Summary: Suara lonceng, yang bergetar melambung ke angkasa, dan cerita seorang dewa dengan manusia persembahannya

Disclaimer: KnB cuma punya Fujimaki-sensei

Warning: AU, shounen ai, dark, suicidal thoughts, OOC (?)

Untuk yang ingin tahu rupa ikan neon bertulang yang saya maksud di dua chap kemarin dan ini, bisa akses di zerochan dengan judul "Musunde Hiraite Rasetsu to Mukuro #292076" dari Hachi-p

Fic ini ada romance-nya ... tapi, saya rasa gak full banget romance, mengingat themes-nya dark hehe


Sound of a Bell, Reverberating

by: Yakouseki

Chapter 2: Permainan


"Tetapi, berhasil atau tidaknya kau menemukannya, itu tergantung pada batas waktu yang kau punya."

.

.

.

.

.

Semula, Kuroko menerjemahkan apa yang dimaksud dengan "batas waktu" adalah rentang satu bulan bagi korban persembahan berikutnya.

Dia tidak memikirkan adanya maksud lain dari kata-kata sang Suijin di kala ia kian terlarut dalam emosi.

Langkah kaki yang lalu membawanya menjauh dari tempat awal dia berada, sangat lama Kuroko mengarungi area demi area laut, sampai-sampai kini, pemandangan yang dilihatnya hanyalah berupa air laut yang sedikit berubah agak kusam warna birunya.

Dan kosong, tanpa makhluk hidup lain, selain dirinya.

Ah, hampir ia lupa dengan beberapa rumput laut yang masih menari di sebagian tempat.

Kemudian sekarang, ia tergeletak di atas pasir yang tipis, terbujur kaku karena kelelahan.

Dan juga kelaparan.

Terutama yang terakhir itu.

Sang pemuda bersurai kapas biru itu tak tau berapa lama ia telah berjalan mencari pintu keluar dari teritori sang dewa yang belum rampung juga ditemukannya.

Sudah berjam-jamkah? Atau malah berhari-hari lamanya?

Jika redanya intesitas sinar matahari yang ia rasakan sewaktu terbias oleh permukaan air yang berada jauh di atasnya, dapat dikatakan sebagai perwakilan hari mendekati akhirnya, maka Kuroko dapat memperkirakan bahwa dia sudah berada dalam keadaan seperti ini sejak tiga hari lamanya.

Awalnya, sang pemuda berpikir untuk menangkap ikan atau kerang sebagai asupan gizi sementara. Masalah mentah atau bagaimana cara ia mengonsumsinya dengan layak dapat terpikirkan nanti.

Ketika rencana itu sampai di benak, ajaibnya, tidak ada ikan (atau hewan laut lain) yang berenang melintasi atau dijumpainya di daerah sekitar.

Tidak kehabisan ide, berpikir mencoba bereksperimen dengan rumput laut (atau tumbuhan lain yang tak dikenalnya) sebagai diet baru, anehnya seberapa kuat ia berusaha mencopot, memotong, ataupun menarik, tetap saja sang rumput masih melekat dasarnya di bebatuan.

Dan yang paling mengesalkannya lagi, setelah usahanya gagal dan terlintas di pikirannya untuk memakan langsung saja rumput laut itu dari tempatnya, tumbuhan itu bisa mencari cara untuk menghindari gapaiannya dengan beralih (seakan-akan sedang mengikuti irama haluan air) ke arah lain. Terus dan terus, sampai-sampai membuat sang pemuda frustasi ke level puncak.

Wajah menyebalkan dewa air yang menyeringai senang tiba-tiba muncul sekilas di dalam otak Kuroko yang membuat air mukanya sangat kusut.

Dia pun menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba menghapus virus dalam otaknya tersebut.

Kemudian, masih dengan tekad bulat, Kuroko memaksa otaknya untuk berusaha mencari alternatif.

Namun malang kian pula menyampiri dan ia mulai menyerah.

Tak menemukan jalan keluar baru untuk mengatasi masalah perut, akhirnya Kuroko Tetsuya pun roboh tergeletak di atas pasir di bawahnya.

Keputus-asaan menggerogoti setiap jengkal tubuhnya.

...

Sakit.

Seluruh tubuhnya terasa sangat menyakitkan.

