Adhe : iya, makasih reviewnya ya. Selamat membaca lanjutanya~
Riri406 : sebelumnya author ucapkan terimakasih untuk reviewnya. Ini udah di lanjut, maaf agak lama dan maaf juga jika kurang bagus hehe :D
ifa dragneel92 : makasih karena masih mau nunggu lanjutan fic abalku ini huhu ('v')… btw ini lanjutanya ifa-san, selamat membaca~
synstropezia : horeee… syn-san salah prediksi wkwkwk xD. Yosha! Chap kali ini aimi banyakin action-nya deh sesuai permintaan syn-san (*sebenernya sih emang rencananya mau banyak action dari awal juga hehe xD). Oke, selamat membaca~
Fic of Delusion : iya fic-san, insyaallah kalo udah update dan ada waktu aku bakal nyempetin baca2 fic author favoritku ini hehehe xD. Dan tetep ikutin fic aku juga ya (*ngarep no jutsu). Yosh ini chap 7 alias no 8, monggo~
Aoi Shiki : banzai…banzaii..! hehe… yosha, ini lanjutanya shiki-san, maaf agak lamaaaaaaaaa….. Makasih bwt reviewnya~
shiroi tensi : sayangnya imajinasi kita gak sejalan ya shiroi-san—eh penname kamu artinya malaikat putih, kereeennn d(^-^). Ini chap ke-7, selamat memakan—eh maksudnya selamat membaca~
de-chan : banjir kenapa de-chan? :o (*plak). Tenang, Nashi gak mungkin mati kok hihi. Natsu menyesal? pasti lah dia merasa bersalah. Tp belum saatnya. Yup! Ini lanjutanya, selamat membaca~
mihawk607 : tidak apa2 mihawk-san, dengan adanya penname kamu d kolom review aja udah bikin author seneng. Dan maaf agak lama, biasalah duta selalu banyak urusan yg merepotkan. Yosh selamat membaca chap 7 ini~
.
.
.
.
.
A Fanfiction by me
Genre : Family, Supernatural, Action, campur aduk.
Warning : Flat, kaku, Aneh, OOC, Typos, dan segala kejelekan lainya.
Happy Reading~ :)
.
.
.
.
.
Whuusshhhh~
Berkibar syal itu, melambai-lambai mengikuti kemana angin berhembus sedang. Bongkahan material bangunan yang terurai berserakan di segala sudut. Dua orang berbeda gender, usia, tinggi, serta ukuran badan namun memiliki warna rambut serupa berdiri menentang dalam diam. Kedua pasang mata setajam elang, menatap lurus ke depan seakan membidik musuh dari jarak jauh.
.
.
.
Penuh keyakinan, menggengam kepalan tangan di depan dada. Jubah hitam sang salamander di lepaskan, membiarkanya melayang-layang di udara, terbang bersama angin.
Senyum penuh arti terpatri "Kita lakukan bersama-sama. Tinju besi naga api."
"Ha!" di sahut suara mungil dengan penuh kepastian.
PLARR!
Bunyi kaki di hentakan ke tanah, keras menerbangkan puluhan kerikil. Mereka berdua para pembantai naga mulai berlari, cepat dan menghadang, melesat menembus angin—namun di pertengahan, keduanya berpisah arah membelah dua sisi kanan kiri saat jarak sudah dekat dengan sang tersangka.
"?!" Acnologia tersentak.
Natsu pun meneriakan emosinya, "ACNOLOGIA, SIALAAAAAN...!"
"SEKARANG, NATSU, NASHI!" teriak Gray yang sedang berusaha menahan pergerakan Acnologia dengan pembentukan es, Prison.
"KARYUU NO—" nyala api berkobar menyelubungi kepalan tangan Natsu.
Acnologia terkesiap "!"
"—TEKKEN!" sambung Nashi yang tiba-tiba muncul dari arah atasnya.
Duakk….!
Dan tubuh Acnologia pun tersungkur akibat terkena serangan ganda tinju naga api dari dua arah yakni samping kanan dan atas—hanya tersungkur.
Natsu mengusap ujung hidung dengan ibu jarinya seraya menyeringai "Heh, Aku semakin membara. KARYUU NO HOKOUUU…."
GHWWUOOOOORRRRRR….
Semburan api dari mulutnya di arahkan tepat pada Acnologia yang sebelumnya telah berdiri kembali.
Gray pun tak tinggal diam, "Ice Make : Giant Saucer!" sebuah piringan raksasa dengan ujung bergerigi yang terbuat dari es melesat menghantam tubuh Acnologia.
DUARRR!
"KARYUU NO KOUEN!" seakan tak memberi kesempatan apapun, Nashi membantu dengan tembakan bola api-nya.
BLARRR!
