B3R (Basa-Basi Balesan Review)

freedom friday : Orang itu adalah?—akan terjawab disini kok. Hehe…terimakasih reviewnya kaka~

Aoi Shiki : hehe…sayang sekali bukan kak :( klo pertanyaan mengenai yg mau dibunuh oleh Natsu bakal terjawab disini deh, hehehe… XD arigatou untuk reviewnya. Bai de wei, semoga kali ini tebakan kaka benar! Amin!

de-chan : aduuhhh… ampuunn… (T,T) jangan getok kepala saya… kepala saya sudah cukup benjol, jangan tambahin lagi… (ToT) hiks. Karena kaka sudah mau penasaran dan mau mereview, author baru ini hanya bisa bersyukur akan hal itu. maafkan atas keterlambatan author. Sudah dilanjut kok. Semoga tidak membuat kaka bosan dgn fic saya ini…(T_T)

mihawk607 : huwaaaaa… (ToT) arigatou atas reviewnya… arigatou karena sudah penasaran… (T_T). Jalan ceritanya misterius dan sulit di tebak seperti author yang bikin ceritanya nyehehehe XD.., ini chapter 4-nya, maaf klo jelek~

Fic of Delusion : kenapa jadi main tebak-tebakan kayak gini ya? Wkwkwkwk XD hmm… Mas Acno bukan ya? Pokoknya lihat aja sendiri deh, btw thanks for your review~

Stayawake123 : waahhh (*v*) arigatou sudah penasaran dan untuk reviewnya juga arigatou. Ini udah di lanjut, pertanyaan kaka akan terjawab kok~

.

.

.

.

.

.

Demon Blood

Rate : T

Genre : Family/Supernatural/Hurt/Comfort/Romance/Mystery/Action (maybe).

Chara : OC, Lucy H, Natsu D.

Fairy Tail © Hiro Mashima

A fanfiction by Aimi Uchiha Dragneel

Harap perhatikan Warning ! Gaje? Iya, abal? iya, Flat, Typos, Diksi yang berantakan, alur kecepetan, dan kekurangan lainya.

Don't Like? Don't Read.

.

.

.

Happy Reading :) :)

Chapter 4

.

"Orang itu adalah…" Exceed biru itu menampakan wajah serius.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Sang raja naga. Pemilik sayap kegelapan…., Acnologia."

Deg!

Sepasang manik hitam milik Nashi membulat tak percaya. "Acno….logia?"

"Ya."

"Bukankah Acnologia sudah pernah di kalahkan oleh Miss. Irene? Aku mendengar dari master" Sebuah pertanyaan dengan nada selidik dilontarkan dari bibir mungilnya.

Happy menjawab disertai anggukan, "Itu benar, tapi Acnologia tak mati semudah itu. Ia kembali untuk mengobrak-abrik dunia."

Exceed itu memilih diam kemudian. Aliran tenang air yang berkilau tertimpa cahaya bulan lebih mengalihkan perhatianya. Mungkin di dalam sungai tersebut ada beberapa ikan menggiurkan yang pantas untuk di tangkap, tanpa otak kecil miliknya harus repot-repot memikirkan hal yang menyedihkan.

"Beberapa minggu setelah kepergian ayahmu, Lucy mulai menunjukan tanda-tanda aneh. Setelah diperiksakan ternyata ia tengah mengandung. Selama berbulan-bulan itu, tak pernah ada kabar sekalipun mengenai Natsu, ia seolah menghilang ditelan bumi"

Bulatan putih pemantul cahaya matahari yang tergantung di angkasa mulai merangkak semakin naik. Bayangan awan hitam yang tertiup angin melintas sesaat. Nyanyian para jangkrik terdengar semakin nyaring kala suasana berubah hening. Nashi pun lebih memilih merapatkan mulut sama halnya pemandangan air sungai jauh lebih menarik ketimbang merespon obrolan yang terdengar seperti dongeng jaman dulu.

"Hingga dihari itu, hari dimana kau lahir—"

Nashi menegakan tulang lehernya. Sontak menoleh dengan cepat kearah Happy yang terus menggantungkan kata-kata, lengkap dengan ekspresi wajah penasaran menanti si paman melanjutkan ucapanya.

"—Kami semua kehilangan Lucy" lanjut Happy.

Satu pernyataan membuat hati Nashi sukses tertohok. Ia menyipitkan mata seakan tidak puas dengan pernyataan misterius itu. Ia memerlukan sebuah ungkapan yang jelas, yakni kebenaranya.

"Tapi kenapa, paman? Apa sebabnya?" Nashi kembali bertanya dengan heran.

"….." Nihil—tak memperoleh jawaban. Happy bergeming.

