SORRY…

Cast :

Park Leeteuk

Park Kyuhyun

Park Donghae

Kim Heechul

Genre :

Family, Brothership, Friendship, Hurt

Author :

Ayu Rahayu

Summary :

Aku akan menahan semua rasa sakit ini sendiri. Aku akan selalu menutup luka hatiku dengan senyuman. Aku akan selalu menamakan penderitaanku dengan kebahagian. Aku akan tetap kuat, terus tersenyum dan berdiri dengan tegar, aku akan terus seperti itu hingga Tuhan mengatakan waktunya untuk kembali.

HAPPY READING

.

.

.

.

.

Chapter 2…

"Teukie…" Sapa seorang namja dari dalam mobil sport merahnya. Jika di lihat dari seragam yang dikenakannya, sepertinya namja ini satu sekolah dengan Leeteuk.

"Chullie? Apa yang kau lakukan disini?"

"Harusnya aku yang bertanya seperti itu. Kenapa melamun di pinggir jalan seperti ini?" Tanya namja yang ternyata adalah Kim Heechul, sahabat dekat dari Leeteuk.

"Emhh… Gwenchana." Ucap Leeteuk berusaha untuk menyembunyikan keadaannya dari sang sahabat.

"Sudahlah, kajja masuk."

"Ne? Ani, aku jalan kaki saja."

"Aku bilang masuk Park Leeteuk. Kita akan jalan-jalan."

"Jalan-jalan? Bukankah seharusnya ke sekolah?"

"Anio, kajja kita membolos."

"Mwo?!"

.

.

.

Leeteuk pov…

Hari ini adalah hari yang sangat menyenangkan untukku. Seharian ini aku berjalan-jalan menghabiskan waktuku untuk mengeliling Seoul, melewati pedesaan yang masih terasa asri dan indah. Tentu saja aku tidak pergi sendiri, karena semua ini adalah ide dari sahabatku Kim Heechul. Tiba-tiba saja dia mengajakku untuk membolos dan tanpa bisa menolak akhirnya aku pun memutuskan untuk ikut dengannya dan berharap agar hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan.

Dan…

Harapanku terkabul, hari ini benar-benar menjadi hari yang menyenangkan. Dan yang membuatku tak akan pernah melupakan hari ini adalah, saat Heechul membawaku ke sebuah tempat yang sangat mengesankan. Tempat itu adalah sebuah yayasan kanker, dimana semua anak-anak yang berada di yayasan itu adalah penderita kanker. Ada yang menderita Leukimiea, kanker paru-paru, kanker otak, kanker pita suara dan kanker tulang, persis seperti kanker yang sekarang tengah tumbuh di tubuhku.

Ya… aku adalah salah satu penderita kanker, lebih tepatnya adalah penderita kanker tulang dan sepertinya aku hanya perlu menunggu waktu saja sampai akhirnya aku akan menjadi seperti anak itu, lumpuh.

Tapi saat aku melihat anak-anak itu, saat aku melihat senyum mereka, saat itu aku sadar… aku tak perlu memikirkan semua ini, tidak untuk penyakitku dan tidak juga untuk appa. Aku hanya perlu tersenyum dan yakin bahwa Tuhan tak akan menguji umatnya diluar kemampuan sang umat. Jadi mulai saat ini aku tak akan bersedih lagi, aku hanya akan tersenyum dan menantang dunia dengan senyumanku. Jika anak-anak seperti mereka saja bisa bertahan, maka aku pun pasti bisa bertahan. Bukankah aku benar eomma?

Dan yang aku dengar, salah satu obat kanker yang paling ampuh adalah… tetap merasa bahagia. Walau aku tak begitu yakin, tapi tak ada salahnya jika di coba, toh cara ini juga tidak bayar.

Author pov…

Sinar matahari sore bersinar dengan lembut. Angin yang berhembus pelan membuat beberapa daun berguguran di musim semi ini. Sekumpulan burung gereja pun terlihat mulai terbang mengepakkan sayap-sayap mereka, bersiap untuk kembali ke sarang mereka. Sungguh sore yang sangat indah dan menenangkan bahkan mungkin kau bisa tersenyum sendiri saat angin sore ini mengelus lembut kulitmu.

Dan hal inilah yang tengah terjadi pada namja manis yang satu ini. Dengan senyum yang terkembang dia duduk bersender di bingkai jendela kamarnya sambil menatap indahnya langit sore yang sedikit demi sedikit berubah menguning.

"Gumawo Chullie untuk hari ini." Gumam Leeteuk dengan senyum yang masih belum pudar dari bibirnya.