"AP-?!" Nashi memekik tertahan. Matanya membulat tak percaya, dengan mudahnya Acnologia menghirup dan memakan api yang ia lontarkan? Jika memang hal itu bisa dia lakukan sejak tadi, lantas kenapa baru Nashi ketahui sekarang?
'Kalau begini caranya, akankah semua sia-sia saja? Apa yang harus aku lakukan?' Nashi membatin.
"Dark Dragon : Roar!"—dengan tenangnya sang raja naga itu merapal mantra, mengembalas serangan dengan raungan naga kegelapan miliknya. Menyemburkan suatu elemen seperti campuran dari api dan laser berwarna hitam pekat bercabang yang mengarah pada Nashi, Natsu, beserta Gray sekaligus.
Belum terlambat tampaknya, "Dragon Slayer Hidden Technique : Crimson Exploding Flame Blade!!" Dengan cepat pula, Natsu mengeluarkan jurus rahasia Dragon Slayer api untuk menangkis raungan naga Acnologia.
BLARRR….!
Jurus hitam Acnologia dan jurus api Natsu yang berbentuk burung phoenix saling bertabrakan. Walau tak berhasil menumbangkan sang raja naga dalam sekali hantam, setidaknya serangan balasan tadi dapat di tangkis. Alhasil, ledakan dahsyat pun lagi-lagi tercipta, semakin membuat panas area pertarungan.
"Hosh… Hosh… Hosh…" Natsu sendiri tampak kelelahan sesaat setelah mengeluarkan sihir untuk yang kesekian kalinya. Tak dapat di pungkiri memang, kekuatan sihirnya pun sewaktu-waktu bisa habis. Walau di juluki sekuat apapun dirinya.
"Papa… Kau tak apa?" Nashi menghampiri sang ayah, bertanya dengan nada khawatir—yang dibalas senyum singkat oleh Natsu.
"Sial, sihirku tak cukup untuk mengeluarkan Momento Mouri" Gray berdecih kesal. Kedua tanganya terkepal erat, menyesalkan kekuatan sihirnya yang mulai menipis. Sang Devil Slayer tersebut bertransformasi kembali ke mode semula. Mau tak mau melepas full power karena pasokan tenaga sudah berkurang—
"Kami akan membantu!" Ucap sebuah suara dari belakang mereka.
"?!" Refleks ketiganya menoleh.
Rupanya Erza dan kawan-kawan datang. Terlihat tubuh mereka yaitu Laxus beserta yang lainya sudah penuh luka namun bisa-bisanya mereka masih memancarkan senyum penuh harapan.
"Tenang, saja. Aku sudah meringankan luka-luka mereka." ujar Wendy, memadamkan kekhawatiran.
Natsu pun ikut tersenyum melihat para nakamanya telah bangkit kembali, tak ada yang lebih di syukuri dari hal itu untuk saat ini.
"Minna! Malam ini, mari kita satukan tekad dan kekuatan kita untuk membela kebenaran, menumpas kejahatan, sampai titik darah penghabisan!" Erza berucap dengan nada lantang, penuh keyakinan yang tentu saja untuk meyakinkan para anak asuhnya.
"Gihee, kau berlebihan seperti biasanya, Erza." Gajeel menimpali.
Semua tersenyum. Ya, dengan menyatukan hati, maka bukan tak mungkin kekuatan yang sesungguhnya pasti akan terbentuk.
"Minna…" Nashi sampai terbawa haru. Inikah yang di namakan 'Fairy Tail' yang sesungguhnya? Sebuah rasa persaudaraan dan bahu-membahu yang tak akan pernah sirna dari generasi ke generasi?
Tetapi, suatu pikiran mengganggu dirinya. Nashi pun tertunduk dengan mimik yang berubah sendu, "Tapi…. Apa aku bisa?" ucapnya yang terdengar seperti pertanyaan dengan nada lirih.
Puk!
Kedua kalinya, sebuah tepukan hangat mendarat di pucuk kepala pink Nashi."Yang terpenting dari mengeluarkan sihir adalah kekuatan perasaan dari penyihirnya. Jadi, kau harus percaya pada perasaan dan dirimu sendiri, Ok?" Perkataan sang ayah yang begitu menenangkan, membuat keraguan yang ada di hati putrinya sirna sudah. Perasaan senang yang Nashi rasakan tak dapat tergambarkan lagi dengan ucapan hingga setitik air mata pun menetes dari kelopaknya.
.
"Dengar, ada satu hal yang ku tahu. Kekuatan Acnologia itu masih belum pulih sepenuhnya akibat pertarungan kami sembilan tahun lalu. Ini merupakan kesempatan bagi kita. Jika kita dapat mengkombinasikan kekuatan dan menyerangnya terus-menerus secara bersama-sama, kemungkinan untuk mengalahkanya cukup besar. Kalian paham?" Ucapan Natsu memberikan sedikit pencerahan pada otak kesembilan mage ekor peri tak terkecuali Nashi sendiri. Tampaknya strategi T, seperti yang selalu di koarkan si pria bersurai salam itu dahulu berguna juga.
