Chapter 07 : Regretless
.
.
.
"Selalu ada mendung tebal dan samar rintih halilintar, sebelum mata langit terpejam oleh duka, hujan runtuh di pipi cakrawala." – sabdaliar
.
.
Jungkook sungguh terlihat menawan hari ini. Entah karena ia telah sedikit mendapat dorongan, atau memang suasana hatinya sedang membaik.
Sweater putih dengan motif bunga berwarna ungu dan celana putih. Mungkin jika ada, sebutannya adalah Man in White.
Ia sedang duduk diteras rumahnya kala melihat seorang pemuda yang terlihat tidak asing dimatanya muncul. Matanya membulat kaget.
"Hyung.."
"Hai, Jungkook." Pemuda yang lebih tua darinya itu mengulum senyum simpul lalu duduk disebelahnya.
"Maaf datang tiba-tiba, aku hanya ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting."
Pemuda tersebut menatap mata Jungkook dengan serius, Jungkook hanya diam dan mulai tenggelam. Seakan mengerti tujuan sang pemuda yang hampir mirip dengan kekasihnya datang.
"Taehyung.. dia berpesan padaku, dan dia ingin aku menyampaikannya." Baekhyun, pemuda yang menjadi saks satu-satunya saat kematian Taehyung itu menghela napas lalu menghembuskannya perlahan.
"Dia..."
Jungkook semakin tenggelam, sinar dimatanya mulai mengilang, kosong saat Baekhyun mulai menceritakan kejadian dan pesan terakhir Taehyung untuknya. Ini pertama kalinya dia mendengar secara rinci kejadian yang menimpa kekasihnya tersebut. Ia ingin menangis, tak kuasa mendengar cerita menyayat hati yang Baekhyun katakana. Bagaimana bias cerita mengenaskan tersebut sampai terjadi pada kekasih tersayangnya.
Rasanya seperti didalam kotak tanpa jalan keluar. Sesak, sempit, dan gelap. Belum lagi rasa sakit yang menjalar didadanya.
Baekhyun menatap nanar Jungkook yang terdiam dengan wajah kosong disampingnya. Ia sungguh tak tega namun ia harus mengatakannya.
Bisa kau bayangkan jika kau memiliki kekasih dan tiba-tiba kekasihmu mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya? Kau tahu bagaimana rasanya ditinggal oleh orang yang kau sayangi?
Baekhyun merengkuh pemuda kelinci dalam pelukannya, karena sungguh, ia sendiri juga terpuruk. Keduanya menangis dalam diam, merasakan kepedihan tak terhingga yang mencabik-cabik hati masing-masing.
"Baekhyun hyung.. Apa yang harus kulakukan.." Jungkook diam tak membalas pelukannya tetapi kepalanya semakin tenggelam dibahu Baekhyun. Ia melepas pelukannya dan menangkup kedua pipi Jungkook lembut.
"Kau mencintainya kan? Maka dari itu lakukanlah hal yang membuat dia bahagia. Dia amat sangat mencintaimu, Jungkook-ah. Dia pasti tak ingin melihatmu seperti ini."
Lelehan air mata Jungkook jatuh membasahi punggung tangan Baekhyun. Pemuda yang lebih tua mengusap air mata dipipi Jungkook dengan segera.
"Kau memiliki jurusan yang sama dengan Taehyung kan? Dia sangat ingin menjadi Dokter agar berguna untuk orang lain. Teruskan cita-citanya, Jungkook-ah."
Baekhyun mengulum senyum simpul, setidaknya ia yang lebih tua harus sedikit lebih kuat demi adiknya, ia kemudian beranjak dan menepuk ujung kepala Jungkook sebelum ia benar-benar mengilang dari hadapannya. Ia tak mau terlalu berlama-lama karena sungguh ini sangat menyiksanya.
Air mata Jungkook masih berjatuhan. Ia mengusapnya perlahan dan tersenyum paksa.
Aku tidak akan mengecewakanmu, hyung.
Maafkan aku yang terus menerus menangisi kepergianmu,
aku sangat mencintaimu, Kim Taehyung.
TBC
Don't forget to review okay? Thank you ^^9