"Beritahu aku, paman!" kini nada suaranya sedikit di tinggikan setengah oktaf, terdengar seperti seseorang yang berbicara pada orang tuli.

"Pendarahan" jawab Happy akhirnya. Walau begitu singkat dan terkesan ambigu.

Nashi langsung terdiam, menyadari sikapnya terlalu berlebihan. Harusnya ia tahu sejak awal dan tak perlu menanyakan alasanya lagi. Memangnya apa yang ia harapkan? Payah sekali.

Happy terus melanjutkan pembicaraanya, "Esoknya setelah hari kelahiranmu, datanglah sebuah berita besar. Berita yang menggemparkan dunia sihir, walaupun berita tersebut terlambat beberapa hari sampai ke guild. Sebuah kabar baik sekaligus buruk." ucap Happy sembari memasang raut muka sedih, "…...Berita terburuk yang tak pernah ingin kutahu dan kudengar" ungkapnya dengan nada putus asa.

".…." Nashi masih diam menyimak.

"Berita yang baik adalah Acnologia telah berhasil dikalahkan, namun sampai sekarang jasadnya tidak pernah ditemukan. Saksi berkata bahwa sebelumnya ada sebuah pertempuran besar yang terjadi di hutan barat benua Ishgar. Mereka melihat dari kejauhan, pertarungan sengit antara dua ekor naga." Happy menunduk dalam, ekspresinya mendadak berubah.

"….Dan berita buruk bahwa ayahmu telah ingkar janji. Di duga keduanya telah tewas—tanpa meninggalkan jasad….. Setelah itu, dunia sihir ini menjadi benar-benar damai, tak ada gangguan lagi dari para penyihir gelap seperti Zeref dan Acnologia." Setelah berkata demikian, Happy lantas menutup matanya, mengenang sebuah peristiwa yang dulu ia harap tak pernah terjadi. Mimpi buruk bagi dirinya dan bagi anak perempuan disampingnya ini.

"….." gadis kecil itu tak merespon apapun. Ia terdiam merenung, memutar kata demi kata si paman di kepalanya. Hingga akhirnya sebuah kesimpulan dapat ia petik, 'jadi itulah sebabnya sang ayah digelari pahlawan?' Begitulah sebuah asumsi hasil pengolahan otak cerdas tersebut. Logikanya menolak untuk menunjukan ekspresi penyesalan, apalagi sampai menangis. Setidaknya, Ia harus kuat bukan?

.

Kembali suasana menjadi senyap. Keduanya sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing. Atmosfer kesedihan yang tiba-tiba menjadi kentara diantara mereka. Tapi, bukankah lama-kelamaan harus ada yang memecah guci keheningan ini?

"Nashi, sebenarnya ada yang salah…." Sang paman menatap lekat ke mata Nashi seolah tengah menyadari sesuatu.

Salah satu alis Nashi terangkat, antara terkejut dan heran. "Hah? ap—"

"TOLOOOOOOONNNNNGGGGGG…!"

"!"

Tiba-tiba suara teriakan memotong pertanyaan Nashi. Keduanya refleks menoleh ke asal suara.

"Paman, sepertinya ada yang minta tolong!"

"Aye, aku juga mendengar."

"Bawa aku kesana, paman!" spontan gadis pinky ini tahu apa yang mesti dilakukanya.

"Aye sirrrr..!" tanpa basa-basi lagi Happy langsung mengangkut Nashi terbang menuju sumber teriakan tadi.

.

Setibanya disana, mereka mendapati seorang wanita tua yang kelihatan sangat gelisah, dan seorang pria dari kejauhan yang berlari pontang-panting berusaha untuk kabur. Nashi segera turun menghampiri wanita tua itu.

"TOLONG…!" pekiknya.

"Ada apa, nek?" Nashi mencoba bertanya pada si nenek.

"Tolong, nak muda. Dia mencuri kotak perhiasanku…tolonglah…itu sangat penting…aku mohon…" pinta sang nenek dengan wajah memelas.

Nashi dan Happy saling berpandangan kemudian saling melempar senyuman penuh arti, setelah itu mengangguk mantap.

"Baiklah!, tunggu kami. Akan kami kembalikan semua perhiasan nenek!" ujar Nashi dengan nada meyakinkan. Lalu berbalik membelakangi wanita tua tersebut. "Ayo, paman! Kita kejar!"

"Aye sirrr!" dengan cepat Happy mencengkram baju Nashi lalu melesat terbang mengejar sang pencuri yang lari menuju kearah hutan.

'Saatnya beraksi' pikir mereka.

"Hey, nak! Hati-hati dia penyihir!" teriak sang nenek dari kejauhan.

