TEST (Ending)
.
.
December28
.
Cast: Jung Daehyun – Choi Junhong
Secret members
.
Genre: Romance, Drama, other
.
Warning: BOYXBOY, Not EYD, OOC, Typo, Don't like don't read.
This is Daelo Fanfiction
.
Lets Start
.
….
Junhong mendongak, merasakan tetesan air hangat mengguyur tubuhnya yang terasa sakit karena kejadian semalam.
Kepalanya pening, dan Junhong butuh guyuran air hangat agar isi kepalanya kembali tersusun rapi seperti sebelumnya.
Junhong menggosok dadanya yang nampak membiru di beberapa titik, menutup matanya dan membayangkan tangan Daehyun semalam bergerak aktif memanjakan seluruh bagian tubuhnya tanpa ada yang terlewat.
Junhong merutuki dirinya sendiri yang masih saja membayangkan kejadian bodoh itu, tubuhnya sakit..kepalanya sakit..dan hatinya lebih sakit.
Junhong harusnya lebih tau diri, ia harusnya lebih bisa menghargai dirinya sendiri dibandingkan orang lain.
Tapi Junhong..tidak bisa berhenti.
Tetesan air hangat beradu dengan suara Daehyun yang menggema di otak Junhong dan bersautan dengan desahan panas keduanya semalam.
Junhong menurunkan sedikit tangannya ke bawah, menahan nafasnya kala merasakan tangannya beradu dengan kejantanannya yang perlahan meninggi.
"Hyungh…"
Junhong ingin menangis saat mendengar suara dirinya sendiri yang terdengar sangat menyedihkan.
Merancau dengan nafas yang semakin cepat, Junhong membayangkan Daehyun dengan rambut hitamnya berjongkok dan meraih miliknya yang tampak kemerahan.
"Akhh!"
Kakinya melemas, Junhong menumpu tubuhnya pada ujung wastafel kamar mandi lalu perlahan mengurut miliknya yang semakin membesar.
"Biar ku lepas celana milikku"
Junhong membiarkan air matanya mengalir cepat, masih mengingat dengan jelas ekspresi wajah Daehyun saat mengatakan kalimat itu. Wajah lapar dan nafasnya memburu.
"Buka mulutmu Junhong"
Junhong bergetar kecil saat mengingat rasa kulit Daehyun yang masuk ke dalam mulutnya, rasanya aneh tapi Junhong lebih aneh karena dia terus melakukan itu saat tau Daehyun menyukainya.
"Menungging Junhong"
Menyedihkan, tangan Junhong bergerak lebih cepat saat mengingat momen itu, matanya memejam erat dengan air mata mengalir dan nafasnya yang naik turun.
Junhong ingin berhenti, tapi bayangan wajah Daehyun malam itu membuat dirinya sulit berhenti.
Menjadi munafik pun percuma, Junhong hanya perlu menjadikan pengalaman semalam pengalaman terbaik hidupnya saat Junhong merasakan seksnya yang pertama.
"Sayang~?"
Junhong langsung membuka matanya kala mendengar suara Nyonya Choi memanggilnya.
"Y-ya! Ada apa mom?"
"Kita makan sebentar lagi"
"Aku mengerti, aku- aku harus menyelesaikan ini"
Junhong berbisik rendah pada dirinya sendiri, menatap tangannya yang masih menggenggam kejantanannya.
Ini benar-benar menjijikan.
Junhong membenci keadaan dirinya yang jatuh pada Daehyun hanya karena sex tadi malam.
Dirinya sibuk berfikir, banyak berfikir.
Tapi tidak dengan lelaki bodoh itu.
"Benar Junhong-ah…Jung Daehyun memang bodoh"
Junhong bersandar dan menarik nafasnya, menolak membayangkan kejadian pagi tadi yang sialnya datang tanpa undangan.
"Tapi kau, dirimu sendiri…kau bodoh dan menyedihkan"
…
Hyosung melirik Daehyun yang mengemudi dalam diam, pemuda itu hanya terus mengetukkan ujung jarinya pada stir mobil dan sesekali menghela nafasnya panjang.
