Side by Side
Harry Potter itu adalah milik J.K. Rowling.
Chapter 05
Mungkin sekarang Hermione baru mengerti kenapa budaya dunia sihir masih mempertahankan budaya kuno. Karena pemikiran mereka pun masih kuno, bahkan untuk Perancis yang tergolong moderen. Hermione tidak pernah membayangkan bahwa hamil diluar pernikahan akan sesulit ini di dunia sihir. Mereka banyak yang memandang rendah Hermione. Bahkan statusnya sebagai pahlawan sihir -walaupun tidak banyak juga yang percaya bahwa dialah Hermione Granger teman Harry Potter- tidak mempermudah kondisinya. Terutama karena memang tak ada Harry dan Ron yang mendukungnya sekarang.
Tapi ada satu orang yang mungkin bersimpati kepada Hermione, namanya Celline. Pertamanya dia menganggap bahwa Hermione adalah korban pemerkosaan akibat perang. Tapi Hermione menjelaskan kenapa dia bisa hamil -tanpa memberitahu siapa ayah bayinya-, dia cukup mengerti, mungkin karena dia adalah kelahiran muggle juga.
Layaknya hujan yang turun bersama badai, selalu ada rumah tempatmu berlindung. ada yang patut Hermione syukuri, bahwa dia di kelilingi orang yang sayang padanya. Jenna dia sudah menganggapnya sebagai anaknya sendiri. Hermione akhirnya menyerah dan bersedia tinggal bersama Jenna di flat di atas toko bunganya. Selain karena kandungannya yang sudah membesar, juga karena harus Hermione akui dia membutuhkan teman.
Theo datang hampir setiap hari untuk makan malam dengannya dan juga Jenna. Hermione masih sering mengunjungi bibi dan pamannya namun tidak sesering biasanya. Malahan mereka yang sering mengunjunginya. Celline juga sering ikut bergabung makan malam bersama mereka, Hermione menduga Celline menyukai Theo. Sedangkan Theo secara halus menolaknya. Celline kemudian berbalik, bersama Jenna, mereka mendorong Hermione dan Theo untuk berkencan dimana Theo sendiri beberapa kali terang-terangan meminta untuk berkencan dengan Hermione.
Kesendirian itu membuatnya berpikir untuk menerima kencan Theo, bukan karena dia tidak menganggap Theo menarik. Theo bahkan pria yang sangat menarik. Dia tampan juga pintar dan mapan. tapi Hermione merasa bimbang, karena masa lalu Theo dengan Draco. Bagaimana kalau sampai Theo mengetahui bahwa bayi yang sedang dikandungnya adalah anak Draco, sahabat baiknya? Pertanyaan itu selalu terulang dalam pikirannya. Hermione sempat berkencan dengan pria lain, namanya Mark, tapi Mark kemudian mundur mengetahui bahwa Hermione sedang mengandung. Tidak juga Hermione menyalahkan Mark. Tapi jelas itu membuatnya kecewa, bukan karena dia menyukai Mark, tapi betapa kisah cintanya akan sangat sulit. Hermione juga pernah berkencan dengan seorang muggle, dia tak mempermasalahkan kehamilan Hermione, tapi karena Hermione tidak merasa kecocokan yang dia harapkan dengan pria itu, dan fakta bahwa dia adalah seorang penyihir yang sedang hamil yang kemungkinan besar juga akan menjadi penyihir, Hermione akhirnya memutuskan hubungannya itu.
Pertanyaan yang selalu ada di pikirannya adalah apakah dia akan menemukan seseorang yang mencintainya apa adanya? Hermione bahkan yakin dia tidak akan pernah bisa mencintai orang lain sebagaimana dia mencintai Draco, karena Draco istimewa, dia cinta pertamanya. Hermione sudah merelakan cintanya yang kandas itu, tidak ada gunanya menangisi orang yang bahkan tidak pernah mencintainya, tapi bukan berarti dia bisa lupa. Harapannya adalah –yang selalu dia ulangulang- dia akan menemukan orang yang akan dia cintai.
