Sick (Prolog) : Semua Tentang...
/
| all of iKON's member especially; Song Yunhyeong, Kim Jiwon, Goo Junhoe, Jung Chanwoo |
/
| Friendship, Life, opening-Romance? (becareful, sad ending) | (ini 13 halaman, prepare for ngantuk-ness)
Kim Hanbin
Aku hanya ingin hidup dengan nyaman dan tenang.
Aku hanya ingin membuat keluargaku bangga.
Aku ingin semua member yang menjadi tanggung jawabku bahagia.
Tak apa jika itu semua memerlukan pengorbanan yang berarti; mengorbankan masa muda, mempertaruhkan masa depan, melenyapkan senyum di bibirnya.
Setelah badai berlalu, selalu ada pelangi di baliknya.
Karena setelah itu, aku akan tersenyum sepuas, selama, dan selebar mungkin.
Melihat mereka semua bahagia, tertawa, dan tersenyum senang sudah memiliki arti tersendiri bagiku.
Karena bahagia sesederhana itu.
Jika mereka bahagia maka aku akan ikut bahagia.
.
.
~What am i living for? I living for my fans, for my team, for my family~
.
.
Semakin lama aku memandangi kertas di hadapanku, semakin sering keningku berkedut nyeri.
'Annyeonghaseyo, salam kenal. Nama saya Kim Jiwon, ah tidak-tidak tetapi Bobby Kim! CYD Kim haha! Aku ingin menjadi rapstar yang hebat! Mohon bimbing saya dengan baik!'
Beban lain baru saja bertambah hari ini.
Dan tekanan semakin mendesaknya di sudut ruangan tergelap miliknya.
'Kamu kapan pulang?'
'Debuthago...eomma...tunggu sampai aku debut, yakso'
"God..." Ia mengacak kasar rambutnya yang belum cukup lebat untuk ditata macam-macam seperti dulu. "Janjiku pada eomma...pada Hanbyul bahkan belum terwujudkan dan sekarang aku malah menjanjikan kebahagiaan seseo-"
"Hanbin?"
Hanbin –nama pemuda tersebut buru-buru memasukkan kertas ke dalam laci dan merapihkan alat tulisnya sebelum memutar bangku dan menunjukkan senyuman awkward.
"Ya tuhan," Seseorang (ternyata pemuda, siapa lagi huh) yang mengejutkannya tersebut bersandar lemah pada dinding studio –tentunya setelah ia memasuki lebih dalam ruangan sempit ini. "Kupikir kau kabur, Bin!"
Hanbin terkekeh pelan sebelum mengamit lengan pemuda mungil tersebut untuk mendekat. "Mau kabur kemana hm? Ke Busan saja nyasar."
"Busan kan jauh," cibirnya sebelum memilin-milin tali pengikat hoodie Hanbin.
Pemuda bermarga Kim ini menatap heran hyung kesayangannya. Kenapa dia bisa berada disini? Bukankah mewawancari sohib baru yang jauh-jauh datang dari Virginia lebih menyenangkan? Udara malam ini juga terasa sangat dingin, bagaimana kalau dia-
"Bin?" Yang dipanggil tak bisa menyunggingkan senyum. Bin, sederhana tetapi penuh makna. Orang-orang selalu memanggilnya 'Jiyong kecil' atau 'harapan YG baru' seraya menepuk-nepuk bahunya tanpa mengetahui bebannya terasa makin berat tetapi 'Bin' terdengar menyenangkan. Hanbin selalu suka saat hyungnya –Jinhwan memanggil namanya yang terkesan kaku itu dengan kata 'Bin'. Entah sejak kapan ia menyukainya.
Kaitannya pada lengan Jinhwan semakin menguat. Jinhwan pastinya hendak menceritakan alasan di balik kedatangannya saat ini.
"Tidak apa-apa?"
Keningnya berkerut sejenak sebelum tawanya meledak. "Hahaha! Aku sehat-sehat saja! Hyung apa maksud-"
"Soal..." Pilinannya pada tali hoodie Hanbin semakin menguat. "...Jiwon. Bobby."
Hanbin belum memikirkan sampai sejauh itu.
Dalam rencananya, baru ada dirinya, YG sajangnim, Kwon Jiyong sunbaenim, Jinhwan, ibunya, dan Hanbyul.
Belum ada kata 'Jiwon' atau 'Bobby' di dalamnya.
