Sarjana Biologi?

.

.

.

KAIHUN as always

.

.

.

Hope you like it...

.

.warn : GS, bahasa campur aduk, typoo, OOC deelel.

,

,

Happy reading

,

"Aku semangat sekali!"

Pekikan suara dari Oh Sehun itu membelah keheningan di pagi hari. Dia sedang berada di balkon rumahnya. Masih dengan piama biru muda dan rambut acak-acakan, namun raut wajahnya begitu berseri-seri. Sehun membentangkan tangannya seperti burung yang baru bebas dari kurungan.

"Berisik, Oh Sehun!"

"Ya Tuhan!"

Teriakan pertama berasal dari sebelah balkon Sehun, tepatnya rumah sahabat kecilnya-Byun Baekhyun.

"Kamu pagi-pagi begini udah bikin ribut! Mana muka kaya gembel lagi."

Oh, ada yang tidak sadar diri. Baekhyun bahkan juga lengkap dengan piyama pink dan boneka kelinci di tangannya. Di sudut bibir juga ada aliran air laut sepertinya, entahlah. Lupakan saja kalimat terakhir tadi.

"Abisnya aku semangat banget." Balas Sehun.

Baekhyun mencibir kelakuan gadis itu. Mungkin tidak masalah diucapkan sekali atau dua kali. Masalahnya, Sehun akan berteriak seperti itu setiap hari. Setiap hari, bung! Dan itu begitu mengganggu telinga Baekhyun yang sensitif.

Kali ini, Baekhyun terjengkang-lagi- dari kasurnya berkat suara Sehun. oh, terima kasih banyak Sehun. terima kasih!

"Booseeenn." Ucap Baekhyun dengan nada sing song. Dia menumpu wajahnya di tangan yang ditekuk di atas pagar balkon dan menatap Sehun dengan matanya yang menunjukkan bahwa Baekhyun masih sangat amat super mengantuk. Bagaimana tidak, semalaman dia memikirkan cara apa lagi untuk menjauhkan Sehun dari si hitam Jongin, dan kalau bisa dari komplotannya sekalian. Ow, Tercium aroma pengkhianatan disini.

Sehun mengikuti posisi Baekhyun. Keduanya berpandangan dengan berbeda makna. Pandangan Sehun mah bak kilau bling-bling diskon sayur di pasar, kalau Baekhyun? Udahlah jangan di ungkit, nanti malah di sambit pake eyeliner berbentuk celurit keluaran terbaru.

"Kan nanti bakalan ketemu sama Jongin bebeb." Ucap Sehun lebay.

Si pemuda memutar matanya bosan. "Item gitu di banggain."

Sehun merengut. "Enak aja, Jongin bukan item, Cuma kebanyakan kena asap kendaraan waktu kecil." Bela Sehun ngawur.

Baekhyun tertawa mengejek dan menyahut, "Ya iyalah, dari kecil kan Jongin udah ngamen di deket lampu merah." Kemudian tertawa lebar setelahnya.

Tiba-tiba-

"Wadoh!"

"Berisik, kampret!"

Yang jelas pekikan pertama berasal dari Baekhyun. Dan itu disebabkan karena bantal yang penuh dengan pulau dari liur menghantam mukanya dari arah depan. Dengan manuver kencang yang berbelok-belok dan menghantam keras bagai halilintar di planet Konoha. Halah.

Dan pelakunya? Ya jelas Luhan.

Luhan berdiri di balkon rumahnya sendiri, bukan dari balkon rumah Sehun apalagi balkon rumah pak RT, karena rumah pak RT nggak pake balkon. Keuntungan Bagi Luhan dan Baekhyun karena posisi rumah mereka yang strategis. Membuat mereka bisa mengawasi kalau-kalau Jongin ngapel ke rumah Sehun, kan mereka bisa menyiapkan bala bantuan.

"Luhan?"

Luhan yang awalnya bersungut-sungut dengan lubang hidung mengembang dan mengempis menatap Baekhyun yang tiduran di lantai beralih pada Sehun dan tersenyum manis.

"Halo Sehun. udah bangun ya? Aduh rajin banget adek Luhan."

Baekhyun serasa ingin muntah mendengarnya. Dia bangkit dari posisinya dan melempar balik bantal yang penuh dengan hasil investasi masa depan Luhan itu. Tapi sayangnya malah meleset dan menimpuk(?) Sehun dengan indah.