"Dalam keadaan cacat saja, dia masih sekuat itu?..."
"Kami mengerti. Ada dirimu di pihak kita sekarang." Memahami perkataan Natsu, Erza mengganggukan kepala mantap. Begitupun dengan yang lainya.
"Re-quip : Thunder God Armor." Cahaya putih seketika menyelubungi tubuh Erza setelah merapal mantra kansho-nya. Cahaya itu perlahan-lahan menghilang dan kini sang master itu sudah mengganti baju zirah-nya ke dalam mode 'Dewi petir'.
"Maaf, hanya ini yang bisa ku kerahkan sekarang."
"Tidak apa, Master. Tak perlu berkecil hati. Kita akan berusaha mengerahkan seluruh kemampuan kita yang tersisa." Ujar Romeo.
Semua orang pun ikut mengangguk sebagai tanda persetujuan akan apa yang di katakan oleh putra tunggal Macao tersebut.
.
.
.
Angin masih setia bertiup, namun kali ini cukup kencang dari sebelumnya. Kesepuluh penyihir elit dari suatu guild ternama seantero Fiore—tidak, tapi hampir seluruh penjuru Earthland pun mengenalnya telah berkumpul, berdiri dalam posisi siaga, menyiapkan formasi terbaik yang nantinya akan mereka gunakan semata-mata untuk menggertak lawan.
Sang master yang paling di hormati dan junjung tinggi maju ke depan, memimpin pasukanya. Dirinya menghirup nafas dalam-dalam serta memejamkan mata, tombaknya di tancapkan ke buana.
.
.
Menghembuskan nafas perlahan, kedua manik violet itu pun terbuka.
"MINNA!"—teriakan lantang dari suara alto.
"SERAAAANGGGG…!"—bergema bagai genderang perang.
"HAAAA!" sembari berteriak para mage putih mulai berlari, menyiapkan sihir terbaik yang sekiranya bisa mereka andalkan.
Sedangkan di sisi yang berlawanan, Acnologia hanya mendengus bosan. "Heh, pengeroyokan rupanya?"
"Otoko sejati tidak akan pernah mundur! BEAST SOUL : BELCULAS! GRRAAAA…." Di mulai dari salah satu Take-over mage Strauss, Elfman mengubah anatomi tubuhnya menjadi monster buas berotot batu yang tanpa pikir panjang mengarahkan tinjunya pada Acnologia.
"Beast soul, huh? Terlalu lamban."
Sayangnya Elfman kalah cepat dengan Acnologia, sehingga tinjunya hanya menganai objek tak berwujud—alias udara.
"APA?!"
"Mau lari kemana kau, Brengsek?! RED RANGING BOLT!" rupanya sang Dragon Slayer petir, Laxus tak membiarkan Acnologia lolos begitu saja, ia menembakan petir secepat kilatanya.
"Kubantu, Laxus!" Sang Exquip mage membantu dengan petir yang keluar dari ujung tombaknya.
"Purple Net!" Romeo melakukan hal yang sama.
"Tenryuu no Hokouuu…." Begitupun dengan Wendy yang dalam mode Dragon force.
GWHUOOOOOORRRRRRR….!
Kombinasi dari empat warna, petir merah, petir putih, angin biru, dan api ungu sekaligus menembak sasaran.
Ckrek..
"Target terkunci. Guns Magic : Double Sunlight Shoot!" ditambah hantaman peluru dari sniper handal, Asuka.
BLAARRR!
Ledakan pun kembali menggelegar. Kepulan asap tebal menyelimuti daerah tempat sang sasaran berada.
'Apa kali ini berhasil?'batin mereka.
Fuuuhh….
Yang pertama kali terlihat kala kabut asap mulai surut adalah….. Siluet Acnologia yang berdiri dengan gagahnya dalam wujud setengah naga. Dalam arti serangan gabungan tadi tak bermakna apapun.
"Tapi itu cukup membuatku merasakan sakit juga." Ucapnya seraya tersenyum sinis. Menapakan kaki berjalan ke depan dengan entengnya.
Tap… tap.. tap..
"Rairyuu : Houtengeki!" Laxus masih belum kehilangan akal. Jurus berbentuk tombak petir ia rilis.
"Membosankanya. Sihir rendahan tak akan mempan padaku." Namun payahnya, petir itu malah di telan oleh Acnologia sendiri. "Gochisousama deshita." Lanjutnya, seolah sudah menyantap makanan terlezat di dunia.
'Uso! Bahkan petir Laxus juga?!'
