Sick (Semi-Epilog) : Normal POV
.
| Song Yunhyeong || Goo Junhoe || Kim Jiwon |
Angst, sad!end, romance? Friendship (agak dewasa kata-kata ehe)
Buat yang ngikutin ff ini dari awal mungkin familiar sama part ini, tetep baca aja ya karena sudah banyak perubahan~
/
"Kim Ji-aigo! Siapa yang menulis nama 'Bobby' di sebelah tulisan 'Kim Jiwon'? Tulisannya seperti cakar ayam, kalian benar-benar sudah mengganti buku absen setelah semester 1 bukan?"
"Sudah, songsaengnim!" koor semua murid tapi setelah itu terdengar suara cekikikan dari segala penjuru kelas. Tentu saja mereka sudah tau otak di balik itu semua.
"Pasti anak itu lagi yang menulis...ck ck ck jadi Kim Jiwon? Jiwon? Apa dia hadir?"
Kelas yang agak ricuh tadi kembali hening dan sedetik kemudian, suara gesekkan kursi atau meja dengan lantaimu mulai terdengar, bersaut-sautan. Mencari Kim Jiwon alias Bobby, si pemimpin otak bermasalah mereka semua.
Kang songsaengnim menghela nafas berat lalu kembali bertanya sabar –apalagi setelah ia melihat ada murid yang mulai mengecek kantong bajunya sambil melolongkan nama Bobby. "Kim Jiwon tidak masuk? Nah jadi...Song Yunhyeong?"
Yang namanya baru saja dipanggil itu langsung saja dagunya terantuk meja, terkejut namanya dipanggil –padahal kan absen dari Kim ke Song tak pernah secepat itu– mengakibatkan tangan kanannya yang sedang digunakan untuk menahan kepalanya itu kehilangan keseimbangannya. Suara 'gubrak'nya memang tak terdengar keras tapi tetap saja terasa sakit.
"Ah ye, songsaengnim," tanya Yunhyeong berusaha setenang mungkin, tak lupa dengan posisi duduk tegak, wajah yang memandang langsung ke arah guru mereka, kedua tangan yang terlipat manis, dan senyum lebar padahal jelas-jelas di belakang, Jackson dan Mino sudah terjengkak ke belakang, tertawa terpingkal-pingkal melihat 'terlalu profesionalnya' Song Yunhyeong sebagai ketua kelas.
Kalau bukan karena dia berperan sebagai ketua kelas berwibawa yang salah satu tugasnya adalah 'menanggung' semua hal yang terjadi di kelas ini terutama murid-muridnya, mungkin sekarang ia sudah menjambak atau melontarkan makian kepada dua bocah itu, tak peduli akan ditegur guru.
Song Yunhyeong yang kalian kenal dan Song Yunhyeong di lingkungan sekolah bersama teman-teman seumurannya dan perkumpulan anak laki-laki –ditambah lagi kalau ada Jiwon adalah dua orang yang berbeda.
"Tidak ada kabar dari Kim Jiwon? Surat, sms, telpon?"
"Soal Kim Jiwon..." Yunhyeong celangak-celinguk ke segala arah, agak bingung. Tadi jam pelajaran pertama memang teman sintingnya itu tak hadir tapi ia berasumsi karena jam pertama, matematika bukanlah kesukaannya. Tapi kenapa batang hidung –ani, bocah bersnapback terbalik dengan giginya yang tak biasa tak muncul-muncul juga?
"Hoi, Song Yunhyeong. Kang songsaengnim menunggumu tuh,"
"Loh bukannya si bocah Song satu rumah dengan si gigi?"
"Ah ya...Maaf, aku tidak tau, Miss. Maksudku, ada kemungkinan Jiwon izin ke wali kelas lewat telepon atau sms sementara saya belum ke ruang guru hari ini," jawab Yunhyeong masih setenang mungkin –melupakan sikap agak kebingungannya yang harusnya tak ada karena dia seorang ketua, harus tau segalanya–, tetap mempertahankan sikap profesionalnya meskipun matanya bergerak kemana-mana.
Kemana bocah itu? Tumben sekali.
Kang songsaengnim atau Miss Kang –karena ia mengajar pelajaran bahasa inggris–sendiri mengangguk mengerti lalu menutup kembali buku absen, "Oh baiklah kalau begitu...Nah jadi sekarang kalian buka buku halaman..."
Yunhyeong tak mendengar apapun lagi setelah itu. Dia sibuk berkutat dengan pikirannya sementara jari-jari tangannya sedang mengetik rentetan kata penyusun kalimat di ponselnya, mengirimpesan ke bocah snapback yang ia maksud lewat aplikasi yang sedang tren saat ini (gak mau sebut merek/?)
