Chapter 15
SANG ALPHA
Main Cast:
Kim JunMyeon
Zhang Yixing
Other Cast:
All members EXO
Etc
SuLay Mood
Yaoi
Dont Plagiat
Author: Flying White Unicorn
Mari membaca dan selamat berimajinasi dalam pesona jatuh cinta...
... Selanjutnya yang Yixing ketahui hanyalah suara pecah dari kaca depan dan samping mobilnya. Kaki dan tangannya tidak bisa digerakkan perlahan ia menutupkan matanya.
Kecupkan ciuman mu pada dunia
Alam yang berbahasa dan segala metafora yang mengelora
Biarkan membisu bersama turunnya senja
HanBin melajukan mobilnya secepat yang ia bisa. Menerobos lampu merah, tidak peduli dengan teriakan marah dan klakson yang berbunyi mengiringi nya semakin jauh dari beberapa mobil dibelakangnya.
" Tidak.. kau tidak boleh mati. Bertahanlah."
Degupan kecemasan dan suara mobinya yang melaju seakan menyatu, HanBin tidak berani menatap ke tempat duduk belakang mobilnya terbaring Yixing disana seakan mengajak kompromi dengan maut nya.
Ciit
Mobil merah itu berhenti di sebuah bangunan. Ia tidak mungkin membawa Yixing ke rumah sakit. Terlalu riskan mengingat dia tengah melarikan Yixing dari rencana busuk Ayahnya yang ingin menghabisi Yixing. Ayahnya sudah mengetahui nyawa JunMyeon sesungguhnya tidaklah terletak ditubuhnya. Nyawanya terletak di pasangannya yaitu Yixing. Menghabisi Yixing adalah cara mudah menghabisi JunMyeon. Ayahnya lupa kalau bukan hanya nyawa JunMyeon yang dititipkan pada Yixing. Begitu jugalah HanBin, yang menitipkan lebih dari separuh nyawa dan perasaannya pada bekas buruannya itu.
Perasaan yang tidak akan pernah terbalaskan, perasaan yang membuat dirinya lemah tak berdaya. Yang membuat ayahnya semakin muak dengan JunMyeon. HanBin tidak pernah menyangka sebesar inilah kekuatan cinta. Dia telah salah karena telah pernah bermain-main dengan cinta kemudian jatuh dan terlembap.
Tok Tok Tok
HanBin mengedor bangunan itu dengan tidak sabar. Ia harus secepatnya bertemu dengan pemilik bangunan ini. Ia tidak ingin lagi bermain-main dengan waktu. Takut jika waktu akan menjebaknya dalam suatu perasaan penyesalan nantinya.
" Tuan muda Wang? Ada perlu apa malam-malam begini.."
" Aku tidak punya waktu lagi, didalam mobil ada seseorang yang harus kau selamatkan. Apapun itu caranya."
" Ba..Baiklah bawa dia kedalam. Aku akan memeriksa nya."
HanBin membuka pintu mobilnya, terlihat Yixing yang bernapas sangat lemah. Wajah dan badannya telah hancur remuk. HanBin tidak mau berpikir macam-macam. Ia hanya ingin Yixing tidak pergi meninggalkannya.
" Yixing bertahanlah.. Kau pasti bisa bertahan."
HanBin membawa Yixing kedalam bangunan yang ternyata milik seorang dokter. Membaringkannya pada kasur.
" HanBin sepertinya dia harus di operasi. Dan tampaknya ia mengalami banyak patah tulang, kurasa tulang pipinya juga hancur. Aku akan menscan nya dahulu."
" Lakukan yang terbaik untuknya."
HanBin menunggu di luar ruangan, membuka layar ponselnya terlihat beberapa panggilan dari ayahnya HanBin tidak memperdulikannya dimatikannya ponselnya dan mencabut nomor nya mematahkannya agar tidak terdeteksi keberadaaannya, kemudian menyesali perbuatannya. Kini dia tidak punya cara untuk menghubungi JunMyeon. Walau bagaimana pun Yixing akan lebih selamat jika dia berada ditangan JunMyeon dan pengawalan gangster Kim. HanBin harus mengakui dia sendiri melawan ayahnya. Ia memerlukan suatu team bahkan jika itu bantuan dari Kim musuh dan saingannya. Walaupun itu artinya harus merelakan Yixing kembali ke pangkuan JunMyeon untuk kedua kalinya.
Menit berlalu jam berganti jam, pagi pun menggantikan malam. HanBin masih menunggu Yixing yang masih berada di dalam ruangan. HanBin yakin ia membawa Yixing ketempat yang tepat. Ia telah membuang mobilnya di tempat yang jauh dari bangunan tempat Yixing berada. Ia yakin tidak ada yang mengetahui keberadaannya sekarang. Ini adalah satu-satunya dokter pribadinya yang ia sengaja percayakan jika ia mengalami suatu hal yang membahayakan dirinya.
