Sick (Prolog) : kau bersamaku tapi hatimu tidak

/

/

| all of iKON's member especially; Song Yunhyeong, Kim Jiwon, Goo Junhoe, Jung Chanwoo |

/

| Friendship, Life, opening-Romance? (becareful, sad ending)|


Donghyuk

Ketimbang merasa segan dengan ketiga-manusia-kim, justru aku lebih takut dengan pemuda Song yang sedang tertawa renyah di hadapanku.

Melihat gerak-geriknya, memperhatikannya dengan detail...entahlah, seperti ada sesuatu yang amat sangat rahasia yang sedang ia sembunyikan. Seakan-akan seluruh rencana busuk di dunia yang belum terpecahkan sesungguhnya telah ia sembunyikan di belakang punggungnya.

Disembunyikan di balik gelak tawanya.

Mungkin aku hanya iri? Yah...bisa jadi. Selisih kita berdua bergabung dalam YG tidak terlalu jauh namun dia berhasil melampaiku (Junhoe? Tidak usah dihitung anak itu. Berdiri di sampingnya seperti berbeda level. Menyebalkan ck) dalam segala hal sedangkan aku disini mempunyai basic; otak cerdas, mengikuti sanggar tari, kenalan banyak, dulu JYP Trainee, bisa bermain piano, dan masih banyak hal lagi.

Mungkin karena postur tubuh?Visual? Jenis suara? Karena sungguh, meskipun tak memiliki basic apapun, Song Yunhyeong sangat mendekati kata sempurna. Tawanya,wajahnya, suaranya yang sangat enak, kepribadian...terlalu banyak dijabarkan satu persatu.

Song Yunhyeong terlalu banyak mengikat perhatian orang-orang. Terlalu menarik layaknya putri di dalam kerajaan kibasan rambut semua orang jatuh hati padanya tanpa melihat penampilan atau apapun itu.

Dan...ya aku iri.

"Kim Donghyuk? Ya!" Aku spontan menjatuhkan spatula yang ia pegang sedaritadi begitu mendengar teriakkan hyungnya yang menggelegar.

Ckck, kalau membicarakan orang lain memang penyebab lupa diri. Aku sampai lupa kalau sedang mema-

"Hyung!" Chanwoo yang tengah memotong-motong daging refleks menepuk bahuku cukup keras. "YA! JUNG CHANWOO!"

"Kenapa harus teriak ish," bukannya aku yang marah tapi malah dia!

Yunhyeong yang tengah menyiapkan sayuran dan saus hanya bisa menggeleng-gelenglkan kepalanya. "Kamu melamun?"

"Ah ya..." Aku meringis pelan. "Gosong kah?"

"Aniyo," senyumnya lalu sedetik kemudian, dia menepuk bahu Chanwoo. "Itu akan habis kalau kau makan terus! Babi dulu baru ayam!"

"Tapi aku lebih suka babi hyung..."

"Hei," Aku terkekeh pelan. "Keluarganya itu pemilik restoran daging tau?"

Matanya yang sudah besar semakin membesar. "Jinjjayo? Kalau begitu mianhaeyo..."

Yunhyeong terkekeh pelan sebelum menoleh ke arahku, pas sekali aku ketahuan (lagi) memperhatikannya.

'Nan gwaenchana?' Kira-kira begitulah yang ia gumamkan.

Aku mengangguk sebagai jawaban terpasti sebelum fokus menyiapkan makanan untuk menyambut kedatangan Hongseok hyung.

Ya Tuhan...Bagaimana bisa aku berpikiran negatif terus terhadap makhluk jelmaan malaikat seperti ini?

Benar, aku hanya iri semata.


"Aku tidak menyangka kita akan sejauh ini, hyung. Sebelum terlambat, mari kita berhenti sampai disi-"

Ucapan pemuda Jung yang sudah mulai bertranformasi menjadi pria dewasa terhenti oleh dengusan kerasku.

"Kau pikir bisa semudah ini mundur?"