Sang pemuda persembahan dapat merasakan daerah perutnya sangat terlilit, kedua mata birunya perih, berair. Kepalanya terasa pusing, dan dia tidak dapat berpikir dengan jernih.

Yang hanya ada di dalam kepalanya adalah ilustrasi lambung yang kian mengikis dinding demi dinding, berusaha mencerna sesuatu untuk mempertahankan fungsi tubuhnya.

Jika ia akan mati, Kuroko menginginkan dirinya untuk mati lebih cepat, seperti yang dipikirkannya sewaktu dirinya ditenggelamkan ke dalam dasar laut melalui ritual pengorbanan untuk sang dewa air.

Dan dia berpikir, lebih baik mati seketika itu, ketimbang harus tersiksa jauh lebih lama lagi seperti ini.

...

Meskipun tubuhnya kini dapat bertahan di dalam air, sayangnya dirinya masih membutuhkan asupan makan layaknya manusia normal.

Dengan pikiran terakhir itu, ia membiarkan kedua kelopak mata yang terasa berat membawa dirinya kembali ke dalam pelukan mimpi.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

...

Berapa lama ia tertidur?

Kuroko membuka kedua matanya enggan, memperlihatkan dua iris biru pudar, berusaha memandang sekitarnya.

Masih lelautan yang biru dan beberapa rumput laut yang bergoyang, seolah mengoloknya.

'Sial,' batinnya, kesal. Dia memperhatikan sekitarannya lagi dengan lemah.

Bebatuan, banyak.

Pasir putih.

Kulit kerang.

Padang pasir putih.

Kerikil, batu, pasir, putih, biru, putih, lagi.

Dan dengan bosan, akhirnya, ekor matanya pun mulai mengikuti gerakan sirip ikan yang berenang malas melewati dirinya.

Tunggu.

Apa?

Sang pemuda bersurai untaian biru terkejut seraya berusaha membangkitkan tubuhnya untuk mengejar si ikan dengan gerakan yang menggoda.

Namun nihil, ia tak dapat merasakan otot di tangan, seluruh badannya, kecuali rasa sakit bagaikan api yang menyambar dan membakar daerah perutnya.

Ia meringis, menahan sengatan di bola mata yang ingin menurunkan beberapa tetesan air.

Dan di tengah menahan emosinya yang ingin tumpah, dua retina menangkap suatu siluet.

Pandangan mata lalu berfokus dan menengadah.

Terduduk di atas batu yang sama sebelumnya di hadapannya, aliran air naga membalut sosoknya laksana sebuah selimut sutra, dan kedua iris berbeda warna menatap bosan dirinya yang terkapar di atas permukaan pasir.

Amarah tiba-tiba datang menjalari seluruh jengkal tubuhnya.

Tidak peduli seberapa berat tubuhnya atau rasa sakit yang melolong di daerah perut, Kuroko berusaha membawa tubuhnya untuk mendekat ke arah si sosok. Untuk memberikan hajaran bertubi-tubi pada kedua iris mata menyala itu, dan jika mungkin, menendang Suijin dari atas singgasananya, dengan sangat keras.

Dia ingin menyakiti Suijin, seperti entitas itu menyakiti dirinya.

Namun sayangnya, itu hanya dapat terwujud dalam imajinasi saja.

Kenyataannya, Kuroko tetap bergeming, tak bisa berkata apapun, meskipun seluruh dirinya menjerit, memerintahkan raga untuk bergerak, berteriak, atau melakukan apapun.

Tetesan air mata pertama pun tak kuat ditahannya lagi, jatuh membasahi pipi kanannya.

Dan sang monster, yang Kuroko tebak bahwa sang entitas pasti tahu dirinya sedang berada sejengkal lagi dari rengkuhan maut, hanya melihatnya datar, dingin, tak bergerak sambil menopang dagunya kembali.

Sepanjang hidup, dia tidak pernah merasa malu seperti ini, tak memiliki kekuatan apapun, dan merasa benar-benar direndahkan.

Beberapa menit berlalu, dan masih dengan tatapan tajam yang diarahkan Kuroko pada si sosok, yang dibalas dengan dingin, tak ada belas kasihan sedikit pun terpancar.

Benar-benar monster.

"Menyedihkan." Akhirnya ia mengeluarkan suara, "Kau, semua manusia itu memang sangat menyedihkan."

Gigi-gigi sang pemuda bergemelatuk geram dalam diam.

