Adhe : Yes this is udah di next! hoho... selamat membaca~ thanks for review!

ATHAYPRI : Husbando-mu? no..no.. dia husbando-ku yang ke 199 xD wkwkwk. pasti mereka ketemu kok Athay-san, lihat saja nanti. terimakasih reviewnya dan silahkan di santap chap 8 nya~

didiksaputra : Woaahhh benarkah? *o* terimakasih yaa... ini udah di lanjut *_* selamat membaca~

Guest : Oho? anda yakin itu adalah Zeref? hmm... (*skeptis) haha xD yosh! ini chap 8 selamat membaca~ and arigatou for review

Aoi Shiki : Wah Shiki-san pasti ketularan gilanya aimi deh (*di tabok) hahaha becanda xD. Ini aimi udah lanjut, selamat membaca aja!

Fic of Delusion : ide bagus juga tuh Etherious Nashi Heartfilia... tapi kan marga Nashi ngikut bapaknya. yaudah deh END kw super aja biar tuntas wkwkwk xD. dan mugi2 emang om Zeref tuh. Iya fic-san, saya anggota perserikatan IJO LUMUT alias ikatan jomblo lucu dan imut xD wkwkwkwk (*plakk). btw, Thanks for review yak! xD

ntdragneel616 : kamu baca fic-nya sambil lari-lari ngejar p*kemon kali jadi ngos-ngosan hahaha xD. Ini udah di lanjut~ thanks for review..

ifa dragneel92 : udah di lanjuuttttt nih. selamat membaca, thanks for review~

vicky-chan : Update kilatnya gak jadi nih gara2 banyak halangan :( maaf ya...tp tenang ini udah lanjut lagi kok hehe. Thanks, selamat membaca~

Dragneel77 : ini udah update kok, tp maaf gk kilat malah lambat hehe. thanks for reviewnya!


.

.

Fairy Tail © Hiro Mashima

A Fanfiction by me

Genre : Family, Supernatural, Hurt/Comfort, Romance, Mystery, Action, etc.

Warning! Cerita ini murni hasil imajinasi author sendiri dan tidak ada kaitanya dengan cerita di canon. OOC, Typos, Alur kecepetan, Flat, Kaku, Abal, Borring, etc. harap di maklumi.

Just hope you enjoy it!

.

.

.

.

.

Angin kecil berembus menggoyangkan lidah api pada obor-obor yang berjejer di sepanjang lorong ruangan itu. Samar-samar bayangan tiga manusia tercetak melekat pada permukaan dinding yang terbuat dari batu bata. Satu diantaranya berdiri di depan dua manusa lain yang tengah duduk memperlihatkan ekspresi terkejut.

"Selamat datang, END." Ucap satu orang yang berdiri tersebut.

"KAU!" Terperanjat, seorang pria bersurai salmon membelalakkan kedua mata seraya bangkit dari duduknya.

Sedangkan seorang gadis kecil di sampingnya memasang raut muka heran. Ikut berdiri dan memandang lamat pria ber-jas hitam di hadapan mereka kemudian beralih menatap wajah sang ayah dengan pandangan penuh tanya."Papa, siapa dia?"

Alih-alih menjawab, pria yang bernama Natsu malah terdiam sambil memasang pose berfikir dengan menempelkan ujung telunjuk kanan di pelipisnya serta memandang ke sembarang arah guna mencari pencerahan.

"Bagaimana? Kau masih mengingatku, END?" Tanya pria berpostur tinggi yang menggunakan setelan tuxedo hitam itu.

"Hmm…. Kurasa aku pernah bertemu denganmu, tapi dimana ya?" Gumaman polos Natsu membuat pria misterius itu sweatdrop.

'Sudah kuduga,dia lupa.' Batinnya "Dirimu memang tidak pernah berubah, END." Ujar pria itu dengan raut wajah lempeng bak pohon palm.

Sementara dahi Natsu mengernyit, ucapan lawan bicara tak lebih penting sekarang. Otak berkapasitas kecilnya berusaha keras mengingat siapa pria yang tengah berdiri anteng di depanya itu. Hingga tak lama kemudian "Ah! Aku ingat sekarang! Kau itu… Pak tua botak yang dulu pernah aku dan Lucy kalahkan, bukan?" seolah berhasil memecahkan sebuah soal aritmatika, Natsu begitu sumringah. Jari telunjuk yang semula di gunakan untuk mengaduk-ngaduk memori beralih menunjuk-nunjuk batang hidung pria gundul bertato tengkorak di dahinya yang telah ia ingat itu—lengkap dengan gaya ceplas-ceplosnya yang sekali lagi membuat pria itu sweatdrop.

"Papa mengenalnya?" tanya gadis kecil yang sedari tadi menonton tingkah sang ayah dan merasa terabaikan. Kepalanya memiring di sertai mimik wajah begitu polos.