O'ow.

Muka Sehun sudah memerah menahan tangis. Dua tangan Baekhyun menutup mulutnya sendiri, mengabaikan boneka kelincinya yang jatuh ke bawah dan menghantam tanah yang becek setelah hujan, mungkin setelah ini Baekhyun akan di cincang oleh adik perempuannya karena menjatuhkan barang pinjaman itu. Luhan? Dia tertawa setan karena setelah ini dipastikan Baekhyun akan di diamkan seharian.

"Se-sehun, maafin aku." Sudah tau siapa yang mengatakannya?

"Mampus lu, mampus." Pasti tau deh ini siapa yang bilang.

"Oke."

Luhan melongo tiga puluh meter, Baekhyun tersenyum cerah lima watt, tumben Sehun memaafkannya. Itu seperti mendapat mangga muda waktu lagi nyidam.

"Soalnya hari ini aku lagi semangat banget!"

Dan ucapan itu malah membuat dua pemuda dengan wajah yang berbeda menyeragamkan rautnya. Cemberut.

"MAU KETEMU BEBEB JONGIN! AKU SEMANGAT!"

"Aku nggak semangat~"

Kalimat itu di ucapkan dengan nada lemas nan lesu bak amenia, eh? Anemia.

Rupanya sang pujaan hati tengah ke luar kota sejak kemarin untuk meneliti organisme di hutan. dan baru akan kembali besok. Paling cepat sih nanti siang, tapi itu juga ngebut.

Sehun merana. Dia sudah dandan cantik untuk bertemu sang pujaan setelah dua hari absen. Duh, tiga hari sudah dia tidak akan bertemu dengan Jongin.

"Jongin emang nggak sayang kamu, hun. Ngapain di kejar juga." Baekhyun mulai dengan hobinya, ngomporin Sehun.

"Tapi Sehun kan nggak pernah ngejar Jongin. emang mereka lagi lomba lar-hmmfft!"

Kyungsoo yang baru ngomong segera di bungkam oleh tangan Luhan yang penuh dengan minyak karena habis makan gorengan. Kyung, yang tabah ya. Kyungsoo meronta hebat hingga tak sadarkan diri karena tercemar minyak setelahnya. Luhan melepaskan tangannya dan menaruh tubuh pingsan Kyungsoo di bawah bangku.

"Iya, dek. Si dekil itu pasti lagi ngejauhin kamu. Marah dong kamunya." Orang yang memproklamirkan diri sebagai kakak sejati Sehun itu ikut menambahi ucapan Baekhyun. Maklum sekomplotan. Sekali-kali matanya melirik Kyungsoo di bawah bangku, takut-takut si bocah mendadak bangun terus kepentok meja. Luhan sih, tidak khawatir tentang benjol yang akan di dapat, dia khawatir sama makanan yang ada di atas meja. Nanti jatuh semua kan mubadzir.

"Tapi kan-..."

Ucapan Sehun terpotong oleh suara dari ketua fans clubnya. Menurut informasi sih begitu.

"Hunnie, kamu ngapain disini sama dua makhluk abstrak ini? Mending ikut aa' ke kafe depan."

Sehun menggeleng pelan. "Aku nggak pengen makan, lagi lemes."

"Sehun sayang lemes? Mau ke rumah sakit? Ayo naik limousin aku, nanti aku anter ke rumah sakit di Inggris kalau perlu."

Oh, si orang kaya datang.

Tiga orang pemuda di sana-minus orang kaya dan Kyungsoo- menatap Suho kesal. Orang ini pamer sekali sih. seperti jika satu hari saja dia tidak pamer, hartanya yang bejibun itu bakal menyusut dan meleleh jadi gulali.

"Nggak mau, aku Cuma mau Jongin." Sehun merengut imut, membuat mereka ber-fangirling ria, bahkan ada yang mimisan.

Baekhyun meremas mukanya sendiri saking gemasnya. Luhan dan Minseok saling jambak-jambakan entah karena apa. Suho mah stay cool, orang kaya tidak boleh kelihatan rakjel seperti mereka bertiga. Dan yang mimisan itu Kyungsoo. Bukan karena terpesona, Kyungsoonya saja masih pingsan. Dia mimisan karena hidungnya tak sengaja diinjak oleh Luhan saat meraih rambut Minseok yang berdiri di sampingnya.