Padahal jelas dia akan debut sebagai sebuah grup. Semakin anggota banyak bergabung, semakin cepat datangnya tanggal debut.
Bahkan ia tak sempat berkenalan lebih lanjut karena kapasitas otaknya sudah seperti melebihi batas.
Mungkin selama ini dia terlalu egois, belum pantas menjadi seorang pemimpin.
Mungkin dia hanya memikirkan dirinya saja dan kebahagiaan seorang diri.
Seharusnya penambahan jumlah member sudah dapat ia duga dan tangani dengan cepat. Menunjukkan bahwa penambahan jumlah bukanlah sebuah masalah, kehadiran mereka bukanlah malapetaka.
Hanya tinggal mencocokkan jenis suara, memasukkan bagian yang sesuai untuk mereka dalam lagu, membuat koreo yang sesuai tak tak tak!
...Lalu bagaimana kalau member yang baru masuk ternyata baru mulai dari awal? Benar-benar... 'mentah'?
Hanbin tertawa remeh. Ini YG Entertainment bukan sekolah dance atau tempat kursus apalah itu! Kau tidak bisa dan tidak mampu? Keluar saja!
Tetapi jalan pikiran Yang Hyun Suk tak mudah untuk ditebak. Kalau menurutnya orang tersebut mempunyai aura menarik atau ciri khas –yang bisa saja tak sesuai dengan 'swag' YG maka beliau akan bilang 'ya' tanpa peduli apakah dia sudah tau apa saja teknik menyanyi atau basic menari.
"Bin?"
Hanbin tersadar dari lamunannya.
Persetanan dengan petinggi apapun itu.
Mereka bukanlah beban.
Mereka perlu diarahkan.
Dan dia yakin ia bisa melakukannya.
Kim Hanbin seorang leader kan?
"Tidak masalah kok hyung!" Jinhwan mengadu pelan saat telapak tangan besar dongsaengnya menepuk keras punggungnya namun si pelaku tak menyadari tindakkan 'kekerasan'nya tersebut. "Aku pergi karena mau membuat lagu lagi hehe. Kenapa aku harus menyerah dan depresi? Justru ini terasa seperti tantangan!"
Ya, anggap saja ini tantangan yang membuat kehidupan trainee-nya tidak membosankan.
.
.
Jiwon tidak terkejut saat melihat Hanbin berdiri sendirian di pagar pembatas atap gedung tua ini.
Kemana lagi Hanbin pergi kalau tidak kemari? Ini gedung yang sangat tinggi sampai kau terasa dapat menggapai bintang-bintang yang gemerlap di langit malam. Atapnya benar-benar datar dan rata –gersang saat siang namun nyaman saat malam. Atap dorm mereka atau YG Building kalah dari ini semua.
"Hoi dumbass," Hanbin tidak perlu repot-repot menoleh. Saat semua orang meng-admire kemampuannya terutama saat iKON menyabet piala penghargaan di usia muda, hanya Jiwon yang memakinya dumbass; makian yang ditunjukkan terus kepada Hanbin saat kasus ayahnya dulu.
Dulu kata-kata itu terasa 'tepat masuk ke hati' namun juga terdengar konyol karena teman-teman idiotnya memakinya seperti itu tepat di hadapan Jiwon yang jauh lebih mengetahui kosakata makian dalam berbagai bahasa.
Kenangan yang indah namun sebentar lagi akan terlupakan.
Bahkan sekarang Hanbin mulai merasa perih mendengar kata itu. Takut akan rindu makian yang tertujukan padanya.
"Kau tau kan," Bahu tegang pemuda yang masih menyukai hello kitty ini terangkul. "Kalau keputusanmu itu-"
"Salah, egois, tak berperasaan. Ya ya ya, aku tau tak usah dijelas-"
"Eih, siapa bilang?" Hanbin menatap sangsi dan Jiwon mendelik.
Jiwon berdehem pelan. "Bukan seperti itu. Kau berpikiran rasional namanya. Tumben-tumbenan. Kau yakin nih?"
"Hanya itu satu-satunya jalan."
Jiwon mengangguk setuju.
"Aku benar-benar berjanji hyung."
"Hm?" Jiwon menoleh penuh ke arah Hanbin di sampingnya. Hanbin masih sibuk memandangi suasana malam Seoul.
