2. Fix You
.
.
.
When you try your best but you don't succeed.
.
.
.
Osomatsu menatap adik pertamanya, yang kini berdiri di samping pintu dengan kedua tangan terlipat di depan dada dan kedua mata menatap mereka, dan juga—dengan memasang senyuman tulusnya itu.
Dia diam, menutup mulutnya setelah mengatakan sesuatu yang tidak dapat didengar Osomatsu karena suara adik-adiknya yang berisik. Dia tidak mengeluarkan protes karena mereka mengabaikannya. Dia tidak marah—mungkin juga karena mereka tidak akan peduli jika Karamatsu berteriak.
Choromatsu dan Todomatsu mulai bertengkar, keduanya mengeluarkan nada tinggi yang membuat ruangan itu tambah berisik. Ichimatsu menatap mereka, secara tidak langsung memberikan tanda agar keduanya diam, yang sayangnya diabaikan. Jyushimatsu tertawa, menatap kedua saudaranya dengan senyuman lebar.
"Kau selalu saja bersikap seakan kau lebih baik dari kami, padahal kau juga sama saja!" Todomatsu tersenyum miring setelah mengatakannya.
Choromatsu mendengus, "Kau juga sama saja! Berusaha mendapat hidup yang lebih baik di belakang kakak-kakakmu dan berbohong pada orang lain? Itu lebih parah!"
Kedua mata Osomatsu masih tertuju pada adik birunya, yang kini mulai memasang wajah serius. Senyumnya hilang, kedua alisnya bertaut, dan tatapannya menatap Choromatsu dan Todomatsu secara bergantian. Dalam hati, Osomatsu menebak-tebak apa yang akan dilakukan Karamatsu. Mungkin akan mengatakan kalimat bermajas anehnya itu untuk mengalihkan perhatian keduanya. Mungkin akan mengajak Todomatsu keluar. Atau mungkin hal lainnya yang tidak terpikirkan oleh Osomatsu.
"Choromatsu," panggil Karamatsu sedikit keras agar dapat terdengar, "bukankah hari ini kau ngin pergi ke acara fanmeet? Acaranya akan dimulai satu jam lagi, bukan?"
Choromatsu menatapnya, lalu melirik jam dan sedikit tersentak ketika menyadari rencananya bisa batal jika ia berlama-lama di sini.
"Todomatsu," ia beralih pada adik bungsunya, "sepertinya kemarin kau bilang jika marah-marah akan membuatmu cepat menua."
Wajah si bungsu memerah, ia memalingkan mukanya dari si kedua tertua. Mulutnya terbungkam, dan ruang itu menjadi sepi karena keduanya tidak lagi beradu mulut.
Osomatsu tertawa kecil dalam hati, mengapresiasi usaha adiknya yang berha—
"Karamatsu-niisan juga sama saja! Berlagak sok keren, padahal menjijikan!" seru Todomatsu, mengejutkan semua yang ada di ruangan itu.
Wajah Karamatsu—kecewa, sakit hati, ingin menangis—merupakan ekspresi yang tidak akan pernah Osomatsu lupakan. Namun ekspresi itu hilang dalam sekejap, digantikan dengan senyuman tulusnya yang membuat hati Osomatsu seakan teriris.
"Maafkan aku," ucapnya, lalu pergi.
Osomatsu menatap adik bungsunya seolah mengatakan kau-harus-meminta-maaf-nanti, kemudian beranjak untuk mengikuti adik birunya itu pergi.
Dia bodoh.
Harusnya dia saja yang melerai pertengkaran kedua adiknya itu. Mungkin kalau ia yang melakukannya, Karamatsu tidak akan menunjukkan ekspresi semenyakitkan itu (tidak, ini bukan menyakitkan yang lucu, bukan lelucon).
Harusnya dia sadar. Karamatsu itu terlalu tulus dan bodoh. Terlalu baik. (Dan itulah yang membuat adiknya terlalu rapuh dan mudah disakiti.)
Harusnya dia melakukan sesuatu, untuk membuat Karamatsu bahagia. Untuk membuat Karamatsu berhenti mengorbankan segalanya hanya untuk mereka. Untuk membuat Karamatsu berhenti membuat dirinya tersakiti.
Osomatsu harus berusaha untuk mengumpulkan serpihan-serpihan hati Karamatsu dan membuatnya kembali utuh.
.
.
.
I will try to fix you.
(Fix You - Coldplay)
