mihawk607 : gomenasai… T_T mohon dimaklumi karena author ber-otak udang ini memiliki kesulitan dalam merangkai kata-kata. Tapi aku akan berusaha kok buat memperpanjang. BTw, Ini lanjutanya, terimakasih atas reviewnya kaka~ ^_^

de-chan : iya ya? Anak gale kejam amat omonganya, mentang-metang masih punya enyak babe, seenaknya saja ngehina Nashi XD Hehehe…. ^_^ terimakasih karena udah baper kak, dan terimakasih juga sudah berusaha mereview fic abal-abalku. ini udah aku lanjut kok~ maaf kalo jelek

Naomi Koala : sebelumnya arigatou sudah mereviwviwviwview!.woaahh…. ( o ) semakin banyak pertanyaan dari kaka semakin membuat author 'moette kitta zo' untuk melanjutkan fic abal-abal ini. gihee XD. Yoosshhh! Ini udah di-update chapter 3 nya~semoga tidak mengecewakan kaka

Aoi Shiki : iya puguh :'( kesian kesian kesian…,*author_digeplak_Ipin, disini author emang sengaja mengangkat sisi perasaan Nashi (*sapa yang nanya?) XD ekhem… oke, ini udah dilanjut kak, moga-moga pertanyaan mengenai siapa yang ditabrak Nashi itu terjawab disini…Arigatou atas reviewnya ^_^

Fic of Delusion : om zeref… oohhh om zeref…. Kaukah itu yg tertabrak oleh Nashi? XD wkwkwkwkwk…yosh ini dia nashi goreng ala chap 3, monggo~ omong-omong makasih atas reviewnya ^_^

Stayawake123 : ini udah dilanjut, terimakasih sudah meriview ya, kak~ ^_^

"Hati-hati jika berjalan gadis kec—

k—kau….!"

Demon Blood

Rate : T

Genre : Family/Supernatural/Hurt/Comfort/Romance/ada unsur mystery nya juga.

Chara : OC, Lucy H, Natsu D.

Fairy Tail © Hiro Mashima

A fanfiction by Aimi Uchiha Dragneel

Warning ! Gaje? Iya, abal? iya, Flat, Typos, Diksi yang berantakan, alur kecepetan, OOC, dan kekurangan lainya.

Don't Like? Don't Read.

.

.

.

Happy Reading :) :)

.

.

.

.

.

.

Chapter 3

.

.

.

Orang yang tak sengaja ia tabrak mundur beberapa langkah, menjauh dari Nashi, "k..kau…!?" ucapnya terbata-bata.

Nashi menyeka airmatanya lalu menjawab dengan suara lirih "su-sumimasen, a-aku tidak sengaja" ia meminta maaf dengan sopan sambil berojigi. Kemudian menundukan kepala—menatap tempat pijakan.

"Hey, kau! Menjauhlah dari adikku!"

Suara baritone lain tiba-tiba menginterupsi. Seorang pria paruh baya datang cepat-cepat kehadapan Nashi—segera mengambil posisi siaga dengan tubuhnya sendiri ia gunakan sebagai tameng untuk melindungi seseorang yang ia sebut adik tadi, berlagak seolah sosok gadis kecil didepanya itu merupakan sebuah ancaman. "Apa yang coba kau lakukan pada adikku, hah?" bentaknya dengan nada geram sambil menunjuk-nunjuk kearah Nashi. Bentakan keras pria itu berhasil mengundang perhatian beberapa orang disekitar untuk menoleh kearah mereka.

Nashi mengernyitkan keningnya, ia tak mengerti kenapa pria yang baru datang itu tiba-tiba kelihatan marah kepadanya?, apa salahnya? Ia hanya tak sengaja melakukan kesalahan kecil karena menabrak seseorang, lagipula ia sudah meminta maaf.

"Kau…! Kau anak dari si pencundang itu kan?" tanyanya.

Nashi terkaget dengan ucapan si pria, "Ma-maksud pa-paman?"

"Karena ayahmulah, kami kehilangan salah satu saudara kami!" bentaknya lagi. Nada marah terdengar meluap-luap dari suaranya.

"Benar! Dia anak si Dragneel itu. Karena dia juga, aku kehilangan salah satu temanku dulu" salah satu orang yang tadinya hanya menonton tiba-tiba ikut menimpal. "Benar itu!" "Benar!" "jangan-jangan dia juga berbahaya" "pssttt…psssttt" dan di amini oleh beberapa orang lagi disekitarnya.