"Aku tidak akan mundur, dari awal aku sudah menjelaskan resikonya Jung. Aku tidak akan mundur apapun yang terjadi, sekarang terserah kau mau mundur atau tidak karena," Aku tersenyum miring ke arah bayangan Chanwoo yang tercipta di depan cermin besar.

"Aku tidak membutuhkanmu lagi, Jung. Aku sudah mendapatkan apa yang kumau, hanya saja kau harus berpikir dua kali untuk mundur karena kita sudah sejauh ini. Memangnya kau pikir untuk bertahan sampai sini itu hal yang mudah? Ingat perjuangan selama ini yang telah kita lakukan? Kau mau itu terbuang sia-sia? Kau tidak akan mendapatkan apapun kalau melepaskan Yunhyeong...kau tau resiko itu bukan~?"

"Tapi," dari bayangan cermin ini, Chanwoo tampak menggigit bibir bawahnya. Huh, Chanwoo akan tetap seperti anak-anak apapun yang terjadi. "Aku tidak mengharapkan sampai sejauh ini. Kupikir...Kupikir...Hanya memisahkan Yunhyeong dari Jiwon hyung, hanya sebatas itu tidak sampai pertunang-"

"Yang bertunangan siapa?" tanyaku sarkastik. "Junhoe dengan Yunhyeong bukan? Itu keputusan siapa? Mereka berdua bukan? Kalau mau protes jangan padaku tapi pada tuan Goo yang tak suka berencana itu," Kuhela nafasku panjang-panjang. "Sesungguhnya aku terkejut juga dan tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini dan secepat ini tapi bukankah bagus? Aku resmi akan tetap bersama Jiwon hyung dan kau bisa diam-diam bermain belakang bersama Yunhyeong hyung yang dungu tidak bisa membedakan apa rasa sayang sebagai adik atau mengkasihani."

"Aku tidak tau kalau rencana hyung adalah memisahkan mereka sampai ke jenjang pernikahan! Dalam jangka waktu panjang dan selamanya!" Akhirnya pria Jung ini bisa berteriak dan mengeluarkan unek-uneknya, haha~

"Itu sama saja dengan memecahkan kami semua hyung, memisahkan iKON! Memisahkan tali persaudaraan tak sedarah kita yang sudah lebih dari 4 tahun!"

"Siapa duluan yang memilih untuk berjalan masing-masing saat kita hiatus?" tanyaku datar. "Yunhyeong hyung bukan? Hanbin hyung? Jiwon juga...kalianlah yang mulai dan aku yang tersakiti," aku tertawa miris.

Ya, ketimbang menyebut mereka semua yang tersakiti justru akulah yang tersakiti disini. Paling tersakiti. Sudah lama tersakiti.

Semenjak dikatakan iKON akan beristirahat, tidak ada kesempatan lagi untuk comeback lagi tentunya. Secara tidak langsung itu tanda bahwa masa kita sudah tamat.

"Kalian semua yang awalnya berjanji untuk tetap bersama tapi kalian yang meninggalkanku. Jiwon tetap bersamaku karena kasian semata, ah~kupikir kita satu kubu karena sesama maknae line? Bukankah kau merasa ditinggalkan juga? Yunhyeong hyung memilih tetap bersamamu karena kau sendirian, karena kau tidak bisa ditinggal, dan masih remaja yang tak akan pernah dewasa. Kau pikir Yunhyeong hyung mau menghabisi masa hidupnya bersama orang tak dewasa sepertimu? Yang tidak bisa diandalkan? Sekarang dia baru bertunangan lihat saja nanti kalau sudah menikah, kau akan dilupa-"

"Kenapa kau berubah menjadi jahat begini hyung?" Aku berbalik dan mendapati Jung Chanwoo sudah menundukkan kepalanya. Menangis as always.