Setelah bujuk rayu panjang dan juga karena dua kali gagal menjalin hubungan dengan dua teman kencannya, akhirnya Hermione bersedia untuk berkencan dengan Theo. Itu yang mereka ketahui, tapi sejujurnya alasan utama kenapa Hermione bersedia berkencan dengan Theo adalah percakapan mereka disalah satu sore di taman.
Ketika itu Hermione sedang duduk-duduk santai di taman dekat rumah toko bunga Jenna, di sana ada taman yang sering digunakan untuk anak-anak bermain. Saat itu Theo mendatanginya. Kali itu Hermione menggunakan T-shirt berlengan pendek, biasanya Hermione selalu menggunakan lengan panjang walaupun di musim panas untuk menutupi bekas luka di lengannya. Tapi karena tempat tinggalnya yang sekarang campuran antara muggle dan sihir, tidak banyak yang mengetahui apa arti dari bekas luka itu, mereka mungkin akan ada yang bertanya, tapi Hermione tidak merasa berat untuk tidak menjawab.
Pada saat itu, Theo datang dan ikut duduk di sebelahnya. "Kau selalu menampilkan senyum sedih ketika sedang duduk disini," kata Theo membuka pembicaraan.
Hermione mengangguk setuju. "Aku temasuk Daddy's girl. Aku sangat dekat dengan ayahku. Bisa kau bayangkan kalau anakku nanti lahir dan tidak memiliki ayah. Apakah dia akan cukup hanya denganku saja?" Tanya Hermione.
"Dialah yang rugi karena telah melewatkan momen itu, Hermione. Dan kalau kau perlu diingatkan, di sini ada orang yang selalu menanti untuk bisa berkencan denganmu dan mungkin menjadi ayah barunya. Aku sangat tampan, dia tidak akan kecewa," kata Theo.
Hermione mendengus.
"Kau belum menyerah?" Tanya Hermione.
Theo menggeleng.
"Aku tidak tau kalau keras kepala adalah salah satu sifat Slytherin," kata Hermione menggoda.
"Topi seleksi hampir memasukkan aku ke Ravenclaw kalau boleh jujur. Aku memohon pada topi usang itu agar jangan memasukkanku kemanapun selain Slytherin," jawab Theo dengan raut wajah sedih.
"Topi seleksi juga akan memasukkanku ke Ravenclaw, tapi kemudian aku memberikan 27 alasan sehingga akhirnya dia menempatkanku di Gryffindor," jawab Hermione.
"Seandainya kita sama-sama di Ravenclaw, apakah hidup kita akan berbeda?" Tanya Theo mengawang.
"Mungkin. Aku tidak bisa membayangkan diriku untuk bisa berteman dengan Ron dan Harry jika aku di Ravenclaw. Dan mungkin aku juga tidak akan menarik perhatian banyak orang kalau aku bukan teman mereka. Maksudku mereka hanya akan mengenalku sebagai salah satu kutu buku dari Ravenclaw," kata Hermione pahit.
Theo mengangguk mengerti.
"Ya. aku mengerti maksudmu. Aku sendiri mungkin tidak akan pernah melirikmu kalau kau bukan teman Potter. Jangan salah sangka," kata Theo cepat-cepat. "Aku sadar kau, pintar, cantik, baik hati, tapi kalau kau bukan teman Potter orang hanya akan menggapmu salah satu dari kutu buku itu. Itu bekerja secara kebalikan, kan? Seperti Chang yang tekenal karena cantik, dan Lovegood yang sinting padahal mereka Pintar. Tapi orang akan lebih melihat kita karena kita berbeda di antara kawanan kita," jawab Theo.
"Analogimu seperti hewan saja, kawanan," kata Hermione geli.
"Aku mulai memperhatikanmu sejak lama," kata Theo mengambang.
"Oh ya?"
"Ya. salah satu temanku selalu melakukan sesuatu yang membuatku akhirnya mulai memperhatikanmu. Pertemuan-pertemuan singkat kita di Hogwarts bukan karena kebetulan," kata Theo.
"Maksudmu?"
"Itu rahasiaku," jawab Theo.
"Aku tidak percaya padamu," kata Hermione.
Theo menaikan pundaknya. Hermione memukul lenganya bermain-main dan pada saat itu Theo mendapati gelang pemberian Draco.
"Alexandrite," kata Theo.
Hermione mengangguk.