Nashi terlihat semakin kebingungan, "a-ku tidak…mengerti" gumamnya. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba?—

"Kau, tahu? Ayahmu pembunuh!, ayahmu membunuh salah satu saudara kami!, pergilah kau dari hadapanku, enyahlah DASAR ANAK IBLIS!" pria itu mulai melempari Nashi dengan kata-kata kasar, ditambah beberapa orang yang menuduhnya tadi membuatnya semakin terpojok. Nashi semakin menunduk dalam, hingga terlihat bayangan poni yang menutupi matanya.

Bully-an, hinaan, cacian, kini semua seakan tertuju padanya. Tak bisakah ujian berhenti datang?. Sekarang ia tahu akan alasan dibalik sikap aneh yang selalu ditujukan beberapa mansyarakat terhadapnya. Sekarang—

Telinganya memanas, bahunya terasa memikul suatu beban yang besar, pikiranya berkecamuk, emosi, amarah. Uap mendidih kini mulai merembes keluar dari setiap pori-pori kulit di sekujur tubuhnya, lalu berubah perlahan menjadi kobaran api merah yang menyelubungi. Giginya saling beradu seiring menjangnya kedua taring. Orang-orang yang menyadari perubahan itu sontak berhenti mengatai, saling memundurkan diri untuk menghindari jilatan api kemarahan Nashi.

"Mo-monster!"

.

.

Mendengar ada keributan kecil, Happy yang hendak menyusul kemana perginya Nashi beralih menghampiri sumber keributan itu. Dalam benaknya ia bertanya-tanya 'apa yang terjadi?'

Dan betapa kagetnya Happy mendapati keponakan exceed tersebut berada di tengah-tengah kerumunan dengan kobaran api menyelimuti tubuhnya.

Ia segera memanggil, "NASHI!,".

Ternyata sang empu nama yang di panggil dapat mendengarnya, terlihat dari kepalanya yang menoleh—

Degg..!

Mata Happy terbelalak, tepat saat tatapanya beradu dengan tatapan mata Nashi yang kini berubah menghitam seluruhnya. Beberapa bulir keringat Happy berjatuhan "Nashi… apa yang….?," ia pun tak dapat meneruskan ucapanya, terlalu kaget dengan keadaan yang terjadi.

Lama tak bergeming, Nashi memandang sang paman exceed dengan tatapan sulit diartikan—disamping mengerikanya tatapan gadis kecil tersebut. Namun, tak lama kemudian ia berlari dengan cepat meninggalkan beberapa orang disana yang masih merasa ketakutan, membiarkan tubuhnya kembali normal seiring langkahnya yang semakin cepat.

.

.

Sementara itu di guild. Pestanya telah usai dan beberapa orang sudah mulai beranjak meninggalkan guild untuk kembali ke kediaman masing-masing. Namun di sudut dekat meja makan tampak seorang wanita berambut biru, Levy yang masih menegur putrinya.

"Apa yang kau katakan pada Nashi tadi sudah berlebihan, Meileen!"

"Tapi mama, aku hanya bercanda"

"Candaanmu itu menyinggung perasaanya. Orangtua merupakan hal yang sensitif baginya, tidakkah kau mengerti?"

Meileen tak bisa menyangkal lagi perkataan sang ibu, ia tertunduk. "Memangnya…. dimana orangtua Nashi?" ia bertanya dengan nada pelan setelah beberapa menit bertahan dalam diam.

Hening.

"….." Levy tak serta merta menjawab pertanyaan sang anak, ia malah bungkam. Gurat kesedihan kini tercetak jelas diwajahnya.

"Levy.." suaminya, Gajeel yang sedari tadi hanya duduk terdiam kini berdiri dan menatap mata sang istri seolah memberi isyarat. Seakan mengerti maksud suaminya, Levy menghela nafas "Sudahlah… ayo kita pulang anak-anak. Dan besok, kau harus meminta maaf pada Nashi, Meileen!"

"Baik, ma!"

.

.

.

.

.

.

.

.

Suara gemericik air tenang disertai suara khas serangga di malam hari berpadu-padan memecah kesunyian. Disanalah, gadis kecil itu duduk sendiri di atas tanah berumbut ditepi sungai. Sayup-sayup terdengar suara isakan kecil dari bibir mungilnya.

Ia tak ingin membenci keadaan ini tapi, "Kenapa? Hiks…" ia bergumam. Kedua pundaknya naik turun beriringan dengan tangisanya yang terdengar pilu.

.

"Nashi…." sebuah suara familiar tiba-tiba mengusik telinganya.

Gadis kecil berambut senada bunga sakura itu menoleh dan mendapati paman exceednya, Happy sudah berada di sampingnya. Happy pun terseyum padanya. "Berhentilah menangis, Nashi" Ujarnya dengan nada lembut supaya perkataanya tidak menyakiti hati gadis kecil yang rapuh itu.