"Bukan, hanya saja dia orang yang pernah melawan papa dan mama dulu." Akhirnya Natsu menjawab pertanyaan sang anak. Pandangan matanya yang tak teralih dari atensi pria ber-jas berubah menjadi tajam dan air mukanya menjadi serius.

Pria itu pun menyunggingkan bibir membentuk senyum tipis "Akhirnya kau ingat. Benar, Aku Jacob Lessio… Salah satu dari anggota Spriggan 12—" namun senyum di wajah pria yang memperkenalkan diri sebagai Jacob itu sirna seketika. Ucapanya menggantung dan raut mukanya berubah kembali menjadi datar. Benar-benar sulit terbaca bagi benak Natsu dan putrinya sendiri, Nashi.

"—Lebih tepat di sebut mantan." Lanjutnya dengan suara pelan nyaris tak terdengar—jika saja pasangan anak dan ayah itu tak memiliki pendengaran yang lebih dari sekedar manusia biasa.

"Katakan, dimana ini? Kenapa aku bisa ada di sini?" Tanya Natsu.

"Selamat datang di dunia dimensi Spiral. Aku sengaja mengaktifkan mantra ruang dan waktu padamu untuk membawamu kesini." Jawab pria bernama Jacob tersebut.

'Dimensi Spiral?' Batin Natsu keheranan.

"Lalu kenapa anakku ikut terlibat?" Ia bertanya lagi, mengesampingkan kebingungan mengenai identitas dimensi yang di sebutkan oleh Jacob, sorotan onyxnya begitu tajam mengintimidasi.

"Anakmu?" kulit kening Jacob mengernyit. Ia baru sadar akan kehadiran bocah kecil yang berdiri di samping Natsu. 'Oh! Aku hampir lupa. Ternyata dia sudah besar sekarang. Heh, tapi aku tidak peduli. Dia bukan bagian dari rencanaku' Ujarnya dalam hati seraya memperhatikan dengan seksama penampilan anak perempuan berambut pink itu. Nashi pun balas melempar tatapan tajam pada Jacob seakan ingin menunjukan sisi lain dalam dirinya yang tangguh. "Sepertinya ada sedikit kesalahan. Aku hanya berniat membawamu saja tapi tampaknya mantra itu berlaku juga pada anakmu, sebab sihir teleportasi-ku dapat menyeret serta benda atau orang yang memiliki kontak fisik dengan sasaran atau penggunanya. Mungkin pada saat itu anakmu sengaja ataupun tak sengaja menyentuhmu, jadi mau tak mau ia ikut terlempar ke dunia ini bersamamu." Tukasnya. Pandangan mata kembali ia arahkan pada Natsu.

"Lalu apa tujuanmu ingin membawaku ke sini?" Kelopak mata Natsu bergerak menyipit, alis tebal senada rambutnya saling bertaut heran mendengar kalimat kedua yang terucap dari mulut Jacob.

"Heh.." Dan senyum penuh arti yang kini mengembang di wajah mantan salah satu Spriggan 12 itu seketika mencuatkan rasa curiga dalam benak Natsu. "Akan ku jelaskan, tapi pertama-tama—"

Sett!

Gubrakk!

"!"

Bagai serangan kejut tak kasat mata, Natsu tersentak mendapati Nashi tiba-tiba jatuh ambruk ke tanah. Segera saja ia berlutut dan mendekap tubuh lemas anak semata wayangnya itu. Kilatan amarah melintas di kedua onyx, rupanya kecurigaan Natsu menjadi nyata. Jacoblah pelaku yang membuat anaknya tak sadarkan diri seperti ini.

"APA YANG KAU LAKUKAN PADA ANAKKU, BRENGSEK?!" Bariton itu menggelegar dalam ruangan remang-remang tempat mereka berada. Aura dingin sarat emosi tergambar jelas di wajah Natsu.

Sedangkan Jacob sendiri menanggapinya dengan begitu santai "Tenang, END. Tenanglah… Tidak usah memasang ekspresi seperti itu karena aku tidak tertarik dengan anak kecil. Aku hanya membuatnya tertidur saja. Sementara para bawahanku akan membawanya ke tempat aman." Sesaat setelah mengucapkan itu, dua orang penjaga berbaju zirah serta menenteng perisai di tanganya datang menghampiri.

"Penjaga, bawa anak ini!" peritah Jacob pada salah satu penjaga.

"Ha'i" tanpa pikir panjang lagi sang pesuruh melaksanakan tugas pemimpinya mengambil alih anak dalam dekapan Natsu. Walau Natsu sempat menolak namun berkat pertimbangan dari negosiasi akhirnya ia mau menyerahkan Nashi. Lalu penjaga itu pun bergegas menggendong tubuh gadis kecil tersebut menuju tempat yang di katakan oleh Jacob.

