synstropezia : haha aduh sabar…sabar… wah ekspektasi kamu bagus juga tuh, mereka akan saling jatuh cinta? Mungkinkah itu Natsu? Hmm…jawabnya ada~diujung langit~*plak! ikutin aja ceritanya ya XD thanks for your review. Yosh here is chap 2 nya! Maaf kalo jelek~

Aoki Shiki : haha sabar-sabar kak Aoki…. :v Mengenai keberadaan Natsu nanti juga akan ketauan di chap2 selanjutnya hehe.. arigatou gozaimasu atas review nya!

ACKeeiluen : woaahh *o* terimakasih sudah penasaran kak, insyaallah akan di perpanjang kok, tapi tergantung mood dan review hehe. Nah ini chap 2 nya, maaf kalo jelek…

Naomi Koala : maaf, tapi panjangnya emang segitu sih. akhirnya ada yang nyadar juga XD. Soalnya waktu ngetik kebetulan pas nonton adegan itu… ceritanya mah terinspirasi gituuu XD (*halaah bilang aja plagiat). Oke ini chap 2 nya, semoga gak bikin kaka bosen~

Fic of Delusion : woah? Mempercepat buka puasa? Hmmm…bisa jadi..bisa jadi… oke, ini kelanjutanya,kak . Jangan bosen2 ya bwt baca fic2 aku ^_^

Happy Reading :) :)

.

.

Chapter 2

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sembilan tahun kemudian

.

.

.

.

.

.

Magnolia X 805.

Siang itu, langit tampak biru cerah, barisan kapas putih tipis tampak berarak-arak menghiasi cakrawala, semilir angin lembut khas musim panas membelai permukaan kulit menjadikan sensasi peredam hawa panas yang dipancarkan sang mentari. Beberapa manusia terlihat lalu-lalang di jalanan kota yang penuh dengan bangunan tinggi, mereka saling bergerak untuk melaksanakan aktivitasnya masing-masing. Dari sudut alun-alun kota, apabila kita menengok ke arah barat, maka akan tampaklah dari pandangan mata sebuah bangunan megah yang berdiri kokoh di atas bukit. Di puncak bangunannya terdapat bendera dengan simbol peri berekor. Ya, bangunan tersebut merupakan sebuah guild penyihir paling terkenal seantero Fiore, Fairy Tail.

Mari kita tengok keadaan di dalamnya.

.

.

.

.

.

.

.

Brakkk!

"NANIIIIIIIIIII?... coba katakan sekali lagi, Irongirl!"

"Kubilang kau sangat BERISIK, Pantat api gendut!"

"APA! NGAJAK BERANTEM HAAAHH?!"

"Sigh...! Siapa takut. SINI KAU, PINKY JALANG!"

"hyaaattt…"

"hyaaattt…"

Seperti sudah menjadi tradisi turun temurun bahwa setiap harinya guild ini selalu ramai dan ricuh oleh anggotanya. Bila ada yang bertanya kenapa? maka jawabanya adalah bukan Fairy Tail jika tidak berisik, walau mendapat predikat guild nomor wahid tetap tak dapat mengubah apa yang sudah menjadi kebiasaan. Tak jarang furniture guild-lah yang menjadi korban kehancuran.

Contohnya dua bocah cilik yang berbeda warna rambut di atas, begitu asyik dengan kegiatan jambak-menjambak rambut masing-masing lawanya sambil melontarkan berbagai kata-kata ejekan yang tak enak di dengar.

"Melihat mereka begitu rasanya seperti nostalgia, benarkan Happy?" seekor exceed cantik berwarna putih berujar pada exceed lain di sampingnya.

"Aye!, seperti déjà vu dengan tokoh yang berbeda tapi tetap membawa kepribadian yang sama" balas exceed yang di ketahui bernama Happy tersebut. Ia memasang senyum tipis melihat dua tersangka yang mereka bicarakan.

"Um!, dan kelihatanya mereka tidak sadar bahwa sebentar lagi akan terjadi sesuatu pada mereka" exceed putih bernama Charle berdalih disertai dengusan.

Tiba-tiba…

Bletak ! Bletak !

"Aww!/Ittai!"

"Yamero ga omaetachi!" suara alto menggelegar menggetarkan gendang telinga kedua bocah sibuk bertengkar itu.