"Aku sudah berjanji pada kalian."
"Hey," Pemuda bermata kecil ini tak bisa menahan diri untuk menyikut lengan Hanbin meskipun tau itu tak akan mempengaruhi keseimbangan kawannya.
Sebenarnya ada keinginan kecil di dalam hatinya untuk mendorong Hanbin saja dari atap gedung ini. Kesal melihat Hanbin terlalu memaksakan dirinya.
"Kita bukan anak kecil lagi tau? Dan kau sepantaran dengan mereka juga. Kau sudah punya kehidupan pribadi sendiri; masih ingat ibu dan Hanbyul bukan? Member lain juga sudah punya kepentingan masing-masing –bukannya terlihat seperti individualisme tetapi keluarga lebih penting dari segalanya. Lebih diutamaan. Kalau kau terus seperti ini,"
Jiwon sengaja memberi jeda, sengaja untuk mengetahui bagaimana respon yang lebih muda ini. Ia sudah memperingati lebih dari dua kali di waktu berbeda-beda, di waktu dimana hidup mereka benar-benar sudah jatuh.
"...Hanya kau yang akan terluka karena terlalu memikirkan kami sementara kami...kau ingat Jinhwan hyung bukan? Bagaimana hubungan kalian nanti?"
"Maka dari itu aku membawa Jinhwan hyung bersamaku," jawab Hanbin mantap –atau lebih tepatnya mengabaikan pernyataan yang dibeberkan untuk sekian kalinya oleh Jiwon.
"Tapi...aku memang belum merencanakan ke depannya. Aku harus mulai darimana, dengan Jinhwan hyung, lalu apakah harus meninggalkan ru-"
"Hanbin," Jika Hanbin lebih menyukai Jinhwan memanggilnya 'Bin' dengan suara lembutnya, maka ia lebih menyukai dipanggil Hanbin oleh Jiwon. Sarat akan kedataran dan nadanya penuh penekanan memang tetapi itu selalu membuatnya tersadar dari pikiran-pikiran negatif atau kemungkinan yang sangat mustahil, sama seperti pengaruh mendengar kata 'Bin' keluar dari bibir kecil Jinhwan.
"Kita sudah tidak muda lagi tau? Otakmu itu...jangan terus kau paksa bagi-bagi. Di usia matang seperti ini kita harus sudah tau mau fokus kemana. Jika dulu dance, membuat lagu, variety show, tekanan agensi, tanggung jawab member, keluarga, dan Jinhwan hyung dapat kau tangani sekarang tidak lagi...Kau harus pilih salah sa-"
"Bagaimana denganmu...hyung?"
"Hah?" Jiwon menunjuk dirinya sangsi. "Aku?"
"Ya," Hanbin mengulas senyum lebar. "Hyung, sepertinya hyung lebih mengkhawatirkan semua member melebihi diriku."
"Oh...itu..." Jiwon menggaruk tengkuknya yang tak gatal, kembali ke dalam mode kekonyolannya dahulu. Dia sudah mempunyai banyak rencana hanya saja...
"Sejauh ini aku mau beristirahat dulu bersama keluarga. Soal calon...aku sudah punya, keluargaku setuju tapi..."
"Bukan Donghyuk?" Jiwon terdiam, tak punya nyali untuk membalas atau menatap Hanbin barang sejenak saja. Pemuda manis itu sudah Hanbin anggap sebagai adiknya sendiri jadi tebak saja apa yang terjadi kalau Jiwon...
"Karena itulah aku tidak bisa hidup tenang," keluh Hanbin membuang pandangannya, gemerlapnya Seoul di malam hari seperti mengejek hidupnya saja.
"Adik-adikku, member lain...bahkan mereka tidak mau setelah ini mau kemana, tidak tau perasaan sendiri, tidak tau apa itu cinta...bagaimana bisa aku membiarkan mereka hidup di zaman kejamnya duni-"
"Fokus saja pada kepentinganmu!" seru Jiwon agak gusar. Ucapan Hanbin...tidak bisa ia elak tetapi Jiwon yakin ia bisa mengatasinya; tak peduli hasilnya baik atau apa setidaknya dia sudah berusaha. "Kami polos seperti ini karena kau terlalu melindungi kami, menutup mata kami dari kejamnya dunia. Kami tidak dewasa karena-"
"Tuh kan benar," Hanbin tertawa renyah, tawa pertama yang Jiwon dengar saat berkenalan dengan Hanbin secara 'terhormat'. Tawa berkat tindakan konyolnya kala itu. Tawa yang langsung membuatnya jatuh hati pada seorang Kim Hanbin.
