B3R (Basa-Basi Balesan Review)

92 : iya pasti sedih :( . Ikutin terus ya ceritanya… ^_^ Thanks for your Review~

Fic of Delusion : Heyah,, Om Acno emang udah terlalu mainstream, tp ini demi kelancaran cerita… kalo om Zerefe ceritanya udah dead :v *smirk (*Plak) ikutin terus ya~ thanks for review ^_^

de-chan : hahaha…. Wah sampai segitunya xD, kamu ini ada-ada saja. Oke ini udah di lanjut, ikutin terus ya ceritanya ^_^ . Thanks for the review~

Aoi Shiki : iya, akhirnya muncul juga xD . Yosh, ini udah di lanjut. Terimakasih untuk reviewnya kaka~

English please : Before that, thanks for your review. I am very sorry, I am bad in English. But I will strive after to make the english version for it, but I'm not promise . Once again, thanks for your review xD

Stayawake123 : kaka penasaran? Sama aku juga xD (*plak). Yosh ini chap 5 nya, moga bisa mengurangi rasa penasaran kaka~ thanks for review ^_^ jangan lupa ikutin terus ya…

.

.

.

Fairy Tail © Hiro Mashima

A Fanfiction by me

Genre : Family, Supernatural, Hurt/Comfort, Romance, Mystery, Campur aduk.

Warning : Flat, kaku, OOC, dan segala kejelekan lainya.

Happy Reading~ :)

.

.

.

.

DEG!

Gadis mungil berambut kepang itu membulatkan sepasang onyxnya. Degup jantungnya bertabuh cepat. Darahnya berdesir hingga naik ke pelupuk matanya menimbulkan cairan bening yang terasa hangat seketika berkumpul disana, siap untuk terjatuh kapanpun ia berkedip. Dirinya kini berdiri mematung di depan pintu ruang pribadi master guild, masih dalam keadaan syok.

'Pa….Papa…?!,… masih….. hidup?'

.

Sedangkan master Erza dan Happy yang berada di dalam ruangan kaget luar biasa mendengar penuturan dari mantan penyihir arwah bintang itu.

BRAK..!

Sang yondaime guild master sampai menggebrak meja hingga hancur berkeping-keping—saking terkejutnya.

"A-APA? NATSU KAU BILANG?! TAPI KENAPA?!" ia berdiri dari tempat duduknya semula dan dengan gelagat tak sabar bertanya pada Yukino.

"Aku tidak tahu, itu terjadi begitu saja…." Lirih Yukino, kepalanya tertunduk menatapi lantai. Ia masih sibuk menenangkan dirinya sendiri yang tengah terguncang kesedihan.

"Tidak mungkin. Aku yakin itu bukan Natsu." Ungkap Happy dengan nada serius. Benar, Partnernya—Natsu mana mungkin melakukan hal itu, terlebih mana mungkin dia bisa berkomplot dengan musuhnya. Ia kenal betul seperti apa Natsu itu, bagaimana bisa ia mempercayai apa yang di katakan Yukino?

Erza menghembuskan nafas kasar, mencoba untuk mengontrol emosinya. Ia lalu angkat bicara "Tapi Yang terpenting Acnologia itu….. apa tujuanya menyerang guild kalian? Jika dia menaruh dendam, lantas kenapa melampiaskannya ke guild Saber?" kedua tangan di samping roknya mengepal erat—meredam sebuah perasaan yang tak dapat digambarkan dengan kata-kata.

Yukino menggeleng pelan sebagai respon, kantung matanya terlihat memerah dan sembab.

"Sepertinya bukan itu, Master Erza. Dia mendatangi guild kami sambil terus menyebut-nyebut bilangan 'Sembilan'—seperti ada sesuatu dibalik angka itu….." ujar exceed yang bersama Yukino, Lector.

Lalu wanita berambut pendek yang merupakan adik dari Sorano itu menegakan kepalanya "Tidak ada waktu lagi Erza-san, kumohon bantulah kami, suamiku dan Rogue, tolonglah…" Yukino mengatupkan kedua telapak tanganya, memohon dengan mimik wajah yang sungguh memprihatinkan.

"Sembilan? Aku tidak mengerti. Tapi benar—Ini gawat!. Lector, Happy! Cepat panggil seluruh anggota guild kemari. SEKARANG JUGA! CEPAT!" Erza langsung memerintahkan kedua exceed yang disebutkan memanggil seluruh anggota guild Fairy Tail untuk berkumpul dan mempersiapkan segalanya.

