~FlorezztAquaLib~ Present ...
CAN'T WAIT YOU
Main Cast : Yoon Dujun (Beast)
Lee Sungmin (yeoja)
Cho Kyuhyun
And others .
Genre : Romance , Hurt , Drama
Rate : M
Warning : GS , Crack Pair , EYD ,Guest Star , OOC.
Desclaimer : all casts belong to God , except DuMin couple , They are belong to me , hohoho #INMYDREAM
Summary : Kenapa kamu harus kembali lagi ? Apa kau tak tahu seberapa besar usahaku untuk melupakanmu ? Setidaknya biarlah kali ini aku bahagia karena bahagiaku adalah bersamanya.
Chapter 4
Hangeng bergidik ngeri melihat pemandangan di depannya. Sepupu tampan nan menyebalkannya tengah tersenyum mesum memandangi sebuah bingkai foto yang pasti dapat dengan mudah ditebak foto siapa itu. Sepertinya sepupunya itu tengah serius hingga tak mendengar pintu ruangannya diketuk beberapa kali. Terkadang dewa batin jahat Hangeng selalu menyuruhnya untuk membuang benda itu agar Dujun bisa lebih fokus dalam bekerja. Namun niatan itu sirna begitu ia memikirkan betapa sepupunya itu tengah bahagia sekarang dan dia sama sekali tak ingin menghilangkan kebahagiaan itu.
PLETAK !
"ough , yak hyung ! apa yang kau lakukan ?", Dujun mendelik marah begitu merasakan pukulan hebat dikepalanya.
"apanya yang aku lakukan ? harusnya aku yang bertanya , apa yang kau lakukan ?", balas Hangeng sengit.
"aku ?",Dujun menunjuk dirinya sendiri."tentu saja sedang membaca berkas – berkas yang harus aku tanda tangani , memangnya apa lagi ?", lanjutnya.
"benarkah ? sejak kapan berkas – berkas perusahaan kita berubah bentuk seperti itu ?", Hangeng menunjuk bingkai foto yang tengah dipegang Dujun dengan dagunya.
"eoh ? ini ?" tanya Dujun seraya menyodorkan bingkai tersebut."kau tahu , hyung ? membaca berkas yang banyak ini membuat mata ku sakit. Aku berpikir daripada mataku buta karena kesakitan seperti itu , lebih baik aku mengistirahatkannya sebentar. jadi aku memutuskan untuk menatap wajah tunangan cantikku ini walau sebentar. aku baru mulai menatapnya lima menit yang lalu tapi kau sudah menggangguku."
"kau tahu Juniie chagi , hyung mu ini tak suka dibohongi"
"aku tak berbohong , hyung. Kau tentu tahu kan bahwa aku sangat cinta kejujuran"
"aku sudah berdiri di depan pintu ruangan mu sejak sepuluh menit yang lalu dan aku tak melihat hal lain yang kau alakukan selain memandangi foto itu dengan senyum mesum mu", ungkapnya kesal.
"kalau begitu mana berkas yang tadi kau baca ?" , tanya Hangeng begitu menyadari tak ada respon dari Dujun
Dujun membulatkan matanya mendengar pertanyaan Hangeng. Tangannya bergerak kesana – kesini mencari berkas yang katanya telah ia baca. Mati aku!berkas apa yang kau baca ? jelas – jelas kau hanya melamun sejak tadi , batinnya mengumpat. Tentu saja berkas itu tidak ada karena semenjak sampai kantor tadi ,hal yang ia lakukan hanyalah melamun. Tangannya bergerak tak sabaran mencari berkas yang setidaknya dapat dikorbankan agar sepupunya itu percaya. Namun nihil , setelah mengobrak – abrik laci meja serta sukses membuat mejanya berantakan , tak ada berkas apapun. Semua berkas yang ada hanyalah berkas yang telah ditanda tanganinya kemarin dan Hangeng mengetahui semua berkas itu , jadi mustahil untuk menjadikan mereka korban.
"ayoo mana ? berikan berkas itu !', Hangeng berkata tak sabaran. Tangannya menengadah tepat di depan wajah Dujun , meminta berkas itu dengan segera.
