Sarjana Biologi?

.

.

.

KAIHUN as always

.

.

.

Hope you like it...

.

.warn : GS, bahasa campur aduk, typoo, OOC deelel.

,

,

Happy reading

,

"Suka sama orang yang susah buat di sukai itu susah ya." Ucap Sehun aneh. Tapi lebih aneh lagi siapa yang dia ajak bicara.

"Nggak ada yang aneh kok, hun." Ucap Kyungsoo sambil menghapus sisa darah kering bercampur upil di bawah hidungnya. Berterima kasihlah pada Sehun, gadis itu menemukan Kyungsoo yang berbaring mengenaskan di bawah bangku yang telah roboh karena serangan pengawal Suho saat dia akan pergi ke toilet.

"Tapi Jongin kaya nggak nerima aku gitu." Sehun menyandarkan kepalanya di meja kantin.

Kyungsoo membuang tisu terakhir dari tiga bungkus besar tisu toilet yang telah kotor ke tempat sampah tak jauh dari sana. Begitu dia kembali, Kyungsoo langsung meminum habis es teh milik Sehun yang telah berubah jadi hangat saking lamanya tidak diminum.

"Kok kamu ngomong gitu?" tanya Kyungsoo setelah es teh tadi habis. Dia membuang gelas plastik esnya ke bawah meja, berharap Sehun tidak tahu.

"Dari buku yang aku baca, kalau cowok suka sama seseorang, dia bakalan lebih perhatian."

Kyungsoo mengangguk-angguk bak profesor. "Terus masalahnya?"

"Masalahnya Jongin nggak ada perhatian perhatiannya ke aku!" adu Sehun bersungut-sungut. "Aku butuh keyakinan, Kyung." Lanjutnya.

Kini Kyungsoo sibuk menggaruk punggungnya yang gatal sambil menyahuti Sehun.

"Kalo kamu nggak yakin ya udah, nggak usah naksir Jongin lagi. Kamu bisa milih dari fans gila kamu itu."

Maksud fans gila milik Kyungsoo adalah tiga komplotan plus orang kaya yang telah membuatnya menjadi sangat mengenaskan seperti ini. kyungsoo tidak dendam, sudah dibilang kan kalau Kyungsoo itu anak rumahan dan tidak neko-neko, buat dendam aja dia harus ijin mamanya.

"Eh kok gitu sih!" protes Sehun. enak saja, sudah dua tahun Sehun ngejar-ngejar Jongin dan akhirnya dilepas? Ooo tidak bisa.

"Ya udah, pertahanin kalau gitu." Kyungsoo menyahut dengan masih menggaruk, namun kini areanya diperluas hingga pantat. Sepertinya Kyungsoo perlu mandi.

Sehun tersenyum. Meskipun Kyungsoo itu sebenarnya tidak jauh beda dengan teman-temannya yang absurd itu, setidaknya Kyungsoo lebih normal jika ditanya tentang pendapat, netral dan tidak diberi kompor komporan.

"Eh, es teh ku mana?"

"Di ambil superman buat membasmi kejahatan." Ucap Kyungsoo cepat dan meninggalkan Sehun sendirian. Menghindar kalau kalau dia ketahuan. Kyungsoo-nya saja yang tidak tahu, atau tidak sadar. Dia sering melakukan hal tadi dengan alasan yang sama. Aneh? Lupakan jika tidak ingin di aduin ke mamanya Kyungsoo dan disambit bon cicilan panci.

Sehun menatap Kyungsoo yang berlari terbirit menjauhinya. Mulutnya menganga. Dia cabut pikirannya barusan, Kyungsoo tidak lebih normal dari siapapun. Titik.

Jongin duduk menyandar di pagar rumahnya. Rumah besarnya di kunci ngomong-ngomong. Salahnya sendiri sebenarnya, Jongin mengabari kalau dirinya baru pulang besok. Salahkan rindunya pada Sehun yang meledak ledak bak petasan banting di malam tahun baru.

Para pelayan yang biasanya bejejer tidak terlihat, mereka mengambil cuti bersama katanya. Orang tuanya adalah tipe tipe sibuk, tentu tidak heran jika misalnya mereka pergi ke luar kota atau luar negeri sekarang.

Jongin menghela nafas sejenak, mencoba memikirkan dimana dia akan membawa tubuh lelahnya. Rumah Jongdae? Itu akan menjadi malapetaka jika Jongin menginjakkan kaki di rumah Jongdae. Terakhir kali Jongin berkunjung, dia harus merelakan pipinya lebam karena terpeleset kain kotor. Percayalah, keadaan rumah sohibnya yang satu itu tidak lebih baik dari sarang berang-berang.

