"Yo, Gakuto!"

"Hem? Kok tumben kamu kelihatan semangat sekali, Shishidou?"

"Coba lihat! Ada yang berbeda dariku?" Shishidou melipat tangan di depan dada dan berdiri dengan tegap.

"Apa sih? Kamu tampak sama seperti biasanya."

"Masa kamu tidak sadar? Lihat ini! Topiku baru!"

"Haaah? Itu kan cuma topi biru yang selalu kamu pakai tiap hari."

"Bukan! Ini topi baru!"

"Iya, iya. Sudah cepat ganti baju!"

Shishidou berlari ke arah ruang club dan berganti baju. Dia membuka tas untuk mengeluarkan sebuah handuk kecil, namun dia sedikit tersentak saat mendapatkan Choutarou ada di dalam sana. "Ke-kenapa kamu ada di sini?" bisiknya.

"Habisnya… aku kan ingin lihat Shishidou san saat latihan."

"Kalau kelihatan yang lain bagaimana?!"

"Tenang saja."

"Pokoknya aku tidak mau tanggung jawab ya!"

Setelah membawa raket dan tak lupa membenarkan topi barunya, Shishidou berlari ke arah lapang. Lima menit setelahnya, latihan pun dimulai dengan pemanasan seperti biasanya. Setelah itu latihan dilanjutkan dengan mengayun raket dan terakhir bermain secara berpasangan.

Hari ini Shishidou sudah lupa akan kekesalannya berkat topi baru pemberian Choutarou. Dan kali ini pun dia sangat semangat untuk menunjukkan kebolehannya di hadapan sang pelatih. Dengan segenap tenaga, dia mengalahkan semua lawannya dengan score 6-0. 'Kali ini pelatih pasti memujiku!' pikirnya.

Akan tetapi, lagi-lagi Shishidou harus menelan kekecewaan yang sama setelah sang pelatih berkata bahwa masih tidak ada yang berubah dari dirinya. Rasa kesal yang sama kembali muncul, tapi kali ini hatinya jauh lebih terasa sedih. Alhasil, sejak latihan selesai, Shishidou terlihat lemas dan tidak bergairah.

"Oi, Shishidou! Ayo kita pergi makan!"

"Maaf, aku ingin langsung pulang."

"Sudahlah jangan terlalu diambil hati ucapan pelatih itu. Coba lagi besok!"

"Kamu tidak mengerti."

"Apa sih, suaramu kecil sekali."

"Kamu sama sekali tidak akan mengerti, Gakuto!" Shishidou akhirnya berteriak. Kemarahannya kembali meledak-ledak. "Kamu yang selalu dipuji oleh pelatih dan semua orang mana bisa mengerti apa yang sedang aku rasakan!"

Tanpa berganti baju sebelumnya, Shishidou langsung mengambil tas dan berlari pulang. Dia sudah tidak bisa memendam rasa kesal dan sedihnya. Bahkan dia tidak bisa mendengar apapun yang Choutarou katakan sepanjang perjalanan pulang.

'Shishidou san…'

Hingga larut malam, Choutarou hanya bisa terdiam melihat Shishidou yang tenggelam dalam kesedihan. Dia ingin sekali melakukan sesuatu, tapi di satu sisi terlalu segan untuk mulai berbicara.

"Shishidou san… jika ada yang bisa membuat perasaanmu lebih baik, aku akan melakukannya."

"Memang apa yang bisa kamu lakukan? Memangnya kamu bisa menggerakkan hati seseorang? Aku hanya ingin pelatih tidak selalu memandang sisi burukku saja. Aku pun ingin mendapatkan pujian dan pengakuan seperti yang lainnya. Bahkan Jirou yang selalu tidur saar latihan, masih lebih sering mendapat pujian daripada aku!"

Tanpa sadar butiran air mata terjatuh tanpa bisa Shishidou tahan. Kali ini dia sudah tidak bisa menampung lagi kesedihannya.

Semua itu dapat langsung dirasakan oleh Choutarou yang mulai berkaca-kaca menyaksikan raut kesedihan pada lelaki di hadapannya. "Akan aku kabulkan," ucapnya.

"Apa?"

"Permohonan Shishidou san barusan, akan aku wujudkan."