"Kami akan berhati-hati!" Nashi melambaikan tanganya. Kemudian memfokuskan pandangannya kedepan sembari mengendus-ngendus udara sekitar. Tentu saja sebelumnya ia sudah tahu bau si pencuri itu.

.

Tak membutuhkan waktu lama hingga mereka dapat menemukan orang yang dicari.

"Nah, itu dia! Oi PENCURI!, KEMBALIKAN KOTAK ITU!" Nashi berteriak. Happy kemudian menurunkanya ketanah.

Pencuri itu langsung berhenti berlari, lalu berbalik menghadap dengan jarak sekitar sepuluh meter dari tempat Nashi berdiri.

Pencuri itu mendengus, berdiri dengan entengnya. "Heh, coba saja kalau bisa gadis cilik!, Solid Script : Iron Hammer!" Dengan gerakan cepat ia mengayun tanganya merapal sihir dan mengeluarkan sebuah tulisan 'Iron Hammer' di udara. Lalu munculah sebuah palu berukuran besar yang terbuat dari besi menggantung tepat berada di atas kepala Nashi. Nashi memerintahkan Happy berlindung.

'Pengguna Solid Script? Seperti Levy—Tidak, ini lebih dari sekedar Solid Script biasa' ungkap Happy dalam batinya. 'Tentu saja zaman sudah berubah, variasi sihir semakin banyak dan berkembang pesat.' Terkanya di hati.

Palu tersebut kemudian bergerak melesat hendak memaku tubuh Nashi ke tanah, tapi Nashi berhasil menghindarinya dengan melompat kesamping dan bersalto beberapa kali di udara. Ketika mendarat ia langsung menyerang balik dengan raungan naga apinya.

"FIRE DRAGON : ROAR!"

Gwhuuuoooooooooooorrrrrrrrrrrrr….

Api merah besar menyembur dari mulut Nashi. Sepertinya pertarungan antara Nashi dan sang pencuri telah dimulai.

Namun betapa sialnya, pencuri itu ternyata gesit juga, ia dapat menghindari serangan Nashi barusan."Woho~ Dragon Slayer? Jangan meremehkanku, Solid : Water Drill" lantas pencuri itu tak menyerah begitu saja. Dia merapal mantra lain, lalu memancarkan pusaran air seperti bor dari tanganya yang secepat kilat menyambar menyerang Nashi.

"Nashi, awas!"

"Kyah!" Nashi sendiri tak sempat menghindar, tubuhnya terhempas jauh kebelakang menubruk beberapa pohon hingga roboh.

"Hahahaha…. Kau tak akan bisa menang melawanku gadis kecil!" si pencuri tertawa keras seakan begitu puasnya karena serangan yang ia rilis telah berhasil mengenai lawan.

Meninju tanah, perlahan Nashi bangkit. Ia mendongak, melempar tatapan tajam kearah si pencuri. Namun ada yang aneh, luka-luka seperti goresan kecil di kulit Nashi secara ajaib meluruh seketika hingga menghilang tanpa meninggalkan bekas setitikpun.

Kretek…kretek..

Terdengar bunyi tulang yang bergesekan, Nashi meremas jari-jari, menyeka jejak darah di bibirnya dengan jari jempol. "Moette kitta yo"

Si pencuri dibuat terkejut, 'Mustahil!, bocah itu masih bisa berdiri? Bahkan, tidak terluka sedikitpun! Siapa dia sebenarnya?' ujarnya dalam hati.

Nashi menggeram, "Grrrhhh…. RASAKAN INI!" tanpa aba-aba lagi ia segera berlari kencang kedepan berniat menghadang "FIRE DRAGON—!"

"—Solid Script : Burst!"

"Nashi!" Happy memekik.

DUARRRRRRRRRRRRRRRRR…!

Suara ledakan dahsyat akibat sihir si pencuri menggema di tengah hutan membuat burung-burung yang sedang asyik bertengger di dahan pohon sampai beriak terbang menjauh. Kepulan asap tebal menutupi area yang terkena ledakan.

"Hahahahaha! Kali ini kau tak bisa menghindar!" kembali si pencuri tertawa lepas.

.

Perlahan kepulan asap itu semakin menipis, memperjelas pemandangan di area ledakan yang kini berubah menjadi kawah berabu dengan diameter sekitar 8 meter akibat ledakan tersebut, cukup luas untuk ukuran penyihir biasa. Pencuri itu memicingkan matanya. Setelah dirasa pandangannya sudah jelas, ia pun memasang seringai kepuasan. Dia mengira tubuh Nashi telah terkapar tak berdaya—atau bahkan sudah hancur lebur menjadi abu hingga menyatu dengan tanah. Tamatlah riwayatnya!

.

.

.

.

.

.

