The Other Half
Pair:
Kim Jongin x Do Kyungsoo
Rate: T-M
Length: Undetermined
Summary:
Malaikat yang sayapnya dipatahkan oleh iblis akan dibuang ke bumi dan berubah menjadi manusia. Malaikat itu harus menemukan sayapnya kembali agar bisa kembali menjadi malaikat. Tapi itu hanya kasus yang terjadi pada malaikat yang kedua sayapnya dipatahkan. Dan Kyungsoo memiliki nasib yang berbeda, karena seorang iblis hanya mematahkan sebelah sayapnya. / KaiSoo, BL, AU.
Warning:
BL, AU, Fiction.
.
.
.
.
.
.
.
Part 4: The Day I Died
Tidak ada kata yang bisa menggambarkan kondisi Kyungsoo saat ini. Dia terlampau shock dan tidak tahu harus bereaksi seperti apa saat suaranya menghilang. Baekhyun mencoba menyemangati Kyungsoo sementara Chanyeol hanya bisa terdiam melihat betapa hancurnya Kyungsoo saat kehilangan suaranya.
"Kyungsoo, jangan khawatir, walaupun kau tidak bisa bersuara, kita bisa berkomunikasi dengan tulisan, kan?" Baekhyun berujar seraya meremas lembut bahu Kyungsoo yang masih terdiam dengan pandangan kosong.
Pandangan Kyungsoo kosong tapi airmatanya tetap mengalir. Suaranya adalah satu hal yang sangat Kyungsoo cintai dan dia syukuri. Kyungsoo suka bernyanyi, bahkan setelah dia dibuang ke dunia manusia, Kyungsoo masih suka bernyanyi di pagi hari bersama beberapa burung yang berada di depan jendela kamarnya.
Dan sekarang Kyungsoo sudah kehilangan suaranya. Apalagi yang bisa dia banggakan dari dirinya?
"Kyungsoo.." Baekhyun mencoba memanggil lagi dan kali ini Kyungsoo mengangkat pandangannya dan menatap Baekhyun. "Tuliskan apa yang ingin kau katakan."
Kyungsoo menggeleng, bibirnya terkatup rapat dan perlahan isakan tanpa suara Kyungsoo kembali keluar dan dia menangis tersedu-sedu seraya menutupi wajahnya.
Baekhyun memeluk Kyungsoo dan terus menggumamkan kata 'tidak apa-apa' walaupun dia tahu itu mungkin tidak akan berpengaruh bagi Kyungsoo. Chanyeol yang sejak tadi diam memperhatikan mereka akhirnya berdiri.
"Aku keluar sebentar." Chanyeol berujar tenang kemudian dia berlari keluar dari rumah Baekhyun.
Chanyeol memang tidak terlalu mengenal dekat Kai mengingat jabatan Kai yang lebih tinggi daripada iblis biasa sepertinya. Tapi melihat malaikat seperti Kyungsoo begitu hancur dan terpuruk hanya karena permainan dari Kai membuat Chanyeol tidak tahan. Dia harus setidaknya mengatakan pada Kai untuk menghentikan penderitaan Kyungsoo. Jika melihat dari betapa hancurnya Kyungsoo, Chanyeol yakin kalau dia pasti lebih memilih mati daripada terus hidup seperti itu. Siksaan dari Kai sangat tidak pantas dialami oleh malaikat seperti Kyungsoo.
Gerakan sayap Chanyeol berhenti saat dia melihat sosok bersayap hitam kelam dengan ukuran yang jauh lebih besar dari sayap Chanyeol sedang berada di atas atap sebuah gedung. Chanyeol bergegas terbang ke sana dan dia melihat Kai sedang duduk dengan salah satu lutut yang ditekuk dan satu lagi dibiarkan terjulur bebas melewati tembok pembatas atap.
"Kai," panggil Chanyeol.
Kai mendongak, "Apa?"
Chanyeol menghampiri Kai dan berdiri di atas pagar pembatas, "Bisakau kau berhenti?"
Kai mengerutkan dahinya tidak mengerti.
"Berhenti mempermainkan Kyungsoo. Dia malaikat, dia tidak memiliki dosa apapun padamu jadi berhentilah menyakitinya dan membunuhnya secara perlahan seperti itu."