Clek
Pintu ruangan tempat Yixing dibedah bersama dokter dan istrinya yang merupakan perawat itu terbuka. HanBin memandanginya dengan tatapan cemas.
" Kami sudah mengoperasinya dan detak jantungnya sudah naik kembali. Tapi dia masih belum melewati masa kritisnya. Aku akan pindahkan dia keruangan di tengah agar kau bisa menjaganya disana."
HanBin menatap Yixing yang masih terbaring dengan balutan di wajahnya hampir tidak menunjukkan mukanya dan seluruh badannya yang sudah terbungkus baju kembali. HanBin hanya bisa melihat lentiknya jari Yixing yang tangannya terhubung dengan selang infus. HanBin memegang tapak tangan Yixing dengan perlahan.
" Aku akan menjagamu.. Hanya aku.."
Tuhan izinkan aku bersikap egois, aku akan menjaganya hingga dia sadar. Biarkan aku merasakan dia milikku walau hanya sementara. Tuhan jangan bilang permintaanku ini terlalu tinggi.
...
HanBin menunggu beberapa orang yang biasa ia percayai untuk berkumpul. Ia akan membentuk team nya sendiri. Sebelum ayahnya menyerang ataupun pasukan JunMyeon merebut Yixing kembali dari tangannya. Ia masih belum bisa merelakan jika Yixing harus pergi darinya. Sudah kebiasaannya melihat Yixing ketika ia bangun tidur dan mencium keningnya Yixing ketika malam hari. Wajah Yixing sudah mulai dibuka perbannya. Tidak ada yang kurang ataupun berubah. Hanya saja sorot mata yang belum terlihat hingga kini.
" Bos, kau tahu Ayahmu sudah mulai mencurigai kami?."
" Ya aku tahu. Kudengar juga JunMyeon telah memanggil kawanan nya untuk kembali. Tampaknya dia mulai putus asa mencari sendiri."
" Ya bos. Berkat saran dari bos kami berhasil memperdaya JunMyeon."
" Aku akan memindahkan posisi kami. Ku minta kalian terus waspada hingga nanti kepindahanku. Aku menduga kawanan Kim mulai mencurigai area persembunyianku."
" Baik bos. Kami akan menunggu perintahmu."
HanBin memang tidak setangguh JunMyeon tapi dia pemilik rencana yang sempurna. Dia sanggup berpikir berbagai cara untuk keluar dari permasalahan.
...
Angkasa mulai meresapkan warna nila sebagai tanda persiapannya menyambut terang pagi. HanBin memandang hamparan bangunan di depannya memunggungi orang dibelakangnya yang perlahan membuka matanya. Sorot mata yang dirindukan itu telah tiba, sorot mata yang juga ditakutkan HanBin.
" Uhuk..Uhuk.."
" Yixing, kau sudah bangun?. Bagaimana perasaanmu? Apa yang kau rasakan?." HanBin meremas tangan Yixing seakan takut kesadaran Yixing akan membawa nya pergi.
" Ha-HanBin? Dimana aku?."
" Kau aman bersamaku. Tenanglah."
" JunMyeon.. Mana JunMyeon?!."
HanBin sedikit melonggarkan pegangannya, terasa sakit ketika Yixing menyebutkan nama JunMyeon.
" Dia tidak ada disini?." Tanya Yixing lagi
" JunMyeon,? kau ingin berjumpa dengannya? Aku harap kau terus bersamaku."
Yixing terdiam tidak menjawab. Bahkan untuk mengerakkan jari kakinya saja dia tidak bisa. Masih pantaskah ia bertanya tentang JunMyeon? Ataupun berharap untuk bertemu dengan JunMyeon?.
" Ani. HanBin boleh aku meminta suatu hal padamu?."
" Ya tentu."
" Aku akan mengikuti kemanapun kau pergi tapi dengan sebuah syarat."
" Apa pun."
" Berdamailah dengan JunMyeon. Hilangkanlah permusuhan kalian dan aku akan terus bersamamu."
Sifat manusia bukan terbentuk dari lahir, sifat manusia terbentuk karena adanya kebiasaan dan pola dalam hidupnya. HanBin telah biasa Yixing berada di dekatnya. Mengembalikan Yixing ke JunMyeon sama dengan mengikhlaskan setengah perjalanan hidupnya di nikmati orang lain. Jika cara untuk mendapatkan Yixing adalah dengan cara terbodoh sekalipun yaitu membohongi Yixing untuk kedua kalinya ia akan melakukannya. Tapi mulai berdamai dengan JunMyeon juga bukanlah sesuatu jaminan Yixing akan tetap terus bersamanya. HanBin telah termakan tamak di dalam dirinya. Jika dia ingin Yixing miliknya seutuhnya maka melenyapkan JunMyeon selamanya juga suatu caranya.