"Ck, Siapa bilang?"

Tiba-tiba suara cempreng khas gadis kecil terdengar dari arah belakang. Si pencuri menoleh dan kaget luar biasa mendapati lawanya sudah berdiri santai di belakangnya sambil melipat tangan di dada.

"Ba…bagaimana bisa?!" si pencuri terperanjat, tak percaya dengan apa yang ia lihat. Keringatnya pun langsung bercucuran.

Gadis itu menyeringai, "Jangan meremehkanku pencuri sialan, Makan ini! Fire Dragon—" Ia menutup mata dan merentangkan kedua tanganya kesamping sambil berkonsentrasi. Kemudian sebuah lingkaran sihir yang terang dengan pola unik muncul di depan Nashi, disertai gelombang tinggi disekitar tubuhnya. Nashi membuka mata lalu meneriakan—

"—STAR FIRE!"

"UWAAAAHHHHHHHHHHH….!"

Puluhan bola api keemasan seketika menghantam si pencuri dari berbagai arah, membuatnya langsung terkapar tak berdaya dengan tubuh gosong. Pencuri itu tak dapat mengelak serangan tersebut, kali ini ia benar-benar kalah telak. Kotak perhiasan yang sedari tadi di pegangnya pun terlempar.

"Sugoi!" Happy yang menyaksikan di balik semak-semak hanya bisa takjub.

"Paman, cepat ambil kotaknya!" perintah Nashi setelah sukses menumbangkan musuh.

"Aye sirrr!" Happy berseru, ia bergegas terbang menangkap kotak yang dimaksud. "Berhasil!" pekiknya senang.

Nashi menghela nafas lega, mengusap keringat di dahinya "Huh… akhirnya"

.

Skip Time~

"Ini, nek. Barang berharga nenek" ucap Nashi sambil menyodorkan kotak perhiasan yang berhasil ia rebut dari tangan si pencuri.

Nenek tersebut langsung menerimanya, "Wah terimakasih banyak, nak. Ngomong-ngomong siapa namamu?"

"Namaku Nashi" jawab Nashi sembari tersenyum manis kearah wanita tua itu.

"Wah nama yang bagus…Nah Nashi, ini terimalah" si nenek mengambil salah satu telapak tangan Nashi dan meletakkan sebuah berlian jenis ruby disana.

Nashi menoleh ke arah pamanya memandang dengan tatapan isyarat lalu menggeleng. "Tidak usah, nek. Aku tulus kok membantu nenek" tolak Nashi, ia berusaha mengembalikan berlian itu ke tangan sang nenek.

Namun si nenek tetap bersikukuh, "Ambilah, anggap saja sebagai tanda terimakasih, ya?"

"Maaf nek, aku tidak bisa menerimanya"

"Kalau begitu anggap saja sebagai kenang-kenangan. Aku akan senang kalau kau mau menerimanya" nenek itu terus memaksa, apa boleh buat bagi Nashi?

Nashi menggaruk belakang lehernya seraya menerima benda berharga itu dengan sungkan-sungkan "Ah-um… baiklah kalau begitu. Terimakasih"

"Sama-sama anak baik" ucap si nenek sambil tersenyum ramah.

Nashi dan Happy pun membalas senyumanya lalu mereka menundukkan kepala sopan, "Kalau begitu kami pamit dulu, sampai jumpa nek" ucap Nashi. Ia kemudian berbalik mengambil langkah.

"Iya, Hati-hati di jalan" sang nenek melambaikan tangan.

.

.

.

.

Di perjalanan pulang….

Nashi berjalan kaki dan Happy terbang di sampingnya.

"Tadi itu sangat hebat, Nashi!" komentar Happy.

"Hehehe… paman bisa aja" Nashi pun hanya bisa tertawa kikuk atas pujian yang di lontarkan pamanya.

"Memang benar… dan tunggu!, terakhir kau pakai jurus apa? aku tidak pernah melihat jurus naga api itu sebelumnya" Tanya Happy, ia menoleh ke samping.

Nashi mengerjapkan matanya, lalu menaruh jari telunjuknya di bibir memasang pose berfikir, "Oh, itu… jurus baru yang kukembangkan sendiri." ucapnya kemudian.

"Yang kau…., KEMBANGKAN SENDIRI?!" Happy histeris saking terkejutnya. Sadar teriakannya membuat bising, ia segera membekap mulutnya sendiri kemudian berhenti sejenak membuat Nashi pun ikut menghentikan langkahnya.

"Iya, paman. Kata kak Wendy aku memiliki tipe sihir yang lain, aku diajari cara pengolahan ethernanonya dan jadilah seperti itu" Nashi mencoba menjelaskan.