Kai terdiam kemudian dua detik berikutnya dia tertawa sinis, "Itu tidak ada urusannya denganmu."
Chanyeol menggeram dan dia melayangkan tinjunya ke rahang bawah Kai, "Kau menyakitinya dengan sangat! Dia tidak hidup walaupun dia bernapas, Kai! Hentikan ini!"
Kai menggeram, bola matanya yang berwarna merah terlihat menyala, "Kau.. memukulku?"
Chanyeol mendecih, "Aku yakin pukulanku sama sekali tidak berdampak padamu. Tapi apa yang kau perbuat pada Kyungsoo sangat menghancurkannya. Kau tahu? Dia kehilangan suaranya!"
Chanyeol menghempaskan tubuh Kai, "Dia kehilangan suaranya padahal satu-satunya yang bisa membuatnya tersenyum saat berada di sini adalah saat dia bernyanyi! Aku pernah melihatnya saat berkunjung untuk menemui Baekhyun dan dia bilang Kyungsoo akan selalu gembira saat bernyanyi." Chanyeol menatap Kai berang, "Dan kau.. kau merebut satu-satunya hal yang membuat Kyungsoo bertahan."
Kai terdiam, dia menatap lantai atap dengan pandangan yang tidak bisa diartikan.
"Kalau saja aku bisa, aku ingin sekali menghapus segel iblis darimu di tubuh Kyungsoo. Aku lebih ingin melihatnya mati daripada tersiksa secara perlahan seperti ini." Chanyeol menghela napas kemudian dia kembali terbang meninggalkan Kai yang masih duduk diam di atap dengan pandangan mengarah pada lantai.
.
.
.
.
.
.
Kyungsoo membuka jendela kamarnya dan menatap burung-burung yang berkumpul di dahan pohon di dekat kamarnya. Kyungsoo tersenyum, biasanya dia akan mulai bernyanyi dan burung-burung itu akan membalas nyanyian Kyungsoo dengan kicauan riang dan merdu dari paruh mungil mereka.
Tapi kali ini Kyungsoo hanya diam dan burung-burung itu juga diam menatap Kyungsoo. Beberapa burung kecil bergerak mengepakkan sayapnya seraya berkicau ribut, seolah meminta Kyungsoo untuk bernyanyi.
Kyungsoo menggeleng, airmatanya kembali mengalir.
'Aku tidak bisa bernyanyi..'
Kyungsoo menatap burung-burung itu dan menggeleng lagi, 'Aku tidak bisa bernyanyi bersama kalian lagi.'
Jemari kurus Kyungsoo mencengkram bingkai jendela kamarnya sementara dia menangis. Dia tidak memiliki apapun yang bisa menguatkannya. Suaranya sudah terenggut dan Kyungsoo tidak tahu bagaimana caranya agar dia bisa tetap tersenyum dalam semua rasa sakit yang dia alami. Sayapnya semakin sering rontok dan terlihat cacat, sayapnya tidak lagi bersinar dan berpendar karena semakin banyak kehilangan bulu-bulunya.
Dalam hatinya entah sudah berapa kali Kyungsoo memohon agar Tuhan memberikan sedikit keringanan pada malaikat penuh dosa sepertinya untuk mati. Dia sangat ingin pergi meninggalkan dunia ini karena dia bisa gila jika terus seperti ini. Tapi mungkin Tuhan terlalu murka padanya karena sebanyak apapun dia berdoa, Tuhan tidak juga mengambil nyawanya.
Kyungsoo membuka matanya dan menatap bulu sayap milik Kai yang berada di bingkai jendela bersamanya. Kyungsoo mengambil bulu itu dan meremasnya begitu kuat, 'Aku membencimu..'
Airmata Kyungsoo menetes di bulu sayap yang dia cengkram kuat-kuat, 'Aku membencimu..'
Malaikat tidak pernah merasakan perasaan marah ataupun benci. Tapi semua rasa sakit dan perih yang Kyungsoo rasakan membuatnya yakin kalau dia pastinya membenci sosok Kai. Dia membenci iblis itu.
"Kau membenciku?"
Kyungsoo terkesiap saat mendengar suara Kai dan saat dia mendongak dia melihat iblis itu sedang melayang di depan jendela kamarnya.
