Let Me Hear


A/N:Tidak menyangka Fanfic saya kali ini akan di terima, padahal sudah sangat pesimis dengan ide yang ada dan tuntutan fanfic lain yang harus di update.

Tapi, bagaimanapun saya ucapkan terimakasih buat kalian, para pembaca yang sudah membaca dan mereview fanfic kali ini.

Terimakasih juga buat yang sudah membantu kali ini.


Warning : AU, OOC, Mengandung unsur politik, Typo.


Summay : Meski kalah dan terlahir untuk hidup yang baru. Naruto harus sadar bahwa masa lalu tidak akan melepaskannya begitu saja. Mulai dari kepingan ingatan yang muncul, p[erselisihan diantara clan sendiri. Sampai masa lalu yang kembali datang dan menjeratnya


Chapter 2 : Bertemu dengan Malam.

Bael. Satu kata untuk perwakilan clan terkuat saat ini yang berada di atas tanah underworld. Dengan kemampuan yang mengalir dalam diri setiap masing-masing anggota Clan, mereka yang memiliki darahnya dapat menghancurkan apa saja. Memusnahkan apa saja, meniadakan siapa saja... Sesuai dengan apa yang mereka bawa sejak lahir.

Power of Destruction.

Semua memiliki apa yang mereka banggakan sejak lahir. Semua... Namun tidak bagi pewaris utama itu sendiri.

Sairaog Bael.

Sebuah kecacatan dalam sejarah yang panjang keluarga ini. Namun, benarkah demikian? Untuk seorang yang tidak memiliki apa yang seharusnya ada dalam darahnya.

Naruto menyandarkan punggungnya ke dinding luar taman, melihat terkadang ke arah pepohonan tua yang bahkan tidak menunjukkan dedaunan sedikitpun. Terlihat begitu rapuh dan menyedihkan, namun begitulah dunia ini. Udara dingin datang dan berhembus di sekitarnya, memaksa pemuda itu untuk menggosok kedua tangan agar sedikit menjadi hangat.

Hari ini malam, dalam langit ungu yang sama.

Pandangannya kini tertuju pada sosok di ujung jalan. Seorang pemuda besar dan tegap, memiliki tubuh yang melampaui batas orang seusianya. Rambut ungu yang acak-acakan tidak terawat dengan baik atau sengaja dibiarkan begitu adalah apa yang dia lihat... Lebih sedikit di perhatikan, rambut gondrong itu juga telah panjang. Pakaian mewah dengan dominasi warna hitam menunjukkan siapa dia.

Dan senyum meremehkan itu, tidak pernah dia lupakan.

"Yo... Naruto, adikku yang manis." Pandangannya beralih saat suara itu menyapanya. Terhenti sesaat untuk melihat siapa yang menyapanya. Pandangan yang langsung dia berikan, menyadari bagaimana pemuda di depannya menunjukkan sebuah cengiran aneh padanya, ekspresi dan tingkah laku yang sama dan familiar dalam pikirannya.

"Maaf aku terlambat..." Wajahnya memerah menahan malu saat melihat wajah Naruto yang masih dalam posisi yang sama, cengiran itu makin lebar berusaha menunjukkan betapa dia menyesal.

Namun melihat Naruto yang masih diam, membuat dia menyipitkan mata penuh dengan kekesalan.

"Hei.. Aku sudah minta maaf bukan?"

Naruto mengangguk sesaat. Kembali pandangannya menangkap ada yang berbeda dengan kakaknya saat ini. Tidak biasa, namun dia sangat ingin bertanya... Meski itu kembali tertahan dalam mulutnya, namun bagaimana saat melihat raut wajah itu... Tapi keinginan bertanya masih tetap ada walau bagaimanapun.

"Bagaimana persiapanmu, Nii-sama?" Naruto memberikan sebuah senyum di wajah. Tubuhnya mulai memposisikan diri untuk berdiri dan berjalan sedikit mendekati Sairaog.

"Cukup baik, malam ini adalah penentuan sebelum besok." Sairaog berucap dengan nada tenang yang biasa, tidak ada beban yang seakan memberatkannya. Wajah yang menunjukkan betapa tenangnya dia, menghadapi hari esok...

Tapi semua Naruto tau itu tidak benar.

"Bagaimana penampilanku hari ini?" Pemuda itu berucap sembari menunjukkan pakaian mewah yang di kenakan pada pertemuan mereka. Itu baju yang mewah, Naruto tau dengan pasti. Membuatnya mengangguk sejenak dan menatap wajah kakaknya.

"Itu pakaian yang bagus, sangat cocok untuk Nii-sama." Naruto tersenyum, mengatakan hal yang sejujurnya pada kakaknya... Tidak ada maksud lain.

"Benarkah? Ini Kaa-sama yang memilihkan untukku." Sairaog tersenyum, cukup senang dengan apa yang Naruto ucapkan... Meski tidak terlalu menunjukkan emosi saat mengatakan pujian itu... Itu telah cukup untuk membuatnya senang.

"Memang mau kemana?" Rasa penasaran itu mengalahkannya, membuatnya membuka pertanyaan meski terasa aneh bagi orang sepertinya. Dia hanya ingin tau.

"Kau ingin tau?"

Naruto mengangkat bahunya, "Ya... Sedikit, sangat jarang bagi Nii-sama untuk berpergian... Apa akan pergi kencan? Tapi dengan siapa? Nii-sama adalah orang yang tidak laku."