.
.
Diruangan yang pengap seperti kukusan itu Yixing mencoba untuk perlahan mengerakkan tubuh dan persendiannya. Sakit menerima perkataan HanBin mengenai JunMyeon. Walau ia belum bisa terima tapi ia bisa bagaimana lagi. Satu-satunya cara untuk berdamai dengan keadaan adalah menerima.
" Yixing hati-hati, kalau belum kuat aku bisa membantumu turun dari tempat tidur."
" Ne, aku ingin membiasakan sendiri. Aku ingin keluar HanBin."
" Kau mau kemana?."
Satu-satu tujuan yang di inginkan Yixing adalah bertemu dengan Anson, tapi itu berarti bertemu dengan JunMyeon juga.
" Aku rindu dengan Anson."
HanBin terdiam mendengar jawaban Yixing. Ia tahu cepat atau lambat Yixing akan mulai menanyakan anak biologis JunMyeon. Bersaing dengan JunMyeon adalah pasti, bersaing dengan bayi JunMyeon adalah kekalahan dalam ketidakpastian.
" Kau ingin bertemu dengannya?."
" Tidak, aku akan menjauhkan diriku dari mereka. HanBin bawa aku sejauh kau bisa."
Yixing terdiam dalam kepasrahan hidupnya. Ia sadar diri, Alpha sekuat JunMyeon tidak pantas bersanding dengan dirinya yang kini lemah tak berdaya. Walaupun yang diputuskan olehnya terkesan jahat, memilih mempercayakan hidupnya pada musuh JunMyeon adalah bentuk pengkhianatan untuk pasangannya itu. Tapi jika ini yang Yixing bisa lakukan untuk jauh dengan JunMyeon ia akan melakukannya. JunMyeon berhak untuk hidup tanpa dirinya. Katakanlah hidup Yixing penuh dengan drama, tapi di pemikiran Yixing ia lakukan ini lebih dari sekedar drama kehidupan. Merelakan lebih dari seorang yang dia sayangi dan cintai JunMyeon dan Anson hidup tanpa direpotkan oleh dirinya. Lagipula jika hal ini akan membuat JunMyeon dan HanBin berdamai dan Anson bisa hidup kedepan dengan tenang tanpa persaingan dalam dunia gangster maka Yixing akan melakukannya
...
Layar ponsel HanBin tidak akan pernah berubah, tetapi pandangan HanBin masih terpokus pada layar datar itu. Sejak Yixing merelakan dirinya untuk pergi bersamanya ia sibuk memikirkan dia tidak akan melepaskan kesempatan ini. HanBin menekan tombol telepon seseorang.
" Halo Ayah, Aku mau berdamai denganmu dengan satu syarat..."
Segila-gilanya HanBin dalam berpikir tidak pernah rasanya ia membayangkan mengambil keputusan seperti ini. Mempercayakan keselamatannya dan keselamatan Yixing kepada orang yang membuat Yixing seperti ini. Dia tidak punya pilihan lain selain untuk meminta bantuan dari Ayahnya. Mengingat sekarang mereka satu tujuan.
" Kemana kita akan pergi?." Yixing menyadari HanBin daritadi tidak berbicara apapun selama di perjalanan ini.
" ketempat yang akan kau sukai."
" Ha?."
" Nantikan saja."
HanBin membawa mobilnya dengan tenang. Ia tahu JunMyeon tidak akan mengetahui keberadaannya. Ia telah memasang jebakan di lain tempat sesuai dengan pemikiran ayahnya. Ia akan membawa Yixing pergi dan JunMyeon akan diumpankan kepada ayahnya. Sesuai persyaratan mereka berdua. Dia boleh membawa Yixing pergi dan JunMyeon milik ayahnya.
...
Kau adalah ketiadaan dalam kepastian
Di ufuk kau terbenam aku terbit
Suhu dingin dalam mobil Chanyeol menyejukkan tengkuk JunMyeon memejamkan matanya dengan posisi tidur yang kaku.
" Dingin sekali mobilmu."
" Maaf hyung, ku naikkan suhu nya."
" Sudah ada perkembangan dari Sehun?."
" Ya Hyung, Sehun tadi memberi kabar kalau mereka sudah sampai di tempat yang dicurigai. Mereka masih menunggu kita untuk sampai kesana."
" Bagus."
