Waktu terasa berajalan begitu cepat. Matahari sudah murni tenggelam dan bulan dengan sigap menaiki tahtanya. Mingyu dan wonwoo kini tengah duduk di sofa kecil yang terletak di ruang tamu dengan mingyu yang terus memeluk wonwoo dalam dekapannya. Sesekali wonwoo dapat melihat mata gelisah mingyu yang terus melihat ke arah jam dinding. Entah apa yang mingyu pikirkan, wonwoo tidak tahu.
Jam menunjukkan pukul 9.30, mingyu bangkit dari tempatnya untuk mengambil jaket dan memakai sepatunya
"Aku pergi dulu" ucap mingyu sembari mengecup sekilas bibir wonwoo, dan langsung keluar dari rumah tanpa membiarkan pertanyaan keluar dari mulut wonwoo.
Malam semakin larut, dan wonwoo masih belum bisa membiarkan tubuhnya berlari ke alam mimpi. Wonwoo tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat sendirian di rumah kecil ini. Merasa bosan, wonwoo memutuskan untuk membersihkan rumah mingyu yang barang-barangnya cukup terlihat berdebu. Dalam keadaan rumah yang seperti ini, wonwoo dapat menyimpulkan bahwa mingyu bukanlah orang yang suka membersihkan rumahnya. Wonwoo tidak tahu apakah mingyu malas untuk mengerjakannya atau memang dia tidak mempunyai waktu untuk itu. Kakinya mulai melangkah kearah lemari kecil di ruang tamu yang diselimuti debu cukup tebal. Wonwoo mengusap meja itu dengan kemoceng yang ia temukan di dapur, dan tersenyum saat melihat sisi luar lemari itu menjadi bersih. belum cukup puas dengan apa yang ia perbuat, wonwoo memutuskan untuk membuka lemari itu dan melihat barang-barang yang didominasi oleh buku-buku usang yang juga sudah berdebu.
Jemarinya menggapai satu-persatu buku yang ada di dalam sana dan mulai membersihkannya. Hingga ada satu buku yang menarik perhatiannya. Buku hitam bertuliskan 'death note'. Wonwoo tidak tahu jika mingyu menyukai hal-hal fantasy seperti itu, dan ini cukup menarik.
Wonwoo membuka buku itu, halaman pertama bertuliskan kalimat yang ditulis secara rapi, bahkan sangat rapi 'This book is not like what you think.
Everyone will die.
I just want to take note of how the way it's all happening,
And how all of it was gonna happen to me later.'
"Apa-apaan ini?" Gumam wonwoo. ia tahu bahwa semua orang memang akan mati, lalu apa maksudnya untuk 'terjadi padaku'? Apa mingyu ingin mati?
Tangan wonwoo kembali membuka halaman berikutnya. Wonwoo kembali disambut dengan tulisan rapi seperti dihalaman sebelumnya yang juga berupa tulisan singkat namun dalam tulisan itu terdapat tanggal yang kira-kira sudah bertahun-tahun lalu.
'Ibu sudah mati. Si brengsek itu dengan teganya menusuk ibu dengan pisau yang ada ditangannya.'
Wonwoo tidak bodoh untuk mengetahui bahwa itu adalah kisah yang mingyu ceritakan padanya kemarin. Wonwoo membalik halaman berikutnya dengan menggebu karena ia sudah dapat menangkap bahwa ini adalah buku catatan hidup mingyu nya, dan wonwoo ingin mngetahui lebih dalam tentang mingyunya itu.
'Si brengsek yang sayangnya adalah ayahku itu akhirnya mati. Aku melakukan cara yang sama seperti yang ia lakukan pada ibu'
Halaman kedua menunjukkan bahwa mingyu telah membunuh ayahnya tepat dua hari setelah sang ayah membunuh ibunya.
'anjing peliharaan ku mati. Dino secara tidak sengaja menabraknya dengan sepeda motor'
Dihalaman keempat, wonwoo melihat tanggal yang tertera di kanan atas tulisan tersebut. Tanggal itu menunjukkan Tiga tahun setelah tulisan di halaman sebelumnya. Wonwoo menggelengkan kepalanya saat membaca tulisan tersebut.
"Siapa dino? Jangan bilang dia juga membunuhnya hanya karena membunuh anjingnya" rasa penasaran wonwoo semakin menjadi-jadi dan ia pun dengan cepat membalik halaman berikutnya.
