~FlorezztAquaLib~ Present ...

CAN'T WAIT YOU

Main Cast : Yoon Dujun (Beast)

Lee Sungmin (yeoja)

Cho Kyuhyun

And others .

Genre : Romance , Hurt , Drama

Rate : M

Warning : GS , Crack Pair , EYD ,Guest Star , OOC.

Desclaimer : all cast belong to God , except DooMin couple , They are belong to me , hohoho #INMYDREAM

Summary : Kenapa kamu harus kembali lagi ? Apa kau tak tahu seberapa besar usahaku untuk melupakanmu ? Setidaknya biarlah kali ini aku bahagia karena bahagiaku adalah bersamanya.

Chapter 3

FLASHBACK 3 TAHUN LALU.

"Menyebalkan ! Han hyung bodoh , menyebalkan. Semoga jodohnya semakin jauh !." Umpatan yang terbilang keras itu sungguh membuat pejalan kaki yang berpapasan dengannya amat risih. Namun , sang pengumpat sepertinya tak ambil pusing dengan itu semua. Terus dan terus mengumpat.

"Dasar Hangeng hyung bodoh , seenaknya saja menyuruhku memacari gadis gila itu. memangnya apa bagusnya berpacaran dengan perempuan gila seks seperti itu ? apa katanya tadi ? - ia bisa menyembuhkan trauma mu akan seks lebih cepat Dujuniie - , alasan apa itu? yang ada ia membuatku ingin cepat mati. Apa Hangeng hyung berniat membunuh ku ? aiiishh Menyebalkan !". Dujun mengacak rambutnya frustasi mengingat betapa sepupunya itu memaksa agar ia berpacaran dengan Victoria. Sunbaenya di kampus yang selalu mengekori kemanapun dia pergi. Sebenarnya Victoria sunbae sangatlah cantik dengan body slim serta rambung pirang halus sepinggang nya yang selalu melambai tiap ia melangkah ,tak mungkin Dujun tak tergoda , namun mengingat predikat sebagai penggila seks yang disandangnya membuat Dujun merinding sendiri. Tak mungkin ia yang trauma akan seks bisa tahan dengan wanita seperti itu. Tapi entah kebodohan yang menurun darimana sehingga sepupunya menyarankan agar ia berkencan dengan gadis itu dengan dalih penyembuhan traumanya. Sampai matipun aku tak akan mau ! batinnya kekeuh.

"toloong ! tolong !"

Sayup – sayup terdengar jerit seorang yeoja meminta tolong. Dujun terdiam sejenak untuk meyakinkan pendengarannya , namun suara itu tak terdengar lagi sehingga ia melanjutkan kembali langkahnya. Mungkin hanya perasaannya saja , pikirnya.

"tolooooong ! toloooooong !"

Namun kali ini suara itu kembali terdengar bahkan lebih keras. Menajamkan pendegarannya , ia mencoba mencari asal suara. Hingga langkah kakinya membawa ia menuju sebuah lorong sempit yang gelap. Kerasnya suara yang terdengar ditambah lagi dengan suara tawa seorang namja mambuat ia yakin bahwa suara itu nyata dan memang berasal dari lorong gelap itu.

Matanya bergerak gelisah melirik sekelilingnya. Setelah menemukan barang yang dicarinya , dengan mengendap ia memasuki lorong sempit tersebut sambil menggengam erat barang yang diambilnya yang adalah sebuah balok kayu panjang. Semakin dekat , semakin nyaring suara wanita tersebut , entah mengapa semakin ragu ia untuk melangkah. Namun mendengar betapa memilukannya jeritan minta tolong itu , Dujun membulatkan tekadnya untuk mendekat. Yang pertama dilihatnya adalah punggung seorang pria yang tengah menghimpit seseorang yang ia yakini si penjerit tadi. Seorang pria dengan kepala yang bergerak ke kanan – kiri seolah berniat mencium bibir si korban , jangan lupakan tangannya yang mencengkram erat pergelangan tangan korbannya. Ia mencoba mengamati wajah si korban namun tak bisa karena terhalang si pelaku hingga ..