"Ini dari mantanmu?" Tanya Theo.
"B-Bagaimana kau bisa mengasumsikan begitu?" Tanya Hermione takut. Hermione sudah akan melepaskan gelang itu sesaat ketika dia memutuskan hubungannya dengan Draco, tapi pengait gelang itu hilang dan Hermione tak bisa melepaskan gelang itu.
"Ini perhiasan sihir," kata Theo.
"Ibu dan Ayahku boleh saja muggle, tapi mereka juga memiliki banyak uang," kata Hermione dinggin, dia mencoba menutupi ketakutannya.
Theo mengagguk malu. "Aku tidak bermaksud begitu. Maaf. Baguslah kalau itu bukan dari mantanmu, apalagi kalau mantanmu adalah darah murni, itu bisa jadi masalah dikemudian hari," kata Theo meminta maaf.
"Maksudmu? Perhiasan hanyalah sebuah perhiasan, secantik apapun perhiasan itu," kata Hermione.
"Hermione, aku tidak bermaksud untuk menghinamu atau keluargamu yang muggle. tapi di dunia sihir, masih banyak orang-orang kuno seperti darah murni yang masih memengang tradisi. Seperti hal nya tradisi memberikan jam tangan kepada penyihir pria yang sudah baliq, ada juga tradisi memberikan perhiasan dari penyihir laki-laki kepada penyihir wanita sebagai janji terhadap hubungan mereka," kata Theo.
"Janji?" Tanya Hermione penasaran.
"Ya, semacam pertunangan kalau dalam dunia muggle. itu janji bahwa hubungan mereka itu serius," kata Theo.
Hermione terkesiap. Benarkah apa yang dikatakan Theo? Apakah Draco menganggap hubungan mereka serius? Bagaimana kalau iya? Apakah dia telah melakukan kesalahan karena memutuskan hubungan mereka. Hermione menggeleng sedih. tentu tidak, aku bukan darah murni, pikir Hermione. Kalau Draco serius dia tidak akan mematahkan hatinya seperti ini.
"aku tidak pernah mendengarnya!" kata Hermione.
"Itu bukan hal yang bisa kau baca di buku," kata Theo menggoda.
"Keluarga Weasley tidak pernah, seingatku," kata Hermione beralasan.
"Mereka darah penghianat, Hermione. Bukan menghina, tapi mereka seperti penyihir modern yang meninggalkan tradisi-tradisi darah murni. Bahkan mereka dengan terang-terangan tidak lagi melakukan tradisi-tradisi kuno," kata Theo.
"Mungkin kalian yang tidak bisa menerima perubahan yang mereka lakukan," kata Hermione adil.
"Mungkin," jawab Theo.
"Theo, aku masih tidak mengerti maksudmu tentang yang tadi. Itu… tentang memberikan perhiasan kepada penyihir wanita. Apa maksudmu dengan janji tadi?" Tanya Hermione.
"Keluarga darah murni memiliki tradisi dalam menjodohkan anak-anak mereka untuk menjaga garis keturunan mereka. Kebanyakan mereka dijodohkan dari usia yang sangat muda. Kalau kau beruntung kau bisa saja mendapatkan sesorang yang bisa kau cintai, tapi kebanyakan hubungan suami istri dalam keluarga darah murni, lebih seperti kakak adik yang saling menjaga dan menghormati, yang lebih parah adalah hubungan yang dingin dan tidak saling mengenal, mereka menikah hanya untuk meneruskan garis keturunan. Ada juga beberapa yang kemudian memutuskan perjodohan, asal perjodohan yang dilakukan bukan dengan Blood Magic. Perhiasan diberikan ketika si penyihir laki-laki mantap untuk melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius."
Hermione diam terkesima atas penjabaran Theo.
"Itu bukan dari mantanmu kan?" Tanya Theo lagi, suaranya ragu.
"Bukan," kata Hermione pelan berbohong.
Theo mengangguk.
"Aku akan sangat takut kalau iya," kata Theo.
"Kenapa?" Tanya Hermione bingung.
"Berarti dia serius denganmu dan aku akan kehilangan kesempatan," kata Theo main-main. Hermione menggelengkan kepala dia tidak percaya kalau Draco beranggapan hubungan mereka serius, dia bahkan tidak mencoba sedikitpun.