"Apa kau baik-baik saja Daehyun-ah?"
Daehyun tersenyum kecil dan mengangguk, berusaha menyingkirkan tangan Hyosung yang berusaha mengusap jemarinya.
"Aku sedang mengemudi noona"
Hyosung tau ada yang tidak beres sejak pagi hari.
Daehyun meneleponnya dan menyuruhnya untuk datang ke tempatnya saat itu juga, pemuda itu yang terbiasa tenang tampak kacau dan terlihat sangat kebingungan.
"Apa kau ingin istirahat saja? Biar aku yang mengemudi"
"Aku baik-baik saja noona, kemana kita pergi?"
Hyosung mengecek ponselnya, membaca kembali pesan singkat dari Sunhwa dan membacakannya untuk Daehyun.
"Sunhwa sepertinya sedang butuh teman, dia menghubungiku sejak semalam dan tampak frustasi"
"Benarkah?" Seru Daehyun tak tertarik.
"Bisa kita bertemu Sunhwa sebentar?"
"Dia sendiri?"
Daehyun berusaha menjaga nada suaranya, terus menatap lurus ke depan walau ia tau Hyosung sedang menatapnya kebingungan.
"Apa dia harus datang bersama orang lain?"
Daehyun diam, menoleh kearah Hyosung dan tersenyum kecil.
"Junhong?"
"Ku kira mereka sedang ada masalah, apa Junhong tidak bercerita semalam?"
Daehyun mengangkat bahunya tak acuh, mata tampak dingin dan wajahnya kaku tak bersahabat.
"Aku akan menghubungi Junhong agar makan bersama kita"
Daehyun tak menjawab, memilih menginjak pedal gasnya semakin cepat dan mengabaikan Hyosung yang menatapnya curiga.
…
Daehyun memainkan ujung sendoknya dan menatap dingin kearah Junhong yang tengah tertawa cerah disisi Sunhwa, mereka menempel tanpa jeda dan itu membuat Daehyun mendadak mual.
Cake di atas mejanya terus ia mainkan dan mendesis kesal mendengar Sunhwa merengek manja dan merangkul lengan Junhong.
"Aku minta maaf soal kemarin sayang"
Junhong tersenyum menjawab permintaan maaf Sunhwa, mengusap jemari wanita yang tengah memandang sayang kearahnya.
Setidaknya wanita ini punya etika, punya fikiran untuk meminta maaf. Tidak seperti seseorang yang terus menatap tajam dan berdecak jengah seorang diri sejak tadi.
"Apa kalian bertengkar?"
Hyosung ingin menjawab rasa ingin taunya, hubungan Junhong dan Daehyun yang ia tau tidak seperti ini. Mereka biasanya asyik bercanda dan bicara omong kosong tentang komik atau game terbaru.
Tapi hari ini keduanya jelas saling menghindari satu sama lain, terlebih Junhong.
Pemuda manis itu sejak tadi bahkan tidak bicara ataupun menatap Daehyun.
"Apa kami tidak boleh bertengkar?"
Hyosung menatap kaget pada Daehyun yang menjawab sinis pertanyaannya. Pemuda itu bahkan melempar sendok cakenya ke atas meja dan melipat tangan di dada.
Hyosung jarang melihat Daehyun seperti ini.
"Tapi kalian baik-baik saja pagi tadi, Junhong bahkan menginap di tempatmu"
Junhong menundukkan kepalanya, kembali teringat kejadian pagi tadi membuat kepalanya tiba-tiba sakit.
"Kau menginap di tempat Daehyun semalam?"
Junhong mengangguk menjawab pertanyaan Sunhwa, tersenyum kecil terkesan di paksakan.
Hyosung menatap keduanya semakin curiga.
Apa ini ada hubungannya dengan telepon Daehyun pagi tadi?
"Sunhwa-ya, bisa antarkan aku sebentar ke toko depan?"
"Apa kau butuh sesuatu?"
Hyosung mengangguk, terburu-buru menarik tangan Sunhwa dan membawanya bangkit keluar café itu, meninggalkan Junhong dan Daehyun berdua dalam keadaan canggung yang luar biasa.
