an/ hello i back. sorry, memang kemarin chapter ini sudah dalam pengetikan, tapi sayangnya proses pengetikan itu tidak sampai pada tahap pantas untuk di pos. karena entah kenapa saya jadi agak kurang kreatif, kemarin aja saya buat charlotte watson dan tim andrews. hahha, oke jadi ini dia chapter 02...
nb: terima kasih banyak untuk dukungan kalian
Side by Side
By Dragonjun
Harry Potter itu adalah milik J.K. Rowling.
Chapter 02
Sudah terlalu lama aku tidak menggunakan transportasi muggle, namun tidak bisa dikatakan lama mungkin lebih kurang satu setengah jam dan di sinilah aku sekarang, Perancis. Aku menunggu jemputanku. Salah satu saudara sepupu ibuku, bibi Abella. Aku akan tinggal di sana selama mungkin satu minggu sebelum akhirnya pindah ke flat-ku.
Hanya menunggu sekitar 10 menit aku menemukan bibi Ami dan juga paman Frank beserta dua anak kembar mereka Benjamin dan Bellamy. Paman Frank langsung memelukku erat.
"Hermione," kata paman Frank melepaskan pelukkannya.
"Paman Frank, aku rindu sekali denganmu," balas ku lembut.
"Dear Hermione," sapa bibinya tidak mau kalah.
"Bibi," kata Hermione, memeluk bibinya.
Benjamin dan Bellamy juga memberikan pelukkan singkat. Mereka masih sekitar sepuluh tahun. Bibi Ami hampir tidak bisa melahirkan mereka karena penyakit jantungnya dulu, namun mukjizat membuat mereka bisa lahir dengan selamat dan juga sehat sampai sekarang. Mereka sudah menganggapku anaknya sendiri mengingat kedua anaknya adalah laki-laki dan bibi Ami di vonis tidak bisa lagi memiliki anak karena penyakit jantung yang di alaminya.
"Hermione, dear, aku sangat rindu denganmu," kata bibiku sambil mengusap pipiku.
"Aku juga bibi," balas ku.
"Aku sudah membicarakan dengan Frank, kalau kau mau kau bisa tinggal bersama kami saja, dear," kata bibi Ami. Aku tersenyum sedih.
"Bibi, aku juga senang bisa tinggal bersama dengan kalian, tapi aku sudah dewasa dan aku harus hidup mandiri. Aku sudah mengatakan aku akan sering mengunjungimu, ya kan?"
"Ya, dear. Tapi tetap saja."
Kami berjalan ke arah parkiran mobil, bibi Ami mengelayuti lenganku. Aku tau mereka sangat menyayangiku, tapi sudah sepantasnya aku untuk tinggal sendiri dan mandiri. Aku hanya kurang beruntung karena pada saat seperti ini aku menjadi yatim piatu, sehingga mereka sangat protektif padaku. Aku bisa merasakan saat paman Frank menatapku, aku sangat mirip dengan ibuku, kakaknya.
"Dear, bagaimana kalau kita mampir dulu ke Marine de avenue di sana ada restoran baru, katanya Escargot mereka sangat lezat," paman Frank menawarkan saat kami sudah duduk manis di bangku mobil.
"Papa, aku tidak mau makan bekicot," kata Bellamy menolak.
"Kau tidak perlu memesannya kalau begitu," kata paman Frank mengelak. "Bagaimana Hermione?" Tanya paman Frank berharap. Aku tau dia mengandalkanku, Paman Frank selalu mencari alasan agar bisa menyantap hidangan favoritenya itu.
"Aku ikut saja, Paman," jawabku tersenyum. Aku senang, setidaknya aku bisa merasakan apa yang namanya keluarga lagi di sini. Aku sudah meninggalkan semuanya di Inggris. Aku berjanji untuk melanjutkan hidupku. Aku tidak akan lagi melihat ke belakang.
"Hermione kau mengerti bahasa perancis?" Tanya Benjamin dengan bahasa Ingrisnya yang tidak lancar.
"Sedikit, ibuku juga orang perancis, Benjamin," jawabku.
