LIE (Ending)
.
.
December28
.
Cast: Jung Daehyun – Choi Junhong
Jung Yunho – Kim Heechul
..
Warning: YAOI=BOYXBOY, Not EYD, OOC, Typo, Don't like don't read.
This is Daelo Fanfiction
.
Lets Start
.
"Banyak orang menyebutnya sebagai mesin kebohongan, karena apapun yang dikatakannya adalah kebohongan"
….
Memory
"Kenapa kau melakukannya?"
Daehyun menatap marah ayahnya yang hanya bisa mendesah berat, pemuda yang bahkan belum genap berusia 15 tahun itu terlihat mengepalkan jemarinya kuat-kuat dengan mata yang memerah menahan tangis.
"Daehyun dengar…"
"Kau tau..ibu tidak bisa"
"Tapi kami menginginkannya"
"Seorang anak?" Daehyun tertawa kecil, berusaha keras menahan amarah dan tangisnya. "Dia bahkan tidak bisa mengontrol emosinya sendiri, bagaimana mungkin kau membiarkannya mengandung lagi!"
"Daehyun-ah"
"Aku sudah kehilangan 2 calon adikku sebelumnya, Ibu…dia menangis dan tertawa tanpa sebab, dia akan bergerak cepat dan setelahnya mengurung dirinya sendiri di kamar. Dia bahkan berkali-kali mencoba membunuh dirinya sendiri!"
"Kondisinya stabil saat ini, kami sepakat untuk-"
"Apa aku saja tidak cukup?" Daehyun menangis dan menatap memohon kepada Ayahnya, membiarkan tubuhnya di bawa kepelukan sang ayah dan menangis semakin keras. "Maafkan aku Ayah..tapi aku tidak ingin adikku melihat apa yang aku lihat selama ini"
"Ini bukan salah ibumu.."
"Aku tau- dia sakit dan-"
PRANG!
Daehyun menoleh cepat, menatap kearah pintu dimana Ibunya termenung diam dan tertawa kecil setelahnya.
"A-ayah"
Daehyun melangkah mundur takut saat melihat ibunya tertawa keras dengan air mata yang mengalir deras.
Tenang Jung Daehyun.
Ini bukan pertama kalinya.
Kau harus membiasakan diri.
Daehyun menatap gamang ayahnya yang berlari kearah ibunya dan berusaha menenangkannya, kali ini ibunya berteriak memaki Daehyun dan menuduhnya macam-macam.
Tenang Jung Daehyun.
Ini bukan pertama kalinya kau disalahkan karena Ibu mudah tersinggung.
"Tenang sayang..ada bayi di perutmu"
Daehyun kembali menangis mendengar ayahnya berbisik pilu sambil memeluk tubuh Ibunya yang masih marah dan terlihat hilang control.
Menatap perut sang Ibu yang saat ini tengah mengandung adikknya, adik yang ketiga- seharusnya.
"Ibu..hiks"
"Aku mendengarnya! Aku tau kau berusaha menyingkirkanku kan!"
Daehyun menggigit bibirnya, tersenyum seakan ia mengerti dan menerima kritikan sang ibu yang mungkin sesaat lagi akan merubah suasana hatinya.
"Kau ingin menyingkirkanku?"
Daehyun menggeleng yakin, memberanikan diri mendekat dan memeluk ibunya erat, saat tau nafas ibunya kembali normal Daehyun merasakan air matanya kembali menetes.
"Aku..aku tidak bermaksud marah Daehyun-ah.."
Daehyun mengangguk berusaha mengerti, menghapus kasar air matanya dan tersenyum memandang ibunya yang terlihat menyesal.
"Maafkan aku…"
Tangis Daehyun semakin keras, ia memeluk tubuh ibunya erat-erat dan menangis sejadinya. Bagaimana pun ia masih pemuda berusia 15 tahun normal yang tidak seharusnya menerima keadaan keluarga yang berbeda dengan orang lain
Pekerjaan ayahnya dan sakit biopolar yang di derita ibunya.
Ini bukan salah siapapun.
Malam itu Daehyun membuat keputusan bahwa ini benar-benar bukan salah siapapun.