"Ini semua salahku. Jadi aku jugalah yang harus menyelesai-"
"Hanbin!" Jiwon berteriak marah. Sudah cukup. Saat Hanbin mengambil keputusan untuk membuat iKON bubar secara tak langsung di atap gedung YG tadi, Jiwon benar-benar ingin memukul rahangnya telak sampai babak belur tetapi saat itu atensinya terfokuskan ke hal yang lain.
Saat ini ia agak merasa menyesal karena lebih mementingkan kepentingannya ketimbang menutup mulut Kim Hanbin. Seharusnya benar, ia memukul Hanbin saja tadi agar dia tidak bicara macam-macam begini.
"Usia kita semua sudah matang, sudah saatnya Donghyuk berpikir dewasa bahwa kita semua mempunyai kehidupan pribadi juga, berpisah bukan berarti ikatan 4 tahun lebih kita ini hilang. Biarkan saja Dong-"
"Bagaimana dengan Junhoe?"
Jiwon terdiam.
"Yunhyeong? Bahkan Yunhyeong lebih tua dariku dan dirimu!"
"Aku...tidak tau," jawab Jiwon putus asa. "Aku sama sekali tidak tau mengapa Junhoe mengambil keputusan seperti itu dan jalan pikiran Yunhyeong ataupun Junhoe...tidak bisa ditebak. Mungkin Yunhyeong pikir ini akan sedikit membahagiakan Junhoe jika ia memutuskan untuk bersama si Goo-"
"Itu akan menjadi awal dari masalah baru."
Jiwon sedikit bisa bernafas lega. Dari nada bicaranya, Hanbin belum tau siapakah yang sudah mengisi hatinya setelah dirinya sendiri.
"Aku tau," Jiwon menjawabnya ragu. "Setidaknya mereka punya Chanwoo untuk mencegah hal yang tidak diinginkan, di sisiku ada Donghyuk untuk menasihati Junhoe, dan Jinhwan hyung...bisa menyadarkan mereka berdua."
Hanbin tidak berkata apapun lagi setelah itu. Pemuda dengan bahu tegangnya hanya berlalu saja melewati Jiwon dan memilih menuju ke tangga –bermaksud turun.
Jiwon tidak mengerti jalan pikiran Hanbin. Sejak awal bertemu, sejak mereka menghabiskan waktu bersama, sejak dirinya jatuh hati pada Kim Hanbin, dan sekarang.
Tetapi rasa untuk membagi beban berat yang ditanggung Hanbin sendirian masih tetap ada, meskipun keinginannya tak sama seperti dulu.
Dulu, Jiwon mau membantu berbagai beban karena ia mencintai Hanbin sekarang karena Hanbin sangat perlu pertolongan.
Atau Jinhwan yang sesungguhnya memerlukan pertolongan?
.
.
Aku tengah menaikkan sebelah celana training saat melihat bayangan pemuda di ujung jalan marah-marah pada ponselnya sendiri. postur tubuhnya menunjukkan bahwa umurnya tak beda jauh dariku tapi tingkah tak bisa diamnya-
"Hei, dari sini ke sungai Han kan cukup ja-yah yah yah! Song Yunhyeong! Jangan tutup teleponnya! Tak sopan, aish..."
Song Yunhyeong?
Kepalaku sedikit dimiringkan.
Siapa lagi yang memanggil Yunhyeong hyung selain si setengah idiot itu?
"Kimbab? Apa yang kau lakukan disini?"
Pemuda tersebut mengalihkan pandanganku dari ponsel bodoh itu dan menatap idiot lurus ke arahku yang langsung memasang ekspresi datar.
Jelas itu benar-benar seorang Kim Jiwon.
"Ah, Hanbin?" Dia masih nyengir pedopil gila ke arahku dan berlari kecil seperti anak-anak ke arahku. Tentunya, aku langsung melempar tatapan jijik akan cengirannya.
Diam-diam melihatnya muncul membuatku merasa agak tenang.