"Lihat! belum juga dua detik aku bicara, benarkan apa yang kukatakan?" Ujar Charle menaikan alis meminta persetujuan pada lawan bicaranya, Happy.

Happy menaggapi dengan tawa, "Aye! Intuisimu selalu tepat, Charle. Hahaha"

Kembali ke dua anak yang tadi di bicarakan, mereka sedang terduduk merintih kesakitan sambil mengusap-ngusap kepala yang mendadak tumor sementara akibat dipukul seseorang. Dan pelaku penganiayaan tersebut adalah—

"Master…" ujar anak berambut biru gelap dan memakai bandana hitam. Tubuhnya bergetar melihat glare legendaris dari orang yang di panggil master tersebut.

"Aduuuhh…. kenapa engkau kejam sekali sih, Nek?" si anak bersurai soft pinky merenggut seraya menggembungkan pipinya imut. Sekali lagi ia tak menyadari bahwa orang yang ia panggil 'Nek' itu tengah berancang-ancang untuk memberikan bonus ciuman menyakitkan padanya lagi dan—

Bletak!

"Ittaiii…" dua kali lipat benjolan berukuran bola ping-pong tumbuh di atas kepala bersurai pinknya.

"Sudah kukatakan berkali-kali padamu, jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi!"

Sadar akan aura seperti algojo yang akan mengeksekusi tahanan, anak korban penjitakan maut tersebut menciut seketika, "A..aye Master…"

Sang master menghela nafas kasar sambil memijit pelipisnya pelan. Ia tak habis fikir dengan kelakuan bocah-bocah tengil ini, padahal mereka berdua adalah anak gadis.

"haahhhh….., dari pada kalian ribut seperti ini, lebih baik kalian membantu yang lain mendokarasi ruangan. Nanti sore acara ulang tahunya akan segera di mulai" Perintah mutlak dari sang master demi melerai perkelahian tidak penting yang terjadi diantara dua anak asuhanya.

"Aye Master!", "Akan segera kami laksanakan, Master!" Keduanya berseru semangat seraya menempelkan satu ujung tangan di kening layaknya prajurit sedang hormat pada pimpinananya.

'Cihhh…mendokusaiii..'

.

.

.

.

.

Nashi PoV

Cihhh… mendokusaiii…

Nenek-nenek itu selalu saja seenaknya menyuruh-nyuruh ini dan itu, pantas saja mukanya cepet kerutan hahaha.

Oh iya. Perkenalkan namaku Nashi, Nashi Dragneel. Dari namaku saja kalian sudah pasti tahu siapa orang tuaku. Benar, aku anak dari Natsu Dragneel dan Lucy Heartfilia. Orang-orang guild mengatakan bahwa aku adalah anak dari dua orang yang hebat, anak pahlawan.

Pahlawan…. ka? Sebutan bagi orang yang menyelamatkan nyawa orang lain dengan mengorbankan nyawanya sendiri?.

Cihh… Bagi diriku sendiri aku tidaklah lebih dari seorang anak yatim piatu. Faktanya aku tumbuh tanpa kedua orangtua disampingku, aku di besarkan oleh paman Happy beserta nenek Polyuchka. Aku dapat tahu wajah mamaku hanya dari selembar foto usang yang bahkan hampir terbakar pinggirannya, dan mengenai papa…. aku tak tahu sama sekali seperti apa rupanya.

Jika aku boleh memilih, daripada menjadi seorang anak pahlawan aku lebih memilih menjadi anak petani biasa dan bisa hidup bahagia lengkap bersama kedua orangtuaku yang masih hidup. Tapi itu hanya harapan kosong yang tak akan pernah terjadi. Jika aku bertanya pada siapapun di guild 'Dimana mama dan papaku berada?' aku selalu mendapat jawaban yang sama 'Mama dan papamu sedang mengawasimu di surga' setiap kalinya, bahkan disaat aku belum mengerti sama sekali apa arti surga yang sebenarnya.

Kini aku sudah berumur sembilan tahun. Rambutku pun sudah memanjang hingga mencapai pinggangku, dan selalu ku kepang dengan rapi. Kata kak Wendy aku sangat manis seperti mama, membuatku bersyukur akan hal itu. Tapi sifatku sama seperti Papa. Hahaha…. kalau aku menilai diriku sendiri, apa benar Papa sepertiku? Aku tak bisa membayangkan seorang pria tua seperti dia bertingkah layaknya diriku? Seperti sering berkelahi, berbuat rusuh, suka makan dengan rakus, dan suka menghancurkan bangunan apabila sedang bekerja? Aku geli sendiri setiap kali menkhayalkanya.