Bukanya berhenti, tangisanya malah semakin menjadi. "Huwaaa…. Paman Happy….." ia pun langsung berhambur memeluk Happy.

"Ssstt…sudahlah tidak perlu dipikirkan, mereka hanya orang-orang gila..." Hiburnya sambil menepuk-nepuk bahu gadis itu.

"hiks…hiks…" terdengar suara isakan Nashi yang teredam.

Happy tak menyerah, ia terus mencoba menghibur anak dari rekan se-timnya itu, "sudah..sudah…lupakan saja,Hey! Mau kuceritakan sesuatu yang menarik?"

Mendengar pertanyaan sang paman, Nashi melepaskan pelukanya kemudian menatap Happy dengan mata yang masih berkaca-kaca.

"Kau ingin tahu kan seperti apa ayahmu?" Tanya Happy lagi.

Nashi terdiam, tangisanya berhenti seketika tergantikan dengan suara senggukan pelan. Ia kemudian mengusap-ngusap matanya. "Hm!" balasnya di sertai anggukan mantap.

Happy kembali mengukir senyum. "Baiklah!, paman Happy si kucing tampan ini akan bercerita tentang ayahmu!" ucapnya lantang sambil membusungkan dada bergaya bak pendongeng yang hebat. Nashi pun tak dapat menahan tawanya kala melihat tingkah si paman "hahaha—dan mama juga!" tambahnya. Hebat!, anak-anak ternyata memang mudah berubah moodnya.

"Oh, tentu saja!. Pertama ayahmu, hmmm… Ayahmu itu memiliki rambut berwarna pink sama sepertimu, tapi sedikit lebih gelap dan sangat berantakan,"

"Hah? Benarkah?"

"Aye, seperti tak pernah di sisir"

"Hahahaha…"

"Lalu kau tahu? dia itu orangnya sangat bodoh, bahkan lebih bodoh sepuluh kali lipat dibanding diriku. Dia sering bertingkah konyol dan bertindak ceroboh, sifatnya seperti anak kecil terutama jika kau perhatikan perutnya seperti tak pernah kenyang. Dia juga sering mengambil bagianku, lalu bla…bla…bla…" Happy mulai bercerita panjang lebar. Nashi dengan setia mendengarkan, sesekali ia terkekeh kecil kala mendengar isi cerita pamanya itu.

.

"Namun, disamping semua kekuranganya, Natsu adalah orang yang sangat baik. Ia sangat peduli terhadap nakama dan sangat mencintai guild. Ia akan marah dan menghanguskan siapapun yang berani melukai nakama maupun menghina guildnya. Pantang menyerah, rela berkorban, bersemangat, tangkas dan selalu optimis itulah sifatnya yang lain. Keyakinannya dapat meyakinkan orang lain disekitarnya. Ia selalu berusaha melindungi terutama orang-orang yang berharga baginya, contohnya Lucy. Jika sampai ada orang yang berani melukai Lucy ia akan berkata 'Sedikit saja kau menyentuh Lucy, maka kau akan ku ubah jadi abu!', begitu" tukasnya tak lupa dengan bagian menirukan gaya bicara partnernya itu.

Mendengarnya membuat sebuah ide tiba-tiba mencuat di kepala Nashi, "Aha!, aku baru ingat!"

"Ada apa, Nashi?"

"Paman!, ceritakan padaku bagaimana Papa dan Mama bisa bertemu dan bagaimana mereka bisa saling jatuh cinta—maksudku… bagaimana mereka bisa menikah?" Nashi tampak begitu antusias menanyakan perihal itu.

"Eh?, kenapa tiba-tiba kau menanyakan itu? ," Happy menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.

"Ayolah, paman…"

Tak dapat menolak. Itulah yang bisa Happy lakukan jika sudah melihat ekspresi merajuk keponakanya itu. Happy menghela nafas, "Aye…, baiklah untuk pertemuan pertama, hmmm…. itu…sudah lama sekali, sewaktu aku dan Natsu masih muda dulu. Di kota pelabuhan, Hargeon. Waktu itu Natsu dan aku sedang dalam perjalanan mencari salamander, yaitu Igneel sang raja naga api yang mengajari Natsu sihir sekaligus ayah angkatnya."

"Ayah angkat? Berarti kakekku?"