"Kau saat mendengar itu... Bagaimana rasanya saat itu aku ingin menghajarmu."

"Lakukan lah, dan aku akan mengadu pada Kaa-sama."

"Sejak kapan kau mejadi anak pengadu."

"Sejak kemarin.."

Sairaog berteriak di dalam hati saat mulutnya kehabisan kata-kata... Memaksanya memberi lototan pada Naruto, walaupun pemuda itu tidak terlalu menganggapi plototan sang kakak.

Mengabaikan, Sairaog mengambil nafas dengan kasar sebelum mengeluarkannya secara perlahan. Entah kenapa semangat telah pergi meninggalkannya sejak bertemu dengan adik sialnya ini. Dia kembali membuka suara, bersamaan dengan tangan yang bergerak mengambil sesuatu dari kantong celananya.

"Ini, kau lihat aku mendapat undangan dari Lucifer-sama."

Naruto memberikan perhatian akan surat itu dalam diam, melihat dengan jelas surat itu dari tangan kakaknya. Melihat ada cap lilin dengan lambang Lucifer di sana. Menyadari bahwa surat itu asli.

"Dia memgundangku ke kastil Gremory, itu akan menyenangkan bagaimana aku juga akan bertemu dengan sepupu kita Rias.

Sudah lama kita tidak berkumpul bukan Naruto, aku harap dia sudah menjadi wanita yang cantik seperti ibunya."

Namun Naruto diam menelan apa terucap dari mulut kakaknya. Berfikir dengan perkataan itu secara singkat orang lain akan menganggap Sairaog seorang maniak, maka itu adalah salah dimana Sairaog adalah orang yang menyayangi siapapun yang dekat dengannya tidak peduli dari golongan mana.

Sosok iblis dengan aura dan wibawa yang memaksanya untuk tunduk, dia melihat itu sebagaimana dia melihat wibawa itu pada Lucifer saat ini... Membuatnya merasa lemah, bukan sebuah rasa iri. Tapi jauh hanya sebuah rasa lemah akan diri sendiri. Kekaguman dalam diam atas kakaknya sendiri, meski dengan apa yang dia miliki... Rasa itu masih berbekas di dalam dirinya. Tidak peduli bagaimanapun... Kekaguman seorang adik atas kakak yang tak mungkin hilang.

Mungkin itu wajar... Mungkin...

"Begitu kah?" Naruto membuka suara, tatapan matanya yang menatap bukan ke arah Sairaog. "Aku senang mendengarnya... Semoga pertemuan nanti akan menyenangkan. Sampaikan salamku pada Lucifer-sama dan Rias-sama."

Sairaog diam sejenak dan menatap Naruto dalam, melihat bagaimana adiknya tersenyum dan enggan menatapnya. Ekspresi wajah yang membuatnya... "Kau tidak ikut?"

Sebuah pertanyaan yang keluar, menunggu Naruto yang membalas sebelum hanya sebuah gelengan kepala yang menjawab.

"Kenapa? Aku bisa mengajakmu... Lucifer-sama dan Rias juga akan sangat merindukanmu." Sairaog mendekat dan memeggang bahu Naruto, menatap wajah adiknya yang tersenyum... Lebar.

Dia kembali menggelengkan kepalanya, menolak itu.

"Kenapa?"

"Tou-sama memerintahkan sesuatu padaku." Naruto memasukkan tangan ke saku dan mengambil sebuah surat. "Ini sebuah perintah, Nii-sama tak perlu tau ini apa."

"..."

"Aku sangat menyesal atas ini," Naruto menghela nafas dalam dan mengeluarkannya pelan. "Aku akan lama, sepertinya juga aku tidak akan dapat melihatmu mengalahkan pewaris pilihan tetua Bael nampaknya. Sial! Padahal aku menantikan ini." Naruto membuat ekspresi cemberut, dan menatap Sairaog sebelum melangkah pergi meninggalkan kakaknya.

"Aku harap Nii-sama mengalahkannya dalam satu kali pukulan." Langkah yang terhenti, Naruto berucap tanpa menoleh kebelakang. Dia tetap meneruskan melangkah, tidak menanti balasan yang keluar dari mulut kakaknya.

Sebuah surat yang berada di tangannya. Putih bersih tanpa tanda apapun.

"Aku harus menemui Raiser Phenex."

Xxxxxxxxxx

Ini adalah malam sesudah kedatangan Sairaog Bael, Naruto berdiri tegap menatap kedepan. Dalam pandangan matanya menatap Ayahnya yang duduk di depannya, sebuah meja besar yang memberi jarak pada mereka. Tidak ada suara sejak tadi, hanya diam saling memandang.

Sebuah surat kecil yang telah bedara di depannya, bersih tanpa pengenal apapun.

"Tou-sama."

"Sebuah permintaan pengawalan," Lord Bael membuka suara, nada yang dingin seperti biasa. Tatapan mata yang tajam, membentuk seperti apa dia dahulu...

"Untuk seorang Iblis dari Clan rendahan, meminta kita untuk melindunginya?" Naruto membuka suara, namun sebuah energi penghancur berbentuk pedang telah tercipta dari ketiadaan, berada tepat di atas surat tersebut. "Benar-benar sebuah penghinaan!"

"Cukup!" Suara yang terdengar, hanya sebuah kata... Namun itu sebuah perintah mutlak.

"Kenapa?"