'Sayang sekali dino sudah mati. Aku tidak sengaja ah sebenarnya aku memang sengaja menabraknya dengan sepeda motor kemarin. Adikku telah mati, Aku hanya sendirian sekarang'
tulisan itu berselang dua hari dengan tulisan sebelumnya. Wonwoo memejamkan matanya. Ia tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan mingyu. Dino, yang ternyata adalah adik dari mingyu telah tewas dengan cara yang sama seperti cara yang dilakukannya pada anjing peliharaan mingyu walaupun itu tidak sengaja.
"Seberbahaya inikah orang yang aku cintai?" wonwoo menggeleng dengan cepat, ia tidak ingin berpikir macam-macam tentang mingyu walau pada kenyataannya mingyu memang berbahaya.
Halaman berikutnya cukup membuat wonwoo terkejut. Tanggal yang tertera di buku itu adalah tanggal tepat pada hari dimana mereka bertemu.
'Aku membunuh banyak orang hanya dengan sekali ledakan'
Hanya itu.
'hidupku hanyalah untuk membalas apa yang orang lakukan kepada ku. Mungkin kali ini berbeda karena akulah yang memulainya terlebih dahulu. Namun pembalasan pasti ada bukan?'
Halaman berikutnya tertulis tanggal hari ini, tepat hari ini. Wonwoo tidak tahu kapan mingyu menulis di buku ini karena seingatnya, mingyu selalu bersamanya.
Otak wonwoo terus berputar memikirkan apa yang dimaksud mingyu dalam tulisan terakhir yang ia temui dalam buku itu. Pembalasan? Mingyu sudah membunuh banyak orang dan apa balasan yang sama? Apakah mingyu akan membunuh dirinya sendiri dengan cara yang sama seperti yang dilakukannya untuk membunuh banyak orang tersebut?
Jantung wonwoo kini berdetak sangat cepat. Wonwoo tahu ia pasti benar dengan tebakannya. Wonwoo membalik halaman-halaman berikutnya, ia merasa janggal dengan tanggal-tanggal yang tertera pada tulisan-tulisan itu. Mingyu akan menulis kejadian yang akan ia balas dua hari setelahnya. Sementara ini adalah hari kedua setelah mingyu meledakkan bom itu. Wonwoo kembali merasa dadanya sesak mengingat saat ini mingyu tidak sedang bersamanya. Apa yang mingyu lakukan saat ini? Apakah mingyu akan benar-benar membunuh dirinya sendiri?
Wonwoo menaruh buku itu ditempat semula, lalu berjalan ke kamar untuk sekedar membaringkan dirinya ditempat tidur. Matanya sangat lelah tapi ia sama sekali tidak ingin tidur. Ia harus memastikan bahwa mingyu akan ada disebelahnya.
Jarum jam terus berputar, waktu tidak pernah berhenti. Mingyu meninggalkannya sudah hampir 5 jam. Rasa kekhawatiran wonwoo semakin lama semakin memuncak. Ingin rasanya wonwoo keluar dari rumah dan berkeliling untuk mencari mingyu. Tapi itu semua mustahil, wonwoo tahu bahwa ia tidak akan menemukan pemuda itu.
Wonwoo memang baru mengenal sosok mingyu. Mingyu benar-benar baru memasuki hidupnya, namun tidak dengan hatinya. Hatinya seolah sangat percaya pada pemuda itu dan ingin selalu bergantung padanya. Tak bisa dipungkiri bahwa wonwoo mencintai mingyu saat ini, dan mungkin seterusnya. Wonwoo juga tahu bahwa mingyu mencintainya. Baginya, mingyu bisa saja menulis namanya di buku itu, lalu membunuhnya dengan mudah. Namun mingyu tidak melakukan itu. Mingyu memang pernah menodongkan pisau ke arahnya, namun mingyu tidak melukainya sama sekali. Wonwoo dapat merasakan bagaimana hangatnya pelukan pemuda itu, ia dapat merasakan bagaimana lembutnya tangan mingyu yang menggenggam erat tangannya. Ia dapat merasakan bagaimana mingyu menciumnya dengan rasa cinta yang besar, wonwoo bisa merasakan itu semua.
Wonwoo tidak ingin tulisan di buku itu terjadi karena mingyulah orang pertama yang memberinya cinta setelah sekian lama ia tidak merasakan itu. Singkatnya, wonwoo tidak ingin kehilangan cintanya.
Setelah merasa benar-benar lelah, wonwoo menutup matanya dan benar-benar tidur walau hatinya dan pikirannya masih terlarut dalam seorang mingyu.
-purpose of life-
"Ingatlah, besok adalah kesempatan besar. Kita harus berhasil kali ini" seungcheol memberi semangat pada anggotanya mengenai tindakan mereka besok. Seperti yang jihoon katakan, besok presiden akan berpidato di alun-alun kota. Dengan begitu, mereka akan mudah untuk membunuh sang pemimpin negara itu.
