Harry Potter itu adalah milik J.K. Rowling.

Chapter 03

"Kau baik-baik saja?" Tanya Jenna perhatian.

Aku mengangguk pelan. Aku mengangkat diriku, Jenna sudah memindahkanku di tempat tidurnya. Lantai 2 dari toko bunganya adalah flat tempatnya tinggal.

"Minumlah, dear," katanya lagi menawariku segelas air putih.

Aku menerimanya dan meminumnya sekaligus. "Terima kasih," kataku mendapatkan kembali suaraku.

"Kau sungguh membuat repot, Granger," kata suara berat di sudut ruangan. Dan kemudian aku sadari bahwa Theo juga ada di kamar itu, memperhatikan sedari tadi.

"Maaf merepotkan," kataku canggung. Jenna menarik gelas kosong dari tanganku.

"Tidak. Tidak perlu sungkan. Kau pasti kecapekan dari perjalanan," katanya menawarkan senyum baik hatinya. "Theo kau bisa keluar dulu."

Theo mendengus dan berdiri pergi meninggalkan kamar itu sambil bergumam, wanita.

"Maafkan dia, kadang Theo tidak pernah dewasa," kata Jenna. Aku hanya mengangguk bingung untuk menjawab apa. "Hermione, boleh aku menanyakan sesuatu yang agak pribadi?"

Jantungku langsung berdetak tak beraturan.

"Dear, Aku merasa agak janggal dengan reaksimu bertemu dengan Theo. Kalau aku boleh bertanya ada apa sebenarnya?" Tanyanya baik hati. Aku bisa melihat bahwa dia sangat pengertian dan perhatian denganku.

"Aku tidak akan menceritakannya pada siapapun kalau kau tidak ingin," katanya lagi.

Aku merasa bersalah mengingat dia amat perhatian padaku.

"Aku meninggalkan Inggris karena ingin meninggalkan masa laluku, Jenna. Tidak ada hubungannya dengan Nott. Tapi melihatnya agak membuatku terkejut. dia sedikit banyak mengingatkanku pada masa lalu yang ingin aku lupakan. Maaf karena telah membuatmu khawatir," jawabku.

Jenna masih tampak belum puas mendengar jawabanku, namun dia tidak memaksa. Dia memmberikan senyum simpul dan mengangguk kecil. Aku tau bahwa dia tidak akan memaksa jawaban padaku, tapi rasanya agak aneh. Jenna hampir seperti sosok ibu untukku, walaupun baru sebentar aku mengenalnya, tapi perasaan dekat itu terasa amat wajar. Berkelit dengannya, membuatku merasa bersalah.

"Istirahatlah kalau kau mau, kau bisa turun kalau sudah merasa lebih baik," kata Jenna kemudian keluar dari kamar membawa nampan yang terdapat gelas kosong.

Menarik nafas dalam-dalam. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar. Rasanya untuk kembali istirahat bukanlah ide yang baik, karena aku kemari untuk bekerja. Kamar itu tidak terlalu besar, cukup untuk tempat tidur ukuran Queen, lemari pakaian dan rias. Ada meja kecil dan tempat duduk disampingnya. Aku bangkit dari tempat tidur dan berkeliling melihat figuran foto-foto yang tertempel di dinding.

Kulihat ada beberapa foto saat Jenna masih muda dengan seorang pria, aku menduga adalah suaminya, dan juga dua orang anak kecil laki-laki dan perempuan sekitar sepuluh tahun. Aku tak pernah menanyakan tentang hidup Jenna. Senyum kecil merekah tanpa kusadari, aku kangen mom, aku kangen dad. Aku sungguh menyesal tidak pernah menghabiskan waktu lebih lama untuk mereka.

Disaat liburan sebagian besar aku habiskan di The Burrow. Kalau saja aku bisa mengulang waktu aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan ayah dan ibuku, lebih sering menulis surat pada mereka.

Air mataku menetes tanpa permisi. Aku menarik nafas dalam-dalam, kau harus bangkit Hermione. Kau adalah orang yang kuat.

