Sasuke selalu saja menyentuh bagian-bagian yang dapat dengan cepat menaikkan suhu panas tubuhku. Tapi, diantara semua yang ia jamah, Sasuke selalu berlama-lama berada di bibirku.
"Kau tahu Naru, rasamu sangat manis." bisik Sasuke tepat didepan bibir untuk selanjutnya kembali meraup bibirku yang sudah membengkak.
Dan tak ada hal lain lagi yang bisa kulakukan selain mendesah dan membalas setiap kulumannya. Mempertemukan kedua daging tak bertulang dan mengecap rasa satu sama lain.
"Kau yang terhebat, Naruto." selalu kata itu yang kudengar usai kami menyudahi ciuman panjang kami.
Sekelebatan ingatan manis yang tidak pernah bisa hilang dalam memoriku. Terus berputar menghantui hari-hari ku dan membuat kupu-kupu serasa berterbangan di dalam perutku.
"Sasuke, meskipun dua belas tahun telah berlalu, rasamu masih kuingat. Kau juga masih mengingatku -kan, Sasuke?" monologku pada udara kosong.
"Di tanggal yang sama dua belas tahun lalu, bukankah kau mengatakan akan menikahiku? Lalu kenapa sekarang aku harus merindukan ciumanmu, Sasuke?" tanyaku pada batu nisan yang terpasang kokoh di bawah hijaunya pohon Sakura.
"Happy Anniversary, Sasuke-kun. Ku jaga hatiku selalu untukmu." dengan seulas senyum ku letakkan kue buatanku di samping nisannya.
"Kau datang lagi tahun ini, Naruto-kun." sapa Kotetsu sang penjaga makam yang hanya kubalas dengan senyuman.