Deg ..

Ia melihatnya. Seorang gadis berwajah putih dan berpipi chubby yang diyakini pastinya sangat mulus walau sekilas nampak lebam yang menodai wajah itu. Dengan bibir plum yang nampak membengkak entah karena apa , jangan lupakan pula sudut bibirnya yang terluka , sepertinya bibir itupun menjadi korban. Namun ada satu yang disesalinya , air mata itu , air mata yang mengalir mulus di kedua pipi chubbynya. Ditambah lagi tatapan mata itu , mengapa terlihat menyedihkan ? pikir Dujun. Dujun terus memperhatikan pahatan sempurna milik Tuhan itu tanpa mengingat tujuan awalnya. Hingga teriakan si pelaku terdengar.

"yak ! diam kataku ! berhenti bergerak !". teriak si pelaku yang mulai emosi karena korbannya terus bergerak . sungguh ia sudah tak sabar untuk mencicipi tubuh menggoda di depannya.

"hiks .. hiks .. toloong aku." Sang yeoja hanya mampu menangis. Awalnya ia merasa senang begitu melihat dari kejauhan nampak seorang pemuda datang namun kesenangan itu sirna begitu dilihatnya pemuda tersebut hanya diam mematung menatapnya.

Dujun kaget , bukan hanya karena teriakan itu tetapi juga isak tangis yang terdengar , kesadarannya kembali. Ia harus segera menyelamatkan gadis itu. Dengan langkah mengendap ia mendekati si pelaku. Ketika sekali lagi ia bertatapan dengan sang gadis , ia meletakkan telunjuknya di depan bibir memberi isyarat agar gadis itu tak meneriakan dirinya , yang bisa saja membuat pelaku menyadari kehadirannya. Ketika dirinya tepat dibelakang si pelaku , dengan seluruh kekuatan yang dia punya , diangkatnya tinggi – tinggi balok tersebut dan diarahkannya tepat di kepala pelaku.

Bukh .. si pelaku tersentak. Ia merasa kepalanya seolah terbelah menjadi dua. Dengan sisa kesadarannya , ia menoleh kebelakang dan dilihatnya seorang pemuda tengah memegang balok kayu dengan tangan gemetar. Ingin rasanya ia menghajar si penggangu acaranya namun sakit di kepalanya tak bisa diajak berkompromi. Ia terjatuh dengan bunyi yang sangat keras. Terkapar tak bernyawa dengan darah mengalir deras dari bagian kepalaya. Dujun menatapnya dengan ngeri. Balok kayu ditangannya jatuh begitu saja , tangannya gemetar. Perlahan tubuhnya merosot . Ia menangis . Ia memandangi tangannya yang gemetar , ia telah berdosa , pikirnya kalut.

Sementara yeoja yang ditolong hanya mampu mengerjapkan matanya , merasa aneh dengan seseorang yang telah menolongnya tersebut. Bukankah seharusnya ia membawaku pergi dari sini ? mengapa ia terlihat sangat terpukul karena berhasil menyelamatkanku ? apakah ia merasa bersalah dan menyesal karena menolongku ? apa yang harus aku lakukan ? bagaimana kalau ia sama seperti lelaki yang hampir memperkosaku itu?. Kira –kira itulah sebagian pertanyaan yang bersarang diotaknya. Kini ia kembali dilanda ketakutan. Ia berjongkok , menjaga jarak dengan Dujun. Memeluk tubuhnya sendiri sembari menangis , menggugamkan kata tolong berkali – kali.

Dujun mendengarnya , isakan itu. Ia mendongakan wajahnya , menatap sang gadis dengan tatapan sulit diartikan. Menghentikan tangisannya ,ia merogoh jaketnya , mengambil smartphone guna menghubungi seseorang yang pasti mau membantunya.

"Han hyung .." panggilnya begitu telepon diangkat oleh sepupunya itu.