'Hoi, Bob. Kau tidak masuk? Jangan coba-coba untuk kabur dengan berpura-pura tidak membuka hp. Aku tau kau sedang melakukan apa.'
Yunhyeong berdecak pelan. Ia akui mungkin ketidakhadiran Jiwon –atau Bobby, agak geli memanggilnya Jiwon tapi nama Bobby terlalu keren untuknya– karena kesalahannya tapi tetap saja...
Dirinya memang biasa sudah berangkat pagi-pagi buta untuk menghindari para fans, berbanding terbalik dengan Jiwon –yang suka berangkat siang bersama cengiran lebarnya saat para fans mengarahkan kame-
Yunhyeong yang sudah siap untuk belajar setelahpemikirannya selesai bersibuk ria untuk menggubris rasa bersalahnya pada Jiwon –dan kelasnya karena tidak melaksanakan tanggung jawab ketua dengan baik– langsung memukul kepalanya berkali-kali –dengan alat tulisnya yang sudah siap sedaritadi– seperti orang bodoh.
Ia lupa bahwa sudah tugasnya untuk membangunkan soulmate-nya Hanbin satu ini. Apalagi mengingat hanya ia yang satu sekolah dengan huskyrapper itu –ditambah lagi tampaknya Hanbin dan Chanwoo sudah terlalu sekarat untuk sekedar bangkit dari tempat tidur– dan member lain yang masih sekolah juga hobi berangkat lebih pagi dari Yunhyeong, entah untuk curi-curi membeli makanan di luar –snack misalnya atau sekedar latihan setengah jam di studio.
Tapi mau bagaimana lagi, waktu Yunhyeong berjalan melewati kamar Bobby –dan entah siapa roommatenya sekarang pastinya bukan Chanwoo, kamarnya terlihat sepi dan gelap. Hanbin yang tertangkap basah lagi-lagi kabur ke studio dalam kondisi kulit sepucat mayat dan keringat bercucuran tak normal sudah diamankan dan sedang dalam proses digeret oleh Donghyuk dan Jinhwan ke dorm sementara Junhoe saat itu sedang makan dengan tenang dan Chanwoo sedang tidur dengan wajah memerah. Mungkin saja bukan Jiwon saat tengah malam ikut kabur juga? Entah ke tujuan yang sama seperti Hanbin atau jalan-jalan keliling kota untuk mencari inspirasi.
Jadi wajar saja bukan aku tidak masuk ke kamarnya? Oh ayolah, pikir Yunhyeong berusaha untuk tidak menyalahkan dirinya sendiri –atau malah orang lain. Sesaat matanya bergerak ke depan, ke arah gurunya yang kembali memunggungi mereka. Dengan cepat, Yunhyeong mengambil ponselnya yang ada di kolong meja dan mulai mengetik pesan spam ke teman satu garisnya itu.
'Jangan coba-coba untuk mengabaikanku. Kau dimana? Jangan sok-sokan keren membalas pesanku dengan kata-kata 'aku sakit/bolos/pergi jalan hehe izinkan aku ya' jangan coba kirim pesan ke Jinhwan hyung ju-'
Ting!
Sepasang matanya membulat. Ia mengangkat ponselnya ke atas meja, mengelabui gurunya dengan mengangkat buku, berpura-pura seperti membaca padahal sebenarnya ia sedang membaca pesan yang baru saja masuk.
Ah, persetanan dengan peraturan sekolah. Dia baru melanggar peraturan sekali kan, tak akan membuat posisi ketua kelasnya tercabut begitu saja.
Kalau tercabut pun tak masalah juga untuknya. Dia bisa lebih leluasa lagi melakukan apapun tanpa memikirkan title 'ketua kelas'.
'Aku ke rumah bibiku. Sepertinya tenggorokkanku bermasalah, batukku parah. Apa kata-kata yang kugunakan terdengar menyebalkan dan sok keren seperti yang biasa kau bilang, Yun? Hehe.'
Kedua bola matanya memutar malas. Sekali sok keren tetaplah sok keren tanpa kenal waktu dan kondisi ck.
'Bocah hiper sepertimu bisa sakit juga? Yasudah, sana suruh bibimu minta izin ke wali kelas. Aku malas ke ruang guru. Jangan merepotkanku karena disini sudah terlalu banyak orang sakit, kau akan menginap di rumah bibimu sampai sembuh bukan jadi istirahat dengan tenang sana. Cepat sembuh J'
Yunhyeong membalik ponselnya dengan keras dan kembali fokus dengan ucapan Miss Kang meskipun roh dirinya entah sudah melayang kemana.
Apa Bobby benar-benar sakit?
.
.
.
Yunhyeong's POV
"Jadi bagaimana tadi di sekolah? Banyak tugas ya?"
"Ya, banyak sekali. Kau akan menyesal melewatkan kelas Inggris," jawabku lalu kembali menggigit roti dagingku dengan susah payah, keras sekali makanan di supermarket tadi huh.