"Kau suka Sunhwa menyentuhmu bukan?"
Daehyun menatap kesal kearah Junhong, ia tertawa tak percaya saat Junhong mendongak dan menatap menantang kearahnya.
"Dia pacarku, ada yang salah?"
"Aku ingat semalam kau bercerita tidak menyukai sentuhan Sunhwa, apa kau hanya mencari perhatian?"
Junhong menarik nafasnya, mencoba menahan kesal dan air mata yang mendesak keluar.
Laki-laki kurang ajar ini benar-benar..
"Apa ada yang salah denganmu hyung? Kenapa kau tiba-tiba menjadi sinis?"
Daehyun berkedip kebingungan saat pertanyaan itu meluncur dari bibir Junhong, mata Junhong memerah seperti menahan tangis dan ia berkali-kali menarik nafasnya.
Junhong benar, apa yang salah dengan dirinya?
Semalam hanya Test, dan ia sendiri yang mempertegas itu dengan mengundang Hyosung pagi tadi.
"Kenapa kau pulang tiba-tiba pagi tadi?"
Junhong tertawa kecil mendengar pertanyaan Daehyun, ia memandang sedih kearah Daehyun yang masih menyudutkannya.
"Apa kau ingin aku melihat kegiatan kalian pagi tadi?"
"Bukan seperti itu, lagi pula tidak terjadi apapun pagi tadi"
"Itu bukan urusanku"
"Ya- Choi Junhong!"
Junhong bangkit dan meraih tas ranselnya, melirik sinis kearah Daehyun yang ikut bangkit dan menarik tangannya.
"Mau kemana kau?"
"Bukan urusanmu"
"Ikut aku" Daehyun menarik tangan Junhong yang langsung menepisnya kasar.
Beberapa orang di café menatap mereka bingung, dan beberapa yang lainnya berbisik rendah.
"Ikut atau aku akan menarikmu" Daehyun berbisik memperingati, mengabaikan Junhong yang sudah terisak dan kembali menepis tangan Daehyun.
"Ja-jangan sentuh aku"
"Apa?"
"Jangan pernah menyentuhku lagi, sedikitpun jangan.."
Daehyun refleks melepaskan genggamannya pada lengan Junhong, terdiam kaku saat melihat Junhong melangkah pergi dengan terburu-buru.
Daehyun memejamkan matanya kesal, mengacak rambutnya dan meraih ponsel di saku, mencoba menghubungi Junhong yang langsung menolak panggilannya.
"Daehyun-ah, kemana Junhong?"
Daehyun bangkit dengan cepat dan menarik tangan Hyosung yang kebingungan, Sunhwa terlihat menatap seluruh café mencari Junhong.
"Apa Junhong sudah pulang?" Sunhwa menahan tangan Daehyun yang akan membawa Hyosung pergi, matanya memelas karena berfikir Junhong masih marah padanya.
"Singkirkan tanganmu"
"E-eh?"
"Aku bilang singkirkan tanganmu dariku"
Sunhwa melangkah mundur dengan takut dan menjauhkan tangannya dari Daehyun yang langsung pergi membawa Hyosung yang berteriak bahwa ia akan menghubungi Sunhwa nanti.
…
"Ada apa denganmu Daehyun-ah?"
Daehyun menarik Hyosung untuk masuk ke dalam kamarnya dan melempar Hyosung ke atas ranjang.
"Dae-daehyun ah"
"Disana…"
Daehyun memejamkan matanya dan mengatur nafas, ia terlihat kacau sampai Hyosung bergerak perlahan dan memeluk Daehyun lembut.
"Apa kau ada masalah?" katakan padaku jika-"
"Aku menghabiskan malam dengan Junhong disana"
Daehyun diam tidak membalas pelukan Hyosung, Ia berbisik rendah membuat Hyosung bingung dan mencoba menatap mata Daehyun.
"Aku tau Junhong menginap disini semalam, apa kalian bertengkar?"