"Aku tak percaya… Gabungan Urano Meteoria dan sihir naga api?, hmmm… terdengar seperti unison raid." ucap si exceed biru itu, 'Perpaduan yang sempurna' lanjutnya dalam hati.

"Hehehe… tujuannya supaya aku lebih berguna lagi untuk orang lain" Nashi menggaruk kepalanya yang sebenarnya tak gatal seraya mematri cengiran khas.

Happy tertegun sesaat akan ungkapan polos yang dilontarkan gadis kecil itu, namun tak lama ia mengukir senyum lembut "Benar…" ungkapnya pelan.

Mereka kembali melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda.

Happy melirik sesaat pada Nashi, 'Lihatlah!, Dia memang masih bocah tapi pikiranya seperti orang dewasa. Lucy, seperti yang kau pesankan. Dia tumbuh menjadi anak yang baik dan berjiwa tangguh' batin Happy.

.

"Paman!" Nashi menoleh ke samping.

"Hm?"

"Besok, temani aku ke makam mama ya?,"

Happy diam sementara mendengar permintaan itu, sebelum akhirnya menjawab "…..Tentu saja"

.

.

.

.

.

.

IXIXIXIXIXIXIXIXI

Clak…..clak…clak..

Bunyi tetesan air terdengar nyaring di ruangan itu. Basah, lembab, gelap, dingin, begitulah deskripsi singkat bagi keadaan di tempat tersebut. Penjara memang suatu tempat yang tak nyaman untuk di tinggali. Namun disanalah wanita itu duduk bersila, terkurung sendiri di dalamnya dengan kaki serta tangan yang terikat rantai. Pakaianya lusuh, wajahnya tertutupi rambutnya yang sepanjang tumit berurai menyentuh tanah dan sedikit berantakan. Berbagai serangga khas menjadi temannya selama hampir sepuluh tahun itu.

Sang wanita tengah menunduk sambil memejamkan mata, tanganya ia lipat di dada. Tampak seperti orang yang sedang tertidur. Beberapa penjaga berjejer diluar, mereka selalu siaga mengawasi tempat itu, apabila ada satu yang lelah maka yang lainya akan menggantikan, seperti itulah gambaran singkatnya.

.

Tap..tap..tap..

Tiba-tiba suara derap langkah terdengar di sepanjang lorong penjara. Suaranya semakin mendekat ke arah sel tahanan yang dibicarakan. Siluet seorang pria bertubuh jangkung terlihat oleh para penjaga di sana. Dan pria itu akhirnya berhenti berjalan tepat di depan jeruji besi. Ia kemudian berjongkok menatap wanita yang terkurung itu.

"Kau terlihat begitu menyedihkan" ucapnya pelan.

"….." tak ada respon—si wanita bergeming.

"Tapi aku tak menyangka, kau masih bertahan hidup sampai sekarang walau kekuatan sihirmu sudah ku ekstraksi beberapa kali, kalau orang biasa mungkin sudah mati sejak dulu. Apa kau punya seribu nyawa eh?"

"….." tetap tak ada jawaban.

Pria jangkung berambut gundul itu mendengus "Masih mengharapkan kedatangan penyelamat?"

"…"

Pria itu tertawa garing "Hahaha…daripada seperti itu lebih baik kau menikah denganku saja"

"…..." tetap nihil—tak ada tanda-tanda wanita itu akan merespon ataupun membalas ucapanya.

Pria itu menghela nafas pelan, "Baiklah….baiklah…, pria tua ini datang kesini untuk berterimakasih. Berkat dirimu, aku bisa mewujudkan keinginanku. Akhirnya hari itu akan tiba sebentar lagi, hari yang kunantikan sejak sekian lama. Hari kebangkitan tuanku." setelah mengatakan hal itu ia lalu berdiri, beranjak pergi meninggalkan sel penjara sembari melambaikan tanganya.

.

Setelah pria itu benar-benar menghilang dari pandangan, si wanita membuka matanya. Ia mendesis "Hari itu tak akan pernah terjadi, Jacob."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

IXIXIXIXIXIXIXIXI

"Hm..jadi begitu. Tak mengherankan, mungkin memang banyak masyarakat yang sudah melupakan kejadian itu, namun masih ada beberapa yang mengingatnya. Aku tak percaya penahannya hampir lepas." Ucap Polyuchka.

Cahaya bulan purnama memancar di luar, auman anjing hutan terdengar dari kejauhan begitupun dengan suara burung hantu, tandanya sudah memasuki tengah malam. Kini Polyuchka dan Happy sudah duduk di kursi tengah ruangan yang menyatu dengan tempat tidur. Mereka sedang membicarakan hal yang serius sembari melihat ke arah Nashi yang tertidur pulas di ranjang, wajah imutnya tampak kelelahan setelah tadi bertarung dengan seorang pencuri demi menolong wanita tua.