"Baik!/Aye!" setelah menyahut, Lector dan Happy segera melesat terbang keluar lewat jendela yang terbuka.

"Yukino, sebaiknya kau merawat luka-lukamu di ruang kesehatan, ayo kuantar."

"Tapi—"

Erza menepuk bahu Yukino pelan, memotong perkataan wanita itu seraya memberikan senyum lembutnya, "Kau tak perlu khawatir. Suami dan teman-temanmu akan selamat. Percayalah pada mereka." ucapnya dengan suara yang cukup menenangkan.

"Terimakasih, Erza-san" balas Yukino. Kata-kata Erza barusan mampu mengurangi rasa cemasnya sekarang.

Lantas Erza pun merangkul bahu Yukino untuk memapahnya. Ketika pintu terbuka, sang ratu peri itu terkejut mendapati Nashi masih dalam posisi berdiri di dekat pintu.

"Nashi! Kenapa kau masih disini?!" tanyanya heran, sedikit khawatir juga kalau-kalau anak itu mendengar percakapan mereka tadi. 'Bisa gawat' pikir Erza.

"Master….." lirihnya. Gadis itu kini tengah menunduk dalam, bayangan poni terlihat menutupi kedua matanya. "Apa benar papa masih hidup?" Tanya gadis kecil tersebut dengan nada rendah setelah cukup lama bergeming.

Ternyata benar dugaanya, bocah itu mendengar apa yang sedari tadi di bicarakanya bersama Yukino, "Kau mendengarnya?" selidik Erza sembari memicingkan mata.

Bukan menjawab pertanyaan masternya, dia malah berbalik menuntut jawaban "Jawab aku, Master…"

"…" Erza pun tak bisa mengatakan apa-apa lagi, dia memilih menutup mulut.

Merasa tak kunjung mendapat jawaban, Nashi mendongak. Menatap langsung pada kedua manik Erza disertai matanya yang berkaca-kaca. Kali ini ia benar-benar ingin mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi "Apa itu ben—!"

—Buk!

Tubuh Nashi menegang sesaat sebelum sempat menyelesaikan ucapanya, namun tak lama pandanganya mulai kabur hingga kesadaranya terenggut sempurna.

"Maafkan aku, Nashi." Ucap Erza, dari nadanya tersirat rasa penyesalan. Dia memukul titik kesadaran Nashi untuk membuatnya pingsan. Ia terpaksa melakukannya sebab ia khawatir bocah itu akan melakukan hal yang nekat jika sampai mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi.

"Yukino, kau bisa jalan sendiri?" Erza menggendong tubuh Nashi.

"Bisa…"

.

.

.

.

.

Bebapa saat kemudian, Happy dan Lector kembali ke guild dengan membawa beberapa orang.

Drap…drap…drap…

"ERZA! APA YANG TERJADI?" Gray Fullbuster berjalan dengan tergesa-gesa kearah Erza yang baru keluar dari ruang kesehatan.

"Master…." Ujar Juvia di samping suaminya.

"Gray, Juvia…"

Terlihat juga beberapa anggota lain mulai berdatangan, mereka pun sama halnya langsung bertanya-tanya heran 'apa gerangan yang terjadi?' sehingga mengharuskan mereka untuk berkumpul disaat tenang-tenangnya. Erza yang menyadari suasana mulai ricuh bergegas mengambil posisi ke depan, berdiri di atas panggung guild. Sontak semua orang disana bungkam seketika.

"Minna, pasti kalian merasa heran kenapa aku memanggil kalian secara mendadak!" Seru Erza—mengalihkan semua perhatian orang-orang kepadanya.

"Ada sebuah berita buruk yang baru sampai" suara Erza tiba-tiba mengecil, mempersempit jarak pendengaran bagi sebagian orang.

"Berita buruk?" Gray mengernyitkan keningnya.

"Apa itu?" Tanya Gajeel yang berdiri di sebelah Gray.

Erza menarik nafas dalam-dalam,

"Acnologia masih hidup dan dia menyerang guild Sabertooth." Ucapnya tegas.

.

Dalam sekejap suasana menjadi hening.

.

.

.

.

.

.

.

.

Beberapa detik kemudian.

"APPPPPPPAAAAAAAA?!" seluruh manusia yang berada di dalam ruangan tersebut sontak memekik begitu kerasnya—secara serempak pula.

"HAH?!"

"Wah…mustahil!, dia kan sudah mati."

"Benar itu!"

"Bagaimana bisa?!"

"Acnologia hidup lagi?!"

"Apa Natsu telah gagal membunuhnya?!"

"Kenapa?"