Tapi hanya untuk malam itu…tidak untuk malam-malam setelahnya.
Setelah Daehyun tau ibunya membunuh dirinya sendiri karena terlalu tertekan dan tidak bisa mengontrol emosinya.
Daehyun mempercayai..ini kesalahannya.
Ibunya mungkin memikirkan dirinya yang tidak ingin memiliki adik yang akan tumbuh seperti dirinya.
Ibunya mungkin berfikir..bahwa menghilang adalah pilihan terbaik yang bisa membuat kekhawatiran Daehyun lenyap tentang bagaimana keluarga ini nanti dan bagaimana kehidupan adiknya nanti.
…
…
"Daehyun hyung!"
Daehyun sadar dari lamunannya, menoleh dan menemukan Junhong yang tengah terkekeh lebar disisinya.
"Kau baru datang?"
Junhong mengangguk, meletakkan tas sekolahnya dan menumpu kepalanya diatas tas miliknya.
"Sudah sarapan?"
Junhong menggeleng.
"Aku membawa roti, kau mau?"
Junhong kembali menggeleng.
"Ada apa?" Daehyun memutar posisi duduknya agar ia bisa lebih bebas menatap dan mengusap kepala Junhong.
"Aku merasa sedih tiba-tiba.."
Daehyun diam, menarik tangan Junhong dan menatap matanya lekat-lekat.
"Lalu?"
"Tapi setelah melihatmu..aku merasa senang secara tiba-tiba"
Daehyun belum melepaskan pandangannya dari Junhong yang terkekeh. Menarik tangan Junhong untuk mengikutinya berjalan keatap sebelum pelajaran pertama dimulai.
"Junhong-ah"
"Ya?"
"Apa kau punya rahasia?"
Junhong menggeleng yakin, ia membuka jasnya sekolahnya dan berbaring di atas jas yang ia letakkan di lantai.
"Aku..memiliki banyak rahasia"
Junhong mendadak gugup saat mendengar Daehyun berbisik padanya, ia tidak berani menoleh dan menemukan tatapan Daehyun yang mungkin berbeda dari biasanya.
"Aku benar-benar orang yang memiliki banyak rahasia"
Junhong akhirnya menoleh dan menatap mata Daehyun yang meredup, Junhong benci melihatnya. Tatapan hangat Daehyun terlihat redup namun disisi lain terlihat dingin tak tersentuh.
"Kau, mau berbagi rahasia denganku? Aku akan menceritakan semua rahasiaku padamu"
Daehyun mencoba membujuk Junhong untuk terbuka padanya sebelum menerima pilihan terakhir untuk hipnoterapi yang disarankan ayahnya.
Daehyun sadar ini bukan masalahnya, tapi melihat Junhong yang terus melakukan hal-hal yang memperburuk penyakitnya, Daehyun tidak bisa tinggal diam.
"Aku tidak punya rahasia apapun hyung, aku sudah menceritakan semuanya"
"Tanpa berbohong?"
Tatapan mata Junhong mendadak tajam saat mendengar kemungkinan Daehyun menuduhnya berbohong.
"Kau..tidak mempercayaiku juga?"
"Kau yang tidak mempercayaiku, jika kau percaya padaku kau akan menceritakan semua kebenaran sejak awal"
"Aku tidak berbohong!"
"Apa kau fikir..kau satu-satunya orang yang menyedihkan? Apa kau fikir- hanya kau yang mengalami rasa sakit dimasa lalu?"
Junhong tidak tau mengapa ia tidak pergi dan terus mendengar omong kosong Daehyun tentang kehidupannya. Pemuda itu terus berbicara seakan-akan dia tau segalanya.
"Hentikan, mengapa kau seperti ini hyung?"
"Kau yang harus menghentikannya, hentikan dan sadarlah"
Junhong menggeleng tak paham, bergegas bangkit dan bersiap bangkit sebelum Daehyun menarik tangannya dan mencium bibir Junhong tanpa persiapan.
Ciuman itu tenang dan tidak bergerak.
Saat merasakan Junhong memejamkan mata dan menerima ciumannya, Daehyun menangis dan ikut memejamkan matanya.