"Bukan dia," Naruto kembali diam, dan berdiri. Pedang dari energi penghancur itu telah lama menghilang menjadi serpihan kecil. Matanya kembali tertuju pada surat itu. Lebih tepatnya pada foto yang berada di samping surat tersebut. Melihat itu, sebuah nama terlintas di pikirannya.

Diodora Astaroth

Naruto tidak menjawab lagi, mata yang menatap lurus pada Ayahnya. Ketidak mengertian yang dia miliki membuatnya buta, mengapa? Apa yang terjadi?

"Tugasmu adalah melindungi pewaris Astaroth berikutnya yang akan mengikuti pelelangan di Tanah Manusia. Dalam pelelangan, apapun bisa terjadi. Lindungi dia bagaimanapun

Clan Astarorth telah meminta kita. tunjukkan bagaimana kita sebagai Bael. Jangan permalukan nama kita di depan mereka... Terutama di depan Beelzebub-sama."

Naruto masih diam, dia mengerti arah pembicaraan ini. Sebuah pelelangan ilegal yang di adakan di Dunia Manusia, sangat berisiko bagaimana akan bisa terjadi berbentrok dengan pihak Surga (Exorcist) atau peserta pelelangan sendiri.

Bagaimanapun...

"Aku mengerti," Naruto mengangguk, sejak kemundurannya dari calon pewaris. Tugas-tugas seperti ini adalah rutinitasnya, menerima permintaan dari clan lain yang membutuhkan perlindungan. Hanya, harga diri Naruto yang terlalu tinggi menyebabkan dia engan untuk merima permintaan dari Clan rendahan di Underworld.

Katakanlah dia dan kesombongannya yang melewati batas.

"Jadi melindungi Iblis ini adalah kamuflase untuk melindungi Diodora Astaroth?" Naruto kembali bertanya, dia tau dalam pelelangan hanya ada dua pengawal yang diperbolehkan masuk.

"Benar... Iblis yang kau lindungi bukanlah dia. Tapi Diodora Astarorth, jika sesuatu terjadi abaikan dia dan segera lindungi Diodora!"

Naruto mengangguk. "Tapi jika terjadi, kemungkinan terburuk adalah bentrok dengan Fraksi Surga yang tak mungkin di hindari."

Dan tidak ada suara yang menyahut perkataannya.


Dia kembali menatap semua yang ada di depan, kabut yang menghalangi pandangan akhirnya memudar sebelum benar-benar menghilang. Menampakkan sebuah jembatan besar yang bahkan belum selesai dalam pengerjaannya... Dia kemudian mencoba menatap tangannya sendiri, tidak itu bukan benar-benar tangannya... Itu hanya sebuah visualisasi yang membuat dia melihat dari satu sudut cerita. Dan menjadi seorang karakter.

Ya..

Dia tidak tau bagaimana, tangannya bergetar dalam lumutan darah. Suara yang memanggil namanya agar tetap sadar, memaksanya menoleh dan menemukan seorang Pria bertopeng kain yang menatapnya penuh dengan rasa khawatir yang nyata. Pria itu terlihat sangat ketakutan... Ada apa?

"Naruto... Kau tidak apa-apa?" Pria itu melangkah pelan, bukan sebuah langkah yang benar sebagaimana orang-orang melangkah. Terlihat pria itu dalam kondisi yang juga kacau.

Dia tidak pernah menjawab, tapi suara seperti miliknya menjawab dengan sendiri. Pria itu menunjukkan wajah penuh kelegaan. Memberikan sebuah senyum ramah dengan mata tertutup padanya. Menepuk bahunya dan mengatakan sebuah kata yang tak dapat dia dengar apa itu?

Dia bukan satu-satunya. Yang lain datang dan melewatinya begitu saja... Seorang pemuda dengan kesan suram melewatinya... Hanya diam, melihatnya sejenak sebelum berjalan melaluinya begitu saja. Dia terlihat kuat... Saat pertama menatapnya Naruto tau itu.

Dan seorang lagi muncul, seorang wanita yang bisa dikatakan cantik dengan nilai tersendiri... Potongan rambut sewarna Sakura yang dipotong pendek mencapai bahu... Melewatinya memberikan tatapan penuh ketakutan atasnya. Melihat bagaimana mulut wanita itu terbuka... Bergerak, mengatakan sebuah kalimat. Namun tanpa ada suara. Tapi dia dapat membaca gerakan mulut itu dengan jelas.

'Monster.'

Itu kalimat yang jelas, membuatnya terdiam tidak mengerti apa yang terjadi. Melihat bagaimana wanita itu berteriak memanggil sebuah nama. Melihat bahwa wanita itu mengejar dan memeluk erat lengan pria suram itu meski di tepis dengan sebuah bentakkan.

Mungkin mereka adalah rekan baginya, menyadari tidak ada rasa permusuhan dalam mereka yang melewatinya. Satu-satunya bukti adalah apa yang dia percayai... Bahwa siapa dia di sini? Apa yang telah dia lakukan di sini? Bagaimana ini terjadi? Kenapa terus terulang?

Mimpi yang terus terulang.

Dia berjalan dengan sendiri mengikuti ketiga orang itu. Namun semua terasa makin jauh dan dia merasa makin tertinggal semua menjadi gelap, namun dia harus terus berjalan. Apa yang dia lakukan? Apa yang telah terjadi.