"Pegang kata-katamu itu! Jika sedikit saja kau berani melukai anakku, kau akan tahu akibatnya." Ucapan tegas Natsu bernada mengecam.

"Kau tak perlu risau. Aku tidak akan menyakitinya. Karena aku takut pada raja iblis buatan tuanku ini~ Hahaha!" tawa olokan mengiringi ucapan Jacob.

Dan tentu saja selera humor orang di depanya membuat Natsu merasa muak, bunyi gertakan gigi yang saling bergesek tertahan di mulutnya. "Tcih! Sekarang jelaskan padaku apa tujuanmu membawaku kesini?" Tanyanya dengan nada penuh tuntutan.

Jacob pun menggeleng-gelengkan kepala seraya menautkan kedua tanganya ke belakang pinggang, ia berdecak "Seperti biasa kau tak pernah sabaran. Tapi aku sempat terkejut dengan kekalahan Acnologia, mungkin kelemahan akibat pertarunganya denganmu dulu dapat membuka celah bagi pihakmu. Maa.. di atas langit ada langit. Dan di atas orang yang kuat ada yang lebih kuat. Yang kuat naik ke puncak, yang lemah tereliminasi. Tetapi siapapun bisa menjadi kuat jika terus berusaha. Hukum alam yang aku percayai. Benar bukan?"

"Berhentilah membual. Sekarang cepat! Katakan yang sebenarnya!" perintah Natsu, kedua tangan di samping tubuhnya terkepal.

Menanggapi sikap Natsu yang mulai jengah dengan basa-basi, Jacob pun menghela nafas pelan sesaat sebelum kembali menjawab "Baiklah… Jika kau ingin tahu maka akan ku beritahu. Tujuanku adalah…." Ucapanya di jeda sesaat. Dalam diam ia berbalik membelakangi Natsu dan melenggang ke arah salah satu obor kemudian dengan apinya ia menyalakan sekuntung rokok yang dirogoh dari saku celananya. Menghisap dalam sekali tarikan lalu menghembuskanya perlahan. Kepulan asap tipis hasil pembakaran tembakau itu pun melayang-layang di sekitar wajah pria itu.

"…. Membangkitkan kekuatan yang sesungguhnya… Fairy Heart." Lanjut Jacob dengan nada santai seraya mengisap kembali ujung filter dari lintingan tembakau yang ia genggam.

Hal itu sontak membuat kedua mata Natsu membulat "APA?!"

Sedang Jacob buru-buru menyanggah "Ow! Tenang dulu… , Akan ku jelaskan semuanya secara rinci." Ucapnya meyakinkan Natsu.

"…." Natsu pun akhirnya bisa sedikit lebih tenang. Urat-urat wajahnya yang semula menegang karena terus menahan emosi, kini perlahan mengendur. Dengan begitu, memberi kesempatan bagi Jacob untuk kembali melanjutkan penjelasanya. "Semua sihir di dunia ini terbatas. Meskipun seseorang memiliki daya sihir yang amat besar dalam dirinya tetap saja ia memiliki batasan tersendiri. Tapi Fairy Heart berbeda. Daya sihirnya kuat dan tidak memiliki batasan apapun." Ucap Jacob. Sedangkan Natsu yang berada di belakangnya mendengarkan penjelasan itu dalam diam.

"Dulu Fairy heart pernah di miliki oleh master pertama guild Fairy Tail. Benar, Mavis Vermillion. Tetapi sewaktu perang Alvarez berlangsung, Zeref-sama telah memisahkannya dari tubuh Mavis sebelum kekuatan itu sempat di tunjukan kepada dunia, dengan begitu Fairy heart berpindah tangan pada pemilik sesungguhnya yaitu Zeref-sama sendiri. Namun dia telah meninggal di tanganmu." Lanjut Jacob seraya menjentikan batang rokok guna membuang abu bekas sulutan pada ujungnya. Lalu ia tolehkan kepala ke arah Natsu, menatapnya dalam seakan mengajak Natsu terhanyut dalam setiap ucapan itu.

"Lalu yang menjadi pertanyaan, kenapa Zeref-sama bisa kau kalahkan dengan mudah padahal saat itu ia memiliki kekuatan yang tak terbatas di banding dirimu? Jawabanya karena Zeref-sama mengalah. Ia sengaja menyegel Fairy heart dan mengunci dalam tubuhnya sendiri hingga terbawa mati."

"…." Natsu terdiam, masih setia menunggu penjelasan sang pria jangkung itu selesai.