Daehyun mengulurkan tangannya dan menakup kedua pipi Junhong tanpa berniat melepaskan ciuman itu, ia membiarkan air matanya jatuh dan menekan ciuman itu saat tau Junhong memeluk pinggangnya ragu-ragu.
Mereka memulai hubungan sejak saat itu.
…
"Masuklah"
Daehyun masih menggenggam tangan Junhong, tersenyum kecil saat melihat pipi pucat Junhong berubah menjadi merah muda.
"Teman ayahku datang hari ini, aku mengajakmu bertemu dengannya karena ayah bilang dia ingin bertemu denganku dan kau"
"Aku? Kenapa aku?"
Daehyun tertawa dan mengusap pipi Junhong.
"Karena kau kekasihku"
Junhong berkedip cepat, meremas tangan Daehyun dan membiarkan dirinya kembali ditarik Daehyun memasuki ruangan ayahnya yang besar dan indah.
"Ah Daehyun, kau datang.."
Daehyun tertawa dan membungkuk hormat kearah teman ayahnya, Kim Heechul.
Heechul tersenyum membalasnya dan diam-diam melirik sosok Junhong yang berusaha bersembunyi di balik tubuh Daehyun.
Ini tampak menggemaskan, tinggi tubuhnya bahkan tidak bisa disembunyikan tubuh Daehyun.
Pemuda itu menunduk dan meremas lengan Daehyun erat-erat.
"Kau pasti Junhong kan?"
Junhong mengangguk dan tersenyum kecil.
"Daehyun-ah bisa ambilkan aku minum? Biarkan Junhong bicara denganku sebentar okay?"
Daehyun mengangguk menyanggupi.
"Dimana ayah?"
"Dia tidak ada, lagi pula ku dengar dia menyebalkan karena terus bertanya pada Junhong. iyakan?"
Heechul kembali berusaha mendekati Junhong, tersenyum lebar saat melihat tubuh Junhong lebih nyaman dan tertawa lebar setelahnya.
Terlihat jelas Junhong tidak menyukai pembicaraan sebelumnya dengan Yunho.
"Duduklah..apa kau menyukai music?"
Junhong mengangguk cepat, melambai pada Daehyun yang keluar ruangan untuk mengambil air untuk tamunya.
"Tenang saja, aku bukan tipe orang yang suka bertanya hal-hal pribadi"
Junhong meremas tangannya, tertegun saat mendengar alunan nada lembut yang keluar dari speaker yang Heechul nyalakan.
Tubuhnya nyaman, entah kenapa Junhong ingin menyandarkan tubuhnya dan fokus mendengar suara Heechul.
"Lagu ini..musik ini akan terdengar sangat lembut ditelingamu"
Heechul menatap lekat-lekat Junhong.
"Sangat lembut hingga membuatmu semakin nyaman dan mulai mengantuk"'
Junhong masih berusaha menjaga matanya tetap terbuka.
"Semakin kau mendengar lagu ini kau akan semakin mengantuk dan mulai tertidur. Kau akan kembali bangun setelah lagu ini berhenti. Kau paham?"
Junhong diam tak menjawab, tapi tatapan matanya redup dan terlihat sangat lelah.
"Aku ulangi, semakin kau mendengar lagu ini kau akan semakin mengantuk dan tertidur, kau akan terbangun setelah lagu ini berhenti berbunyi. Anggukan kepalamu jika kau paham ucapanku"
Junhong mengangguk dan setelahnya terlelap tidur di kursi besar ruang kerja Yunho.
"Aku akan mengajakmu mengingat hal indah yang terjadi di kehidupanmu, kau siap?"
Junhong mengangguk dalam tidurnya, ia bahkan tidak terganggu saat Daehyun melangkah masuk dan menatap Junhong dengan pandangan menyesal.
"Ini..akan baik-baik saja kan?"
Heechul tersenyum dan berkedip pada Daehyun seakan memintanya untuk tidak khawatir.
Heechul menepuk sofa disisi Junhong meminta Daehyun untuk duduk disana.