Bibir Acnologia menyungging ke atas, tanda meremehkan. "Kalian ini tolol atau apa? mengacuhkan kalimat 'Belajar dari pengalaman' begitu saja. Dan sepuluh lawan satu? Sungguh tak ad—"
"Fire Dragon—"
"Huh?" raja naga itu refleks tersentak mendengar suara cempreng dari belakangnya.
"!"
"—Star fire!" tak dikira dan tanpa sempat menghindar lagi, puluhan bola cahaya berselimutkan api menghujmnya tanpa ampun. Ternyata perhatiannya berhasil di alihkan.
Gajeel pun tak membuang kesempatan, "Tetsuryuu No Hokouuu…!"
GWHUAAAARRRR….!
Hembusan pasir besi bertekanan tinggi mengarah horizontal pada Acno bersamaan dengan serangan Nashi.
"Sekarang, Salamander!" Teriak Gajeel.
Natsu maju menghadang, "Giliran jarak dekat, KARYUU NO SAIGA!"
DUAKK!
"KAGIZUME!" Nashi membantu upaya pengeroyokan tersebut berkombinasi dengan ayahnya sendiri.
"Enchuu!"
"Jangan meremehkan sihir yang sederhana lagi!, makan ini!"
DUAKKK…!
"Guahhh!.." Tinjuan penutup dari Gajeel tepat mengenai kepala sang musuh.
Rupanya usaha kali ini membuahkan hasil. Acnologia tampak sudah kewalahan menghadapi serangan bertubi-tubi tersebut. Tubuhnya di buat babak belur serta terpelanting cukup jauh. Ia pun terbatuk-batuk dan mulutnya memuntahkan darah. "Uhuk! Tcih, Kalian menyebalkan."
Namun ia malah menyeringai. Seakan tak kenal lelah, tanganya di sapukan ke udara. Hendak membalaskan penderitaanya. "Rasakan ini!"
"APA? Kyaaa…!"
"Aaaaaaaaa…"
"Gyaaaaaahh…."
"Ugh!"
.
.
Drap… drap… drap…
Sementara di suatu tempat yang berbeda. Terdengar derap kaki beberapa orang berjubah hitam yang tengah berlari menuju arah barat di mana pertempuran sedang berlangsung. Salah satu diantaranya siluet seorang pria bersurai blue azure yang memimpin di depan.
"Tunggu kami—
—Erza!"
.
.
"MINNA!"
Kedua pasangan anak-ayah itu pun tak kuasa menahan kekagetan akan apa yang tampak di depan mata. Semua penyihir Fairy Tail kecuali mereka berdua terperangkap dalam spell runes yang memancarkan asap hitam pekat, menyiksa orang-orang di dalamnya hingga terkulai tak sadarkan diri. Geram bukan kepalang, tentu saja itulah yang saat ini Natsu dan Nashi rasakan.
"Spell itu akan lenyap hanya jika aku kalah atau mati"
"SIAL! APA MAKSUDMU, BRENGSEK?!" Teriak Natsu murka. Kedua onyx berubah memerah dan sepasang sayap meretas keluar dari kulit punggungnya. Amarah kini telah membawanya kembali ke etherious form hanya dalam hitungan detik. Begitupun dengan Nashi, perubahan yang sama terjadi pada anak gadis sembilan tahun tersebut. Tak ada perbedaan wujud mendasar dengan sang ayah melainkan warna sisik yang lebih terang menyala.
Bola mata kelam milik Acnologia bergulir ke arah kiri, dimana Natsu berdiri dengan jarak beberapa meter darinya, 'Aku tak pernah menyangka akan berhadapan denganmu lagi, END. Kukira kau akan lebih berguna bagiku. Tapi ternyata kau malah balik menghalangiku. Beginilah balas budimu setelah aku menyelamatkanmu?'
Kemudian mata itu bergulir kembali, kini ke arah kanan. Memandang seorang gadis kecil yang berdiri cukup berjarak dari Natsu dalam wujud etherious—dimana si gadis juga menatapnya tak kalah tajam, 'Bocah itu cukup merepotkan. Siapa dia?—ohhh… memiliki aura yang sama dengan END?' Mata Acnologia memicing. 'Tapi setelah di perhatikan…. Dia berbeda dari para naga pecundang itu. Aku jadi ingin memiliki kekuatanya. Jika aku tidak bisa membunuh para Dragon slayer itu sekaligus maka—' Seringai keji sukses terukir di bibirnya.
"—Akan ku bunuh anak itu sebagai gantinya!"
Entah terlalu kaget atau apa, Nashi sampai tidak menyadari kalau Acnologia sudah melesat ke hadapanya dengan kuku-kuku setajam pedang siap untuk mengoyak dirinya.
"MATILAH KAU, BOCAH!"
CRAAASSHHHH…..!
"!" kedua bola mata berselimutkan hitam pekat milik Nashi membulat sempurna. Melihat pemandangan ini…., yang memukul hati dan jiwa dengan amat kerasnya….., senyum sang ayah sebelum dia ambruk ke tanah.