"Psssttt…psssttt…."

Seketika guild menjadi cekcok oleh berbagai pertanyaan.

"SEMUANYA HARAP TENANG!, ada satu lagi kabar yang lebih mengejutkan!." Erza berteriak, menginterupsi kericuhan yang sedang berlangsung. Orang-orang guild kembali diam, mengalihkan perhatianya pada master mereka.

Sang master kembali berbicara, "Acnologia tidak datang sendiri melainkan ada seseorang di pihaknya." Erza mengurut kening, kedua tanganya terkepal—giginya saling bergemeletuk menahan kekesalan. Sekilas raut mukanya terlihat bimbang. Karena Erza sudah dapat menerka bagaimana ekspresi orang-orang nantinya setelah mengetahui hal ini, namun bagaimana pun juga ia tak boleh menyembunyikanya.

Erza kembali menghirup nafas dalam, "—aku tidak mempercayai ini tapi… menurut mereka orang itu adalah… Natsu."

.

"HAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHH?" sama hal dengan penyampaian kabar yang pertama, untuk yang kedua kali ini orang-orang memekik tak kalah kerasnya mendengar kalimat terakhir yang terucap dari mulut sang master. Tentu saja, siapa yang tak akan bereaksi sama jikalau hal seperti ini terjadi?

Gray kalut—menghentakan kakinya "ITU PASTI BOHONG! MANA MUNGKIN NATSU BERPIHAK PADA ACNOLOGIA!" sangkalnya.

Khalayak setuju dengan apa yang dikatakan Gray. Mana mungkin salah satu nakama mereka terlebih orang yang paling berharga dan berjasa pada guild berani membelot?—Akhirnya ruangan hanya bisa kembali riuh tak terelakan.

Sementara di sudut lain, adik perempuan dari Mirajane—Lisanna mengatupkan kedua tanganya di mulut. Raut wajahnya terlihat begitu tak percaya, "Natsu…. masih hidup?" ucapnya lirih.

"Tapi kenapa bisa?" Tanya Romeo.

"Aku tak tahu pasti kebenaran maupun apa tujuan mereka. Oleh karena itu, aku mengumpulkan kalian semua disini untuk memberitahu. Ini masalah serius yang harus segera di tangani, kita sebaiknya memastikan dengan mata kepala kita sendiri kenyataanya, kemudian kita dapat megambil kesimpulan. Pikirkanlah dengan kepala dingin." Ucap sang master seraya memasang ekspresi seriusnya kembali.

Semua mengangguk sebagai responnya.

"Yang terpenting saat ini guild kawan kita—Sabertooth dalam keadaan gawat, kita harus membantu mereka menyelesaikan masalah ini. Aku akan mengirim beberapa orang yang dapat diandalkan. Gray, Gajeel, Laxus, Wendy, Elfman, Asuka, Romeo dan aku sendiri yang akan terjun langsung kesana. Sebagian orang berjaga di sini takut-takut ada serangan tak terduga dari musuh sebelum kita sampai ditempat. Bangun posisi siaga!. Lalu di ruang kesehatan ada Yukino yang terluka, kuperintahkan Juvia untuk menanganinya. Dan Lisanna ku perintahkan kau menjaga Nashi, dia kubuat tidur supaya lebih tenang, jangan biarkan dia kabur." Komando sang master.

Crik…

Erza mengambil pedang miliknya dengan kansho. "Tak ada waktu lagi kita harus bergegas!" ia lalu menyabetkan pedang itu ke udara di sampingnya, seraya menatap lurus ke depan dengan mata tajam. "Agar lebih cepat sampai, kita akan mengerahkan mobil bertenaga sihir milik guild." Ujarnya.

Kemudian ia melompat kedepan turun dari panggung, "Ayo kita berangkat!"

"Ha!" diikuti oleh delapan orang penyihir elit yang di amanatkan terpilih.

Gray, Gajeel, Laxus, Wendy, Elfman, Asuka, Romeo serta master Erza sendiri berangkat menuju tempat yang di tuju.

Sementara Yukino di ruang kesehatan guild dirawat oleh Juvia. Tubuh Nashi yang tak sadarkan diri juga di tempatkan di ruang kesehatan, di jaga oleh Lisanna dan Happy. Serta sisanya berjaga-jaga.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

IXIXIXIXIXIXIXIXI

Di tempat lain, awan hitam di langit malam itu terlihat menggumpal menutupi cahaya bulan. Sekedar catatan, untuk menghindari hal yang tak di inginkan, masyarakat sekitar telah di ungsikan ke tempat yang lebih aman.