"Aku hanya membantu membuka ingatannya, bukan membuatnya sembuh dari trauma atau semacamnya"
Daehyun mengangguk paham, ia ragu-ragu menggenggam tangan Junhong dan mengusapnya sayang.
Heechul tersenyum kecil melihatnya lalu melanjutkan ucapannya.
"Jadi Junhong, hal terindah..kau ingat terjadi pada umur berapa?"
Junhong diam tak menjawab, membuat Daehyun menatapnya khawatir.
"Kenangan indah dengan ayahmu?
"Saat 7 tahun, dengan Hyung…"
"Hyung? Hyungmu? Atau hyung-"
"Junseo hyung"
Daehyun diam menunggu, menatap khawatir kearah Junhong yang terlihat ingin menangis ditidurnya.
….
"Junhong semakin berat sekarang eum?"
Junhong kecil terkekeh dan memeluk erat leher hyungnya, ia bersandar pada bahu Junseo yang bersenandung sambil sesekali menghela nafasnya karena lelah.
"Hyung.."
"Ya?"
"Saat aku besar nanti, aku yang akan menggendongmu kemanapun"
Junseo tertawa mendengarnya, mengusap rambut Junhong yang masih nyaman bersandar dibahunya.
"Apa kau akan menjagaku saat besar nanti?"
"Hng! Kita akan hidup bersama saat besar nanti"
"Itu menyenangkan, bagaimana jika diluar negeri?"
Junhong mendongak dan mencoba mencari mata hyungnya.
"Apa itu luar negeri?"
Junseo kembali tertawa dan memperbaiki gendongannya agar Junhong merasa nyaman.
"Kau akan mengerti nanti, yang penting sekarang, berjanjilah untuk tumbuh besar dan menjagaku seperti ucapanmu sebelumnya"
"Aku akan menjagamu hyung"
Junseo tersenyum senang, mengusap peluh di dahinya dan kembali bersenandung untuk Junhong yang semakin nyaman lalu tertidur tenang di bahu Junseo.
….
Heechul mengusap wajahnya dan kembali bertanya.
"Hyungmu..baik?"
Junhong mengangguk.
"Ayah memukulnya..dan meminta hyungku kembali bekerja"
"Lalu kau?"
"Aku berada dilemari dan tidak boleh keluar"
"Hyungmu yang menyuruhmu diam di lemari itu?"
Junhong kembali mengangguk dan air mata bening menetes diiringi dengan isakan rendah dari bibir tipisnya.
…
"Apa kau menghasilkan uang?"
Junseo mengangguk, membuka kantung plastic yang selalu ia bawa dan menyerahkannya pada sang Ayah.
"Bekerjalah lebih giat anak nakal!"
Junseo mengangguk patuh walau kepalanya dipukul berkali-kali, ia tersenyum dan menatap lemari karena tau Junhong sedang memperhatikannya.
"Aku akan bekerja lebih giat Ayah"
"Pergilah"
"Tapi..ayah-" Junseo menggigit bibirnya mencoba meyakinkan dirinya untuk mengutarakan maksud tujuannya "Junhong, harus pergi kesekolah seperti yang lain"
Ayahnya tertawa sinis dan melempar Junseo dengan asbak rokok miliknya.
"Aku bilang pergilah! Dan bawa adik manjamu itu yang bersembunyi di lemari, suruh ia ikut bekerja dan membantumu!"
Junseo menggeleng dan berlari membuka pintu lemari lalu berjongkok di depan Junhong yang mengerut takut.
"Kajja Junhong-ah, naiklah. Kita pergi lagi"
Junhong diam tak menjawab, ia melangkah ragu dan naik keatas punggung Junseo yang tersenyum dan kembali bersenandung.
"Istirahatlah, aku akan membangunkanmu jika sudah sampai"
Junhong menghela nafasnya lega saat merasakan punggung Junseo bergerak karena ia bernafas dalam-dalam.
Punggung Junseo bahkan lebih nyaman dari ranjang di rumahnya.
"Hyung"
"Hng~"
"Aku akan tumbuh besar dengan cepat dan menggendongmu, tahanlah sebentar lagi"
Junseo mengangguk senang dan mengecup jemari Junhong yang melingkar dilehernya.