Terdengar suara kekehan halus dari ujung telepon. Katanya sakit tapi masih sempat juga untuk tertawa?
"Itu kan bahasa keseharianku, aku sih santai saja."
"Aku benar-benar tidak akan mengurusmu kalau kau kembali dalam keadaan belum pulih," ujarku dengan nada tenang seraya menelan rotiku. "Kau terdengar tidak sakit."
"Aduh, sejak kapan sih aku ini suka bohong dan bisa berbohong? Kalau bohong, yang ada nanti gigiku malah makin maju!"
Aku mendengus keras dan sepertinya dia bisa mendengarnya karena setelah itu suara tawanya makin lama makin mengeras.
"Kau itu pembohong ulung, lebih ulung daripada Hanbin. Oh, Hanbin sepertinya sedang dieksekusi oleh Jinhwan hyung karena tertangkap basah ada di studio. Kau ke studio juga?"
"Tidak."
"Hmm, bagus," Kudongakkan kepalaku dan melihat bayangan Jiwon dari jendela kamarnya di lantai dua. Ia lebih memilih menyanggah kepalanya dengan salah satu tangan ketimbang bergelung bersama selimut di kasur empuknya.
"Buka pintunya, aku sudah di depan nih."
Bisa kulihat mata minimalis Jiwon terbelak hebat dan buru-buru ia membuka jendela kamarnya, melongo melihatku lalu sedetik kemudian memaki dengan bahasa yang pastinya bukan korea ataupuninggris.
"Dasar idiot! Daripada buka pintu, sini naik ke kamarku lewat jendela!"
Aku tersenyum miring sebelum melambaikan tanganku seperti orang terkenal.
.
.
.
Author POV
"Eh, bodoh kalau datang bilang-bilang dong," sahut Jiwon tak berhenti-henti menyelipkan kata makian untuk Yunhyeong yang sedang duduk tenang di sisi ranjang hangatnya.
"Kau kan tukang flirt dan pickup lines. Aksi modusan lain sudah seperti bahasa sehari-harimu. Gelarmu kan master. Masa begini saja tidak bisa menebak."
"Sudah kutebak sih tapi kan kalau kau benar-benar melakukan salah satu dari tebakkanku, kau jadi seperti bukan kau," jawab Jiwon masih dengan wajah terkejut sebelum menurunkan sedikit selimutnya lalu bergerak untuk duduk di sebelah Yunhyeong. "Jadi kau bawa makanan kan?"
"Sialan," Yunhyeong memukul telak wajah Jiwon dengan bantal yang ada, menimbulkan tubuh si korban agak terdorong ke belakang namun gelak tawa sekeras di telepon tadi yang terdengar. "Kau harus berterimakasih padaku, kau pasti bosan dan kelaparan. Dan aku pasti orang pertama yang menjengukmu kan?" Yunhyeong menyerahkan sekantong plastik besar berisi snack kesukaan semua member ke pangkuan Jiwon yang masih menunjukkan deretan gigi putihnya itu.
"Jangan memperlakukan aku dengan buruk dong, orang sakit nih," gumamnya tapi tangannya mulai mengacak-acak isi kantong yang dibawa Yunhyeong, meneliti apa semua 'sesajen' yang ia sukai ada disana semua. "Daripada snack begini, aku lebih mengharapkan masakanmu."
Yunhyeong terdiam sebentar sebelum akhirnya mendorong pelan bahu Jiwon –tentunya tak cukup kuat untuk membuatnya limbung lagi. "Dasar tak tau diuntung, aku sudah susah payah datang kesini setelah kebingungan antara kau atau Han-"
"Iya iya, aku tau," Jiwon menutup kembali kantong plastik besar itu, senang juga sakit begini diberi wejangan cuma-cuma oleh sahabatnya yang kelewatan ini. Dengan cepat, ia memasang wajah semanis mungkin dan mengulas senyum lebar. "Terimakasih ya Song Yunhyeong sudah datang kesini, lebih memilihku ketimbang Hanbin dan Chanwoo-mu kan? Kau benar-benar sahabat terbaikku, hyung."
Yunhyeong terdiam kembali tapi sedetik kemudian ia tersenyum lebar, membalas senyuman sahabatnya itu.
Iya, hanya sekedar sahabat.
.
.
.
Esok paginya, Yunhyeong mendapat telepon dari bibi Kim bahwa Jiwon tak masuk lagi karena batuknya semakin parah seperti orang sekarat.