'hehehe ..' , Dujun berbalik dan memberikan senyum ala kadarnya kepada Hangeng. Berharap Hangeng akan memaklumi dirinya , lagi. Namun Hangeng tetaplah Hangeng , manusia biasa yang memiliki batas kesabaran dan sepertinya kesabarannya kali ini benar – benar habis ,rahangnya mengeras. Hangeng tak tahan lagi. Melihat ekspresi Hangeng yang menakutkan itu , Dujun hanya mampu menundukkan kepalanya takut.
"kau !" , tunjukkan pada Dujun yang diam dengan kepala tertunduk."mulai besok jangan datang lagi ke kantor. Kau diskorsing selama dua bulan", lanjutnya. Dujun kaget , ia tak menyangka akan keputusan Hangeng.
"hyung , sekarang bukan zaman sekolah lagi yang bila salah akan diskorsing. Aku sekarang sudah bekerja. Apa istilah itu masih berlaku ? dan lagi apa yang akan aku katakan pada Sugmin bila ia melihatku selalu di rumah selama dua bulan ? ayolah hyung , aku minta maaf ne..", Dujun mencoba bernegosiasi. "aku akan bekerja dengan baik mulai sekarang , aku tak akan mengecewakan mu" , janjinya.
"aku – tak – percaya – dan – aku – tak – peduli. Ini adalah perusahaan ku dan itu adalah keputusan ku , mutlak !" , putusnya final. Tak lupa ia menekankan tiap perkataannya agar Dujun sadar bahwa ia benar – benar marah sekarang. Hangeng keluar ruang tersebut dengan bunyi debam keras ketika ia menutup pintu. Sementara penghuni ruang di dalamnya hanya mampu menarik nafas lelah dan frustasi. Haaaa , apa yang harus ku katakan pada Sungmin ? , pikirnya.
Sungmin baru saja selesai memasak untuk makan malam ketika ia mendengar suara pintu terbuka. Bergegas ia ke depan dan menemukan tunangannya , Dujun tengah bersandar pada sofa di ruang tersebut. Sepertinya ia sangat lelah , bahkan ia tak melepaskan jas dan melonggarkan dasi yang dikenakannya seperti biasa. Sungmin menghampirinya , duduk tepat di samping tunangannya itu. Menyandarkan kepalanya di bahu Dujun. Merasakan beban di bahu kirinya , Dujun tersenyum senang dan melingkarkan lengan kirinya memeluk gadis itu. tak ada yang bersuara karena Sungmin tahu bahwa Dujun sedang lelah , amat sangat lelah dan yang dibutuhkannya saat ini hanya ketenangan. Dujun merasa tenang sekarang , hanya dengan Sungmin berada dipelukannya. Ia merasa semua masalah hilang seketika , merasa bahwa masalah itu tak lagi penting untuk dipikirkan karena baginya yang terpenting hanyalah Sungmin.
"Minnie .." panggilnya.
"ne , Oppa", Sungmin merasakan rengkuhan di sekitar tubuhnya mengerat. Tanda bahwa ada sesuatu yang hendak disampaikan Dujun. Ia menunggu , namun Dujun tak lagi melanjutkan kata – katanya.
"waeyo Oppa ?" , akhirnya Sungmin memberanikan diri untuk bertanya.
"ani ..", hanya itu yang diucapkan Dujun.
Awalnya ia berpikir untuk memberitahu Sungmin perihal skorsing yang diterimanya , tapi memikirkan bawa nanti gadis itu akan bersedih apalagi bila mengetahui bahwa penyebab masalah yang dialaminya adalah foto gadis itu , bukan tak mungkin Sungmin akan makin bersedih dan memutuskannya karena Sungmin selalu berkata "bila nanti aku menjadi penyebab kau mendapat masalah apalagi masalah besar , kita harus berpisah. Aku tak mau menjadi perusak kehidupan mu , Oppa", begitu katanya. Karena itu sebisa mungkin ia selalu menghindari segala sesuatu yang mampu membuatnya bermasalah apalagi bila berkaitan dengan Sungmin , mereka harus dijauhi. Tak akan pernah rela ia berpisah dengan makhluk imut mungil itu. Namun kali ini sepertinya ia kebobolan. Ternyata pesona kelinci imutnya itu benar – benar mematikan bahkan setelah dua tahun mereka bersama. Dengan amat terpaksa , ia harus merahasiakan masalahnya itu dan berharap semoga dua bulan ke depan ia tak benar – benar menjadi seorang pengangguran.