"Kalau begitu aku tidak perlu menggunakan bahasa inggris denganmu, kan?" tanyanya berharap. Aku mendengus merasa lucu.
"Tidak kau harus membiasakan diri menggunakan bahasa Inggris, dan selagi Hermione di sini lebih baik kau banyak berlatih," kata bibi Ami mengingatkan. "Hermione tentu akan melancarkan bahasa perancisnya, tapi kita harus membuatnya nyaman."
"Ya, mama," jawab Benjamin.
"Bibi, tidak masalah. Aku pikir kita bisa saling belajar, bukan begitu?" tambahku pada Benjamin dan dia mengangguk setuju. "Kalian anak yang penurut, aku memiliki teman yang kembar dan mereka sangat sulit di atur," tambahku mengingat Fred dan George.
"Mereka juga nakal Hermione, hanya di depanmu saja mereka bersikap manis," kata bibi Ami menambahkan. Aku tertawa mendengarnya.
"Mama, bagaimana mungkin kau malah menjelekan kami. Kami anak yang manis lho! Hermione!" kata Bellamy patuh. Namun aku bisa melihat matanya bersinar nakal seperti Fred dan George.
Benjamin mengangguk setuju apa yang dikatakan saudaranya.
"Ya, aku percaya pada kalian," jawabku pendek.
Sepuluh menit kemudian mereka sudah berada di depan restoran Jamie bon. Aku sudah tidak sabar mencoba Escargot yang merupkan hidangan andalan dari restoran tersebut. Tapi ketika hidangan itu di taro di depanku, tiba-tiba aku merasa mual yang berlebihan.
"Aku permisi sebentar," kataku hampir lari meninggalkan meja. Aku memuntahkan isi perutku di wastafel kamar mandi. Sepertinya terlalu lama tidak menggunakan pesawat terbang membuatku merasakan kembali yang namanya mabuk perjalanan. Aku merapihkan rambutku dan menghadap kaca. Kulihat diriku, tampak sangat kurus dan pucat. Aku tidak menyadari betapa menyedihkannya diriku saat ini. Pantas saja paman dan bibi melihatku dengan tatapan kasian, aku tampak menyedihkan. Kuraup air ke muka ku, berharap bisa memperbaiki penampilanku.
Setelah dirasa cukup aku keluar dari kamar mandi namun karena terburu-buru aku menabrakkan diriku pada seorang pemuda tinggi dan kekar.
"Sorry," kataku otomatis.
"No problem," jawabnya. "England?" tanyanya kemudian.
Aku tidak menjawab, tampaknya dia bisa mengenali dari aksen bicaraku.
"Kau dari Inggris?" tanyanya lagi.
"Oh.. ya. Kau?" kataku, dan kemudian baru aku menyadari tampaknya aku pernah melihat pemuda itu. Rambut hitamnya yang lurus dengan kulit putih pucat dan juga mata abu-abunya yang dingin. Dan diapun tampaknya juga mulai mengenaliku. Aku mengutuk diriku sendiri.
"Granger?" tanyanya agak terkejut, senyum merekah di wajahnya.
"Ehm? … Nott?" jawabku tidak yakin.
"Hai," sapanya dengan tersenyum. Mata abu-abunya tidak lagi dingin, tapi hangat.
"Hai," balasku.
"Wow, tidak disangka bertemu denganmu. Bagaimana bisa kau ada di perancis?" tanyanya ramah. Aku merasa kedua tanganku bergetar, kenapa aku harus bertemu dengan Nott disaat aku ingin melepaskan masa laluku. Saat aku ingin membuka lembaran baru hidupku. Aku tidak ingin berhubungan dengan apapun dengan masa laluku di dunia sihir.
"Kau sendiri?" tanyaku.
Dia mengangguk.
"Aku tinggal di perancis, kau?" tanyanya lagi, aku bisa mendengar suaranya tampak penasaran.
"Di dunia muggle?" tanyaku agak terkejut. Dia tersenyum ramah.
"Ya. Di dunia muggle."