"Aku bisa dewasa. Aku bisa diandalkan. Tidak apa-apa jika ditinggal Yunhyeong hyung tapi kebahagiaannya-"

"Kau bertanya tentang kebahagiaannya?" Aku tertawa sinis. "Lalu bagaimana dengan kebahagiaanku? Kebahagiaan Junhoe? Lebih baik mengorbankan satu orang daripada-"

"Lalu bagaimana dengan Hanbin hyung? Jinhwan hyung? Bahkan Jiwon hyung tidak tampak bahagi-"

"TAU APA KAU TENTANG KEBAHAGIAAN JIWON?" Aku murka. Aku kesetanan.

Chanwoo di pojok ruangan tampak mengkeret ketakutan jadi aku memutuskan untuk mengatur nafas, berusaha menahan amarahku yang seharusnya tidak meluap padanya. Ini semua untuk Yunhyeong hyung, huh kapan hyung manisku itu berani berhadapan denganku?

"My my~ya ampun Jung Chanwoo-ku, uri maknae~maafkan hyungmu ne sudah marah-marah," Aku tertawa kecil. "Jinhwan hyung dan Hanbin hyung? Mereka yang harus dikorbankan dalam hal ini, aku yakin pasti Yunhyeong hyung tau bagaimana caranya menjauhkan Jinhwan hyung dari Junhoe dan menyatukan Binhwan lagi."

Aku marah. Aku benci. Aku kesal.

Rasa iriku yang dibiarkan mengalir begitu saja perlahan menumpuk, menghasilkan perasaan macam ini.

Aku sudah berusaha keras namun Yunhyeong hyung yang selalu mendapatkan perhatian.

Aku sakit namun Yunhyeong hyung yang selalu ditanyakan dan dikhawatirkan keadaannya.

Semuanya serba Yunhyeong, Yunhyeong, Yunhyeong dan tak ada aku sedikitpun di dalam iKON.

Bahkan Hanbin hyung ketika pergi tiba-tiba, yang ia tanyakan adalah 'apakah Yunhyeong khawatir?'

Yunhyeong hyung sudah terlalu banyak memperoleh kebahagiaan dan seluruh perhatian yang seharusnya juga aku dapatkan.

Sekarang sudah waktunya aku berbahagia dan mendapatkan itu semua. Sudah saatnya Junhoe yang terus memperhatikan dari jauh mendapatkan bagiannya dalam sandiwara dunia ini. Sudah jatah Chanwoo untuk mendapatkan dan memainkan perannya dengan baik.

Sudah waktunya kita bahagia dan mendapatkan seluruh perhatian dari orang terkasih.

Memang sudah kewajibanku untuk merebut kebahagiaan, senyum, dan perhatian yang didapatkan Yunhyeong hyung, Jinhwan hyung, Hanbin hyung, dan Jiwon hyung.

Karena itu hakku. Hak kita semua.

Aku terkikik pelan sebelum merapihkan simpul dasi kupu-kupu yang mengikat leherku. "Kau benar-benar lugu, kau kira sebuah hubungan cinta seperti ini hanya sebatas pacaran? Hanya sampai pacaran? Kita akan dewasa, menua, dan tentunya ingin mempunyai keluarga. Akan ada pertunangan lalu pernikahan setelah itu. Kau pikir Junhoe, Jiwon, Hanbin dan Yunhyeong bukan pribadi yang serius dan matang? Mereka pasti mencari kekasih untuk diajak hidup sehidup semati bukan bermain cinta monyet seperti anak bocah. Sejak awal memang aku mengajakmu untuk bekerja sama karena aku ingin bersama Jiwon hyung sampai mati, bukan sekedar menjalin cinta dengan status tidak jelas, Jung."

Jung Chanwoo terlihat sangat marah. Kedua bahunya sudah kaku sementara tangannya terkepal erat.

Lalu setelah itu dia pergi dari ruang ganti tanpa bicara kata perpisahan sedikitpun.

'Kepada paa tamu undangan diharapkan berdiri'

Ah, sudah mulai.

Aku melangkah dengan ringan meninggalkan ruangan sempit ini.

