SORRY

Cast :

Park Leeteuk

Park Kyuhyun

Park Donghae

Kim Heechul

Genre :

Family, Brothership, Friendship, Hurt

Author :

Ayu Rahayu

Summary :

Aku akan menahan semua rasa sakit ini sendiri. Aku akan selalu menutup luka hatiku dengan senyuman. Aku akan selalu menamakan penderitaanku dengan kebahagiaan. Aku akan tetap kuat, terus tersenyum dan berdiri dengan tegar. Aku akan terus seperti itu, hingga Tuhan mengatakan 'waktunya untuk kembali'.

HAPPY READING

.

.

.

.

.

Chapter 3

Malam telah tiba, setelah kejadian pertengkaraan antara dia dan sang ayah yang terjadi sore tadi, malam ini Leeteuk kembali melakukan rutinitasnya, yaitu duduk di depan jendela kamarnya menatap keindahan bintang-bintang yang selalu menjadi perhiasan langit setiap malamnya.

" Tuhan, jika memang kau telah menyiapkan sebuah kisah bahagia untukku seperti apa yang selalu ku percayai, maka berikanlah aku kekuatan untuk menunggu hingga saat itu tiba. Beri aku kekuatan untuk tetap bertahan dengan semua cobaan yang KAU berikan ini. Tapi jika aku hidup hanya untuk merasakan sakit seperti ini, maka bolehkah aku menyerah saja? " Dengan mata yang terpejam dan kedua tangan yang telah terkatup di depan dada, Leeteuk pun mengucapkan bait demi bait doanya dengan nada lirih. Air mata yang telah mengering beberapa saat yang lalu, malam ini dengan terpaksa harus kembali menetes dan membasahi manik indah yang terlihat semakin meredup itu. Rasa sesak dan sakit membuat Leeteuk tak bisa lagi membendung air matanya. Terserah jika dia akan disebut sebagai lelaki cengeng, lemah atau apa pun itu. Satu-satunya yang diinginkan olehnya hanya melepas rasa sesak yang terasa semakin menghimpitnya. Seandainya bisa, ingin sekali rasanya Leeteuk memberontak, meneriakkan semua rasa sakit yang di terimanya dan membalas semua perlakuan yang telah Youngmin berikan padanya.

Tapi...

Karena rasa sayang yang begitu besar pada sang ayah dan keluarganya, membuat pikiran-pikiran seperti itu hanya bisa melintas tanpa dihiraukan olehnya. Hingga akhirnya menangislah cara terakhir yang bisa di lakukannya, seperti apa yang dilakukannya malam ini. Menangis dan mengeluh pada sang pemilik kehidupan.

.

.

.

Kini Youngmin dengan tatapan kosong terlihat tengah berdiri di depan jendela kamarnya yang berhadapan langsung dengan halaman rumahnya, tangan kanannya terlihat menggangam segelas wine.

" Aku kembali menyakitinya, kau pasti marah padaku. Maafkan aku, aku tahu bahwa kau sangat menyayanginya, tapi tidak untukku. Aku membencinya dan sampai kapan pun akan selalu membencinya." Gumam Youngmin dengan tatapan yang telah teralih ke gelas wine ditangannya.

" Kau membencinya sedangkan Haneul sangat menyayanginya. Bahkan Haneul rela melakukan apa pun hanya untuknya, lalu kau fikir jika kau terus memperlakukanya seperti ini maka Haneul akan tetap mencintaimu? Tidak tuan Park! "

" apa maksudmu eoh?! "

" Haneul mungkin saja akan berbalik membencimu, jika kau terus saja memperlakukan anaknya seperti ini. Kau bukan hanya melukai fisiknya tapi juga hatinya, sebenarnya tebuat dari apa hatimu itu eoh ?! tidakkah kau merasa kasihan padanya?! "

"kasihan? Dia telah membunuh Haneul ku dan kau masih akan berfikir bahwa aku akan mengasihaninya? Tidak ! " tanpa memperdulikan Hyera, Youngmin pun melangkah kearah sofa yang berada tak begitu jauh dari tempatnya tadi berdiri. Dengan kasar lelaki paruh baya ini menghempaskan tubuhnya disofa, meletakkan gelas winenya di meja dan berusaha kembali fokus pada pekerjaan yang sempat di tundanya.

" seorang ibu menyelamatkan anak yang telah di kandungnya selama 9 bulan, kau sebut itu sebagai membunuh? Sekarang jika kita balik keadaanya, seandainya saat itu Leeteuk lah yang berada diposisi Haneul, anak itu yang menyelamatkan Haneul, apakah kau juga akan menyalahkan Haneul? Apakah kau juga akan menyiksa Haneul seperti kau menyiksa Leeteuk sekarang. "

Mendengar ucapan Hyera, Youngmin pun hanya bisa terdiam. Entah apa yang di fikirkannya, pria ini hanya bisa mengatup bibirnya dan menatap kosong hamburan berkas-berkas pekerjaan di hadapannya.