"Pa….pa…" satu kata lirih lolos dari bibir Nashi yang bergetar. Dilanda syok, buliran hangat seketika tumpah dari balik kantung mata, menganak sungai tanpa diminta.
Ayahnya….., melindunginya tanpa ia sangka. Mengorbankan tubuhnya sendiri bahkan nyawa?
Jika bertanya 'kenapa?', jawabnya 'itulah tugas orang tua'.
"Tcih, lagi-lagi kau menghalangiku, END." Dengusan tak berdosa Acnologia semakin mengacaukan pikiran Nashi yang kini di penuhi kabut merah.
Bayang-bayang poni menutupi kedua matanya. Nashi terdiam, terpaku, dan membisu—sebelum semuanya berubah menjadi panas. Udara mendidih mengguar dari seluruh tubuh Nashi, menyembur dari bawah keatas seperti uap geiser menerbangkan helaian sakura-nya. Sedangkan Acnologia sedikit mundur, memberi jarak dari semula yang cukup dekat dengan Nashi.
"Gggggggrrrrrrrrrrrhhhhhhhhhhhrhhhh…."
Geraman beriringan dengan suara gemeletuk gigi-gigi yang saling beradu terdengar dari mulut sang etherious cilik. Kedua tanganya terkepal erat hingga tak sadar telapak tanganya tertusuk kuku-kuku sendiri. Seiring cakupan hawa panas melebar dan semakin kencang, tubuh kecil berwujud iblis itu tiba-tiba bertranformasi. Namun berbeda dari wujud etherious—perubahan kali ini terbilang lebih luar biasa lagi. Sisik-sisik semula terkelupas tergantikan dengan sisik-sisik dengan corak sedikit berbeda dan lebih besar, ekor tumbuh memanjang dengan ujung menyerupai mata tombak iblis, sayap mengembang, kepala serta mulut yang berubah menjadi moncong tak lupa dengan gigi-gigi semakin tajam, tubuhnya berangsur membesar dan meninggi sekitar dua puluh kaki dari tanah—lebih seperti monster—atau mahluk raksasa.
"GRAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAWWWWWWWWWWLLLLLL…"
Satu auman dahsyat mengakhiri perubahan. Maka sempurnalah wujud itu. Menyebabkan seraut muka tak percaya di tunjukan oleh orang yang memiliki julukan 'raja naga'. Baru kali ini Acnologia dibuat tercengang, 'M-Mustahil….Bagaimana bisa!? Anak itu…. Mengusai tahap akhir dari sihir Dragon slayer?! Bahkan dengan mudahnya dan—'
Kedua mata mahluk itu terbuka, menampilkan pupil mata hijau tipis yang menatap tajam ke arah sang raja naga, "—Sempurna. Kemarilah, Acnologia. Akan ku penuhi takdirmu sekarang." Seolah dapat membaca kata batin Acnologia, ia melanjutkanya dengan nada amat dingin namun sarat akan amarah.
Sedngkan di bawah kepalanya yang tertunduk, sejurus seringai tipis terpatri di bibir naga kegelapan tersebut. "Heh, sudah kuduga rencana murahanku akan sukses. Lagipula yang tadi hanya dalih saja untuk menyingkirkan END." Perlahan hal yang sama terjadi pada pemilik sihir prototype ke-delapan Dragon slayers itu. Tubuhnya berubah menjadi mahluk raksasa seperti Nashi. Bahkan terbilang lebih besar.
Ya, mereka berdua.
Telah berubah ke dalam wujud naga yang sempurna.
"Monster melawan monster. Inilah saat yang ku tunggu. Anggaplah pertarungan ini lebih serius dari yang tadi." Ucap sang monster bertangan satu dengan seringaian yang setia menemani.
"….."
"….."
Whuuuussshhhhhhh…!
Sang naga merah yang tak lain adalah Nashi mulai mengepakkan sayap, melesat cepat, "PERGILAH KE ALAM BAKA! ACNOLOGIA!"
"KAU SAJA, NAGA KERDIL!"
Dan pertarungan besar antara dua monster kembali tak terelakan. Yang satu dengan ambisi akan kekuasaannya, yang satu berbekal kemarahan. Seolah sejarah yang di cetak dalam dua masa berbeda. Keduanya sama-sama kuat, berunjuk kebolehan yang hampir seimbang. Ternyata Nashi lebih dari yang selama ini mereka pikirkan, ia adalah sesosok wizard yang sangat tangguh walau usia masih belia. Dirinya baru pemula tapi tak bisa di anggap remeh begitu saja, apalagi sekarang yang ia hadapi adalah kemungkinan musuh utama di dunia sihir ini.
.