Padahal kata bibi Kim, semalam Jiwon makan makanan yang baik untuk tenggorokkannya dan minum obat juga di hadapan bibi Kim tapisuhu tubuhnya yang kemarin lumayan normal-normal saja saat bersama Yunhyeong tiba-tiba saja setelah Yunhyeong pulang, suhu tubuhnya meninggi dan di tengah malam, suhu tubuhnya sudah menyamai dengan panasnya kompor dan hidungnya mampet, tidak bisa bernafas sampai membuat Jiwon menggigil dan berhasil membuat bibi Kim terjaga semalaman untuk menjaganya.
Jadi,beliau meneleponku hanya untuk mengedumel? Curhat padaku yang tidak tau apa-apa soal kesehatan begini?, batin Yunhyeong selama percakapan dirinya dengan bibi Jiwon ini.
Setelah menjawab 'ye, akan kusampaikan ke guru, bi.' Sambungan telponnya diputus dan Yunhyeong memasukkan ponselnya ke dalam saku dengan bingung.
Ini kan musim panas, kenapa bisa bocah itu bisa terserang flu?
.
.
.
Yunhyeong's POV
"Aku kan bukan uhuk! Anjing yang tidak sakit meskipun sekarang musim panas, musim yang selalu hujan begini," jawab Jiwon diselingi batuk menyiksanya saat aku bertanya tentang perihal kenapa dia bisa batuk dan demam sementara member lain hanya kelelahan saja.
Aku mendengus pelan sebelum mengangkat tanganku, untuk memukulnya tapi kutahan saat melihat sebulir keringat sebesar biji jagung mengalir tak wajar melewati pelipisnya. Ah, aku jadi kasian pada anak ini kan.
"Kau semalam makan snack yang mana? Semuanya? Sekaligus?" tanyaku pada akhirnya. Jiwon mengangguk seperti anak kecil polos yang sedang ditanyai dokter.
Mata segarisnya yang sayu, berlapis-lapis jaket yang ia pakai, jumlah obat yang tak terhitung di atas meja nakasnya, dan selimut tebal di musim panas begini. Astaga.
"Kau yakin tidak mau ke rumah sakit?" tanyaku mulai agak khawatir sekaligus merasa bersalah. Bisa-bisanya aku memukulinya kemarin dan membawakannya snack kering begitu –yang bisa-bisa memicu batuknya– sementara Hanbin dan Chanwoo yang sedang sa-
"Kau mengkhawatirkanku, Yun?" tanyanya setengah menggodaku setelah kepalanya bergerak menggeleng sebagai jawaban. "Tapi yah kalau dipikir-pikir ulang, mungkin aku demam karena kemarin kamu pulang bukannya mengi -"
Aku mendengus sekeras-kerasnya meskipun rasa bersalah tak bisa hilang begitu saja di hatiku.
"Kenapa bisa-bisanya kau mengatakan hal itu dengan nada seperti itu dalam keadaan sakit parah?" tanyaku cepat yang pada akhirnya berakhir aku tidak mengerti apa maksud dari perkataanku. Aku mengibaskan tanganku di depan wajah bingungnya lalu berkata, "Lupakan, aku merasa bersalah sekarang. Kau mau kumasakkan apa? Aku akan menjadi budakmu untuk mengabulkan permintaanmu, ingat hanya sekarang."
Terlihat Jiwon menarik sudut bibirnya, sedikit menyeringai tapi sesaat sebelum ia membuka mulut, aku sudah menyela terlebih dulu.
"Tidak ada permintaan seperti 'masakkan aku pizza' atau permintaan tak masuk akal lain. Kau sakit, Jiwon dan sekarang kau perlu minuman hangat dan makanan berkuah."
"Iya iya, berisik," sahutnya jengah seraya memutar kedua bola matanya. Aku tertawa pelan, agak senang juga melihatnya sengsara begini, jauh lebih mudah untuk membuatnya menurut.
"Mau kumasakkan apa?"
"Entahlah, terserah kau saja." Ow ow ow, seperti seorang Kim Jiwon sedang ngambek. Dia kan gak suka dipanggil Jiwon oleh kawan-kawan satu sekolah, apalagi olehku. Katanya pasti aku sedang marah kalau sedang begitu.
Aku memandang lagi wajah pucatnya. "Sup nasi goreng? Seperti yang ada di komik milik anak gadis yang dibaca Chanwoo."
Jiwon yang sudah membuang wajahnya kembali menatapku sebelum menyeringai, "Harusnya ada bocah Jung itu, pasti sekarang wajahnya merah habis-habisan."
Aku membalas tatapannya dan ikut menyeringai.
.
.
.
Nasi goreng dan sup sudah ada di depan matanya namun Jiwon tetap terus menatap ke bawah –entah ke makanan atau melamunkan sesuatu yang sepertinya terlihat asik sekali.
Ini sudah 10 menit dan supnya bisa dingin.
Aku menghela nafas hebat. Boleh saja aku terkenal baik hati di mata penggemar tapi aku tetap saja memiliki sisi jahat, tak pernah sabar dengan orang sakit.