Happy merasa prihatin, "Aye, mereka jadi melampiaskan amarahnya pada anak yang tak tahu apa-apa. Kalau begitu Polyuchka-san, bagaimana jika memasang kembali segelnya?" Happy bertanya.

"Percuma. Segel itu takkan efektif lagi. Itu hanya bisa digunakan sekali seumur hidup."

"Lalu bagaimana denganya? Aku tidak ingin terjadi apa-apa pada Nashi!" ucap exceed itu dengan nada cemas yang kentara, ia sedikit menuntut jawaban yang dapat meyakinkanya.

Lantas Polyuchka menunduk, tampak raut wajahnya merenung. Dalam hatinya ia merasakan kekhawatiran yang sama pada cucu asuhnya yang sudah ia anggap seperti cucu kandung sendiri. Ia menyadari sejak awal ada yang tidak beres dengan anak itu. Namun melihat perkembangan yang tak terduga dari Nashi sendiri, sedikit dapat mengurangi rasa takutnya. Mungkin sesaat ia dapat tersenyum lega.

"Aku mengerti. Percayakan saja pada anak ini"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Keesokan harinya.

Pagi itu sekitar pukul 9.30, guild seperti biasa tampak ramai. Para penghuninya melakukan aktivitas masing-masing. Seorang gadis kecil bersurai pink di temani dengan exceed biru kesayanganya terlihat baru tiba di depan pintu guild, tak seperti cara yang biasa kini ia membuka pintu guild tercintanya itu dengan pelan, di sertai senyum cerah gadis itu lalu melontarkan sapaan. "Ohaiyou" sapanya ceria.

"Ha'i, Ohaiyou…"

"Ohaiyou…"

"Ohaiyou, wah…wah ceria sekali kau hari ini, Nashi"

Seperti biasa, orang-orang guild selalu membalas sapaanya, Fairy Tail memang dihuni oleh orang-orang yang baik dan ramah. Setelah menyapa, Nashi melanjutkan berjalan ke arah bar tentu saja dengan Happy yang mengekor di belakangnya.

"Ohaiyou, Nashi. Ara… kau datang terlambat. Habis dari mana dulu?" Mirajane, sang barmaid cantik yang kecantikanya tak lekang waktu itu menyambut Nashi dengan senyuman manisnya.

"Aku baru mengunjungi makam mama," jawab Nashi, ia mendudukan diri di salah satu kursi bar.

"Oh, kalau begitu mau pesan sesuatu?" tawar Mirajane.

"Um… orange juice mungkin." Ucap Nashi.

Mirajane kembali tersenyum, sebenarnya tak perlu ia tanya lagi minuman apa yang bakal di pesan anak itu ia sudah hapal betul, ia jadi teringat dulu ibunya juga sering memesan minuman yang sama.

"Aku, ikan!" ujar Happy.

"Baiklah, tunggu sebentar ya?" setelah mengucapkan itu Mira berlalu ke dapur hendak menyiapkan pesanan Nashi dan Happy.

Tak lama kemudian Mira muncul dengan segelas orange juice dan sekaleng ikan segar di tanganya "Ini pesanan kalian" ujarnya seraya meletakan gelas berisi juice dan kaleng itu di depan Nashi dan Happy.

"Terimakasih, bibi Mira" setelah mengucapkan itu Nashi langsung meneguk juice jeruknya. "Ohya, teman-teman pada kemana? Aku tidak melihat mereka." Tanya Nashi. Ia mengedarkan pandanganya ke seluruh penjuru guild.

"Mereka semua sedang dalam misi bersama orangtua masing-masing." jawab Mira, ada sedikit nada tak rela di dalamnya.

Nashi memangku kepala dengan tangan kananya kemudian menghela nafas malas, "Oh…begitu ya" ucapnya lirih.

"Ah iya, Nashi. Tadi sebelum berangkat, Meileen menitipkan pesan untukmu. Ia ingin meminta maaf soal yang kemarin"

"Tidak apa, bibi Mira. Lagipula aku sudah melupakanya kok. Ohya, Kira-kira hari ini ada pekerjaan yang cocok untukku tidak? Tapi kuharap itu misi solo," Nashi bertanya pada Mira setelah selesai menghabiskan minumanya.

Mirajane menggeleng-gelengkan kepalanya, "Seperti biasa, kau selalu nekat ingin mengerjakan misi sendiri. Padahal anak seumuranmu belum di perbolehkan mengambil misi tanpa di temani oleh orang dewasa—"

"—Ada paman Happy kok"

"Baiklah…baiklah…, umm.. sepertinya pekerjaan untuk menjinakan para monster vulcan di Gunung Hakobe cocok untukmu, Salamander girl" ucap Mira sembari menunjuk sebuah quest di request board.