…
Daehyun mulai menangis dan menggenggam tangan Junhong semakin erat, menatap Heechul yang juga menghela nafasnya prihatin.
"Bagaimana dengan ibumu?"
"Ibuku meninggal saat aku berumur 4 tahun"
Junhong merengek sedih dan mencoba mengatur lemah nafasnya.
"Tenang Junhong-ah…atur nafasmu."
Daehyun mendekat, mengusap keringat di dahi Junhong yang terlihat mengatur nafasnya.
"Lalu dimana hyungmu sekarang?"
Junhong diam tak menjawab, bibir tipisnya bergetar dan isakan kuat-kuat keluar setelahnya. Junhong menggeleng dan menolak mengingatnya.
"Hyungmu, pasti orang baikkan?"
Junhong mengangguk yakin dan mengingat senyum Junseo saat memandangnya.
…..
"Hyung sakit?"
Junseo menggeleng, mengusap telapak tangan dan kaki Junhong dengan handuk basah agar Junhong tidur dengan nyaman.
"Kau berkeringat dan pucat"
"Ini musim panas Junhong-ah"
"Hyung"
"Ya?"
"Apa aku menyusahkanmu?"
Junseo mendongak kaget dan mencubit bibir tipis Junhong dengan kesal.
"Kau adikku, aku akan melakukan apapun untukmu Junhong-ah"
"Aku juga akan melakukan apapun untukmu hyung"
Junseo tertawa, mengusap dahinya yang berkeringat dan membaringkan Junhong pada ranjang tipis yang biasa mereka bagi bersama.
"Aku semakin tinggi dan hyung kesulitan bergerak dalam tidur"
"Ini tetap nyaman karena aku tidur bersamamu"
Junhong mengusap sayang pipi Junseo yang tertawa dan ikut mengusap pipi Junhong.
"Tidurlah, kita harus pergi pagi-pagi besok"
Junhong mengangguk dan memeluk tubuh Junseo yang membalas pelukannya ditengah rasa sakit yang datang dikepalanya
Junhong terus memeluknya hingga pagi hari ia sadar hyungnya tidak bergerak dan suhu tubuhnya terasa dingin di tengah musim panas.
Hyungnya tidak bernafas dan meninggalkannya seorang diri.
….
Daehyun menggeleng dan mencoba membangunkan Junhong yang menangis di tidurnya.
"Hen-hentikan paman, aku mohon"
Daehyun menatap memohon kearah Heechul, ia mengguncang tubuh Junhong ditengah air matanya yang berusaha keras ia tahan.
"Daehyun-ah"
"Aku akan membangunkannya" Daehyun berseru panic dan terlihat kebingungan. "Bagaimana cara membangunkannya paman?"
"Daehyun-ah.."
"BAGAIMANA MEMBANGUNKANNYA!"
Nafas Daehyun memburu cepat, menangis menatap kearah Junhong yang terlihat panic di dalam tidurnya.
"Aku mohon..bangunkan dia sekarang juga. Aku tidak perduli ia membohongiku atau apapun. Aku- aku akan mempercayai apapun ucapannya, aku mohon- bangunkan dia sekarang juga"
Heechul mengangguk, mengusap lengan Daehyun dan menyuruhnya untuk tenang.
"Kau tidak ingin mendengar lebih banyak?"
Daehyun menggeleng yakin, mendekat dan mengusap lembut air mata Junhong yang masih terisak kecil.
"Apapun kelanjutan ceritanya, aku tidak perduli. Aku akan membiarkannya melupakan hal buruk di hidupnya dan memulai hal-hal baru yang lebih baik"
Heechul tersenyum mengerti,
"Jadi Junhong..kau mendengarku? Kau akan terbangun dalam keadaan tenang dan tanpa tekanan. Kau paham?"
Junhong mengangguk.
Lantunan lagu lembut yang sebelumnya dinyalakan Heechul perlahan berhenti dan Junhong mulai membuka matanya, samar-samar ia melihat wajah Daehyun yang menghela nafasnya lega dan memeluknya erat-erat.
"Aku ada disini, aku akan menjagamu. Tenanglah"
Junhong membalas pelukan itu dan memeluk tubuh Daehyun erat-erat saat kilasan bayangan tentang Junseo berputar indah di fikirannya.