"Aku bisa mendengar teriakan dalam kepalamu." Kai melayang semakin dekat ke jendela tempat Kyungsoo berada, "Kau membenciku?"
Kyungsoo menatap Kai dengan tajam dan meneriakkan kata 'Ya!' dalam kepalanya keras-keras.
Kai tersenyum miring, "Kau hanya sedih dan.. terpuruk? Karena malaikat tidak akan pernah bisa membenci apapun. Mereka bisa merasakan kesedihan, tapi tidak untuk benci." Kai mengusap airmata yang mengalir di mata Kyungsoo dengan ibu jarinya, "Aku benar, kan?"
Kyungsoo menepis tangan Kai dan menegakkan tubuhnya, jemarinya mencengkram bingkai jendela dengan erat sementara Kai masih melayang ringan di depan jendela kamarnya. 'Kenapa kau tidak juga membunuhku?'
"Karena aku tidak mau. Aku sudah pernah bilang kalau aku tidak akan membiarkanmu mati, kan?"
'Kenapa?'
Kai menyeringai, "Karena aku ingin."
'Kenapa aku? Ada ratusan malaikat yang turun ke bumi setiap harinya.'
Kai tidak menjawab, dia mencabut satu bulu sayapnya dan memberikannya pada Kyungsoo, "Ini akan melindungimu. Kalau sesuatu terjadi padamu, maka bulu sayap ini akan terbakar. Kalau kau mencoba membunuh dirimu, bulu ini akan terbakar secara perlahan. Dan kalau kau benar-benar mati, maka bulu ini akan menghilang menjadi debu."
'Aku tidak butuh perlindunganmu.'
Kai tertawa kecil, "Kau hanya belum mengetahui seberapa berharganya perlindunganku untukmu. Segel iblis dariku itu harganya mahal di dunia iblis."
Kyungsoo tersenyum sinis, 'Mahal? Tapi kau memberikan segel ini pada banyak orang.'
Kai memiringkan kepalanya, "Kau sudah mulai berubah menjadi manusia. Aku suka itu." Kai mendekatkan wajahnya ke arah Kyungsoo, "Semakin kau berubah menjadi manusia, akan semakin banyak dosa yang kau lakukan. Dan jika itu terus berlangsung, kau akan kehilangan darah malaikatmu seutuhnya." Kai mengulurkan tangan dan mengelus sayap Kyungsoo yang cacat, seiring dengan gerakan jemarinya yang menyentuh helaian sayap Kyungsoo, bulu sayap itu juga rontok.
Kyungsoo membulatkan matanya dan melompat mundur, menjauhkan tangan Kai dari sayapnya. Bulu-bulu sayapnya yang rontok bertebaran di lantai dan Kyungsoo mengambilnya dengan panik.
"Aku akan memberikanmu sayap baru setelah sayapmu hancur."
Kyungsoo mengerutkan dahinya tidak mengerti.
Kai melayang masuk ke dalam kamar Kyungsoo, "Tenggorokanmu terasa seperti terbakar, kan?"
Kyungsoo diam karena ucapan Kai memang benar. Sejak suaranya menghilang, tenggorokannya terasa begitu panas dan perih seolah sedang digaruk oleh besi panas dari dalam.
Kaki Kai menapak di lantai kamar Kyungsoo sementara dia maju semakin dekat ke arah Kyungsoo, "Ini akan meredakan sakitnya."
Kyungsoo bersikap waspada, tapi gerakan Kai sangat cepat dan sebelum Kyungsoo memproses lebih lanjut Kai sudah menariknya dalam pelukan, menyelubungi mereka dengan sayapnya yang besar, dan mencium Kyungsoo.
Kyungsoo terkesiap, matanya terbuka lebar dan hal yang dilihatnya adalah kelopak mata Kai yang tertutup, rambut gelapnya yang jatuh ke dahi Kyungsoo, dan juga bulu sayap hitam yang mengelilingi mereka.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kyungsoo membuka matanya dengan cepat dan bergerak bangun. Dia menatap sekeliling dan dia menyadari kalau dia berada di kamarnya. Kyungsoo menghela napas dan mengusap dahinya.
'Mimpi?'