"Nanti bakal aku cetakin Jongin, kalau perlu yang nggak mengandung kadar rakjel 95 persen kaya sekarang." Ucap Suho sok.

Minseok akan menarik rambut Suho jika tidak ingat bodyguard si kaya yang berjejer di mana-mana. Orang ini mau kuliah atau mau nangkep teroris sih?

"Aku maunya Jongin yang itu, aku nggak mau yang baru."

Sehun ini terkadang aneh. Ucapannya tadi seolah Jongin itu adalah mainan barbie-nya yang rusak dan tidak ingin di ganti. Telinga bonekanya keropos di gigit anjing. Masa iya Jongin di samakan dengan mainannya yang itu? Sedekil dekilnya Jongin, anak itu telinganya masih lengkap.

"Jongin lagi jadi kuli di perusahaan aku. Sehun sayang sama aku aja sekarang."

Enak saja!

"Heh, wong sugeh! Kowe ojo sok yo. Mentang-mentang aku gak sugeh kowe sok sok an ngunu nek ngarep e Sehun! rumangsamu aku ra mampu koyo kowe. Yo ra mampu to. Bento."

Luhan mengelus bahu Baekhyun dan menggumam, "Baek, inget lu tinggal di mana sekarang. Lu udah nggak tinggal di jawa, lupakan masa lalumu, lupakan lupakan." Dan kemudian dia menggeplak kepala Baekhyun hingga syarafnya kembali bekerja. Baekhyun mengulang omelannya dengan bahasa yang baik dan benar.

"Hey, orang kaya! Lo jangan sok ya, mentang-mentang gue nggak kaya lo sok sok an gitu di depannya Sehun! lo kira gue nggak mampu kaya lo? Ya pasti nggak mampu lah. Bego."

Dalam hati, orang-orang itu bersyukur bahwa Baekhyun kembali mendiami tubuhnya.

Dua anggota komplotan lain menyahut dengan semangat, seolah mengiringi Baekhyun yang tengah mengomel.

"Iya, bener tu."

"Hajar Baek, hajar."

"Suho nakal, buuu."

Semua menoleh pada Minseok. yang ditatap kembali menatap heran dan mereka tatap tatapan padahal yang ditatap malah menatap balik tapi yang menatap malah menatap lagi. Jadi siapa yang ditatap?

"Meski lo kaya, pasti lo ngupil juga. Sama kaya kita. Jadi nggak usah sok."

Suho menatap mereka remeh.

"Jangan samain gue sama kalian. Gue kalo mau ngeluarin upil harus ke swedia dulu, operasi pengeluaran upil!" ucapnya nyolot.

Mengheningkan cipta untuk orang-orang yang menangani operasi nista Suho.

"Banyak omong ini anak. Kita bekep pake boxer masing-masing, guys!" titah Luhan.

Dengan serempak mereka mengambil amunisi dari tas masing masing dan melakukan penyerangan. Suho terdorong kebelakang karena bau yang menyengat.

"Tolong, gue terkontaminasi rakjel. Tolongin gue! Gue butuh mandi susu unta!"

Kemudian, pengawal Suho menangkap tiga tuyul itu dan membawa mereka ke pohon terdekat. Salah satunya merampas boxer pink polkadot milik Baekhyun dan memasangkannya ke kepala Minseok. boxer motif spongebob milik Luhan di pasangkan pada Baekhyun dan boxer corak kecebong laut milik Minseok di pasangkan pada Luhan. Lalu ketiganya diikat pada pohon dengan tali berlapis butiran emas.

"ANJIR! BOXER LU GEMBUL! NAPE BAU SEMBAKO! UGH, BAUNYA BERUBAH! JADI BAU KEMENYAN!" Luhan menjerit heboh. Dia menggerak-gerakkan kepalanya hingga terbentur kepala Minseok hingga si gembul pingsan setelah kehabisan pasokan udara bersih. Maklumlah, untuk amunisi tambahan. Baekhyun merendam boxernya di air ikan selama tiga hari. Dan boxer itu di pakai oleh Minseok. oh, Minseok yang malang.

"Luhan, kalau ini hari terakhirku. Tolong beritahu anak cucuku nanti kalau aku mati karena melindungi ratu inggris. Dan bukan berakhir tragis dalam boxer busuk beraroma kenangan masa lalu."