"Bob, kau tidak memintaku secara tidak langsung untuk menyuapimu bukan?"
"Kalau aku bisa makan sendiri, seharusnya aku tak membiarkanmu di dapur sendirian dan memintamu membawakan makanan ini."
Jiwon terlihat benar-benar payah, aku kembali menilik wajahnya dan mendapati bibirnya kering dan pucat seperti mayat. Tangannya yang kelewat kurus –antara kurus dan berotot– dengan kulit agak coklatnya terlihat tidak meyakinkan saat kudapati keduanya agak bergetar.
Apa kau se-parah ini Kim?
Aku menghela nafas lagi. Aku bukanlah Kim Jinhwan yang penurut, baik hati, lembut dan sabar. Atau Kim Donghyuk yang sangat perhatian sampai terus berurai air matanya. Aku tak sebaik Jung Chanwoo yang polos, mudah dikelabui, dan mau dirsuruh-suruh.
Aku juga tak seperti Goo Junhoe dengan segala macam sikap sialnya atau si mulut besar atau Kim Hanbin dengan sikap keras semi tegasnyanya. Aku adalah aku, dan mereka adalah mereka. Kami berbeda.
Aku hanya orang biasa, tak istimewa, atau pun mencolok.
Aku adalah Song Yunhyeong yang biasa-biasa saja, bahkan selaku sahabat atau teman satu perjuangan dalam grup, aku tidak selalu berada di sisi yang lebih membutuhkan atau bisa diandalkan.
"Kau benar-benar merepotkan. Kalau kau sudah sembuh, kau tidak akan selamat di dorm," Meskipun sudah mengancam, sesendok penuh sup nasi goreng yang sudah kucampurkan tetap bergerak menuju ke bibir Jiwon yang tak berhenti membentuk senyuman. Ck, dasar anak manja.
.
.
.
Aku melirik ke arah jendela, hari mulai gelap dan beruntungnya tidak ada tanda-tanda akan turunnya hujan.
"Aku harus pergi, mereka semua pasti heran kenapa aku belum kembali," ujarku seraya membenarkan letak tas punggungku setelah Jiwon menghabiskan makanannya tanpa tersisa,tanpa keluhan, atau kawan-kawannya.
"Kau pasti tak memberitahukan mereka keadaanku sekarang," sahut Jiwon yang entah sejak kapan senyumannya berubah menjadi seringainya. Sebuah bantal terlempar mengenai wajahnya dan tawanya meledak kembali.
"Kalau aku memberitau mereka, bisa-bisa Jinhwan dan Donghyuk datang dengan airmata berurai, Junhoe muncul beserta makiannya, Chanwoo meledekmu habis-habisan, atau Hanbin akan menyeret tubuhnya kesini –beserta kerangka tubuhnya kalau masih ada."
Tawanya mereda, tergantikan oleh kekehan kecil. "Kau menyimpanku, Song. Untuk dirimu sendiri," Aku mengangguk mengiyakan kata-katanya yang pastinya hanya sekedar lelucon basa-basi seraya merapihkan sedikit ujung ranjang nyamannya itu tanpa melihat perubahan ekspresi Jiwon saat ini.
Aku menyimpannya disini tanpa memberitau orang lain untuk diriku sendiri? Ya, memang benar, karena aku egois.
"Hari ini tak hujan dan suhu diluar normal jadi berhentilah berkeringat dan gemetar begitu. Banyak minum air mineral dan istirahat. Jangan coba-coba untuk menyeli-"
Khotbahku belum selesai tapi Jiwon sudah memotongnya.
"Apa terjadi sesuatu?" tanyanya terdengar aneh. Seperhatiannya Jiwon kepada semua member, dia tidak akan menanyakan 'apa terjadi sesuatu' secara personal. Dia tipe orang yang mau ditanya keadaannya tapi tak pernah menanyakan keadaan orang lain –biasa, tak peka.
Aku menghela nafas, kembali duduk di sisi ranjangnya. Berusaha tak mengerti apa maksud dari pertanyaannya itu. "Aku sudah bilang, Hanbin sakit dia belum sadar sejak kemarin. Chanwoo kelelahan berat. Dan sisanya yang bertahan juga ikut imbasnya, tanpa ada kau dan Hanbin, latihan makin be-"
"Bukan itu, kau pasti mengerti maksudku, Song," Berbanding terbalik denganku, Jinhwan, dan Junhoe yang suka memanggil nama depan para member, Jiwon, Hanbin, Donghyuk, dan Chanwoo tak suka itu. Itu pertanda ada masalah atau mereka marah. Apalagi Jiwon dan Hanbin. Duh.
"Apa maksudnya? Jika ini tentangku, tidak terjadi apa-apa."