"Aku tidak menyangka kau bisa menetap di dunia muggle," kataku agak kasar, aku tidak tau kenapa nada suarak agak menuduh seperti itu. Senyumnya tidak terlalu lebar lagi sekarang.
"Ya aku juga tidak. Kau sendiri?" tanyanya berusaha tetap ramah. Aku heran kenapa dia masih mencoba beramah tamah, sedangkan aku seperti sudah ingin lari cepat-cepat.
"Aku… aku sedang berlibur saja," jawabku sekenanya.
"Sendiri?" tanyanya. Alisnya mengerut, sepertinya dia tidak percaya.
"Ya. Aku mengunjungi keluargaku yang ada di Perancis, itu mereka," kataku menunjuk meja bibi dan Pamanku.
"Oh…"
"Maaf, tapi aku harus pergi," kataku ingin cepat-cepat menutup percakapan. Aku sudah akan pergi sebelum dia memanggilku.
"Granger?"
"Ya," jawabku berhenti menatapnya. Dia hanya tersenyum simpul dan mengelengkan kepala.
"Tidak. Hanya senang bertemu denganmu," katanya kemudian. Aku merasa agak bersalah sejujurnya.
"Ya. aku juga senang bertemu denganmu."
Aku pergi ke meja paman dan bibiku. Mereka memperhatikanku dengan cemas. Aku tidak bisa menyuap Escargot-ku rasanya mual dan membuat kepalaku pusing.
"Bibi, bisa kita langsung pulang saja. Kepalaku sedikit pusing. Mungkin masih mabuk karena perjalanan tadi," kataku. Aku tau alasan paling utama aku ingin cepat pergi adalah menghindari Theo Nott. Aku mencatat bahwa dia tinggal di Perancis, aku harus hati-hati, jangan sampai aku bertemu dengannya lagi. Aku tidak bisa mencegah kalau dia akan memberitahu teman-temannya di Inggris. Aku tidak mau bertemu lagi dengan mereka, aku merasa sedih jika mengingat Harry, dan pembicaraan terkahir kami.
"Hermione makananmu belum kau sentuh," kata bibi Ami khawatir.
"Tapi aku merasa tambah mual mencium aromanya. Mungkin lain kali aku harus kembali ke sini mencoba hidangan ini," kataku beralasan.
"Baiklah, biar Bellamy menghabiskan piringnya dulu," ucap bibi Ami memperingatkan Bellamy untuk segera menghabiskan makanannya.
Aku mengangguk setuju.
…
Dunia sihir di Perancis sangat jauh berbeda dengan dunia sihir di Inggris. Mungkin karena wilayah Perancis tidak seluas Inggris. Aku terkejut ketika mendapatkan surat dari Professor McGonagall yang menjelaskan bagaimana aku bisa mengakses universitas sihir dimana aku akan melanjutkan pendidikan sebagai healer, tidak lain dan tidak bukan adalah di universitas tertua muggle yaitu colloge de Sobronne.
Pentunjuknya jelas bahwa dia hanya perlu datang ke collage de Sobronne. Tampaknya pun masyarakat sihir di Perancis juga lebih modern. Tempat-tempat sihir bahkan bisa ditemukan di tempat umum, seperti halnya tempat yang serupa dengan Diaggon Alley, para muggle tidak bisa melihat jalan masuknya atau mereka seperti tidak merasa ingin masuk ke jalan masuknya padahal jalan masuknya, sedikit nyelip diantara bangunan ramai di dekat Notre Dame
Aku tidak mendapatkan kesulitan yang berlebihan, ketika aku sampai di collage Sobronne aku bisa melihat tanda-tanda yang tidak di lihat muggle, mengikuti petunjuk itu aku mendapati gedung tersembunyi yang di gunakan sebagai tempat untuk belajar. Aku jadi penasaran, mengingat pengalamanku dulu ke Perancis, aku juga tidak mendapatkan kesulitan menemukan tempat-tampat komunitas sihir, bahkan ketika aku pergi bersama ayah dan ibuku.