Selamat berbahagia Goo Junhoe dan Song Yunhyeong~ Doaku akan terus menyertai hubungan kalian~


"Jadi...Kim Donghyuk? Itu namamu?" Aku mengangguk antusias meskipun pastinya tercetak jelas ekspresi kebingungan di wajahku. Tentu saja, suasana penyambutan kali ini terasa 'longgar' sekali, kupikir akan ada acara senior-junior begitu melihat wajah pemuda berbeanie dan tatapan menusuk dari Jiwon hyung –yang langsung memperkenalkan dirinya sebelumku dan itu cukup mengesankan atau pemuda berwajah sangar.

Ternyata sama sekali tidak.

"Ah~Gwiyeowo!"

"Kyeopta!" celetuk Jiwon menyeletuk sebelum mendapatkan hadiah jitakkan dari pemuda manis di sebelahnya, orang yang pertama kali memberi respon atas nama pemberian kedua orang tuaku.

"Wajahnya benar-benar artis, suaranya saja saat berbicara sudah halus. Tapi postur tubuhnya...dancer?" komentar si manis tersebut. Entah ia menujukannya kepada siapa karena Jiwon sibuk mesem-mesem sendiri.

"Namanya benar-benar manis, apa benar kita akan menjadi grup hip hop? Suara kita-kita disini sangat manis dan lembut haha!"

Pemuda manis tersebut menyikut pelan perut Jiwon yang menyebabkan sang empu mengaduh kesakitan.

Aku tersenyum kecil dibuatnya.

"Aigoo!" Pemuda lain yang begitu mungil akhirnya mengeluarkan suaranya. Benar kata Jiwon, suara kami semua begitu lembut. "Senyumnya! Dimple! Geez! Semua gadis akan meleleh karena kemanisannya!"

Tapi aku kan pria dan aku tidak feminim.

"Kurasa tubuhnya akan bagus meskipun umur masih belia," si pemuda berwajah sangar angkat bicara tapi ia tetap terlihat acuh tak acuh.

"Kau menyindirku karena waktu itu hanya menang tampang saja ya?" akhirnya pemuda manis tersebut mengeluarkan suaranya setelah pertarungan sengit antara dirinya dengan Jiwon yang sangat seru tadi.

"Ya tentu saja, jauh denganmu Kim Donghyuk lebih mumpu-WADAW!"

"Ckckck," Pemuda mungil tersebut menggelengkan kepala. "Abaikan saja mereka, awal bertemu mereka saling menghindari tapi sekarang...kuharap kau akan terbiasa melihat mereka," Kemudian ia menyunggingkan senyum lebar. "Aku Kim Jinhwan, 94lines."

"Goo Junhoe, aku lebih muda darimu."

"Hanbin," Pemuda berbeanie berdehem pelan. "Kim Hanbin atau kau bisa memanggilku B.I hyung."

"Yang ini nih," Pemuda manis itu menunjuk ke arah Jiwon dengan menarik telinganya. Jiwon tampak kesakitan sekaligus lucu sekali melihatnya. "Seperti yang sudah kau tau, namanya Kim Jiwon. Buaya sekali dia, hati-hati saja. Namanya boleh seperti perempuan tapi dia memang perempuan yang sok laki dengan menyamar menggunakan stagename Bobby. 95line sama denganku tapi dia lebih muda karena lahir di hari ibu, anak mama hobi party sekali."

Sedetik kemudian, pemuda manis itu mengerjap pelan dan melepaskan 'mangsa'nya begitu saja.

Saat itu juga aku tau jelas bahwa dialah sang visual grup ini.

Dalam sekali lihat, ia mirip seperti vitamin grup. Wajahnya meneduhkan dan bisa menjadi sangat tampan sekaligus manis dalam waktu bersamaan tanpa terlihat seperti seorang wanita atau feminim. Tawanya juga menyegarkan sekali.

Seperti ia bisa menyedot semua perhatian orang-orang. Cute.

