Harry Potter itu adalah milik J.K. Rowling.

Chapter 04

Angin sore hari menjelang malam adalah yang paling dingin, namun amat cocok untuk menggambarkan perasaan Hermione saat ini. perasaan sepi dan dingin yang dia rasakan waktu di Inggris kembali dia rasakan saat ini. perasaan terasing dan hilang. Perasaan sedih yang terasa tak berujung.

Hermione tak pernah menyangka bahwa hidupnya akan seperti roller coaster. Rasanya baru kemarin dia menjadi gadis yang memiliki sahabat dan merasa begitu bahagia, lalu kemudian hanya dalam sekejap hidupnya penuh dengan kesedihan. Untuk pertama kalinya sejak dia berada di Perancis, dia benar-benar memikirkan tentang semua jalan yang dia ambil.

"You need break!" kata suara yang menganggu lamunannya.

"I had break. Too much," jawabku tanpa mengalihkan pandanganku dari menara Eifell yang terlihat dari atap rumah sakit. Aku tau Theo dan Jenna sangat khawatir. Mereka secara bergilir menenamiku di rumah sakit. Terutama ketika Paman Frank dan Bibi Ami meminta untuk menjagaku karena mereka tidak bisa sering-sering datang berkunjung ke rumah sakit muggle.

"Ya, tapi otakmu tak pernah berhenti berpikir. Kau berpikir terlalu keras, Granger," kata Theo memberi alasan.

"Kau bisa masuk ke atap?" tanyaku menyadari sesuatu, ke tengok ke arahnya dan dia memakai seragam pasien sepertiku, aku mengelengkan kepala tidak percaya, dia sampai berbuat sejauh ini.

"Aku hanya perlu waktu untuk berpikir sendiri," kataku marah.

"Jenna takut kau akan mencoba bunuh diri. Berdiri sendirian di atap rumah sakit, " katanya dingin. Aku menarik nafas lelah, harusnya aku bersyukur karena masih ada yang perhatian padaku.

"Terima kasih, karena telah mencemaskanku," kataku tersenyum. Theo membalas senyum simpul.

"Nott, boleh aku menanyakan sesuatu padamu?" tanyaku ke mudian.

"Kau baru saja bertanya, Granger. Tapi silahkan, aku yakin dikepalamu masih banyak pertanyaan," jawabnya menopang dagu.

"Kenapa kau pergi dari Inggris?" tanyaku penasaran.

Theo terdiam, dia memandang Hermione dengan menimbang seakan jawabnya akan membantuku dari kesedihannya. Theo menghela nafas panjang sebelum memulai.

"Alasannya sangat panjang bagai dongeng, Granger," kata Theo.

"Aku punya waktu untuk mendengarkan," kataku bersikeras.

Theo kembali terdiam sebelum memulai ceritanya, "Ibuku baru dua puluh tahun ketika dia menikah dengan ayahku. Pria yang 22 tahun lebih tua darinya. Alasan mereka menikah hanya untuk menggambungkan dua keluarga darah murni. Perjodohan. Untuk meneruskan nama Nott. Istri pertama ayahku meninggal, sudah sangat lama sebelum sempat memberinya pewaris." Katanya datar, aku sudah ingin menyela namun kuurungkan, mungkin ini akan membantunya. Aku merasa bahwa Theo tidak sering menceritakannya.

"Ibuku orang yang lemah lembut dan baik hati. Dilain sisi ayahku bukanlah orang yang lemah lembut. Tidak dengan semua pengaruh Pangeran Kegelapan," katanya meringis. Theo menggaruk ujung hidungnya sebelum meneruskan.

"Ibuku, dia selalu tampak lemah dan sakit-sakitan. Saat aku berusia 8 tahun ibuku meninggal. Aku pikir dia meninggal karena penyakinya namun tidak lama aku tau kalau ternyata ayahku sering menjadikannya sebagai alat percobaan sihir hitam yang dia pelajari, mungkin itu juga yang membuat istri pertamanya meninggal."

Aku meringis mendengarnya, bagaimana mungkin seorang lelaki menjadikan istrinya sebagai bahan percobaan.