Berkat mereka juga aku mendapatkan rekomendasi untuk tempat tinggal. Aku mendapatkan flat yang cukup luas dan tidak jauh dari universitas, aksesnya juga mudah jika sewaktu-waktu aku ingin mengunjungi bibi dan pamanku. Tempatnya di kawasan muggle, namun pemiliknya adalah seorang Penyihir. Mereka tampak bisa berbaur dengan muggle dengan baik, bahkan ketika aku bertanya di mana letak Beauxbatons yang hampir semua masyarakat sihir Perancis menimba ilmu di sana, ternyata jalan masuknya tidak jauh dari museum Louvre, tepat di jantung kota Paris. Paman dan bibiku keberatan ketika aku memutuskan untuk pindah ke flatku, tapi aku bersikeras untuk mandiri.
Tidak disangka lebih dari sebulan aku ini aku pindah ke flatku dan dua minggu aku memulai pendidikanku. Aku baru saja dari rumah Paman dan bibiku berjanji akan mengunjungi mereka setiap akhir pekan. Rasanya menyenangkan untuk bisa hidup mandiri. Aku juga sudah mendapatkan pekerjaan paruh waktu, selama tiga jam kerja selama tiga hari. Memang uangku masih sangat cukup sampai aku menyelesaikan pendidikanku, tapi aku harus menghemat sebisa mungkin. Akhirnya berkat bantuan teman-teman baru ku di Perancis aku bisa bekerja di salah satu toko bunga di dekat flatku.
Pemiliknya adalah seorang janda yang sudah agak tua, namanya Jenna. Yang membuatku terkejut adalah bahwa dia adalah seorang squib. Dia adalah darah campuran dari salah satu keluarga sihir di Inggris, namun karena dia adalah squib maka dia pindah ke Perancis untuk tinggal bersama salah satu keluarga dari keluarga ibunya yang muggle dan hidup layaknya muggle.
Dia amat baik padaku, mungkin menganggapku sebagai anaknya sendiri. Pekerjaan di toko bunganya pun tidak terlalu berat dan menganggu jadwal sekolahku. Benar-benar sangat beruntung, bukan?
Ya aku merasa sangat beruntung sampai pada suatu siang, siang ini saat aku akan pergi kerja ke toko bunga dari pulang mengunjungi paman dan bibiku, saat aku melewati taman di dekat flatku itu, aku kembali menabrak seseorang.
"Sorry," kataku otomatis.
"Granger!" katanya. Aku mendongak dan terkesiap ketika kulihat Theo Nott ada di depanku.
"Nott!"
"Yep, senang bertemu denganmu," katanya. Aku hanya bisa melompong. Dalam otakku hanya aku harus segera pergi dari sini.
"Maaf tapi aku harus pergi," kataku meninggalkannya dan aku langsung pergi hampir berlari meninggalkannya.
Nafasku hampir habis ketika aku sampai di toko Jenna. Dia melihatku agak bingung karena aku sangat pucat, katanya. Aku bilang aku baru saja mengalami kejadiaan yang hampir sama seperti habis melihat hantu. Dia menaikan alisnya tidak percaya dengan ceritaku, mengatakan mungkin aku sakit dan harus pergi ke rumah sakit. Tapi aku menyakinkannya kalau aku baik-baik saja, tidak sampai aku mendengar suara orang masuk ke toko.
"Theo," kata Jenna menyapa orang yang baru saja masuk ke dalam toko.
"Jenna, apa kabarmu?" Tanya Theo.
"Baik, anak nakal," balas Jenna tersenyum, aku hanya bisa melongo.
"Hermione, kenalkan ini Theo dia.. ehm, kalian sudah saling kenal?" tanyanya melihat kami. Aku tidak bisa menyalahkannya. Aku harus menahan diriku agar tetap bisa berdiri, Theo pun melihatku dengan tersenyum, tidak terlalu lebar namun tetap tersenyum.
"Yap. Kita saling mengenal," kata Theo. "Miss Granger, kau sungguh hebat, melarikan diri begitu cepat, padahal aku hanya ingin mengajakmu kencan," katanya bermain-main. Mungkin dia hanya bermain-main tapi tidak untukku, tiba-tiba kepalaku sangat pusing dan yang kurasakan hanyalah gelap.
_TBC_