"Hermione, bolehkah aku meminta sesuatu?" Tanya Theo serius.
"Selama aku bisa memberikannya," jawab Hermione.
"Bolehkah aku menjadi ayah baptis dari anakmu?" Tanya Theo sungguh-sungguh. "Aku hanya merasa perlu untuk melindunginya. Entahlah, tapi aku merasa memiliki ikatan yang kuat dengannya," kata Theo meringis.
"Aku akan mempertimbangkannya," kata Hermione setelah berpikir lama. Theo tersenyum menghargai, dan dia sadar bahwa selama ini Theo sudah mengambil bagian penting dalam hidupnya.
"Coba kau mengatakan hal yang sama saat aku mengajakmu berkencan," kata Theo merengut.
"Untuk hal itu aku tidak perlu mempertimbangakannya lagi. Baiklah, ayo kita berkencan."
"Benarkah? Kau tidak sedang bercanda kan?" Tanya Theo memastikan.
Hermione mengangguk. "Dengan syarat, kalau ini tidak berhasil, kita harus tetap menjadi teman. Bagaimana?" Tanya Hermione.
Theo tersenyum lebar menampilkan deretan giginya yang rapi.
Sejak saat itu mereka mulai berkencan. Mungkin karena kesendirian yang terlampau lama atau mungkin karena Theo adalah orang yang bisa menghubungkan dirinya dengan masa lalu. Hermione merasakan kenyamanan yang luar biasa dengan hubungannya dengan Theo saat ini. dia tau hubungannya dengan Theo tidak bisa dibandingkan dengan hubungannya dengan Draco. Tapi bersama Theo, itu membuatnya bahagia.
Hermione amat peduli pada Theo dan begitu juga Theo. Dia tau dia akan mencintai Theo tidak lama lagi, walaupun dia pun yakin mungkin perasaannya itu tidak akan pernah sama dengan yang pernah dia rasakan terhadap Draco. Cintanya pada Draco amat besar, tapi mentah, hampir tak bisa dikendalikan. Dan yang paling salah adalah karena perasaannya pada Draco lebih besar dari pada perasaan Draco padanya, dan itu menyakitinya.
Sedangkan bersama Theo itu berbeda. Hermione tau Theo sangat peduli dan perhatian padanya, tapi sama seperti Hermione, belum sampai taraf mencintai. Tapi itulah yang dia suka dari hubungannya bersama Theo. Perasaan mereka tumbuh bersama berdampingan, tidak lebih besar dari satu sama lain, dan Hermione yakin mereka akan berada dalam tahap saling mencintai nantinya.
Ada satu hal yang masih menganjal dirinya dan itu tak bisa lagi dia abaikan karena sebentar lagi anaknya akan lahir. Dan hal itu harus segera dibicarakan.
Hermione sudah menunggu di ruang keluarga bersama Jenna, menunggu kedatangan Theo. Malam ini seperti malam-malam biasanya Theo akan datang untuk makan malam. Hermione sudah memutuskan untuk mendiskusikan masalahnya itu malam ini. Hermione berdiri ketika dia mendengar bunyi pintu di ketuk. Dia agak cemas dengan apa yang mungkin nanti reaksi Theo.
"Untukmu," kata Theo membawa seikat bunga Lily.
"Terima kasih," kata Hermione menerima bunga pemberian Theo.
"Theo kau sudah datang!" kata Jenna dari arah dapur. "Anak nakal, aku merasa terhina karena kau membeli bunga dari toko lain," tambahnya menggoda melihat bunga Lily yang Hermione tata di vas kosong.
Theo memberikan ekspresi pura-pura merasa sakit. "Jenna, itu dari taman di belakang rumahku. Dan jika kau mau aku ingatkan, kaulah yang menanamnya," kata Theo pura-pura terluka.
"Tentu tidak, dear. Jangan pasang wajahmu seperti itu," balas Jenna.
"Apa yang kau masak? Biar aku bantu," kata Theo ke dapur membantu Jenna.
Mereka ngobrol santai sambil makan malam. Menceritakan sedikit tentang bisnis Theo, apa yang terjadi seharian di toko atau Hermione yang sudah mengambil cuti selama satu semester.