Tapi kebahagiaan itu tak bertahan lama, senyum yang sejak tadi di pertahankan pun seketika menghilang saat seorang lelaki paruh baya membuka pintu kamar Leeteuk dengan kasar dan masuk dengan wajah merah menahan amarah.

Brraakkk…

"PARK LEETEUK!" Teriak lelaki paruh baya itu saat dirinya telah berada tepat di tengah-tengah kamar Leeteuk. Dengan wajah yang terlihat takut Leeteuk pun segera bangkit dari posisi duduknya dan menghampiri lelaki paruh baya yang ternyata adalah Park Youngmin sang appa.

"A…ada apa, appa?" Tanya Leeteuk sedikit terbata karena menahan rasa takut.

"Ada apa? Kalau bilang ada apa? HARUSNYA AKU YANG MENANYAKAN ITU, APA SEMUA INI EOH?." Dengan wajah merah padam Youngmin pun melempar beberapa lembar kertas tepat di wajah Leeteuk. Dengan tubuh bergetar karena takut, Leeteuk pun memungut lembar-lembar kertas yang baru saja dilempar sang appa dan betapa terkejutnya Leeteuk saat melihat isi dari kertas-kertas itu.

"35 juta won?" Ucap Leeteuk sambil menatap Youngmin dengan bingung.

"Kau ini memang tidak tahu atau hanya berlagak tidak tahu. Semua itu adalah tagihan yang berasal dari kartu kreditmu!"

"MWO? Tapi appa, aku sama sekali tak pernah menggunakan kartu kredit itu." Ucap Leeteuk berusaha untuk membela diri dari tuduhan Youngmin.

"Kau masih tidak mau mengaku eoh?! Jika bukan kau yang menggunakannya lalu siapa eoh?! Kyuhyun? Atau Donghae?" Gertak Youngmin dengan dada yang terlihat mulai naik turun menahan amarah yang siap meledak kapan saja.

"Bukan seperti itu appa, aku tak menuduh siapa-siapa, tapi sungguh bukan aku yang melakukan ini." Ucap Leeteuk masih berusaha membela diri. Tapi bukannya mendengarkan pembelaan Leeteuk, Youngmin justru terlihat seperti menutup telinganya dan amarah yang sejak tadi di tahannya akhirnya meledak.

Plaakk

Suara tamparan yang cukup keras pun terdengar. Benar, Youngmin pun akhirnya melampiaskan emosinya dengan menampar Leeteuk dengan keras, membuat Leeteuk jatuh tersungkur di lantai kamarnya.

"Appa~" lirih Leeteuk. Air mata yang sejak tadi berusaha ditahannya pun akhirnya meluncur dengan bebas membasahi pipinya.

"Bahkan untuk mengakui kesalahanmu sendiri pun kau tak mau?! Dasar anak tak berguna. Jika bukan karena permintaan istriku, aku tak kan mungkin memberimu kartu kredit itu. Dan kau dengan tak tahu diuntungnya justru menghambur-hamburkan uangku. Kau pikir kau siapa eoh?!" Youngmin yang semakin tersulut emosinya pun semakin tak bisa menahan anarahnya, dan sekarang bukan lagi tamparan yang di berikan Youngmin pada Leeteuk. Tanpa memikirkam apa yang akan terjadi pada Leeteuk, Youngmin pun menarik kuat surai coklat Leeteuk, membuat Leeteuk berdiri dari duduknya sambil merintih kesakitan.

"Argghh… appa, appo~"

"Aku sudah sangat berbaik hati padamu. Membiarkanmu tinggal di rumahku ini, memberimu kamar sebagus ini, memberimu kartu kredit dan aku pun juga menyekolahkanmu, dan bukannya berterima kasih, kau malah melakukan ini padaku. Sebenarnya apa yang kau inginkan eoh? APA?!" Tanpa sengaja, Youngmin pun semakin mengeraskan cengkraman tangannya pada helai-helai rambut Leeteuk. Sedangkan Leeteuk hanya mampu menutup kedua matanya menahan sakit. Sekarang, merintih pun tak akan ada gunanya, karena Youngmin takkan pernah peduli dengan rasa sakit yang di terima Leeteuk. Dalam hati Leeteuk terus berharap agar ada seseorang yang datang dan menolongnya. Dan harapan Leeteuk benar-benar terjadi.

"PARK YOUNGMIN LEPASKAN ANAKKU.!" Teriak seorang wanita paruh baya yang sekarang telah berdiri di belakang Youngmin. Masih dengan tangan yang yang mencengkram rambut Leeteuk, Youngmin pun berbalik dan menatap tajam wanita yang ternyata adalah istrinya itu.