Sementara guild Sabertooth sudah benar-benar porak poranda. Master Jiemma beserta para anggotanya sudah terkapar tak berdaya. Korban-korban berjatuhan. Orang-orang tekuat seperti Minerva, Orga, dan Rufus dibuat tak bisa berkutik. Sting hampir sekarat, tubuhnya tergeletak di tanah. Sedangkan Rogue masih berupaya bertahan walaupun dirinya sudah babak belur dan penuh luka.

'Tak kusangka, Sabertooth dengan mudahnya di lumpuhkan oleh dua keparat ini.' batin Rogue menggeram. 'Sialan!, STING!'

"Ughhh…." Sting mengerang kesakitan.

Seorang pria berjubah hitam dengan rambut salmon panjang menginjak kepala Sting sembari mendengus, "Membosankan sekali, aku bahkan belum mengeluarkan setengah dari kekuatanku".

Sting yang notabene tak dapat berlaku apa-apa lagi hanya bisa pasrah sambil menahan rasa sakit. Dirinya benar-benar tak menyangka akan berakhir di permalukan seperti ini terlebih oleh seseorang yang—sudahlah. Dalam benak ia berharap keajaiban akan datang dan mengubah semua yang telah terjadi. Ia berharap mimpi buruk ini cepat berakhir. Ya.. semoga saja.

"Di sini hanya ada dua? Sayang sekali…" ucapan datar dari seorang pria bertubuh kekar dan berambut abu gelap dengan corak hitam disekujur tubuhnya. Pria itu menyembunyikan tangan kirinya yang putus di balik jubah hitamnya.

Lagi-lagi Rogue menyaksikan pemandangan gila itu, temannya di hardik oleh si keparat sialan. Tangan kanan disamping kepalanya yang berlumuran darah terkepal, ia bangkit berdiri dengan daya tertatih-tatih. "A…pa yang…. Sebenarnya…..kalian… inginkan?" ucapnya dengan suara terputus-putus. Untuk sekedar melawan dengan tatapan tajam, tentu ia masih bisa.

Acnologia, nama pria berambut abu itu menjawab "Tujuan kami untuk menjadi yang terkuat diantara yang kuat." Dengan nada amat santai dan raut muka sedingin es.

Rogue terbatuk-batuk, nafasnya pun memburu. Ia memegang dada kirinya yang terdapat bekas cakaran, "Ke…na…pa me...libatkan kami…?" untuk yang kesekian kalinya ia bertanya.

Si pria berambut salam mengayunkan kakinya, menendang tubuh Sting dengan mudahnya bak kaleng kosong. Lalu memasang seringai sembari melangkah medekati Rogue. "Karena itulah jalanya—"

"—Jalan itu akan aku bekukan!" sebuah suara tiba-tiba datang memutus kalimat pria itu.

"!"

.

"Lyon….dari…. Lamia… Scale?!" ujar Rogue.

Pria salam itu menoleh kebelakang—

"!" sedikit tersentak karena tiba-tiba seekor ular naga yang terbuat dari es melesat cepat kearahnya. Namun sebelum berhasil mengenainya, ular naga itu sudah mencair hingga menguap dan lenyap. Tampak pula beberapa orang berlari mendekati Lyon. Sepertinya bantuan mulai datang, pesan dari Frosch akhirnya tersampaikan tepat waktu.

"Ck, rupanya para cecunguk berdatangan" Pria bersurai salmon itu berdecak sebal.

.

"Chelia dan kalian, lakukan evakuasi dan pulihkan mereka. Aku beserta Lyon akan mengalihkan perhatian dua orang itu." perintah Jura, master sekaligus anggota dari sepuluh penyihir suci.

"Baik!" seru mereka.

.

Acnologia menatap dingin kearah Jura dan Lyon, "Bisakah kalian memberikan hiburan padaku?"

"Berhentilah membuat keonaran, Acnologia!" cercah Jura. 'Aku tidak yakin dapat mengalahkanya tapi kuharap ini bisa mengulur waktu sampai bantuan lain datang' tukasnya dalam hati.

"Ternyata benar itu kau! Pertama kali mendengar aku kaget. Tapi setelah memastikan, tak ada cara lain lagi. Akulah lawanmu!"

Pria berambut salmon itu mendengus, "Sepertinya kau siap mati, penyihir es…"

.

.

.

.

.

.

.

IXIXIXIXIXIXIXIXI

"Ngh….." gadis kecil itu melenguh. Matanya mengerjap-ngerjap menyesuaikan volume cahaya yang masuk ke retinanya. "Are? Dimana ini?" ia langsung celingak-celinguk ke sekeliling setelah bangkit duduk.