Jacob tersenyum kecil melihat lawan bicaranya begitu menyimak apa yang ia katakan. Rokok yang sudah memendek ia hisap lagi mengisi sela-sela pembicaraan pun kembali mengalihkan fokus pandangnya ke arah selain tempat Natsu berdiri. Lalu melanjutkan penjelasanya yang sempat tertunda "Setelah aku terbebas dari penjara, diam-diam aku melakukan penelitian untuk mempelajari bagaimana cara melahirkan sihir itu kembali. Karena di Earthland hal seperti ini akan menimbulkan pergesekan pendapat yang kemungkinan besar berujung pada pelarangan, maka untuk menghindarinya aku kabur ke Dimensi Spiral."

Ekspresi Jacob yang sejak tadi terpampang santai kini berubah ke dalam mode serius. Batang tembakau yang sepertiganya telah habis ia buang ke tanah, lalu menginjaknya sampai hancur. Setelah itu ia merogoh saku jas yang dikenakanya dan mengeluarkan sebuah sapu tangan kecil untuk menyusut mulut serta tanganya.

"Dan setelah menempuh berbagai penelitian serta percobaan selama lebih dari sepuluh tahun, Akhirnya aku dapat menemukan caranya…"

"…."

"Berdasarkan informasi yang ku dapat dari tulisan kuno, hal itu dapat dilakukan dengan cara membuka segel dan membangkitkan pemiliknya oleh seorang perantara. Resiko-nya tinggi. Dan untuk melakukan itu aku membutuhkan dua jenis ethernano untuk mengisi wadah yang sudah kusiapkan dalam tubuhku sendiri karena akulah yang akan menjadi perantaranya—"

"Lalu apa hubunganya denganku?" Tanya Natsu membuka suara.

Plik!

"Pertanyaan yang bagus!" seru Jacob. Sapu tangan itu ia masukkan kembali ke dalam kantong jas. Di dalam ruangan minim cahaya itu, sekilas Natsu tak melihat bahwa Jacob tengah mematri seringai licik.

"Satu jenis diantara dua ethernano tadi adalah ether murni yang di ciptakan oleh Zeref-sama. END adalah pemilik ether tersebut. Dan itu berarti—"

"!"

"—Aku akan mengambil kekuatanmu, HAHAHAHAHAHA!"

Natsu terkejut. Belum sempat ia memasang pose siaga, Jacob yang bergerak lebih leluasa telah mengunci pergerakanya dengan rantai yang mana meliliti kedua pergelangan tangan serta kakinya. Rantai itu begitu kuat, dan muncul dari bawah tanah yang ia pijaki. Semakin Natsu meronta dan berusaha melepaskanya semakin erat belenggu rantai itu, hingga pembuluh-pembuluh darah di pergelanganya serasa akan pecah. Dan saat Natsu hendak menggunakan kekuatan sihir, tubuhnya menjadi lemas.

"SIALAN KAU! KEPARAT, LEPASKAN AKU!" Persetan dengan rantai yang membuatnya meringis kesakitan, ia berteriak dengan penuh amarah.

"Bawa anak itu, kesini lagi. Cepat!" Sedangkan Jacob malah memerintahkan penjaga yang satunya membawa lagi Nashi ke sana.

"APA?! APA SEBENARNYA YANG KAU RENCANAKAN!, BRENGSEK!?" Teriak Natsu kesetanan.

"Hanya sedikit membujuk." Ujar Jacob kalem.

Natsu berdecih sebal "Percuma saja! Aku tidak akan menyerahkan diri dengan cuma-cuma!"

"Oh… Tidak, tidak. Bagaimana pun kau tentu akan menyerahkan diri dengan suka rela, END. Karena…"

"Tuan." Dalam waktu singkat penjaga tadi sudah kembali lagi ke tempat Natsu dan Jacob berada, membawa serta Nashi yang masih tak sadarkan diri.

Brukk!

"!"

Dengan perlakuan yang tidak manusiawi, si penjaga melemparkan tubuh gadis kecil itu ke hadapan tuanya. Jacob lekas merapal mantra 'Posion cage' seperti yang pernah di gunakanya sewaktu mengurung Happy dulu dan tak berhenti sampai di situ sebuah cincin hitam yang terbuat dari besi muncul melingkari leher bocah malang tersebut. Natsu yang melihat pemandangan anaknya di perlakukan seperti itu geram bukan main. "Nasib anakmu berada di tanganku, sedikit saja kau membantah maka lilitan besi hitam di lehernya akan semakin kencang. Tak hanya mencekik dan menyesakkan, permukaan sangkarnya terlumuri racun serta dapat mengeluarkan percikan listrik bertegangan tinggi, Dan itu artinya…"

"SIALAN! KAU HANYA BERMAIN KOTOR! PECUNDANG! TERKUTUK KAU!" sumpah serapah terlontar dari mulutnya. Natsu mencoba lagi mengeluarkan kekuatan sihir untuk melepaskan diri—yang berbuah nihil, sebaliknya tubuhnya malah semakin tak berdaya.