"Kenapa kau hanya menatapku? Aku bilang cepat lepaskan anakku?!" Ulang Hyera dengan tegas. Youngmin pun hanya mendengus kesal, dan dengan kasar Youngmin mendorong Leeteuk hingga membuat tubuh Leeteuk menghantam kuat ujung ranjangnya.

"Arggh.." rintih Leeteuk. Hyera pun dengan segera menghampiri Leeteuk.

"Gwenchana chagi?" Tanya Hyera khawatir, dan Leeteuk pun hanya tersenyum tulus.

"Aku selalu bertanya kenapa saat itu harus Haneul yang pergi, harusnya saat itu kau saja yang mati!" Ucap Youngmin yang berhasil melukai titik terdalam hati Leeteuk.

"CUKUP! Aku mohon hentikan, tidak cukupkah dengan kau memukulnya? Kenapa kau juga harus melukai hatinya? Ingatlah bahwa dia juga anakmu." Lirih Hyera. Dengan segera Hyera pun membawa tubuh Leeteuk untuk masuk ke dalam dekapannya.

"Dia bukan anakku. Anakku hanyalah Kyuhyun dan Donghae."

"Baiklah. Jika dia bukan anakmu, maka kau tak memiliki hak untuk memukulnya seperti ini. Dia adalah anakku, dan aku takkan mengijinkan siapa pun menyentuh anakku, termasuk kau. Dan jika sekali lagi kau menyakitinya maka aku tak akan segan untuk melaporkanmu. Aku akan melakukan apa pun untuk melindungi anakku ini. Ingat itu Park Youngmin!"

"Aku tak perduli. Dan kau anak sial, kau harus segera mengembalikan uangku. Bagaimana pun caranya, aku hanya ingin uangku kembali." Ucap Youngmin dengan tegas. Hyera yang mendengar itu pun membelalakkan matanya, dari mana Leeteuk mendapatkan uang sebanyak itu? Setidaknya hanya kalimat itu yang segera terpikir oleh Hyera. Baru saja Hyera akan melayangkan protes, tapi Leeteuk dengan cepat melepas pelukan Hyera dan menatap punghung Youngmin yang sekarang telah berdiri membelakanginya.

"Ne, aku akan segera mengembalikannya." Ucap Leeteuk tanpa ragu. Seakan puas dengan jawaban Leeteuk, Youngmin pun mulai melangkah keluar dari kamar Leeteuk.

"Eomma… Gumawo." Ucap Leeteuk saat hanya tinggal dirinya dan Hyera dalam kamarnya ini.

"Kenapa kau menyanggupinya? Sekarang bagaimana caranya kau mendapatkan uang sebanyak itu?"

"Seperti yang appa katakan, aku akan mendapatkannya bagaimana pun caranya. Sekarang lebih baik eomma menyusul appa, appa masih terlihat sangat marah jadi eomma harus menenamgkannya ne."

"Kau masih bisa memikirkan orang yang telah melukaimu seperti ini eoh? Andwae! Eomma akan tetap disini dan mengobati luka-lukamu."

"Ayolah eomma, aku bisa mengatasi semua ini sendiri. Jebal… aku juga ingin tidur."

"Huuftt… baiklah. Istirahatlah, nanti saat makan malam sudah siap eomma akan memanggilmu ne."

"Emhh… ne eomma."

Atas permintaan Leeteuk, Hyera pun akhirnya pergi meninggalkan Leeteuk. Dan sekarang tinggallah Leeteuk sendiri, suara isakan mulai terdengar memenuhi kamar bernuansa putih ini.

"Eomma… eomma… hiks eommaa~" lirih Leeteuk dengan air mata yang telah membanjiri wajahnya.

"Kenapa harus aku Tuhan? Kenapa? Aku baru saja merasa bahagia, kenapa kau sudah merenggut kebahagian itu lagi. Appo~" dengan kuat namja ini mencengkram dadanya, berusaha menyingkirkan rasa sesak yang terasa menghimpitnya.

TBC

Annyeong semuanya… :D

Maaf saya baru bisa posting sekarang, entah kenapa belakangan ini kepercayabn diri saya sedikit menurun. Saya jadi sedikit malu memposting lanjutannya ini, karena saya pikir ini jadi semakin gaje saja -_-

Tapi…

Ada satu review yang menyadarkan saya dan saya pikir dia benar. Saya sudah memulai cerita ini dan saya juga harus mengakhirinya.

Buat Amanda gumawo ne reviewnya :)

Dan buat kalian juga gumawo buat reviewnya :)

Dan saya harap untuk chapter ini kalian juga masih bisa menerima dengan baik :)

Special Thank's to:

Amanda, kuroi ilha, jjkpalen, wonhaesung love, shinjoo24, shofie kim, guest, angela, , atikaj, tasha, angel sparkyu.