"Wah, kau sudah sadar Nashi-chan" seorang wanita muncul dari balik gorden.

"Bibi Lisanna?"

Wanita yang di panggil bibi Lisanna itu tersenyum lalu mendudukan diri di kursi samping ranjang.

"Dimana paman Happy?" Tanya Nashi.

"Oh…Baru saja keluar." Jawabnya.

Nashi mengangguk, namun sedetik kemudian ia terperanjat "Ah! Benar juga! Aku harus mencarinya!" buru-buru ia menyingkap selimut yang membalut tubuhnya dan menuruni ranjang. Namun dengan sigap Lisanna menangkap pergelangan tangan Nashi.

"Nashi-chan mau kemana?" selidik Lisanna.

"Mencari paman Happy!"

Lisanna menggeleng, "Tidak boleh, kau harus tetap disini!" cegahnya.

Tentu Nashi tak terima begitu saja. Dirinya mulai memberontak "Tidak mau! Lepaskan! Aku harus mencari paman Happy. Aku ingin bertanya padanya!" ia menggertak. Pegangan Lisanna sangat erat membuat sang empu tangan kesulitan untuk melepaskannya.

"Tidak bisa, ini perintah dari master!" Lisanna masih tetap mempertahankan peganganganya.

Nashi belum menyerah, "Aku tak peduli! Jangan menghalangiku, Bibi Lisanna! LEPASKAN!" kali ini suaranya meninggi.

"TIDAK AKAN!, MENGERTI!" seolah tak ingin kalah, Lisanna pun melarangnya dengan nada sedikit membentak.

"Aku harus mendapatkan kebenaranya, aku tidak bisa berdiam diri saja! Karena itu, lepaskan aku!" Nashi semakin tak sabaran—ia terus meronta-ronta, tanganya terus berusaha melepaskan cengkraman itu.

Lisanna menanggapinya dengan helaan nafas. Ia kemudian meraih satu lagi pergelangan kecil Nashi mencoba menghadapkan paksa anak itu padanya. Kedua mata shapire-nya menatap langsung ke sepasang onyx milik Nashi "Ne, Aku mengerti perasaanmu, pasti berat kan?" suaranya sedikit melembut dari sebelumnya. "Tapi kau harus tetap tenang dan diam di sini, oke?"

"…." Tak ada tanggapan. Nashi akhirnya merunduk, tampak merenung sejenak. Ia hendak membenarkan perkataan Lisanna, tapi di dalam hati kecilnya ada suatu dorongan kuat untuk tetap pada pendirianya. Lebih cenderung pada pilihan kedua. Ya… karena ia sadar dirinya bukanlah manusia berotak dingin.

.

"Memangnya… bibi mengerti apa yang aku rasakan?" Nashi angkat suara setelah cukup lama terdiam. Nadanya terdengar begitu datar, seakan menantang wanita di hadapanya.

Lisanna tertegun. Ia mengalihkan afeksinya kearah lain enggan menatap langsung pada Nashi, bahkan ia kini tak dapat mengeluarkan sepatah kata pun. Hening meyelimuti.

.

Tatapan tajam milik Nashi benar-benar langsung tertuju padanya. Menusuk titik terdalam bagai belati namun begitu datar bak papan lantai.

"Orang… yang tidak tahu apa-apa tentang perasaanku…. sebaiknya diam dan jangan menghalangiku."

Deg!

Kedua manik Lisanna membulat. Hatinya sukses tertampar dengan peryataan yang terlontar dari bibir mungil gadis itu. Bagai katana yang terhunus, tajam dan menyayat. Tanpa ia sadari pengangannya pun melonggar, memungkinkan Nashi dengan mudah lolos. Tanpa aba-aba lagi, bocah itu langsung pergi meninggalkan Lisanna yang terdiam mematung.

Nashi menjeblak pintu ruang kesehatan. Ia berlari secepat mungkin keluar guild—mengabaikan kicauan orang-orang di belakangnya.

.

.

.

Ia berhenti berlari setelah sampai di tempat yang ia tuju. Yakni rumahnya sendiri.

Brakk!

Terdengar suara pintu yang terbuka secara paksa. Nashi muncul dari balik pintu tersebut dengan gelagat tergesa-gesa. "Hosh…hosh… paman Happyh!" nafasnya terengah-engah setelah berlari cukup jauh dari guild.