" kau tak bisa menjawabnya? Ck! Kau harus segera keluar dari neraka yang kau ciptakan ini. Jangan biarkan kebencian mengusai hatimu, karena itu bukan hanya akan menghancurkan orang-orang di sekitarmu tapi juga akan menghancurkan dirimu sendiri." Ucap Hyera tajam. Tanpa menghiraukan reaksi Youngmin, Hyera segera berbalik dan mulai melangkah keluar. Tapi saat telah berada di depan pintu, langkah Hyera terhenti.

" ikatan suami dan isteri mungkin bisa terputus kapan saja. Jika telah terputus, maka sang suami akan menjadi mantan suami dan begitu pun sebaliknya pada sang isteri. Tapi ikatan antara orang tua dan anak, sampai kapan pun ikatan itu akan abadi dan tak akan bisa terputus. Jadi kumohon padamu, berhentilah, sebelum penyesalan benar-benar menghampirimu. "

.

.

.

Kehangatan keluarga yang tercipta dikala semua orang tersayang berkumpul, saling melempar ejekan antara saudara, tertawa bersama ayah dan ibu. Bukankah itu merupakan keinginan semua orang?

Dan kehangatan itulah yang pagi ini tercipta di ruang makan keluarga Kim. Memang bukan kelurga yang lengkap, dimana ada sosok ayah, ibu atau pun saudara. Karena di ruang makan ini hanya tampak sosok ayah dan seorang anak lelakinya, memang terasa sepi tapi itu sama sekali tidak mengurangi kehangatan dalam keluarga ini.

" Chullie, bagaimana sekolahmu? Lancar? " tanya sang ayah pada anaknya.

" tugas semakin banyak, terkadang aku kewalahan sendiri. " jawab sang anak dengan wajah merengut. Merasa sedikit kesal dengan guru yang selalu tega memberi tugas yang banyak pada murid-muridnya.

" appa dengar kemarin kau tidak masuk sekolah. Kau kemana? Membolos? " tanya sang ayah kembali. Mendengar pertanyaan sang ayah, sang anak yang kita kenal bernama Kim Heechul ini pun hanya bisa menunduk takut. Kim Sooman memang adalah sosok ayah yang lembut pada anaknya, tapi walaupun begitu Sooman juga adalah sosok ayah yamg tegas jika menyangkut soal pendidikan. Apa yang akan kita terima di masa depan adalah hasil dari apa yang kita tanam di masa ini, kata itulah yang selalu Sooman katakan pada Heechul dan Heechul juga bukan tipe anak pembangkak, dan kejadian membolos yang terjadi kemarin adalah untuk pertama kalinya untuk seorang Kim Heechul.

" mian appa... aku membolos karena aku ingin menghibur Leeteuk. Aku membawanya ke Yayasan Kanker, saat itu dia tampak sangat bahagia, dia seperti kembali menemukan semangat hidupnya. " ucap Heechul mencoba menjelaskan pada sang ayah. Senyum sedikit terkembang di bibirnya saat mengingat bagaimana wajah bahagia Leeteuk saat itu. Sooman yang sedari tadi menatap sang anak pun ikut tersenyum.

" baiklah, untuk kali ini appa maafkan. Tapi jangan melakukan itu lagi, jika kau ingin membawa Leeteuk jalan-jalan, maka kau bisa melakukannya saat hari libur. Arra ? "

" ne appa.. "

.

.

.

" Park Leeteuk. " seorang namja yang tengah berjalan santai menuju kelasnya, tiba-tiba harus menghentikan langkahnya saat suara yang sangat di kenalinya memanggilnya.

" ne Chullie. " ucap Leeteuk saat Heechul sang sahabat telah berada di sampingnya. Mereka berdua pun kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju kelas.

" Teukie, kau terlihat pucat. Kau sudah meminum obatmu ? "

" ne sudah. "

" benarkah ? "

" Aish... ne jinjja. Kau ini selalu saja tidak percaya padaku. "

" bukannya tidak percaya. Hanya saja kau itu kan... "

"TEUKIE HYUNG~ " ucapan Heechul dengan terpaksa harus terhenti saat tiba-tiba terdengar teriakan seorang namja yang tengah berjalan cepat ke arah mereka.

" Yak ! Park Donghae. Kau fikir ini hutan eoh ? seenaknya saja kau berteriak seperti itu." Gerutu Heechul yang merasa kesal karena namja yang telah berada dihadapan mereka ini telah seenaknya memotong ucapannya.

" Teukie hyung, hari ini kami ada praktikum resep, tapi Kyuhyun tidak membawa jas praktikumnya. Bagaimana ini hyung? " ucap Donghae pada Leeteuk dan tak menghiraukan gerutuan Heechul, Heechul pun hanya mendengus kesal.

" aigoo.. kenapa Kyu jadi seceroboh itu. Emmh... tunggu dulu, sepertinya hyung bisa membantu. " Leeteuk pun membuka tasnya punggungnya dan mengeluarkan sebuah jas berwarna putih yang telah terlipat rapi itu.

