HEY

DISCLAIMER: I OWN NOTHING

SAI X INO

AU

A lil bit OOC

MULTI CHAPTER

REVIEW AND ENJOY

X

Bagian Dua

Sai kembali lagi ke kedai itu keesokan harinya pada waktu yang sama, pukul dua subuh. Sekali lagi ia menemukan perempuan itu. Duduk di tempat yang sama dan membaca buku tebal yang sama. Ada sedikit perasaan lega melihat perempuan itu duduk di sana. Sama seperti kemarin, Sai hanya memesan kopi hitam dan mengeluarkan buku catatan kecilnya yang bersampul kulit berwarna hitam. Suara penyiar berita dari televisi memenuhi kedai itu, sembari Noura, pelayan kedai, mempersiapkan kopi hitamnya. Sai mulai melukiskan sesuatu di atas buku hitam kecilnya. Ia menggambar burung-burung yang terbang di angkasa. Ia sangat menyukai burung, terutama elang. Entah apa yang membuatnya sangat tertarik dengan hal itu. Mungkin karena presepsi bahwa burung dan terbang di angkasa menggambarkan kebebasan. Dan ia sangat menginginkan itu. Kebebasan. Meskipun ia sendiri tidak ingin mengakuinya. Berita di televisi menyiarkan kasus persidangan seorang pria bernama Danzo yang memanfaatkan tenaga kerja anak kecil, umumnya tentang human trafficking. Ia menyaksikan penanyangan ulang kasus tersebut, yang seingatnya tadi siang diputar hampir di semua kanal televisi Konoha. Noura lalu datang dengan kopi hitamnya, Sai mengucapkan terima kasih yang di sambut dengan anggukan kecil dari perempuan paruh baya itu. Sai menyesap sedikit kopinya. Membiarkan rasa pahit dan hangat itu memenuhi rongga mulut dan dadanya. Ia kemudia membuka buku catatannya dari halaman paling pertama. Semua adalah gambar burung. Sesekali gambar pepohonan dan kaktus di kamar tidurnya, Shin.

Sai lalu melihat sekelilingnya. Hanya ada mereka bertiga, Sai, perempuan itu, dan si pelayan Noura. Ia melihat gadis berambut panjang dengan warna mata yang belum bisa ia gambarkan. Sama seperti kemarin ia terfokus pada buku di hadapannya, sambil sesekali menulis di buku kecil. Roti panggang yang dipesannya hanya tersentuh setengah dan nampaknya minuman yang dipesannya juga sudah dingin. Gadis itu kembali menangkap Sai sedang menatapnya. Ia menghentikan pergerakan tangannya yang menari di atas lembaran buku catatan kecil dan memandang Sai lama. Seolah-olah menantangnya 'siapa yang bisa saling menatap lebih lama?'Merasa tersipu ditangkap basah dan ditatap seperti itu, Sai dengan cepat mengalihkan pandangannya. Langsung menatap televisi, meskipun ia kurang tertarik dengan apa yang sedang disiarkan. Setelah merasa cukup aman, Sai kembali menatap perempuan itu dan ia menemukannya sedang menyinggungkan senyuman kecil sambil terpaku menulis di buku catatannya. Melihat hal itu Sai ikut tersenyum dan kembali menatap televisi.