Tangan yang berlumuran darah... Menatap kebelakang dan rasa lain muncul dalam hatinya. Di atas air.. Mengapung. Dan mati. Meninggalkan tanah kehidupan

Pria besar dengan pedang besar di punggungnya. Sesuatu yang membuatnya tidak mengerti kembali terjadi, mengapa ada di sana? Ada sesuatu sebuah lambang seperti aliran air yang berada di keninganya, dan apa itu?

Mengapa seperti itu? Mengapa Pria itu di sana? Mengapa Pria itu mati?

Apa dia yang telah membunuhnya? Bagaimana bisa? Bagaimana bisa dia membunuh dengan begitu mudah?

Dia ingin tau... Dia ingin mengetahuinya.

Namun semua kembali hitam... Mimpi yang terus terulang.


Naruto membuka mata secara perlahan, dia merasa pecah saat kembali tidur sejenak, memaksa untuk melihat mimpi yang bukan miliknya berputar kembali... Selalu berputar. Seperti gelombang, mimpi tanpa henti yang terus beriak dan membesar... Mimpi yang menghasilkan riak dari riak air yang lain. Potongan potongan yang melebar dan membesar.

Ada perbedaan. Tentu saja... Semua mimpi yang dia alami adalah cerita yang tidak saling berhubung satu sama lain. Terpisah, dan membingungkan.

Dia kembali mengingat, mungkin sesuatu telah terlewat tanpa dia sadari... Mengingat. Hanya kekosongan yang dia dapat tanpa hasil apapun yang diperoleh.

"Kau tertidur lagi?" Sebuah suara, mengalihkan pandangan mata Naruto yang menatap seorang Pemuda di sampingnya... Dan ada banyak Wanita di sekitarnya. Mereka semua adalah bidak Iblis miliknya.

"Raiser," Dia menepuk kepalanya pelan... Berusaha agar bisa sadar lebih cepat. Dia tidak boleh kelihatan buruk. "Sudah di mana?"

"Kita telah di Dunia Manusia." Dia mendengar jawaban yang datang dari Pemuda itu. Anggukkan adalah jawaban darinya. "Atau lebih tepatnya di Milan, Italia."

Serasa hilang bagi Naruto, pikirannya melayang hilang darinya.. Dia merasa kosong sesaat, namun dia merasa akan betah berada di sini.. Di tanah Manusia, mungkin di sini akan terasa berbeda dan dia merasa seperti itu. Mengalihkan pandangannya ke jendela mobil yang dia naiki. Matanya bertemu dengan Malam yang tak pernah dia jumpai pada malam di tanahnya. Berbatasan dengan kaca pelindung, dia terpesona melihat malam yang hitam... Indah. Lalu dia melihat banyak titik putih dalam malam itu... Cahaya tersendiri seperti taburan... Dan itu sangat banyak.

Membuat Dia ingin menghitungnya, meski tau itu pekerjaan sia-sia.

Dia menatap ke arah lain. Menemukan banyak Manusia yang berjalan di sana... Di bawah bangunan-bangunan tinggi. Ada banyak Manusia yang berkeliaran, ada yang duduk... Dan ada yang berkelompok... Ramai tidak pernah sepi... Terlihat menyenangkan baginya.

Suara bising yang terdengar memekakkan telinga, pondok-pondok kecil makanan terletak di tepi jalan... Di penuhi oleh Manusia yang duduk di tepi jalan. Saat mereka melintasinya, dia menurunkan kaca mobil dan mencium aromanya... Itu terbayang lezat dalam pikirannya. Walau harga itu harus di bayar dengan Raiser yang tidak senang.

"Berapa lama lagi?" Naruto membuka suara tanpa perlu menoleh pada orang di sekitarnya. Dia masih menatap hal berbeda dengan malam di Dunia ini.

"Sebentar lagi.. Kita akan sampai." Mendengar suara Raiser menyahutnya. Begitu mengebu-gebu dan tidak teratur. "Berikan yang kau punya sayang~" dan suara desahan wanita yang menyertainya.

Dia tidak lagi menyahut, tidak membutuhkan apapun dari Raiser saat ini... Suara desahan itu menganggunya, tertuju dan menyaksikan malam yang lebih menarik menurutnya. Dia seharusnya berada dalam situasi yang menuntut untuk tenang, demi Bael... Untuk semua yang mengalir akannya. Namun semua menjadi hilang. Meski dengan apa yang telah dia katakan pada diri sendiri. Meski peringatan pada diri sendiri, meyakini bahwa ini adalah tugas... Bukan bersenang-senang.

Namun rasa itu akan tetap ada, bagi dia yang pertama kali ke Dunia ini... Sungguh indah. Tidak. Walau berkali-kali dunia ini jauh lebih indah dari Dunia bawah.

Berada dalam perjalanan waktu yang lama. Persiapan mereka telah cukup dikatakan matang, Naruto menutup mata dan mengambil nafas pelan. Dia menatap Raiser yang sedang memasukan tangannya ke dalam rok wanita budak miliknya dengan wajah yang aneh.

Warna merah mendominasi dari wajah wanita tersebut menyebut nama Tuan mereka dengan erotis... Sebuah desahan yang keluar dari mulut pelacur itu... Dia, Naruto mengerti apa yang mereka lakukan... Dia mencoba untuk tidak melihat. Membutakan mata akan itu, kelakuan dari Phenex dan Pelacur itu bukan urusannya... Selama tidak menganggu dan menjadi beban ke depan... Dia akan membiarkannya, setidaknya mendengar mereka ribut bisa membuat tempat ini jadi lebih ramai.

