Sarjana Biologi?
.
.
.
KAIHUN as always
.
.
.
Hope you like it...
.
.warn : GS, bahasa campur aduk, typoo, OOC deelel.
,
,
Happy reading
,
Sehun membuka matanya perlahan. Kepalanya terasa pusing bersamaan dengan masuknya sinar putih lampu ke penglihatannya. Dia mengerang pelan karena tubuhnya yang terasa sakit ketika digerakkan.
"Kamu berbaring dulu, aku udah ngasih kamu obat penghilang nyeri, jadi seenggaknya kepalamu nggak akan terlalu sakit lagi."
Sehun menengokkan kepalanya kekanan, ke arah orang yang baru saja bersuara. Sehun tidak merasa mengenal orang ini, dan apa dia bilang? Penghilang nyeri?
Bola mata coklatnya bergulir menelisik seisi ruangan, dan yang dapat ditangkapnya adalah suasana ruang kesehatan. Ah, dia ingat. Tadi saat Sehun akan membeli air dia merasakan pusing dan kemudian tak sadar diri. Jadi orang ini yang telah menolongnya? Bukannya Sehun tak tahu terima kasih, tapi dia sedikit kecewa karena bukan Jongin yang menolongnya.
"Kamu yang ngebawa aku kesini kan? Terima kasih." Ucap Sehun tulus dengan suaranya yang masih lemas.
Pemuda yang sedang berdiri di laci obat itu menggumam sebagai jawaban. Dia masih sibuk dengan deretan obat yang tersusun rapi di laci. Beberapa kali mengambil untuk dilihat, entahlah mungkin komposisinya lalu dikembalikan lagi.
"Apa sih yang kamu lakukin?" tanya Sehun penasaran.
"Mencari obat untuk tuan putri tidur." ucapnya masih belum menghadap Sehun.
Sehun mencebikkan bibirnya tidak terima. "Aku cuma pingsan sebentar kok." Elaknya.
Si pemuda terkekeh pelan tanpa menanggapi lebih lanjut, membuat Sehun mengerucutkan bibirnya sebal.
"Hentikan itu, kamu ngebuat aku pengen nguncir bibirmu pake tali tambang." Gumam si pemuda. Sehun mendelik, ternyata pemuda ini memperhatikannya juga walaupun matanya masih fokus pada kegiatan sebelumnya. Apa jangan jangan dia memiliki mata lain di sela rambutnya? Atau di dalam telinganya? Bahkan mungkin matanya menempel di tembok tembok itu?!, Sehun memulai pikiran liarnya.
"Jangan mikir yang aneh aneh." Ucap orang yang sedang dipikirkannya.
Sehun melirik pemuda itu ngeri. Apa selain mempunyai banyak mata, orang ini juga punya kekuatan membaca pikiran seperti di film film itu? lalu bagaimana jika orang itu juga punya mata laser yang bisa menembus semua hal, habis tubuhnya dijadikan objek pemandangan(?)
"Terus aja berpikiran aneh lalu aku akan mencuci otakmu."
Sehun memutar bola matanya lelah, "Haloo~ apa kamu dari tadi sedang bercanda? Kalau iya, itu nggak lucu dan kamu malah terkesan kaya psikopat." Ucap Sehun sebal.
Si pemuda tertawa kecil dan memandang Sehun masih dalam posisi jongkok-enak-sedap-nikmatnya.
"Kamu menarik." Ucapnya.
Sehun memandangnya bingung. Menarik apanya? Seingat Sehun dia sama sekali tidak menarik orang itu, bahkan sedari tadi dia berbaring di ranjang ini, bagaimana Sehun bisa menariknya? Oke, lupakan pikiran sesat Sehun.
"Apa beberapa hari ini kamu sakit? Atau merasakan sesuatu yang aneh?" tanya si pemuda akhirnya.
Sehun mengingat ngingat sejenak, "Ah, dua hari lalu aku kena tifus."
"Dan kamu udah mutusin untuk masuk kuliah? Wow, hebat." Sindirnya.
Sehun cemberut, "Nggak perlu sarkastis begitu, lagian aku udah ngerasa sehat tadinya."
