
Yang ada di pikiran Kouki Furihata: 1) dicekik di tempat atau 2) dijadikan tiruan makanan berharga tak murah itu – dipaksa bertekuk dan di desak ke dalam sepen. Ia menyayangkan betapa tidak berharga dirinya kalau sampai itu terjadi.
"Hm, Kouki..mencari makanan?"
"J—Jangan sakiti aku!"
"..."
"..."
Lengan menyilang depan dada, berkusau; tanda ketakutan kentara—defensif. Seijuuro ditemui campur aduk antara berpikiran /apa anak ini sedang mencoba menggodaku?/ atau /aku bahkan belum memulai apapun/. Rigap mengambil putusan mempertiada kejadian tadi seolah bukan hal penting, mengkonsiderasi merah padam yang kini bersemayam di wajah sang Furihata.
Untuk sekali ini, Akashi Seijuuro berbaik hati.
"Kaubisa ambil satu atau dua potong untuk kaucicip. Ada kudapan lain di dapur yang batal dipesan Mr. Hyde, sebenarnya, kalau kaumau variasi berbeda."
"T-Terima kasih!" Masih tergeragap dikarenakan peristiwa barusan, buru-buru melarikan diri dari lokasi menuju ke dapur. Pokoknya habis makan langsung pulang! Pulang, pulang, pu- sebentar. Kalau aku pulang duluan berarti aku meninggalkan Akashi-san sendiri? Seperti biasa, jalan pikiran Kouki bercabang ibarat akar tunggang. Antara mencemaskan orang lain dan mengkhawatirkan keselamatan diri sendiri, yang mana yang harus diutamakan?
Piring kecil berisi kue yang masih dingin digenggam hati-hati olehnya. Salah satu pegawai baru pernah tertangkap basah memecahkan piring saji Seijuuro, (bukan yang ini—barang koleksi tetapi salah penempatannya, harusnya ada di rak khusus); dan berdasarkan kabar beredar, pegawai tersebut kemudian mengabdikan hidup sebagai budak sang Tuan Muda?
Berlebihan, berlebihan.
Kouki berusaha mengusir rumor-rumor jahat itu dari kepalanya. Kelewatan, manusia sekejam apapun juga tidak boleh diberi perlakukan semena-mena. Sisi heroik entah bagaimana mengakar dari ibu kepadanya. Sayang, sisi tersebut tidak disertai lengkap aksi-aksi kepahlawanan.
Saaaa.
Desau angin berduyun, peroneal gemetar dikarenakan hawa dingin menyusup melalui celah jendela; memukul-mukul kaca sampai ada bunyi. Pelataran di belakang basah, keramiknya saja, perabot penghias yang dipajang dekat pintu luput lembab. Memicing sedikit dan Kouki sudah bisa melihat rumah petakan mencuat dari tinggi bangunan pelatar.
Keputusan pulang membulat, tebal seakan tekad.
(Omong-omong, Seijuuro menyewakan untuknya sebuah kamar di penginapan bergaya tradisional. Biaya-biaya yang termasuk /mahal/ dibebankan ke kas, sebab dirinya menolak digratiskan begitu saja atas dasar belas kasih, sampai Kouki dirasa mampu membayarkan semuanya—meski Seijuuro sendiri bilang melunasi setengah saja sudah cukup.
Oh, untuk kompensasi, pembagian kerja untuknya diperpanjang satu jam lebih lama pada hari kerja efektif.
Rasanya adil, lumayan.)
Maka dikenakannya jas hujan tudung berbahan gerah, tas disampir di bahu. Dapur telah rapi, sisa makanannya juga sudah diberesi. Cucian piring dan gelas kotor yang menumpuk membentuk gunduk bisa ditangani besok, atau lusa, atau kapan saja. Yang jelas esok bukan harinya. Niatan merebah diri di tempat tidur setelah sampai di penginapan membumbung jauh, bayang kekelabuan deras hujan menakuti entah bagaimana. Dampak dari kebanyakan dicekok tonton horor oleh salah satu pegawai. Otaknya tidak bisa cepat mencerna bahwa tayangan-tayangan itu tak lain hanyalah fiktif. Bahan hibur yang diproduksi demi pamor, bukan nyata.
Nah.
Dua opsi melintas cepat dalam kesunyian,
keluar lewat pintu belakang atau depan? Hm.
Kalau dari depan ia bisa melalui jalan tikus yang ditunjukkan Seijuuro tempo lalu.
Sedangkan kalau dari belakang... ia bisa menghindari atasan merahnya tersebut-
.
.
.
.
.
"Oke. Belakang saja."
Sampai kapanpun tingkah laku chiwawa akan tetap melekat di dirinya, ya.
Krie—
Tepat sebelum pintu membuka separuh, Kouki mendapati sepasang lengan asing melingkarinya, mendekap daerah abdomen—apakah benar ini bisa dikategorikan 'dekap'?, dan seakan itu semua masihlah kurang, ia kembali dikejut dengan gumam lirih.
"Tunggu, tolong, tetap di sini."
A-
Udara tiba-tiba saja menghimpit, Kouki kesulitan menginhalasi. Ia tidak ingin berbalik. Tidak tidak tidak. Tidak mau. Degup miliknya berulang-ulang-ulang, keras memekakkan telinga, ia serasa bisa musnah di detik sekarang.
"A-Akash—i... s s san,"
Kouki bersumpah pelaku pemeluknya ini menegang mendengar kalimatnya. Jangan memusuhinya begitu, ia toh tak maksud merusak suasana.
Dekapan protektif berangsur lepas, percis mengikuti percik hujan yang terlepas gravitasi; seolah tiada hujah. "Maaf Kouki. Kaubisa pulang, biarkan aku mengantarmu." Lelaki itu membalik badan – belum pergi, "aku mengkhawatirkan kesehatanmu apabila terkena hujan. Kaubelum pulih total, masalahnya."
Bohong.
Itu bohong. Kouki bersikeras ia tahu. Pokoknya ia tahu, meski tanpa alasan.
Jumput tanahnya yang menutupi pandangan berserak seakan habis diacak, kepalanya di dongak karena Seijuuro masih berada satu ruangan dengannya.
"Akashi-san?"
"Kaulucu juga." Seringai kecil terbentang, merujuk pada jas hujan yang dikenakannya. Selanjutnya ia benar-benar meninggalkan Kouki sendirian, terbengong dengan rona lucu merembesi dua buah pipi.
"A-Apaan, sih... a-aku kok jadi aneh-"