Masa bodoh, bukan posisi yang tepat untuk mengatakan hal ini tetapi aku bersyukur melihatnya disini dengan ekspresi bahagia tanpa harus mengetahui alasan dibalik kedatangannya. Setidaknya dia tidak separahku yang overworked, yang terpenting anak satu ini ingat dorm dan kami semua tanpa perlu repot-repot kami –atau lebih tepatnya, Yunhyeong menyeret tubuhnya yang tak bernyawa karena overworked atau minimal menghancurkan pintu practice kami.
"Kau pasti tadi habis menelepon Yunhyeong-hyung," sahutku mulai mengulas senyum sumringah setelah membalas salam hi-fivenya. Cengirannya makin lebar saat aku merangkul bahunya dan kami mulai jalan beriringin seperti kembar dempet.
Dia tergelak hebat sebelum mengambil langkah-langkah. Berkat posisiku di sebelahnya, aku bisa lebih memperhatikan garis rahangnya.
Tenang, Hanbin. Selama ada Jiwon maka semua member akan baik-baik saja. Jiwon bisa diandalkan jadi kalau kau tidak ada-
Buru-buru aku menggelengkan kepala kuat-kuat. Bukan, setidaknya dia bisa menjaga diri dan orang lain. Aku tidak perlu memikirkan bagaimana ke depannya lagi kalau debut kami hanya janji semata.
Senyumku makin melebar. Bahkan Jiwon tampak bersinar dan mampu menjaga Jinhwan hyung kalau aku tidak pernah bisa mampu untuk menjadi pendamping hidupnya.
Atau mungkin...Yunhyeong, Donghyuk?
Aku tidak perlu khawatir. Ya ya, tenang saja.
"Hey," Aku menjotos lengan atasnya, cengirannya semakin menggila dan itu membuatku ngeri. "Cengiranmu itu kan selalu muncul kalau ada Yun-hei! Kau dengar aku tidak, kimbab?!" tanyaku mulai memukuli punggungnya berkali-kali tetapi ia tidak merespon dan masih berdiri tegak dengan posisi lenganku sudah memiting leher. Sialan sekali anak ini! apa aku harus menarik kata-katak barusan? Dia sama sekali tidak berubah menjadi dewasa! Sama-sama mengkhawatirkan seperti hari pertama training-nya!
"Dengar kok, Bin," ujarnya setenang air seraya melepaskan pitinganku. Biasa, sok keren level Kim Jiwon sialan. Dia selalu sok keren kalau itu menyangkut Yunhyeong hyung. Apa benar dia bisa menghidupi Yunhyeong hyung di kehidupan nanti?
"Pasti semua ini gara-gara Yunhyeong hyung!" tudingku yang membuatnya menunjukkan wajah penuh tanda tanya. Aku memberikan gestur dengan menggoyangkan ponselku sampai kepalaku tetapi dia semakin tampak kebingungan.
"Ada a-"
"Sana bob jadian sama Yunhyeong hyung! Ckckck, ternyata dia lebih over daripada seorang Kim Jinhwan...tadi dia meneleponku, ceramah panjang lebar makanya aku mau pulang apalagi waktu bilang kau membawa ma-"
"Eeeh! Tunggu dulu!" serunya menyetop ocehanku yang sedang asik-asiknya. Aku membuka mulut untuk menyerukan protesan saat ia menatap lurus ke depan, seperti tengah menerawang.
"Aku dan Yunhyeong tidak terjadi apa-apa. Kami tidak naksir satu sama lain, bahkan aku tidak berpikir nanti ke depannya aku dan Yunhyeong kalau bersama entah jadi seperti apa," elakku terlihat setengah bergumam. Mungkin dia...membayangkannya?
Aku menganggukkan kepalaku. Tidak terdengar buruk juga tapi tak bisa dibayangkan. Yunhyeong hyung mungkin awalnya kepayahan tapi Kimbab hanya sulit diatur bukan menyusahkan. Apalagi mereka sejenis; tidak pernah terlihat suka pada seseorang atau bercerita tentang cin-
-tunggu, apa?!
Keningku berkerut sejalan dengan telapak tanganku yang melayang ke arah belakang kepalanya seraya mengumpat.