Ah, sekarang aku harus bergegas. Aku akan membantu mempersiapkan kejutan ulang tahun salah satu nakamaku, Julian Fernandes. Dia adalah putra tunggal Master dengan paman Jellal. Ngomong-ngomong soal paman, hari ini dia akan segera datang kesini. Nenek Erza dan Paman Jellal masing-masing menjabat sebagai seorang master. Nenek adalah master disini sedangkan paman adalah master di guild Crime Sorciere. Tak mengherankan bahwa mereka bertugas di tempat yang berbeda membuat mereka terpisah, tapi Julian sendiri memilih untuk tinggal disini bersama ibunya.

Cukup lama aku melayangkan pikiranku hingga aku merasakan sebuah tepukan pelan di bahuku.

"Nashi" aku tersadar dari lamunanku. Ku menoleh dan kudapati seorang wanita berambut silver bergelombang yang sangat kukenal tengah tersenyum kepadaku.

End of Nashi PoV~

"Ah, bibi Mira. Ada apa?"

"Bisa kau bantu di sebelah sana?"

"Aaa, baiklah"

IXIXIXIXIXIXI

Tap…tap..tap…sreg.

.

.

"Lama tak jumpa—

—kawan"

"Apa tujuanmu datang kesini?"

"Untuk mengunjungimu"

"Jangan membuang waktuku"

"Baiklah, kekuatanku sudah kembali dan aku datang kesini untuk mengingatkanmu sesuatu"

"Sesuatu?"

"Ternyata benar kau sudah lupa. Ya, suatu rencana yang besar. Tidakkah kau merasa bosan berdiam diri di gua terus?"

"Kau juga diam di gua"

"Kalo begitu bagaimana dengan menghirup udara segar sambil sedikit 'berburu'?"

"Tak ada yang perlu diburu"

"Oho? Apa kau lupa? Mereka masih hidup. Dan aku masih menyimpan rasa hausku pada mereka. Kau tahu? Bahkan aku bisa merasakanya, jumlah mereka bertambah"

"Hn"

"Oh lihatlah! Karaktermu berubah, tidak sama seperti saat pertama kali kita berhadapan. Sekarang aku terkesan lebih cerewet darimu."

"…."

"Karena ulahmu aku harus memulihkan diri selama sepuluh tahun. Kau tahu? Kini tanganku gatal ingin segera 'mencakar' mereka, bagaimana?"

.

.

.

.

.

"…..Hn, kedengaranya menarik"

IXIXIXIXIXIXI

"Happy Birthday to you…Happy Birthday to you…Happy Birthday..Happy Birthday…Happy Birtday to…you…"

Para anggota guild bertepuk tangan sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun, ditutup dengan tiupan pada lilin berbentuk angka satu dan nol oleh anak lelaki berambut merah setelah sebelumnya membuat sebuah permohonan 'kuharap kami semua bisa bahagia selamanya' dalam hati.

"Nah, Julian. Potongan pertamamu akan kau berikan pada siapa?" seorang wanita berambut Navy-blue bertanya.

"Tentu saja Kaa-san dan Tou-san" ia memotong sedikit bagian dari kue tart kemudian langsung menyuapkanya ke mulut wanita berambut Scarlet dan Pria berambut Azure disampingnya. Kelakuan putra mereka membuat kedua orang dewasa itu tersentak namun tak bertahan lama keduanya langsung melontarkan tawa senang.

"Selanjutnya, siapa yang ingin kau beri, Julian?" kini giliran wanita berambut scarlet, ibunya Julian yang bertanya. Dengan wajah kalem, anak tampan itu kembali memotong sedikit bagian kuenya lalu mendongak menatapi satu persatu wajah para anggota guild. Senyum tipis terukir di wajahnya, anak laki-laki pengguna sihir surgawi itu kemudian beranjak dari tempat semula dan berjalan menghampiri seseorang.

"Ini untukmu, Nashi" ucapnya dengan nada rendah seraya menyodorkan potongan kue yang dibawanya ke hadapan gadis berambut pink.