"Aku lupa mengenalkan diriku ya?" Ia meringis pelan yang disambut dengan sorakkan dari Jiwon. "Song Yunhyeong. 95line. Aku vocal dan dancer sangat pemula, kurasa kita akan sering melakukan banyak hal bersama jadi ayo berkerja sama! Dan..." Ia melirik sedikit ke arah Junhoe dan Hanbin yang berada di ujung. "Kami semua manusia antisosial karena kebanyakkan mendekam disini, kami tidak pandai bergaul dan bersosialisasi tapi bukan berarti kalau aku mndekat kami akan menendangmu kok! Aku dan Junhoe juga baru bergabung, mungkin kita bisa banyak membantu kebingunganmu, hm?"

.

.

.

"Aku sangat suka Yunhyeong hyung," diakhiri dengan kekehan ringan dan dibalas tatapan heran dariku. Saat ini aku dibiarkan oleh Hanbin hyung untuk mengamati jenis tarian apa yang akan dilakukan oleh grup ini agar aku bisa menyesuaikan aliran dan temponya demham diriku besok saat latihan yang sebenarnya akan dimulai.

Subjeknya tentu saja Yunhyeong hyung yang merengek minta diajari Junhoe agar mudah mengerti dan Junhoe sendiri, sementara Hanbin hyung sepertinya baru saja dipanggil staff. Aku saja baru tau kalau Jiwon hyung masih ada di ruang latihan.

"Kau lihat gerakkannya? Tubuhnya cukup lincah tapi dia terlihat kesusahan and look like lost boy. Lucu sekali, benar-benar dancer pemula ckck," lanjutnya yang membuatku merasa aneh.

"Hyung sedang...mendeklarasikan diri sebagai penyuka sesama jenis?"

Aku tidak menghakimi. Tidak tapi respon Jiwon benar-benar diluar ekspetasiku.

Mata sipitnya yang membesar lalu ia terlonjak ke belakang.

Setelah itu, Jiwon hyung tertawa sangat keras. Beruntungnya Junhoe yang sedang fokus mengajar koreo kepada Yunhyeong hyung tak memakai sepatu atau berada di sekitar benda tumpul karena dapat dipastikan benda tersebut akan ia gunakan sebaik mungkin untuk membuat kepala Jiwon terkena geger otak.

"Wow, berani sekali bicaramu nak! Tapi tak apa," Jiwon menepuk akrab bahuku beberapa kali. "Aku tidak menghakimi atau apapun itu. Kita disini fleksibel, aku masih suka dengan dada kok. Dada ayam ehe," dagunya bergerak menunjuk ke arah Jinhwan hyung yang sudah kembali dengan lompatan-lompatan kecil riang setelah beberapa menit lalu menyusul Hanbin hyung keluar.

"Jinhwan hyung ada hubungan spesial dengan Hanbin. Huh, bocah tak pernah berpacaran itu kan sangat kaku, aku jadi kasian dengan jinani," sambungnya lagi dan aku memutar otak.

"Jadi hyung...suka Yunhyeong hyung tapi hobi memakinya?"

"Eih," Jiwon tampak sewot sedikit. Ia yang tadi tiba-tiba merapat pada diriku setelah terlonjak ke belakang cukup jauh kembali mengambil jarak. "Siapa yang tidak suka manusia itu? Yunhyeong hyung such a cutie pie. Bahkan aku sangsi Junhoe pasti diam-diam juga suka padanya," Bibirnya mencibir sebentar sebelum sepasang matanya yang sedaritadi mengamati Yunhyeong hyung berubah haluan untuk memperhatikan Junhoe dengan tatapan menyalang.

"Karena itulah aku tidak suka bocah satu ini. Sok sekali, dia kira hanya karena bersuara berat, berkaki panjang, dan berwajah menyebalkan itu bisa menggaet semua hati di dunia ini?"

Tiba-tiba bahuku merosot tanpa alasan jelas. Duh, ada apa dengan diriku?