"Geez…, julukan yang menggelikan" Nashi mengerucutkankan bibirnya lucu.

Mira pun hanya terkekeh pelan menanggapinya, "Haha…baiklah, kau tertarik?" tanyanya.

Nashi mengembangkan cengiran lebar, dengan semangat membara ia berdiri dan mengepalkan tanganya di depan dada ."Tentu saja…Yosh, Moette kitta wa yo! Ayo kita bekerja, paman Happy!" ajak Nashi pada exceed di sampingnya itu.

"Aye Sirrr….!"

.

.

.

.

.

.

IXIXIXIXIXIXIXIXI

Sementara itu di suatu serikat lain, yakni sebuah guild dengan julukan terkuat kedua setelah guild ekor peri—Sabertooth. Ada yang sedang menari, makan, minum, dan lain-lain, seperti pesta kecil-kecilan yang selalu diadakan setiap harinya.

"Yeaahhh….Bersulang…"

"Bersulang…"

Suasananya pun tak jauh berbeda dengan Fairy Tail namun disana sedikit lebih tenang.

.

Seekor exceed berwarna coklat beserta seorang ikemen berambut blonde tengah berdiri di depan request board. "Sting-kun, hari ini kita ambil pekerjaan apa?" Tanya exceed itu.

"Tentu saja, misi S! bagaimana Rogue? Tertarik ikut?" ujar pria yang diketahui bernama Sting—itu sembari menoleh kearah sobatnya yang berdiri tak jauh dari sana.

"Hn" Orang yang di panggil Rogue itu hanya merespon dengan gumaman. Kelihatanya dia setuju.

"Fro juga setuju" timpal seekor exceed lain dengan nada khasnya.

Sting tersenyum senang, lalu ia merobek salah satu kertas tempelan di papan misi "Baiklah, tunggu apa lagi? ayo kita berangkat!" ujarnya semangat. Kemudian Sting, Rogue, beserta kedua exceed mereka berjalan kearah pintu. Siap untuk berangkat.

.

.

BLAAAAARRRRRRRR….!

Selangkah lagi sebelum mereka tiba di depan pintu—tak di sangka pintu tersebut tiba-tiba meledak. Memecah ketentraman yang terjadi di dalam guild.

"Keparat!, SIAPA KAU? BERANI-BERANINYA MERUSUH DI GUILD KAMI HAH?" Sting geram.

"Akhirnya ketemu, Dragon Slayer. Weisslogia, Skiadrum…."

Sebuah suara berat menginterupsi. Terlihat juga bayangan seseorang berdiri di depan pintu yang sudah hancur tersebut. Kepulan asap dan debu material serta cahaya matahari dari luar menghalangi pandangan sehingga tidak jelas siapa orang yang sekarang tengah berjalan mendekat itu?.

"Si-siapa kau—HAH?!" Sting tiba-tiba membulatkan matanya, kakinya seketika bergetar hebat, keringat dingin mulai bercucuran, ia benar-benar tak mempercayai apa yang tampak di depan matanya kini. Sungguh tak dapat di percaya!

"!"

"Ti-tidak mungkin!"

"MU-MUSTAHIL!"

Reaksi semua orang yang ada disana juga tak jauh berbeda dengan Sting dan Rogue, mereka sama-sama terkejut tak percaya. Terlebih keterkejutan itu tak bertahan lama. Hal itu tergantikan dengan rasa takut yang tiba-tiba melanda. Sebagian pengecut lebih memilih melarikan diri sebelum unjuk gigi. Mereka mengendap-ngendap mencari tempat yang aman, tak kuasa bahkan untuk sekedar menatap sepasang mata orang yang baru saja datang tak di undang itu. Sang Master yang terkenal perkasa, Jiemma pun sama halnya tak dapat berkata apa-apa lagi.

.

"Kau—Uhuk!"

"STING-KUN!"

Bagai kilatan cahaya yang tak memberi kesempatan apapun, darah segar langsung mengucur deras dari perut Sting. Orang itu melancarkan sebuah cakaran tak terduga pada Sting dengan kuku-kuku tajam yang dimilikinya.

Sting Eucliff tumbang dengan satu serangan.

"Tidak, STINGGG….!" seorang wanita berambut silver pendek dengan berani berlari kearah tubuh Sting yang terkapar, berhambur memeluk pria yang sudah berstatus suaminya itu dengan tangisan keras.

"KAU…!" Rogue tak dapat menahan dirinya, Dragon Force langsung aktif seketika. Bertubi-tubi menyerang orang yang berani melukai nakamanya itu. Dengan air mata yang mengalir ia membabi buta tanpa ampun, walau serangan itu sebenarnya sama sekali tak berefek.