"Hahahaha!" Jacob tertawa seakan benar-benar puas akan reaksi sasaranya "Terkadang permainan kotor itu lebih berguna ketimbang harus menunggu lama-lama. Jadi bagaimana END? Kau lebih sayang nyawamu sendiri? Atau anakmu?"

"KAU!" hawa panas mengguar dari seluruh tubuh Natsu mewakili rasa amarahnya.

"Dan kau tidak perlu merasa kesepian di alam baka nanti, karena…."

Prok! Prok!

Sedetik setelah Jacob menepukkan telapak tanganya sebanyak dua kali, tiba-tiba ruangan tersebut berguncang. Tanah disekitar mereka dan beberapa dinding menjadi retak. Setelah itu dengan cepat tanah tempat mereka berpijak perlahan bergerak turun ke bawah bagai sebuah lift. Panik, entah hanya perasaan Natsu saja atau memang benar adanya, samar-samar penciumanya menangkap suatu sense yang yang familiar.

Dan kala perubahan struktur ruangan telah selesai, sebuah pemandangan yang amat mengejutkan tampak di kedua mata putra Igneel itu.

.

.

"Penyihir arwah bintang terkuat. Lucy Heartfilia." Ucap Jacob dengan sangat tenangnya.

Benar, di sanalah seorang wanita berambut pirang panjang duduk bersimpuh terbelenggu rantai yang sama seperti Natsu. Ia terkurung dalam jeruji besi berjarak sekitar tujuh meter dari tempat Natsu bersimpuh. Hal itu tentu saja membuat sang pembantai naga api itu benar-benar kaget setengah mati. Berbagai perasaan antara sedih, senang, kaget, tak percaya, marah, dan sebagainya melebur menjadi satu. Setelah bertahun-tahun tidak bertemu, sesosok istri yang amat di rindukanya malah berada di sini lengkap dengan keadaanya yang sungguh mengkhawatirkan.

"Lucy…" satu kata bernada lirih lolos dari bibir Natsu, setetes air mata pun jatuh mengaliri pipinya, mewakili segala emosi yang tak dapat di jabarkan lagi dengan kata-kata.

Dalam keadaan setengah sadar, Lucy mengangkat kepala dengan lunglai untuk melihat dan memastikan bahwa suara yang ia dengar barusan bukanlah ilusi belaka. Dan kala sepasang karamelnya yang redup bertumbukan dengan onyx milik sang suami, seketika air mata mengalir deras dari balik kelopaknya. "N… Nat…. su…." Ucapnya lirih lagi terbata-bata. Tak banyak kata, mereka saling menatap satu sama lain, menyampaikan perasaan yang selama ini hanya tersimpan rapat dan terkubur jauh di lubuk hati.

Jacob mendengus "Permainan bodoh yang bernama cinta. Itulah yang menjadikan manusia lemah. Kau tidak akan mati sendiri disini. Aku beruntung karena sudah mendapatkan dua sumber ethernano pembangkit yang siap mengisi wadahku."

Seolah suara Jacob memutus tautan mata mereka, Lucy menoleh dengan gerakan lemah ke atensi gadis kecil yang tergeletak pingsan dalam sebuah sangkar hitam "I-tu…. Na..shi..?"

"BRENGSEK! KAU BILANG ANAKKU TIDAK ADA HUBUNGANYA DENGAN SEMUA INI, HUH?!" Natsu kembali meneriakan kemarahanya.

"Hmm…. Ya, tuan dan nyonya. Sekali lagi anak itu berguna bagiku dalam situasi seperti ini. Benar kan, Lucy Heartfilia?" mendengar itu, Lucy sontak melempari tatapan tajam pada si pecundang bernama Jacob tersebut, berharap pria tua itu lekas menarik kembali ucapanya.

"Sial." Sementara Natsu mendesis. Kepalanya tertunduk menatap tempatnya berlutut, bayangan poni salmon yang panjang menutupi setengah wajah. Tetesan air matanya pun berjatuhan ke tanah. Sungguh menyesal, itulah yang tengah ia rasakan sekarang. Betapa bodoh dirinya telah termakan omong kosong Jacob, andai saja ia tak menyerahkan Nashi… "Jika kau memang ingin melakukan semua itu…" Natsu mengeluarkan suara pelan setelah cukup lama terdiam. Ia langsung mendongakkan kepala memperlihatkan tatapan setajam mata pedang pada sang pria bengis, tetapi berurai air mata dalam waktu bersamaan "SILAHKAN AMBIL SAJA SEMUA KEKUATANKU! TAPI JANGAN LIBATKAN ORANG-ORANG YANG BERHARGA BAGIKU! Hah… hah…" Nafasnya ikut tersengal akibat terlalu banyak berteriak selama satu malam ini.