"Aku tidak memakinya karena yah, aku disini karena mau jadi artis saja bukan boyband. Aku tidak bisa menyanyi dan menari, kami berdua satu sama hanya saja mengasikkan sekali menggoda pemuda Song ini karena reaksinya yang menggemaskan."

"Bu-bukan begitu!" Kurasakan darahku berdesir hebat. Tuhan, ada apa ini? Apa yang terjadi padaku? Aneh sekali. "Suka dalam artian..."

"Oh," Bahunya bergedik tanpa memberikan jawaban pasti. "Lihat saja nanti, hati itu mulai dibolak balikkan bukan? Kalau naksir ya tidak ada kerugiannya juga," Kemudian ia meringis sebelum memperhatikan kembali Yunhyeong hyung yang mulai menghafal koreonya.

"Pokoknya aku sangat suka Yunhyeong."

Aku tidak bodoh, tentu saja tidak. Aku bisa membedakan mana suka dalam artian sahabat dan mana suka dalam artian lebih spesial.

Saat itu juga, harapanku mulai pupus.

Belum apa-apa tapi Yunhyeong hyung sudah satu langkah di depanku dan aku sudah kehilangan perhatian satu orang disini.


Aku mengerjap cepat tapi Jiwon tetap tidak mengedipkan matanya.

Tidak mati kan? Ini sudah kesekian kalinya untuk hari ini Jiwon ketahuan melamun dan tak fokus setelah (entah dua tahun kurang?) 2 bulan lalu, pesta pertunangan Yunhyeong hyung dengan Junhoe terlaksanakan.

"Jiwon...hyung?" Satu jentikkan jari dan dia langsung kelabakkan dibuatnya.

"Ah ya ada apa?" Ia tertawa pelan sebelum menepuk dahinya tiba-tiba.

Kutelan kekecewaan yang melanda bulat-bulat. "Hyung pasti tidak mendengar apa yang aku katakan tadi."

"Dengar kok dengar," Jiwon terkekeh sebelum mengusap lembut surai kepiranganku. "Soal pindah dari Seoul kan? Kurasa ya karena Hanbin juga sudah memutuskan untuk memulai di studio kecil mungil terlebih dahulu."

Aku tersenyum dibuatnya namun tatapanku tertuju pada sarapannya. Bacon dan kentang goreng, padahal ini kesukaannya. Jiwon selalu suka memakan bacon, peperoni atau apapun berhubungan dengan daging babi jika Yun-

Sudahlah. Tidak ada Yunhyeong hyung lagi disini. Kau tidak memerlukan Yunhyeong hyung arra? Begitu juga dengan Jiwon.

"Tidak dimakan hyung?"

"Ya?" Jiwon mengerjap pelan sebelum akhirnya menyadari situasi. "Ya ya ya akan aku makan."

Aku meringis. "Tidak enak ya?"

Jiwon menggeleng pelan sebelum menancapkan garpunya pada si kentang yang malang. "Tidak-tidak, bukan begitu hanya saja-"

-aku tidak terbiasa memakan makanan yang bukan masakkan Yunhyeong.

Itu yang dijawab Jiwon saat kutanyakan tepat setelah iKON mulai tinggal memisah. Katanya sih itu jawaban asal karena ditanya saat melamun tapi jawaban pertama selalu sebuah kejujuran, kan?

Karena frekuensi seringnya Jiwon melamun hampir sama banyaknya dengan frekuensi Jiwon melamun saat iKON terpecah dan Junhoe membawa Yunhyeong ke Busan begitu cepatnya.

"-aku merindukan masakkan noona! Ya ya ya! masakkan istri hyungku! Dia sangat pandai dalam mengolah ba-"

"Hyung," potongku lembut. Jarak kita terpisahkan oleh meja kayu ini tetapi itu tidak bisa mencegahku untuk meraih tangan kanannya yang begitu hangat untuk digenggam. "Kita tinggal bersama berdua begini bukan beberapa bulan kan? Satu pertunangan kecil tidak akan menggoncangkan seluruhnya. Kehidupan kita akan tetap sama seperti sebelumnya."