"Aku tidak ingin ada pengkhianatan disini" ujar seungcheol lagi. Semua hanya mengangguk. Mereka sudah mendapat tugas masing-masing dan senjata yang akan mereka gunakan nanti pun sudah berada dalam genggaman mereka.
"Besok, bertingkahlah seperti tidak ada yang akan terjadi. Berbaurlah dengan mereka, dan buatlah rasa tidak percaya hadir pada mereka di akhir permainan" itu adalah perintah terakhir dari seungcheol karena pemuda itu langsung meninggalkan tempatnya dan pergi entah kemana.
Semua yang hadir disana pun ikut menyebar, dan pergi. Pertemuan untuk misi besar mereka besok terhenti sampai disini.
Mingyu melangkahkan kakinya menjauh seperti anggota yang lainnya. Tidak ada percakapan apapun, karena anggota kelompok ini memang cenderung individualis, mungkin menemukan orang seperti soonyoung adalah keberuntunganya kemarin.
Pikiran mingyu hanya tertuju pada satu hal saat ini yaitu seseorang yang pasti sedang menunggunya di dalam rumah sepi itu. Pemuda berkulit tan ini tersenyum tipis saat mengingat wajah seorang yang baru ia kenal tersebut. Wajah yang membuat hatinya tenang dan damai. Mingyu dapat melupakan seluruh beban hidupnya hanya dengan melihat wajah itu. Sayangnya wonwoo hadir dalam waktu yang salah. Seandainya wonwoo datang lebih cepat dalam hidupnya, mungkin semuanya tidak akan serumit ini. Mingyu sudah berjanji dan ia tidak mungkin mengingkarinya.
-purpose of life-
Pagi harinya, wonwoo dapat merasakan perasaan hangat dari seseorang yang masih terlelap memeluknya. Hatinya sangat lega melihat mingyu tertidur disebelahnya.
Wonwoo membalikkan tubuhnya dan membuatnya berhadapan langsung dengan mingyu yang masih terlelap. Ditatapnya wajah sempurna orang yang berada di depannya. Wonwoo sama sekali tidak meragukan ketampanan seorang mingyu, wonwoo hanya berpikir bagaimana bisa seorang yang bahkan terlihat manis dalam tidurnya dapat menjadi seorang yang sangat berbahaya saat bangun?
Wonwoo mengecup bibir yang ada dihadapannya sekilas dan membuat pemiliknya itu menggeliat pelan dan akhirnya membuka matanya.
wonwoo melayangkan senyum manisnya kepada mingyu, sontak mingyu ikut tersenyum dan makin mengeratkan pelukannya.
"bisakah kau melepaskan ku? Aku ingin mencuci muka dulu" ucap wonwoo pelan. Walau sebenarnya ia masih ingin berada dalam kehangatan seorang mingyu, tapi terus berada dalam jarak sedekat ini membuat jantungnya tidak bisa berdetak dengan normal.
"Tidak, aku masih ingin seperti ini" wonwoo tersenyum mendengar permintaan mingyu. Pada saat seperti ini, baginya kesan berbahaya pada mingyu hanyalah mitos belaka.
"Mingyu-ya?" Suara wonwoo masih dapat terdengar walaupun cukup lirih membuat sang pemilik nama tersebut menjawabnya dengan gumaman tanpa menatapnya seakan enggan untuk melepas pelukan tersebut.
"Apakah kau mencintaiku?"
Mingyu membuka matanya yang masih ia pejamkan. Ia memberi jarak atas dirinya dan wonwoo hanya untuk menatap pemuda manis tersebut. Mingyu sama sekali tidak berniat untuk menjawabnya, jadi ia hanya mencium bibir yang sudah menjadi candu baginya itu.
"Kau meragukanku?" Tanya mingyu setelahnya dan kembali memeluk tubuh yang lebih kecil darinya itu. Wonwoo hanya menyembunyikan wajahnya lebih dalam pada dada bidang mingyu. Rasanya memang sangat menyenangkan saat ada yang menganggap dirimu spesial tanpa alasan yang pasti, karena itu berarti setiap hal yang ada pada dirimu membuat seseorang itu merasakan suatu hal yang tak pernah mereka rasakan sebelumnya.
"Bisakah kau berhenti?" Wonwoo kembali berkata dalam dekapan hangat mingyu. Mingyu hanya mengernyit heran dan lagi-lagi harus melepas pelukannya hanya untuk menatap wonwoo.
"Kau tidak ingin aku peluk?" Tangan mingyu mengelus pipi lembut wonwoo, membuat wonwoo mau tidak mau tersenyum.