Orang yang menolongnya kembali tertawa kecil, dia bangkit dari posisinya setelah mengambil beberapa tablet dari botol obat yang sedari tadi diacak-acaknya dan menghampiri ranjang Sehun yang masih cemberut.
"Maaf, itu kebiasaan." Ucapnya tulus. Sehun yang dasarnya memang anak baik juga tak tega, dia mengangguk akhirnya.
"Nah minum ini." ucap si pemuda sambil membantu Sehun duduk bersandar di ranjang dia menyerahkan sebotol air mineral juga obat yang telah dipilihnya.
Sehun menyerahkan botol mineral tadi setelah semua obat meluncur ke tenggorokannya sambil menggumam terima kasih.
"Nah kamu lebih baik istirahat dulu, nggak perlu ikut kelas supaya sakitmu nggak tambah parah." Ucapnya sambil beranjak menuju pintu.
"Eh eh kamu mau kemana?" tanya Sehun.
Pemuda itu menoleh, membiarkan Sehun melihat lesung pipinya ketika tersenyum. "Tentu aja kembali." Jawabnya.
Sehun melirik kiri dan kanannya gelisah, tidak ingin bertatap dengan si penolongnya. Sebenarnya Sehun gugup, dia baru menyadari kalau pemuda yang menolongnya itu tampan! Ugh, manis lagi.
"Kamu mau nggak nemenin aku? Maksudku kalau kamu ada kelas ya nggak usah, eh tapi kan nanti aku sendiri, kamu-kamu ada acara? Aduh kok kaya aku mau ngajak kencan sih! kamu jangan salah paham, aku Cuma-aku, duh!" Sehun akhirnya hanya mendumel sendiri.
Pemuda itu tertawa dan melangkah kembali ke ranjang Sehun. menarik sebuah kursi tak jauh dari sana untuk diduduki. Dengan melipat kaki dan menopang wajahnya dengan salah satu tangannya, senyum tak lepas dari wajahnya yang tampan ketika melihat Sehun masih sibuk dengan dumelannya.
"Iya iya aku ngerti." Ucapnya sambil membekap mulut Sehun yang masih berceloteh. Sehun menghadap si penolong bingung. "Aku bakal nemenin kamu kok sampe kamu nyuruh aku pergi."
Sehun salah tingkah pemirsa! –biasa aja sih -_-
"Sampe jam setengah duabelas aja, temenku bakal njemput jam segitu." Ucapnya pelan. Seakan tersadar sesuatu Sehun menjulurkan tangannya, "Halo, namaku Sehun."
Pemuda itu menjabat balik tangan Sehun. "Aku Chanyeol. Park Chanyeol." Jawabnya dengan senyuman membuat Sehun memerah.
Mereka larut dalam perbincangan tanpa tahu Jongin berdiri di ambang pintu ruang kesehatan menyaksikan Sehunnya tertawa dan sesekali blushing karena pemuda lain.
Sehunmu? Kau bahkan belum bisa mengklaim Sehun sebagai milikmu, heh Kim Jongin.
-SARBIO-
"Kyungsoo maafin kita." Ucap Luhan.
Disamping kanan kirinya ada Baekhyun dan Minseok yang bersujud juga. Sesekali menyedot ingus akibat terlalu lama menangis meraung memohon maaf pada Kyungsoo.
Kyungsoonya sendiri hanya duduk di atas becak yang kebetulan parkir di parkiran kampus, itu becaknya sendiri sih sebenernya. Setelah mereka tersadar dari keadaan setengah sekaratnya, tiga cecunguk itu merasa mendapat hidayah dan akhirnya memutuskan untuk minta maaf pada orang yang paling ternistakan sejak awal pembuatan fanfic, yaitu Kyungsoo.
"Aku nggak bisa jawab." Ucap Kyungsoo masih bimbang. Dengan jarinya dia mengusap hidungnya yang mencium selentingan amunisi tiga orang yang sedang berlutut di hadapannya itu. meskipun Kyungsoo yakin telah mengubur benda laknat itu , sepertinya baunya tidak akan hilang dalam waktu dekat.
Dengan alasan itu Kyungsoo berdiri dari becak kebanggaannya yang diasumsikan bahwa Kyungsoo menolak memberikan maaf oleh Luhan cs.
