Side by Side

Harry Potter itu adalah milik J.K. Rowling.

Chapter 06

Theo merasa sangat resah. Hermione sudah 3 jam berada di ruangan bersalin, tapi sama sekali belum ada kabar bagaimana kondisi mereka, Hermione dan bayinya. Paman dan kedua anak kembarnya, beserta Jenna juga menunggu di ruangan depan ruangan, hanya bibi Ami yang di izinkan untuk menemani Hermione. Celine memberinya secankir kopi panas dan duduk di sebelahnya.

"Kau sudah seperti ayah anak itu. Mencemaskan mereka," kata Celline.

"Apa kau tidak mencemaskan mereka?" Tanya Theo.

"Tentu, aku mencemaskan mereka. Tapi kau-" celline tersenyum ramah. "Seperti suami yang mencemaskan istrinya," kata Celline.

Theo balas tersenyum. "Hermione akan menerimaku, setelah aku melihat bayinya lahir. Aku tidak mengerti kenapa. Itu yang aku cemaskan, sejujurnya. Apakah… jika aku melihatnya, aku akan berubah pikiran? Alasan apa yang membuatnya berpikir bahwa aku akan berubah pikiran jika melhat bayinya?"

Celline tersenyum sedih. dia tau alasan kenapa Hermione melakukan hal itu, tapi melihat betapa Theo sangat bersungguh-sungguh seperti ini, juga membuatnya sedih.

"Wanita, Theo. Kadang wanita sulit untuk dimengerti," jawab Celline.

Theo mengangguk.

Mereka menunggu lagi satu jam kemudian ketika pintu ruang bersalin terbuka. Bibi Amy keluar dengan wajah sumringah dan penuh dengan senyuman. "Oh, gods. Bayinya cantik sekali," serunya.

"Bukankah bayinya laki-laki?" Tanya bibi Jenna.

"Oh, dear, kalau kau mengerti maksudku," balas bibi Amy.

"Bolehkah kami masuk melihatnya? Aku ingin melihatnya," kata Celline.

"Tentu. Bellamy! Benjamin-" tegur bibi Amy pada kedua anak kembarnya yang sudah akan menyusup masuk ke dalam.

Theo merasa tegang. Dia sudah mempersiapkan diri untuk hari ini, tapi nyatanya ketika hari ini tiba tak bisa disangkal dia merasa gugup juga.

Jenna yang pertama masuk di ikuti celline di belakangnya, kemudian Theo menyusul. Hermione sedang duduk mengendong bayinya yang baru lahir. Perlahan Theo mendekati mereka. Hermione tersenyum kecil padanya, tampak wajahnya masih basah oleh keringat dan tampak sangat lelah. Namun senyum kebahagiaan yang terpancar itu adalah senyum terindah yang pernah dilihatnya.

"Kau ingin mengendongnya?" Tanya Hermione menawarkan.

"Bolehkah?" Tanya Theo tak yakin.

Celline mengambil bayi itu dari Hermione dan memberikannya ke Theo. Theo terasa terperajat ketika bayi itu sampai di lengannya. Rambutnya yang perak keemasan. Benar kata Bibi Amy kombinasi yang aneh namun amat cantik untuk laki-laki, dan ketika matanya terbuka jantung Theo seakan berhenti berdetak. Mata biru merkuri, mata yang sering dia lihat sebelumnya, yang sering menenangkannya dulu. tidak mungkin salah, mata itu adalah Malfoy.

"Apa kalian melihat katak?" Tanya anak perempuan dengan rambut keriting bagai semak. "Katak Nevile lepas, apa kalian melihatnya?" Tanya anak perempuan itu lagi dengan percaya diri.

Theo mengeleng. Draco menjawab, "Tidak, kami tidak melihatnya." Cukup aneh melihat sahabatnya menjawab pertanyaan dengan sangat sopan. Hermione dan Neville berpamitan dan mengucapkan terima kasih.

"What ?"

Theo menengok ke arah sabahatnya, "Tadi itu tidak seperti dirimu," kata Theo.

"Theo… Theo… Theo… Kita harus secepatnya membuat aliansi," kata Draco.

"Maksudmu?"