Mobil ferarri merah yang membawa dua orang didalam nya dan sejumlah senjata membelok ke suatu kawasan. Disana terlihat seorang pria tinggi memakai jaket hijau dan topi mnyambut.
" Hyung.."
" Sehun, bagaimana?."
" Bangunan yang di hujung sana, beberapa mata-mata sebelum kami kesini mengatakan tiga hari ini terlihat HanBin keluar masuk membawa beberapa kantong."
" Jongin, Chen?."
" Kami disini Hyung."
" Bagus, ambil sendiri senjata kalian di dalam mobil Chanyeol. Terserah kalian mau pakai yang mana. Ingat kalian harus hati-hati. Kali ini kita akan menerobos tempat mereka. Tempat yang sama sekali tidak kita ketahui bagaimana isinya."
" Ya Hyung, kuharap Yixing ada didalam."
" Ya Jongin, aku juga berharap begitu.. Ayo.."
Kelima laki-laki itu pun melangkah menuju tempat yang sudah ditunjuk Sehun. Chanyeol menyelipkan senjatanya dibelakang badannya berharap dia tidak akan menggunakannya.
" Sehun, kau ikut aku masuk ke dalam. Chanyeol rusakkan pertahanan di depan."
" Baik Hyung. Kalian maju setelah aku bawa penjaga itu kesamping." Ucap Chanyeol yang di sambut anggukan yang lain.
Chanyeol maju kedepan disambut dua penjaga depan yang langsung menghajarnya. Baku pukul terjadi, Chanyeol berhasil membawa kedua penjaga itu kesamping. Membuat rekan-rekannya masuk kedalam dan bersiap menyambut hal lainnya.
Chen menyadari serangan yang menyerangnya dari arah samping, Chanyeol yang sudah bergabung kembali dengan mereka membantu Jongin yang sedang baku hantam dengan tiga lelaki berbadan besar. JunMyeon menyadari mereka kalah jumlah. Setelah memukul jatuh empat lawannya ia melihat kawanannya yang masih diserang bertubi-tubi.
Dor
Pria dengan tattoo dikedua tangannya menembakkan pelurunya hampir mengenai JunMyeon yang menghindar denan cepat karena refleksnya sangat tinggi.
" Hyung, Sehun kalian keatas cari Yixing. Aku dan yang lainnya akan menyelesaikan mereka." Ucap Jongin mengeluarkan senjata api nya dan mulai menembakkannya ke arah para lawan yang juga sudah mengeluarkan senjata api mereka.
Dor..Dor..Dor
" Hyung! Ayo..!." Sehun menarik JunMyeon yang masih terpaku dengan silauan peluru yang saling melesat di ruangan itu. Dengan penuh pertimbangan JunMyeon mengikuti Sehun. Sesungguhnya dia tidak ingin berpisah dengan kawanannya tapi hal itu sepertinya tidak memungkinkan. Ia harus cepat menemukan Yixing dan membawa kembali kawanannya keluar.
Tap Tap Tap
Sehun dan JunMyeon berlari menuju tingkat paling atas bangunan itu. Kini hanya satu ruangan yang ada.
Yixing pasti disana. Pikir JunMyeon
Clek..
" Terkejut JunMyeon? Siapa yang kau harapkan berada diruangan ini?. Yixing? Atau anakku HanBin yang telah membawa pergi kekasihmu itu?. Ucapkan selamat tinggal pada dunia."
DOR!
Sejauh apapun garis waktu engkau tempuh
Hadirku selalu di balik matamu
Silauan sinar membutakan matanya memandang dua laki-laki dengan pistol ditangannya saling terjatuh. Tiada yang lebih cepat dari kilatan cahaya apalagi suatu nalar manusia yang mulai memahami musuhnya telah tumbang begitu juga sahabatnya. JunMyeon melihat Wang yang jatuh tak berdaya tubuhnya tidak menunjukkan sang empunya melakukan pernapasan. JunMyeon terlalu takut membalikkan posisi orang didepannya yang dengan begitu setia merelakan dirinya ditembak demi melindungi sang Alpha.
" Se..Sehun.."
" Ke..Kej..ar Yi..xing.."
Badan JunMyeon tidak beranjak, dia hanya ingin disini bersama sahabatnya, kawanannya. Tangannya tetap berada didada Sehun seakan menyuruh darah yang terus mengalir untuk berhenti. Seakan memohon jantung Sehun untuk kembali beraktivitas.
Tuhanku
Aku ingin berkelana mencari jalan untuk kerumah
Bukan disini tempatku
Aku hanya ingin pulang
Jongin, Chen dan Chanyeol menatap pemandangan di depannya. Alpha nya memeluk sang kawanan yang paling kecil, yang paling dekat dengannya dan paling mengerti cara memahami sang Alpha tanpa harus banyak bertanya.