Selain menghabiskan waktu untuk kuliah, bekerja di toko bunga Jenna, dan berkunjung kerumah bibi dan pamanku, hal yang aku sukai adalah duduk di bangku taman dekat flatku. Entah kenapa belakang aku merasa capek melakukan rutinitasku yang monoton. Aku hanya merasa perlu untuk mer-refresh otakku ini. Dan duduk melihat anak-anak bermain membuatku melupakan penat yang ada di kepalaku.

"Kau akan kedinginan, Granger. Ini hampir mendekati musim gugur," kata seseorang menyapaku.

Langsung saja aku menengok melihat siapa dan aku terkejut karena melihat bahwa orang itu adalah Theodore Nott. Malas untuk beragumen, aku hanya diam tidak membalas, sangat sulit untuk menhindari pria ini. Semenjak kejadian di toko bunga Jenna, dia hampir setiap hari datang ke toko bunga, untungnya Jenna sangat baik padaku, dia membuat Nott jauh-jauh dariku dan tidak berani untuk mengatakan apapun keculi menyapa.

"Kau sungguh sulit," katanya lagi mengambil tempat di sebelahku. Keningku berkerut mendengar perkataannya.

"Pardon?"

"Kau begitu sulit. Aku tidak mengerti dirimu," katanya lagi seakan itu menjelaskan maksudnya. Tapi perkataanya itu membuatku naik darah. Aku tidak ingin di perhatikan terutama olehnya, orang yang akan mengingatkanku pada Inggris.

"Kau tidak perlu mengerti aku, Nott," jawabku sarkas.

"Tapi aku mau," katanya tanpa perasan tak berdosa.

"Kalau begitu tidak usah," jawabku keras.

Dia menarik dirinya sedikit, mungkin bingung karena tak pernah melihatku kehilangan control diri seperti ini, atau mungkin dia sedang memikirkan secepat apa dia akan berlari karena aku sudah merasakan energy sihirku, mungkin dia bisa melihat aura sihirku.

Menarik nafas, dia kemudian berkata dengan lembut dan tersenyum, yang membuat kemarahanku mau tak mau mereda.

"Pertama kali aku bertemu denganmu di restoran kau menyapaku dengan baik. Tapi kenapa sekarang kau sangat acuh. Bahkan di Hogwarts kita lebih baik, walaupun kita tak berteman," jawabnya memulai. Aku masih tak ingin menanggapinya, tapi anehnya dia tak kehilangan sabar.

"Okey. Aku adalah orang yang menyebalkan. Yang mengajak seorang wanita untuk bicara. Tapi dia tak ingin bicara. Salahnya adalah aku masih bersikeras mengajaknya bicara, dan sayangnya dia masih tak ingin bicara. Tapi aku rasa aku tetap ingin dia bicara, tapi sekali lagi dia tak-"

"Shut up!" teriakku memotongnya, tapi kemudian aku tertawa melihat wajah terkejut Nott, dan dengan cangung dia kemudian ikut tertawa bersamaku.

"Kau lebih baik jika tertawa, Granger!" katanya lagi. Tawaku seketika berhenti. Aku tau dia berkata benar, sudah lama aku tidak bisa tertawa lepas seperti ini.

"Terima kasih, Nott," kataku kemudian, setelah lama kami terdiam.

Nott mengangguk.

"Kalau aku boleh-"

"Nott, apa kau masih sering ke Inggris?" tanyaku. Aku hanya ingin bersikap baik padanya, tapi jelas aku tak ingin kalau ada seseorang di sana yang mengetahui keberadaanku.

"Tidak. Setelah aku pergi dari Inggris, aku tidak pernah sekalipun kembali ke sana, bahkan aku tidak pernah menghubungi sahabat-sahabatku di sana," katanya, dia menawarkan senyum sedih.

"Kau tidak rindu pada mereka?"

"Jelas aku rindu pada mereka, tapi aku sudah memilih jalanku, Granger. Aku tidak boleh menyesalinya." Katanya dalam. Ya aku juga tidak akan menyesali keputusanku.

"Apa ini ada hubungannya dengan kau pergi dari Inggris? Sesuatu membuatmu pergi dari sana?" tanyanya hati-hati.

"Kurang lebih begitu," jawabku mengambang.

"Jadi,, kita sama kalau begitu," katanya menarik kesimpulan.