"Aye! Jika kau memang menganggapnya seperti itu hahaha…., lalu dijalan kami menemukan kerumunan para gadis dan mendengar bahwa salamander ada disana. Langsung saja aku dan Natsu menghampiri. Eh, ternyata salamander yang dimaksud bukanlah Igneel melainkan seorang yang berpura-pura jadi salamander, siapa ya namanya? Paman lupa…hmmm…oh ya! Bur..Bor.., Ah! Bora, Bora Prominence, Si salamander palsu itu,"

"Terus? Terus?,"

"Bora Prominence menggunakan sihir Charm untuk menipu para gadis sehingga membuat mereka tertarik padanya, termasuk Lucy juga yang saat itu ada di tengah-tengah kerumunan."

"Woahh…" Nashi takjub. Sepertinya ia sudah melupakan kejadian tadi saking antusiasnya mendengarkan si paman bercerita.

"Namun kedatangan Natsu secara tidak sengaja berhasil mematahkan sihir yang mengenai Lucy. Saat itu aku belum menyadari bahwa hanya Lucy saja lho.. yang efek sihirnya berhasil terpatahkan."

Cerita Happy semakin menarik perhatian Nashi membuat wajahnya kini berbinar-binar, "Whoaaa… Apa itu semacam takdir?" Nashi meontarkan sebuah sebuah pertanyaan yang membuatHappy tertegun sejenak.

Tak lama kemudian ia tertawa dengan apa yang dikatakan Nashi, "Hahahahaha….Darimana kau tahu tentang hal itu?" ia pikir bagaimana bisa anak polos seperti dia akan mengerti tentang takdir atau semacamnya?, tapi lagi-lagi Nashi tak sebodoh itu. "Yah…mungkin." Ujarnya seraya mengendikkan bahu.

"Teruskan…! Teruskan…!" pinta Nashi.

"Baiklah. Setelah itu sebagai tanda terimakasihnya Lucy mentraktir kami makan. Lucy sangat baik walau kami baru pertama kali kenal. Namun, selesai makan kami kembali berpisah"

"Yaahhh…, tapi kalian bertemu lagi kan?"

"Aye!, malamnya ketika aku dan Natsu sedang bersantai sambil melihat kapal yang berlayar tiba-tiba kami mendengar desas-desus bahwa kapal tersebut adalah milik Bora yang mengaku-ngaku sebagai anggota Fairy Tail. Kapal itu mengangkut para gadis yang tertipu untuk dibawa dan dijadikan budak. Tentu Natsu tidak tinggal diam. Awalnya kami hanya berniat untuk memblokade Bora tapi lagi-lagi kami mendapati Lucy juga ada disana—"

"—Dan papa sekaligus datang untuk menyelamatkan mama?" Nashi menyela.

"Aye!, setelah kejadian itu kami membawa Lucy untuk bergabung dengan guild. Lucy sangat senang. Beberapa hari kemudian kami memutuskan untuk membentuk sebuah tim dan dari sana dimulailah petualangan-petualangan seru kami" Happy tersenyum disela-sela mengingat setiap petualangan yang dilalui bersama kedua sahabatnya tercinta, Natsu dan Lucy.

"Lalu mereka akhirnya saling jatuh cinta?" Nashi kembali bertanya dengan nada sarat ingin tahu.

"Heeeeh?" sweatdrop Happy. 'Ya ampun… sebegitu penasaranya kah anak ini?' Happy menggerutu dalam hati.

"Ayolah paman…ceritakan…!ceritakan…!" bujuknya lagi dengan jurus Puppy eyes andalanya. Dan mau tak mau Happy pun harus kembali menurutinya.

"Aye…, aku tak banyak tahu mengenai kisah cinta mereka walaupun aku yang paling dekat dengan mereka, tapi Lucy pernah bercerita padaku. Waktu itu ayahmu begitu bodoh. Karena kebodohanya ia jadi tak menyadari akan perasaanya sendiri pada Lucy, padahal Lucy sudah menyatakan cinta duluan saat di medan perang. Sampai suatu hari, beberapa bulan usai perang besar melawan pasukan Alvarez—"

.

.

.

~Flashback~

Magnolia X 795.

Musim dingin telah tiba, butiran salju mulai berjatuhan mengotori jalanan kota yang sudah selesai direnovasi setelah kerusakan parah akibat perang. Saat itu sudah larut malam ketika sepasang manusia terlihat baru pulang dari misi. Mereka terlambat datang ke guild dan mendapati pintunya sudah dikunci. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali berjalan menuju rumah masing-masing.