Sungmin merasa heran. Ia tahu pasti ada yang tak beres dengan tunangannya. Tapi melihat Dujun yang tak mau memberitahukannya , mau tak mau membuat Sungmin pun bungkam. Ia tak mau mencampuri urusan pris itu terlalu jauh.
"ah matta !", Sungmin terlonjak begitu mengingat sesuatu. Ia harus mengatakannya pada Dujun.
'waeyo chagi ?" , Dujun duduk tegak merespon lonjakan tersebut.
"tadi Eunhyuk menghubungiku , katanya ia akan menikah dengan Donghae akhir pekan ini."
Dujun berusaha mengingat dua nama yang barusan ,mencoba mengingat siapa mereka dan apakah mereka pernah bertemu. Namun sekeras apapun ia berpikir , ia tetap tak menemukan jawabannya.
"Eunhyuk ? Donghae ? siapa mereka chagi ?" , tanyanya.
"Oppa melupakan mereka ?" , Sungmin kaget. Matanya membulat lucu , membuat Dujun gemas setengah mati. Dujun mengangguk kaku.
"mereka teman ku yang kita temui di cafe Kona dua minggu lalu."
Dujun mengerutkan keningnya lagi , mencoba mengingat lagi.
"apa Eunhyuk itu gadis berambut pirang yang tepat dua bulan lalu baru datang dari Loondon ?" , tanyanya ragu.
'ne oppa.", Sungmin mengangguk antusias.
"apa Donghae itu pria yang waktu itu bersamanya ? si pemilik cafe itu ?" , tanyanya lagi.
"ne oppa , benar", Sungmin makin senang mengetahui bahwa Dujun mengingat mereka. Bibirnya melengkung dengan sangat indah. Membuat Dujun tak tahan untuk mengecupnya. Namun harus ditahan.
"apa kau mau kita datang ke pernikahan mereka ?", sepertinya Dujun tahu maksud Sungmin mengatakan perihal pernikahan itu.
"iya oppa , itupun kalau oppa tidak sibuk. Mereka tak mengizinkan ku membantu persiapan pernikahan mereka jadi aku memutuskan bahwa aku harus datang" , Sungmin mengerucutkan bibirnya mengingat bagaimana ia memohon pada kedua sahabatnya itu agar diperkenankan membantu persiapan pernikahan mereka tetapi niat baiknya itu ditolak mentah – mentah. "kau cukup membantu kami dengan segera menikah , Min" , itu kata yang mereka ucapkan dulu. Benar – benar menyebalkan. Dia juga akan segera menikah , sebentar lagi , dengan tunangannya yang luar biasa hebat ini.
"tapi kalau oppa memang sibuk , aku bisa datang sendiri. Yang penting oppa sudah memberiku izin"
"memangnya siapa yang memberimu izin ? kau tidak akan pergi. Tidak kalau tidak bersama ku. jadi kita akan pergi bersama."
"benarkah ?" , Sungmin bertanya senang.
"tentu saja", jawabnya mantap.
Sungmin reflek memeluk erat tunangannya. Bahagianya . Dujun yang mendapat pelukan tiba – tiba itupun tak bisa menutupi kegembiraannya. Bibirnya melengkung indah dibarengi dengan sebuah ide hebat yang tengah berkelebat dipikirannya.
Other side
Kyuhyun memandangi undangan ditangannya dengan perasaan bercampur aduk. Antara senang , sedih , dan takut. Bukan , bukan karena undangan tersebut berasal dari mantan kekasihnya yang memutuskan untuk menikah. Undangan itu berasal dari sahabatnya. Iya , sahabatnya dan sahabat gadis itu. Sungguh bukan undangan itu yang membuat perasaannya kacau , melainkan perkataan yang diucapkan kedua sahabatnya itu ketika mereka datang mengantar undangan itu kerumahnya.
"dia akan datang, Kyu. Kami sudah mengundangnya. Kami secara tak sengaja bertemu dengannya di cafe milik Donghae dua minggu lalu. Kami tahu kau sangat merindukannya , jadi pastikan dirimu juga datang". Itulah kata – kata terakhir mereka sebelum meninggalkan rumahnya.