X

Sudah lima hari Sai terus-terusan ke kedai itu, di jam yang sama pula. Sesekali hanya ada mereka bertiga di kedai. Kadang ada pula orang lain di kedai itu, umumnya orang-orang yang sedang melakukan perjalanan malam dari Konoha menuju Suna. Sama seperti hari-hari kemarin, Sai membawa buku catatan kecilnya yang berwarna hitam, sesekali menggambar. Namun, ada perubahan pada isi bukunya. Bukan lagi hanya diisi dengan gambar burung, ia mulai mengisinya dengan gambar-gambar kasar suasana di kedai itu. Misalnya, gambarnya mengenai Noura yang sedang mempersiapkan kopinya di balik konter. Pelanggan lain yang berdatangan, kadang dua orang pria berbadan besar, kadang sekumpulan remaja, dan kadang pria paruh baya yang entah baru pulang kantor atau bersiap untuk ke sana. Hanya satu bagian dari kedai itu yang belum pernah ia gambar, perempuan itu. Gadis itu selalu di sana, pergi di waktu yang sama, dan ia tampaknya sangat mengenal Noura, karena saat ia melihatnya dengan gadis itu Noura tidak tampak setegang biasanya. Sai melihat jam yang melekat di tangannya. 04.45. Sekitar lima menit lagi lelaki berambut gelap itu akan masuk. Berbincang sedikit dengan si gadis dan mereka pergi bersama. Sai mulai menghitung waktu dan benar, saat jam menunjukkan pukul 04.50 lelaki itu masuk. Layaknya kaset yang diputar berulang-ulang, kejadian itu terus terjadi. Si gadis di jemput oleh lelaki itu. Ia melihat si gadis buru-buru membereskan bukunya dan mengikuti langkah lelaki itu. Sebelum ia keluar dari kedai itu, tentu saja si gadis memberikan satu tatapan terakhir pada Sai. Sama seperti hari-hari sebelumnya. Ia penasaran tentang gadis itu, apa yang ia lakukan di kedai itu? apakah dia tidak beristirahat? Buku apa yang ia baca? Dan mengapa ia selalu di jemput lelaki itu di waktu yang sama? Pertanyaan-pertanyaan it uterus menghantui Sai sejak hari ketiga ia ke kedai itu. Ia kembali melihat jam dan sekarang menunjukkan pukul lima. Ia pun merapikan barang-barangnya, menyelipkan beberapa lembar uang di bawah gelas kopinya dan menuju rumah, bersiap-siap untuk aktivitas di pagi nanti.

X

Sudah seminggu Sai terus ke kedai itu. Mulanya karena selalu terbangun oleh mimpi buruk, sekarang ia merasa itu bukan lagi alasannya ke sana. Ia pun sendiri tidak tahu. Mungkin ada sedikit bagian dari dirinya yang tahu, tapi ia memilih untuk tidak memberikan perhatian pada hal itu. Saat ke sana ia tidak menemukan gadis itu di sana. Hanya ada beberapa orang, dirinya, dan Noura. Sai merasa agak sedih, tapi mengacuhkan perasaan itu. Ia kembali duduk di tempat biasanya dan tanpa perlu memberitahu pesanannya pada Noura, ia sudah datang dengan secangkir kopi hitam dengan asap yang mengepul. Seperti biasanya Sai mengucapkan terima kasih yang disambut anggukan oleh Noura. Sai kembali mengeluarkan buku kecilnya dan mulai menggambar sketsa para remaja yang sedang berkumpul dua meja darinya. Sedikit jauh di dalam dirinya, ia merindukan kehadiran gadis itu.

X

Hari itu hujan. Agak deras. Untung saja Sai mengenakan parka hitamnnya, sehingga tidak seluruh tubuh dan pakaiannya ikut basah. . Kopi hitamnya sudah ada di depannya dan ia merasa sangat tepat meminumnya mengingat hujan deras yang sempat mengguyurnya sedikit. Sama seperti kemarin, ia tidak menemukan gadis itu duduk di tempat biasanya. Ia sedikit merasa sedih akan hal itu, tapi entah bagian apa dalam dirinya meyakinkan bahwa ia ke kedai in bukan karena gadis itu. Menyingkirkan dugaan-dugaan sebelumnya bahwa ia ke sana karena perempuan itu. Namun, batinnya masih berkonflik karena ia sempat memikirkan bahwa ia terus ke sini meskipun si gadis tidak datang dengan harapan mungkin bisa bertemu dengannya di hari-hari ke depan nantinya. Sai berusaha menghapuskan pikiran-pikiran itu dan memusatkan perhatiannya pada buku catatan kecil dihadapannya. Ia kembali menemukan dirinya menggambar burung, kali ini burung merak yang kemarin ia nonton di kanal televisi yang khusus menanyangkan film dokumenter mengenai hewan liar.

Bunyi gemerincing pintu kedai mengalihkan perhatian Sai. Ia melihat gadis itu masuk dengan pakaian yang agak basah dengan payung yang menitikkan air-air hujan di lantai kedai. Gadis lalu menatap Noura dan mengucapkan maaf, Noura lalu mengibaskan tangannya bertanda bahwa tidak apa-apa. Gadis itu pun meletakkan payungnya dekat pintu dan duduk di tempat biasanya. Membuka buku tebalnya dan mulai membaca. Tak lama kemudian Noura datang dengan segelas minuman hangat dan roti bakar yang selalu dipesan gadis itu. Menyaksikan kedatangannya membuat Sai merasa agak lega. Dan untuk pertama kalinya ia menggambar gadis itu yang sedang menulis di buku catatannya.