"Tolong Kyungsoo, gue bener bener minta maaf udah ngebekep elo sampe lo pingsan." Ucap Luhan, tangannya menahan kaki Kyungsoo,
"Gue juga, gue udah nginjek lo. Sumpah gue khilaf Soo." Kini Minseok yang meminta maaf, sama dengan Luhan, dia juga menahan kaki kiri Kyungsoo.
"Gue sih sebenernya ngga ngerasa salah ama lo-" oke, Baekhyun sedang dalam masa penyangkalan. "-tapi berhubung ini suasananya lagi sakral, gue ikutan minta maaf sama lo,kali aja gue ada salah." Ucap Baekhyun songong, lebih songong lagi tangannya yang malah grepe-grepe muka Kyungsoo.
"Baek! Jangan gitu! Ntar Kyungsoo nggak maafin kita." Protes Luhan. Tanpa sadar dia mengangkat kaki Kyungsoo yang dipegangnya hingga itu anak malang terjungkal kebelakang, udah tahu jatoh, Baekhyun dengan tanpa dosa mengikuti arah jatuh Kyungsoo tanpa menghentikan aksi grepe-grepenya hingga kini posisinya jongkok nggak elit di samping kanan muka si malang Kyungsoo.
"Tau tuh! Singkirin buruan tangan lo!" Minseok ikut ikutan protes. Kaki Kyungsoo yang dipegangnya, dia angkat terus ditunjuk tunjukkin ke muka Baekhyun yang masih keliatan nggak peduli.
"Cepet lepasin, bego!" Luhan ikut menudingkan kaki Kyungsoo ke arah Baekhyun.
"Guys," Kyungsoo lemas kehabisan nafas karena tangan Baekhyun yang demi apa masih mengandung aroma laknat tadi, ditambah kakinya yang serasa diputar tiga ratus enam puluh derajat dan akhirnya pingsan-lagi-
Sedangkan tiga orang yang sedari tadi ngotot minta maaf tidak menyadari tumbangnya salah seorang disana dan masih melanjutkan adegan salah menyalahkan tersebut.
Oke, tinggalkan saja.
SARBIO
Jongin kini lagi ngenes, ditambah lagi sahabat sehidupnya dengan enteng nyemil biji kopi, udah macem luwak aja tuh bocah.
"Please deh Jong, lu jangan nambah nambahin masalah gue." Ucap Jongin nggak sadar kalau dirinya juga seorang 'Jong'
"Hello, masalahnya sama gue apa? Gue bahkan kaga gerak yang memicu perubahan listrik statis buat menciptakan gledek yang bakal nyamber elo." Protes Jongdae ngawur.
"Audeh! Kalian sama aja!" Jongin mulai ngambek nggak cool.
Mereka kini tengah berada di depan gerbang kampus. entah apa tujuannya duduk bak pengemis jalanan di tengah tengah gerbang.
Jongdae mengangkat bahunya ngga peduli dan kembali nyemilin kopi ijo yang dia dapet dari kantinnya mak onew yang biasanya jualan gorengan ayam. Bukan Cuma gorengan ayam sih sebenernya, emak emak rempong satu itu emang rada freak sama ayam. Buktinya aja, menunya ayam semua, wallpaper dindingnya ayam, kursinya motif ayam, mejanya juga. Bahkan baju yang dipakai mak onew juga pake bulu ayam.
Jongin kembali memikirkan adegan mesra di UKS tadi. Baginya, jika untuk melawan empat pengawal Sehun itu mudah. Karena Sehun pasti akan membelanya jika semisal Jongin dikeroyok oleh orang orang yang bakat jadi satpam itu.
Tapi lain lagi sama orang tadi.
Jongin hanya tau, orang yang tadi dilihatnya di UKS bersama Sehun itu bernama Park Chanyeol, jurusan kedokteran dan pernah satu tim dengannya di olimpiade biologi. Dan Jongin akui, Chanyeol itu tampan, pintar, kaya, baik hati dan rajin beribadah.
Ditambah lagi, Sehun tadi cengengesan plus blushing imut gara gara itu tower merah muda. Jongin iri sebenernya, eh cemburu juga sih. iri karena Chanyeol bisa bebas nggodain Sehun dan bebas ngebuat Sehun ketawa.
Jongin? jangan ditanya.