"Aku selalu benci dengan semua itu. Aku selalu pergi ke Malfoy Manor hanya untuk melarikan diri. Setelah aku masuk Hogwarts, ayahku mulai memberikan latihan sihir hitamnya padaku. Tidak sampai membunuhku, karena aku penerus nama keluarga. Aku satu-satunya anaknya, paling tidak." Katanya tersenyum kecut. "Itu membuatku gila. Draco-lah yang membantuku untuk tetap waras. We are like brothers," katanya tersenyum. Theo tidak memperhatikan Hermione, tenggelam oleh kisahnya yang dia pendam dan terlalu lama tak dibicarakan.

"Aku bisa menerima semua itu, seberapapun beratnya dia melatihku aku bisa menerimanya. Tapi kemudian, mungkin kau tau, Draco menerima tanda kegelapan. Aku benci pada diriku sendiri. Aku tau dia tidak ingin, tapi aku benci melihatnya karena dia tidak menolak. Simbol dari kebencianku. I lost my brother after that, and more I lost my self. Like all the son of death eater, The dark lord finally branded me with his ugly mark."

"Severus menolongku. Dia mengirimku ke Perancis, salah satu kerabat jauhnya, ayahnya muggle, kau tau, mereka tidak begitu dekat, karena Severus juga berusaha menutupi apapun yang berhubungan dengan keluarga muggle ayahnya, dia Alexander. Aku pergi ke Perancis dan disitulah Alexander dan Jenna menampungku." Katanya mengakhiri cerita.

"Jenna?" tanyaku tak mengerti.

"Yeah, Alexander adalah suami Jenna. Dia meninggal karena menolongku. Ayahku entah bagaimana bisa menemukanku, dia membunuh Alexander. Aku hampir membunuhnya, kalau bukan karena Severus. Aku hampir menjadi seorang pembunuh," katanya. Matanya berair walaupun tidak menangis. Aku tidak tau apa yang dia pendam, perasaan sedih karena Alexander meninggal atau karena perasaan marah karena dia tidak menjadi pembunuh ayahnya sendiri.

Hermione tidak mengatakan apapun. Pria yang selalu penuh perhatian dan tampak tenang saat ini dihadapannya tampak rapuh.

"Severus membawa ayahku kembali ke Inggris. Dia menghapus ingatannya, dia mati di pertempuran Hogwarts. Hal yang pantas di dapatkan."

Hermione memperhatikan bahwa tak ada perasaan menyesal ataupun sedih pada Theo. Hermione bertanya-tanya, seberapa banyak pria ini telah lama memendam perasaan ini.

"Cukup denganku, bagaimana denganmu?" tanyanya.

"Aku?"

"Kau juga pergi dari Inggris, Granger!" katanya menarik kesimpulan.

Hermione terdiam. Dia sangat terhanyut oleh cerita Theo. Dan kemudian dia kembali teringat dengan masalahnya saat ini.

"Aku.."

Theo menunggu. Dia tak ingin memaksa Hermione untuk bercerita. Hermione sudah sangat dekat dengan Jenna. Sesorang yang sudah dia anggap sebagai ibunya sendiri. Secara tidak sadar dia pun menjadi amat protektif terhadap Hermione. Hermione yang dia temui saat ini adalah seseorang yang rapuh. Dia tampak selalu sedih. dia tak mengerti tapi dia sadar dari dulu, bahwa Hermione Granger selalu mendapatkan tempat pada semua orang.

"Aku. . aku .."

"Ini ada kaitannya dengan ayah bayimu?" kata Theo penasaran.

Hermione menggeleng.

"Tidak bukan karena dia secara langsung. Aku jatuh cinta padanya. Perasaan yang baru pertama kali aku rasakan. Bukan sekedar tertarik terhadap lawan jenis, tapi aku jatuh cinta padanya," kataku pahit.

"Tapi.."

"Kami berkencan. Aku mencintainya sampai-sampai aku memilihnya di banding sahabat-sahabatku. Mereka tidak begitu menyukainya. Dan aku memilihnya," kataku sederhana, namun tak sesederhana maksudku.

"Lalu masalahnya?" Tanya Theo tak mengerti.

"He broke my heart, he didn't love me," kataku dingin, aku kembali merasa perasaan sakit hati itu. Aku tersenyum kecut.

"…"

"Dan sahabatku. Mereka menjauhiku, dia tak menganggapku sahabat mereka lagi karena aku lebih memilihnya," kataku kemudian.

"Aku rasa mereka akan menerimamu lagi," kata Theo.

Hermione menggeleng.