Dan pandangan Suijin yang dapat mengubah sejagat air menjadi es masih bertahan pada dirinya.

"Tidak membalas?"

Hening.

Kuroko sudah tak dapat merasakan pita suaranya lagi di kala kekeringan yang menyelimuti tenggorokannya. Lantas, bagaimana caranya ia dapat menjawab? Lagipula, meskipun ia bisa, sang pemilik surai biru tetap tidak mau berbicara dengan seorang monster, iblis. Yang tentunya, tak pantas lagi disebut sebagai dewa.

Kecuali, jikalau "berbicara" dengan tinjunya.

"Hati-hati, Kuroko Tetsuya," ujar Suijin, mendesis namanya laksana ular beludak, garis bibir merah tertarik salah satu sudutnya ke atas, "Membuatku bosan dapat mengakibatkan segalanya bertambah buruk."

Dan yang dituju ingin tertawa sekaligus berdecih.

Apalagi yang bisa diperbuat oleh sosok di depannya ini untuk memperburuk keadaan, bila dibandingkan dengan kondisi dirinya sekarang yang makin kian dekat dengan pintu ajal?

Kuroko tersenyum, dengan lemah, sudah tak bertenaga.

Namun berhasil membuat sang dewa air menaikan alisnya, senyuman melenyap, berusaha mengartikan ekspresi baru yang ditunjukkan oleh Kuroko.

Sang pemilik nama tahu bahwa monster di depannya ini sedang menunggu dirinya untuk bersujud, memohon bantuan, pertolongan darinya.

Yang ia telah tahu, ketika ia melakukannya, sang Suijin akan mengabulkan permintaannya dengan mengirimnya langsung ke "nirwana" miliknya.

Dan oh, Kuroko tidak akan memohon, tentu tidak.

Dia akan menunggu dengan sabar untuk sang waktu sendiri yang menjemput dirinya. Bukan dengan tangan dewa yang berada di hadapannya ini.

Sang entitas ini boleh merendahkan dirinya, tetapi Kuroko tak akan merendahkan dirinya sendiri.

Sejak kapan ia sudah tak takut dengan takdir rupa ikan neon bertulang yang menunggu dirinya, Kuroko tak tahu.

Dan tampaknya, Suijin, yang kini telah berdiri dari singgasananya, menatap dirinya dengan kedua alis bertaut dan melayangkan sorotan menusuk, sudah mengetahui apa yang dipikirkannya.

Refleks, senyum makin mengembang di wajah pucat Kuroko.

Sampai suatu aliran air menghapus garis bibirnya tersebut, si naga buatan pendamping monster itu melilit tubuhnya pada lehernya, lalu memaksa dirinya untuk terangkat dari selimut pasir, membuatnya mengapung di udara.

Sontak terkejut, dan dengan gerakan lemah, ia berusaha menggerakan tangannya untuk melepas ikatan kuat sang naga air buatan.

Dan ketika ia berhasil mencapai ujung ekor si naga, laksana memang sifat dari air, tangan Kuroko menembusnya.

Mulutnya terbuka menggapai oksigen, tenggorokannya sesak, makin mengering, dan kedua mata berkunang-kunang.

Sakit, hentikan, sakit–

Kini, ujung matanya mengalir dengan bebas, tetesan air mata yang sudah mati-matian ditahannya.

Di sela-sela penglihatan yang mulai kabur, sang manusia persembahan dewa air tersebut dapat melihat sosok di hadapannya tersenyum tipis (menakutkan di matanya).

Memiringkan kepalanya ke kiri perlahan, meneliti setiap tanda siratan, jeritan yang muncul di wajah Kuroko.

Menikmati kesengsaraannya, berbahagia meresapi deritanya.

Monster, monster, monster, monster, mon–

"Aku mengajakmu bicara, Kuroko Tetsuya ... Sangat tidak sopan sekali untuk tidak membalas dengan sepatah katapun. Apa kau benar-benar menjadi bisu sekarang?"

Kedua tangan berganti posisi bersembunyi di balik jubah lengan, dagunya terangkat (masih dengan ulasan senyum congkak) memandang dirinya yang melayang dari permukaan pasir.

Kuroko tetap membalas dengan pandangan membangkang, penuh rasa pahit, dengki, yang makin bertambah detik kian detiknya.

Eratan sepanjang raga naga air yang menjerat lehernya makin mengencang.