"Aku bahkan tidak ingin lepas dari dekapanmu" mingyu ikut tersenyum mendengar kalimat yang dilontarkan oleh wonwoo. Wonwoo memang sangat berharga baginya.
"Lalu? Apa yang ingin kau berhentikan dariku?" Mingyu masih mengelus pipi wonwoo namun wonwoo malah mendekatkan dirinya pada mingyu dan kembali menenggelamkan kepalanya dalam dada mingyu.
"Berhentilah mingyu-ya. Tinggal lah disini, tetaplah disini. Aku tidak ingin kau pergi kemanapun" mingyu mulai mengerti kemana arah pembicaraan wonwoo. Inilah yang mingyu takutkan, sesuatu yang selama ini ia hindari akhirnya datang. Cinta, kasih sayang, perasaan yang selalu membuat resiko hidup terasa lebih berat.
"Aku tidak bisa selalu berada disimu, tapi aku berjanji akan selalu mencintaimu" hari ini bisa saja adalah akhir dari semuanya. Mingyu tidak bisa berjanji bahwa ia akan berada disamping wonwoo nya hanya untuk mendekap pemuda itu seperti saat ini. Bisa saja ia mendekap pemuda itu dalam wujud lain, yang tak bisa pemuda itu lihat sekalipun ia ingin pemuda itu melihatnya.
Wonwoo menggeleng. Bukan ini yang ia harapkan dari mingyu. Ia ingin mingyu selalu ada bersamanya.
"Berhentilah, aku mohon. Kita akan pindah ketempat yang sangat jauh, kemanapun itu agar kau bisa terbebas dari mereka. Aku mohon..." mingyu dapat merasakan kaosnya basah, tidak diragukan lagi bahwa wonwoo menangis kali ini.
"Disaat kau sudah berjanji dan kau tidak menepatinya, maka itu lebih buruk dari apapun. Aku sudah berjanji untuk tidak meninggalkan mereka" mengelus rambut halus wonwoo pasti akan sangat mingyu rindukan jika ia benar-benar harus pergi nanti.
"Kalau begitu, berjanjilah bahwa kau juga tidak akan meninggalkanku" wonwoo mengangkat wajahnya untuk melihat wajah mingyu yang ada diatasnya, berharap jika mingyu akan menuruti permintaannya kali ini.
"Aku tidak bisa..."
Seakan ada sesuatu yang runtuh pada dirinya, air mata wonwoo mengalir begitu saja. Sungguh sangat sakit melihat melihat wonwoo menangis secara langsung seperti ini. Jika memungkinkan, mingyu pasti sudah akan berjanji seperti apa yang diinginkan wonwoo. Namun sayangnya waktu tidak mengizinkan hal ini untuk terjadi. Janji itu sudah terlebih dulu ia buat untuk hal yang salah.
"Aku tidak mungkin menepati dua janji sekaligus" mingyu menghela nafasnya, dan masih terus mengelus surai wonwoo.
"Kau membuatku takut untuk mati wonwoo-ya" lirih mingyu sembari mengecup puncak kepala wonwoo.
"Kau tidak perlu mati" jawab wonwoo.
Alarm berbunyi sesuai waktu yang mingyu atur sebelumnya. Sekarang sudah pukul 8 tepat. Mingyu melepas dekapannya pada wonwoo dengan kecupan kecil di bibir wonwoo sebelum akhirnya pergi ke kamar mandi untuk membasuh dirinya. Wonwoo hanya melihat aktivitas mingyu yang berjalan mondar-mandir dan berakhir dengan jaket biru donker kebesaran, jeans hitam, topi dan juga tas besar yang ia gendong di pundak.
"Mingyu-ya" panggil wonwoo. Mingyu yang tadinya akan membuka pintu pun mengurungkan niatnya dan kembali pada wonwoo.
"Aku ikut denganmu" mingyu menggeleng cepat. Ia mendaratkan tangannya ke wajah wonwoo untuk mengelusnya lembut.
"Ini terlalu berbahaya untukmu. Tunggulah disini"
"Kau akan kembali?"
Mingyu terdiam atas pertanyaan wonwoo. Pertanyaan yang bahkan ia sendiri tak tahu apa jawabannya.
"Kau bahkan ragu hanya untuk menjawab itu. Aku ikut denganmu" kini wonwoo beranjak dari duduknya dan mengambil sweater abu-abunya lalu berjalan ke arah pintu untuk mendahului mingyu.
"Wonwoo berhentilah, kau tidak tahu bahaya apa yang bisa saja mengincarmu nanti" dengan sigap mingyu menarik tangan wonwoo dan mencegahnya untuk keluar.
