Hari pun berganti. Shishidou berangkat sekolah dan berlatih tenis seperti biasanya. Namun hari ini dia masih belum terlihat bersemangat akibat kejadian kemarin. Meski begitu dia tetap berusaha untuk melakukan yang terbaik saat latihan.
"Game set win by Shishidou, six game to one."
Meski kembali meraih kemenangan, Shishidou masih tidak bisa tersenyum seperti biasanya.
"Shishidou!" panggil sang pelatih. Si anak bertopi berjalan mendekat sembari tetap menunduk lemas. "Permainan yang bagus."
"Eh?"
"Kamu sudah semakin berkembang. Kulihat permainanmu pun semakin membaik. Kerja yang bagus. Terus pertahankan agar posisimu tidak perlu tergantikan oleh anggota lain. Gerbang menuju tim regular sudah semakin dekat."
Senyuman pun mulai tampak pada wajah si anak bertopi yang semula terlihat lesu. "Baik, pelatih!" ucapnya dengan penuh semangat.
"Kau dengar itu, Gakuto? Kau dengar apa yang dikatakan pelatih, hah? Kau dengar kan?"
"Iya, iya! Kenapa kamu aneh sekali sih akhir-akhir ini?"
"Yosh! Tidak lama lagi aku akan menjadi anggota tim regular!"
"Oi, Shishidou! Kamu mendengarku tidak sih?"
Seusai latihan sore, Shishidou segera pulang. Sesampainya di rumah pun dia masih tidak bisa untuk membendung rasa senangnya. Dia cepat-cepat masuk kamar untuk menceritakan kebahagiannya pada Choutarou yang tampak sedang berbaring di atas tumpukan tisu.
"Chou! Kau tahu apa yang dikatakkan pelatih barusan? Jika kamu melihatnya pasti kamu tidak percaya! Terima kasih banyak!" Shishidou berkata dengan penuh semangat. Namun teman kecilnya tidak bereaksi sesemangat biasanya. "Kamu kelihatan lemas. Apa lukamu terasa sakit lagi?"
"Ah tidak kok. Aku hanya masih sedikit lemas karena baru bangun tidur. Dan aku sedikit menyesal tidak ikut ke sekolah hari ini. Jadi aku tidak bisa melihat Shishidou san saat dipuji pelatih."
"Iya, kamu melewatkan kejadian yang hebat!"
Semalaman Shishidou menghabiskan waktu untuk bertukar cerita dengan teman perinya. Tak terasa meski belum lama bertemu, tapi mereka berdua sudah menjadi teman akrab. Shishidou pun merasa berkat keberadaan Choutarou, hari-harinya semakin terasa menyenangkan.
Akan tetapi, kegembiraan yang Shishidou rasa akan terus ada itu ternyata membuatnya lengah. Hingga hal yang tidak disukainya pun kembali muncul setelah beberapa hari tidak dia jumpai. Menjelma menjadi sebuah petir yang muncul di balik awan kala matahari masih bersinar dengan teriknya.
"Kenapa permainanmu terus memburuk dalam satu minggu ke belakang? Apa karena aku terlalu memujimu waktu itu?"
"Ti-tidak…"
"Kamu tampaknya terlalu terbuai dengan pujian. Kalau begitu aku tarik kembali kata-kataku waktu itu. Langkahmu untuk menuju tim regular masih jauh."
Dalam satu hari, kesedihan kembali menggelapkan hati Shishidou. Seusai latihan, dia masih duduk termenung di bangku pinggir lapang. Bahkan Gakuto pun tidak berani menyapa sahabatnya itu jika sedang berada dalam keadaan seperti itu.
"Masih menikmati langit sore, anh?" Shishidou masih terus diam dan tidak menghiraukan kedatangan Atobe. "Pelatih berkata seperti itu untuk kebaikanmu."
"Sudah hentikan! Aku tidak butuh dihibur."
"Aku hanya ingin agar kamu tidak salah paham."
"Kubilang hentikan, Atobe!"
"Pelatih tidak akan seperti itu jika sadar bahwa kamu masih bisa berkembang lebih."
"Kubilang diam! Jangan berkata seolah-olah kamu tahu segalanya tentangku! Aku tidak peduli! Yang kutahu jelas sekarang, pelatih memang sejak awal tidak menyukaiku, dan tidak ingin aku masuk ke dalam tim regular. Mungkin sejak awal pula keberadaanku dalam club ini hanya sebuah fatamorgana. Lebih baik aku tidak pernah bergabung bersama kalian!"
Shishidou meraih tasnya dengan kasar dan mulai berjalan meninggalkan Atobe.
"Aku tahu kamu tidak ingin mendengar kata-kataku lagi. Tapi aku hanya ingin bilang, akan lebih baik jika kita mewujudkan keinginan dengan tenga kita sendiri."
Tanpa bereaksi apapun lagi, si anak bertopi segera berlari menjauh. Tidak peduli seperti apa perasaan Atobe yang sudah berusaha menghiburnya, tapi justru hanya menjadi tempat pelampiasan amarah.
"Semoga dia dapat menangkap kata-kataku barusan ya, Kabaji?"
"Usu!"
Shishidou tidak langsung pulang dan justru singgah di sebuah taman dekat sekolah. Di sana dia berteriak untuk meluapkan kekesalan dan kesedihannya, lalu mulai menangis.
'Kenapa hidupku harus seperti ini? Kenapa mereka tidak suka membiarkanku merasa senang?! Apa yang bisa aku lakukan sekarang?'
Shishidou melempar topinya ke atas tanah dengan sekuat tenaga. Dia merasa bahwa mimpinya selama ini sudah hancur.
Angin sore pun berhembus kencang. Membuat topi biru berguling di atas tanah hingga menabrak si lelaki yang masih menitikkan air mata. Saat itulah Shishidou menyadari sesuatu, bahwa dia masih memiliki satu kali lagi kesempatan. Dan kali ini, benar-benar tidak boleh dia sia-siakan.
'Chou…'