"Aku tadi sedikit ngobrol dengan anak perempuan itu. She is brilliant, kau tau bahwa ada 730 anak tangga di Hogwarts yang bisa berubah-"

Mereka kemudian membicarakan Hermione, betapa hebatnya dia sudah menghapal semua buku mereka. Tapi percakapan yang memuji tentang Hermione Granger itu adalah yang pertama dan terakhir kalinya. setelah mereka mengikuti pelajaran ramuan pertama mereka, kecerdasan Hermione Granger sudah menyebar dari teman-teman se-asramanya dan keseluruh penjuru Hogwarts. Namun kabar itupun dibarengi dengan kabar Hermione yang sok tau, bossy dan yang paling mencengangkan adalah seorang kelahiran muggle. setelah itu tidak pernah dia mendengar temannya itu mengatakan pujian atau bahkan hal baik tentang Hermione Granger yang kemudian tak lama berselang digantikan dengan cemohan.

Hal itu berulang kali terjadi, hal itu ditambah dengan sahabat yang dipilih oleh Hermione. Draco tak pernah absen untuk terus-menerus membicarakannya. Theo sebagai seorang sahabat Draco yang paling mengenalnya mulai mengenali tanda-tanda obsesi itu. Terlebih ketika awal pada tahun kedua mereka, Theo yang pertama kali melihat perubahan sikap Draco. Yang biasanya dia tampak congkak dan arogan, Draco bersikap sangat diam dan dingin. Dia tidak mengatakan apapun yang menganggu pikirannya, tapi Theo cukup pintar untuk mencari tau apa yang terjadi di Lapangan Quidditch siang itu. Raut wajahnya yang sendu dan menyedihkan.

Theo tak bisa melakukan apapun terlebih ketika Hermione Granger ditemukan menjadi batu di dekat perpustakaan. Theo tidak bisa melupakan wajah sahabatnya yang tampak pucat. Dia tertawa tertahan ketika Crabbe dan Goyle dan anak-anak Slytherin yang lain menertawai Hermione Granger yang akhirnya menjadi salah satu korban monster Slytherin. Hal yang paling tak bisa dilupakan Theo adalah senyum kecil, kelegaan yang luar biasa bahwa Hermione Granger berlari masuk ke Aula Besar setelah diberi ramuan mandrake. Draco dengan keceriaan yang aneh mencemoh Potter dan Weasley karena sudah menyelamatkan Hogwarts dari monster Slytherin.

Berlanjut ke tahun ke-tiga mereka. Ketika Draco diserang oleh Buckbeak, dia melihat Draco senyum-senyum sendiri di tempat tidur pesakitannya, karena apa? Karena Granger-lah yang menyuruh Hagrid segera membawa Draco ke rumah sakit sementara yang lain masih saja terkejut dengan apa yang terjadi.

Masih di tahun ke-tiga mereka. Ada pada suatu ketika Theo kembali melihat temannya itu merasa gelisah, sesuatu yang asing untuk Theo. Theo akhirnya, untuk pertama kalinya, mendatangi Hermione. Theo sudah sangat tak tahan melihat temannya itu tak bersemangat, bahkan untuk menghina kedua musuhnya karena tak ada Hermione bersama mereka. Theo menemukannya di antara rak-rak buku perpustakan yang berdebu.

"Maaf," kata Theo ketika menabrak bangku Hermione dan mengambil buku yang terjatuh. Mata Hermione melebar melihat siapa yang mengatakan maaf. Bukan orang yang sering berbicara dengannya. Hermione hanya mengangguk.

"Kau sangat terobsesi dengan mahluk gaib?" Tanya Theo melihat tumpukan buku Hermione.

Hermione tampak terkejut ketika Theo mengajaknya dalam suatu pembicaraan, lebih seperti tidak percaya. "Ya," jawab Hermione. Theo mengambil tempat duduk di depannya.

"So fascinating," komentar Theo. "Terlalu terobsesi kalau aku boleh bilang dan dimana para dua idiot itu?" Tanya Theo, memperhatikan tumpukan buku mengenai mahluk gaib di meja.

"Mereka bukan idiot," jawab Hermione.

"Mereka tidak bisa dibilang pintar," kata Theo. "Jadi kemana mereka?"

Wajah Hermione menjadi sedih.

"Wow.. the golden trio split up!" Hermione tak menjawab. "Why?"

Untuk sesaat Hermione tak menjawab, namun kemudian dia menjawab dengan suara lirih dan sedih. "Salah kalau kau khawatir dengan temanmu, bahwa sapu terbangnya mungkin adalah pemberian dari Sirius Black yang sangat menginginkan kematian temanmu, dan salahkukah halau kucingku bertingkah selayaknya kucing yang nalurinya adalah mengejar tikus!"