Sang gadis tersentak kaget mendengar nama lain terucap dari orang di depannya. Ia mendongakan wajahnya dan iris matanya langsung bersibobrok dengan hazel pemuda didepannya yang ternyata sejak tadi tengah memandangnya. Ia takut ,melebihi ketakutannya tadi. berharap semua akan baik – baik saja dan orang di depannya bukanlah orang hanya diam mendengar percakapan pemuda didepannya yang sedang bertelepon.

"ne Juniie .. waeyo ?"

"hyung , a-aku baru saja membunuh orang. Apa yang harus aku lakukan ?"

Seseorang diseberang sana kaget dengan pengakuan Dujun.

"Juniie , neo jigeum oddiya ?" tanyanya panik.

"Molla.. hyung bantu aku .. aku takut.. hiiks ...a-aku menyelamatkan seorang yeoja tapi aku membunuh seseorang hyung ..dia mati .. aku membunuhnya." Dujun kembali menangis.

"Juniie , jangan menangis. Tenangkan dirimu. GPS mu aktif kan ? hyung pasti akan menemukan kalian. Sekarang tarik napas dalam dalam kemudian hembuskan perlahan. Buat dirimu senyaman mungkin , oke ? hyung akan segera kesana."

Sambungan terlihat mengikuti instruksi membuat dirinya tenang.

"Hangeng hyung akan segera datang. Kau tak perlu takut", Ucapnya sambil tetap menarik – hembuskan nafasnya. Sang gadis berangsur tenang."terima kasih" , bisiknya. Dujun hanya diam mendengarnya.

Mereka duduk dalam diam. Kini tak lagi berhadapan melainkan bersebelahan dalam jarak batas merapatkan punggung mereka di tembok ,sama – sama memeluk kaki yang tertekuk. Sungguh bosan menunggu Hangeng yang sejak setengah jam yang lalu ditelepon Dujun.

"Juniie !"

Dujun tersentak . Itu suara sepupunya. Dengan semangat ia bangkit berdiri bahkan ia menggenggam tangan gadis disampingnya."ayo , itu suara Han hyung. Dia sudah menemukan kita." , ajaknya. Mereka berlari keluar lorong gelap itu. Betapa senangnya Dujun melihat Hangeng diujung lorong sana. Sesegera ia memeluk sepupu tersayangnya itu dari belakang. Hangeng tersentak merasakan pelukan di punggungnya. Ia berbalik dan menemukan Dujun menatapnya dengan mata berkaca – kaca. Disebelahnya nampak seorang gadis yang bisa dibilang keadaannya tidak baik – baik saja.

"hyung ~ , akhirnya kau datang. Tadinya aku takut kau tak akan menemukan kami" Ungkapnya senang.

"bukankah aku sudah berjanji akan menemukan kalian ? harusnya kau tak perlu takut lagi. Apakah ini gadis yang kau tolong ?" tanyanya seraya menatap gadis disebelah Dujun.

"ne hyung. Dan orang yang ku bunuh ada di ujung lorong itu Apa yang harus kita lakukan padanya ?"

"tunggu sebentar". Hangeng bergerak agak jauh dari tempat mereka berdiri. Nampak ia tengah menghubungi seseorang. Begitu panggilan selesai , ia kembali menghampiri sepupunya.

"Hyung sudah menelepon polisi dan melaporkan kejadian ini. Mereka sebentar lagipasti datang . dan mungkin besok kalian akan dipanggil ke kantor polisi sebagai saksi. Cukup ceritakan dengan jujur dan kalian akan aman. Sekarang ayo kita pulang , kalian harus istirahat dan lagi , kita harus mengobati lukamu", ucapnya sembari menunjuk luka disekitar bibir si gadis.

"ne .. terima kasih .. sekali lagi terima kasih" , sang yeoja membungkukkan badannya berkali – kali sebagai ungkapan terima kasihnya ats pertolongan mereka.