Kepalanya menggeleng perlahan dan dia mencoba mencerna kejadian yang baru saja dialaminya. Namun satu hal yang disadarinya, tenggorokannya tidak sakit lagi, begitu pula dengan segel di punggungnya.
Kyungsoo terdiam, jika memang apa yang dia alami bukanlah mimpi, maka seharusnya dia merasakan sakit saat dia berbicara dengan Kai. Segelnya akan bereaksi dan tentunya mengirimkan sengatan rasa sakit ke tubuhnya.
Tapi.. kenapa?
Kenapa dia tidak merasakan apapun?
Dan kenapa dia juga tidak merasakan apapun sekarang?
Apakah yang dia alami tadi bukan mimpi?
Kyungsoo mengelus bibir bawahnya dengan ujung jarinya, jika itu bukan mimpi, apakah ciuman tadi juga nyata?
Mata Kyungsoo bergulir dan dia menemukan dua buah bulu sayap hitam di sebelah bantalnya. Seketika itu juga Kyungsoo tersadar kalau apa yang dia alami bukan mimpi.
Dan ini kembali menambah pertanyaan dalam kepala Kyungsoo. Kenapa Kai melakukan ini? Kenapa dia menyiksanya kemudian memberikan penawar untuknya?
Apa yang diinginkan oleh iblis itu sebenarnya?
Kyungsoo masih sibuk dengan pikirannya dan dia tidak sadar sama sekali kalau pintu kamarnya terbuka dan Baekhyun masuk ke dalamnya. Dia baru sadar saat ada sebuah tangan dengan jemari lentik yang mengibas di depan wajahnya.
Baekhyun menatap Kyungsoo yang terkejut dengan senyum lebar di wajahnya kemudian bibirnya bergerak seolah sedang mengucapkan kata-kata.
Kyungsoo mengerutkan dahinya karena dia tidak mendengar apapun keluar dari belah bibir Baekhyun. Dia menggeleng pelan seraya menatap Baekhyun dengan bingung.
Baekhyun terlihat panik, Kyungsoo melihat Baekhyun terlihat seperti berteriak di hadapannya tapi Kyungsoo tetap tidak mendengar apapun. Kyungsoo meraih buku catatan kecil di meja nakas dan menuliskan beberapa patah kata.
Baekhyun, aku tidak bisa mendengarmu.
Kyungsoo melihat mata Baekhyun terbuka dengan lebar dengan raut ketakutan tergambar jelas di wajahnya. Dia meraih buku kecil itu dan menulis dengan cepat.
Tapi Kyungsoo, aku sudah berteriak sangat keras padamu!
Kyungsoo terkesiap, dia menatap Baekhyun dan Baekhyun nampak mengangguk-angguk keras. Kyungsoo merasakan jantungnya berhenti saat itu, setelah suaranya, kali ini dia kehilangan indra pendengarnya.
.
.
.
.
.
.
.
Setelah itu dunia terasa begitu sunyi untuk Kyungsoo. Dia tidak lagi bisa mendengar suara celotehan ceria Baekhyun. Hanya tersisa kesunyian untuk dirinya, dia hanya tersenyum saat Baekhyun tersenyum karena mereka berkomunikasi lewat tulisan.
Baekhyun selalu tersenyum dan menuliskan berbagai ucapan penyemangat diserta emoticon imut untuk membuat Kyungsoo tertawa. Tapi yang diberikan Kyungsoo hanya senyuman tipis yang bagi Baekhyun terlihat seperti senyuman sedih.
Hari menuju titik balik matahari semakin dekat dan Kyungsoo sudah terlihat sangat pasrah untuk menghadapi kematiannya.
Kyungsoo tidak membuka jendela kamarnya pagi ini. Dia tidak mau bertemu dengan burung-burung mungil itu karena sekarang dia bahkan tidak bisa mendengar kicauan mereka. Setelah bangun dengan kondisi tidak bisa mendengar, Kyungsoo segera pergi ke ruang makan dan dia bertemu Baekhyun yang sibuk menyiapkan sarapan.
Baekhyun berjalan menghampiri Kyungsoo dan menulis beberapa sesuatu di buku yang ada di hadapan Kyungsoo.
Kyung, aku harus pergi bekerja. Kalau ada sesuatu terjadi kau bisa mengirimiku pesan. Aku mungkin akan pulang terlambat karena aku agak sibuk. Tidak apa, kan?