Ketemu Sehun aja harus pake pengawal pribadi ayahnya buat ngelindungin diri dari cecunguk yang suka ngintilin Sehun. udah kaya mau ketemu bandar narkoba aja. Nah si Chanyeol? Gampang banget nyuri start pas para anakan curut lagi nggak ada.
Pasti Chanyeol yang nggendong Sehun tadi.
Jongin makin merana, dia memandang tangannya yang ekhemdekilekhem mulus. Jongin bahkan tidak pernah menggendong Sehun, dia selaku orang yang disukai Sehun merasa nggak adil dong. Chanyeol yang baru ketemu Sehun udah bisa nggendong Sehun. Jongin lebih rela Sehun diseret aja deh dari pada digrepe secara nggak langsung sama Chanyeol. Eh, becanda ding.
"Lu ngapain mandangin tangan buluk lo? Ngerasa bersalah udah ngenistain gue sama tangan busuk lo itu?" tanya Jongdae yang sudah menghabiskan sekian ratus biji kopi.
"Gue lagi nggak mood buat debat sama makhluk pecinta kolor kaya elo." Balas Jongin lemas.
Jongdae yang merasa sohibnya ada masalah –meskipun Jongin selalu bermasalah jika menyangkut Sehun dan orang orang tak berbudaya itu- merasa kasihan dan hendak mengulurkan bantuan dari tangan emasnya.
"Okedeh, lo kenapa sih?" tanya Jongdae sok lembut.
Jongin menoleh dengan muka minta di injek, "Lo nggak pantes." Ucapnya dikit tapi nyelekit.
"Kalo bukan gue yang nanyain lo, siapa lagi? Luhan?" Jongdae rada sensi sama Luhan sebenernya, gara gara tahun kemarin Luhan terang terangan nyomot bebeknya di depan matanya sendiri, terus dengan entengnya Luhan bilang, 'Gue minta satu, lagi pengen bebek goreng.'
Hati siapa yang tidak sedih? Oke, mungkin Cuma Jongdae yang sedih.
"Najis." Sekali lagi bahasa tidak pantas yang keluar dari mulut Jongin yang tengah galau.
Jongin menghela nafas. tidak punya pilihan lain. Dari pada dia tidak cerita terus berakhir galau bulukan macem Jongdae kan najis.
"Gue ngeliat Sehun becanda sama Chanyeol." Ucap Jongin miris.
Jongdae ngangguk ngangguk, "Jadi yang gue liat itu Chanyeol."
Jongin mengacak rambutnya frustasi, "Gue nggak tau kudu gimana."
"Jong, jujur lo kaya anak SMP yang lagi pacaran." Sindir Jongdae, "Lagian lo masa ngga tau apa yang musti lo lakuin?"
Jongin menggeleng. Dia meringkuk layaknya pampers bayi yang telah penuh.
"Lo suka nggak sama Sehun?" Jongin ngangguk. "Kalo lo tau Sehun lagi berduaan sama cowok lo bakal terima nggak?" Jongin nggeleng sampe pusing.
Jongdae tengkurap entah karena apa, pokoknya dia tengkurap di samping Jongin kaya orang lagi berjemur.
"Lo ada status nggak sama Sehun? nggak ada kan. Ya berarti lo nggak boleh marah."
Jongin melotot nggak terima. Dia bangkit dan menduduki pinggang Jongdae, ngeri juga pas Jongin duduk terus kedenger suara 'kretek' yang hebat. Karena takut Jongdae akan patah menjadi dua bagian. Jongin akhirnya mundur dan duduk di paha Jongdae.
"Makanya, inti dari semua permasalahan ini adalah, lo musti nembak Sehun. jadi pacar Sehun baru lo boleh ngelarang Sehun." Jongdae berceramah seakan menuntun Jongin menuju jalan yang benar.
Jongin menjitak kepala Jongdae, meski jauh tapi tetep kena.
"Nggak bisa, gue udah nentuin mau nembak Sehun abis ujian kenaikan tingkat." Ucap Jongin.
Jongdae ngupil dengan syahdu saat menjawab, "Udah deh lupain khayalan lo itu kalo nggak pengen Sehun pindah ke lain hati."
Jongin masih kekeuh, "Gue yakin Sehun nggak bakal main serong."