"Kurang lebih begitu," jawabku lagi.

"Kau jelas tak ingin membicarakannya?" tanyanya mencari kesempatan.

"Kurang lebih begitu," jawabku lagi, memutar bola mataku.

"Bagaimana kalau kita berkencan?"

"…"

Aku melotot.

"Bukankan sebaiknya kau menjawab, kurang lebih begitu?" tanyanya main-main.

Aku mendengus.

"Aku tidak harus menceritakan diriku padamu," kataku ketus.

"Kau tidak harus, tapi aku bisa mendengarkan," katanya masih keras kepala.

Aku mengeleng geli, Nott dan semua sikap observasinya. Kalau Draco tampak cuek dan tidak peka dengan sekeliling, Nott amat peka dengan sekelilingnya, tak berubah bahkan setelah mereka jauh dari Hogwarts.

"Aku pergi dulu, Nott," kataku smbil berdiri menyelempangkan tas di pundakku.

"Aku serius, Granger. Ayo kita berkencan," katanya lagi.

Aku mengelengkan kepalaku lagi. "Maaf, Nott. Aku sangat sulit," jawabku pergi meninggalkannya.

Kembali aku harus ke toko bunga Jenna untuk bekerja paruh waktu, namun rasanya aku sangat lelah. Aku merasa tidak sadar, sampai aku merasa aku sudah berada di tempat tidur berseprai putih. Aku tidak tau aku berada dimana.

"kau sudah sadar, dear?" Tanya Jenna lembut.

Aku mengangguk, "Baga-"

"Kau jatuh pingsan di depan toko bungaku," katanya memberitahu.

"Kau sangat suka memberi kejutan, Granger," kata Theo di sebelahnya.

"Aku pingsan?"

"Iyaa. Kau tampak sangat lelah," kata Jenna.

Aku sudah akan menjawab ketika pintu kamar itu terbuka, seorang Healer setengah baya namun masih tampak cantik mendatangangi kami.

"Miss Granger, bagaimana perasaanmu?"

"Saya sudah merasa baik. Saya sakit apa?" Tanyaku takut. Aku tau belakang aku merasa tak nafsu makan. Kadang apa yang aku makan selalu kumuntahkan kembali aku juga mudah lelah dan emosiku turun naik. Aku tau ada yang salah dalam diriku, sekarang berada di ranjang pesakitan aku merasa takut.

Healer itu tersenyum, "Tidak. Tidak ada yang serius. Berita bahagia malah, kalau boleh aku bilang. Anda sedang hamil Miss Granger," kata Penyembuh itu.

Apa? Aku hamil? Tidak mungkin. Aku tidak salah dengar kan?

Karena tak ada dari kami yang menjawab Penyembuh itu beralih pada Nott. "Anda pacar Miss Granger?" tanyanya pada Nott.

Nott hanya tersenyum simpul, namun menjawab dengan mengeleng. Dan mulut Penyembuh itu terbuka membentuk huruf 'o'.

"Theo bisa kau keluar dulu," kata Jenna, Nott tampak bangun dari lamunan dan mengangguk kemudian keluar kamar.

"Ehm,, kehamilan anda hampir memasuki 3 bulan, agak mengejutkan bahwa anda tidak mengecek lebih awal. Saya akan memberikan ramuan untuk menguatkan kandungan," kata Penyembuh itu.

Aku tidak bisa menjawab apa yang dikatakan oleh Penyembuh itu, dalam keremangan aku mendengar Jenna mengucapkan terima kasih pada Penyembuh itu sebelum akhirnya keluar dari kamar.

"Hermione," panggil Jenna.

Aku menengok padanya, tak bisa kukatakan apa yang aku rasakan sekarang, aku menangis dipelukkannya.

_TBC_

AN/ hai, lama tak jumpa. Sorry for typo, sorry for long update. Mungkin tulisan saya ini tidak mencerdaskan anda, tapi saya yakin tidak menyesatkan karena bukan aliran sesat. Saran dan kritik selalu terbuka, tapi tulislah dengan bahasa yang baik.

Kalau anda pernah ke museum Louvre tapi ngk bisa ngeliat beauxbatons? ya iyalah,, kalian kan muggle.

Last.. always thanks for your supports.