Status guild menjadi gawat. Atas perintah darurat master, anggota lain langsung membantu menghadang dengan kemampuan yang dimiliki masing-masing. Karenanya bangunan guild menjadi hancur berantakan.

Hari yang cerah ini berubah menjadi suram. Awan hitam langsung bergumpal di langit, mengiringi pertempuran antar para pejuang melawan kegelapan. Ya, kegelapan. Dia adalah kegelapan yang haus akan darah naga. Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Sepertinya mimpi buruk akan terulang kembali.

.

.

"Sisakan satu untukku,… Acnologia" tiba-tiba suara baritone dingin terdengar dari arah pintu. Kali ini hadiah apa lagi? Kemunculan seseorang yang mengejutkan seluruh manusia yang ada disana.

"!"

"APA?"

"Kami-sama"

"Ini… SUNGGUH TIDAK MUNGKIN!"

.

.

.

.

.

.

.

.

IXIXIXIXIXIXIXIXI

Sore menjelang malam di Magnolia. Seorang gadis kecil dengan wajah lusuh terlihat baru pulang dari misi bersama dengan exceed biru peninggalan sang ayah. Mereka berjalan gontai menuju guild.

"Huwaahh…aku lelah sekali paman, pekerjaan kali ini benar-benar melahkan."

Kruyuuukkk….

"—dan lapar…."

"Aye….ayo kita ke guild,"

Setibanya di guild. Mereka tidak mendapati seorang pun ada disana.

"Hah? Tumben guild sepi sekali? Kemana orang-orang?" Nashi menjeblak pintu dan langsung bertanya-tanya.

"Ini memang sudah menjelang malam, mungkin mereka sudah pulang ke rumah masing-masing." Pendapat Happy. Memang jika petang guild sudah akan ditutup walaupun terkadang masih ada orang-orang yang betah berdiam diri disana.

Snif…snif…

Nashi mengendus udara sekitar, "Benar, tapi aku masih dapat mencium bau nenek" ujarnya.

Tiba-tiba…

"Tolong!"

"Ada yang datang!" Nashi berseru. Mereka spontan berlari keluar guild—dan langsung mendapati seorang wanita yang terluka di bawa oleh seekor exceed berbulu coklat.

"Ada apalagi ini?—ha?, Yukino!" Happy terkejut.

"Bibi, kau baik-baik saja?—tidak, kau terluka… ayo! akan kubantu bibi" Nashi segera bergerak mendekat, lalu menawarkan bantuan.

"Tidak… per…lu, to-long bawa aku menemui master… hah…hah…kumohon" pinta wanita yang di ketahui bernama Yukino tersebut.

"Baiklah, mari kuantar keruangannya" Nashi pun langsung membantu Yukino berjalan menuju ruangan tempat master berada.

"Yukino!" Erza terkejut.

"Er…za…," Yukino langsung menangis di hadapan Erza.

Setelah Erza mengizinkan Yukino masuk, Nashi di suruh menunggu di luar.

"Ya ampun, APA YANG TERJADI?!" tanya Erza.

"Erza, tolonglah…Sting..,Rogue, dia… mereka…" Yukino berkata dengan nada sedih. Nashi yang berada di balik pintu menguping pembicaraan mereka. Dia semakin merapatkan telinganya ke permukaan pintu.

"Dia, Mereka, ada apa? apa yang sebenarnya terjadi?, cepat katakan padaku!" Erza bertanya dengan tergesa-gesa.

Yukino meneguk ludahnya, kemudian ia melanjutkan ucapanya "Mereka menyerang kami!, Mereka….." Yukino menahan kata-katanya, sedikit merunduk dengan tatapan sendu. Ia menggigit bibir bawahnya yang bergetar dan mengepalkan tanganya,

"…..Mereka masih hidup….Acnologia dan—"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"—Natsu-san!"

DEG..!

'PAPA?!'

-To be Continued-

Alhamdulillah selesai ngetik~

Aha! Siapa yang kali ini tebakanya benar? hahaha

Author ini,,, bikin cerita romance? Gak pandai. Bikin cerita humor? Garing. Bikin cerita horror? Gak bisa. Bikin cerita absurd? Itu baru keahlianku XD.

Aduh kepalaku puyeng (-x-)9. Author sendiri juga sebenernya bingung ini fic genre apa sih? Gajelas amat (*Author minta di tinju).

Oke, terimakasih bagi yang sudah meluangkan waktu untuk membaca fic ini. kalau begitu author tinggal menunggu koreksi, kritik, dan saranya di kotak review. Silahkan~