"Yudah berarti lo kudu tahan kalo misalnya lo ngeliat Sehun ngomong sama cowok keren lain." Jongdae sih santai, dia kan lebih sayang bebeknya daripada Sehun, lagian kalo Jongdae sampe sayang sama Sehun, bisa dibantai dia sama Jongin.
"Okedeh, makasih udah ndengering gue." Ucap Jongin tulus.
Jongdae berhenti ngupil sebentar sebelum dilanjut lagi, "Iyadeh, gue kan temen lo yang tahan banting lo nistain."
Jongin tentu nggak terima. Sepanjang sejarah pertemanannya bersama Jongdae, yang ada dirinyalah yang ternistakan.
"Kapan gue nistain elo! Jangan asal nuduh, ada juga lo yang nistain gue!"
Jongdae berhenti ngupil dan ngomong pake emosi, "Oh lo lupa kejadian pas kita kecil dulu!"
"Dari kecilpun, lo terus yang nistain gue! Maen kerumah gue katanya mau belajar kelompok, yang ada lo ngeberantakin kamar gue! Lo bahkan minjem tv rumah gue buat nonton Jin dan Jun!"
Jongin juga emosi. Jongdae itu kalau main tidak tanggung tanggung. Prinsipnya, rumahmu juga rumahku. Apalagi Jongdae –saat masih SD- menyabotase tvnya untuk nonton sinetron Jin! Jongin itu tidak suka Jin dan sebangsanya. Apalagi dibuat film. Bagi Jongin nggak masalah kalau Cuma sekali dua kali, ini masalahnya Jongdae kaya nggak punya tv dirumah!
Apalagi itu sinetron diputar setiap hari! Setiap hari bung! dan itu artinya Jongdae akan menghabiskan waktunya dirumah Jongin! dikamar Jongin! mungkin mending kalau Jongdae akan pulang setelah nonton, tapi Jongdae akan tiduk sampe ngorok satu detik setelah sinetron itu selesai. Dan itu bencana bagi Jongin.
Oke, beralih ke jaman sekarang.
"Lo nggak inget hah?! Lo nyodok pantat gue bego!" semprot Jongdae.
"Mana ada! Gu-gue kaga pernah ngelakuin hal najis kaya gitu!" banta Jongin, sebenernya Jongin inget sih, tapi malu lah untuk mengakui kenajisannya.
"Lo pasti inget, pas SD, pas pak Donghae ngajar biologi tentang anatomi tubuh. Terus lo penasaran sama lobang pantat yang lo tanyain tapi pak Donghae juga bingung ngejawabnya! Dan gara gara rasa keingintahuan lo itu lo nyodok pantat gue." Jongdae ngomong pake nada rendah yang bikin suasana tambah horor.
"Lagian itukan salah nyokap gue, katanya bakal ada naga yang keluar dari pantat kalo kita nelen biji jeruk." Cicit Jongin nggak sadar umur.
"TAPI LO NYODOK PANTAT GUE WAKTU ITU!" sembur Jongdae.
"TAPI GUE NGGAK SENGAJA!" bantah Jongin.
"NGGAK SENGAJA APAAN! LO SENGAJA NYODOK PANTAT GUE! LO KAGA TAU ITU SAKIT BANGET, HAH?!" Jongdae masih tengkurap, namun kini badannya menggeliat bak siluman ular. Jongin tidak tinggal diam, dia menahan kepala Jongdae bak pawang ular.
"ITU BUKAN SALAH GUE!" Jongin masih malu mengakuinya.
"TERUS ITU SALAH GUE? GUE YANG NGEGODA ELO BUAT NYOLOK LOBANG PANTAT GUE HAH?!" Jongdae tidak berpikir untuk menyerah, lagipula semua kesalah pahaman harus diluruskan sekarang. Eak, pikiran Jongdae keren ternyata.
"IYA IYA GUE TAU GUE SALAH!"
Jongdae tertawa bak mak lampir. "NAH AKHIRNYA LO NGAKU KAN!"
Jongin melipat kedua tangannya. "Lagian itu kan atas dasar nggak sengaja, lo tetep nggak bisa nyalahin gue dong."
