Chapter08 : Countless
.
.
.
.
.
Jungkook menyadarinya. Ia bodoh karena menutup matanya, mencoba berlari dari kenyataan. Sesedih, seterpuruk apapun, sekeras apapun ia meminta untuk Taehyung kembali, semua itu hanya sia-sia.
Taehyung tak akan kembali. Sampai kapanpun.
Ia tak akan pernah menyesal telah mengenal Taehyung, menjadi kekasihnya, menjadi sebagian dari hidupnya.
Jungkook akan selalu mengingat masa-masanya bersama Taehyung, menjadikannya pelajaran hidup, dan kenangan yang tak bisa dilupakan.
Maka dari itu, sekarang ia mengemasi barang-barangnya. Ralat, barang-barang pemberian Taehyung. Ia hanya akan menyimpan dan menjaganya dengan baik.
Jungkook hanya menyisahkan sebuah foto dirinya dan Taehyung yang memang sedari dahulu terpajang diatas nakas dekat tempat tidurnya.
Ia memandang foto itu lama, tersirat luka yang dalam diwajahnya, namun ia tersenyum. Semata-mata hanya untuk membuat kekasihnya juga ikut tersenyum jauh disana.
"Terima kasih sudah menjadikanku yang terakhir untukmu, Tae."
Jungkook mengelus permukaan foto tersebut dengan sayang. Kemudian beranjak dan keluar dari kamarnya. Berpakaian rapi dengan membawa sebuah tas yang ia sampirkan di bahu.
Ibunya terkejut tatkala melihat anaknya sudah kembali. Dengan senyum merekah dan ia meminta maaf pada ibunya telah membuatnya khawatir. Jungkook berpamitan ingin menyelesaikan segala urusan yang ia tinggal kurang lebih 2 bulan belakangan dan ibunya hanya mengangguk dengan haru.
Jungkook akan berkunjung ke kampusnya, kemudian kerumah Taehyung. Kemarin ia menelpon ayah Taehyung dan ia mengatakan bahwa ia sengaja tidak merapikan kamar anaknya tersebut karena ia yakin, Jungkook lebih bisa dan ingin untuk melakukannya.
Ia disambut oleh seorang bibi yang sangat ia kenal, karena telah lama bekerja dirumah keluarga Kim. Ia tersenyum kala melihat kehadiran Jungkook.
"Lama tidak bertemu, Tuan Jeon."
"Ah, bibi. Jangan memanggilku seperti itu." Wanita yang sudah mencapai kepala 5 tersebut terkekeh pelan. Ia kemudian mempersilahkan Jungkook memasuki kamar Taehyung.
"Saya hanya membersihkan kamar ini dari debu. Beberapa minggu yang lalu ada Tuan Seokjin berkunjung, beliau berkata bahwa ia mengambil sesuatu untuk diberikan kepada anda,"
Jungkook mengangguk dan memandang cincin yang melingkar manis dijari manis tangan kanannya.
Wanita tersebut berpamitan keluar, memberikan waktu untuk Jungkook mengitari kamar kekasihnya. Pemuda kelinci tersebut berjalan pelan kearah meja yang digunakan Taehyung untuk belajar. Jarinya mengusap pelan permukaan meja tersebut. Tanpa debu.
Matanya menangkap 2 bingkai foto. Satu adalah dirinya yang tersenyum sangat lebar dan memperlihatkan gigi kelincinya, dan satu lagi adalah dirinya berdua dengan Taehyung.
"Kau memasang foto orang lain, tapi tidak dengan dirimu sendiri."
Jungkook terkekeh pelan. Ia membuka sebuah buku yang terdapat tulisan tangan Taehyung disana. Hatinya mencelos tatkala menyadari bahwa tulisan tersebut mirip dengan ceker ayam (heol).
Ia beranjak menuju tempat tidur berwarna putih dengan motif daun hijau. Warna kesukaan pemuda alien tersebut. Jungkook duduk dipinggir kasur yang tak terlalu besar ukurannya itu, lalu merebahkan dirinya diatas sana.