Theo terperajat. Tapi Hermione tampaknya tak menginginkan jawaban, dia hanya ingin mengutarakan perasaan sedihnya.

Theo mengangguk, "Dan kau memutuskan untuk berada di sini dan membaca buku? Nice plan."

"Sebenarnya, aku sedang mencari tentang kasus-kasus yang pernah diperkarakan mengenai mahluk gaib," jawab Hermione tegas.

Theo mengerutkan dahinya berpikir. "Kau sedang mencoba membantu Hagrid?" kata Theo menerka.

"Ya," jawab Hermione menantang.

Theo mengangguk mengerti. "Itu tidak akan berguna."

"Siapa kau berani-beraninya mengatakan hal itu! Aku sudah membaca hampir semua buku tentang kasus-kasus yang melibatkan mahluk gaib, dan aku yakin hagrid memiliki kesempatan," kata Hermione.

Theo mengeleng. "Aku tidak setuju denganmu, nona. Dengan Lucius Malfoy dibalik semua ini, aku yakin dia akan memastikan bahwa ayam itu dieksekusi," kata Theo menyela Hermione. "Jika kau ingin menyelamatkan ayam raksasa itu, satu-satunya kesempatan adalah melepaskannya ke alam bebas," kata Theo.

"itu tak mungkin di lakukan. Kalau Buckbeak dilepaskan begitu saja, maka Hagrid bisa dihukum karena melakukannya dengan sengaja," kata Hermione memberi alasan.

"Disitulah kau harus berpikir bagaimana menjadikan hal itu menjadi mungkin. Kau akan melawan seorang Slytherin, berpikirlah seperti seorang Slytherin juga, tapi beraksilah seperti seorang Gryffindor, saranku," jawab Theo.

"Sayangnya aku bukan seorang Slytherin, Mr… Nott. Namamu Nott, kan?" Tanya Hermione ragu. Theo mengangguk. "Ya Mr Nott, sayangnya aku bukan seorang Slytherin, jadi aku akan melanjutkan risetku. But by the way, aku sangat menghargai solusi yang kau pikirkan, dan aku akan mempertimbangkannya," jawab Hermione tegas.

"Terserah padamu," jawab Theo meninggalkan Hermione sendirian.

Malam itu Theo masih menemukan Draco yang murung, hal ini membuat Theo ingin membuktikan dugaannya.

"Draco…," pangil Theo, Draco menengok padanya menutup buku yang terbuka tapi tak dibacanya. "Aku tadi bertemu dengan Granger," kata Theo.

"Granger?" Tanya Draco memusatkan penuh perhatiannya. Theo mengangguk.

"Dia sendirian di perpustakaan."

"Dia selalu di perpustakaan," ucap Draco, tapi ekspresinya meminta Theo untuk melanjutkan.

"Ya. sendirian tanpa dua babon sahabatnya. Dia tampak sedih," kata Theo. Dengan kalimat itu Draco tampak bersemangat.

"Maksudmu?"

"Tampaknya, mereka menjauhinya karena Granger melaporkan firebolt yang didapatkan Potter kepada McGonagall dan Kucingnya menyerang tikus wesel. Jadi mereka seperti menjauhinya," kata Theo, dia melihat Draco sedikit rileks dengan kabar yang dia berikan.

"Potter mendapatkan firebolt!"

"Kalau aku tak salah dengar, dan Granger melaporkannya pada McGonaggal, jadi nenek sihir menyita sapu itu, dan mereka menjauhi Granger," kata Theo.

"Dari mana kau tau?" tanya Draco curiga.

"Dari sini, dari sana," jawab Theo, tak mau berterus terang.

"Mereka idot. walaupun banyak orang mengagumi pot head, apakah tidak mencurigakan kalau kau mendapatkan firebolt? harganya mungkin melebihi semua nimbus yang diberikan ayahku," kata Draco. Dan malam itu mereka membicarakan kemungkinan memenangkan pertandingan Quidditch kalau benar Potter mendapatkan firebolt, tapi yang menjadi perhatian Theo adalah bagaimana hati Draco menjadi lebih ringan.

Mungkin karena Theo adalah orang yang paling dekat dan mengenal luar dalam Draco. Theo bisa mengetahui kapan ketika Draco sedang memikirkan Hermione. Dia sudah pada tahap mengerti bahwa sahabatnya itu diam-diam mengagumi sosok Hermione Granger.