" Hyung.. Kerjarlah Yixing. Chanyeol akan bersama Sehun. Ka..Kami akan membawa Sehun...kembali. Aku dan Chen akan bersamamu mengejar Yixing."
" Aku tidak akan meninggalkan Sehun disini. Kita pergi dari sini. Chanyeol aku pinjam mobilmu. Kalian bawa Sehun ketempat Luhan. Aku rasa itu yang diinginkan Sehun."
" Baik Hyung."
Ketiga laki-laki itu membawa Sehun dengan mobil Jongin. JunMyeon menatap kepergian mobil berwarna hitam merah itu hingga semakin menjauh darinya. Sudah satu kawanan nya pergi, dia tidak boleh membuat yang lain juga akan menjadi korban.
JunMyeon mengendarai mobil Chanyeol dengan laju. Mobil yang tadi nya dingin kini mendadak menjadi suhu normal kembali. JunMyeon terdiam, inilah caranya alam berbahasa padanya. Kenapa dia tidak menyadarinya. Seangkuh inikah dia mengabaikan semua petunjuk. JunMyeon menyalahkan segala hal atas kehilangan Sehun.
...
Yixing membuka matanya, tadi ia bermimpi melihat JunMyeon di dasar lautan tergelap. Itu tidak mungkin, JunMyeon laki-laki yang mengajarkannya terjun dari tebing menuju arus lautan. Bertahan di dalam ombak tidak mungkin JunMyeon tenggelam hingga di dasar.
" Sudah bangun?."
" Kita dimana?."
" Kau suka? Kita di perdesaan. Kau suka membaca novel? Kudengar salah satu penulis novel terkenal tinggal di desa ini."
" Kita sangat jauh."
" Ya, kita akan memulai hidup baru. Hanya kau dan aku."
Yixing tidak menjawab perkataan HanBin. Dia membalas sapaan dari alam melalui hembusan angin perdesaan melalui sorotan mata kerinduan pada JunMyeon dan Anson.
Bermimpilah nak mulai hari ini
Walau dulu kau tak kuizinkan bermimpi
Tapi kini ku mohon
Mimpilah tentang ku, tentang aku yang tak teringat di memorimu
...
Yixing mencoba berjalan perlahan, kini ia sudah bisa mulai mengerakkan jari kakinya. Tinggal waktu saja perkiraan Yixing untuk dia bisa berjalan. Yixing melihat rumah di depannya yang menurut HanBin berisikan seorang penulis terkenal dan seorang peracik kopi. Seorang laki-laki yang tidak terlalu tinggi mengenakan pakaian berkebun dan seorang laki-laki yang sedang mengetik sebuah laptop sambil mengunyah sesuatu. Entah kenapa hal itu mengingatkannya pada dirinya dan JunMyeon dalam versi yang lebih hangat.
" Apa yang kau lihat?." Tanya HanBin membawakan segelas susu untuk Yixing
" Oh ani. Kau mau pergi?." Tanya Yixing melihat penampilan HanBin mengenakan jas hitam dan celana hitam
" Ya. Aku mau pergi sebentar. Ada pemakaman."
" Pemakaman siapa?."
" Kau tidak perlu cemas. Aku akan pulang malam ini juga. Jangan coba berdiri lama-lama nanti kau jatuh okay."
" Ne."
HanBin mencium kening Yixing, hanya itu yang bisa tersentuh oleh Yixing. HanBin tahu Yixing tidak membalas cintanya. Yixing bersamanya itu sudah cukup. Mengharapkan cinta Yixing untuknya? Dia hanya berharap keajaiban akan datang.
Yixing masih mencoba berjalan perlahan-lahan. Terdengar ketukan di depan, Yixing kembali duduk di kursi rodanya untuk membuka pintu di depan.
" Halo tetangga baru.. "
" Maaf pasangan saya telalu heboh. Sudah sana pulang biar aku saja."
" Kenapa? Kan kita buat kue nya bersama."
" Iya nanti ku bilang kau yang meletakkan ceri nya di atas. Sudah sana pulang."
" Uh.. Baiklah sekali lagi halo tetangga baru!."
Yixing terbengong melihat dua pasangan heboh didepannya. Satunya sibuk mendorong pasangannya untuk pergi dan satunya sibuk melambaikan tangannya pada Yixing dengan heboh.
" Kau penulis terkenal itu?."
" Wah aku terkenal juga disini. Iya dan tadi adalah pasanganku. Ini ucapan selamat datang dari kami untuk kau dan.. laki-laki yang tadi pagi keluar adalah pasanganmu ya?."
" Bukan dia.. temanku."
" Oh iya temanmu hehe."
" Terimakasih. Aku mungkin tidak bisa membalas nya."