"Aku-" Daehyun menelan liurnya kasar sebelum melanjutkan perkataannya. "meniduri Junhong"
Hyosung melebarkan matanya mendengar bisikan Daehyun, ia melangkah mundur dan tertawa tak percaya.
"Daehyun-ah, ini tidak lucu-"
"We had sex, Aku dan Junhong"
"A-apa?"
"Aku bingung saat pagi hari, aku tidak berfikir aku Gay dan-"
PLAK!
Daehyun menahan panas di pipinya, mencoba membasahi bibir dan melanjutkan ucapannya.
"Aku melakukannya dalam keadaan sadar begitupun juga Junhong-"
PLAK!
Daehyun meringis kecil dan menatap Hyosung yang sudah menangis.
"Aku berfikir mungkin ini kesalahan, karena itu aku memintamu untuk datang dan-"
"Bajingan"
Hyosung memukul Daehyun bertubi-tubi, ia menangis keras dan semakin keras saat sadar Daehyun tidak mencoba untuk menenangkannya.
"Aku terus memikirkannya, aku.."
"Berhenti! Kalian berdua-"
"Aku, hanya aku yang bersalah. Aku mohon satu hal padamu noona…jauhkan Sunhwa dari Junhong"
Hyosung menatap kaget kearah Daehyun yang mencengkram bahunya.
"Aku tidak ingin Sunhwa-"
"Apa kau tidak memikirkanku? APA YANG SEDANG KAU KATAKAN SEKARANG JUNG DAEHYUN!"
"Aku tidak ingin berbohong noona, aku-"
"Aku akan memaafkanmu, jadi.." Hyosung menangkup pipi Daehyun, mencoba menatap serius kearah Daehyun yang terlihat merasa bersalah "Jadi lupakan kejadian semalam, anggap tidak pernah ada dan-"
"Aku tidak bisa, aku..menyayangi Junhong"
"Daehyun-ah…"
"Aku menyayanginya, aku benar-benar menyayanginya noona.."
….
Junhong mencabut headsetnya saat melihat Hyosung berdiri di depan jalan, wanita itu jelas menunggunya.
Junhong mempercepat langkahnya dan bertanya bingung kearah Hyosung.
"Noona, kau ingin menemuiku?"
Hyosung tersenyum kecil.
"Kau..baru pulang sekolah?"
Junhong mengangguk, ia heran melihat Hyosung yang tak lama kemudian menangis dan berjongkok di hadapannya.
"Noona.."
Ia menarik Hyosung bangkit dan membawanya masuk ke dalam mobil Hyosung, mengusap kepala Hyosung yang terus menangis dengan matanya yang sembab.
"Apa terjadi sesuatu?"
"Apa kau masih menemui Sunhwa?"
Junhong diam, apa ini karena Sunhwa? Tapi kenapa Hyosung menangis.
Atau mungkin ini karena..Daehyun?
"Daehyun, memutuskan hubungan kami"
Junhong terbelalak kaget saat mendengar ucapan Hyosung, sudah lewat tiga hari sejak ia menemui Daehyun dan menolak semua panggilan teleponnya.
"Kenapa tiba-tiba Daehyun hyung-"
"Dia tidak bercerita padamu?"
Junhong menggeleng, mengulurkan tangannya dan mengusap bahu Hyosung mencoba menghiburnya.
"Dia mengatakan menyukai orang lain"
Junhong menahan nafasnya saat mendengar seruan Hyosung, wanita cantik itu kembali menangis dan menundukkan kepalanya.
"Si-siapa?"
"Wanita lain, dia tidak memberitahuku siapa namanya tapi-"
Junhong tidak ingin mendengarnya.
Ia ingin menutup telinganya dan segera pergi dari sini.
Junhong sadar kakinya gemetar entah kerena apa, ia seperti tersedak isakan yang mencoba untuk keluar.
"Kau…apa kau akan membantuku Junhong-ah?"
Junhong diam tak menjawab, ia menautkan kedua jemariya erat-erat seakan mencoba untuk mengalihkan fikirannya dari kenyataan bahwa Daehyun menyukai orang lain.