"SADAR WOY! LO BAHKAN BELOM NIKAH!"

Tidak ada sahutan dari Baekhyun.

"BAEK! JAWAB GUE DONG! GUE MUSTI NGASIH TAU SIAPA? HOI!"

Hening.

"EMAAAKKK!"

Sehun berjalan dengan lemas di koridor. Setelah ini dia ada kelas dan harus hadir jika tidak ingin nilainya dikurangi. Tapi Sehunnya tidak semangat tanpa melihat wajah kusam kumal kurang perhatian milik Jongin, pujaan hatinya.

Sehun akhirnya duduk di kursi depan ruang senat yang berhadapan langsung dengan gedung fakultas biologi. Fakultasnya Jongin.

"Aku kangen, Jongin." gumamnya lesu.

Dari kejauhan terlihat sesosok manusia dengan jas hujan biru, sepatu boot bak pak tani, beani dan masker membalut tubuhnya. Sehun langsung berlari menyusul orang itu. Dari sekilas saja dia sudah tahu kalau-

"JOONGIINN~"

Sreett.

Sehun mengerem mendadak begitu tangan orang berpakaian aneh menahan kepalanya. Sehun berdiri tegak dan merapikan rambutnya dengan tersenyum.

"Jongin kok udah pulang? Bukannya baru besok?"

Jongin memasukkan buku jurnalnya dalam tas dan mengangguk tanpa menjawab pertanyaan Sehun.

"Jongin abis ini ada kelas?" tanya Sehun begitu Jongin telah selesai dengan kegiatannya. Kini Jongin berdiri menatapnya.

"Nggak, aku mau pulang. Capek."

Si gadis mengangguk paham. "Yah, nggak apa-apa deh. Yang penting udah ketemu Jongin."

Kim Jongin tersenyum senang dari balik maskernya.

"Kamu ada kelas abis ini?"

Yang ditanya mengangguk semangat, merasa mendapat perhatian lebih dari Jongin.

"Iya, pelajarannya dosen Jung. Ugh, aku nggak suka sama dosennya."

Jongin mengernyitkan alis, "Loh, bukannya kamu suka?"

"Tapi aku lebih suka Jongin." cengir Sehun. Jongin tertawa di buatnya.

"Jongin abis ekspedisi dari mana lagi?"

Mereka berjalan menuju parkiran mobil yang jauh dari sana, lumayan buat waktu ngobrol.

"Hutan di pinggir kota. Tempatnya lumayan jauh, banyak lintahnya jadi aku pake kaya gini."

"Walaupun pake baju tukang sampah Jongin tetep keren kok."

Dua orang ini berhenti di persimpangan. Ke kanan gedung fakultas Sehun, jika ke kiri itu adalah parkiran mobil sekaligus tempat trio komplotan Baekhyun di ikat. Oh, bagaimana dengan Kyungsoo? Sepertinya akan ada bagian Kyungsoo di chapter selanjutnya.

"Jongin buka maskernya deh." Meskipun bingung, Jongin tetap melakukan ucapan si gadis.

Cup.

"Dadah, Jongin~"

Sehun sudah berlari meninggalkan Jongin yang terpaku. Tadi, Sehun mengecup pipinya dengan cepat. Ow, rejeki man! Ya, Jongin mah suka suka aja. Apalagi jika di cium di bibir. Dengan senang hati dia akan membalasnya dengan french k-... oke. Jongin harus mandi untuk menyegarkan pikirannya.

Tidak sia-sia juga Jongin ngebut gila-gilaan tadi. Rupanya bukan hanya Sehun yang kangen. Si hitam ini juga ternyata. Selamat Sehun!

==End==

For this chapter.

Hohoho, terima kasih reviewnya #bungkukbungkuk

Aku tau ini pasti ngecewain, tapi ya bagaimana. ini lagi free time soalnya. Senin ini udah bakal UTS. Dan UTS farmasi itu bikin pusing!

Thanks for review.

Boleh minta saran? Iya boleh. Makasih.

Soal bahasanya. Perlu perubahan atau tidak? Soalnya aku juga bingung mau dibawa kemana bahasanya. Banyak yang kecewa? Terlalu singkat? Anggap aja ini sebagai pembuka#banyak alasan. Tapi chap depan bakal di maksimalin kok. Sip.

Review? Oke.

Terima kasih.

.

.