"sudah ..sudah .. ayo pulang", Dujun menghentikkan aksi membungkuk sang yeoja. Memberikan senyum manisnya kepada yeoja yang tengah menatapnya lekat ,menggenggam tangannya lembut kemudian menghampiri Hangeng yang ternyata sudah stay di dalam mobilnya yang diparkir tak jauh dari situ.

Sepanjang perjalanan ,keduanya hanya duduk terdiam di kursi belakang. Masing – masing menatap jendela seolah pemandangan di luar sana sangat sayang untuk dilewatkan. Hangeng yang mengemudikan mobil merasa kesal , ia merasa menjadi seorang supir sekarang. Supir dengan dua majikan yang tengah melakukan perang dingin. Bosan juga ia kalau harus terus diam hingga ia membuat keputusan untuk memulai pembicaraan.

"kau , siapa nama mu ?" tanyanya sembari melirik para penghuni belakang mobilnya melalui kaca di depannya.

Keduanya tersentak kaget , tersadar dari lamunan.

" kau bertanya nama ku ?, apa hyung lupa ? aku Dujun , sepupu tersayang mu" , Dujun lebih dulu merespon ucapan Hangeng sementara gadis di sebelahnya hanya mendengar dalam diam.

"apa kau pikir aku sudah tua sehingga harus melupakan nama sepupu ku sendiri?"

"hyung hanya mengatakan – kau- jadi kupikir hyung bertanya padaku. Lagipula hyung kan memang sudah tua"

"yak , akhir bulan lalu umur ku baru 31 tahun. Tentu saja itu belum dikatakan tua."

"tapi awal bulan depan umur ku baru 27 tahun. Itu berarti kau sudah tua. Dan lagi , keriput diwajah mu itu tak bisa menipu , hyung"

"yak !setan ini benar – benar !"

Hangeng kesal. Ternyata sepupunya ini masih bisa membuatnya frustasi padahal tadi ia yang terlihat begitu frustasi.

'hihihi ..."

Mendengar suara tawa tertahan di sampingnya Dujun menoleh dan mendapati yeoja disebelahnya tengah menatapnya dengan mata yang menyipit layaknya bulan sabit, cantik , batinnya bersorak wajahnya tertutupi oleh tangan namun tak mengurangi kadar kecantikannya. Dujun terpesona . Suara itupun layaknya melodi romantis yang mampu menenangkan. Dujun makin terpesona , membuat jantungnya berdetak di ats normal. Ia tak bisa mengalihkan tatapannya. Tak akan mau melewatkan moment membahagiakan ini barang sedetikpun.

Merasa diperhatikan terlalu lama , Gadis itu menghentikan tawanya. Menetralkan suaranya dan tersenyum manis kearah Dujun.

Oh , aku sakit dirumah sakit ada jantung yang sedang menganggur ? karena rasa – rasanya aku harus segera mengistirahatkan jantung yang sekarang aku pakai , batin Dujun kalut. Betapa bodoh pemikirannya.

"maaf" , ucap sang yeoja.

"tak apa agassi. Oh iya , tadi aku bertanya siapa nama mu ?" tanya Hangeng.

"joneun Lee Sungmin imnida. Terima kasih atas bantuannya Hangeng-shi"

" kau tahu namaku ? seingatku , aku belum memperkenalkan diri padamu"

"tadi namja yang menolongku ini tak sengaja menyebut namamu" , ucapnya sembari menunjuk Dujun disebelahnya.

"kau tahu namaku tapi kau tak tahu siapa nama orang yang menolong mu? Hehehe , kau lucu sekali", Hangeng terkekeh. "yaa !Pabboya , ayo perkenalkan dirimu. Jangan hanya menatapnya tanpa berkedip begitu. Aku takut bola mataku tak lama lagi akan keluar", ucap Hangeng menyadarkan Dujun. Dujun salah tingkah , ia malu sepupunya memergokinya menatap yeoja yang baru diketahuinya bernama Sungmin itu tanpa berkedip. Sungmin pun nampak salah tingkah mengetahui dirinya ditatap seintens itu.