Hawa dingin menyeruak melalui keheningan yang mengiringi langkah mereka. Salah satunya wanita yang berambut pirang berjalan kedepan mendahului seorang pria berambut salmon dibelakangnya. Raut wajah wanita itu terlihat gusar, kakinya dihentakan dengan keras. Ia tak habis pikir dengan apa yang dilakukan si pria saat menjalankan misinya tadi. Menghancurkan, menghancurkan dan menghancurkan. Pria itu melempar tinjunya kemana-mana, menghempaskan raungan apinya kesegala arah, melelehkan, menghanguskan bangunan, semuanya. Sampai kapan wanita itu harus merelakan seluruh imbalan dari misi demi untuk membayar ganti rugi? Kapan sih pria itu akan bersikap dewasa? Padahal ia sangat membutuhkan uang itu, namun tak ada 1 jewel pun yang berhasil masuk ke kantong gara-gara kelakuan pria itu. Oh, ya ampun… dia benar-benar depresi.

Kesabaranya menipis, wanita itu menoleh ke belakang hendak menumpahkan kekesalan yang sejak tadi ia pendam. Namun apa yang ia lihat? Si pria yang kini sedang terdiam merenung. Tak mampu melawan, Wanita itu memanggil "Hey, Natsu! Apa masalahmu, hah?" sambil meletakan kedua tanganya di pinggang.

Pria yang dipanggil Natsu itu tampak tak bersemangat. Tunggu, bahkan sejak selesai misi tadi ia tak melihat keceriaan yang biasa di tunjukan olehnya. Apa gerangan? Merasa tak ada jawaban, wanita itu bergerak mendekat. Setelah benar-benar dekat, dapat ia lihat dengan jelas ekspresi Natsu yang sedang murung. Ia menghela nafas, kini ekspresi kesalnya sedikit meluntur. "Natsu, apa yang salah denganmu? Kau tahu, aku masih kesal karena kekacauan yang kau buat tadi tapi kau tak harus diam seperti itu, katakan padaku apa masalahmu?"

"Aku minta maaf, Lucy" terlihat bayangan poni menutupi mata Natsu. Seperti ia tengah tertekan.

Kening wanita yang di panggil Lucy itu mengernyit "Hah? Apa yang kau bicarakan?"

"Karena salahku. Kau hampir terluka"

"Apa maksudmu, Natsu? Aku tidak menger—eh?" kedua manik karamel Lucy mencerminkan keterkejutan. Natsu merengkuh tubuh Lucy secara tiba-tiba membuatnya tenggelam dalam sebuah pelukan hangat bahkan sebelum Lucy menyelesaikan kata-katanya.

Natsu membenamkan wajahnya di perpotongan bahu Lucy. "Aku gagal melindungimu, kau hampir terbunuh waktu itu, aku hampir kehilanganmu…, maafkan aku Luce…maafkan aku…"

Apakah yang sekarang ini benar-benar Natsu yang ia kenal? Natsu yang Polos, bodoh, keras kepala bahkan tak bisa membedakan antara candaan dan keseriusan, Natsu yang tidak sopan sering menyelinap masuk kekamarnya tanpa izin. Apa orang yang memeluknya sekarang ini benar-benar Natsu? Natsu yang terkenal tak peka itu? tak peka akan perasaannya.

"Aku tahu, tapi kau tidak perlu khawatir, aku sudah melupakan kejadian itu." ucap Lucy yang sudah menyadari kemana arah pembicaraan yang Natsu maksud.

Pelukan Natsu semakin erat. Tercipta keheningan diantara keduanya. Tubuh Lucy yang seharusnya membeku karena hawa dingin kini terasa begitu hangat.

"Ne, Natsu, sudahlah…, jangan terus menghakimi dirimu sendiri, kejadian itu bukanlah salahmu. Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja. Aku akan selalu berada disisimu, oke? Aku tidak akan kemana-mana, aku berjanji." Rona merah muncul di kedua pipi Lucy ketika ia sadar bahwa kata-katanya barusan adalah sebuah pengakuan yang tersirat.

"Aku sadar, Luce. Akhirnya aku menyadarinya"

Sekarang Lucy dibuat semakin bingung.

"Ya, sekarang aku sudah menyadarinya" semburat merah tipis yang langka tercetak di kedua pipi Natsu.

Jantung Lucy berdegup kencang. Natsu melonggarkan pelukanya, kemudian menangkupkan kedua telapak tanganya kesisi wajah Lucy. Hingga terlihat jelas oleh kedua mata Lucy pancaran mata itu. Sepasang mata yang selalu penuh dengan kegembiraan sekarang dipenuhi dengan perasaan… penyesalan, ketakutan, kekhawatiran, kesedihan, sarat berbagai emosi—dan Lucy bersumpah apa yang benar-benar dilihatnya kini di sepasang mata onyx itu? Cinta?

Perlahan ia meraih pinggangnya dengan tangan kanannya, menarik wanita itu lebih dekat kepadanya. Tangan kirinya memegang dagunya, semakin menusuk mata Lucy dengan tatapanya yang intens.