"Jangan bertingkah baik-baik saja. Kau kan bukan anak gadis yang suka bilang no problemo tapi sebenarnya benar-benar problem."
Aku mengumpat pelan tetapi Jiwon tetap tak merubah ekspresinya. Masih sekeras batu.
"Kau tidak mengerti dan kau tidak akan bisa memecahkannya. Tidak penting ju-"
"Song Yun-"
"Aish! Baik-baik!" Aku mengacak rambutku kesal lalu mulai naik ke atas ranjang Jiwon. Kami duduk berhadapan dan sepasang mata kami saling menatap. Jiwon tersenyum penuh kemenangan sementara aku dengan senyum gentirku.
"Hanya...Yah perihal...Apa kau percaya setelah mencurahkan seluruh hidupmu untuk seseorang, mengorbankan waktumu untuknya, selalu bersamanya akan meluluhkan hatinya?" Jiwon bungkam, ekspresinya mulai berubah. Tapi sedetik kemudian, ekspresi seriusnya muncul kembali. Dia berusaha untuk menanggapinya dengan respon biasa tapi terlambat, aku sudah menyadarinya –jauh sebelum aku menanyakan hal ini padanya.
Bohong jika aku tadi bilang Jiwon tidak akan bisa menjawab hal ini. Dia pasti sangat memahaminya. Karena dia juga mengalaminya. Sama sepertiku.
"Percaya, tentu saja. Akhirnya Yang sangjangnim luluh juga kan setelah melihat usaha kita dan menjanjikan debut dalm jangka waktu dekat?"
Jiwon tersenyum lebar seakan-akan semua masalah sudah selesai sementara aku tersenyum palsu. Jiwon berpura-pura bodoh untuk tidak mengerti maksudku dan aku sedang berusaha berpura-pura bodoh untuk mempercayai kata-katanya.
Karena mau mengejar sampai kapanpun, hati Hanbin tetap untuk Jinhwan hyung dan Jiwon tak bisa menggantikannya. Sama sepertiku. Mau sampai kapanpun sekalipun Jiwon sudah menyerah tentang Hanbin, aku tidak akan memiliki Jiwon. Masih ada Chanwoo, Donghyuk, dan Junhoe yang jauh memerlukan kami.
Kami satu sama. Seri.
"Hah, sudahlah," Aku melompat turun dari ranjang, tak bisa menutupi ekspresi kecewaku. "Ingat, jangan coba-coba menyelinap ke dapur bibimu untuk makan mie soba," sahutku melanjutkan ceramah yang tadi sempat terpotong. Kuusap wajahku kasar. Rasa kantuk yang mulai menyerang atau aku mulai melakonis? Ini kan sudah keputusanku untuk tidak akan bersama Jiwon apapun yang terjadi. Chanwoo masih memerlukanku, Donghyuk sayang setengah mati pada Jiwon dan tak bisa hidup tanpanya, dan Junhoe...entahlah. Terlalu banyak yang dikorbankan jika aku nekat, lebih baik terluka satu orang daripada semuanya kan?
Ya, Jiwon pasti sakit hati berat jika tau aku, Song Yunhyeong yang selalu berkoar-koar dengan melabeli dirinya sebagai 'sahabat terbaik Jiwon, pengganti Hanbin jika tak ada' di lorong sekolah –sok akrab sembari memeluk lehernya ternyata menyukai dirinya. Aku, si Song Yunhyeong yang selalu bertindak tak baik hanya kepada dirinya ternyata menyukai Kim Jiwon.
Hah, benar-benar menggelikan. Ini cerita kan bukan genre drama, hanya tragis.
Ekspresi Jiwon tak tertebak, ia hanya mengangguk-angguk seperti pajangan kucing di etalase toko, mungkin berpura-pura bodoh untuk kesekian kalinya. Atau justru memang dia bodoh?
Aku menghela nafas lagi tanpa alasan yang jelas, berhadapan dengan Jiwon selalu membuatku terus-menerus sakit kepala.
"Aku pergi dulu. Karena aku sudah jadi budakmu seharian, besok kau harus masuk. Jangan terus menyusah-"
Jiwon membuka suaranya tapi aku bertingkah tidak pernah mendengarnya dengan (buru-buru) keluar dan menutup pintu kamarnya dengan rapat. Tapi aku masih bisa mendengarnya. Mendengar dengan jelas tiap kata yang terdengar serak itu keluar dari bibirnya.
Sudahlah, Song. Jangan banyak berharap.
Aku melangkah menuruni tangga, berharap aku pergi dan tak akan kembali menemuinya lagi.
.
.
'Tidak bisakah kau tinggal? Dan kita akan memulai semuanya dari awal'
.
.
"Jadi...bagaimana keadaaanmu?"
Aku yang masih sibuk mengaduk-aduk vanilla latte-ku terperangah mendengarnya. Setelah sekian lama tak bertemu...ia hanya ingin menanyakan keadaanku?