"Tentu saja anakmu tidak akan terlibat kalau kau memang sudah bertekad menyerahkan diri dengan sepenuh hatimu. Tetapi, untuk wanita itu aku pun tak bisa melepaskanya. Dia sudah lama ku tahan untuk mengisi pasokan kekuatan sihir-ku selama di Dimensi Spiral ini, dan tentu saja pelengkap rencanaku." Jacob menunjuk ke arah Lucy.

"AKU TIDAK AKAN MEMBIARKANYA!"

Kedua mata Jacob menyipit "Rupanya kau keras kepala juga, END."

Krekk!

"Ugh… a-aa" Karena Natsu terus membantah mau tak mau Jacob melakukan serangan kejut pada Nashi. Seperti yang dikatakanya, jeratan cincin di leher Nashi semakin erat membuatnya merintih dan mengap kesulitan bernafas.

"NASHIIII!" Teriak Natsu tak terima akan perlakuan bengis Jacob pada putrinya. Benar-benar orang jahat, tak kenal ampun.

"Nashii…" lirih Lucy tak kuat menyaksikan sang anak mendapat perlakuan kejam di depan mata kepalanya sendiri, namun apa daya dirinya tak bisa berbuat apa-apa meski dalam hati sangat ingin membunuh pencundang itu dan menlenyapkanya dari peredaran.

"Sekarang apa kau masih mau melawan, END? HUH?!" Sentak Jacob. Ia pun menghentikan aksinya dan melonggarkan cekikan itu, lalu memfokuskan pandanganya ke onyx Natsu seakan mendesak Natsu agara mengerti.

"Hentikan! Hentikan semua ini…" Natsu berucap lirih, sekilas dari nadanya tampak memohon.

"Tidak akan sampai aku berhasil mencapai tujuanku." Timpal Jacob.

"…." Natsu pun tak dapat berkata apa-apa lagi. Ia hanya bisa tertunduk sambil menangis dalam kebungkaman, pikiranya berkecamuk penuh emosi namun tatapanya kosong tanpa arti. Sekarang ia benar-benar sadar betapa bodoh dirinya, hidupnya, ia terus mengumpat dalam hati. Hanya karena semua orang yang ia sayangi harus terseret ke dalam masalahnya. Persetan dengan omong kosongnya tak boleh menangis dalam keadaan apapun, buktinya ia menjilat ludah sendiri. Apa ia yang sesungguhnya adalah seorang pengecut? Sangat memalukan!

"Aku…."

"Hm?" Jacob mengangkat sebelah alis seraya menoleh pada atensi lain yang mengeluarkan suara bergetar. Natsu pun tertegun, ia langsung mendongak menatap wajah Lucy yang sendu.

"…. Aku selalu bermimpi suatu hari nanti aku bisa… kembali melihat wajah anakku…" Mata karamel menutup, Lucy menghirup nafas pelan dan menghembuskanya, lalu kembali berucap dengan suara yang bergetar menahan isak tangis "Dan sekarang aku bisa melihatnya… rasa rinduku terobati karena itu. Sebagai seorang ibu aku selalu ingin berbuat sesuatu untuk dirinya, walau sekecil apapun yang terpenting adalah hidup dan kebahagiaanya. Tidak peduli jika aku harus mengorbankan nyawaku sendiri… aku siap melakukan itu… meski aku tidak akan pernah melihatnya lagi untuk selamanya. Tak apa…" senyum lembut coba ia pasang di wajahnya meski hal itu tak mengurangi rasa sedih.

"Lucy…."

Jacob mendengus puas "Lihatlah dia sudah pasrah. Lalu, kutanya sekali lagi bagaimana denganmu, END?"

"Aku…." Natsu menunduk lagi, ia merenung menyelami dalam pikiranya yang tengah berdebat, terlebih setelah mendengar Lucy berkata sepert itu. Sekelebat bayangan dan suara melintas di kepalanya. Berputar-putar bak piringan hitam yang mendendangkan lagu memori. Ya, Natsu ingat itu…

"Papa!" suara Nashi yang memanggilnya dengan begitu ceria.

"Natsu…." senyum lembut Lucy yang menghangatkan rongga dadanya.

Tling.. tling…

Tiba-tiba sesuatu terjatuh dari kantong celana lusuh yang dikenakanya, lantas Natsu melihat benda itu. Benda simbolis yang di tinggalkan oleh seseorang padanya. Sebuah kalung dengan bandul yang terbuka, menampilakan dua sosok mungil dengan wajah suci tengah tersenyum.

"Natsu."

Ia tersentak mendengar satu suara hinggap dalam ingatanya "Suara itu?!"

.

.

Flashback

Kepulan asap dan debu memenuhi sebuah kawah bekas hantaman pertarungan dahsyat. Percikan-percikan api kecil serta bebatuan dan bongkahan material tersebar di segala penjuru. Di tengah-tengah kawah itu, pria bersurai salmon berantakan duduk berlutut di samping seorang pria yang terbaring lemah.

.