"ehem" , Dujun berdehem sebentar menetralisir kegugupannya. Dengan ragu , ia menjulurkan tangannya ke hadapan sang yeoja bermaksud memulai perkenalan. Sungmin yang melihat uluran tangan itu sontak menerimanya. Mereka berjabat tangan. Dujun dapat merasakan betapa halus tangan gadis didepannya , sementara Sungmin pun tengah mengagumi tangan digenggamannya , tangan yang telah menyelamatkannya.

"perkenalkan , namaku Yoon Dujun. Kau bisa memanggilku Dujun"

"ne , aku Lee Sungmin , kau bisa memanggilku Sungmin. Hm, apakah boleh kalau aku memanggilmu Juniie Oppa ?"melihat tak ada respon dari sosok didepannya , Sungmin buru – buru menjelaskan bahwa ia hanya ingin berterima kasih dengan menciptakan suasana yang tidak kaku diantara mereka.

"eoh ? ten-tentu saja" , malu juga Dujun untuk mengakui bahwa ia sangat senang dipanggil dengan panggilan semanis itu dari Sungmin. "kalau begitu aku akan memanggilmu minnie , apakah boleh?", tanyanya.

"ne ^^"

Senyuman manis Sungmin sudah tak bisa tertahan lagi mengetahui pahlawannya tak menolak permintaannya , bahkan ia juga memberikannya panggilan yang amat manis. Begitupun Dujun , tak menyangka akan merasa sebahagia ini hanya karena panggilan manis dari , bukankah semua anggota keluarga memanggilnya Junnie ? bahkan yang lebih muda darinya memanggilnya oppa , lantas apa yang membedakannya sampai Dujun sebahagia itu. Mungkin karena itu Sungmin.

Mereka saling melempar senyum manis dengan tangan yang tanpa sadar tetap bertaut. Sementara Hangeng di depannya hanya tersenyum penuh arti.

Itulah awal kisah mereka. Awal cinta yang sebenarnya telah ada bahkan sebelum mereka saling mengenal. Awal kisah yang seiring waktu kebersamaannya membuat mereka perlahan sadar bahwa mereka ternyata saling membutuhkan dan tak pernah mau kehilangan satu sama lain. Dujun yang merasa bahwa ketika berada di dekat Sungmin , traumanya akan seks perlahan menghilang. Kalau dulunya ia sangat menghindar dari sentuhan para yeoja , sekarang berbalik menjadi sangat ingin Sungmin menyentuhnya walau hanya berpegangan tangan. Sentuhan Sungmin benar-benar disukainya. Ia yang terkadang tak mampu mengontrol keinginannya akhirnya memutuskan untuk menjadikan Sungmin miliknya agar ia bisa bebas meminta Sungmin menyentuhnya , tentu saja lebih dari sekedar berpegangan tangan. Dan setelah Sungmin menerimanya , ia tak segan – segan mencuri ciuman gadis itu dimanapun mereka berada hingga terkadang membuat Sungmin sangat kesal. Dasar mesum !.

Sungmin pun merasakan hal yang sama. Pengalaman pahitnya akan cinta membuat ia menutup hatinya bagi pria manapun. Terkadang ia berpikir bagaimana mungkin ia bisa mencintai Dujun padahal awal pertemuan mereka tidaklah baik. Ia dengan keadaannya yang hampir diperkosa dan Dujun dengan sedikit kenekatannya. Tapi mungkin itulah yang membuat ia perlahann tapi pasti semakin mencintai pria itu. Ditengah ketakutannya , ia tetap melangkah maju untuk menolongnya. Mengabaikan ketakutannya merasa bahwa sosok yang berani melawan ketakutannya sendiri inilah yang mampu benar – benar melindunginya dan mencintainya dengan tulus. Sehingga ketika Dujun mengungkapkan perasaannya , tanpa ragu ia menerima. Dan baru disadari betapa mesumnya kekasih hatinya ini. Tapi semesum apapun Dujun , ia tetap mencintainya. Sangat mencintainya.

FLASHBACK END

T.B.C