Lalu pandangan sang manusia persembahan semakin kabur, meski suara hati tetap menyoraki dirinya agar berusaha untuk tetap tegar.

Namun ia sudah tak kuat lagi ...

Rasa perih di leher, di dada, yang mengguncang seluruh tubuhnya ...

Tak kuat ...

Sakit. Perih. Perih. Menyakitkan.

... Mati.

Biarkan dia mati sekarang juga, mohonnya. Dia sudah tak tahan, sangat tak tahan.

Apa yang diperbuatnya hingga dirinya bernasib seperti ini?

Di detik-detik menyakitkan itu, desiran angin yang entah bagaimana caranya muncul di bawah permukaan air, menghempaskan jeratan sang naga yang lalu menghilang, lenyap seketika.

Kuroko terhempas ke bawah dan memaksakan kedua kelopak matanya untuk tetap terbuka mencari tahu apa yang sudah terjadi, menatap dengan susah payah kepada sosok sang dewa air yang tak mengubah sorotan matanya kepada dirinya.

Sang Suijin tak terkejut, tetapi tak juga menunjukkan tanda-tanda bahwa ia melakukan hal sebelumnya yang terjadi. Hanya menatap tanpa emosi, yang sulit direka maknanya oleh Kuroko.

Siluet baru muncul menandai kehadiran pihak ketiga, dan sang pemuda akhirnya menyadari kedatangan sosok lain di belakang dirinya, berjalan dengan perlahan, membawa tubuhnya dengan penuh wibawa ke arah kanan dari raganya yang terkapar.

Sosok itu, memiliki helaian lurus hijau, jubah senada panjang dengan rantaian tasbih yang terkalungkan pada lehernya. Iris hijau bagaikan emerald adalah kepunyaannya, menangkap kedua manik birunya yang heran sejenak, lalu memandang sang dewa air yang masih dengan acuh tak mengakui keberadaan si sosok, kemudian menatap dirinya kembali.

Secercah harapan muncul di kedua manik langit Kuroko, yang dia tahu dapat terbaca dengan jelas oleh si sosok baru di hadapannya. Di benaknya, mungkin saja entitas baru ini berniat menolongnya.

Sang pemuda persembahan tidak tahu bahwa dirinya melewatkan momen sang dewa air menarik lengkungan bibirnya ke bawah, menilik sosok Kuroko yang diam, terpana, memandang kemunculan si sosok baru.

Kedua mata berbeda warna itu menyempit dalam diam.

"Aku mulai heran kapan kau memilih untuk memunculkan dirimu di hadapan kami, Fuujin, ketika aku sudah merasakan kehadiranmu sangat lama sekali di luar kekkai wilayah kekuasaanku." Sang Suijin mengubah perangainya, tertawa pelan sejenak, lalu menyeringai.

Suaranya sontak membangunkan Kuroko dari lamunannya pada sang Fuujin. Ia pun melihat ke arah sang pembicara dengan kedua mata menyempit.

Dan Suijin yang melihat itu kian menyeringai dengan angkuh karena ia seperti dapat mendengar suara "retakan kaca", yang berasal dari dalam hati sang manusia persembahan.

Betapa ia ingin menghancurkan bibit-bibit harapan yang berusaha menjadi tunas muda di dalam tiap urat nadi manusia di depannya ini.

Sementara sang dewa angin mengangkat tangan kanan menyentuh bingkai tengah kacamata yang terpasang di atas hidungnya, lalu membalas dan membawa kedua iris hijau ke arah sang Suijin yang masih tak melakukan kontak mata dengannya.

Dia menghela napas.

"Jika kau mengetahui keberadaanku sebelum aku memasuki daerahmu, kenapa kau membiarkanku masuk?"

"Ah, itu karena aku ingin tahu apa alasan kau datang ke tempatku untuk pertama kalinya setelah ratusan tahun berlalu, Fuujin." Sang dewa air memandang penuh makna pada Kuroko, "Tampaknya, kau memilih momen yang sudah dipertimbangkan dengan matang sekali untuk memunculkan dirimu di hadapan korban persembahanku."