Ya , Kyuhyun merindukannya. Gadis cinta pertamanya. Ia tak tahu bahwa ternyata selama ini gadis itupun berada di Seoul. Tuhan benar – benar pintar menyembunyikan gadis itu. Sudah lima tahun mereka tidak bertemu , gadis itu benar – benar hilang seolah tertelan bumi setelah mengetahui bahwa ia telah dijodohkan padahal perjodohan itu baru sampai pada tahap pembicaraan , belum disetujui. Mungkin gadis itu terlanjur kecewa hingga tak membiarkan Kyuhyun menjelaskannya dan memutuskan untuk pergi darinya. Kyuhyun berhasil meminta orang tuanya menunda perjodohan tersebut dengan dalih ia ingin fokus pada perkuliahannya , padahal ia hanya menunda waktu berharap dapat menemukan cinta pertamanya itu , membawa gadis itu ke hadapan orang tuanya , mengumumkan betapa ia sangat mencintai gadis itu dan hanya akan menikah dengannya. Namun setelah empat tahun berlalu , pencariannya tak membuahkan hasil. Ia putus asa . ditengah keputus asaannya itu , orang tuanya mendesak agar ia menerima perjodohan itu. Mau tak mau , suka tak suka ia harus menerima perjodohan itu.
Ia berkenalan dengan calon istrinya , yang pada awal pertemuan mereka membuatnya tercengang. Gadis itu begitu mengingatkannya akan cinta pertamanya. Wajah mereka memang tak mirip , hanya iris mata bak kelinci itu. Tapi kebaikan dan kesabaran yang dimiliki gadis itu begitu sama. Gadis itu juga menyukai hal – hal yang disukai oleh cinta pertamanya. Kebiasannya mereka yang suka mengerucutkan bibir ketika marah pun sama. Benar – benar mengingatkannya pada gadis cinta pertamanya. Terkadang ia berharap agar ia bisa mencintai calon istrinya seperti ia mencintai gadis cinta pertamanya.
Namun seberapa besar atau seberapa banyak kemiripan mereka. Ada satu hal fatal yang tak bisa membuat Kyuhyun mencintai calon istrinya , yaitu hatinya. Hatinya tak tersentuh melihat kebaikan dan kesabaran gadis itu. ia yakin bahwa gadis itu pasti menyadari bahwa ia tak mencintainya mengingat kata cinta itu memang tak pernah ia ucapkan. Jantungnya tidak berdetak di atas normal bila bertatap muka dengan calon istrinya bahkan ketika gadis itu menatapnya lembut. Sementara gadis cinta pertamanya dulu mampu membuat jantungnya berdetak tak normal hanya karena sedikit sentuhan serta tatapan meneduhkan miliknya , gadis cinta pertamanya itupun mampu membuatnya merindu setengah mati. Calon istri dan gadis cinta pertamanya , memang telampau mirip tapi karena terlalu mirip malah membuat ia semakin tak bisa berpaling dari cinta pertamanya itu , karena tiap bertemu calon istrinya , yang ada dipikirannya hanyalah cinta pertamanya.
Sebentar lagi mereka akan bertemu , ia dan cinta pertamanya. Apa yang harus dilakukannya , apa yang harus dikatakannya ketika nanti mereka bertemu. Apakah gadis itu sehat ? pasti ia semakin cantik. Apakah gadis itu masih mencintainya ? Apakah mereka masih bisa bersama ? Apakah gadis itu masih memakai kalung miliknya ?
Memikirkan itu semua , kerinduannya semakin membuncah. Digenggamnya kalung yang selalu dipakainya , kalung berinisial "M" milik gadis cinta pertamanya. Kalung couple yang pasangannya berinisialkan "K", yang mungkin hingga kini masih dikenakan oleh gadis cinta pertamanya itu. Genggamannya makin erat. Matanya berkaca – kaca menyiratkan kerinduan dan cinta yang begitu besar. Hingga setetes air mata mengalir di kedua pipinya. Ia amat sangat merindukan gadis itu.
"Mingie~ah , aku merindukanmu . sangat merindukanmu" , gumamnya ...
T.B.C
Authors notes ::
Ouhji : dibaca ajja chingu ceritanya di tiap chap , pasti ngerti deh ma jalan ceritanya , hehehe ...
Abilhikmah :: nanti pasti ketemu kok ^^
Deeply thanks for you who have reviewed and subscribed this fanfic. And mohon maaf kalau typo nya benar – benar bertebaran di tiap chap. thanks juga buat readers yang suka sama fanfic sederhana ini^^
Lastly , jangan lupa review ya..gomawoyoooo #bighug