Mungkin.

Xxxxxxxxxx

"Selamat datang di La Scala!" Sebuah teriakkan dari seorang Pria dengan pakaian rapi yang berdiri di pinggir jalan.

Dalam undangan yang di berikan pada tiap peserta. Pelelangan kali ini berada di Milan, Italia, bertempat di dalam gedung opera tua. Bangunan dengan gaya lama Eropa kuno yang masih bertahan di tengah zaman yang terus maju... Yang tetap bertahan dari mengikisnya rasa tradisionalisme atas kemajuan zaman. Tempat yang juga di kenal sebagai tempat lahirnya seniman besar kelas Dunia pada masa kejayaannya. Pernah mengalami pemungaran besar-besaran, namun masih mempertahankan cita rasa lama yang ada. Dan di La Scala juga terdapat museum yang menyimpan banyak koleksi lukisan, patung, kostum-kostum serta dokumen yang berhubungan dengan opera.

Setidaknya begitu dari brosur yang Naruto baca.

Jika bertanya mengapa di sini? Jawabannya singkat pelelangan tidak pernah dilaksanakan di tempat yang sama... Selalu berpindah-pindah. Ada tujuan, tentu saja.

Dan mobil yang mereka naiki berhenti.

Kilauan lampu yang besar dari gedung Opera tempat pelelangan kali ini terlihat menyilaukan. Kekhawatiran memang terlihat bagaimana dengan kemewahan ini tidak mungkin tidak akan terendus oleh pihak Surga. Berdatangan satu persatu dari jalan utama, banyaknya deretan mobil-mobil berkelas yang terparkir di sana. Naruto keluar dari sebuah mobil limosi dan melangkah tenang, mengenakan jas hitam gelap, melangkah di belakang seorang iblis gemuk keturunan bangsawan rendahan... Yang sejak pertemuan mereka tak hentinya mencoba menjilatnya... Menjijikkan.

Dia tidak menjadi satu-satunya. Raiser Phenex adalah Iblis yang tak ingin dianggapnya teman walau bagaimanapun. Meski cara anak bangsawan Iblis itu memperlakukannya sederajat. Tidak, memperlakukannya tinggi. Itu jelas memaksudkan sesuatu. Dia telah mencoba membuat langkah, memberi akan batasan jarak.. Bahwa dia tak ingin di dekati... Katakanlah bahwa dia dan kesombongannya.

Meski begitu, walau perasaan ingin meremuk saat pemuda itu menyapanya. Nyatanya dia tetap menunjukkan senyum itu... Dia mencoba... Walau mungkin tidak akan pernah berhasil.

"Dimana Diodora?" Suara Raiser keluar dan sedikit keras.

Memaksa Naruto memberika tatapan tajam, berharap pemuda itu mengerti dan berhenti.

Dan Raiser melihatnya, pemuda itu mengangkat bahu tidak peduli dan tetap melangkah di sampingnya. Ya... Kemarahan sekilas bukanlah bagian yang perlu diperhatikan khusus.

Dia, Naruto memperhatikan dalam diam. Pria gemuk yang mereka ikuti memasuki sebuah pintu besar yang sebelumnya telah dibukakan oleh seorang pelayan dari pelelangan... Dan dalam genggamannya... Sebuah nomor urutan besar berada di sana.

Cahaya yang terang menyambut mereka.

Dan banyak suara yang terdengar.

Xxxxxxxxxxxxxxx

"Sudah lama ya?"

"Barisan yang menarik."

"Aku masih terlalu awal ya?"

"Baiklah."

"Iya aku gugup."

"Anak-anak... Aku."

"Ada barang yang tidak ada di buku katalog."

"Bahkan wanita untuk pembangunan."

"Aku ingin barang kualitas tinggi!"

"Insiden dengan Malaikat Jatuh."

"Membiayai perusahaanku ini tidak mudah!"

Naruto berdiri di belakang seorang Iblis gemuk sebagai pengawal pribadi. Dia menatap, melihat bagaimana ramai dan luas tempat pelelangan ini, ada sekitar 300 tempat duduk... Yang dengan kata lain ada tiga ratus iblis yang mengikuti pelelangan ini. Baik dari kalangan bangsawan 72 pilar, ekstra iblis maupun Iblis-Iblis kaya lainnya. Mereka mendapat tempat duduk yang bagus, lantai ke dua, di sudut ruangan mendapat tempat yang baik untuk bisa menatap semua... Di bawah dia bisa melihat semua, Diodora ada di sana... Dia harus merasa lega saat menemukannya. Menjadi lebih muda akan mengawasinya dari atas sini. Bersama Raiser yang meninggalkan para budaknya di luar sana untuk berjaga.

Seperti ketentuan, membolehkan dua pengawal yang boleh mendampingi setiap peserta lelang... Meski begitu, beberapa kecurangan tetap dilakukan. Walau terkesan diabaikan.

Guoh

Gouh

Gouh

Sebuah suara aneh yang menggema, dia melihat lampu ruangan yang telah padam. Tersorot di jauh bawah pangung pertunjukkan, dia melihat dua orang Iblis memakai pakaian yang tidak dia mengerti... Banyak warna cerah yang melekat pada tubuhnya... Senyuman lebar hasil dari coretan pewarna merah... Wajah seputih—sangat putih seperti warna putih itu sendiri. Satu berbadan besar dan terlihat bodoh. Satu lagi berbedan kurus, pendek. Terlihat idiot dan hyperaktif untuk alasan tertentu.