Yang dituju mengernyit, pertanda ingin menangkis tuduhan, "Aku datang karena kau sudah keterlaluan, Suijin. Kau menganggap korban persembahanmu bagaikan sebuah mainan yang dapat kau sisihkan apabila mereka telah rusak. Perbuatanmu sudah makin memperburuk posisimu di antara para dewa"

"Apa benar begitu?" selanya, menarik salah satu alis lalu bertanya lagi, "Apakah itu alasan sesungguhnya kedatanganmu?"

Iris menyala berbeda warna pun kini mempertemukan dirinya dengan sorotan yang dituju, membawa pesan siratan pada sang penguasa angin.

Jangan berpura-pura menjadi pahlawan, Fuujin. Kita sama-sama tahu bahwa kau jauh dari kata itu.

"Ratusan tahun, itu adalah kata kuncinya. Dari sekian banyaknya korban persembahan yang kujadikan sebagai 'mainan' seperti katamu, kau dan para dewa yang lain baru memberanikan diri untuk mencegah diriku 'bermain' dengan manusia ini? Katakan padaku, Fuujin. Apa yang sangat istimewa dari manusia ini? Apa yang membuatmu, para dewa lainnya, bergerak sekarang untuk menolong seorang Kuroko Tetsuya?"

Dan tidak mungkin alasan kau menolongnya karena rasa kasihan. Kita pun tahu bahwa kau juga tak memiliki hati sama sepertiku. Begitu pula dengan para dewa lainnya.

Karena ketakutan meniadakan belas kasihan, dan keegoisan mematikan moral.

Tidak ada seorangpun, barang sekalipun dewa, yang dapat berbohong pada dirinya, Suijin.

Fuujin terdiam, menatap lurus ke arah sang dewa air, baru sadar merasakan kepalan tangannya yang mendadak penuh pelu.

"Aka—"

"Suijin." Ralat tajam menyela, intonasi dalam menyiratkan peringatan. "Sekarang dan di masa yang akan datang, kau hanya berhak memanggilku dengan sebutan itu, Fuujin."

Dan yang dituju hendak membalas, membuka mulutnya, tetapi ditutup kembali.

Ketika ia berhasil berkata, sang Fuujin tampak menelan rasa ragu yang terpancar dari sorotan matanya.

"Akashi," mengabaikan perkataan sebelumnya sang pemilik nama, ia melanjutkan kata-katanya kembali, "Kau harus membiarkan Kuroko Tetsuya hidup, setidaknya sampai saatnya untuk korban persembahan lain yang didatangkan oleh para manusia. Aku tak bisa mengatakan lebih daripada ini, Akashi. Hanya saja yang perlu kau ketahui adalah aku dan para dewa lain telah memutuskan hal tersebut."

Dan suasana laut pun tiba-tiba mencekam.

Kuroko yang sudah kesusahan membuat dirinya terjaga, mulai merasakan dirinya kembali ke dalam jeratan lumpur dan darah yang pernah dirasakannya sebelumnya. Pemandangan indah laut tergantikan dengan nuansa gelap dan pekat, sesak, dan kemunculan roh-roh manusia berupa ikan dengan rangka tulang yang kembali datang, seperti membawakan obor biru ke dalam dunia yang kini dirinya diami.

Dan dalam sekejap ia memandang sosok Fuujin dan Suijin yang tadinya berdiri berhadapan, kini tergantikan dengan hanya sang dewa air yang berdiri seorang.

Sementara dewa angin tergeletak di kaki sang dewa di hadapannya, seluruh tubuhnya terjerat rantaian air berwarna tak kalah biru, neon, seperti warna para ikan perwujudan roh-roh manusia. Dan rantaian air itu memaksakan tubuh sang dewa angin berlutut di hadapan pengendalinya, kepalanya tertarik dibuat menengadah menatap sang Suijin.

Tetapi yang membuat Kuroko terkejut bukanlah hal itu, melainkan air muka sang dewa air yang menggelap, iris mata kuningnya menyala dalam kanvas hitam "nirwana", bagaikan kobaran api yang siap membabi-buta apapun di hadapannya. Namun, di saat yang bersamaan terkesan dingin, bagaikan potongan stalaktit es yang siap menghujam tubuh sang dewa di bawah kakinya.

Suijin memandang ke bawah, mempelajari sosok terkungkung sang dewa angin yang memberontak dan mulai menggunakan kekuatannya.

Yang di mata dirinya terlihat sia-sia, karena sebesar apapun makhluk rendahan di depannya mencoba untuk melepaskan dirinya dari jeratan rantaian airnya, itu hanyalah tindakan percuma.