Bukan Hyosung, bukan dirinya tapi orang lain.
Sebenarnya apa yang membuat Junhong sedih?
Kenyataan bahwa Daehyun benar-benar normal atau kenyataan bahwa Junhong sudah benar-benar tidak bisa memiliki Daehyun.
"Noona aku harus pulang sekarang, aku- Permisi"
Junhong membungkuk singkat dan melesat turun dari mobil Hyosung, ia mencengkram tali ranselnya kuat-kuat dan mengusap kasar air matanya.
"Apa yang kau harapkan Choi Junhong? apa yang kau harapkan bodoh!"
Junhong berteriak dan berlari kencang menuju rumahnya yang sudah hampir dekat, kembali berteriak dan memaki Daehyun berharap makian itu bisa mengurasi rasa sesak di dadanya.
…
Junhong menyelimuti tubuhnya hingga kepala, ponselnya terus bergetar karena panggilan masuk dari orang yang sama.
Daehyun.
Entah karena apa dia terus-terusan menghubungi Junhong sejak sore tadi.
Junhong hanya menatap ponselnya gamang, air matanya kembali mendesak keluar saat mengingat Hyosung yang menangis mengatakan bahwa Daehyun menyukai wanita lain.
Apa perdulimu Choi Junhong?
Apa kau cemburu pada wanita?
Apa kau cemburu karena wanita itu disukai oleh Daehyun?
"Aku bisa gila" Suara yang sengau kembali terisak rendah dan menyembunyikan ponselnya di balik bantal.
Ponsel itu terus bergetar tanpa henti, terus bergetar tanpa lelah.
"Apa maumu sebenarnya Jung Daehyun hiks" Junhong menangis lebih karena kesal tidak bisa melakukan apapun, untuk apa Daehyun menghubunginya sejak tadi.
Untuk menceritakan bahwa ia sudah mempunyai orang lain?
Junhong ingin membunuh Jung Daehyun jika bisa, tapi…
"Hhhh~ kenapa aku menangis? Aaaaa~ aaaaa~~"
Junhong merancau asal dengan air mata yang masih mengalir keluar, melirik ponselnya yang masih bergetar dan membantingnya ke atas ranjang.
Lebih dari 20 panggilan Daehyun ia abaikan, Junhong menghitung..jika kau melakukan panggilan sampai 30 aku akan mengangkatnya.
Junhong menggigit kukunya cemas, terus menghitung sampai 10 menit kemudian panggilan ke 30 itu benar-benar datang.
"Ha-hallo.."
"YA! APA KAU TIDAK TAU CARA MENGANGKAT PANGGILAN TELEPON?!"
Junhong melebarkan matanya kaget mendengar teriakan Daehyun.
"Apa kau meneleponku hanya untuk berteriak!?"
"Aku.. menghubungimu sejak sore Choi Junhong-nim"
Junhong bisa mendengar Daehyun menahan kesalnya, ia memutar matanya ikut kesal.
"Ada apa menghubungiku?"
"Aku akan menjemputmu sebentar lagi, keluar rumah dan ikut aku"
"Tidak mau"
"YA!-"
"Berhenti berteriak atau aku akan memutuskan sambungan telepon ini"
"Apa kau benar-benar akan melakukan ini? aku sudah memintamu baik-baik!"
Junhong menjauhkan ponselnya dan bersiap memutuskan sambungan itu sebelum Daehyun berteriak.
"AKU SUDAH MEMUTUSKAN HUBUNGANKU DENGAN HYOSUNG!"
Junhong menatap ponselnya sedih, jadi Daehyun meneleponnya hanya untuk bercerita?
Lelaki itu benar-benar tidak punya otak.
"Jadi..kau sudah menemukan wanita baru? Kau ingin mengenalkannya padaku? Huh?!"
"Apa maksudmu?"
"Aku sudah tau" Junhong tertawa miris "Hyosung noona mengatakan kau memutuskannya karena kau menyukai wanita lain. Apa kau tidak bisa lebih menyedihkan dari ini hyung?"
"Hyosung mengatakan seperti itu?"