Sebuah tali jatuh dari langit-langit, dia menatap Iblis badut kurus itu mencoba menaikinya... Dan dia tertawa saat dia merasa gagal.. Lelucon yang mengerikan. Badut itu mencoba menarik kembali.. Tidak menghasilkan apa-apa. Dia Naruto diam, jauh di langit-langit, dia melihat sebuah lingkaran sihir. Lebih dan mengetahui bahwa lingkaran sihir itu ada tanpa memiliki lambang keluarga.

"Pertunjukkan macam apa ini?"

Raiser menunjukkan kekesalan adalah ketidakpuasan miliknya. Dia hanya diam tidak menanggapi komentar ketidak puasan itu, tidak bisa juga menyalahkan, melihat pertunjukkan itu adalah kesalahan pedih yang menyedihkan. Pertunjukkan buruk itu bahkan tidak dapat dia mengerti bagaimana masih dapat tepuk tangan yang meriah dari mereka yang menyaksikan... Selera mereka telah jatuh seperti kebanggaan mereka yang hilang ditelanjangi waktu.

Melihat bagaimana Iblis badut berbadan besar itu mencoba membunuh Iblis badut bertubuh kecil... Iblis badut kurus mencoba berlari menyelamatkan diri, namun kemudian semua mengalir dan berubah. Mereka mencoba untuk saling mencabik seperti hewan lapar... Gigit dan saling berteriak memilukan akan kepedihan. Darah yang keluar dari tubuh mereka... Adalah tepuk tangan dari Iblis yang melihat.

Tatapannya tidak berkedip. Sebuah bangunan telah terjun bebas ke bawah, mengarah pada dua badut itu... Saat badut iblis itu saling mematahkan tubuh satu sama lain dalam kegilaan. Dan suara pecah seperti kaca yang terdengar... Kedua Iblis itu melihat ke atas dan berusaha menghindar. Tapi menyadari badan mereka yang terkoyak... Menunggu untuk tertimpa bangunan itu dan mati.

Dan tepuk tangan yang lebih meriah untuk kematian mereka.

Bangunan yang jatuh menimpa kedua badut Iblis itu, mengingat bangunan itu membunuh mereka seketika. Naruto sadar itu bukan bangunan biasa... Dia bisa merasakan sihir yang kuat darinya, keberadaan yang bermacam ada di dalam bangunan itu... Tipis seperti benang namun menyebar begitu banyak. Menyulitkan untuk membedakan mereka yang seperti menyatu di satu tempat.

Tatapan Naruto tidak pernah berkedip... Sebuah kabut tipis keluar dari bangunan itu... Seorang Iblis melangkah dengan sebuah tongkat di tangan. Pakaian rapi dengan jas bewarna membentuk loreng hewan... Bewarna mencolok, sebuah senyuman Maniak yang tak lepas darinya.

"Hadirin sekalian, ini adalah waktu yang kalian tunggu!" Iblis itu melangkah sedikit kedepan, memperjelas siapa dia... Merentangkan tangan, kakinya yang menghentak kencang sesaat menginjak kepala salah satu badut Iblis yang mati hingga pecah. Membuat pada iblis peserta lelang itu sadar bahwa...

Badut iblis yang mereka lihat adalah Manusia.

Mereka budak. Jadi tidak ada yang salah.

"Banyak barang langka dan terkenal yang berkumpul di sini."

Barang!

Budak!

Budak!

Iblis itu berputar dan menarikan sebuah tarian balet dengan senyum membelah wajahnya. Itu terlihat aneh, bagaimana sangat tidak sesuai dengan apa yang dia sampaikan.

"Semua... Namun ekslusif untuk malam yang indah ini. Barang dangan pertama! Seorang perawan SUCI!" Berteriak penuh kegilaan... Dan teriakkan yang lain bagi peserta lelang.

Dia terdiam, Naruto diam dalam keheningan. Tatapan yang menatap apa yang akan datang. Seorang gadis, dia terjatuh. Dipaksa untuk keluar dari dalam bangunan itu... Berada di atas panggung, Dia memakai pakaian suster Gereja yang rusak. Rambut pirang yang jatuh, tatapan penuh ketakutan... Mulut yang tak bisa mengeluarkan suara... Ada sesuatu yang dimasukkan ke dalam mulutnya. Air mata suci yang mengalir.

Naruto meringis. Tidak mendengarkan keributan yang ada, ini... Dia dari Gereja. Dia sadar Pelelangan ini menjual hal yang gila... Dia sekarang mengerti kenapa Empat Maou saat ini melarang pelelangan ini yang nyatanya adalah tradisi dari pemerintahan lama. Matanya menatap kesegala arah mengabaikan teriakkan para Iblis yang terdengar semakin sinting, berusaha melihat dan menatap Astaroth menggila dalam wajah setannya.

Dan seperti menghilang dalam sunyi. Ada perbedaan dan membuatnya tenang... Pupil matanya yang kembali menjadi normal, keterkejutan sesaat memang sempat mengambil alih dirinya. Dia mengambil nafas dengan kasar dan mengeluarkannya secara pelahan, dia kembali menatap ke bawah panggung... Melihat gadis Suci yang menangis dalam ketakutan. Dia menatap kelangit langit gedung... Entahlah, dia hanya tidak ingin menyaksikan wajah memilukan itu lagi. Atau mungkin... Dia merasa harus menatap jauh ke atas sana... Berharap agar tatapan miliknya di balas.