Happy terkejut "Are? Nashi?! Kau sudah sadar? Polyuchka-san sedang pergi. Padahal aku juga baru mau ke guild—tunggu!" ia seperti baru menyadari sesuatu.

"—KENAPA KAU KESINI?!" Happy memekik—agak terlambat kaget.

Nashi tak menjawab, ia malah melangkah kearah Happy."Paman, katakan semuanya padaku!"

"Eh? Apa maksudmu, Nashi? Kenapa tiba-tiba kau datang dan bertanya seperti itu?" dia tampak keheranan akan tingkah keponakanya. Tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba langsung meminta yang tidak jelas?

Namun tampaknya raut wajah Nashi tak sedikit pun menunjukan candaan. Ia dalam mode serius "Aku tahu paman menyimpan semuanya. Katakan paman! Kenapa ada orang yang selalu menjauhiku—seolah aku adalah ancaman? Kenapa kemarin mereka mengataiku? Apa alasanya? Kenapa ayahku di sebut pencundang? Apa yang ingin paman katakan waktu itu? apa yang salah? Dan terakhir—" serentetan pertanyaan tiba-tiba meluncur dari mulutnya. "—Apa benar ayahku masih hidup?" lanjut Nashi. Di pertanyaan terakhir ini suaranya sedikit mengecil.

Happy menatapnya nanar "Nashi….."

"Jawab aku, paman!"

"Nashi sebenarnya…."

"….."

Happy membuang nafas, mengendikkan bahu mengangkat tangan di samping "Maa, Aku yakin kau sering membaca buku sejarah. Pasti pengetahuanmu mengenai hal itu begitu luas dan—"

"—Langsung saja, tak perlu membuang waktu." Potong Nashi.

Sebulir keringat muncul di kening sang exceed, ia menyengir kikuk. Agak merinding juga pasalnya rasa penasaran anak itu bisa membuatnya berubah menjadi orang serius yang lebih menakutkan dari orang dewasa. Rupanya dia sangat mahir dalam hal membujuknya "A-aye….. Aku hanya bingung harus memulainya darimana. Kau terus memaksa apa boleh buat bagiku. Aku sudah menduga suatu hari kau akan bertanya soal ini, dan ternyata itu sekarang."

Happy merubah ekspresinya menjadi serius "Nashi, kau ingin tahu? Beberapa pertanyaanmu bisa terjawab dengan satu alasan. Dan itu adalah….. karena ayahmu. Kuharap kau dapat menerima ini" wajahnya menyiratkan kebingungan, tampak tak yakin dengan apa yang dikatakanya. Nashi menautkan kedua alisnya.

.

.

"Ayahmu bukan manusia."

"Apa?" Nashi semakin di buat bingung.

"Natsu bukan manusia, dia iblis. Iblis terkuat dari book of Zeref, E.N.D"

DEG!

Kedua bola mata onyx itu melebar, "Tidak…. Mungkin…. Pa-papa adalah END?..."

"Etherious Natsu Dragneel atau disingkat menjadi END. Adalah satu-satunya iblis terkuat dan terjahat yang pernah di ciptakan oleh Zeref sekitar 400 tahun lalu. Sewaktu perang Alvarez, buku yang menyegel jati diri END telah terbuka dan pada saat itu Natsu menjadi hilang kendali. Dalam sekali serangan, Natsu dapat mengalahkan musuh dengan mudahnya, seluruh pasukan tentara, sisa Spriggan 12, bahkan Zeref yang terkenal abadi telah berhasil membuat Natsu dapat membunuhnya. Ia tidak bisa mengontrol kekuatan itu, hingga dirinya harus berbuat dosa karena menyerang teman dan membantai beberapa warga sipil yang tidak ikut terlibat."

Tubuh Nashi bergetar. "Uso….."

"Kami berusaha memulihkan mental para keluarga dan rekan dari korban-korban yang terbunuh dengan menghapus ingatan tentang peristiwa itu. Namun ternyata masih ada sebagian yang mengingatnya."

"Itu….. bohong kan?" di detik ini air matanya mulai mengalir, ia mengatupkan kedua tanganya di mulut.

Happy menghirup nafas dalam-dalam lalu menghembuskanya pelan, "Dan berat mengatakan ini, Nashi. Kau membawa darah dari ayahmu yang berarti kau juga….Etherious."

DEG!

"….."

.

.

"Maafkan aku, Nashi. Tapi aku percaya kau berbeda dari ayahmu….. kau tidak memiliki kegelapan di dalam hatimu. Oleh karena itu…." Happy menggantungkan kalimatnya. Ia berjalan dalam diam menuju sebuah almari yang teronggok di sudut ruangan, lalu kembali dengan membawa sebuah benda yang terlipat.