Di satu sudut, kedua mata wanita yang digelari master Fairy Tail terbuka perlahan. Mengerjap-ngerjap hingga pandanganya jelas, dan yang pertama kali ia lihat adalah tubuh Natsu yang tergeletak di tanah tak jauh darinya. "Na-Natsu…."
Namun suara dentuman dan auman dari arah atas seketika memengalihkan pendengaran Erza dan matanya pun membulat kala menyaksikan pemandangan itu. Dua monster tengah mengadu kekuatan dengan sengitnya. 'Yang hitam Acnologia…, lalu yang berwarna merah siapa? Mungkinkah itu Nashi?'ia bertanya-tanya dalam hati, hingga tak lama kemudian—
BLARR!
Hantaman keras dari tubuh Acnologia yang terjatuh ke tanah menimbulkan tekanan dahsyat di sekitar area jatuhanya. Duel baru berlangsung beberapa menit tapi hasilnya luar biasa. Tak di sangka, Nashi dapat menjatuhkan seorang—tidak, untuk saat ini 'seekor' raja naga. Namun tak dapat di sangkal, keadaanya sendiri pun cukup mengkhawatirkan dengan luka di sekujur tubuh serta nafas yang sudah tak teratur. Tetapi kali ini mungkin peluang berada di pihkanya. Akankah ia benar-benar dapat mengakhiri pertarungan ini? dan membalikan sejarah?
'Aku harus secepatnya mengkahiri ini. Demi Papa, demi Fairy Tail, dan demi dunia ini!' batin Nashi yang masih melayang di angkasa.
Namun apa gerangan!?
'Are? Ini aneh…. Tu-tubuhku?...Tidak…"
Tubuhnya tiba-tiba lemas dan kehilangan keseimbangan tanpa ia duga. Tampaknya ia kehabisan tenaga hingga harus merelakan diri jatuh menghantam tanah sama kerasnya dengan sang musuh.
"GROOOOOWWWLLL" Nashi mengaum, kali ini auman kesakitan setelah tubuhnya tertarik gravitasi dan bertabrakan dengan berbagai macam benda keras di bawah.
"Nashi!" sontak sepasang violet Erza yang sejak tadi menonton duel tersebut membelalak.
Nashi meringis, hatinya sungguh gelisah, terlebih saat melihat semua mage yang masih terkurung dan ayahnya….
'Ugh… Tidak, bagaimana ini? aku ingin melindungi semuanya…. aku harus..'
Ia berusaha bangkit sekuat tenaga sebelum di dahului musuh. Dan ia pun berhasil bangkit. Kembali sayapnya di kembangkan dan segera melesat, Tetapi—
"HUH?! Ba-Bau ini…"
BLARRRRRR…..!
Nashi mendadak berhenti. Bunyi hantaman besar di tempat Acnologia terbaring mendahuluinya sebelum sampai menyerang. Kabut asap dan debu pekat menutupi daerah tersebut. Dan disaat asap mulai tersapu angin, betapa kagetnya. Tubuh Acnologia dalam wujud manusia yang tergeletak di tengah kawah menjadi yang pertama terlihat.
Tanpa pikir panjang lagi, Nashi segera melesat ke sana. Dan sesampainya, benar saja Acnologia berhasil di kalahkan. BERHASIL DIKALAHKAN!, tapi oleh siapa?
Tubuh Nashi langsung berubah kembali menjadi wujud manusia dengan cepat. Dan sesosok pria yang berjalan mendekat dari tengah kepulan asap menjawab semuanya. Nashi tak dapat berkata apa-apa lagi. Ia pun jatuh berlutut di samping mayat Acnologia dan menangis—tapi kenapa ia menangis? Bukan berarti ia menangisi Acnologia, bukan sama sekali. Melainkan rasa lega yang memenuhi hati.
"Yokatta….hiks.. Yokatta… Kakek Gildarts….hiks…"
Ya, seorang pria tua yang tak terduga datang di waktu yang tepat.
"Kerja yang bagus, Nak. Tapi sekarang bukan saatnya untuk menangis, ada yang harus di sembuhkan bukan?" Pria bernama Gildarts—yang berhasil mengalahkan Acnologia dengan satu pukulan itu memasang grin yang memukau.
Nashi pun mengusap matanya, mengangguk dengan senyum singkat, dan segera berlari menuju satu arah.
"PAPA!"
Tempat dimana papanya tergeletak tak berdaya menjadi tujuanya. Ia pun berlutut dan menggoyangkan lengan sang ayah beberapa kali, berusaha menyadarkanya.
"Papa! Papa! Bangunlah!, buka matamu!, Papa!" namun nihil—kedua mata ayahnya tetap tertutup rapat. Ia pun hanya dapat membenamkan wajah di dada bidang sang ayah dengan putus asa, serta terisak dalam diam.
.
.