"Kenapa responmu seperti itu?! Aku tau sekarang apa yang kau pikirkan tentangku dan sekarang aku mengucapkannya dalam keadaan sadar, bodoh! Bukan mabuk atau apapun! Memangnya aku kau, huh? Aku tidak mendukung kalian, kasian Yunhyeong hyung karena nanti dia akan mengurus orang seper-"
Jiwon menepuk pundakku yang baru terasa begitu kaku dan tegang seperti kawan lama lalu berkat sunggingan senyum normal –tanpa ada pedopil, respon jijik, atau gigi kelewatan maju ini diumbar kemana-mana. Hanya senyum biasa.
Aku sempat tertegun sebentar saat ia bersuara.
"Tenanglah, Kim. Kita pasti debut, iKON pasti debut. Yang sajangnim akan benar-benar rugi dan bangkrut kalau tidak mendebutkan kita. Apalagi kita baru ditolak 30 lagu, masih ada 20 lagu lagi untuk ditolak seperti Winner hyung. Jadi jangan terlalu memaksakan dirimu, oke? Santai saja, seperti sedang bermain, sepertiku hehe,"
"Tsk," Wtf menggelikan sekali dude! Aku melepaskan rangkulannya lalu berjalan beberapa langkah di depannya dengan gaya yang selalu dicemooh netizen sebagai gaya arogant, kekurangan bagi artis YG bagi mereka –apalagi untuk dijadikan sasaran cemoohan kami berdua. "Sok puitis, nilai bahasa Korea-mu saja di suneung kemarin masih parah sekali. Lagipula apa tadi? Kim? Margamu juga Kim, stupid."
Tetapi aku tidak marah. Aku tidak bisa menyembuyikan pergerakkan apple's cheeks-ku yang agak naik, sedikit mengulum senyuman yang jarang sekali kutunjukkan oleh seorang leader yang harus bersikap keras.
"Ayo pulang! Yunhyeong hyung pasti menunggu kita! Katanya banyak makanan yang kau beli ya? Tidak adil," Aku mengulas senyum jahil yang pastinya tak bisa ia lihat. "Tapi aku satu langkah didepanmu! Yo-hyung bilang rindu padaku jadi mau aku cepat pulang hehe."
Jiwon tampaknya sadar bahwa aku menggodanya jadi dia menarik bahuku sekaligus beanieku yang hebatnya bisa mengejarku sejauh ini.
"YA! YUNHYEONG ITU RINDU PADAKU! Tadi aku menggodanya bahwa ia kode minta ditemani tidur lalu aku disumpahi masuk sungai han. Bilang saja malu haha~"
"Jadi kau sudah mendeklarasikan milikmu nih?" godaku sekali lagi dan dia langsung berteriak keras di telingaku.
"BERHENTI MENGGODAKU KIM HANBIN!"
Aku tertawa keras dan berlari menjauhi dirinya yang mencak-cak di tengah kegelapan trotoar. Orang gila. Mungkin kalian berpikir dia yang hobi meledekku tetapi sesungguhnya...haha!
Hah~
Aku harus berpikir ulang untuk merestui mereka. Kimbab tak pernah berbohong dan aku tadi berbohong; Yunhyeong hyung sama sekali tak bilang soal rindu apalah itu, semua omong kosong. Kimbab percaya saja karena Yunhyeong hyung hobinya mengungkapkan rasa sayangnya; tetapi bukan dengan cara mengancam seperti yang ia lakukan pada Jiwon.
Itu pertanda dia sangat menyayangi Jiwon; seperti yang dilakukan Jinhwan hyung padaku (ngomong-ngomong aku menanyakannya langsung setelah kemarahannya mereda berkat ciumanku hoho).
Yunhyeong hyung jelas menyayanginya. I'm sure about that.
.
.
Kim Jiwon bikin susah saja!
Thanks God aku tidak mengatakannya di depan yang bersangkutan. Jiwon benar-benar anak sial, tidak bisakah dia serius saja kali ini? Ini adalah acara terpenting yang pernah ada!
"Masih belum ditemukan juga, Bin?" Suara Jinhwan hyung terdengar di ujung telepon. Hah, bahkan ini sampai membuat Jinhwan hyung khawatir. Bagaimana dengan...
DEG!
Yunhyeong hyung!
Aku yang baru menyelusuri taman depan gereja langsung berlari berbalik arah. Tidak kembali ke dalam melainkan menuju ke ruangan khusus di belakang gereja. Tempat dimana yang mempunyai acara memantapkan pilihannya untuk bertunangan disana.
.
.