"….Aku mencintaimu, Lucy"

.

Deg..!

Satu kalimat. Berhasil membuat membuat Lucy bungkam. Matanya membulat dan mulai berkaca-kaca. Ia tak mempercayai ini. Ia tak percaya. Apa ia sedang bermimpi? Jangan bangunkan Lucy jika ini mimpi.

Tanpa pikir panjang lagi Lucy segera menerjang tubuh tegap dihadapanya. "Bodoh!, hiks… Bodoh…! KAU SANGAT BODOH, NATSU DRAGNEEL! KAU BODOH!" setengah berteriak, Ia tak dapat menahan lagi airmatanya, semua tumpah tanpa diperintah.

Buk..! buk..!

Lucy memukul-mukul pelan dada Natsu, meluapkan seluruh perasaanya. "Kenapa kau baru mengatakanya sekarang?…hiks..kau…membuatku menunggu terlalu lama!"

Natsu menangkap tangan Lucy, lalu kembali merangkul tubuh sang wanita bersurai pirang itu sambil terus membisikan kata-kata, "Maafkan aku…".

Mereka cukup lama terpaku dalam posisi yang sama. Begitu hening hingga irama detakan jantung masing-masing dapat terdengar di telinga mereka.

"Luce.." Si pria musim panas akhirnya membuka suara, memecah kecanggungan yang menyelimuti. Pelukan Natsu melonggar membuat Lucy mendongak untuk menatap sepasang mata milik pujaan hati.

"Lucy, kau boleh menganggapku pria terbodoh yang pernah ada.…." Natsu menggantungkan kalimatnya. Ia segera merogoh-rogoh saku celana putih yang selalu dikenakanya dalam diam. Mengeluarkan sebuah benda berbentuk lingkaran kecil yang berkilau.

"…A-aku tidak tahu apa yang harus kukatakan…..aku sudah mengumpulkan uang dari jauh-jauh hari untuk mebelikanmu ini, harganya memang tidak mahal, aku minta maaf, Lucy. Tapi kuharap kau akan suka. Aku berjanji jika kau menerimanya aku akan berusaha melindungimu seumur hidupku, aku akan berusaha….membuatmu bahagia, jadi—"

Natsu mengambil jeda sejenak.

"—Maukah kau…. Menikah denganku, Lucy?"

Grep..!

"Kau tak perlu menanyakan lagi jawabanya, Bodoh"

.

Dan tengah malam itu, menjadi malam yang sangat indah bagi sepasang insan disana. Perasaan mereka kini telah tersampaikan lewat sebuah kecupan mesra dibawah guyuran salju di penghujung jalan. Biarlah malam itu menjadi sepenggal kisah manis diantara sepasang mahluk ciptaan Kami-sama ini. Tak ada yang tahu, hanya mereka…

.

.

~End of Flashback~

"Paman menangis?" Nashi memiringkan kepala bertanya pada sang paman.

"Ti-tidak! aku tidak menangis…" sangkalnya.

Nashi tersenyum, "Oh…Tadi itu cerita yang sungguh indah, paman" komentarnya.

"Aye…, tapi itu tak bertahan lama" ekspresi Happy tiba-tiba berubah menjadi sendu.

"Eh?"

"Sebelum kutahu, dulu semua hampir berjalan lancar, seolah tidak akan ada yang salah dalam kehidupan indah mereka. Tidak sampai tiba hari itu. Hari yang merubah segalanya."

.

.

.

.

.

~Flashback~

Brakkk!

Semua berawal dari suara pintu apartemen yang menjeblak terbuka dengan kerasnya. Lucy muncul dari balik pintu dengan wajah merah meninggalkan begitu saja Natsu yang berada di belakangnya. Ia melempar tas sembarang ke tempat tidur sebelum kembali berjalan cepat ke arah dapur.

".. Luce, dengarkan dulu," Natsu mencoba mengejar Lucy yang berjalan cepat di depannya. Hei, ada apa ini?

Lucy tetap tak menggubris—sepertinya ia benar-benar marah pada lelaki yang telah menikahinya itu. Tangannya dengan sigap mulai menyiapkan beberapa bahan makanan untuk diolah. Sedangkan dirinya hanya diam tak bersuara.

"Luce.." Natsu masih mencoba membujuk istrinya untuk berbicara—yang berbuah nihil. Ia mendecakkan bibirnya, mulai kesal dengan aksi cuek wanita itu. Ia meraih lengan kecil Lucy, mencoba membuat perhatian wanita berambut pirang keemasan itu tertuju padanya. "Lucy, tolong dengarkan dulu—"

"Dengarkan apa lagi, Natsu?" Lucy menyela dengan nada ketus."Aku lelah terus mendengar alasan bodohmu. Sebegitu berharganya kah misi itu dibanding diriku?"