"Nggak sengaja lo bilang? LO SENGAJA NGELOROTIN CELANA GUE, NGEDORONG GUE SAMPE NYUSRUK KE PAGERNYA PAK MINHO YANG BANYAK KENANGAN MASA LALUNYA, TERUS NYODOK LOBANG PANTAT GUE DISANA!" Chen teriak kalap.
Jongin njambak rambut Jongdae dari belakang. "LAGIAN LO PASRAH AJA GUE NYODOK LOBANG PANTAT LO!"
Jongdae menarik kepalanya kuat hingga terlepas dari cengeraman Jongin meskipun dia harus merelakan jidatnya terantuk mesra dengan lantai.
"GIMANA GUE NGGAK PASRAH! GUE SHOCK WAKTU ITU! BAHKAN GUE TIGA HARI KAGAK SEKOLAH TERUS NGELEWATIN ULANGAN MATEMATIKA YANG BIKIN GUE KAGA BISA NYONTEK GARA GARA NGERJAIN DI RUANG GURU! DAN LO MASIH NYANGKAL KALO INI BUKAN SALAH ELO!"
Jongdae kembali mengingat kenangan-kenangan buruknya. Saat kepalanya terjepit di pagar pak minho, saat Jongin tanpa dosa nyodok nyodok lobang pantatnya Cuma gara gara Jongdae bilang kalau pas makan malam Jongdae nggak sengaja nelen biji jeruk. Apalagi saat dia mengerjakan ulangan matematika di ruang guru dan berakhir dengan nol besar di kertas ulangannya.
Saking traumanya, Jongdae selalu menggembok celananya dengan gembok segede gembok gerbang yang bikin dia jalan pelaaaaaann banget karena berat. Bukan gimana, Jongdae hanya takut Jongin kembali melorotin celananya.
Setiap pagi Jongdae selalu nyomot gembok gerbang rumahnya dan kuncinya dititipkan ke pak satpam penjaga rumah. Iya kalau pak satpam masih berjaga saat Jongdae pulang. Nggak jarang pak satpam sudah pulang saat Jongdae kembali. Dan itu berarti, Jongdae harus menahan semua hasrat diperutnya hingga besoknya lagi. Dan semua kesialan itu telah Jongdae tetapkan sebagai akibat dari perbuatan nista KIM JONGIN.
"IYAUDAH GUE SALAH! GUE NYODOK PANTAT LO! GUE MINTA MAAF DEH!" Jongin kasihan juga pada Jongdae. Waktu itu Jongdae main kerumahnya, dan Jongin nggak buta sampe nggak ngeliat gembok gede nangkring indah di kancing celana Jongdae, apalagi itu anak waktu naik tangga ke kekamar Jongin udah kaya nanggung beban hidup orang satu kampung. Pelaaan banget.
"NAH GITU DONG, LO MUSTI TANGGUNG JAWAB!"
"TANGGUNG JAWAB APAAN?! GUE KAN UDAH MINTA MAAF!"
"BUKA CELANA LO! GANTIAN GUE YANG NYODOK ELO!" Jongdae kembali ketawa lampir, membayangkan balas dendamnya. Tentu Jongdae nggak akan segan segan!
"Jongin, ternyata kamu gay ya."
Jongin dan Jongdae menoleh dan mendapati Sehun yang memandang sedih, juga Chanyeol yang menganga.
Jongdae reflek bangkit hingga membuat Jongin jatuh terlentang. Jika dalam situasi normal, dia pasti bahagia jatuh dalam keadaan ini. karena secara tidak sengaja dia jatuh tepat didepan Sehun dan dapat melihat ekhemcelanadalamekhem Sehun yang terlihat dari rok putih Sehun. tapi kesalahpahaman ini mencemari semuanya.
Chanyeol menarik Sehun kesampingnya saat melihat Jongin yang melotot ke dalam rok Sehun saat terjatuh.
"Rok kamu keliatan dari bawah." Ucap Chanyeol menjelaskan.
Sehun tersenyum miris pada Chanyeol dan menoleh ke arah Jongin yang masih dalam posisinya.
"Nggak apa apa, Jongin kan gay." Ucap Sehun nyelekit.
"Sehun! ini nggak kaya gitu!" ucap Jongdae. Dia tidak mau dianggap gay, apalagi dengan si dekil Jongin, dia kan juga sedikit dekil. Kalau Jongdae dan Jongin pacaran, apalagi sampe nikah, anak mereka bakal berupa kotak kardus kusam berwarna coklat kehitaman.