" Tidak perlu. Kalau perlu apa-apa teriak saja pada kami. Aku permisi dulu sebelum pasanganku membakar dapur kami."
" Baiklah.."
Yixing seperti melihat dirinya dalam versi lebih hangat dan bahagia dibalik kedatangan tetangganya yang baru saja mengantarkan brownis dengan susunan ceri di atasnya. Yixing kembali merindukan JunMyeon, andai saja kehidupan berpihak padanya dan kebahagiaannya. Mungkin kini ia tengah bermain bersama JunMyeon dan Anson. Yixing kembali menutup pintunya. Berharap rasa iri dengan tetangganya ikut hilang.
...
Sesulit inikah jalan takdir
Yang tak menginginkan kita bersatu
Bila aku tak berujung denganmu
Biarkanlah rasa ini ku kenang selamanya
Luhan menatap wajah kekasihnya yang terbaring dalam damai teringat akan janji Sehun untuk kembali padanya. Kini janji itu tidak akan pernah bisa lagi Luhan tuntut. Kepergian kekasihnya membawa setengah jiwa dan raganya larut hancur dalam kenangan-kenangan mereka.
Sehun memang kembali padanya, tapi tampaknya Sehun tidak hanya berjanji padanya. Ia juga berjanji pada Tuhan. Siapalah Luhan dibanding Tuhan, Sehun lebih menepati janjinya kepada Tuhan.
" Pulanglah Sehun usai semua sandiwara dunia kepadamu, terbanglah dari atas deritamu, gapailah sang maha kekal." Luhan mengusap pipi Sehun yang mendingin.
" Luhan, maafkan aku tidak mampu menjaga Sehun." Ucap JunMyeon
" Ani. kau tidak perlu meminta maaf. Taukah kau hujan adalah berkah bagi manusia yang merupakan pengorbanan awan yang turun dari tahta teratas untuk menjadi butiran air lalu mengalir ke lautan." Ucap Luhan masih mengusap usap pipi Sehun dengan lembut
" Luhan..."
" JunMyeon, sesungguhnya hidup sangat mudah bila kau menjalankan nya dengan keikhlasan. Aku ikhlas Sehun pergi dengan cara seperti ini."
Pemakaman putih seputih pernikahan Luhan dan Sehun kemarin hanya saja tanpa wangi mawar putih didalamnya. Kawanan JunMyeon saling hanyut dalam pemakaman ini. JunMyeon menundukkan kepalanya. Perkataan Luhan adalah kebenaran semata. Ia harus mengembalikan semangatnya agar pengorbanan Sehun tidak menjadi sia-sia. Kyungsoo dan Kris datang untuk memberi pernghormatan untuk terakhir kalinya kepada serigala putih yang pemberani itu.
" JunMyeon, hari ini adalah pemakaman Wang juga. Ku telah persiapkan mata-mata untuk menyeludup dalam pemakaman itu untuk mengawasi HanBin yang pastinya hadir." Ucap Kris
" Terimakasih.."
" Anggap yang kulakukan ini untuk Yixing. Bukan untukmu." Ucap Kris kemudian maju kedepan peti Sehun memberikan penghormatannya dan kemudian pergi.
Pertolongan paling baik
Adalah pertolongan dari musuhmu
.
.
JunMyeon menajamkan matanya menatap kedepan dan sampingnya. Mobil Kris juga ada disana menunggu orang yang mereka nantikan keluar dari bangunan itu. Sebuah mobil hitam akhirnya jalan berisikan seorang anak yang setengah berduka. JunMyeon dan Kris mengikutinya dari jauh. Berharap tidak diketahui oleh pemilik mobil di depan sana.
Perjalanan semakin jauh dan semakin keluar dari kota. Mobil JunMyeon semakin menjauh dari target yang di ikutinya agar tidak terlihat ketara mengikuti begitu juga mobil Kris. Karena jalan semakin sepi yang mereka jalanin.
Mobil HanBin berhenti disebuah rumah di perdesaan. Rumah yang terlihat hangat tetapi sepi. Hanya satu lampu menyala disuatu ruangan. JunMyeon keluar dari mobilnya dan memilih berjalan daripada membawa mobilnya mendekat kerumah HanBin.
" Aku yakin Yixing didalam." Ucap JunMyeon
" Darimana kau yakin? Bukannya HanBin sudah pernah menjebakmu?."
" Firasat saja." Ucap JunMyeon dingin
" Hmm. Kulihat tampaknya dia tanpa penjagaan. Haruskah kita serang sekarang?." Tanya Kris
" Tidak ada kita hanya ada aku."