"10 juta!"

Semua iblis mengangkat tangannya, mengacungkan setiap nomor yang mereka dapatkan pada saat pertama kali memasuki ruangan ini. Bahkan untuk Iblis rendahan yang dia kawal... Pria gemuk itu terlihat sangat bersemangat.

Tidak ada yang mundur... Tau kenapa mulut gadis itu di bungkam.

"60 juta!"

Adalah sebuah doa... Hanya itu. Tidak membiarkan gadis itu membuat permohonan pada Tuhan dala Al-kitab, dia di culik. Sangat beresiko melelang dirinya yang mana nanti akan menyebabkan pecahnya perang tiga fraksi kembali.

"75 juta!"

Tapi di sanalah letak menariknya ini, dan setengah dari mereka masih mengangkat tangannya menunjukkan nomor yang mereka punya.

"90 juta!"

Dua Iblis bertahan... Dan salah satunya Diodora (113) dan seorang Iblis bertubuh pendek dengan nomor (83)


"90 juta!"

Diodora dengan tenang mengangkat nomor (113) yang berada di tangannya. Dia tersenyum dalam rasa tenang. Perbedaan persetan, tidak peduli dengan emas, dia menginginkan Perawan Suci itu. Menciptakan senyum yang membelah wajahnya. Nafsu yang membakar bagai api. Menginginkan tubuh biarawati itu.

Namanya adalah Asia Argento... Budak Manusia Suci yang akan dan harus menjadi miliknya... Sebuah harga mahal hanya untuk sebuah Suster Gereja. Tapi melihat garis wajah itu... Lugu, membuatnya membayangkan permainan yang menyenangkan nantinya. Terburu nafas yang tidak teratur. Saat bayangan lemah suster itu melintas di depannya dalam keadaan pasrah. Berada tepat di bawahnya. Ah~ miliknya... Hanya dia. Dia dia dan dia. Tubuh yang mengingil

Asia

Asia

Jadilah milikku.

"Ok, ini yang tertinggi malam ini." Suara iblis itu tidak di dengarnya lagi... Semua kosong menatap wajah suster suci bernama Asia itu. Asia... Asia...

"100 juta!"

ASIA!


"100 juta!"

Harga yang tinggi. Budak itu menjadi milik Diodora

Di tidak yakin bagaimana Diodora melakukannya. Suatu saat wajah itu penuh dengan kesan lugu akan senyum mata tertutup. Pikirannya melayang jauh kebelakang, mendengar bahwa banyak yang mengatakan pewaris Astaroth itu Iblis tampan yang ramah, mendengar semua kebaikkan dan kebaikkan yang lain seperti mendengar sebuah ketidak mungkinan. Lalu dia di saat ini melihat Diodora dengan wajah yang lain, tersenyum membelah setengah wajahnya... Menatap budak belianya penuh kepuasan. Ini mengambil sesuatu baginya untuk menilai siapa Iblis itu.

Dia Iblis aneh.

"Barang akan di antar nanti, jadi bagi pemenang tolong pergi ke bagian resepsionis." Iblis itu kembali melakukan gerakan berputar-putar mengelilingi Suster Gereja itu. Melihat bagaimana tatapan suster itu menjadi kosong penuh keputus asaan. Melihat dia ditarik paksa memasuki bangunan itu kembali.

"Barang yang bagus menjadi pelelangan termahal hari ini." Dia mendengar, dan mulai mengambil sikap atas rasa senang dari Iblis tersebut. Mundur dan bersandar di sebuah tiang besar... Mata menatap Iblis yang dia kawal terlihat kecewa... Dia tau, Iblis rendahan itu juga menginginkan.

"Selama kita masih senang, aku akan menunjukkan barang dagangan yang lain."

"Dia juga tidak ada di daftar."

Naruto kembali mendengar, saat Iblis itu mengatakan hal yang membuatnya menarik.

"Sesuatu yang sama langkahnya." Suara dari Raiser penuh penasaran. Hal yang sama juga menunjukkan rasa penasaran juga dalam diri Naruto.

"Ini sangat sulit untuk mendapatkannya... Ini pantas untuk sesuatu yang mahal. Seorang gadis yang sangat cantik."

"Ras yang langka dan mendekati kepunahan... Nekomata."

Ini

Manis sekali.

Kata yang mengangkat kepalanya. Sesuatu yang menarik ada di sana untuk kembali di lihat. Kabut yang sama, suara rantai dari kebisingan. Terseret dan tak melawan, rambut putih bersih... Berlawan dengan warnanya malam. Dia bisa merasakan tubuh gadis itu bergetar. Penuh dengan horor yang ada di matanya. Terlihat jelas.

"Karena ini sama langkanya, kami akan mulai dengan harga yang pantas."

"10 juta."

Dia melangkah mendekati Iblis rendahan di depannya. Menepuk pelan bahu itu dan membisikan sesuatu ke padanya.

Mengabaikan Raiser yang heran dan Iblis dari kasta rendah itu yang ketakutan.

"15 juta."

Harga berlanjut dan dia peduli.

Semua yang masih berlangsung, dan para Iblis masih saling mengangkat nomor yang mereka miliki.

Meski untuk sejenak dia merasa terpisah dan sendiri dalam pemikiran, tidak menyadari bagaimana waktu mulai menunjukkan kenyataan.

