Asunadia-tan : hehe…ini udah di lanjut kok. Maaf kalau kurang keren ya. Makasih udah review ^_^
Naomi Koala : siapa ya? Natsu bukan ya? Hmmm pokoknya itu adalah monster yang jahat. Yang mau bunuh anak Lucy siapa? Pokonya orang yang sangat menginginkan kekuatan Lucy. Natsu kemana saat hari penting Lucy? Natsu ada di rumahku kak Naomi hehe XD... terimakasih atas reviewnya udah aku lanjut nih, tapi maaf kalau kurang bagus.
Fic of Delusion : Emang kalau seandainya benar Natsu kenapa kak? Hihi terimakasih atas reviewnya ya kak. XD
Chapter 1
.
.
"BERSIAPLAH UNTUK MELIHAT POTONGAN TUBUH ANAKMU SENDIRI!" pisau itu melesat.
"TIDAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKkkkk….."
.
.
Demon blood
Rate : T
Genre : Family/Supranatural/Romance/Tragedy
Chara : OC, Lucy H, Natsu D.
Fairy Tail murni milik Om Hiro Mashima, saya hanya meminjam beberapa karakternya saja tanpa mengambil keuntungan apapun.
A Fairy Tail Fanfic by Aimi Uchiha Dragneel
Warning ! Gaje? Iya, abal? iya, Flat, Diksi yang berantakan, mengandung unsur borring, dan kekurangan lainya.
Don't Like? Don't Read.
.
.
.
Happy Reading :) :)
"Tiiidaaaakkkkk…."
.
.
"hyaaaaaaaaaaaaaaaaaa….."
Wussshhhh…. grep
"huh?" si pria terkejut. Begitupun dengan Lucy. Bayi di genggamanya menghilang? Siapa yang?
"fyuh…hampir saja…" ucap si penyelamat. Ia berhasil mengambil-alih bayi itu dari genggaman musuh.
"Hap…ppy!" ternyata sang penyelamat itu adalah si exceed biru, Happy.
"Lucy, siapa orang itu?" Tanya Happy. Ia menatap tajam pada Pria yang hampir membunuh anak sahabatnya.
"uh… kucing sialan! Darimana datangnya?!" ujar pria itu. Ia tak menyangka ada yang mengganggu aksinya. Apa yang di lakukan Happy kini membuatnya geram. Dengan secepat kilat si pria berpindah ke belakang Lucy yang bersimpuh lalu menarik dan menjambak erat rambutnya membuat Lucy melenguh kesakitan.
"uugghhh…." Lucy meronta-ronta.
"LUCY!, apa yang kau lakukan pada Lucy? Lepaskan dia!" teriak Happy. Ia sangat ingin menolong Lucy tapi sialnya ia tidak bisa meninggalkan bayi Lucy yang tertidur pulas di gendonganya begitu saja.
Pria asing itu menyeringai " khukhu…ini mudah..lihat ini, Lucy Heartfilia", pria itu menjentikan jari lalu dengan santainya mengucapkan-
"-Poison Cage" dan munculah sebuah sangkar besi berwarna hitam pekat mengurung Happy.
"oh! Jangan dianggap remeh. Kau harus tahu setiap permukaan besi itu terlapisi oleh racun yang berbahaya. Sedikit saja kau mencoba menyentuhnya pertama-tama kulitmu yang akan melepuh kemudian racun akan menyebar keseluruh jaringan sel didalam tubuhmu dan menghancurkanya secara perlahan. Akupun bisa membuatnya elastis" kembali si pria menjentikan jarinya dan membuat sangkar tersebut menyempit hingga dua jengkal lagi menyentuh tubuh Happy.
Lucy tersentak.
"bagaimana? bukankah aku sudah berbaik hati memberikanmu pilihan? Jadi, apa keputusanmu?" pria itu kemudian melepaskan cengkramanya, lalu berjongkok dihadapan Lucy. Ini merupakan kesempatan bagi Lucy, dengan sisa-sisa tenaga yang ia kumpulkan ia menendang si pria hingga tersungkur jauh kebelakang. Lucy tak berhenti begitu saja, dengan cepat ia memungut pisau si pria yang terjatuh dan bersiap untuk melayangkan sebuah tusukan, namun tanpa disangka tubuhnya terbanting keras hingga menghantam tembok. Tak berhenti sampai di situ sebuah rantai tiba-tiba muncul dan melilit kencang kedua pergelangan tangan serta kakinya, mengunci seluruh pergerakannya.