" JunMyeon! Berhenti bersikap mempertahankan egomu. Kau tahu akibat ego mu hanya membawa kawananmu lah Sehun tewas. Aku akan ikut kesana. Tidak peduli kau suka atau tidak." Ucap Kris tegas
" Baiklah. Kita akan masuk pagi nanti. Aku tidak mau mengejutkan Yixing." Ucap JunMyeon penuh pertimbangan.
.
.
Wangi rerumputan dipagi hari yang dibasahi oleh embun yang turun dimalam hari. Kegelisahan JunMyeon sepanjang malam membayangkan apa yang terjadi dibalik rumah bergaya vintage itu di dalam ruangan yang hanya satu-satunya lampu dihidupkan. Bukankah berarti Yixing dan HanBin dalam satu ruangan. Separah inikah rasa cemburu yang harus ditahan sepanjang malam olehnya. Kris yang duduk disebelahnya seakan memastikan JunMyeon tidak menyerang sendirian.
" Kau bawa senjata?." Tanya Kris
" Tidak. Buat apa?."
" Hanya berjaga-jaga saja. Dan lain kali kuingatkan padamu untuk selalu membawa senjata. Apalagi kalau kau akan bermalam bersama musuhmu dan paginya akan menyerang musuhmu yang lain." Ucap Kris memastikan peluru di senjata nya terisi.
" Ini bawa punyaku." Kris menyerahkan senjatanya
" Kau?."
" Aku pandai menjaga diriku sendiri. Ayo."
Kris membuka pintu mobilnya mulai melihat sekeliling masih terlalu pagi untuk memulai suatu penyerangan. Tapi melihat dari kegelisahan orang disebelahnya tampaknya tidak bisa dibendung lagi untuk menunggu waktu.
JunMyeon memastikan keadaan, ia memilih untuk mencoba masuk dari depan. Disanalah dia akan membawa kembali Yixing kepelukannya, kembali kepada Anson anaknya yang kini sudah terlalu merindukan Yixing.
Bruk!
JunMyeon dan Kris masuk kedalam. JunMyeon sudah dari tadi malam ingin segera masuk keruangan satu-satunya yang bercahaya itu.
" Yixing!."
JunMyeon merasakan pukulan di kepalanya yang berasal dari pukulan HanBin. Kris mencoba membalaskan pukulan HanBin dengan tendangannya. HanBin tersungkur di dekat kasur Yixing. JunMyeon kembali melihat kedepan dengan mata yang berkunang-kunang melihat Yixing yang terduduk di tempat tidurnya dengan HanBin yang telah bangkit dan berada di depan Yixing seakan menutupinya dengan tubuhnya.
" Tinggalkan dia! Dia milikku." Ucap HanBin
" Man, Percayalah aku pernah berada di posisimu. Lebih baik kau kembalikan Yixing ke JunMyeon dan berdamailah sebelum kami menyerangmu." Ucap Kris mengancam
" Jaga mulutmu brengsek! Aku tidak akan pernah menyerahkan Yixing!."
" J-JunMyeon.. Kenapa kau kemari?."
" Aku kesini akan membawamu pulang. Pergi dari si laknat ini!."
" J-JunMyeon.. HanBin? Bukannya kau berkata dengan kepindahan kita kesini kau mengalah pada JunMyeon?."
" Sandiwara apalagi yang kau ceritakan pada Yixing?!."
" HanBin?!."
" Tidak Yixing! Aku tidak akan pernah mengalah padanya apapun itu. Karena aku tahu dia akan memiliki segalanya termasuk dirimu kembali."
" Kau-kau terlalu egois HanBin kau psikopat!."
" Yixing kalau aku tidak bisa memiliki mu tidak juga orang lain. Ku rasa ini yang terbaik. Maafkan aku."
HanBin mengarahkan senjatanya ke arah Yixing. JunMyeon dan Kris menatapnya dengan tidak percaya. Rasa ketamakan dalam diri HanBin telah menguasai akal sehatnya.
DOR!
Kau seharusnya memilihku
Yang mampu menyayangimu, berada disampingmu
Kau seharusnya memiliku
Tinggalkan dia dan datanglah kepadaku
Derasnya darah mengalir membasahi kasur JunMyeon masih terpaku dengan senjata api ditangannya. Menatap HanBin yang kini terjatuh dan Yixing yang menutup matanya tidak kuasa melihat apa yang terjadi didepannya. Yang pergi, pergilah sudah yang kembali kini datang kembali.
JunMyeon merahi tubuh Yixing seakan masih melindunginya dari segala macam hal yang tidak ia inginkan. Yixing benar, ada banyak hal yang lebih dicari dibanding dari kekuasaan dan materi. Hal yang hanya perlu dirasakan oleh perasaan dan hati saja. Kris memandangi dua orang di depannya. Yixing benar Kris juga mempunyai hati dan perasaan dan itu layak ia berikan kepada orang yang tepat juga.
