Dengan cepat, Shishidou melangkahkan kaki menuju rumah. Dia sudah memutuskan untuk menggunakan permintaan terakhirnya.
Dengan tidak sabar, Shishidou berlari setelah melepas sepatu dan tidak sadar telah membanting pintu kamarnya. "Chou! Sudah kuputuskan! Aku akan menggunakan permohonan terakhirku untuk menjadi anggota regular! Chou!"
Akan tetapi, Shishidou tidak mendapatkan jawaban langsung karena tampaknya Choutarou sedang tertidur. Meski merasa tidak sabar, tapi dia tidak akan tega membangunkan teman kecilnya itu.
Akhirnya, Shishidou memutuskan untuk duduk di atas kursi dan menunggu Choutarou hingga terbangun. Tanpa memikirkan bahwa dia harus mandi dan makan, dia terus duduk tanpa mengubah posisi.
Choutarou mengerang pelan. Shisihdou sedikit tersentak karena mengira teman kecilnya sudah bangun. Tapi, si peri berambut perak tampak masih tidur dengan pulas. Saat itu Shishidou sedikit menangkap sebuah keanehan. Sepertinya keadaan Choutarou terlihat memburuk. Saat disentuhpun dapat terasa bahwa temannya itu ternyata sedang demam tinggi.
Shishidou pun menyobek sedikit tisu dan menaruhnya pada dahi Chou setelah dibasahi oleh air. Dia sesaat berdoa agar temannya dapat segera membaik, karena setelah itu dia baru bisa meminta Choutarou untuk mengabulkan permohonannya.
Meski masih merasa kesal, tapi Shishidou berusaha keras untuk menahan emosinya. Akhirnya dia memilih untuk menenangkan pikiran dengan menuju kamar mandi. Namun, tiba-tiba kakinya terbelit tali tas hingga membuatnya harus terjatuh. Isi tas pun berhamburan dibuatnya dan tentu saja berhasil membuat emosi si pemilik kembali meledak.
"Argh! Kenapa harus di saat seperti ini?!" gerutunya sembari merapikan barang-barang yang tercecer.
Saat itu, Shishidou mendapatkan sebuah note aneh yang entah kapan ada dalam tasnya. Dia tidak merasa pernah memiliki note berwarna hijau kusam seperti itu. Dan sepertinya tidak mungkin ada yang salah memasukan karena tas miliknya selalu disimpan terpisah di sudut ruangan club.
Pada awalnya Shishidou merasa tidak peduli, hingga dia membaca tulisan pada halaman pertama buku kecil tersebut. 'Peri dan rahasianya'. Dia langsung sadar bahwa mungkin tulisan dalam note itu akan membicarakan tentan Choutarou. Alhasil, perhatiannya dapat langsung tersita.
Sudah sejak lama cerita tentang peri tersebar di mana-mana, namun tidak pernah ada yang mempercayainya, begitu pula denganku. Hingga akhirnya aku mulai percaya setelah salah satunya mendatangiku tiba-tiba. Sejak hari itu kami berteman dan bertukar banyak cerita. Teman periku itu pun mulai menceritakan banyak hal mengenai dunianya. Dan semuanya akan aku ceritakan dalam buku ini.
Shishidou membaca halaman demi halaman yang ada. Dia seakan lupa segalanya karena terhipnotis oleh buku usang yang entah milik siapa. Terutama pada halaman terakhir yang ada, di mana si penulis menjelaskan mengenai peri dan permohonan.
Semua peri terlihat seperti manusia, selain ukuran dan sayap yang ada pada punggunnya. Mereka pun tidak sekuat yang digambarkan dalam film. Namun, sebenarnya mereka memiliki sihir yang sangat menakjubkan. Semua peri memiliki kemampuan untuk mengabulkan permohonan sebanyak tiga kali. Akan tetapi, teman periku berkata bahwa mungkin semua peri tidak memiliki keinginan untuk menggunakan kekuatan tersebut, karena mereka harus menyerahkan sesuatu yang besar sebagai gantinya. Itulah kenapa mereka takut bertemu dengan manusia yang mungkin akan menggunakan hal tersebut untuk sesuatu yang salah.