Akhirnya Jongin memilih kembali ke kampus. setidaknya dia memiliki tempat tujuan yang lebih baik dari rumah Jongdae.

Sehun menjerit tertahan begitu melihat ketiga sahabatnya terikat dengan mengenaskan di bawah pohon melon. Sehun akan berlari menuju mereka jika Kyungsoo tidak menahan lengannya dan mengangsurkan masker.

"Pake aja." Ucap Kyungsoo. Dan Sehun menurut.

"Ya Tuhan, kalian ini ngapain sih. udah gede juga mainan kaya gini." Marah Sehun saat dia mencopoti boxer yang terpasang di kepala masing-masing. Kyungsoo segera meraih boxer-boxer itu dan memasukannya pada lubang di tanah yang entah sejak kapan dia gali. Kyungsoo berpotensi menjadi tukang gali kubur sepertinya.

Sehun membuka maskernya dan mengembalikan pada Kyungsoo yang sibuk menimbun amunisi nista milik komplotan itu dalam tanah. Sang gadis kemudian memberikan sebotol air pada mereka mereka yang tampak tak berdaya.

"Luhan, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Sehun pada Luhan yang megap-megap dengan mata melotot persis seperti di film misteri ilahi yang sering di tonton mama Kyungsoo.

Luhan hanya mengangguk tak jelas kemudian pingsan. Sedangkan Baekhyun dan Minseok tidak perlu dijelaskan lagi. Saat Sehun berjalan di sekitar parkiran bersama Kyungsoo, dia hanya mendengar suara Luhan yang berteriak seperti tikus kejepit lemari. Baekhyun dan Minseok tidak mengeluarkan suara sama sekali.

"Kyungsoo, kamu nemenin mereka dulu ya. Aku mau beli minum sama tisu buat mereka." Pinta Sehun.

Kyungsoo hanya menatap Sehun tak menjawab. Sang gadis menghela nafas, "Aku nggak akan lama, kamu tahan marah kamu sama mereka ya."

"Aku nggak marah kok." Sangkal Kyungsoo. "Aku harus tanya mama dulu, boleh marah apa nggak." Gumam Kyungsoo setelahnya.

"Cuma lima menit, kamu tahan buat nggak nelfon mamammu selama lima menit oke?" putus Sehun. dan gadis bermarga Oh itu telah berlari meninggalkan Kyungsoo yang sedang memikirkan apa dia harus menelfon mamanya atau tidak.

Sehun sendiri berhenti berlari saat berada di koridor panjang fakultas kedokteran. Ini jalan tersingkat untuk menuju kantin dari pada menyusuri lapangan luas universitas mereka.

Langkahnya terhenti. Kepalanya mendadak pusing. Sepertinya karena tidak sarapan tadi, oh atau mungkin sakitnya dua hari lalu belum benar benar sembuh?

Entahlah, Sehun tidak tahu. Yang dia ingat adalah, tubunnya yang limbung dan akan terjatuh ke tanah sebelum seorang pemuda menahan tubuhnya agar tidak menghantam lantai.

Lalu semuanya menggelap.

"Hey bro!"

Jongin tidak perlu berbalik untuk mengetahui siapa yang menyapanya. Tentu saja itu orang yang dibicaran di paragraf atas tadi. Jongdae. Sepertinya makhluk ini memiliki jadwal kelas pagi.

"Baru pulang ekspedisi?" tanya Jongdae.

Jongin melirik tajam Jongdae yang berjalan santai dengan dua tangan dilipat di belakang kepala. Jongin sedang dendam dengan Jongdae sebenarnya. Karena dia mengambil ide penelitiannya, Jongin terpaksa melakukan ekspedisi di hutan pelosok sana. Oke, tidak bisa disebut mengambil. Karena aturannya memang begitu, siapa cepat dia yang dapat. Dan Jongdae satu langkah lebih cepat darinya.

"Baru pulang malak di perempatan." Jawab Jongin dengan nada tidak enak didengar.

Jongdae di sampingnya tertawa terbahak hingga percikan air bisa dilihat jelas bahkan dari radius satu kilo meter.

"Tumben, biasanya lo ngamen di perempatan malah." Ucap Jongdae dan tertawa kembali kemudian.

Jongin mengabaikan suara tawa Jongdae yang merusak kulit dan memilih terus berjalan menuju kantin. Selain untuk mengisi perut, Jongin juga curi curi kesempatan siapa tahu dia bertemu dengan Sehun.

Kantin yang dipilih Jongin berada di gedung fakultas Akuntansi, ya meskipun letaknya jauh dari fakultasnya sendiri, tapi Jongin rela menerjang jalan untuk bertemu sang puteri. Eaaa.