"….. Aku akan mempercayakan ini padamu." ia menyodorkan benda itu pada Nashi. Satu-satunya benda berharga yang selalu dikenakan ayahnya dulu. Ya, sebuah syal. Ini pertama kali Nashi melihatnya, syal milik sang ayah.

"….Ii…ini?.."

Perlahan ia menerima benda itu. Menunduk menatapnya lekat-lekat. Air matanya berjatuhan ke atas kain syal, ia terus melayang pikiranya. Hatinya bergejolak berbagai emosi. Haruskah dari awal ia tidak menanyakanya? Kebenaran yang kejam. Sangat miris anak sekecil dirinya harus mengecap sebagian pahitnya kehidupan. Tertular sebagian dari kesalahan kecil di masa lalu. Ia tak menyangkanya….namun,

Setelah sukup lama Nashi menyeka air matanya, mengeringkan pipinya yang basah. Ia mengangkat syal itu, matanya terpejam menghirup dalam jejak-jejak aroma lama yang masih tertinggal di kain tersebut, kemudian melingkarkan benda itu ke lehernya sendiri. Dalam hati ada keputusan, dalam hati ada tekad dan hal itu tak tergoyah sedikitpun. Senyum kecil penuh arti terbit di wajahnya, ia membuka mata dan mendongak menatap ke wajah si exceed biru.

"Aku tidak peduli apa dan siapa ayahku. Pertanyaanku belum terjawab semuanya. Aku hanya ingin meluruskan semua ini." ungkapnya penuh penekanan.

Seakan mengerti, exceed itu mengangguk.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

IXIXIXIXIXIXIXIXI

Erza dan yang lainya terperangah tak percaya dengan apa yang baru tampak di depan mata mereka sekarang. Bangunan yang luluh lantah, tubuh Jura dan Lyon yang tergeletak berlumuran darah.

"Ini tidak mungkin…." Romeo membulatkan matanya.

"LYON!" Gray berteriak.

"Jura-san…."

.

"Yang ku tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Kali ini ada tiga? Bagus!" timpal sebuah suara dingin dari pria berambut abu.

Semua langsung melempar tatapan tajam—membuat posisi siaga.

"Bangsat…!, ACNOLOGIA!" Erza berteriak murka. Dia yang berdiri paling depan.

Acnologia menyeringai "Aku tahu kau…. Titania Erza Scarlet—atau Erza Berselion?" dia mengangkat sebelah alisnya, memasang tampang yang dapat membuat siapapun lawanya merasa muak.

"Diam Kau.! DIMANA NATSU?! KATAKAN!"

"—Akhirnya…. Dragon Slayer lainya datang" tiba-tiba sebuah suara lain muncul dari atas mereka.

DEG!

'Suara ini?'

Semua penyihir Fairy Tail sontak menengadah keatas dan—betapa kagetnya.

"KAU…!" Gray menggeram keras.

Seonggok mahluk dengan sayap berwarna merah dan tanduk dikepalanya melayang di atas mereka.

"Na-Natsu, kau….. Natsu!" kedua manik Erza terbelalak. Begitupun dengan yang lainya.

"Natsu-san….." Wendy menatap nanar sama halnya dengan Asuka "Natsu…"

Mahluk yang di sebut Natsu itu turun ke bawah. Hantaman kakinya membuat tanah di sekitar tempat pijakanya retak. Ia lalu melangkah santai, mendekati para penyihir Fairy Tail.

"Natsu? Siapa itu Natsu?. Heh, Tetapi aku tak peduli. yang terpenting….."

Gray, Gajeel, beserta yang lain benar-benar terpaku dibuatnya.

'Apa yang dia katakan tadi, dia tidak ingat dirinya sendiri?' Tanya Gajeel dalam hati.

Natsu menyeringai lebar menampakkan gigi-gigi taringnya, "…Sanggupkah kalian memberikan hiburan terbaik padaku?" ucapnya dengan nada angkuh.

.

Tubuh Erza bergetar hebat, 'Natsu…. kenapa kau…. seperti ini?...' Batinya. Ia masih tak mempercayai keadaan ini.

'Natsu, akankah kejadian itu terulang lagi?' pertanyaan retoris Gray dalam benak—ia mengepalkan tangannya menahan emosi yang bergejolak.

Laxus menggeram dalam hati, 'Cih.. aku tak bisa membayangkan kekuatan Raja Iblis dan Raja Naga yang tergabung'

Acnologia melangkah ke samping Natsu. Mereka berdua akhirnya berdiri berdampingan.