"Natsu, Aku selalu ingin mengatakan ini padamu. Tetapi apa daya aku hanya bisa mengatakanya saat aku hampir sekarat." Ucap pria berambut hitam yang terbaring itu. wajahnya penuh luka dan bekas cakaran, serta darah mengalir dari mulut, hidung dan kepalanya.

"…." Sementara di sisi lain Natsu diam mendengarkan. Dengan wajah datar tak berekspresi.

Meski bibirnya di penuhi oleh cairan merah berbau amis, pria itu tetap mencoba tersenyum pada Natsu "Dulu kau hanya seorang anak yang polos dan tak mengerti apa-apa. Hanyalah seorang adik kecil yang menggemaskan dan sangat ku sayangi. Namun betapa menyedihkanya, sebelum kau benar-benar mengenal dunia, para naga itu telah merenggut nyawamu. Bukan hanya kau, bahkan orang tua dan seluruh keluarga kita… menyisakkan diriku seorang."

"Zeref…" Natsu berucap dengan nada lirih. Kini tatapanya sedikit melembut.

"Sejak saat itu hidupku selalu di hadapkan pada keputusasaan bahkan di usiaku yang masih terlampau belia. Hingga sebuah pemikiran gila tiba-tiba muncul di kepalaku. Aku pun mulai melakukanya dengan berbagai penelitian jenius yang bahkan saat itu masayarakat menganggap apa yang ku lakukan ini adalah hal tabu. Segala aspek yang berhubungan dengan kehidupan dan kematian, aku terus menguliknya."

Pria yang ternyata adalah Zeref itu terbatuk-batuk. Terlihat begitu lemah dari sosoknya yang selalu di elu-elukan sebagai wizard yang terkuat sekaligus paling di takuti. Namun sekarang seolah citra itu menghilang dari dirinya.

"Semua itu ku lakukan semata-mata hanya untuk sebuah tujuan, yakni membuat satu-satunya adik yang paling ku kasihi hidup kembali." Lanjut Zeref.

"….."

"Dan harga yang harus ku bayar atas usaha tersebut adalah kutukan Ankhserum ini. Tetapi itu tak sebanding dengan rasa bahagia ketika melihat kedua matamu terbuka kembali. Walau aku harus menghadapi segala konsekuensinya terutama membiasakan diri dengan kesendirian dan rasa sepi seumur hidupku."

Pandanganya lurus ke atas memandang langit yang terselimuti awan kelabu. "Tak terhitung berapa banyak nyawa yang telah ku renggut sampai saat ini, pun seberapa banyak dosa yang telah ku perbuat hingga rasanya aku ingin mati. Oleh karena itu aku ciptakan para etherious dan monster agar bisa membunuhku. Tetapi semua gagal, tak ada satu pun dari mereka yang dapat melakukanya. Akhirnya ku ciptakan kau sebagai etherious terakhir yang di nobatkan sebagai yang terkuat dengan harapan supaya title abadi dalam diriku lenyap di tanganmu."

Lalu Zeref mengalihkan tatapanya pada Natsu seraya kembali tersenyum "Dan hari ini kau berhasil membuktikanya. Harapanku menjadi kenyataan."

"Namun akan ada waktu dimana mereka mengincar sesuatu dalam tubuhku. Ku harap tidak akan terjadi hal buruk di masa depan nanti. Karena itu, pesanku lindungilah dunia."

"Zeref…"

"Natsu, sebelum aku mati… Maukah kau mengabulkan satu permintaan terakhirku?" tanya Zeref. Cahaya matanya sudah semakin redup. Karena ia tahu waktunya akan segera tiba, maka ia mengatakan permohonan terkahirnya pada Natsu.

"Katakanlah. Selama aku bisa, aku akan mengabulkanya." Lekas Natsu mengulurkan tanganya untuk menggenggam tangan pucat milik Zeref—dan balas di genggam oleh Zeref sendiri. Seolah ikatan tangan itu menyalurkan keyakinan dan segala perasaan mereka. Sekarang hati Natsu benar-benar yakin bahwa Zeref bukanlah seperti yang di katakan oleh orang lain. Ia hanyalah seorang pria kesepian yang membutuhkan uluran tangan.

Untuk kesekian kalinya Zeref mematri senyum di wajahnya. Bukan senyum sendu ataupun senyum palsu yang tak bermakna, tetapi ini adalah senyum kebahagiaan. "Maukah… kau… memanggilku 'kakak?'… aku ingin mendengarnya…"

"Kakak…"

Ya, senyum kebahagiaan. Akhirnya satu ruang kosong dalam hati telah terisi kembali. Ia akan pergi dengan tenang, berbekal kehangatan "Natsu. Adik kecilku… Terimakasih… Aku menyayangimu…."