"Eh?" si gadis terkejut, matanya mengerjap-ngerjap, pipinya tiba-tiba mengeluarkan semburat merah. Ia dengan segan-segan menerima uluran kue itu dari tangan si pemberi.

"Te-terima kasih" ucapnya agak gugup. Semua orang yang menyaksikan adegan mereka sontak berseru "Deeekiterrrrrruuuu….." secara serempak. Yang disoraki mengukir wajah sebal, terutama Nashi sendiri, ia benci digoda-goda seenaknya seperti itu. "Urusai!" pekiknya mengundang tawa renyah dari seluruh anggota guild. "Kyaaa…Freshpair..!" teriak Mirajane gembira, sepertinya penyakit comlang-nya mulai kambuh walau umur sudah mencapai kepala tiga.

"Heh, Naaani? Terdengar konyol" komentar santai dari seorang anak lelaki berambut biru donker, ia tampak tak tertarik akan topik tersebut terlihat dari sikapnya yang hanya memangku tangan di depan dada.

"Ravy, bajumu"

"Gyaa! Shimatta..!" Dialah Ravy Fullbuster, anak dari sang Mage ice sekaligus Devil slayer yang disegani yakni Gray Fullbuster bersama penyihir air terkuat Fairy Tail, Juvia Lockser. Seperti kata pepatah buah jatuh tak jauh dari pohonya, hoby Ravy sehari-harinya adalah Topless. Hampir seluruh gen milik ayahnya dominan di diri Ravy termasuk wajah, rambut, kebiasaan hingga abilitynya, hanya matanya saja yang menjadi turunan dari sang ibu, entah kenapa bisa seperti itu.

Adapun seorang anak lelaki yang menegur Ravy barusan bernama Jimmy Redfox, ia merupakan putra dari pasangan Dragon slayer besi Gajeel Redfox dan penyihir Solid script, Levy McGarden. Penampilanya serampangan seperti ayahnya namun membawa kecerdasan dari ibunya. Bersama kembaranya yaitu anak perempuan yang selalu bertengkar dengan Nashi, bernama Meileen Redfox.

"Saa, Minna. Untuk merayakan ulangtahun kesepuluh putraku, mari kita berpesta sampai malam!" teriak sang Master Erza.

"Yeaaahhhhh!" seru antusias seluruh anggota guild.

"Minum sepuasnya" Teriak Cana. "Pesta..pesta.." disambut ceria oleh para anak-anak.

Lalu semua berpesta, orang-orang dewasa saling bersulang, Mira bernyanyi di atas panggung, dan sebagian yang lain sedang asyik menikmati hidangan yang tersedia. Nashi tidak menyia-nyiakan moment ini, ia pun ikut terjun bersama beberapa temannya untuk menyantap makanan-makanan enak yang di sediakan diatas meja khusus.

Beberapa saat kemudian.

"Ah Nashi, aku sudah kenyang nih, aku ingin ke mama dan papa dulu ya!" ucap seorang anak yang menemani Nashi, ia adalah sahabat Nashi namanya Syrena Strauss anak gadis dari pasangan Elfman dan Evergreen.

"Um!" Nashi mengangguk. Kemudian Syrena pergi menuju kedua orang tuanya.

"Aku juga" giliran Ravy beranjak meninggalkan Nashi. "Aku juga, sepertinya sudah kenyang, kuserahkan semuanya padamu, Nashi" kini giliran Jimmy. Dan tinggalah Nashi sendiri yang masih sibuk santap menyantap.

Awalnya terasa biasa saja bagi Nashi, namun lama kelamaan ia menjadi sedikit….kesepian. Melihat teman-temanya berpesta dan bercanda tawa bersama kedua orang tua mereka…, membuatnya merasakan sesuatu yang sulit diartikan. Terasa sesak…boleh sebut itu iri.

Nashi berhenti mengunyah, ia menunduk menatap lantai. Merenung, seperti bukan tipikal dirinya. Ia sadar dirinya bukanlah balita umur tiga tahun lagi, tapi apa salahnya jika ia juga ingin tahu bagaimana rasanya dimanjakan oleh kedua orang tua kandung. Mungkin terlalu naif, namun bukankah setiap orang memiliki masalah dan keinginannya masing-masing?