" Berikan ini pada Kyunnie. " Leeteuk pun menyerahkan Jas putih itu pada Donghae. Dengan senyum merekah Donghae pun menerima jas itu. Heechul yang sedari tadi diam seketika membulatkan matanya saat Leeteuk dengan santainya menyerahkan jasnya pada Donghae. Baru saja di akan melayangkan protesnya, Leeteuk sudah lebih dulu menarik tangannya dan berjalan menjauhi Donghae.

" Hyung gumawo. " ucap Donghae sebelum Leeteuk benar-benar menjauh darinya. Leeteuk pun hanya membalas dengan senyuman.

" Ahh... Kyu, hari ini kau selamat berkat seseorang yang sangat kau benci. " lirih Donghae.

.

.

.

Angel Without Wings... Mungkin julukan itu memang sangat tepat jika di berikan kepada seorang Park Leeteuk, yang selalu mengutamakan orang lain sebelum dirinya sendiri. Yang selalu membantu orang lain tanpa memandang dia jahat atau baik, dia musuh atau teman. Yang selalu mengorbankan dirinya untuk kebahagiaan orang lain. Tapi sifat baik hatinya itulah yang selalu membuat seorang Kim Heechul naik pitam.

Seperti hari ini, kebaikan hatinya yang meminjamkan jas praktikumnya pada sang adik tanpa memperdulikan fakta bahwa hari ini mereka juga akan menjalani praktikum, membuat hati Heechul memanas. Bagaimana tidak, setiap murid yang tidak membawa jas bisa di pastikan tidak akan bisa memasuki ruang Laboratorium dan mungkin juga akan mendapat hukuman. Dan hal itulah yang tidak diinginkan oleh Heechul. Tapi seakan tidak memperdulikan kekhawatiran Heechul, Leeteuk justru tetap tersenyum dan berkata " sudahlah Chullie, gwenchana. Semua akan baik-baik saja. "

Dan akhirnya, apa yang di khawatirkan oleh Heechul pun terjadi. Leeteuk di hukum berdiri di lapangan sampai praktikum Farmakognosi yang akan mereka jalani hari ini berakhir. Leeteuk pun hanya melempar senyum tulus untuk Heechul, berusaha mengatakan bahwa dirinya akan baik-baik saja, walaupun sebenarnya itu sama sekali tidak membuat kekhawatiran Heechul menghilang.

.

.

.

Praktikum Farmakognosi pun hampir selesai. Sedari awal mulai kegiatan praktik Heechul terlihat tak bisa berkonsentrasi pada tugasnya, pikirannya terus melayang pada seseorang yang sekarang tengah berdiri di tengah lapangan sekolahnya ini.

Dan akhirnya setelah hampir 3 jam Heechul diliputi kegelisahaan, akhirnya tepat pukul 12:30 bel pun berbunyi, menandakan saatnya untuk murid-murid menghentikan sejenak kegiatan pembelajaraannya atau bisa di katakan inilah saatnya untuk istirahat. Tanp[a menunggu lama, Heechul pun dengan segerai keluar dari ruang lab dan berlari menuju tempat Leeteuk sekarang berdiri.

" Teukie... " ucap Heechul saat dirinya telah berdiri tepat di samping Leeteuk. Leeteuk yang mendengar namanya di panggil oleh seseorang yang sejak tadi di tunggunya pun segera menolehkan kepalanya, dan mulai menatap sang sahabat dengan tatapan sayunya. Saat itulah Hechul sadar bahwa apa yang di khawatirkan olehnya sejak tadi benar-benar terjadi, terbukti dengan wajah Leeteuk yang saat ini terlihat semakin memucat.

" Chullie~ " lirih Leeteuk hampir tak terdengar. Dan...

Bruukk...

" Yak! Teukie ireona. Park Leetuk ireona. " teriak Heechul panik saat tiba-tiba tubuh Leeteuk ambruk tak sadarkan diri. Wajahnya tampak sangat pucat, peluh pun telah mengalir deras diwajahnya. Dengan sigap Heechul langsung menggendong tubuh Leeteuk dan segera membawanya pergi.

"Teukie kumohon, bertahanlah. " bisik Heechul di tengah-tengah kepanikannya. Tak diperdulikannya semua murid yang tengah istirahat menatap mereka dengan tatapan heran. Dia hanya terus berlari, yang ada di pikirannya saat ini hanyalah membawa sahabatnya ini dengan segera ke rumah sakit.

Sesampainya di parkiran sekolah, Heechul pun dengan segera memasukkan Leeteuk kedalam mobilnya dan menjalankan mobil sport merahnya ini menuju ke rumah sakit.

TBC...

Maaf, saya potong sampai di sini dulu ne

Jika ada waktu luang, pasti akan saya lanjutkan lagi.

Gumawo untuk review-nya ne chingu

Kamsahamnida...