Dasar, bodoh seperti biasanya. Tentu saja aku jauh dari kata baik-baik saja!
Aku berdehem pelan sebelum menjawab, "Bisa kau lihat sendiri kan? Kau tak perlu khawatir karena aku bersama Junhoe, huh kupikir aku akan berakhir menjadi babysitternya ternyata dia justru terlihat seperti lebih dewasa dari-"
"Kalau bersamaku...pasti tidak akan sebahagia ini ya?"
Sepasang manik mataku melotot ke arahnya. Apa-apaan itu? Kenapa dia berkata seperti itu?
"Kau...masih bersama Donghyuk kan? Kalian tidak berpisah kan? Aku heran mengapa kau bisa menemuiku semudah ini," serobotku cepat. 5 tahun kehilangan waktu atau informasi dari mereka semua membuatku bisa gila!
Pemuda yang dahulu lebih suka memakai baju seadanya yang penting ada snapback tertawa pelan. Huh? Apa yang lucu?!
"Kkk~ berapa umurmu sekarang, hyung? 25? 26? Kau masih sama seperti dulu, tetap polos."
Aku mendengus keras mendengarnya. Ha-ha sangat lucu, Kim Jiwon. Apa dia tidak tahu waktuku itu tidak banyak?
"Kami baik-baik saja, Donghyuk sejak dua hari lalu pulang ke rumah ibunya. Katanya dia rindu. Setelah mendengar kabar pertunangan Jinhwan hyung dan Hanbin semakin dekat, Donghyuk menjadi lebih 'dewasa'."
"Kalian sendiri kapan?" Jiwon tertawa keras mendengarnya. Hah, selalu saja. Pasti dia akan menjawab 'itu belum ada di rencana masa depanku' ugh.
Aku tersenyum dibuatnya. Ah, anak itu...sudah besar saja. Aku jadi penasaran bagaimana penampilannya sekarang, tapi dia selalu berusaha menghindari telepon atau berkontak denganku...
"Kau sendiri bagaimana bisa keluar dengan mudah tanpa ada Goo Junhoe atau Jung Chanwoo? Apalagi aku meminta kita bertemu di cafe tengah kota."
Pertanyaan yang sudah kutebak tetapi tetap saja kelu rasanya untuk menjawab. Ini mungkin kesempatan terakhirku untuk bertemu Jiwon –ah tidak hanya dia saja tetapi semuanya, aku benar-benar ingin bertemu dengan Hanbin yang sedang ada proyek di Kanada dan Donghyuk.
"Chanwoo sedang reunian dengan teman-temannya, dia mengantarku terlebih dahulu kesini dan mungkin akan pulang sedikit malam jadi waktuku agak...lebih banyak? Junhoe sendiri..." aku meneguk air liurku dengan susah payah.
Saat aku sibuk merangkai kata-kata seminimal mungkin, Jiwon tiba-tiba memotong.
"Kau tau? Tawaranku saat aku sakit yang dulu masih sama dan masih terus berlaku. Bedanya sekarang bukan aku yang sakit, tapi kau."
Ya.
"Tidak bisakah kau tinggal? Dan kita akan memulai semuanya dari awal."
Itu yang ia katakan sekitar 5 tahun lalu dan seberapa keras ia terus menawarkan, sekeras mungkin aku menolaknya.
"Kau tau kan?" Aku mengulas senyum sesabar mungkin. Kita berdua hanya dipisahkan oleh meja kayu ini, tak menutup kemungkinan kalau aku akan menarik kerahnya lalu memukulnya sekuat tenaga kalau-kalau Jiwon bersiap untuk meremehkan Goo Junhoe di hadapanku seperti yang sudah-sudah.
"Aku sudah terlalu terlambat. Ya, aku tau," Aku hendak menggelengkan kepalaku namun dia ada benarnya juga. "Jinhwan hyung," lanjutku berusaha untuk bisa bernafas senormal mungkin.
Keningnya berkerut dalam. Mungkin bertanya-tanya apa hubungannya semua ini dengan Jinhwan hyung.
"Jinhwan hyung menjadi slave Junhoe kalau kau tidak tau. Menjadi pemuas nafsu lebih tepatnya, kalau Hanbin tidak ada karena pergi maka Jinhwan hyung akan dibopong ke apartement kami dan...sudah bisa ditebak apa selanjutnya. Sejak kapan? Entahlah, aku sudah tau kalau Junhoe menginginkan Jinhwan hyung karena tubuhnya setahun sebelum kita semua berpencar dan mulai bertindak sejak 3 tahun lalu..." Aku mengulas senyum pahit, mengabaikan Jiwon yang tampak sangat terkejut. Aku tidak tau alasan dan enggan untuk mengetahuinya; kalau aku jadi dia, aku akan sakit hati.