Baru saja Jongin duduk dimeja kantin setelah membeli sebotol cola si orang kaya lewat dengan satu pack besar tisu berwarna aneh di tangannya. Jongin melihat orang itu lewat di hadapannya dalam diam. Pemuda Kim itu menghela nafas lega saat Suho-si orang kaya- berlalu dengan para pengawalnya, namun tak berselang lama Suho kembali dan duduk di hadapannya setelah sebelumnya dua orang pengawal membersihkan bangku dengan alkohol dan kapas. omigat!

Jongin melongo tidak elit, bahkan setelah Suho duduk nyaman dan meletakkan tisu tadi di atas meja.

"Lo itu di klasifikasikan dari kingdom apaan sih?" tanya Jongin spontan. Walau hampir dua tahun dia dikelilingi penjaga Sehun, Jongin tetap tidak bisa mengerti dengan tingkah mereka semua.

Suho tidak segera menjawab. Dia mengeluarkan selembar tisu dan mengusap hidungnya pelan.

"Lo denger nggak sih?" tanya Jongin sekali lagi.

"Sorry, gue musti ngelap idung gue pake tisu dengan ekstrak emas, soalnya musti ngehirup udara deket deket sama rakyat jelata." Jawab Suho songong.

Jongin pengen muntah. Sepertinya Suho memang termasuk dalam sistem dikotil. Oke, Jongin mulai melantur.

"Nah gini, gue, yang Mulia Suho yang agung bin Siwon diningrat mau ngomong sama sejenis rakjel kaya lo."

Kalau pengawal itu tidak berada di sekitar mereka, sudah dipastikan kalau Suho akan di celupkan oleh Jongin dalam segelas susu. Biar saja orang songong itu dimakan vampire yang menyenangkan atau hiu yang baik hati. Jongin korban iklan, ternyata.

"Mulai sekarang, Lo jauhin Sehun." ucap Suho.

Jongin menatap Suho tajam. Siapa Suho? Suho Cuma orang kaya banget yang songongnya nggak ketulungan. Terus orang ini punya hak gitu buat ngelarang Jongin ngedeketin Sehuh? Enak saja, ujian tinggal didepan mata, itu artinya status pacar Sehun juga tinggal sedikit lagi di gapai dan si boncel ini seenak duitnya nyuruh Jongin ngejauh. Sampai kapal titanic jadi becak Jongin nggak akan sudi.

"Gue nggak mau." Jawab Jongin dengan nada menyebalkan.

Suho memicingkan mata pada Jongin dan berujar dengan nada menantang, "Meski gue janjiin lo pake operasi idung biar mancung atau operasi penghilang aura rakjel lo tetep nggak mau?"

Kaki Jongin sudah gatal untuk menendang wajah orang didepannya ini, wajah sok kaya-meski emang kaya- yang ngata-ngatain Jongin rakjel. Hey, begini-begini Jongin itu bisa dibilang kaya lho, Cuma Jonginnya aja yang memilh untuk tidak pamer. Tidak seperti yang onoh tuh.

"Gue tetep nggak mau, meskipun lo janjiin bakal ngasih gue segebok ayam pun gue tetep kagak mau."

Jongin itu freak pada ayam sebenarnya. Semua jenis ayam dia makan. Dalam keadaan hidup atau mati, ups, Jongin terdengar seperti Sumanto sekarang. Ngomong-ngomong, bagaimana kabar Sumanto itu ya? Apa yang dilakukan oleh dia sekarang?

Suho berdiri dan memandang Jongin rendah. "Susah ngomong sama rakjel yang nggak tau diri. Udah ah, gue mau pergi ke venezuela dulu. Laper." Ucapnya dan meninggalkan Jongin.

Sebelum menginjak langkah yang ke tiga, Suho memerintah pengawalnya, "Kalian, jaga di pojok sana." Ucap Suho sambil menunjuk pojokan kantin. "Ntar kalo makhluk ini udah cabut, kalian ambil trus bakar bangkunya. Biar nggak nyebarin kuman."

Jongin menatap tidak terima punggung Suho yang telah hilang dibalik kerumunan pengawalnya. Kini dia menatap dua pengawal yang tadi di perintah Suho. Bisa-bisanya mereka kerja pada orang se-songong Suho. Apa nggak makan ati, coba?

"Hei, Jongin."

Jongin menoleh pada pemuda yang memposisikan diri duduk di depannya setelah menaruh bungkusan es balok di atas meja. Dengan tidak sopan si pemuda mengangkat kakinya dan mulai mengkorek isi hidungnya yang mungkin telah tiga tahun tidak di korek karena urusan negara yang mendesak.