"ughhh…" Sakit. Tubuhnya puluhan kali lipat lebih sakit lagi, tulang-tulangnya serasa remuk, mulutnya memuntahkan darah segar. Ternyata barusan adalah serangan dari si pria yang marah karena perlawanan yang dilakukan Lucy yang tak di duganya.
"LUCY! Gaahhh…!" mustahil, pria itu terlalu cepat. Tampaknya Happy juga menerima akibat dari kemarahan pria itu. Ia mengerang kesakitan akan serangan yang tak kasat mata. Sekuat apa sebenarnya orang itu?
"hap..pyh.." Lucy mendongak melihat sahabatnya di siksa oleh iblis gila itu. Terlebih bayinya… Kini matanya mulai berkaca-kaca, ia tak tahu apa yang akan terjadi jika terus seperti ini.
"sebaiknya menyerah saja wanita sialan! Kau tinggal mengikutiku saja. Maka teman-temanmu itu akan selamat!"
"a..pah yang… sebenar..nya ka..kau ingin...kan dari..ku? hah…hah.." ucapanya terputus-putus, ia bahkan sudah terlalu lelah untuk mengucapkan sepatah kalimat.
Si pria menghentikan aksinya.
"kekuatanmu. itu saja" ujarnya.
"u..untuk apa?" tanyanya lagi.
"akan ku jelaskan nanti. Sekarang kau ikut denganku dan semuanya beres. Aku juga sudah membawakan semua spiritmu. Dan resikonya kau tidak akan pernah bisa kembali" Ucapnya. Ia lalu mendekati Lucy dan mengulurkan tanganya.
Lucy menatap tangan yang terjulur di depanya. Pikiranya berkecamuk rumit. Apa yang harus ia lakukan? Saat ini Ia baru saja berbahagia atas kelahiran putrinya tapi kenapa saat ini juga ia harus membuat keputusan bahkan sebelum ia meyentuh putrinya untuk yang pertama-kali?. Setetes air mata jatuh menuruni pipinya. Menangis. Matanya terpejam, di pikiranya terngiang-ngiang suara itu. Seseorang yang saat ini amat ia butuhkan keberadaanya.
"Lucy, berjanjilah padaku untuk tidak menangis lagi ketika menghadapi masalah. Apapun masalahmu kau tidak sendiri, pasti teman-teman akan menolongmu"
'dimana teman-teman?, apa mereka kalah semudah itu?'
'lalu kau dimana?, jika kau dalam keadaan yang sama sepertiku, apa yang akan kau lakukan? Menyedihkan. Kenapa aku lemah seperti ini?, padahal aku sudah berjanji padamu untuk tidak mudah menangis. Tetapi aku.. tidak bisa. Untuk saat ini, tak ada yang bisa kulakukan lagi. Keselamatan mereka ada di tanganku, aku…maafkan aku…hiks…maafkan aku… aku harus pergi"
"baiklah…tapi, aku meminta satu hal"
"apa itu?"
"Tolong, hiks…tolong… biarkan aku melihat wajah anakku untuk yang pertama kalinya" ia memohon.
Si pria tersentak melihat wajah Lucy yang sedari tadi selalu melihatnya tajam dan penuh amarah kini tengah memohon dengan raut wajah berurai air mata.
"baiklah, kau hanya punya waktu lima menit dari sekarang" akhirnya ia memperbolehkan Lucy, kemudian melepaskan mantra kurungan dan dengan kekuatan sihirnya ia mendekatkan Happy yang masih menggendong sang bayi ke hadapan Lucy.
Kini ia dapat melihat dengan jelas wajah dari malaikat kecilnya yang tengah tertidur dengan pulas tanpa tahu keadaan di sekitarnya, sangat kontras. Wajahnya terlihat polos dan damai. Di saat dengkuran halusnya terdengar seperti nyanyian indah di telinga wanita yang menatapnya. Lucy tersenyum lemah.
"kirei da ne, tottemo…"ucapnya lirih.
Oh lihat! sekarang dia menggeliat, terlihat sangat menggemaskan. Lucy pun terpana di buatnya. Ia jatuh cinta pada pandangan pertama.
"ohaiyou, mama wa koko da yo" Lucy mencoba untuk menyapa sang buah hati. Nadanya bergetar namun senyumnya tetap tak memudar. Ia menatap lekat-lekat.