Diakhir tahun ketiga untuk pertama kalinya, Draco meminta saran padanya tentang gadis. Theo -walaupun mereka seumuran tapi karena Ayahnya, Theo sudah dijodohkan dengan Daphne Greengrass sejak dia menginjakkan kaki di Hogwarts- semua orang di Slytherin tau bahwa Theo adalah calon suami idaman darah murni, dia perhatian pada tunangannya dan tidak seperti pemuda-pemuda Slytherin yang lain. Theo menghormati dan memperlakukan Daphne dengan sangat baik. Jadi pada saat itu Draco meminta saran padanya tentang –mereka mengatakan sebagai urusan perempuan- bagaimana cara agar bisa benar-benar bicara dengan seorang gadis. Tapi walaupun Theo menjelaskan bahwa seharusnya Draco bicara dengan nada suara yang halus dan memberikan sedikit pujian, kecurigaan Theo tampaknya terbukti, Draco tampak sedih dan murung.

Semua saran-saran yang diberikan Theo mungkin tampaknya tak bisa Draco lakukan, tapi perubahan yang sangat jelas adalah ketika ditahun ke empat mereka, Draco menyindir atau mengejek Hermione secara langsung. Tidak seperti sebelumnya ketika dia lebih banyak menyindir Potter dan Wesel. Tapi bunga-bunga benci tapi cinta itu pupus ketika malam pesta dansa natal. Semua orang akhirnya mengetahui betapa cantiknya, Hermione Granger. Dan siapa yang dia pilih sebagai pasangannya ke pesta dansa natal? Bukan si wesel yang mereka perkirakan tapi Viktor Krum.

Bagai bunga yang tak pernah berkembang. Kebodohan dan ketidak dewasaan Draco membuatnya berbalik arah, dan bertingkah seperti seorang pemuda Slytherin umunya. Untuk pertama kalinya dia meniduri seorang gadis, Pansy Parkinson. Yep, mereka berpacaran, tapi Draco sahabatnya itu tidak tampak bahagia. Dia mengatakan bahwa dia tidak merasa puas dengan apa yang terjadi antara dirinya dan Pansy. Dia tetap bersama Pansy tapi Draco menjadi seperti pemuda-pemuda Slytherin lainnya, suka mencari kesenangan dengan gadis lain di luar asrama Slytherin.

Theo memperhatikan bahwa Draco tidak pernah lagi mengatakan apapun tentang masalah perempuan lagi, tapi setiap kali Hermione melewati mereka atau sekedar masuk ke Aula besar maka matanya akan mengikuti kemana gadis itu berjalan. Draco membentengi dirinya dari Hermione Granger. Dilain pihak semakin jauh Draco bertahan semakin dekat Theo dengan Hermione. Bahkan karena hal itulah Theo juga ikut memperhatikan gadis itu. Bahkan Theo sering berbincang dengannya di perpustakaan, walaupun tidak seakrab layaknya seorang teman, tapi mereka sering berinteraksi seperti saat mereka membicarakan Buckbeck dan Theo menjadi ikut memperhatikan Hermione, dia bisa mengetahui kapan gadis itu mengalami masalah dan kesulitan. Mereka seperti teman, tapi tidak juga seperti teman. Itu hubungan yang sulit untuk di bicarakan.

Dan semakin memburuknya hubungan Draco dan Theo. Theo tidak lagi memperhatikan temannya itu. Tapi dia cukup tau bahwa Draco sudah mulai move-on. Sahabatnya itu tidak lagi terobsesi dengan Hermione, atau itu menurutnya. Dia mungkin akan meliriknya di aula besar, atau pundaknya akan bergerak tak nyaman ketika nama gadis itu disebut di ruang rekreasi, tapi dia tidak menunjukan perhatian yang lebih, lebih seperti merasa terganggu dan akan menghindar jika pembicaraan sudah mengenai gadis itu.

Hanya sampai disitulah Theo merasa bahwa Draco tidak lagi memiliki obsesi terhadap Hermione Granger. Tapi saat ini, di dalam gendongannya. Ada seorang bayi mungil kecil tampak sangat sempurna, rambutnya yang pirang campuran antara pirang dan coklat keemasan, dan ketika matanya yang biru keperakkan, jantung Theo seakan berhenti berdetak. Dia melihat sahabatnya kembali.