Makhluk rendahan ini harus tahu posisinya, yakni di bawah kedua kakinya, berlutut pada dirinya.

"Fuujin," sepat sang Suijin dengan intonasi terdingin yang pernah didengar oleh Kuroko, "Ratusan tahun berlalu dan kau tampaknya mulai sangat percaya diri sekali. Tidak hanya sekali, tetapi dua kali kau berani melanggar perkataanku."

Suijin mengangkat telapak tangannya, membuat bilah tombak air dan menghujamnya tanpa ragu sedetikpun ke arah tubuh di bawahnya untuk menahan posisinya. Sang target yang tak bisa berkutik hanya bisa berteriak tanpa mengeluarkan suara.

"Dan siapa kau beserta para dewa lainnya berani memerintahku?"

"Kehendak yang terwujud dalam keputusan kami adalah mutlak, Akashi!"

"Salah. Keputusan kalian salah dan aku selalu benar. Akulah yang absolut." Kedua iris itu makin mendekat menyorot manik hijau di bawahnya, "Bukan kehendakmu, keputusan kalian, ataupun mereka."

Ia menambahkan dengan nada merendahkan, "Dan lihat dirimu sekarang, Fuujin. Kau dan para dewa lain sepatutnya berada dalam posisi ini ketika hadir di hadapanku. Sangat menggelikan, melihat kalian merasa sekasta dengan yang terabsolut."

Namun yang tertuju hanya bergeming, tak membalas apapun. Tetapi tiba-tiba ia tersenyum penuh misteri, garis lengkung di wajahnya makin melebar, lalu tertawa, terbahak-bahak, seakan lupa dengan luka yang didapatkannya dari belati air yang dihempaskan ke tubuhnya. Kedua iris hijaunya berganti warna, berubah dari satu warna terbias ke warna lain. Ia mengangkat suaranya, yang terdengar bak ratusan orang berbicara.

"Kau mulai bosan, Akashi, Suijin ... Fuujin, kami, bisa melihat itu dari atas sana. Dan jangan mencoba untuk menyangkal karena kau tahu itu benar. Bukankah ini adalah permainan menarik untukmu?" Kedua iris hijau, berganti menjadi warna merah darah di balik kacamatanya itu, melirik ke arah Kuroko yang menatapnya dengan kedua mata membulat, terkejut melihat transformasi mendadak yang terlihat di mata sosok di hadapannya. Sosok sang Fuujin itu pun menatap ke atas, memasang ekspresi yang aneh kepada Suijin.

"Jika kau tak mau ini sebagai perintah, bagaimana kalau kau anggap sebagai tantangan saja? Hahaha! Kau bukanlah tipe dewa yang akan lari dari tantangan bukan? Kau yang bilang sendiri bahwa kau ini adalah yang terabsolut! Tentunya, kau akan melakukan ini, bukan? Hahaha! HAHHAHAHAHA—"

Sebuah bilah air yang menyerupai mata pedang besar tercipta, mengheningkan targetnya dan menusuk tubuh sang Fuujin yang kemudian membelahnya menjadi dua.

Sang manusia persembahan menatap horor pemandangan itu dengan tubuh lemahnya. Memutar kepalanya, sekonyong-konyong, ia berpaling melihat sosok sang Suijin yang kini sudah memandang sosoknya dengan ekspresi tak terbaca lagi.

Dia hanya berdiri di sana melihat dirinya yang masih terjulur di atas pasir, seakan-akan sedang menimbang sesuatu, dan dengan mudahnya seperti sudah melupakan fakta dirinya yang tadi membunuh rekan dewanya dengan sangat mudah.

Laksana menginjak seekor semut. Dengan mudah, gampangnya, menghilangkan satu onggok nyawa.

Terbesit di pikiran Kuroko, apabila dewa di hadapannya ini adalah manusia, maka dia adalah manusia yang memiliki gangguan mental.

Ralatnya, mungkin lebih dari gangguan mental.

Atau dirinyalah yang memiliki gangguan mental, karena dia tak mengerti apa yang sudah terjadi.

Sekelompok roh manusia yang terwujud dalam rupa neon ikan tiba-tiba datang berenang di antara keduanya, berlaku bagaikan sebuah tembok sementara yang menghalangi sang dewa dan manusia.