Aku tentunya mengerti kecemasan dan kekhawatiran jenis apa yang memporak-pondakkan ketetapan hatinya, maka dari itu aku disini untuk meluruskan, meyakinkan, dan membuat Jiwon untuk tetap bersamaku.

"iKON jelas tidak bisa bersatu lagi," Jiwon meremas jari jemariku. "Aku tidak tau bagaimana reaksi Hanbin saat di gereja waktu itu. Tak bisa terbaca. Dan ini begitu cepat, kupikir Hanbin akan sedikit lebih cepat men-sah-kan hubungannya, mungkin ia terbebani oleh pikiran mempersunting Jinhwan hyung jadi ekspresinya datar begitu?"

Jelas bukan itu alasannya.

Masih teringat olehku apa yang dikatakan Jiwon pertama kalinya tentang Yunhyeong hyung.

'Aku sangat suka Yunhyeong'

Jiwon tertawa hambar, sehambar acara sarapan kami yang sewajarnya sudah sempurna karena dibawah sinar matahari pagi yang masih lembut.

"Aku hanya tidak menyangka. Ya, tentu saja. Yunhyeong hyung orang yang begitu terencana dan Junhoe..." Ia tertawa lagi. "Mereka sangat berbeda. Aku hanya terkejut saja, tentu sa-"

"Hyung," Remasan tanganku membuatnya bungkam. "Aku ada disini ingat? Dan akan selalu ada disini, di sisimu."

Pria bermata sipit ini menghela nafas, begitu berat layaknya orang sakit.

"Ya, aku tau. Aku juga tidak akan kemana-mana, tetap disini bersamamu tapi wow," Jiwon meniup udara di atasnya sebelum memutar kedua bola matanya. "Si bastard Goo Junhoe itu menang. Tentu saja dia sudah pasti menang. Beruntung sekali dia!"

Aku tertawa kecil mendengarnya.

"Nah jadi kita habis ini kemana?" tanyanya antusias. Sebelumnya hanya satu tangan kami yang terikat kali ini keduanya. "Taman hiburan? Cafe? Toko buku? Ayolah, aku bosan!"

"Habiskan dulu sarapannya," sahutnya lembut dan Jiwon langsung memprotes bahwa tentu saja dia akan menghabiskan sarapannya karena itu sudah rezeki dari Tuhan blablabla seperti biasanya.

Ya, aku akan tetap disini. Berusaha membantu Jiwon menghapus bayang-bayang Yunhyeong di dalam kehidupannya dan menggantikan dengan diriku yang lebih baik.

"Sudah-sudah, ayo kita lanjut makan. Huh, kau membuatku khawatir saja. Kupikir kau akan menangis dan berekspresi blank saat pertunangannya tau."

Maaf, Yunhyeong hyung. Aku jelas lebih tau kebahagiaan apa yang diperlukan Kim Jiwon. Aku juga tidak mau Junhoe menelan kekecewaan setelah berkorban banyak.

Aku bukan orang bodoh yang menyia-nyiakan Jiwon begitu saja.

Maaf, hyung. Aku hanya berusaha mengambil jatah kebahagiaanku saja.

Bukan hyung saja yang ingin bahagia tetapi aku juga.

.

.

Next?

.

Wow, peminatnya dikit wkwkwk. Yasih, soalnya fokus terhadap yunbob dan junhyeong. Padahal ini bakalan lebih cepet dipost di wattpad kalo jadi hijrah (bad blood nunggu selesai dulu, gakuku) kayanya sih partnya binhwan di aads bakalan lebih cepet di apdet di wattpad soalnya suka aja/? Nih buat yang bertanya tanya wattpadku apa: jungiejung_ JANGAN LUPA BACA NOTE/?NYA YA BIAR GAK KAGET/? (btw makasih banyak buat yunjunshipper :D)

Selamat malam minggu! o/