"Kau menghawatirkanku? Kau bisa menghawatirkan orang lain disaat kau bahkan tidak khawatir pada dirimu sendiri. Harusnya kau tidak perlu bicara seperti itu! Lihat lah dirimu mingyu! Bahaya apa yang mengincarmu disana nanti?" Nada bicara wonwoo sedikit meninggi, mata wonwoo menyorot tajam ke arah lawan bicaranya yang membuat mingyu seakan kehilangan kata-kata. Mingyu sangat tahu bahwa wonwoo mengkhawatirkannya, namun mingyu tidak dapat membiarkan itu terjadi.
"Kau tidak mengerti. Bisa saja aku kehilanganmu sewaktu-waktu. Aku bisa saja membawamu bersamaku, namun aku pasti tidak dapat terus menempel denganmu. Jika dalam hal seperti ini, tugas ku bukan hanya menjagamu-"
"Aku tidak perlu penjagaanmu! Justru kau lah yang tidak mengerti..." nada wonwoo melemah pada akhirnya. Ia menundukkan kepalanya menatap lantai kusam yang ia pijak.
" jika kau pergi lalu kau tidak kembali... kau Pikir aku dapat hidup dengan baik?" Wonwoo dapat merasakan matanya memanas dan bulir-bulir air mata itu keluar begitu saja tanpa ia perintah sebelumnya.
"Kita baru bertemu beberapa hari wonwoo-ya. Jangan bertingkah seolah kau tak pernah hidup sebelumnya" bohong, sudah dapat dipastikan bahwa kalimat yang keluar dari bibir mingyu adalah kebohongan karena pada dasarnya mingyu juga tidak tahu apakah ia dapat hidup dengan baik jika tak ada wonwoo disampingnya.
"Jika kau tidak bisa berhenti maka ajak lah aku bersamamu" mingyu menghembuskan nafasnya kasar. Wonwoo memang sangat keras kepala. Mingyu menghampiri wonwoo dan berjongkok mengahadap pemuda yang masih setia menatap ke arah lantai itu. Mingyu mengulurkan tangannya untuk mengangkat wajah wonwoo supaya melihatnya, lalu menghapus air mata yang jatuh di pipi wonwoo.
"Maaf, tapi aku benar-benar tidak bisa melihatmu menangis. Bisakah kau hentikan air matamu?" Mingyu mengecup sekilas bibir wonwoo untuk meredam isakan wonwoo yang tertahan.
"Aku mencintaimu, aku tidak ingin kau terluka" ucap mingyu. Wonwoo menggeleng
"Kau akan melukaiku jika seperti ini" sanggah wonwoo. Mingyu terdiam dan akhirnya menuruti apa yang wonwoo inginkan.
-purpose of life-
Jalanan terasa sangat ramai. orang-orang berlalu lalang entah kemana. Mingyu dengan tas besar yang ia gendong di pundak sedikit menjaga jarak dari wonwoo walaupun wonwoo terus mendekat ke arahnya.
Wonwoo melihat ke arah alun-alun kota. Sangat ramai dan wonwoo juga bisa mendengar perbincangan orang tentang presiden yang akan berpidato di ditempat ini.
"Wonwoo, tunggulah disini. Aku ingin ke toilet sebentar" wonwoo mengangguk dan hanya melihat mingyu yang berjalan menjauh darinya. Sebenarnya wonwoo bisa saja mengikuti mingyu, namun wonwoo tak ingin menjadi seseorang yang terkesan mengekang kekasihnya tersebut. Ia hanya harus percaya bahwa mingyu akan tetap bersamanya.
DUAR
Wonwoo tersentak mendengar dentuman yang cukup besar. Wonwoo tahu itu bukanlah dari jarak yang dekat namun bunyi itu cukup membuat sekelilingnya panik.
Seakan dejavu bagi wonwoo, semua orang berlarian tak tentu arah. Kali ini wonwoo tidak ingin mendekati arah ledakan, matanya terfokus pada sosok dengan kaos merah, celana training hitam, topi biru, dan tas berwarna merah juga. Seketika wonwoo memikirkan kemana sosok yang bersamanya tadi. Ledakan tadi pasti ada hubungannya dengan kekasihnya tersebut, namun wonwoo tahu benar bahwa ledakan itu bukan berasal dari kekasihnya karena ledakan itu berasal dari arah yang berlawanan.
Wonwoo kembali mengikuti seseorang berbaju merah tadi, jika dilihat dari perawakannya, wonwoo bisa menebak bahwa orang itu adalah mingyu, namun mingyu yang bersamanya tadi memakai jaket biru donker, celana jeans, dan tas berwarna hitam membuat wonwoo ragu untuk mengatakan bahwa orang itu adalah mingyu nya hingga ia memilih untuk berbalik dan tetap menunggu mingyu di tempat semula.