Natsu menghela napas panjang. Ia mencoba menangkupkan tangan kekarnya di wajah cantik Lucy, membuat keduanya saling menatap intens ke mata pasangannya. "Tidak ada yang lebih kuinginkan dibandingkan tinggal di sini bersamamu, selalu."

Tanpa aba-aba, Lucy menepis tangan Natsu dari wajahnya. "Tapi apa buktinya?. Untuk apa kau menawarkan diri untuk melakukan misi itu? bahkan belum sampai lima hari kita menikah!"

"Aku hanya tak bisa membiarkannya, Lucy. Dia adalah ancaman bagi kita semua, bagi dunia"

"Tapi kau tidak memikirkanku sama sekali. Aku membutuhkanmu di sini, Natsu. Kau tidak mengerti," pada titik ini air mata Lucy mulai merembes keluar dari pelupuknya.

Sekilas terlihat ekspresi aneh di wajah Natsu sebelum pria itu menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya. "Aku hanya ingin memastikan semua orang akan baik-baik saja," bisiknya cukup keras untuk didengar.

"Kenapa harus kau? Kenapa bukan yang lain saja? Kenapa bukan Gajeel? Laxus atau dua orang yang dari Sabertooth itu? kenapa?" protes Lucy dengan suara terendam.

"Kau tau sendiri alasannya, Lucy," balas Natsu masih dengan bisikan datarnya. "Hanya aku yang bisa mengimbanginya. Tidak mungkin mengirim Laxus ataupun yang lain yang kekuatannya masih belum bisa setara walau mereka membentuk aliansi sekalipun, apalagi aku tidak ingin sampai Gajeel harus kembali menghilang lagi seperti saat itu. Hanya aku pilihan yang tepat untuk melakukan misi ini."

Lucy semakin terisak didalam rengkuhan hangat suaminya "Kau memikirkan orang lain….hiks…tapi..tapi kau tak memikirkan keselamatanmu sendiri…kau..hiks..bagaimana denganku? Aku…hikss"

Natsu tampak mengendurkan pelukannya, kemudian menunduk untuk melihat wajah sang istri. Ia menatap intens sepasang bola mata karamel istrinya yang masih digenangi air mata. Perlahan ia usapkan ibu jarinya di wajah sembab Lucy, berusaha menghapus jejak-jejak air mata di sana. "Kau wanita yang kuat, Lucy. Kau pasti bisa," Natsu berkata dengan lembut, berusaha meyakinkan Lucy yang jelas terlihat rapuh saat ini.

"Natsu, aku takut..hiks.. Aku tidak sekuat itu, aku..hiks aku..," Lucy mulai meracau sebelum Natsu mendaratkan sebuah kecupan lembut di dahinya. Ia kembali memposisikan tubuh wanita itu di dalam pelukannya, memastikan wanita itu benar-benar terlindungi oleh tubuhnya.

"Percayalah pada dirimu, Lucy," bisik pria itu menenangkan.

Perlahan isakan yang keluar dari bibir Lucy mulai menghilang digantikan dengan senggukan-senggukan pelan. "Natsu?..." tanya Lucy dengan lirih setelah beberapa lama terdiam dalam posisi yang sama.

"hm?" Natsu merespon dengan gumaman.

Lucy mengangkat wajahnya, menatap sepasang manik hitam legam milik sang suami "Berjanjilah padaku, kau harus kembali dengan cepat dan selamat,"

Natsu melengkungkan bibirnya mengukir sebuah senyum lembut, menyalurkan tatapan yang begitu tenang dan menghanyutkan "Aku janji. Begitupun denganmu, Lucy. berjanjilah padaku untuk tidak menangis lagi ketika kau menghadapi masalah. Apapun masalahmu kau tidak sendiri, pasti teman-teman akan menolongmu". Lucy mengangguk pelan, kembali membenamkan kepalanya didada bidang suaminya, berusaha meresapi kehangatan dan aroma yang mungkin besok dan beberapa waktu kedepan tidak dapat ia rasakan lagi.

.

Malam itu atmosfer kesedihan terasa lebur di ruang makan kecil pasangan suami istri ini. Lucy tak pernah sedetik pun memisahkan dirinya dari sang suami. Mereka menghabiskan malam-malam terakhir mereka bersama dengan duduk di sofa sambil saling bercengkrama. Duduk berdua dengan posisi Lucy menyandar di tubuh Natsu sampai akhirnya tengah malam tiba dan keduanya memutuskan untuk pergi tidur.