...
Dinginnya udara dan hamparan putih terlihat sejauh mata memandang. Yixing mulai berpikir apakah dia tersesat atau ini hanya fatamorgana saja. Dengan cepat ia melihat lagi kertas yang dibawanya tadi. Disinilah mereka di Alaska menjelajahi dunia dengan segala kemungkinan yang ada. Sampai tujuan ataupun terbawa arus.
" JunMyeon.. aku rasa kita tersesat.."
" Yixing jangan katakan itu lagi. tidak kah kau tahu Anson semakin berat dan ditambah lagi pakaian hangatnya yang berlapis ini membuat punggungku sakit. Kita sudah setengah jam berjalan tanpa arah yang jelas."
" Apa ponselmu masih nyala? Kita bisa menghubungi Luhan untuk bertanya."
" Oh Tuhan. Luhan memang pendaki yang terhebat sekarang, tapi dia pasti tidak mengerti posisi kita sayang. Dia bukan peramal. Jangan ganggu dia lagi asik menjelajahi Peru."
" Kalau Jongin atau Chanyeol pelase?."
" Kau mau tanya psikotes dengan Jongin? Atau tangga nada dengan Chanyeol? Dan jangan sebut Chen yang sibuk mengurus dua bayi kembarnya. Aku sudah tidak tahan Yixing. Kasihan Anson kedinginan."
" Baiklah kita maju kedepan lagi. kita pasti menemukan dataran bunga-bunga itu dan kita akan menghangatkan diri kita disana nanti. Ayo fighting!."
Yixing berjalan dengan langkah pasti meninggalkan JunMyeon yang meringis melihatnya dan Anson yang sedang tertidur nyenyak di punggung JunMyeon. Mau tidak mau JunMyeon mengikuti langkah pasangannya itu. Kemanapun Yixing pergi walaupun kembali dia menunjukkan arah yang salah JunMyeon akan selalu mengikutinya. Sama seperti serigala jantan yang mengikuti serigala betina nya. JunMyeon tidak akan pernah berada berjauhan lagi dengan pasangannya itu. Apapun resiko yang menghadang.
Udara sedingin salju dan langit yang membungkus dalam butiran kesejukan. Ada dirinya yang selalu mengikuti tidak perlu kehadiran dalam ketiadaan. Karena dialah lautan kemana kau akan pulang.
END
...
*JANGAN LUPA REVIEW KAKA^^*
Penutup pada pembuka
Akhirnya selesai juga SANG ALPHA!
Maaf kalau kurang puas dengan ending cerita ini, disitulah aku yang hanya manusia letak dari sebuah kesalahan ( sadaaaap ihi ^^)
Oh ya ada yang ngeh ga kalau 2 pasangan tetangga di dalam chapt akhir ini adalah pasangan dari ff ku yang berjudul " Lay Is Unicorn"?
Terimakasih buat TEAM ALPHA OR ALPHA TEAM apa aja boyeh!
Aku sebut dari awal reviews yah!
Yxingbunny, Neriyura, Nichi, SFA30, Chole, Anson, Preal Luce, Qwertyxing, Sam, Dydy, Saklawase, Otps-Daughter,MinieZhang, Gyuu, Caramel, D eXcrusius Paripachuka, YurKillua-Kira, MicoPark, AkuaXing10, Kim Joon Hwa, , BunnyJoon, Friendshit,Guest09, Kimdra,Heeriztator, , KaiNieris, LaysayangJumen, Qwerty, Naneon, Yoorie, Chenma dan para GUEST
Terimakasih terimakasih terimakasih!
Pasti ada yang juga author malah lebih pandai daripada aku, bahasa nya lebih bagus dan ceritanya lebih menarik tapi sudi meletakkan sebentuk kalimat review buatku aku hargai banget.
Atau kalian yang masih rajin hanya membaca dan mereview percayalah tanpa kalian author ga ada apa-apanya cuy.. makasih banget yah^^
Oh iya buat saran kedepan nh rencananya aku mau buat ff lagi tapi bagusnya tetap Yaoi atau yang genderswitch gitu yah? Saran dong hehe
Pengen coba Genderswitch kalau menurut kalian gimana? Leh comment dong..
OKAY JUMPA LAGI DI FF MENDATANG MOGA KALIAN SEHAT TERUS YAH
DAN AKU ADA IDE LAGI BUAT FF NANTINYA
JANGAN LUPA BERMIMPI DAN BANGUN UNTUK MENGEJAR MIMPI
TETAPLAH BERIMAJINASI DALAM PESONA JATUH CINTA!