Wonwoo yang merasa sudah terlalu lama menunggu akhirnya memutuskan untuk menyusul kekasihnya itu ke toilet umum yang berada di dekat alun-alun. Semua toilet kosong, wonwoo membekap mulutnya tak percaya bahwa seseorang yang ia lihat tadi berarti adalah mingyu. Wonwoo mengitari toilet itu dan benar, ia menemukan sebuah kantong plastik diujung toilet dekat tempat sampah yang berisi pakaian. Pakaian yang tak asing lagi untuknya. Semua itu adalah pakaian mingyu yang ia pakai saat pergi bersamanya, lengkap dengan tas yang juga ternyata ia ganti.
DUAR
Wonwoo merasakan detak jantungnya berdetak lebih kencang mendengar ledakan yang kedua. Kaki-kaki nya seakan terprogram otomatis untuk berlari menuju arah ledakan itu. Tak peduli berapa banyak orang yang wonwoo tabrak, ia hanya ingin mencari mingyu-nya yang pergi entah kemana.
Disana terlihat banyak orang berkumpul, lebih tepatnya aparat keamanan yang sedang berjaga disekitar ledakan yang baru berbunyi tadi. Wonwoo dengan cepat menembus kemaraian tersebut dan berhenti setelah melihat darah berceceran dimana-mana. Wonwoo mengedarkan pandangannya kesekeliling, ia dapat melihat langsung beberapa korban atas ledakan itu, namun hanya satu yang menarik perhatiannya. Seseorang itu memang tidak dapat ia kenali karena wajahnya yang sudah tidak berbentuk, namun baju yang orang itu kenakan sudah cukup menjelaskan semuanya. Baju berwarna merah dan topi hitam yang terpental tak jauh dari orang tersebut yang ia kenali.
Ingin rasanya wonwoo menangis seperti yang dilakukan beberapa orang yang menangisi korban lainnya. Hatinya seakan hancur begitu saja bersamaan dengan ledakan tadi. Mungkin tubuhnya selamat dari itu semua namun tidak dengan hatinya. Hatinya benar-benar telah hancur. Hancur hingga tak tahu bagaimana mengekspresikan itu semua. Wajah dinginnya kembali, wajah yang tidak pernah menunjukkan emosi itu kembali padanya. Wonwoo kemudian berbalik dan pergi dari keramaian itu. Wonwoo cukup paham dengan apa yang mingyu pikirkan. Mingyu mengganti seluruh pakaiannya karena tidak ingin wonwoo terlibat nantinya. Mingyu cukup pintar untuk menebak bahwa kota seperti seoul memiliki cctv dimana-mana oleh karena itu ia harus menghilangkan jejak dengan mengganti pakaiannya agar polisi-polisi itu tidak mengincar orang yang pergi bersamanya tadi. cctv itu Pasti akan merekam seseorang berjaket biru donker berjalan beriringan dengan seseorang bersweater abu-abu, tapi tidak dengan orang berbaju merah yang meledakkan dirinya sendiri. Itu akan menyelamatkan wonwoo nantinya.
"Kau benar-benar orang bodoh mingyu"
-purpose of life-
Wonwoo membuka pintu rumah kecil itu dan masuk kedalamnya. Suasana memuakkan mulai ia rasakan atas rumah itu. Air matanya mulai menitik entah sejak kapan. Wajah datarnya bisa saja menyembunyikan rasa sakitnya, tapi itu hanya dapat menyembunyikannya tanpa menghilangkannya.
wonwoo menidurkan dirinya diatas kasur sempit yang dua hari ini sudah ia tempati. Masih jelas di ingatannya tentang mingyu yang enggan melepaskannya. Bahkan wonwoo masih dapat merasakan kehangatan seorang mingyu di kasur ini.
"Kau benar-benar jahat mingyu! Aku memang bodoh mempercayai orang sepertimu" wonwoo memukul bantal yang ada dalam dekapannya seakan menyalurkan emosi yang sedang ia rasakan pada bantal itu.
Seharusnya ia mengikuti mingyu kemanapun. Seharusnya ia mengikuti hatinya yang mengatakan bahwa seseorang itu adalah mingyu nya. Seharusnya ia ikut mati disana.
Wonwoo memejamkan matanya, beeusaha untuk melupakan sedikit bebannya. Ia hanya dapat berharap jika ia bangun nanti, mingyu akan ada disampingnya untuk kembali mendekapnya.
Hari sudah mulai gelap. Wonwoo mengerjapkan matanya dan meraih ponselnya yang berada tepat disampingnya. Berita yang cukup memuakkan menyapa indra pengelihatannya.