Ia menutup matanya kala hidung menangkap aroma mint Taehyung yang sangat melekat dengan kuat disana. Membuatnya rindu pada sosok hangat sekaligus aneh yang selalu muncul dikepalanya.
"Hyung.. Aku rindu padamu.."
Jungkook merasa Taehyung ada disini. Bersamanya. Disampingnya. Tapi tentu saja tidak, bukan?
Jungkookie, hiduplah. Carilah seseorang yang jauh, jauh lebih baik dariku. Tapi jangan pernah lupakan aku, oke? Aku sangat, sangat mencintaimu.
Dirasa mungkin Jungkook mulai gila saat ia mendengar suara tersebut dikepalanya. Ia terkekeh pelan sambil mengusap air matanya yang keluar tanpa ijin.
Kau tahu? Aku memohon pada Tuhan jika aku bertemu denganmu lagi, aku akan menikahimu. Bodoh kan? Hahaha
Jungkook membuka matanya. Ia benar-benar gila mendengar itu. Apa sekarang ia sudah kehilangan akal lalu berhalusinasi yang tidak tidak?
Aku mencintaimu, Jungkookie. Selamat tinggal.. Sampai bertemu dikehidupan selanjutnya.
Ia menegakkan punggung lalu menoleh kekanan dan kiri. Matanya melebar, suara tersebut mengiang ditelinganya. Tapi ia tak menemukan apapun. Jungkook menunduk dan meneteskan air matanya, lagi.
"Selamat tinggal, hyung.."
Dengan itu ia beranjak dan mulai merapikan barang-barang Taehyung. Termasuk barang pemberiannya, lalu meletakkannya dalam sebuah kardus.
"Bibi, tolong simpan ini ya. Jangan dibuang. Barang-barang ini sangat berharga untuk Tae hyung. Kau bisa membersihkan kamarnya sekarang,"
Wanita paruh baya tersebut mengangguk sambil menerima sebuah kardus yang lumayan besar. "Oh iya satu lagi bi, aku mau yang satu ini untuk tetap dipajang, ya?"
Jungkook menuntuk sebuah figura yang berisikan fotonya dengan Taehyung tadi. Permintaan itu dituruti dengan anggukan. Saat Jungkook akan berpamitan pulang, disana nampak ayah Taehyung menghampirinya. Ia mengembangkan senyumannya.
"Halo, paman." Ia membungkuk hormat. Tuan Kim mengacak rambut Jungkook pelan. "Akhirnya kau datang. Kupikir kau tak akan pernah datang lagi, Jungkook-ah."
"Astaga, lihatlah. Kau menjadi sekurus ini." Tuan Kim memegang lengan Jungkook yang semakin kecil. Wajahnya bahkan terlihat sangat tirus.
"Relakan Taehyung, ya? Biarkan dia bahagia bersama ibunya disana."
Jungkook mengangguk dengan senyum paksa. "Paman.." Ia mendekat kemudian memeluk ayah dari kekasihnya tersebut. Suaranya sedikit bergetar menahan tangis.
"Paman.. Taehyung pergi.." ia mendapat tepukan kecil dipunggung. Ia tak sanggup untuk tidak menangis, sudah berapa kali ia menangis? Tak terhitung. Itu menunjukkan bagaimana ia sangat mencintai pemuda alien tersebut.
"Ini kesempatanmu untuk bangun dan menyongsong hidup yang lebih baik, Jungkook-ah. Begitupula dengan paman."
Beruntungnya Taehyung mempunyai ayah yang sangat bijaksana dan baik. Jungkook merasa lebih tenang. Merasa seperti bebannya diangkat begitu saja.
.
Jungkook mengangguk mantap. Badannya tegap, ia melangkah dengan langkah pasti. Berharap dengan ini ia akan menjadi orang yang lebih baik.
Gelar 'Dokter' tepat berada didepan matanya.
Ia tersenyum, tersenyum untuk dirinya sendiri, kekasihnya yang sudah tenang disana, keluarganya, teman-temannya.
Sungguh, perjalanannya masih jauh. Ia akan menjadi orang sukses dimasa depan. Dan membanggakan orang tua juga orang-orang disekitarnya.
TBC
Two chapters left : )))
Don't forget to review okay? Thank you ^^9