Begitupun dengan Nashi. Ia iri setiap melihat teman-temannya saling bercengkrama dengan ayah dan ibu mereka, iri setiap teman-temanya mendapat hadiah-hadiah baru dari orangtua mereka, iri ketika melihat teman-temanya diajari sihir secara langsung oleh keduanya.

Selama dibesarkan oleh Polyuchka, ia hanya dilatih untuk hidup tegar dan mengerti keadaan. Sihirpun ia belajar sendiri, terkadang diajarkan oleh Wendy meski memiliki elemen yang berbeda toh mereka sama-sama seorang pembantai naga. Ya, sang ayah telah menurunkan bakatnya pada Nashi, ia adalah Dragon slayer api. Generasi ke-empat, memiliki kemampuan berdasarkan keturunan, bukan diajarkan langsung oleh naga atau ditanami lacrima. Siapa sangka Nashi yang memiliki tingkat kecerdasan lebih dapat menguasai sihirnya dengan cepat, diusianya yang masih belia ini ia sudah bisa dikatakan mahir. Meski tak ada yang tahu bahwa di dalam dirinya, bersemayam suatu kekuatan yang besar.

.

.

"Hey, Bocah api! sedang apa kau melamun terus?, menghalangi pemandangan saja"

"Bukan urusanmu, besi krempeng. Pergilah!" kini Nashi tak berniat meladeni, ia terlalu malas untuk berurusan dengan siapapun. Ia serius.

Bukanya jera Meileen malah maju dan mencengkram kerah baju Nashi "Apa? Kau..dasar pantat api!"

Nashi menggeram. Oh, ayolah, apa anak itu tidak mengerti bahwa dirinya dalam mood yang kelabu?, "Perempuan jalang" balasnya datar. "Sialan kau, Pinky murahan!" Meileen semakin mengencangkan pegangannya, tak mau kalah.

"Anak besi"

"Apa? kau menghina papa! Daripada kau…,anak mayat— hahaha…. Kau tahu, kau tak punya ORANG TUA!"

Tubuh Nashi menegang, matanya membulat.

"Meileen!" Levy segera menegur anaknya.

Meileen tertawa seolah begitu puas melihat perubahan ekspresi Nashi. Ia pikir telah berhasil memancingnya namun…, tak disangka tanganya di tepis dengan kasar. Nashi melempar tatapan tajam, bukan tatapan yang biasanya tetapi…. ini sedikit berdeda. Meileen mundur dua langkah.

Gajeel terperangah tak percaya dengan apa yang dikatakan salah satu anaknya. "Tidak, anak nakal itu sudah kelewatan"

"Nashi…," Happy menatap nanar."Meileen, kau tidak boleh berkata seperti itu pada Nashi!" Nasihat Levy pada anaknya. "Maafkan dia ya, Nashi"

Nashi tak mengatakan apa-apa lagi maupun merespon, ia segera angkat kaki ke luar, menerobos kerumunan manusia yang sedang berpesta, pergi—berlari, tak menggubris panggilan-panggilan dibelakangnya. Emosinya terlalu rumit, ia bahkan tak menghiraukan orang-orang di sisi jalanan yang menatapnya aneh sambil berbisik-bisik, entah itu apa Nashi tak ingin peduli. Perlahan air mata berjatuhan melewati pipinya, mewakili perasaan aneh di hatinya. Kesal dan kesepian.

Baru kali ini ia begitu merindukan belaian kasih sayang kedua orang yang telah menghadirkanya kedunia ini.

'Mama…Papa…'

Nashi terus berlari tanpa memperhatikan arah langkahnya. Hingga tubuh kecilnya tiba-tiba menubruk sesuatu—tidak, ia menabrak seseorang,

.

.

.

.

.

.

.

Orang itu berjengit, "Hati-hati jika berjalan gadis kec—

k—kau….!"

-To Be Continued-

Dijual… dijual…. Nashi kepal, Nashi bungkus, Nashi goreng, Nashi lemang, Nashi aking, Nashi kuning… buat sahur…buat sahur *Plakked () ohya, katanya anak Gale udah di konfirmasi kembar cewek cowok di LN, mereka unyu2 rambutnya biru semua, tp sayang aku gk tau namanya. :(

Minna, gimana chapter 2 nya? Pasti jelek ya….huwaaaaa (T_T) maafkan aku….

Kira-kira masih ada gak ya? Yang bermurah hati untuk RnR fic amatir-ku ini…