"Aku tidak ingin. Aku mungkin patah hati terhadap 'dia'. Tapi penolakan Harry dan Ron lebih menyakitkan. Mereka membuatku memilih dia dan mereka. Mereka mengalihkan muka ketika dia mencampakkanku. Mereka memasang wajah seakan mengatakan 'Lihat kami benarkan! Kami sudah memperingatkanmu' Aku tidak akan kembali pada mereka," kataku pahit.

"Itu hanya emosi sesaat, aku pikir," kata Theo menawarkan.

Kalau mereka sahabatku seharusnya mereka mendukungku, siapapun orang yang kupilih. Kalau pun mereka benar bahwa pria itu akan menyakitiku, harusnya mereka akan siap untuk menerima ku saat aku patah hati. Tapi tidak, mereka tidak melakukannya.

Kalau aku meminta mereka kembali setelah aku di campakkan. Maka akan selamanya mereka mendekte diriku. Aku tidak akan pernah berdiri di kakiku sendiri," kataku keras kepala.

Theo tertawa kecil.

"Kenapa kau tertawa?" tanyaku marah.

"Aku mengerti perasaan itu. Tapi aku kembali teringat denganku sendiri. Mendengar ceritamu aku jadi berpikir, mungkin seharusnya aku meminta maaf pada Draco. Aku seharusnya tidak marah padanya ketika dia mendapatkan tanda kegelapan. Harusnya aku menemaninya dan mendukungnya. Aku tau bagaimana sulitnya dia menanggung bebannya. Dia bahkan tampak seperti tulang belulang," kata Theo.

"Kau sangat dekat dengannya?" tanyaku.

"We were brother," kata Theo. Dia tertawa kecil. "Jadi bagaimana dengannya? Kau bilang kau tidak membencinya. kau akan memberitahunya. Bayimu?"

Hermione menggeleng. Kita sedang membicarakannya.

"Aku sudah memikirkannya. Tidak. Aku tidak akan memberitahunya," jawabku tegas.

"Aku rasa dia berhak tau. Tapi, itu terserah padamu. Aku akan mendukungmu. Jadi kau tidak ada keinginan untuk kembali pada bajingan itu?"

Hermione menggeleng.

"Bagaimana kalau kita berkencan! Maaf Granger, tapi aku benar-benar serius," katanya serius.

"Aku wanita hamil, Nott," kataku kesal, tapi aku rasa aku sudah tak sedih lagi.

"Kau tetap wanita single, Granger," katanya simpel.

"Nott!" kataku memperingatkan.

Theo tertawa.

"Okey. Bagaimana kalau kita mulai dari awal." Theo memberikan tangannya. "Hai, namaku Theo Nott, mau kah kau berteman denganku?"

Hermione mendengus dan menerima uluran tangan Theo.

"Aku Hermione Granger."

_TBC_

*Note: ayah Theo bukan seumuran dengan Lucius Malfoy. Saya menggambarkan dia sebagai orang yang sedikit lebih muda dari abraxas Malfoy.

Saya punya akun wattpad, nama akunnya dh-jun (kalo ada yang mau berkunjung) tapi ngk berencana untuk nulis disana, saya buat aku itu karena ingin membaca The Poisened Apple. Salah satu cerita favourite saya, tapi sayangnya dia tidak lagi mem-post tulisannya di fanfiction net, karena banyaknya review yang menghina dan menganggu, terutama review dari guest yang ngk tau siapa. Mungkin karena dia memilih tema yang tidak banyak disukai orang. Tapi menurut aku ceritanya benar-benar menarik. Cerita ini yang menginspirasiku menulis Love and Pride, maksudnya saya mau menulis apa yang saya ingin tulis, walaupun mungkin kalian ngk suka ketika Draco agak kejam atau sebagainya, tapi tenang saya memang mau membuat kalian merasa Draco yang campur aduk, benci padanya, kasian padanya, dan kembali menyukainya.

Saya juga meminta maaf karena sekarang saya jarang banget nge-update. Bahkan saya ngk sempat buat edit, jadi maaf kalo banyak typo atau kesalahan lainnya. Pekerjaan saya memang sedang menyita waktu saya, bahkan saya ngk sempat buat patah hati T_T.

Oke sekian, semoga kalian akan tetap sabar menunggu cerita ini dan juga Love and Pride.

Xxx dragonjun.