"Terorisme kembali menggemparkan seoul. Beruntung presiden dapat diselamatkan. Kejadian ini memakan banyak korban atas bom bunuh diri yang dilakukan kelompok tersebut"
Air mata wonwoo kembali menetes seiring dengan jarum yang yang terus berputar. Wonwoo mematikan ponselnya dan menghapus kasar air matanya. Tidak ada salahnya jika wonwoo mengharapkan mingyu duduk dihadapannya untuk menghapus air matanya seperti tadi pagi, bukan?
Wonwoo melirik ke arah dapur, membayangkan mingyu berdiri disana membuat wonwoo harus mengurungkan niatnya dan memilih menjauh dari tempat tersebut.
Langkah wonwoo terhenti di lemari kecil yang pernah ia bersihkan. Berbeda dari sebelumnya, sebuah buku bersampul hitam tergeletak diatas lemari itu. Buku yang sama, seperti buku yang ia baca sebelumnya.
Wonwoo membuka halaman demi halaman yang ada pada buku itu dan sampai pada halaman yang terakhir ia baca. tangannya perlahan membuka halaman setelahnya, dan itu semua kosong, tidak ada apapun yang tertulis disana. Lalu kenapa buku itu berada di tempat yang berbeda jika tidak ada perubahan?
Dengan cepat wonwoo membuka setiap lembaran dari buku tersebut hingga ia sampai pada halaman terakhir dari buku itu. Tulisan yang cukup panjang tertulis disana. Tidak diragukan lagi bahwa itu adalah tulisan mingyu nya, orang yang sangat ia harapkan untuk selalu ada di dekatnya.
'Setiap perbuatan akan mendapatkan balasan bukan? Aku telah menjemput balasan itu sendiri. Aku menulis pada halaman terakhir bukan tanpa alasan, buku ini adalah hidupku. Segala sesuatu yang sudah sampai pada akhir berarti akan selesai, begitu pun buku ini, dan juga hidupku. Mungkin terkesan sangat menyeramkan jika ada yang membaca buku ini dari awal. Tapi sesungguhnya mereka hanya tidak tahu, dan mereka hanya akan berpikir tanpa melihat keadaan yang terjadi. Aku tahu semua orang berpikir dari sudut pandang yang berbeda, dan mungkin aku lebih berbeda dari mereka. Aku hanya menulis tentang bagaimana cara seseorang mengatarkan kematian, dan mendapatkan kematian dengan cara yang sama. Namun balasan memanglah sebuah balasan, aku merasa sangat bodoh untuk melakukan hal-hal konyol karena aku akan mendapat hal konyol lain di hari berikutnya.
Hari itu aku melakukan hal konyol tersebut, dan hari itu aku mendapat sesuatu yang istimewa. Jika saja waktu dapat diputar, mungkin aku akan memilih untuk lebih dulu bertemu dengannya dan tidak melakukan hal konyol ini karena aku tahu pasti semua akan berbalik padaku nanti.
Tidak butuh waktu lama, aku sudah medapatkan balasan istimewa itu. Aku mencintainya, dan dia juga mencintaiku. Balasan yang setimpal bukan? Balasan yang sangat indah untuk orang seperti ku.
Namun hal konyol itu juga datang dengan balasannya terhadapku. Aku sudah mempersiapkan diriku untuk hal ini dalam waktu yang sangat lama, dan aku muak untuk mengakuinya bahwa aku takut hanya karena hal istimewa itu.
Cinta memang membuat seseorang takut untuk mati. Takut untuk pergi. Takut untuk tak kembali orang yang mereka cintai. Dan aku takut merasakan itu.
Tapi aku tidak melakukan apapun, sungguh. Aku hanya menyalakan api pada sumbu itu dan semua akan terjadi begitu saja. Aku hanya bermain dengan hal kecil yang sedikit berbahaya. aku sadar itu bukan pengaruh besar untukku karena pada dasarnya tak ada satupun orang yang akan menangis dalam ketiadaanku. Tapi semua itu menjadi kebohongan setelah aku mengenalnya. Aku tahu ia akan menangis nantinya, apa mungkin aku akan mendapatkan balasan lagi karena telah membuat seseorang menangis? Ah tidak, yang benar adalah seseorang itulah yang mendapat balasan karena telah membuatku menangis.
bisakah aku berharap untuk tetap berada disampingnya setiap waktu? Bisakah aku tetap menggenggam erat tangannya pada saat ia berjalan? Bisakah aku tetap mendekap tubuhnya ketika ia tidur? Bisakah aku mencintainya walau aku telah pergi nanti?
mungkin rasa sakit yang aku rasakan akan berakhir dengan cepat karena semuanya akan berakhir dalam waktu yang singkat. Namun tidak dengannya. Aku tahu ia akan kembali pada hidupnya yang dulu. Kembali mengingat setiap rasa sakit yang ia rasakan, atau malah aku memberinya rasa sakit baru untuk ia rasakan.