"Nggak apa apa kok, Jongdae." Ucap Sehun. Sehun menoleh kearah Jongin. "Pantesan selama ini lo nggak ngerespon, selama ini lo nggak peduli sama gue, ternyata lo gay."
Jongin merana, Sehun memanggilnya 'lo' dan bukan 'kamu' apalagi 'Jongin sayang' lagi.
"Sehun, aku mohon jangan salah paham. Dengerin penjelasanku." Ucap Jongin. sehun mengangguk.
"Em, gini sebenernya." Jongin bingung mau bilang apa. Jongin tentu malu dengan kejadian saat SD itu. apalagi membicarakannya didepan Chanyeol.
"Jadi lo nggak ada yang mau dijelasin kan sebenernya." Sehun bersuara setelah lima menit Jongin tidak segera menjelaskan.
"Oke, kalo gitu. Gue nggak bakal mandang lo aneh kok. Jaman sekarang kan udah banyak yang kaya kalian. Gue nggak bakal ganggu elo lagi."
Oh, tidak!
"Ayo kak Chanyeol, anter aku nyariin temen temen aku dulu." Ucap Sehun sambil tersenyum menggandeng lengan Chanyeol.
Baru beberapa langkah pergi menuju parkiran, Chanyeol berhenti, membisikkan sesuatu pada Sehun dan berlari ke arah Jongin dan Jongdae –yang tengah mojok karena shock-
"Makasih ya, gue jadi nggak usah usaha mati matian buat ngedapetin Sehun. dan selamat berbahagia buat lo ama pacar lo. Saran gue, kalo mau ngomongin kegiatan malam kalian berdua, cari tempat yang sepi." Ucap Chanyeol dengan seringainya.
Chanyeol sempat melambaikan tangannya sebelum berlari menyusul Sehun dan menggandeng tangannya kembali.
"INI SEMUA SALAH LO! CITRA GUE TERNODAAAA!" jerit Jongin sambil nunjuk nunjuk kearah Jongdae.
Jongdae bangkit menghampiri Jongin. "ELO! SEMUA SALAH ELO! ANDAI ELO NGGAK PERNAH NYODOK LOBANG PANTAT GUE, GUE NGGAK BAKAL SETRAUMA INI!"
Jongin mengusap wajahnya frustasi. Dia ingat ucapan Chanyeol tentang mencari tempat sepi. Setelah ini dia akan mencari tempat sepi, bukan untuk membicarakan tentang sodok sodokan lobang pantat. Tapi untuk membantai orang yang mengaku sohibnya ini.
"Jongdae, ayo pergi ke apartement lo."
Jongdae memeluk dirinya sendiri, "Jangan jangan lo emang gay ya! Gue nggak mau disodok lagi!"
"NGGAK CUMA DISODOK! ELO BAKAL GUE GANTUNG DI PLAFON TERUS GUE GERGAJI BIAR JADI SERBUK TERUS GUE BAKAR SERBUK LO BUAT PERAPIAN GUE!"
"JANGAAANNN!"
TBC.
Tuberculosis dengan tidak elit.
Ohohoho, sebenernya, mau gimanapun serius ff yang aku bikin, jatohnya bakal tetep ada humornya. Audeh, aku pengen tuh bikin sesekali yang ngga ada humornya sama sekali, tapi pas di posting, aku baru sadar, bakal tetep ada humornyaaaa~
Setelah update beberapa chapter akhirnya aku sadar, isi ceritanya sama sekali nggak nyambung sama judulnya ^.^ tapi gapapa lah yaaaa~ masa iya mau ganti judul 'Princess Sehun, Prince Jongin dan Kurcaci tak berbudaya' kan jadinya aneh-kayaknya-
Ini entah kenapa mikir jalan ceritanya jadi kaya gini hehe. Emang ide awalnya mau bikin Sehun sama Jongin rada renggang, tapi ngga pernah kepikir sebab renggangnya itu salah paham absurd kaya ini hehe. Pokoknya, kalian nikmatin aja imajinasi ngawur aku.
Oke, ini lama banget ya? Hoho.
Mohon maaf sebaik baiknya~
Akhir kata.
Mind to review?