"Nashi!" sebuah suara memanggilnya—refleks Nashi mengangkat kepala. Tampak beberapa mage Fairy Tail yang telah terbebas dibantu pasukan penyelamat dari guild pimpinan Jelall Fernandes bersama dengan Gildarts, berjalan menghampiri mereka berdua.
"Minna…."
"Nashi, ada apa dengan Natsu?!" Jelall datang bertanya dengan nada khawatir. Ia pun segera memposisikan diri di samping gadis kecil itu dan mengambil alih untuk memeriksa denyut nadi di leher Natsu.
"Dia masih hidup." Simpulnya. Semua sontak menghela nafas lega.
"Tak usah khawatir. Serahkan padaku, Nashi." Ucap Wendy seraya berjalan mendekat.
"Tolonglah, Kak Wendy..." ucap Nashi dengan mimik wajah penuh permohonan.
Wendy pun berlutut di samping kanan Natsu dan segera meletakan tanganya di atas dada si pria yang tak sadarkan diri. Lalu keluarlah pancaran cahaya healing magic dari telapak tanganya.
"Nashi, boleh ku pinjam kekuatanmu? sihirku tidak cukup." Pinta Wendy.
Nashi pun mengangguk tanpa ragu "Umh!"
"Letakan telapak tanganmu di atas punggung tanganku." Lantas dengan segera Nashi melakukan apa yang di perintahkan oleh pembantai naga langit itu.
'Papa… kumohon, sadarlah….'
.
.
Prosesi penyembuhan berjalan lancar setelah memakan waktu sekitar dua puluh menit, lumayan singkat berkat bantuan Nashi. Natsu perlahan membuka matanya.
"Papa!?"
"Ngh… ada apa ini?" Masih menyesuaikan remang-remang pandangan, Natsu melenguh pelan. Kemudian memutar mata, melihat satu persatu orang-orang di sekitar. Tampaknya dia masih linglung—tetapi sejurus kemudian ingatan sebelum tak sadarkan diri berkelebat cepat di otaknya membuatnya lansung terperanjat.
"Hah! Acnologia!"
"Tenang, Natsu. Dia sudah mati." Sebuah tepukan di bahu mengalihkan atensinya.
"Gildarts?!" Natsu terkejut. 'Apa yang sudah terjadi selama aku pingsan?'
"Yang terpenting Acnologia sudah kalah." Erza menimpali.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Nashi segera berhambur memeluk ayahnya dan menumpahkan segala perasaanya.
"Papa… Yokatta.. hiks… Yokatta… aku senang kau baik-baik saja…hiks…"
Natsu tercengang selama beberapa detik, sebelum akhirnya membalas pelukan itu, "A-umh…"
.
Tak ada pembicaraan apapun bahkan tak ada yang mengeluarkan suara satu pun. Entah apa yang di pikirkan oleh semua orang yang berada di sana. Menonton adegan sepasang anak-ayah berpelukan dengan dramatisnya.
Natsu menunduk, membenamkan wajah di bahu mungil seorang anak yang menjadi bagian dari dirinya. Terdiam cukup lama dalam posisi tersebut sebelum akhirnya membuka mulut, "Maafkan aku. Maaf…. Maaf aku tidak ada di sana… di saat kau lahir dan di saat kau masih dalam kandungan. Jujur, aku tidak tahu jika saat itu… Lucy tengah hamil. Maafkan aku…" suaranya bergetar. Pikiranya berkecamuk akan rasa bersalah. Penyesalanya tak dapat di jabarkan lagi dengan kata-kata.
Sedangkan Nashi tak bergeming—isakanya teredam di dada bidang nan lebar milik sang ayah.
"Tapi yang lebih membuatku menyesal adalah…. karena tanganku malah menyakitimu, disaat pertama kali aku melihatmu, melihat darah dagingku sendiri… Ayah macam apa aku ini? sungguh brengsek! Maaf… Aku sungguh minta maaf… Aku…" pelukan Natsu semakin erat, bibirnya ia gigit guna menahan gejolak perasaan yang sangat menyesakkan hatinya.
Ia begitu…
Menyesal.
Bocah bersurai senada dengan ayahnya itu menyeka air mata lalu mengangkat wajah, menatap intens ke sepasang onyx yang juga di miliki oleh dirinya.
"Baiklah, papa akan kumaafkan. Tapi dengan satu syarat." Ucap Nashi.
"?" Natsu memberi pandangan bertanya di samping mata yang terlihat berkaca-kaca.
"Papa… mungkin bersalah karena tak ada di saat aku lahir, di saat aku tumbuh sampai saat ini, dan di saat aku mengalami semuanya. Papa harus menebus setiap kesalahan yang papa buat padaku."
Pandangan Natsu berubah menjadi sendu, penyesalan semakin tercetak jelas di kedua manic legam itu. "Benar, aku memang berhak di hukum… setelah semua yang aku lakukan padamu, dan juga kalian. Apapun hukuman itu akan ku terima, bahkan jika—"
Greb!