Terus terang dia menginginkan Nekomata itu... Warna yang dia lihat indah dari gadis itu, seperti malam dan warna gadis itu adalah ratusan titik putih yang menghiasinya. Meski dia melihat dengan cara pandang yang aneh. Tapi inilah dia, dia menginginkan, dia menahan...

Namun realita mengejutkannya.. Dia terbawa jauh hingga tidak sadar akan apa yang terjadi. Banyak suara yang berteriak dan banyak tubuh yang menabraknya, semua menunjukkan wajah takut. Banyak Iblis yang mati dalam cahaya. Dia masih diam menatap gadis Nekomata itu. Gadis kecil yang ketakutan.

Dia diam, rasa panas menjalar dari tubuhnya...

"Naruto?" Seseorang memanggilnya. "Jangan diam dasar bodoh! Kita di serang! Dimana Diodora."

Dia kembali sadar, dia melihat sejenak sebelum mulai melangkah mencari Diodora. Astaroth sinting yang menyebalkan. Dia dan Raiser mulai menjauh... Mengabaikan Iblis redahan yang dia kawal berteriak takut. Semua berantakan para pengawal yang bersiaga... Sesuatu jatuh dari atas. Tempat dimana Nekomata itu masih terdiam.

Mata yang saling menatap. Menunjukkan kedalaman masing-masing, dia melihat sekitar gadis itu... Terdapat banyak tombak cahaya yang jatuh, namun tidak ada satupun yang mengenainya.

Dan jatuh dari langit-langit gedung yang roboh, bersamaa dengan para Malaikat. Mereka Exorcist dan pada kenyataan mereka berbahaya dengan cahaya yang mereka punya.

"Cih!" Raiser, menunjukkan ketidak sukaannya. Api keluar bagitu saja dari dalam tubuhnya... Sebagaimana yang diharapkan. Phenex, itu mulai menyebarkan apinya, menghalangi para exorcist melangkah lebih jauh. "Kita terdesak, berengsek!"

Naruto menulikan untuk umpatan itu, dia masih berdiri tenang walau pada kenyataan dia yang sangat khawatir akan kegagalan. Para Iblis sewaan mulai bertarung dengan Exorcist maupun Malaikat.

Diodora dia tidak tau bagaimana keadaan pemuda itu sekarang. Sebuah konsentrasi dibutuhkan, aliran Demonic power yang mengalir dalam tubuhnya. Dari kehampaan sesuatu tercipta di sekitarnya.

"Raiser!" Dia tidak mengatakan dua kali, keadaan tidak memungkinkan. "Cari dan lindungi Astaroth, tetap sesuai rencana."

Mendengar itu ada keinginan untuk membalas, namun ratusan Power of Destruction berbentuk pedang yang berada di sekitar keturunan Bael itu, membatalkan niatnya... Anak itu akan selamat, begitu dalam pikirannya.

"Heh... Bagaimana aku bisa lupa." Dia terkekeh sebentar dan bersiap untuk pergi. "Jangan mati dulu, jangan buat adikku kecewa kau tau."

Naruto tidak membalas, fokusnya masih utuh pada pengendalian ratusan pedang dengan energi pemusnah itu. Walau dia masih sempat mengutuk di bawah nafasnya atas ucapan itu. Seorang Malaikat mencoba terbang dan maju, namun Malaikat itu musnah saat lesatan pedang Power of Destruction menusuk dadanya, membuat dia terjatuh jauh ke bawah.

Dan mati, bahkan mayat tubuhnya sudah hancur termakan kekuatan itu sebelum mencapai ubin gedung Opera ini.

Beberapa Exorcist mencoba menuju dirinya. Dan Naruto melihat itu, sebuah decihan dari mulutnya... Beberapa pedang dengan energi Destruction mencoba menuju para pengikut Tuhan itu, beberapa tertusuk dan menuju kehancuran dan sebagian yang lain bergerak menuju dirinya.

Namun dari pada memilih menghindar atau menyelamatkan diri. Dia tersenyum dan melipat tangannya senyum itu penuh dengan wajah keamgkuhan di sana, dan keluar dari dasar lantai ubin gedung Opera tersebut, sesuatu yang berwarna merah keluar dan mencuat dari dasar permukaan. Berwarna merah pekat yang kotor, menjanjikan kehancuran sebagaimana dia terbentuk dari denomic power yang kuat.

Mengambil bentuk akar besar yang menusuk semua Exorcist yang tersisa... Bahkan semakin lebar dan merambat mengejar yang lain.

Itu Power of Destruction.

Namun di tengah kekacauan, perasaan beku menjalar dan memberikan sensasi ancaman bagi siapapun.

Dentuman keras pertanda ada yang jatuh, terhenti sejenak Naruto melihat siapa yang datang. Seorang Malaikat... Namun matanya melebar saat tau siapa dia. Dia tau, kedatangan yang paling tidak di harapkan saat ini, membuat gigi-giginya saling beradu menahan kekesalan.

Datang dan jatuh dari langit.

Joker surga Dulio.

.

.

.

.

"Kau ingin bantuanku Naruto." Sungguh dia tak ingin membalas kata-kata Raiser sekarang.


A/N: Terimakasih bagi yang telah membaca chapter2 kali ini.

Jika ada kesan, kritik, dan beberapa pertanyaan soal chapter ini tolong sampaikan saja lewat review.

saya akan sangat menghargainya ^^

Drak Yagami out