Kedua kelopak kian memberat, setetes air hangat merembes dari sudut matanya mengalir menuruni senyum tak sekalipun luntur. Meski rintikan air langit mulai berjatuhan ke bawah untuk memadamkan api riwayat seorang penyihir hitam, Zeref. Tetapi api harapan di hatinya tak pernah padam.

"Selalu…."

.

.

.

End of Flashback

'Kakak… sekarang aku mengerti apa maksud kata-katamu.' ungkap Natsu dalam hati di sela-sela renunganya.

'Maafkan aku karena merasa gagal menunaikan pesanmu. Tetapi tak perlu bersedih hati disana, tanggung jawab itu akan ku serahkan ke tangan anakku. Itulah mengapa dia harus tetap hidup.' Ia pun menutup mata seraya menarik nafas dalam lalu menghembuskanya dan kembali membuka mata. Kepala pun mendongak. "Sebagai seorang ayah aku pun tidak ingin kalah dari ibunya, benar kan Lucy?" Pandangan tetap fokus pada atensi sang istri yang semakin melemah, menatap intens sepasang karamel itu seolah mengatakan 'Percayalah padaku'.

"…." Sedang Lucy hanya terdiam menatap balik Natsu.

"Demi anak kita…." Bisiknya.

"HAHAHAHA! Bagus! Bagus, END!, Penjaga! Segera siapkan semuanya!" tanpa pikir panjang lagi, Jacob segera memberi perintah pada bawahanya.

"Ha!"

Semua obor di padamkan, cahaya remang tergantikan dengan cahaya terang dari lampu-lampu mekanik yang mengeliling ruangan itu. Mereka dapat melihat sebuah tabung berukuran cukup besar yang tertutup oleh juntaian kain hitam di depan mereka. Lantas penjaga itu pun membukakan kain hitam tersebut dan satu lagi kejutan di perlihatkan.

"ITU!—" Natsu memekik tertahan. Lucy membulatkan matanya "Mu-mustahil…"

"Tabung besar ini menjaga jasad Tuanku dengan apik." Ujar Jacob seraya menghampiri sebuah kursi di samping lacrima berbentuk tabung silinder berisi jasad utuh Zeref yang terawetkan.

"Pasangkan selangnya!" perintah Jacob lagi setelah menduduki kursi itu. Dua orang bawahan setia Jacob bergegas melaksanakan perintahkan sang tuan. Beberapa selang kecil terpasang di masing-masing tubuh Natsu, Lucy, dan Jacob hingga ke lacrima. Keempatnya bersambung satu sama lain. Sebab selang itulah yang akan menyerap dua energy dari tubuh Natsu dan Lucy untuk mengisikanya ke wadah perantara, Jacob. Lalu Jacob mentransfer energy tersebut ke dalam lacrima.

"Prosesnya akan segera di mulai. Tuan dan nyonya… apa kalian siap?" Jacob memasang seringai penuh kepuasan di wajahnya.

"INILAH HARI YANG KU TUNGGU-TUNGGU!—"

"—KEBANGKITAN ZEREF-SAMA!"

.

Kini dunia terasa berputar bagi Natsu. Ujian beruntun yang ia rasakan. Bagaimana tidak? Terpisah dengan para nakama, guild tercintanya, istri, bahkan sang buah hati yang tak ia ketahui kehadiranya dalam kurun waktu sepuluh tahun? Tak menyadari pula selama itu dirinya di manfaatkan oleh musuh. Sungguh ironis memang, hanya dalam waktu satu malam banyak hal terjadi dan hampir semuanya adalah kejadian yang di luar ekspektasinya.

Sama halnya dengan Lucy, deraan sakit di tubuhnya tak ia rasakan. Sebaliknya hati merasa lega karena ia dapat melakukan sesuatu untuk anaknya tercinta. Walau harus mati mengorbankan, mimpi-mimpi dan diri bersama sang suami. Ia pikir itulah tugas orang tua.

Sedangkan di sisi lain, Nashi masih belum membuka matanya.

To Be continued

A/N : HAHAHAHA JELEK AMAT NIH CHAPTER! :"D . Fic ini… Fic ini benar2 fic yang absurd, acak adul dan super gila banget! ToT (*Jedotin kepala ke tembok) (*authornya juga sarap)

Ohya.. Chap depan itu rencananya chapter penutup yang artinya satu chap lagi fic ini akan tamat hehe… x"D soalnya aimi gak terlalu suka panjang-panjang yang penting ceritanya ngena aja. Apalagi bagi aimi sendiri benar-benar tidak mudah lho~ mengarang itu. Mungkin kalo author lain sih gak jadi masalah tapi buat aimi yang memang tak terlalu berbakat dalam hal beginian yaa.. udah bisa segini aja udah sukur banget.

Kalau begitu aimi mau iseng2 nanya nih, kira-kira menurut imajinasi kalian endingnya mau kayak gimana? xD