"—Hukuman untuk papa adalah papa harus hidup… hiks.. bersamaku… selalu ada untukku…. Itulah hukumanmu…hiks…" dan tak ada yang lebih mencairkan segala kegelisahan di banding sebuah pelukan hangat dari orang terkasih.
"Ya, Natsu. Kau juga tak perlu meminta maaf pada kami."
"Ya, itu benar, Flamehead."
"Gihee…"
Senyuman Erza, beserta semua teman-temanya membuat diri Natsu terasa semakin tidak berarti, tetapi senyum mereka juga menyelamatkanya.
"Terimakasih, semuanya…"
.
"Nashi, namamu Nashi kan?, dari namamu aku jadi teringat… dimana Lucy?" Tanya Natsu—masih setia mendekap putri semata wayangnya itu setelah mereka berdua cukup tenang. Namun mengherankan bagi Natsu—tak ada yang menjawab pertanyaannya. Semua terdiam dan membisu dengan perubahan raut muka menjadi kosong. Hal ini tentu sedikit mengganjal perasaan Natsu, darahnya mulai berdesir pertanda khawatir.
"Dimana… Lucy? apa dia baik-baik saja?" tanyanya sekali lagi.
Sedangkan semua orang berperang dalam pikiranya masing-masing antara memberitahu kebenaranya atau tetap tutup mulut. Tapi…
"Sebenarnya…huh?" Gray yang mulai membuka suara namun langsung terpotong pemandangan aneh di depanya. Semua orang mengernyitkan kening heran menyaksikan tubuh Natsu dan Nashi mengeluarkan cahaya keemasan.
"!"
Sedetik kemudian sebuah sinar yang terang menyala dari tubuh Natsu serta Nashi. Cahaya itu menyilaukan mata semua orang yang ada di sana. Dan kala cahayanya lenyap, sepasang anak-ayah itu pun—
—ikut menghilang.
"Kemana mereka?! NATSU, NASHI!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sepasang anak-ayah itu tergeletak di atas tanah lembab sebuah ruangan yang lebih terlihat seperti gua atau semacamnya, keadaan mereka tampak seperti orang terdampar. Salah satu dari mereka yang mana seorang gadis kecil membuka kedua matanya.
"Ugh… Dimana… ini?" memegangi kepala yang agak pening seraya meneliti sekeliling, pemandangan asing di sekitar langsung menyapa. Ia pun menemukan sang ayah yang tergeletak di samping—dan ia juga baru tersadar.
"Papa!"
"Dimana ini, Nashi?" tanya Natsu seraya bangkit duduk dan melakukan hal yang sama dengan Nashi, meneliti tempat mereka berada.
"Aku tak tahu, seingatku kita terlempar ke sini dari tempat kita bertarung dengan Acnologia."
Tap…tap…tap…
"Ada yang datang!" mendengar bunyi tapak kaki, mereka sontak menoleh ke sumber suara. Siluet hitam muncul dari balik kegelapan lorong gua yang hanya di terangi oleh puluhan lilin kecil.
Tap…tap…tap…
Orang itu berjalan semakin mendekat ke arah mereka. Semakin dekat… Dan di saat berhenti, Natsu membelalakan matanya.
"KAU!"
"Selamat datang—"
.
.
.
.
.
.
.
.
"—E. N. D."
-To be continued-
A/N : Huwaaahhh…. Kenapa jadi ada Gildarts ya? (*Ditabok Gildarts) (*Tubuh author jd hancur berkeping-keping) xD. Dan Absurd kayak gini? Maaf untuk segala kekuranganya. :( Maklumilah, author berotak pas-pasan.
Ohya, untuk kebutuhan cerita disini jurus2 para chara-nya ada yang Aimi sengaja ambil dari serial aslinya juga ada beberapa yang karangan sendiri, habisnya imajinasi ini liar sekali sih hehe (*grin) apalagi buat nentuin jurus2 si om Acno, sampai sekarang dia tuh belum nampakin kekuatan aslinya baru selewat2 aja, misterius banget!. Jadi kalau tiba2 ada yang nanya, "Kok aku belum pernah liat jurus sihir kayak gini di canon-nya?" atau "Emangnya si ini punya jurus kayak gitu?", Aimi udah jawab tuh di atas. (Namanya juga fanfic)
Gimana, minna? Ada yang penasaran dengan lanjutanya? Hihi.. (*grin) Oke, insyaallah Aimi bakal usahain update secepetnya, tapi dengan catatan review udah nyampe 50! (*sukur2 kalo lebih xD hehehe). Aduh mulai deh banyak bacot -_-).
Yaudah…. For review, Douzo onegai shimasu~
Next Chap Kebangkitan Zeref