X

Keesokan harinya sama seperti biasanya. Sai masuk ke kedai dan gadis itu sudah ada di sana. Seperti biasa dengan buku tebalnya. Nourna menghidangkan kopi hitam dan Sai yang kembali menggambar di buku kecilnya. Namun, ada yang berbeda. Ia mendapati gadis itu menatapnya. Lama. Merasa agak canggung Sai lalu memperbaiki posisi duduknya dan sesekali menggaruk tengkuk lehernya. Gadis itu yang sedari tadi mengetuk-ngetukkan pulpennya di atas meja lalu menghampiri Sai. Dirinya langsung menarik kursi di hadapan Sai dan menatapnya.

"Kita sudah ada di sini dalam waktu yang lama. Aku melihatmu di sudut ruangan dan aku merasakan ada sesuatu di antara kita. Jadi bagaimana, kau dan aku pergi dari sini? Jika kau mengatakan tidak, ingat kita bukan pembohong seperti mereka semua. Menurutmu?" ujar gadis itu menatap Sai tajam tepat di matanya.

"Apa?" ujar Sai bingung mendengar pernyataan gadis itu tadi.

Gadis itu lalu menatap Sai lucu "Ini kutipan dari film itu," ujarnya seakan-akan itu adalah hal yang jelas.

Masih bingun dengan hal itu Sai tetap memandangnya curiga.

Mengetahui lelaki di hadapannya ini masih sangat bingung gadis itu menghelas napas "Iridescent Eyes. Film itu? Kau mengenakan kaosnya," ujarnya menjelaskan.

Sai menatap kaos hitam yang dikenakannya, "Oh," ujarnya lalu menatap gadis itu "Aku sangat suka film itu," lanjutnya.

Ino masih juga menatapnya dengan tatapan lucu. Sai yang kebingungan tidak tahu harus menanggapinya seperti apa. Ia hanya memberikannya senyuman simpul yang pastinya kelihatan sangat aneh.

Gadis itu lalu menjulurkan tangannya "Aku Ino," ujarnya. Sai pun menyambutnya dan menjabat tangannya "Sai," ujarnya.

"Jadi, apa yang kau lakukan di sini Sai?" tanya Ino.

"Kadang aku menggambar," ujarnya sambil menunjuk buku hitamnya yang duduk manis di samping cangkir kopinya. "Kau?" lanjutnya.

"Aku belajar," ujarnya.

"Apakah kau masih sekolah atau kuliah?"

"Aku kuliah, bagaimana denganmu?"

"Sama, aku juga. Kau kuliah di mana?" tanya Sai sambil menyesap kopinya.

"KNU, bagaimana denganmu?"

"Sama," ujar Sai sambil tersenyum. Terkejut mendengar hal itu Ino tampak seperti anak yang sedang kegirangan "Sungguh?" ujarnya tersenyum "Kau ambil major apa?" tanya Ino.

"Seni, kau?"

"Aku med. Sungguh aneh" ujarnya dengan tatapan yang Sai tidak bisa artikan.

"Bolehkah?" tanya Ino sambil menunjuk buku catatan Sai. Ia pun mengangguk dan memberikannya kepada Ino.

Ino membuka lembar demi lembar buku catatan bersampul hitam itu. Sesekali tersenyum dan menyentuh kertas yang disentuh oleh tinta di lembaran buku milik Sai.

"Ini sungguh bagus, Sai," ujar Ino masih membuka lembaran itu satu per satu. Sai merasa agak gugup, takut menyaksikan Ino menemukan gambar dirinya. Rasa gugupnya terhenti saat mendengar bunyi gemerincing bel. Ino segera membalikkan wajahnya dan mereka melihat lelaki berambut hitam itu masuk. Ino lalu menutup buku kecil Said an menyerahkannya kepadanya. "Well, itu tandanya aku harus pergi," ujar Ino. Ia pun berdiri dan tersenyum pada Sai "Sampai jumpa lagi." Ino lalu menuju ke mejanya merapikan buku-bukunya, meletakkan beberapa lembar uang dan pergi bersama lelaki itu. Sai menatapnya menghilang di balik pintu. Dengan itu Sai lalu ikut merapikan barang-barangnya dan keluar dari kedai. Kali ini dengan senyuman di wajahnya.

X

To Be Continue

So, itu bagian tiga teman-teman. Mohon reviewnya supaya aku bisa tau respon buat cerita ini apa dan bisa dianjut secepatnya. Ciao 3