"Jinhwan hyung tentunya menolak tetapi tidak bisa berbuat apapun. Setiap aku melakukan kesalahan atau mood Junhoe buruk, Jinhwan hyung akan berakhir mengenaskan. Hanbin tidak tau apa-apa maka dari itu..."
"Song Yunhyeong," Jiwon terlihat seperti kehilangan nafasnya saat memanggil namaku. Aku yang sejak awal sudah menundukkan kepala untuk menahan tangis perlahan-lahan menatapnya.
Ekspresinya mengeras meskipun air mata sudah menggenang.
"Jangan bilang kau-"
"Ya," suaraku terdengar begitu menyedihkan. "Aku memaksa Hanbin untuk segera bertunangan dengan Jinhwan hyung. Hari ini, tepatnya pagi ini aku sudah berhasil membebaskan Jinhwan hyung dari Junhoe dengan membiarkannya terbang menyusul Hanbin lalu kabur terserah mau kemana asalkan Junhoe tidak-"
"Hanya mendengar ceritamu saja aku tau bagaimana watak dari Junhoe DAN KAU MASIH NEKAT MEMBEBASKAN JINHWAN HYUNG?!" Tangisku seketika pecah. Tak seperti biasanya yang tak bersuara, kali ini suara tangisku terdengar keras dan begitu memuakkan.
Terdengar suara desisan sebelum disusul dengan suara tendangan pada meja malang ini.
"Geez, apa kau tau apa selanjutnya –tidak, tetapi resiko yang akan menimpamu? Junhoe pasti mempunyai alasan mengapa 4 tahun bersamamu dan kalian sudah bertunangan 3 tahun tetapi dia sama sekali tidak men-"
"Aku tahu," sahutku lirih, menahan suara isakkan yang sudah di ujung lidah. Aku kembali memandang ke bawah, terlalu takut untuk menatapnya. "Tapi aku percaya kalau Junhoe tidak akan menyakitiku mekipun hubungan kita sudah sangat tawar karena aku-"
"Yunhyeong hyung," Suaranya melembut. Salah satu tangannya bergerak untuk mencapai lengan kananku tetapi aku menepisnya. Ini yang ia lakukan saat acara pertunanganku selesai, seakan-akan membawaku kabur tanpa memikirkan nasib Donghyuk adalah penyelesai masalah.
"Tidak tidak, hyung tidak. Dengarkan aku dulu," Suaranya semakin melunak. Aku menggelengkan kepalaku tetapi Jiwon berhasil menggenggam tangan kananku, menggenggamnya lembut dan penuh kehati-hatian.
"Keputusanmu sangat beresiko," bisiknya lembut dan ia berusaha mengusap telapak tanganku. "Kau...menjanjikan akan menikah dengannya kan? Pasti jaminan yang hyung berikan sangat besar sampai batang hidung Junhoe belum terlihat sampai saat ini karena ia melepaskan semua kenginan duniawinya namun sebagai gantinya, hyung memberikan seluruh milik hyung padanya."
Aku masih terdiam seribu bahasa saat Jiwon mengarahkan tanganku ke arah wajahnya.
"Apapun yang terjadi, aku akan selalu ada untukmu, Song Yunhyeong. Aku akan mendukung keputusanmu, kalau kau menyesalinya aku akan selalu ada. Aku akan tetap mencintaimu, hyung."
Aku memejamkan mataku seerat mungkin, sama seperti yang Jiwon lakukan saat permukaan kulit tanganku yang dingin mengusap lembut kulit wajahnya yang hangat.
Tidak apa-apa, Song. Kau harus kuat. Hanya perlu menjamin masa depan Chanwoo tanpa dirimu dan melepaskan Jiwon lalu semuanya selesai.
.
lah?repost?
.
IYAAAA YANG MAREN TERNYATA ERROR HUHUHU BETAPA SLOWRESPONDNYA SAIA TENTANG HAL INI:"
guest : aku? juga sedih bikinnya. why i so baper (bikinnya pas, pas lagi baper. takis) IYAAA DONGIE JAHAT BGT KOK DINISTAIN SIH DISINI BIASANYA MAKHLUK TERANIYAYA KEK JINAN JUGA HUHU:( yaps, kasian juga cause i feel u dongie:) amitamit, jangan sampe bubyar kek gitu:( MAKASIH UDAH BACA FF ABAL INI! MARI RAMAIKAN FF DONGIE/?
mau ngomong apa nih? lupa w:(( yaps, pastinya ini ngecewain bgt dan panjang banget karena telat dan ternyata hanya 'repost' why so funny lol. lupa gils mau ngomong apa, daripada banyakkin word ya kak bubay dulu deh. mungkin ffn kzl sama w karena maren senen, selamat beristirahat! -jung