Ia menangis keras dan merasakan Daehyun yang memeluknya semakin erat.
"Junseo hyung"
"Aku tau, tenanglah.."
"Junseo hyung, maafkan aku huks"
Heechul memalingkan wajahnya dan menghapus kasar air matanya, bergegas keluar dari ruangan dan melihat Yunho yang tersenyum di balik pintu.
"Terima kasih hyung" Yunho tersenyum dan mengusap lengan Heechul yang masih mencoba menahan air matanya.
"Aku mungkin akan gila jika mendengar ceritanya sampai akhir"
"Ini sudah cukup, Daehyun sudah mengerti keadaannya sekarang"
"Aku benar-benar tidak tahan! Kenapa kau dan Daehyun menyukai orang yang memiliki gangguan-"
Heechul tidak melanjutkan ucapannya karena melihat Yunho yang tersenyum mengerti.
"Yang terpenting, mereka orang baik-baik"
Heechul mengangguk dan menepuk bahu Yunho lalu bergegas pergi.
….
Daehyun mengusap telapak tangan Junhong dengan handuk basah, ia tersenyum memandang Junhong yang berbaring nyaman di ranjangnya.
"Hyung-" Junhong akan kembali menangis jika Daehyun tidak membuka suaranya.
"Ibuku, meninggal saat aku berusia 15 tahun"
Junhong terdiam memandang Daehyun.
"Dia mengalami gangguan kejiwaan, mentalnya kecau dan agresif, kadang pesimis dan berakhir dengan membunuh dirinya sendiri" Junhong melebarkan matanya, Daehyun tersenyum kecil dan ikut berbaring di sisi Junhong.
"Karena ia sakit aku kehilangan 3 calon adikku, yang pertama dan kedua perempuan, yang terakhir mungkin laki-laki dan dia ikut pergi bersama ibuku yang memilih mengakhiri hidupnya"
"Hyung.."
Junhong mengusap pipi Daehyun yang tersenyum dan menahan tangisnya.
"Junhong-ah, ayahku mengatakan kau menderita Mythomania"
Alis Junhong mengerut tak paham.
"Kecenderungan melakukan kebohongan, Mythomania bisa muncul karena trauma atau rasa sakit di masa lalu. Kau ingin menutupinya dan memilih kebohongan sebagai jalan keluar"
"Tapi aku-"
"Aku tidak memintamu untuk mengakuinya, perlahan saja. Aku akan menjagamu mulai saat ini"
Junhong tersenyum dan memeluk tubuh Daehyun yang hangat.
"Mytho- apa namanya?"
"Mythomania"
"Ya, Mythomania. Apa itu menyeramkan hyung?"
Daehyun menggeleng, mengecup dahi Junhong dan mengusap lembut mata Junhong yang membengkak karena tangis.
"Kau bisa sembuh jika kau menginginkannya"
Junhong diam sejenak sampai beberapa menit kemudian ia membuka suaranya dengan ragu-ragu.
"Di panti, banyak orang mengatakan aku seorang pembohong"
Daehyun menggeleng tak setuju.
"Kau..melakukannya untuk melindungi dirimu sendiri"
"Aku melakukannya?"
Daehyun mengangguk.
"Tapi, mulai saat ini..bisakah kau tidak melakukannya lagi?"
Junhong menatap bingung kearah Daehyun yang tersenyum tipis.
"Kau tidak perlu melindungi dirimu sendiri dengan kebohongan" Daehyun menggenggam tangan Junhong dan menatap matanya lembut "Mulai saat ini, aku yang akan melindungimu apapun caranya"
Junhong tersenyum lebar dan memeluk tubuh Daehyun.
"Apa kau akan menjagaku?"
Daehyun mengangguk yakin.
"Apa aku menyusahkanmu?"
Daehyun merasakan nada suara Junhong yang kembali bergetar, ia menakup pipi Junhong dan memintanya memandang Daehyun.