"Ne!"
Junhong bisa mendengar Daehyun yang menghela nafas panjangnya.
"Keluarlah, aku di depan rumahmu"
"Shireo"
"Aku akan menekan bel dan membangunkan seluruh keluargamu jika kau tidak keluar sekarang juga"
Junhong mengeram marah, bergegas bangkit dan mengintip dari jendela kamarnya, mobil Daehyun benar-benar disana.
Ia memutuskan sambungan telepon dan mengendap-endap turun lalu keluar dari rumahnya, menatap marah kearah Daehyun yang berdiri bersandar di pintu mobilnya.
"Ada apa?"
"Ikut aku"
"Kemana?"
"Tempatku"
Junhong tertawa mengejek. "Ingin melakukan test yang kedua?"
Daehyun mencoba menahan kesalnya, melangkah maju dan menatap tajam kearah Junhong.
"Aku akan menjelaskannya padamu"
"Hyosung noona yang butuh penjelasanmu, bukan aku"
Daehyun tidak ingin berlama-lama, ia menarik tangan Junhong dan mendorongnya masuk ke dalam mobil.
"Ya! Hyung! Lepas- aku tidak mau ikut aku-"
"Diam atau aku akan menciummu"
Junhong mendadak diam, mendengar Daehyun berbisik rendah padanya dengan tatapan mata tajam membuat kaki Junhong lemas seketika.
Junhong memalingkah wajahnya enggan menatap Daehyun.
"Pasang sabuk pengamanmu"
"Aku tidak mau ikut hyung-"
"Apa kau sedang mencari perhatian lagi? Ingin aku memasangkannya untukmu?"
Junhong menarik keras sabuknya dan memasangnya cepat. Tatapan matanya terus menghadap kaca mobil dan mengabaikan Daehyun yang terus menatapnya.
"Pakai jaketku di kursi belakang jika kau kedinginan"
Cih.. Apa dia mengkhawatirkan Junhong sekarang?
"Junhong-ah"
"Aku bukan wanita, cepat jalankan saja mobilnya lagipula sekarang musim panas"
Daehyun mengalah, melajukan kendaraannya menembus kota Seoul yang sedikit lengang di malam hari.
Ia perlu menyelesaikan masalahnya malam ini juga.
Tidak perduli jika Junhong membencinya atau mungkin memiliki perasaan yang sama dengannya, Daehyun hanya mempunyai satu cara untuk menyelesaikan semuanya.
Bicara.
Junhong dan dirinya perlu bicara membahas kejadian malam itu yang membuat hubungan mereka menjadi seperti ini.
Tanpa Hyosung, tanpa Sunhwa, tanpa semua orang..hanya cukup mereka berdua.
…
Junhong berdiri di depan pintu enggan mengikuti langkah Daehyun yang melangkah masuk, ia menggigit bibirnya gugup.
Ini sudah tengah malam dan Junhong tidak suka berada dalam keadaan yang memungkinkannya memikirkan hal-hal aneh tentang malam itu.
"Kenapa tidak masuk?"
Junhong diam tak menjawab, ia memegang pintu Daehyun bersiap masuk namun langkahnya keras bagai batu.
Tubuh dan fikirannya tidak ingin.
Tubuh dan fikirannya takut bahwa ingatan tentang kejadian malam itu membuat Junhong kembali larut dalam fantasi mesum tentang dirinya dan Daehyun.
Daehyun mencoba membaca gerak gerik Junhong, ia nampak sangat tidak nyaman.
"Jika kau takut, biarkan saja pintunya terbuka"
Junhong tau Daehyun mungkin berfikir sampai kesana, tapi langkahnya tetap tidak bergerak Junhong ingin menangis.
Suasana malam ini terasa sama seperti malam itu.
Udaranya, ruangannya, ranjang Daehyun dan mereka berdua yang canggung tak berani menatap mata masing-masing.
"Aku akan mengantarmu pulang setelah kita selesai bicara" Daehyun berjalan mendekat, meraih tangan Junhong dan menggenggamnya erat, ia menatap mata Junhong seakan memintanya untuk tidak khawatir.