Lalu, aku pun bertanya pada teman periku tentang hal apa yang akan terjadi jika mereka menggunakan kekuatan tersebut. Dan dia berkata, mengabulkan permohonan sama dengan memberikan separuh dari kehidupannya. Itu berarti, jika seorang peri sudah menggunakan ketiga permohonan tersebut, dia akan mati.
Note kecil terlepas dari genggaman Shishidou dan langsung jatuh ke atas lantai. Dia sudah melupakan keluh kesahnya sejak tadi, namun kali ini berganti menjadi sebuah penyesalan. Matanya melirik ke arah Choutarou yang tampak semakin pucat. Kini dia sadar bahwa sakit Choutarou sepertinya disebabkan oleh dua buah permohonannya selama ini. Bahkan dia merasa menyesal telah menukar sebagian nyawa dengan sebuah topi yang bahkan tidak lebih berharga.
Tubuh Shishidou langsung ambrug ke atas lantai. Dia merasa lemas dan bersyukur tidak menggunakan permohonan terakhirnya dengan gegabah. Dengan cepat, dia kembali meraih buku kecil yang belum selesai dibaca. Berharap dapat menemukan tulisan yang bisa membuatnya lebih tenang. Namun, justru sebaliknya. Si penulis berkata kondisi si peri tidak akan membaik setelah menggunakan kekuatannya meski hanya satu kali. Itu berarti, Choutarou akan terus terlihat menyedihkan seperti saat ini.
"Shishidou san…" panggil Choutarou dengan suara lemas.
"Chou? Kamu baik-baik saja?"
"Iya," jawab si peri sembari berusaha tetap tersenyum. "Shishidou san… menangis lagi?" tanyanya dengan polos.
"Ti-tidak… aku…" entah kenapa rasa sedih kembali menyeruak. Kini Shishidou kembali tidak bisa membendung emosinya yang bercampur aduk. Bahkan dia berhasil membuat lelaki mungil di hadapannya terlihat sangat bingung.
"Maaf aku terus tertidur sejak tadi. Tapi aku tahu apa yang bisa membuat Shishidou san bahagia. Aku akan mengabulkan keinginan Shishidou san selama ini untuk menjadi anggota regular."
"Tidak! Jangan!"
"Kenapa? Bukankah ini yang Shishidou san inginkan selama ini?"
"Iya. Tapi tidak akan aku biarkan kamu mengorbankan nyawa hanya untuk mewujudkannya."
"Shishidou san…"
"Aku tahu semuanya… tentang kekuatanmu dan apa yang akan terjadi jika kamu mewujudkan ketiga permohonanku…"
"Ta-tapi… aku tidak apa-apa. Aku merasa senang jika bisa mengabulkan keinginan Shishidou san. Bahkan jika harus mati…"
"Tapi, jika seperti itu justru aku tidak bisa senang! Mana mungkin aku rela kehilangan seorang teman hanya demi status yang seharusnya aku perjuangkan dengan tenaga sendiri?!"
Kini Choutarou pun tidak bisa untuk menahan tangis. Air matanya mulai menetes membasahi tisu yang ada di bawahnya. "Ini pertama kalinya ada yang menganggapku teman," ucapnya pelan. "Selama ini aku selalu terasing dan tidak ada yang mau berteman denganku. Bahkan keluargaku pun mengusirku hanya karena aku berbeda." Choutarou memegang rambut peraknya yang tidak lagi bersinar seperti sebelumnya. "Tapi aku senang Shishidou san menyebutku teman."
"Oleh karena itu, aku mohon, jangan korbankan nyawamu untukku."
Choutarou tersenyum manis. "Tapi, bagaimanapun keadaanku tidak akan pulih seperti semula."
"Gunakan saja permohonan terakhir itu untuk memulihkanmu."
Si peri berambut perak menggeleng. "Aku tidak mau. Aku lebih baik mati jika harus tetap hidup tapi melihat Shishidou san masih terus menangis dalam tidur…"
"Jangan berkata seperti itu?!"
"Meski Shishidou san membantah. Tapi, aku akan tetap mengabulkan keinginanmu meski tanpa dipinta!"
"Jangan keras kepala!"
"Maaf, Shishidou san…"
"Baiklah, tunggu! Aku akan menggunakan permohonan terakhirku. Tapi aku memiliki permohonan yang lain!"