"Cukup basa-basinya. Mulai sekarang….." Acnologia merentangkan tangan dan seketika kuku-kukunya memanjang.

"KITA BERTARUNG!" Acnologia memulai serangan. Dia mengeluarkan raungan naga empat elemen sebagai pembukaan.

Sedangkan Natsu menyerang mereka dalam mode END.

Tak ada waktu untuk menyesal tak ada kesempatan untuk berkompromi sekalipun, kegelapan tetaplah kegelapan, yang harus segera di tumpas meskipun hal itu datang dari orang terdekat kita. Begitulah permainan takdir yang kejam ini.

Perang sengit antar penyihir pemberani dan dua monster pun tak terelakan lagi. Mereka terbagi menjadi dua kelompok. Gajeel, Wendy, Laxus, dan Romeo melawan Acnologia. Sedangkan Erza, Gray dan Asuka sebagai penembak jitu berhadapan dengan Natsu. Mereka saling mengeluarkan kemampuan terkuatnya masing-masing, berusaha berkombinasi dan berkejasama.

.

.

Namun, seperti telah terprediksi sebelumnya, tak ada satu seranganpun dari mereka yang berhasil melumpuhkan dua monster kegelapan itu. Kekuatan mereka tak seimbang meski delapan lawan dua. Hingga sebagai gantinya merekalah yang terhempas.

.

Keputus asaan di depan mata mereka. Apa yang akan terjadi selanjutnya?

.

.

Natsu melesat secepat kilatan cahaya ke hadapan Erza yang sudah babak belur tak dapat berkutik. Mengacungkan kuku-kuku tajamnya.

"Mahluk rendahan semacam kalian. Lebih baik mati!"

Tangan Natsu melesat—Erza menutup mata pasrah.

"ERZA!"

"MASTER!"

Crashhh….! Clap…

"!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Huh?..." selanjutnya Erza tidak merasakan apa-apa. Ia membuka mata, Serangan Natsu tidak mengenainya? Lantas kenapa—

"?"

Tampak di kedua manik sang master kini, sepasang sayap mahluk lain menjadi tameng yang melindunginya. Dan sayap itulah yang terkena serangan dari Natsu hingga robek.

"Sialan, berani-beraninya kau menggangguku!" Natsu menggeram. Amarahnya memuncak. Lantas ia membanting tanpa ampun tubuh mahluk yang melindungi Erza itu hingga berguling-guling jauh menghantam bebatuan dengan kerasnya dan bongkahan material.

"Ugh…." ia mengerang kesakitan sesaat setelah tubuhnya menghantam batu besar.

Mahluk itu… bertanduk, bersayap, dan memiliki sisik berwarna merah di sekujur tubuhnya?

"Siapa….dia?" semua bertanya-tanya.

Namun secepat kilat Natsu sudah berada di hadapan mahluk itu, mengunci tubuhnya dan mencekik lehernya. Mahluk itu pun meronta-ronta di dalam cekikan Natsu.

.

Perlahan sisik, sayap, serta tanduknya meluruh, menyusut dan secara perlahan pula wujudnya berubah menjai sesosok… gadis kecil?

"!" Semua tersentak.

"KAMI-SAMA!"

"Itu NASHI!"

Tak henti sampai di situ Natsu mengacungkan salah satu tanganya. Tak muluk-muluk bersiap melayangkan sebuah tusukan.

"Enyahlah." Desisnya dingin.

Semua penyihir Fairy Tail membelalak.

"ASTAGA!, dia akan membunuh anaknya sendiri."

"TIDAK!—JANGAN!"

"HENTIKAN—NATSU!"

"NATSUUU!"

JLEBBB…!

"…..!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Dan kuku-kuku tajam Natsu menancap di tubuh Nashi, tanpa keraguan.

-To be Continued-

Huwaaaaaaaa… gomenasai gomenasai gomenasai! (T_T) author bener-bener hopeless~ author bener-bener hopeless~ (Q_Q) huwaaaaaaaaaaaa…..

ohya, lebaran tinggal menghitung hari. Bagi semuanya author ingin mengucapkan minal aidzin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin.

(Q_Q) Aku disini ngebayangin Natsu punya rambut panjang kyk Acnologia, pasti keren kan? hehe…

Nah sekian aja dari author, untuk reader-sama sekalian di tunggu reviewnya karena review dari kalian akan sangat berguna bagi author sendiri~ douzo..

Next Chap 6 : Reuni