Ketika Natsu memandangi wajah lelap istrinya, air mukanya langsung berubah. Tangannya terkepal—mungkin menahan perasaan yang tidak bisa ia ungkapkan melalui kata-kata. Mungkin sikap tenangnya tadi hanyalah kedok semata untuk menguatkan hati istrinya. Dan jauh di dalam lubuk hati, ia pasti merasakan perasaan hancur yang sama. Meninggalkan sang istri untuk waktu yang tidak ditentukan, semata atas nama masa depan, dengan resiko entah ia dapat kembali dengan selamat atau kembali hanya sekedar nama.

.

Tidak ada yang lebih menyedihkan ketika datang hari keberangkatan Natsu. Pagi itu tampak cerah. Sekawanan burung terbang di angkasa, membentuk formasi V yang teratur mungkin hendak pergi bermigrasi. Lucy beserta seekor exceed milik suaminya sudah berdiri diambang pintu, untuk melepas kepergian sang suami.

Ada yang berbeda saat itu. Natsu melepas syal putih kesayanganya bergerak meletakkannya di leher Lucy kemudian memeluk erat istrinya. Waktu terasa membeku bagi mereka berdua. Natsu berusaha keras menekan air matanya agar tidak menetes. "Aku akan sangat merindukanmu, Lucy." bisiknya tepat di telinga sang istri. Tak ada respon dari Lucy, ia terus terisak di dalam rengkuhan hangat suaminya yang ia cintai tanpa syarat. Dalam hati berharap apapun misi yang diambil suaminya itu dapat selesai dengan cepat sehingga mereka dapat kembali berkumpul lagi.

.

Perlahan pelukan Natsu mulai mengendur kemudian lepas. Natsu memegang pundak Lucy, merendahkan diri untuk mendaratkan sebuah kecupan panjang di dahi satu-satunya wanita yang ia cintai. Natsu menyadari Itu bukanlah ciuman biasa—melainkan sebuah janji.

"Aku akan kembali, segera setelah aku menyelesaikan ini." Ucapnya setelah hampir lima menit lamanya ia mencium kening sang istri.

"Aku pergi" Mengayun tas besar di punggungnya seraya mematri sebuah senyum lebar untuk yang terakhir kali. Berbalik, melangkah, kemudian benar-benar pergi. Dari kejauhan ia mengangkat tanganya ke udara membentuk sebuah tanda dari ibu jari dan telunjuknya. Lucy dan Happy, keduanya membalas dengan mengangkat tanganya membentuk tanda yang sama. Sebuah tanda penuh makna bagi semua orang pemilik Fairy mark di bagian tubuhnya.

Walau dimanapun kau berada, aku akan selalu mengawasimu.

.

.

~End of Flashback~

"—Bahkan saat itu aku tak dapat membantah Natsu yang tidak mengizinkanku untuk ikut denganya, alasanya karena aku harus menjaga Lucy. Dia benar-benar pergi sendiri, tanpa aku yang merupakan partnernya sejak kecil." Tukas Happy. Ia memandang kearah sungai, menerawangi aliranya.

Nashi terdiam sejenak tampak berfikir. Kemudian tak lama ia melontarkan sebuah pertanyaan "Paman, sebenarnya…. papa pergi kemana? Dan untuk apa dia pergi?"

Happy menoleh pada Nashi "Dia pergi untuk menjalankan sebuah misi berbahaya sekaligus rahasia" jawabnya spontan.

"Rahasia?" Untuk kesekian kalinya Nashi bertanya.

"Benar, misi untuk membunuh seseorang" jawab Happy. Exceed itu kembali mengalihkan perhatianya ke sungai di depanya.

Kedua alis Nashi saling bertaut "Lalu, Siapa….. orang itu, paman?"

Raut wajah Happy menegang memperlihatkan keseriusan. Hening menyelimuti seketika.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Orang itu adalah…"

-To Be Continued-

ABSURD ABSURD ABSurd Absurd absurd absurd absurd bsurd bsurd bsurdsurdsurururuuruuruurururururuururururururblublublublubluulululululululululuuuululuuululurb *jedotin kepala ke tembok. ( ... ) (*maafkan Author kurang piknik ini T_T)

Jadi gimana minna? Yang kemarin bertanya-tanya apakah sudah mendapat clue-nya disini? Atau belum sama sekali? hehe #Plak XD

Terimakasih bagi yang sudah membaca. Ohya, untuk silent reader juga terimakasih ^_^ tapi alangkah lebih baik jika ikut memberi dukungan pada author dengan reviewnya~ ^_^

Monggo~