Tatapan matanya…berbeda dengan malam itu.
Malam ini tatapan mata Daehyun lebih halus dan dewasa, karena itu Junhong menurut melangkahkan kakinya mengikuti Daehyun yang masuk ke dalam dengan genggaman tangan yang tidak terlepas.
"Kau ingin minum?"
Junhong menggeleng dengan kepala tertunduk, bersusaha menyembunyikan rona pipinya yang merah karena udara yang panas.
"Ah..pendingin ruangannya belum diperbaiki"
Daehyun berkata gugup, menggaruk tengkuknya karena bingung ingin bicara apa.
Ia hanya melirik Junhong yang sesekali menunduk dan memainkan jemarinya canggung.
"Tentang malam itu …"
Junhong menoleh kearah Daehyun yang duduk disisinya.
"A-aku mengerti hyung, tidak perlu dipikirkan..lagi pula itu hanya test, Lagi pula noona-"
Daehyun menggigit bibirnya bingung.
"Aku harusnya tidak melakukan itu, iya kan?"
Junhong diam mendadak kaku mendengar seruan lembut Daehyun, ia mencengkram jemarinya makin kuat, dengan sisa-sisa tenaganya untuk menahan tangis Junhong mengangguk.
Jika memang Daehyun berfikir bahwa kejadian malam itu harus mereka lupakan, Junhong akan berusaha melakukannya. Tapi bagaimana cara melupakannya?
"Aku harusnya tidak melakukan itu…memanggil Hyosung noona untuk datang pagi harinya"
Junhong mendongak, menatap bingung kearah Daehyun yang tersenyum dan mengusap pipinya.
"Aku harusnya berada di ranjang bersamamu pagi itu dan…dan mengucapkan selamat pagi"
Mendengar suara Daehyun yang tampak frustasi Junhong tidak bisa menahan tangisnya, ia diam dan tak lama isakan-isakan kecil mulai keluar dari bibir Junhong.
"Aku harusnya melihatmu membuka mata dan mengucapkan kau cantik.."
"Hyung.."
"Jangan menangis bodoh" Daehyun tersenyum, mengecup pipi Junhong yang menunduk dan melanjutkan tangisnya. "Aku harusnya memelukmu dan menanyakan apakah aku membuatmu kesakitan"
Junhong tertawa di tengah tangisnya saat mendengar seruan Daehyun, ia membiarkan Daehyun memeluknya erat dan mengecupi telinganya.
"Aigoo dasar remaja cengeng"
Junhong tidak perduli, ia membalas pelukan Daehyun dan mencengkram kaus bagian belakang Daehyun erat-erat.
"Hyosung noona.."
"Ah, ini juga yang ingin aku katakan padamu"
Daehyun melepas pelukan itu, tertawa gemas dan mengusap air mata Junhong yang masih mengalir di pipinya yang tampak merah malam ini.
"Aku sudah mengatakan padanya bahwa kita melakukan sesuatu kemarin malam"
"K-kau mengatakannya? Maksudku-"
"Aku mengatakannya dengan jelas, aku mengatakan bahwa aku melakukannya denganmu. Tidak ada orang lain, tidak ada wanita atau siapapun hanya kau"
Junhong tersenyum mendengarnya.
"Dia mungkin berfikir untuk melihat reaksi mu atau apapun itu aku tidak perduli"
"Lalu..apa yang noona katakan?"
Daehyun tertawa lebar, meraih tangan Junhong dan meletakkannya di pipinya.
"Apa lagi, dia menamparku, disini..dua kali"
Junhong tertawa dan mengusap pipi Daehyun, maju mendekat dan mengecup pipi Daehyun yang tersenyum menikmatinya.
"Apa..aku perlu menjelaskan yang lain?"
Junhong menggigit bibirnya ragu sebelum bergumam, "Itu..em- Test"
Daehyun mengerti apa yang ingin dikatakan Junhong, ia tertawa dan mengusap bibir Junhong yang terlihat jelas tengah gugup.