Di bawah pantulan sepasang karamel sang bunda, tampaklah wajah bulat mungil kemerahan dengan garis mata, hidung, pipi serta bibirnya yang terlihat sangat mirip seperti dirinya. Mungkin boleh dikatakan bahwa ia bagai penggambaran Lucy versi kecil. Namun tidak bagi sejumput rambut halus yang tumbuh di atas kepalanya, warnanya terlihat berbeda dengan yang dimiliki Lucy. Itu sedikit… merah muda? Lucy terkekeh kecil kala mengingat. Baiklah, tentu saja warisan dari sang ayah, kalau bukan siapa lagi? Namun wajahnya kembali mengukir ekspresi kesedihan. Mendalam. Sadar akan waktu yang mengejar ia mengeluarkan kata-kata-
"ne, tidurmu pulas sekali ya?" ia mengusap bulir-bulir air disudut matanya. Menyingkirkan bukti dari ketidak-ikhlasan akan keputusannya. Kemudian mengukir sebuah senyum lembut.
"Nashi, mulai sekarang itu adalah namamu. Dengarlah nasihatku, nak. Kau tidak boleh memilih makananmu, makanlah yang banyak dan tumbuhlah dengan baik dan sehat….., jadilah kuat…. bertemanlah…tak perlu banyak asalkan mereka menyayangimu dan dapat kau percayai, cintailah guild, hormatilah master dan orang yang lebih tua serta hargailah nakamamu, bermimpilah…, berusahalah menggapai mimpi-mimpimu dan pantang menyerah… hiks…hiks.." air matanya kini mengalir deras dan tak dapat di bendung lagi.
"lucyyy…" Happy pun tak dapat berkata-kata melihat sahabatnya.
"Nashi…. Mulai sekarang dalam hidupmu pasti akan banyak rintangan, memang tidak mudah tetapi ingatlah sesulit apapun rintangan itu kau harus yakin bahwa kau bisa menghadapinya, katakanlah pada dirimu sendiri bahwa kau tidak takut dan kau akan selalu bersemangat, kau akan menang. Tertawalah, tersenyumlah, tempatkan dirimu dalam keceriaan. Mama…hiks…mama ingin memelukmu, menyanyikan lagu pengantar tidur disetiap malamnya, mengawasi pertumbuhanmu secara langsung, kita bisa berkumpul bersama, bercanda tawa dan berbagi cerita bersama. Oh tidak...hanya membayangkan saja membuat mama sangat bahagia…" tubuhnya mulai berpendar mengeluarkan cahaya keemasan begitu pula dengan si pria yang membuka portal sihir di atas mereka. Lucy menatap tanganya, 'waktunya telah tiba' dalam benaknya. Sekali lagi ia menunduk pada putrinya.
" Nashi….Mama…ingin berada di dekatmu….disampingmu selalu… hiks… Mama…Mama ingin bersamamu lebih lama lagi…lebih…lebih lama lagi..hiks..hiks.." tanganya ia julurkan hendak menyentuh permukaan kulit wajah putrinya namun urung, ia tarik lagi. Ia merasa tidak boleh mengotori wajah bening sang buah hati dengan tanganya yang berdarah dan berbau amis. Dan ia kemudian mendongak menatap si exceed biru kesayangan guild yang juga balik menatapnya dengan raut muka tak jauh beda dengan Lucy.
"Happy… berjanjilah padaku untuk menjaga Nashi dikala aku tak ada. Dan satu hal lagi…"
Lucy terus berbicara pada Happy, menghabiskan sisa waktu yang berjalan. Sementara si pria masih setia menunggu.
"kau harus berjanji, sebagai sahabatku, ne?"
"tapi Lucy-" Lucy segera menekan mulut Happy dengan jari telunjuknya sembari menggeleng, ia tak mengijinkan Happy melanjutkan kata-katanya.
Portal itu mungkin menyambungkan dimensi ini dengan dimensi lain. Tubuh mereka semakin bersinar, perlahan-lahan memudar menipis bagai debu peri. Portal perlahan menyerap cahaya yang berpendar dari tubuh Lucy dan pria yang hendak membawanya. Inilah saatnya…
"Nashi…" air mata terus mengalir deras menganak sungai di pipinya.
"Nashi…" sekali lagi. Lucy mengukir senyum sebagai tanda.
Cahayanya semakin bergerak keatas. Waktunya telah tiba… saatnya ia benar-benar pergi… meniggalkan nakama beserta putrinya…
"Mama sayang padamu.."
Dan akhirnya lenyap sempurna menyisakan sebuah kalimat dengan suara bisikan.
Aishiteru yo, Nashi…
-to be continued-
Aku tak dapat berkata-kata lagi. Ini sangat…. Absurd?
Ohya bagi sesama umat muslim selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan. ^_^
Review please?