"Kau kekasihku, aku akan melakukan apapun untukmu Junhong-ah"
"Kau adikku, aku akan melakukan apapun untukmu Junhong-ah"
Junhong mengangguk banyak-banyak dan menjawab seruan Daehyun dengan tangisnya.
"Aku juga- akan melakukan apapun untukmu hyung"
"Aku juga akan melakukan apapun untukmu hyung"
"Sembuhlah, tanpa harus mengingat kenangan buruk di masa lalu. Tentang ayahmu..kau boleh melupakannya, kau boleh melakukannya tanpa harus menutupinya dengan kebohongan"
Junhong memejamkan matanya dan bersandar di bahu Daehyun yang nyaman.
"Terima kasih hyung"
"Tidurlah, aku akan menjagamu"
"Terima kasih karena kau membuatku mengingat Junseo hyung dengan baik"
Junhong merapatkan posisisnya dan mulai memejamkan matanya dengan tenang.
Junhong tertidur.
….
…
3 Months Later.
"Junhong-ah"
Junhong menoleh dan menatap teman sekelasnya yang tersenyum mengejek padanya.
"Ayahku bertanya apa ada teman kelasku yang memiliki keluarga seperti kami, mempunyai perusahaan besar dan saham dimana-mana, jadi aku menyebutkan namamu"
Junhong menaikkan alisnya bingung.
"Kau berkata keluargamu kaya raya, aku juga mengatakan pada ayahku bahwa sayangnya kau sakit keras seperti ceritamu itu"
Junhong tersenyum kecil.
"Apa kau bodoh? Bagaimana bisa kau mempercayai semua ucapanku?"
Temannya itu tertawa mengejek dan melebarkan matanya kearah Junhong.
"Kau mengaku kalau berbohong sekarang hah?"
Junhong mengangguk lalu menggeleng setelahnya. Ia bingung harus menjawab apa.
"Mytho- Mythomanaya"
"Mythomania" Daehyun berseru kecil di tengah tawanya.
"Iya itu namanya, Mythomania. Aku tidak berbohong, aku hanya sakit"
Junhong berseru santai dan bangkit dari kursinya, ia melirik Daehyun lalu membungkuk kearah teman-teman sekelasnya.
"Aku minta maaf karena berbicara hal aneh kepada kalian sebelumnya"
Daehyun tersenyum melihatnya.
"Karena ada orang yang menjagaku sekarang, aku tidak perlu berbohong lagi"
Teman sekelas Junhong tertawa mengejek mengira bahwa Junhong berbohong.
"Setelah kanker, apa lagi sekarang bocah?"
Daehyun bangkit dan menarik tangan Junhong untuk duduk di kursi dan membiarkan dirinya yang berbicara.
"Mythomania..itu adalah sikap atau prilaku yang membuat penderita mengalami kecenderungan berbohong" Daehyun menepuk kepala Junhong dan mengusapnya sayang.
"Penderita biasanya berbohong bukan untuk menipu orang lain, mereka biasanya melakukan itu untuk membantu diri mereka sendiri mempercayai atau meyakini kebohongan yang mereka buat. Mereka tidak menyadari jika mereka sedang berbohong karena mereka cenderung tidak bisa membedakan mana yang imajinasi dan mana kenyataan sebenarnya"
Teman sekelas mereka memandang Daehyun kaget.
"Kau serius?"
Daehyun mengangguk dan menarik pipi pucat Junhong.
"Karena itu, maafkan kesalahannya yang dulu dan bantu Junhong untuk sembuh sekarang"
Junhong mendongak dan tersenyum berterima kasih pada Daehyun.
"Setidaknya ia mencoba sangat keras untuk bisa sembuh dan hidup dengan normal, karena itu..aku mohon bantuannya"
Teman-teman Daehyun yang lain akhirnya mengangguk kaku karena bingung harus bereaksi seperti apa.
Junhong menarik Daehyun untuk kembali duduk dan menggenggam tangannya erat-erat.
"Terima kasih, lagi untuk kesekian kalinya hyung"
Daehyun mengacak rambut Junhong dan mengangguk.
"Aku sudah mengatakannya bukan? Aku akan menjagamu dengan cara apapun"
….
FIN.
Gimme ur comment ^^
Thank you~
Pyoong.