"Jadi bagaimana dengan keadaan bayimu? Kapan kira-kira dia akan keluar?" panggil Theo.
"Lahir, Theo. Perkiraan sekitar 3 minggu lagi," kata Hermione.
"Apa kau jadi melihat jenis kelaminnya? Dan apa kau sudah mempersiapkan nama untuknya?" Tanya Jenna. Hermione mengangguk, Siang ini Hermione baru saja melakukan check up di rumah sakit untuk melihat kondisi kandungannya.
"Ya. laki-laki," kata Hermione mengangguk. Jenna dan Theo tersenyum lebar. "Dan aku sudah mempersiapkan nama untuknya," kata Hermione lagi.
"OH ya! kau akan memberitahu kami, atau kau akan menunggunya lahir?" Tanya Jenna.
"Aku akan memberi tahu nama lengkapnya kalau dia sudah lahir. Tapi aku akan memberitahu kalian nama depannya. Dan aku akan memberinya nama, Alexander," kata Hermione, Jenna menjatuhkan sendoknya dan langsung memeluk Hermione dan menangis.
"Oh, dear. Kau baik sekali," kata Jenna.
"Aku sudah lama memikirkannya. Dan kurasa itu nama yang bagus. Dia akan menjadi pelindungku," kata Hermione mengelus perutnya. Benar Hermione sangat menyukai nama itu dan dia ingin memberikan nama itu berdasarkan Alexander suami Jenna, seorang muggle yang dengan gagah berani membela seseorang yang tidak bersalah dari penyihir.
Theo memberinya senyum simpul, setuju dengannya.
"Oh, aku mengacaukannya," kata Jenna ketika dia membentur meja dan salah satu gelas yang masih penuh. "Biar aku yang bersihkan, lagipula kita sudah selesai makan malam," kata Jenna kemudian. Dia mengambil piringnya dan berjalan ke dapur. Hermione hampir pasti bahwa Jenna akan menangis.
Theo mengambil tangannya dan membawanya ke beranda. Jelas memberi ruang untuk Jenna.
"Hermione, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan," kata Theo
"Aku juga, kau dulu" kata Hermione menawarkan karena dia tau bahwa apa yang dia akan bicarakan ada hal yang menakutinya.
"Hermione, aku adalah orang yang egois," kata Theo memulai narasinya. "Aku ingin menikahimu dan anakmu menyandang namaku."
Hermione mengambil nafas dalam, tidak berani menjawab karena Theo masih jauh dari selesai. "Aku tau kita akan saling mencintai nanti, kalau kita memberi kesempatan pada hubungan ini. tapi aku bukan orang yang suci yang memiliki itikad baik mendekatimu hanya karena aku tertarik padamu. Aku tertarik padamu, kau wanita yang cantik, cerdas dan hebat. Aku hanya laki-laki lemah dengan masa lalu kelam, sampai kapanpun aku tidak akan pernah pantas untuk mendapatkanmu," kata Theo.
Hermione masih diam. "Ayahku, dia sering menyiksaku sejak aku kecil. Aku pernah mengatakan padamu bahwa Draco lah yang membuatku tetap waras, ya kan?" kata Theo, Hermione mengangguk. "Itu arti yang sebenarnya. Karena inti sihirku tergangu."
"Apa?" Tanya Hermione tak mengerti.
"Kau tau Ariana Dumbledore?" Tanya Theo.
Mulut Hermione menganga.
"Kondisiku sama seperti Ariana. Ketika aku tak bisa mengontrol sihirku, itu kembali seperti waktu kita masih kecil, sihir itu bisa meledak sewaktu-waktu dan mengerogotiku. Pada tahun ketiga, aku pikir aku akan dikeluarkan dari Hogwarts, karena aku kehilang control dan menghancurkan kamar kami, untungnya Snape menolongku. Dia membawaku pada Dumbledore dan menjelaskan semuanya, dia mengizinkan aku untuk terus di Hogwarts dengan syarat aku harus menjalani pengobatan. Madam Promfey secara teratur memberikan obat padaku. Untuk menjagaku terus tenang," kata Theo menjelaskan.