Kyungsoo membaca tulisan Baekhyun kemudian dia tersenyum dan menuliskan 'Tidak apa-apa, aku akan di rumah saja.'
Baekhyun tersenyum lega, dia mengangguk, memberi isyarat pada Kyungsoo untuk menghabiskan sarapannya kemudian dia bersiap untuk bekerja.
Kyungsoo mengantar Baekhyun hingga pintu depan rumahnya dan Baekhyun melambai dengan semangat pada Kyungsoo. Tepat setelah Baekhyun pergi, semuanya kembali hening bagi Kyungsoo.
Jika Baekhyun ada bersamanya, setidaknya Kyungsoo bisa merasakan sedikit keceriaan Baekhyun. Tapi sekarang saat dia kembali sendirian, Kyungsoo tidak merasakan apapun selain perasaan hampa yang ada di tubuhnya.
.
.
Kyungsoo menghabiskan sisa hari itu dengan duduk menatap layar TV. Dia tidak bisa mendengar jadi yang dia lakukan hanya melihat gambar-gambar berganti di layar datar tersebut. Kemudian dia melihat sebuah drama dimana pemerannya terlihat sedang menikmati es krim dan entah kenapa Kyungsoo ingin mencobanya.
Dia memperhatikan es krim itu selama beberapa detik tanpa berkedip kemudian dia memutuskan untuk pergi keluar dan membelinya. Kyungsoo pergi keluar dengan berbekal sejumlah uang, notes kecilnya, dan juga ponsel. Dia juga sudah mengirimi pesan pada Baekhyun kalau dia akan pergi membeli es krim.
Kyungsoo berjalan menyusuri trotoar dengan perlahan. Dia menyadari kalau belakangan ini dia tidak bisa lagi berjalan dengan cepat, kakinya seolah ditempeli pemberat dari besi. Kyungsoo berusaha berkelit dari beberapa pejalan kaki yang berjalan cepat di sebelahnya. Beberapa pejalan kaki menabraknya dan Kyungsoo meminta maaf dengan menundukkan kepalanya.
Kyungsoo melihat sebuah kedai es krim yang berada tidak jauh darinya dan dia tersenyum, dia berusaha mempercepat langkahnya namun dia terhenti saat melihat seekor anak kucing tengah berada di tengah jalan dengan kaki yang sepertinya tersangkut permen karet yang dibuang sembarangan.
Tanpa berpikir dua kali Kyungsoo segera berjalan ke arah anak kucing kecil itu dan membantunya melepaskan permen karet yang menempel di kaki mungilnya. Kyungsoo tidak bisa mendengar, sehingga dia sama sekali tidak menyadari beberapa pejalan kaki menatapnya dengan ngeri dan meneriakkan sesuatu padanya.
Pandangan mata Kyungsoo terus terfokus pada kaki kucing kecil itu dan jemarinya terus berusaha membersihkan permen karet yang menempel di sela-sela kaki kucing itu. Kemudian setelah selesai barulah Kyungsoo mengangkat pandangannya dan dia melihat semua orang menatapnya dengan ngeri seraya menunjuk ke belakangnya.
Kyungsoo menggerakkan kepalanya untuk menoleh dan dia melihat sebuah truk besar sedang melaju ke arahnya. Jaraknya sudah terlampau dekat dan Kyungsoo tahu dia tidak akan bisa menghindar, terlebih lagi dengan kondisi tubuhnya yang melemah.
Kyungsoo melemparkan anak kucing itu menjauh dari jalan sementara dia memejamkan matanya saat truk itu semakin mendekat ke arahnya.
Sementara itu di kamar Kyungsoo, salah satu dari dua bulu sayap berwarna hitam yang berada di bantalnya perlahan berasap dan terbakar kemudian menghilang menjadi abu.
To Be Continued
.
.
.
.
.
Judul part ini ambigu dan akhir chapternya ambigu juga ya. hahahaha /dihajar/
Jadi, menurut kalian Kyungsoo mati tidak? /dihajar jilid dua/
Aku akan membiarkan kalian dengan spekulasi kaliaan~ /kabur sebelum dilempar oleh reader/
.
.
.
.
Jangan lupa review yaa~
Hohohoho~
.
.
.
Thanks