Aku memang orang jahat. Sebuah kesalahan untuknya karena telah mencintaiku.
Jujur, aku dapat merasakan sesuatu yang sakit saat melihatnya menangis. Airmata itu bagai pisau yang langsung menusuk tepat di jantungku dan membuatnya berhenti berdetak. rasanya aku sudah mati berkali-kali setiap air matanya mengalir.
Aku mencintainya tanpa alasan apapun. Aku hanya senang dan damai melihatnya. Semua yang ada pada dirinya dapat mengalihkan bebanku. Aku hanya berharap saat aku mati nanti, wonwoo ku masih dapat tersenyum. Senyuman yang nanti pasti sangat aku rindukan.
Maafkan aku karena aku tidak bisa berjanji untuk selalu bersamamu. Aku tahu kau tidak akan setuju jika aku pergi dari sisimu hari ini. Maafkan aku karena aku harus berbohong pada saat terakhir kita bertemu. Ingin rasanya aku memelukmu dan tidak melepasmu lagi, namun aku tahu semuanya mustahil.
Selamat tinggal wonwoo. Ketahuilah bahwa aku sangat mencintaimu. Terimakasih untuk telah mengajariku sisi lain dari hidup. Dimana aku dapat merasakan kedamaian di sisi tersebut. Aku hanya berpikir bahwa hidup itu buruk, namun kau mengubah segalanya, hidup itu indah. Sangat indah. Kau hanya terlambat sedikit saja sayang, kau datang saat kematian sudah tepat berada di hadapanku. Maafkan aku. Aku mencintaimu wonwoo'
Dan semuanya benar-benar berakhir. Air mata yang entah sudah berapa kali menetes itu enggan untuk berhenti. Mingyu benar, semua perbuatan pasti akan mendapat balasannya. Dan wonwoo ingin balasan itu ada pada dirinya.
Wonwoo berlari meninggalkan rumah itu. Terus berlari hingga ia sampai pada sungai yang tak jauh dari rumah itu.
"Aku sudah mencintai dirimu, dan kau sudah tidak berada didekatku lagi. Bukankah cinta membutuhkan pengorbanan untuk bersama mingyu-ya?"
Wonwoo melirik aliran sungai yang cukup deras dan dalam itu dengan tajam.
"aku juga tidak mempunyai siapapun untuk menangisiku jika aku pergi. Kau lebih beruntung mingyu-ya"
"Aku akan menjemput balasan ku karena telah membuatmu merasa takut untuk mati. Maka aku harus mati juga agar dapat menenangkanmu disana"
Wonwoo dapat merasakan dingin pada kakinya yang sudah menyentuh air sungai tersebut. Tekadnya sudah bulat. Tak ada satupun yang dapat menghalanginya untuk melakukan ini. Dan detik berikutnya, wonwoo menjatuhkan tubuhnya dalam sungai tersbut. Sungai itu memang benar-benar dalam karena wonwoo tak kunjung menyentuh dasar dari sungai tersebut. Dan saat kakinya terasa menyentuh dataran dalam sungai itu, dadanya terasa sangat sesak. Paru-parunya sudah berteriak meminta pasokan oksigen. sekilas pikiran untuk berenang keatas terbesit pada otak wonwoo namun semuanya sia-sia karena pada saat wonwoo mencoba untuk berenang keatas, ia merasakan tubuhnya mati rasa dan semuanya menjadi gelap begitu saja.
"Aku mencintaimu kim mingyu. Ayo bertemu di dunia yang lain"
-End-
Cieee akhirnya end juga/? Jadi niatnya ch 2 ini mau di upload pas 2 hari setelah ch 1 nya debut(?) Tapi karena KEHAPUS... apalah daya diriku yang sakit hati dan males nulis lagi. Akhirnya baru sekarang sempet nulis lagi :"
Makasih yang udah review /ciumin satu-satu/ yang minta biar mati semua karena gak tega, udah aku kabulin ya... tadinya cuma mau buat mingyu doang yang mati, tapi dari pada dibegal sama kalian jadi mending bikin mati semua dah.
oke terakhir makasih banget udah nyempetin baca ff ini, nungguin ff ini /kalo ada/ :" review ditunggu ya, buat jadi masukan di ff-ff selanjutnya hehe. Salam nemplok!