Sekelibat berlalu dan kini mereka dapat saling melihat masing-masing kembali, Kuroko menyadari bahwa sang Suijin menggenggam sesuatu.

Di dalam rengkuhan jemari panjangnya itu, yang terangkat sejajar dengan garis matanya, seekor ikan terkungkung di sana. Sang dewa memperhatikan benda di tangannya itu bagaikan sedang meneliti berapa jumlah tulang yang terpasang dalam raga si ikan, lalu melepaskannya ke samping, melihat sang ikan berenang kembali mengikuti kawanan di depannya.

Pandangan penuh makna kembali beralih menemui mata Kuroko dan dia tak ingin tahu apa maksudnya.

Pekat kegelapan kian datang menambah terangnya dua manik yang sedang menatapnya itu, dan ia makin mendekat bak predator, yang sedang mempelajari gerak-gerik mangsanya. Bersiap menerkam, menyandera dan membui, membuat raga sang korban berikutnya menggeliat di bawah cengkramannya.

Kuroko masih bergeming, menyiagakan tubuh, menanti apa yang ingin dilakukan oleh dewa di hadapannya itu.

'Mungkin menyiksanya lagi,' benaknya dengan getir, berkata pesimis.

Dan bisikan halus pun sampai di telinga kanannya. Bariton khas, klasik nan halus, namun maskulin dan dalam, berhasil ditangkap oleh indera yang berada di sana.

Sang persembahan dewa air itu bergidik.

"Saa ... apa yang sebaiknya kulakukan padamu sekarang, Tetsuya?"


Uh ... saya sebenarnya agak ngerasa bersalah nyiksa Kuroko, tapi kalau gak gitu fic ini gak bisa jalan ...

Limpahkan saja kesialan Kuroko pada Akashi yang sadis di chap ini hahaha

Terimakasih banyak untuk yang sudah me-review, nge-fav/follow, dan para pembaca semua! Untuk yang nge-review, berikut adalah balasan saya :)

assyifa: Halo! Panggilnya Yakou aja, hahaha. Yakou-san formal banget. Iya, belom komplit dan ada romance-nya kok ... tapi saya gak janji total romance loh (Saya panggil assyifa saja boleh? hehe)

Moccizushi: Wah kok jadi si dori, dori mah keimutan, Moccizushi-san hahaha. Rupa ikannya itu terinspirasi dari bentuk ikan biru neon dari cover Kaito Vocaloid #promosi. Bisa dilihat di zerochan: "Musunde Hiraite Rasetsu to Mukuro #292076" dari Hachi-p

Narudobetetsuyapolepel: Makasih review-nya :) Btw, saya masih newbie kok, belom senpai nih, mungkin dikit lagi hahaha

zizie-akakuro: Makasih review-nya :3 Semoga chapter ini gak mengecewakan ya!

adelia santi: Masih ada lanjutannya kok, Santi-san. Saya pun juga yang jadi author pengen ikutan nabok, tapi takut digaplok balik ama Bang Akashi haha

regis sinclair: Halo! Iya, makasih banyak review-nya, Regis-san! Moga-moga chapter ini juga menjanjikan buat Regis-san hehe

mr. panda: Makasih reviewnya :))

Mhion Michaelis: Waduh, saya baca review-nya Michaelis-san rasanya kayak ngebumbung ke angkasa #lebay. Makasih banyak reviewnya :) dan sebenarnya saya suka buat cerita iseng2 memang, tapi gak pernah nge-publish ol dan cuma kasih temen deket aja yang baca. Baru kali ini saya coba publish hehe, tapi saya masih cupu kok (Btw panggil saya Yakou saja, Michaelis-san :))

Snow: Makasih reviewnya, Snow-san! Pastinya soal Kuroko bisa menemukan pintu keluar atau gak itu tergantung mood Akashi ... dan saya ehehe #plak

RE: Hai! Ada kok kelanjutannya tetep, tapi saya gak berencana bikin lebih dari 10 chap, antara dua atau tiga chap lagi mungkin samap ike fin haha

Samuel903: Makasih reviewnya :) Akashi kejam lagi gak di chap ini? hihihi

fishy1992: Ini udah di-update! Makasih reviewnya ya :)

Saya tunggu segala macam pertanyaan, saran, curhatan, dan uneg-uneg lainnya dari para pembaca untuk chap ini, terima kasih semua!