Hermione merasa bahwa matanya menjadi panas, dia yakin bahwa air matanya akan mengalir. Tapi tidak, dia tak boleh menangis. Pria dihadapannya ini lebih menderita dari dirinya.
"Selama aku tenang, aku seperti diriku. Tapi obat itu, obat itu membuatku kehilangan kesempatan untuk mempunyai keturunan," kata Theo. Dan kali ini air mata Hermione benar-benar jatuh. "Aku tau, sekarang kau pasti mengira bahwa aku mendekatimu karena hal itu. Tapi tidak Hermione. Awalnya memang aku berpikir setidaknya kau akan memiliki keturunan dan aku tidak perlu menuntutku tentang hal itu. Tapi kemudian aku menyadari kau lebih dari itu. Aku benar-benar menyukaimu dan ingin menikahimu. dan kalau kau menerimaku. Itu adalah kebahagian yang paling luar biasa untukku," kata Theo.
Hermione mendengar penjelasan Theo dengan runtut. Dia seperti tak bisa berpikir jernih. Tapi apa itu sebuah masalah. Tidak peduli dulu dia adalah teman baik Harry dan Ron tapi yang penting sekarang mereka mencampakanku. Tidak peduli betapa cinta yang dia berikan pada Draco tapi yang penting sekarang dia tidak berada di sisiku untuk membesarkan anak mereka. Jadi yang penting sekarang adalah untuk maju kedepan dan meninggalkan masa lalu, bukan begitu?
"Theo, ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu," Hermione mengambil nafas dalam dan mengambil tangan Theo di tangannya. "Aku menerima lamaranmu."
Theo terkesiap dan mengenggap tangan Hermione lebih keras. Dia mengeluarkan tawa tertahan.
"Tapi…" Theo melihatnya dan wajahnya amat ketakutan. "Itu tergantung padamu."
"Maksudmu? Aku tidak mengerti," kata Theo.
"Tentang kondisi, aku tidak peduli. Yang terpenting adalah sekarang dan yang akan datang. Disinilah kau bersamaku, menemaniku. Itu cukup untukku," kata Hermione.
"Jadi? Aku masih tidak mengerti," kata Theo, dahinya berkerut.
"Kau yang memutuskan apakah hubungan kita akan berlanjut setelah anakku lahir," kata Hermione, mengambil jeda. "Kalau setelah dia lahir, kau masih ingin menikahiku, maka aku bersedia. Tapi jika setelah kau melihatnya, kau berubah pikiran, maka aku tidak akan kecewa sedikitpun," kata Hermione.
"Hermione, itu tidak akan menggubahnya. Aku bahkan bersedia menjadi ayah baptisnya. Dan jika kau memperbolehkan aku ingin dia menyandang namaku," kata Theo.
"Kau tidak boleh seyakin itu, Theo. Tapi aku tidak berkelit. Ini keputusanku, kalau nanti dia lahir, dan kau masih ingin menikahiku, maka aku akan menerimanya," kata Hermione.
Theo berpikir sebentar. Dan kemudian dia mengangguk mengerti. "Deal," kata Theo dan kemudian dia mencium Hermione lembut. Itu bukan ciuman pertama mereka, tapi ciuman itu seperti penanda bagi langkah baru dalam hubungan mereka. Dalam ciuman itu tersimpan harapan masing-masing dari mereka, dan Hermione menyukainya, karena mereka selalu berada dalam lembar yang sama.
TBC
NB: pertama maaf sekali atas keterlambatan update. Kedua maaf karena typo, saya ngk sempet untuk edit. Apa kalian antusias dengan Harry Potter and The Cursed Child?, saya: Banget, dari beberapa yang saya baca di Instragam dari orang-orang yang katanya udah nonton dramanya, katanya hampir kayak fanfiction gitu ceritanya. Jadi saya masih degdegan nunggu tanggal 31 Juli. Dan saya coba penulisan yang berbeda di chapter ini, gimana? Lebih bagus atau ngk berasa bedanya?
Deauliaas: terima kasih reviewnya jadi penyemangat kok
Ujichan: emang klise ya idenya, mungkin kayak authornya keke
Oke. Sekian dulu ya dari saya, pokoknya terima kasih semua untuk kalian yang selalu nunggu cerita ini.
Xxx dragonjun