"Lo jorok amat sih!" sembur Jongin.

Yang di marahi hanya menguap tidak peduli dan melanjutkan usaha pengkorekannya.

"Yang penting bukan itu, bro." Ucap Jongdae –pemuda tadi.

"Halah, paling palingan lo mau minta tolong buat nggiring bebek lo ke kali kan? Sorry, bro. Gue nggak minat lagi." Balas Jongin. beberapa hari yang lalu, sebelum Jongin memutuskan untuk ekspedisi ke hutan. jongdae meminta Jongin untuk menemani memandikan bebek-bebeknya yang berjumlah seratus itu ke kali terdekat.

Sebagai sahabat yang baik, Jongin meng-iyakan permintaan Jongdae. Hitung-hitung untuk menyenangkan hati sahabatnya. itu memang pemikiran awal, setelah kejadian penggiringan bebek tersebut, Jongin bersumpah tidak akan melakukan perbuatan nista itu lagi seumur hidupnya.

"Kagak kok, gue mau ngasih berita buat elu." Ucap Jongdae sok misterius. Jongin memandang Jongdae seolah mengatakan, 'apa.'

"Tadi gue Lihat Sehun di gendong ke ruang kesehatan ama cowok ganteng."

Braakk.

Jongin segera bangkit hingga membuat kursi yang didudukinya terjungkal dan berteriak kesakitan. Selanjutnya kursi tersebut pergi dengan tenang ke surga.

Jongdae terlonjak hingga es baloknya jatuh dan berceceran. Pemuda itu kemudian jatuh terduduk dan meratapi es baloknya yang tak terbentuk lagi. Niatnya mau membuat es serut untuk di perjual belikan di pojokan lampu merah. Tapi semuanya hanya tinggal mimpi. Eaa.

Jongin berlari dengan cepat dan menghilang di tikungan koridor. Jongdae kini berdiri dengan berat hati, dan hatinya semakin berat setelah melihat salah dua dari sekian banyak pengawal Suho datang dan mengambil kursi tersebut.

Oh, pengawal Suho memang daebak!

t.b.c

hello, aku update lagi. Semoga nggak bosen nunggu, karena tugas dan ujian praktek udah mulai nunggu. Terimakasih dukungannya. Maaf jika ada salah dalam penulisan ff ini. dan aku kasih tahu sedikit, menurut aku ini bukan humor kok. Soalnya banyak kegaringan disana sini. Dan chapter ini nggak bisa panjang-panjang. Aku lagi stuck gara-gara nggak bisa move on pas buat emulsi tadi pagi. Mohon pengertiannya. Sekian dan terimakasih.

Monggo review.

.

.

Kjinftosh : aku juga kangen, tapi nggak didatengin Jojong masa .

Yunyulihun : sip, makasih reviewnya^^

Apelijo : oke, makasih saran dan reviewnya^^

Kim Sohyun : oke bro, tak usahakne yo.

Sukha1312 : Makasih reviewnya^^ sip.

Sehunblackpearl : ini bukan komedi kok^^ betewe, farmasi banyak hafalannya ya x_x

Octa918 : sip, diusahain. Thanks reviewnya^^

Ohhanniehunnie : thanks nyempetin baca ama review^^

Exoweareone9400 : entah kenapa penname-mu buat aku baper.

Auliavp : terima kasih dukungannya^^

Dialuhane : belum end sebelum Jojong ngedapetin Sehun^^ thanks for review^^

Nagisa kitagawa : sip, thanks for review^^

Minnieww : sip udah lanjut, thanks for waiting^^

Jongin's grape : hohoho, soalnya belum yang inti #apadah

Rytyatriaa : sorry nggak bisa panjang-panjang. Lagi stuck . but, thanks for review^^

Jongodult : cecunguknya bakalan di karantina . thanks for review^^

Dinablind : thanks, sip udah lanjut^^

Ohunie : Iya Cuma Sehun aja. Thanks for review^^

Icha : sip udah dilanjut, thanks for review^^

Gaemgyu92 : aku juga #apasih

Izz sweetcity : nggak apa-apa, kritik juga dibutuhkan untuk kelangsungan hidupnya yang bergantung pada cahaya mentari #Mulailapar

Goolhara : ini bukan komedi kok ini angst :-P ^^ thanks for review

Flwsessyxz : thanks sarannya^^ thanks juga buat reviewnya^^

Nabila646 : mungkin iya, mungkin juga enggak :-D

Haemi Wytha Kim444 : yup, Cuma Sehun. thanks for review^^

Auliavp : udah diperjelas dialognya kok, aku juga rada bingung. Thanks for review^^

Parkjitta : jojong nggak akan tega ngejutekin Sehun^^