Mata itu, mata yang selalu menenangkan hatinya. Mata yang selalu bilang bahwa dia akan selalu berada di sampingnya. Mata yang selalu percaya padanya, dan yang terluka ketika Theo menolak pertolongannya. Dia merasa bahwa Tuhan sedang mempermainkannya dan menyayanginya dalam waktu bersamaan. Bagaimana mungkin Dia bisa membuatnya menikahi ibu dari seorang anak yang ternyata anak sahabatnya, dan betapa Dia amat menyayanginya karena dia bisa berjumpa lagi dengan mata itu.

Untuk pertama kalinya Theo tidak ingin mengetahui kisah antara Hermione dan Draco, walaupun mungkin dia harus, nanti. Dia tidak ingin tau kenapa Hermione meninggalkan Draco. Dia tidak ingin tau apakah benar Draco tidak mencintai Hermione, seperti yang di katakan karena hal itu bertolak belakang dengan apa yang dia tau. Dia akhirnya mengerti kenapa sahabat Hermione tidak menyukai mantan kekasihnya itu. Tapi yang ingin dia tau saat ini adalah apakah hubungannya dengan Hermione bisa berlanjut.

"Bisakah kalian keluar sebentar!" pinta Hermione.

Jenna dan Celline saling pandang, namun kemudian mereka mengangguk dan keluar ruangan.

"Mau kah kau menjadi ayah baptisnya?" Tanya Hermione ragu. Matanya cemerlang penuh harap. Theo tersenyum padanya.

"Tentu. Bahkan kalau kau perbolehkan aku akan memberikan namaku," kata Theo.

Hermione tersenyum lemah. Dia amat berterima kasih pada apa yang sudah di lakukan Theo untuk mereka, dia dan bayinya. Tapi memberikan nama kepada seorang anak dalam dunia sihir adalah hal yang sangat besar.

"Kau yakin, Theo?" Tanya Hermione ragu.

"Satu pertanyaan, Hermione," Hermione mengangguk. "Aku sangat yakin dengan apa yang aku lakukan, Hermione. Tapi ada satu pertanyaan, bukan, satu hal yang aku ragukan. Draco… Draco adalah ayah dari anak ini, bukan begitu?" Hermione tidak menjawab, namun Theo bisa menerka bahwa itu benar adanya. "Pertanyaanku adalah apakah kau yakin, bahwa kau menginginkan hal ini? apa kau yakin bahwa Draco tak menginginkan anaknya?" Tanya Theo.

Hermione, untuk waktu yang hampir seabad rasanya, namun dengan yakin dia menjawab. "Aku yakin dia tidak menginginkan Alexander. Dia tak bisa mencintai, Theo. Karena dia bahkan tak bisa mencintai dirinya sendiri," jawab Hermione.

Theo tidak percaya dengan jawaban itu. Menurutnya, Draco kemungkinan besar menginginkan anaknya. Tapi keyakinan Hermione, tekad yang ada di matanya membuatnya luluh. Dia harus memilih.

Theo memberikan Alexander di pangkuan Hermione dan kemudian menarik kotak kecil yang sudah dipersiapkannya. "Aku berharap kau mau memberikan namaku di belakang anakmu, Will you marry me?" Tanya Theo balik.

Hermione terdiam tak langsung menjawab. Dia mencari kesungguhan di mata abu-abu Theo. Dan kemudian dia menjawab, "Yes."

Theo merunduk dan menyegel kesepakatan mereka dengan kecupan manis. Theo membuka pintu dan mempersilahkan Jenna, Celline, Bibi Amy, Paman Frank, Benjamin dan Bellamy untuk masuk ke dalam ruangan. Theo berjalan dan berhenti di sebelah Hermione dan berbalik menghadap mereka.

"Perkenalkan, Alexander Leon Nott."

TAMAT

.

.

mungkin

.

.

AN/ hai, akhir dari side by side. bingung sih apa mau sampai disini atau masih ada lanjutannya. kisah Theo dan Hermione masih ada, tapi untuk keseluruhan Side by side, munurutku bagusnya aku tutup sampai disini, secara dengan konfil dan judul,hehehe.

atau mungkin juga karena saya merasa kewalahan menyelesaikan dua cerita ini. kelanjutan kisah mereka akan berada di LOVE AND PRIDE, walaupun secara kilasan aja.

jadi terakhir terima kasih kepada semua yang sudah memberikan dukungan pada saya. review, follow dan favourite. tidak akan pernah bisa saya cukup berterimakasih.