Chapter 06 : Lifeless
.
.
.

"Di antara derai hujan, aku mendengar desah angin di kejauhan, seperti itukah rasanya kesepian? Saat kau melintas dalam ingatan." – sabdaliar

.

.

Taehyung adalah sosok yang dewasa dan penyayang, mencintai teman-temannya, keluarga, dan seorang pemuda bergigi kelinci.

Passion-nya sama sedari ia kecil, berguna untuk orang lain. Ia ingin menjadi Dokter, itulah alasan sekarang ia lebih sering bergelut dengan segala tetek bengek kedokteran.

Seperti pagi ini ia berpakaian rapi dan siap berangkat menuju kampus dengan semangat menggebu-gebu. Tapi, ada alasan tersembunyi dibalik moodnya yang bagus saat ini. Setelah kelasnya selesai nanti, ia akan menemui kekasihnya dan memberinya sebuah cincinーWell, bukan akan melamarnya. Taehyung bersiap dengan helm dan motor titan kesayangannya, lalu melaju menembus jalanan kota Seoul.

.

Taehyung menepikan motornya ke pinggir jalan dan berhenti. Ia kemudian dengan cemas membuka tas yang bertengger manis dipinggangnya.

Ia mendesis pelan. "Sial." Tatkala melihat tak ada laporan yang harus ia kumpulkan pada dosen siang nanti.

Taehyung tanpa pikir panjang berbalik dan kembali menuju rumahnya. Perjalanannya sudah setengah dan ia harus kembali. Pikirannya tiba-tiba melayang entah kemana mengingat kekasih tercintanya, lusa kemarin mereka sempat bertengkar (lagi) karena Taehyung tak menepati janjinya kepada Jungkook, dan lebih parah, ia lupa mengabari kepada pemuda manis tersebut mengapa ia tak menepati janjinya dan membuat Jungkook menunggu berjam-jam ditempat mereka harusnya bertemu.

Sebuah truk besar tiba-tiba berhenti dan refleks, Taehyung membanting stir motornya kearah kanan jalan yang untungnya sedang dalam keadaan sepi.

Tapi mungkin memang hari ini adalah hari sialnya. Taehyung jatuh tersungkur jauh dari motornya, kepalanya menabrak trotoar jalanan yang sangat keras. Pejalan kaki yang kebetulan berada disana berteriak histeris kala melihat darah mengalir deras bak aliran sungai.

Memori-memori manis maupun pahit tiba-tiba berputar dikepalanya seperti klise film. Momen saat ia bersama keenam sahabatnya melakukan Street Show,ketika Jungkook tersenyum malu-malu bersamanya, saat ayah dan ibunya tersenyum dengan bangga atas kelulusannya.

Taehyung seperti melihat ajal berada didepan mata. Jadi seperti ini kah rasanya mendekati kematian? Ia ingin berteriak namun tak bisa. Semua sendi dan indranya seperti mati rasa. "Ugh…" hanya keluhan kecil yang dapat ia buat.

Ia tak ingin mati sekarang, bahkan mimpinya belum ia gapai sepenuhnya. Taehyung masih ingin bersama sang kekasih mungilnya, masih ingin menghabiskan waktu bersama teman-temannya.

Sebulir air mata menetes bercampur darah. Bahkan ia belum sempat memberi cincin yang ia beli dengan jerih payahnya sendiri untuk Jungkook.

Sirine ambulans tak lama terdengar sesudah Taehyung kehilangan kesadarannya.

.

.

Perjalan menuju rumah sakit memakan waktu setidaknya 10 menit dan itu menjadi waktu yang sangat lama karena man, seseorang tengah diambang kematiannya saat ini.

Seorang Dokter muda yang berada didalam ambulans bergerak gelisah. Ia tak bisa memberi tindakan lebih sebelum sampai dirumah sakit. Ia langsung mendekat saat Taehyung membuka sedikit matanya dengan kesadaran yang ada.

"A-a.."

"Tenanglah, kau akan sampai dirumah sakit sebentar lagi."

Taehyung menggeleng lemah. Dokter tersebut mendekatkan telinganya saat mendapat isyarat dari pemuda alien tersebut.

"..."

Membisikkan serangkaian kalimat dengan nafas tercekat, mengerahkan seluruh tenaga terakhir yang ia dapat. Dokter tersebut hampir saja menitikkan air matanya saat mendengar kalimat tersebut.

"T-terima kasih, hyung.."

Taehyung memaksakan senyumnya dan perlahan kembali menutup matanya. Wajahnya berubah teduh, menjadi sangat tenang—terlampau tenang. Setidaknya ia bisa pergi dengan sedikit lebih tenang karena kehadiran kakak sepupunya yang sangat dekat dengan Taehyung secara kebetulan.

"T-tae! Jangan, kau tak boleh tidur sekarang!"

"Tae, bukankah janji kita berdua untuk menjadi dokter bersama? Taehyung! Kita sudah hampir meraihnya!"

"Tae.. Jangan pergi.."

Dokter bernametag Dr. Byun tersebut menangis, kala melihat tak ada lagi gerakan pelan tanda ia bernafas didada Taehyung. Tak ada lagi detak jantung.

Adik tersayangnya pergi, meninggalkannya dengan semua kenangan, keluarga, dan orang terdekatnya yang sangat ia cintai dan mencintainya.

TBC

Berapa kalipun saya membaca ini, tetep sedih :"( (meskipun saya sendiri yg buat) karena kalo boleh dibilang, saya nulis ini dan semua chapter Gone dengan segenap perasaan saya :")
Kalian boleh percaya atau tidak, cerita ini mengambil dari pengalaman pribadi, hehe :"D

Mind for leaving a review? Thank you for reading ^^