"Aku..maksudku dibandingkan dengan test. Bisakah kita katakan kejadian malam itu sebagai..bercinta?"
Aliran darah Junhong bagai mengalir deras keatas kepalanya, pipi dan telinganya memerah padam. Suara Daehyun yang berbisik menggodanya benar-benar membuat Junhong-
"Berhenti membual"
Daehyun tertawa, meraih tengkuk Junhong dan memajukan kepalanya untuk mengecup bibir Junhong, ia tertawa saat tau Junhong meremas pakaiannya dan mengerang rendah entah karena apa.
"Hei.." Daehyun melepaskan ciuman itu, tertawa geli kearah Junhong yang mengatur nafasnya dengan pandangan lurus menatap Daehyun "Kita hanya berciuman, kenapa kau mengerang seperti tadi?"
"Y-ya!"
Daehyun tertawa tak percaya.
"Ya? Apa kau berteriak padaku?"
Daehyun tertawa lebar dan menggelitik perut Junhong yang tertawa keras di sofa Daehyun.
Ia berkali-kali meminta ampun untuk lepas dari kelitikan itu.
"Ampun hyung-hahahaha, biarkan aku bernafas- Ah, ahahahaha"
Daehyun tertawa gemas melihat Junhong yang berteriak tergeletak disofa meminta ampun padanya, wajah Junhong memerah padam dengan rambutnya yang tampak kacau, ia terlihat mengatur nafas dan membuka bibirnya-
Sial.
Daehyun menindih tubuh Junhong yang langsung berkedip panik.
"H-hyung, ini hyung- tidak tunggu"
Daehyun tertawa tipis melihat Junhong yang panic dan berusah menyingkirkan Daehyun.
"Kau benar-benar cantik saat tertawa"
Mendengar seruan Daehyun yang lembut Junhong diam mendengarkan, ia membiarkan Daehyun mengusap sayang kepalanya dan mengecup dahinya.
"Aku tidak akan melakukannya malam ini"
Junhong mengangguk kecil.
"Karena…kau harus pergi ke sekolah besok"
Junhong tertawa dan memukul bahu Daehyun yang berada diatas tubuhnya.
Daehyun ikut tertawa dan mengusap sayang pelipis Junhong.
"Aku tidak ingin kau berfikir pernyataanku malam ini bersangkutan dengan kebutuhanku"
"Aku mengerti hyung"
"Akhir pekan, aku tetap membutuhkannya sampai akhir pekan"
Junhong mendorong tubuh Daehyun yang tertawa melihat wajah kesal Junhong.
"Kau benar-benar mengerikan"
"Aku menyayangimu Junhong-ah"
Junhong tertawa meledek "Kenapa tiba-tiba?"
"Apa maksudmu? Aku hanya membuatnya resmi saja! Dan juga putuskan hubungan dengan Sunhwa"
Junhong mengangguk mengerti, memainkan jemari Daehyun yang entah sejak kapan menggenggam jemarinya.
"Aku harus mengantarmu pulang"
"Ya..aku harus pulang dan beristirahat"
Daehyun memeluk tubuh Junhong yang balas memeluknya.
"Junhong-ah.."
"Hm?"
"Ingat…akhir pekan"
Junhong mencubit keras pinggang Daehyun.
"AWW!"
"Dasar mesum, cepat bangun dan antarkan aku pulang!"
Daehyun menurut dan meraih kunci mobilnya, mengulurkan tangannya dan meminta Junhong meraih genggaman tangannya.
"Hyung.."
"Hm?"
"Aku akan mengingatnya.."
"Apa?"
"Akhir pekan"
Junhong tertawa lebar dan menarik tangan Daehyun yang ikut tertawa di belakangnya.
"Junhong-ah, kau malu kan? Hahahaha"
"Di dalam mimpimu Jung Daehyun!"
….
Hasil TEST Jung Daehyun dan Choi Junhong: Positif.
Keduanya saling menyayangi karena kegiatan malam itu, atau mungkin mereka baru menyadarinya setelah kejadian malam itu.
Hanya mereka yang tau.
….
FIN.