"Yunhyeong hyu-JIWON?!" Yunhyeong hyung yang duduk di depan cermin rias ikut serta untuk menoleh sementara Jiwon yang langsung muncul batang hidungnya saat aku membuka pintu menatapku tajam.
Seperti bukan seseorang yang kukenal.
Aku melambaikan tangan, agak terkejut melihat Yunhyeong hyung yang sudah 2 tahun ini tak terlihat sama sekali semenjak bersama Junhoe. Pipinya semakin berisi namun tubuhnya kurus kering.
Tetapi menyadari kehadiran Jiwon, senyumku berubah menjadi senyum gugup.
Apa-apaan ini?
"A-ah, Hanbin," sepertinya Yunhyeong hyung menyadari suasana yang mencekik ini. selain itu karena dia bertemu denganku juga...mungkin.
Ia buru-buru menggulung lengan jasnya hingga kulit tak sehatnya tertutup sempurna oleh kain putih bersih tersebut.
"Seharusnya kalian berdua tidak masuk kemari," Caranya tersenyum dan membagi kebahagiaannya tidak berubah. Syukurlah. "Kalian benar-benar tak berubah ckckck."
"Ehe," Aku menggaruk tengkukku yang tak gatal. Benar juga, kami sudah di akhir usia kepala dua namun sekarang terlihat seperti sepasang anak kecil yang habis bermain kejar-kejaran dan berakhir masuk ke ruangan yang salah.
"Kabar hyung-"
"Nanti saja bertanyanya, waktu kita masih banyak," Jiwon brengsek. Suasana berusaha kucairkan namun seenaknya dia mendorongku keluar! Kapan lagi kesempatanku untuk menemui hyung yang ternyata rindu-able ini?! kau tau sendiri betapa protektifnya seorang Goo Jun-
"Aku menyukaimu, ani mencintaimu Kim Hanbin."
DEG!
Bagaikan disambar petir di siang bolong, itu yang kualami sekarang.
Aku terkejut bukan karena pernyataannya melainkan...sorot matanya.
Kosong.
Dia tidak nampak habis menangis dan ingat kalau Kim Jiwon tidak pernah berbohong bukan?
Jadi pernyataannya benar adanya namun...tatapannya...Jiwon tidak habis menangis kan?
Apa...
"Tenang saja, Bin," Ia mengulas senyum miris, tanpa sadar mengiris hatiku pula. Aku...tidak pernah melihat Jiwon yang seperti ini. Ia selalu terlihat ceria dimanapun sekalipun lagu ciptaannya baru dilempar di depan wajahnya. Apa mungkin ini adalah sosok Kim Jiwon yang sebenarnya?
Tapi apa? Apa yang berusaha ia tutupi selama ini? Apa gunanya? Jadi selama ini...ia menutupinya dariku? Dariku yang mengenalnya hampir seperempat hidupku? Selama ini...dia tidak menunjukkan ekspresi yang sesungguhnya ia rasakan padaku? Hanya berpura-pura baik-baik sa-
"Ya, apa sebutan kalian di korea? Bitch? Jerk? Dickhead atau...ah, dumbass? Oh tidak tidak, itu sebutan untuk kecintaan kalian bukan, si Kim Hanbin ini?" Jiwon melempar senyum meremehkan pada sekelompok siswa yang baru saja mengajakku bercanda secara berlebihan. Lengannya yang menyentuh bahuku semakin mengerat.
"Ohhh! Iljin! Astaga, maafkan aku ya aku ini si cerdas dari Virginia tau? Ah, apa kalian tidak tau Virginia dimana?" Aku mendengar suara derap kaki mendekat. Tidak banyak namun cepat dan satu orang. Itu pasti Jinhwan hyung.
Ah, betapa lemahnya aku.
"Dengar baik-baik semuanya kalau kalian mau tetap hidup!" Jiwon berteriak keras. Urat-urat di lehernya menyembul keluar. "Aku ini iljin tau? Iljin di Amerika lebih kejam dari Korea TAU? Jadi kalau kalian berani mengacau pada anak ini, aku teman iljin Amerikanya, teman yang sangat mengerti dirinya SECARA TAK LANGSUNG KALIAN MENANTANGKU!"
...Aku tidak tau apa-apa tentang Kim Jiwon.
"Aku sudah mencintai Kim Donghyuk sekarang jadi no need to worry about Jin-"
"Kenapa kau baru bilang sekarang?" hanya itu yang bisa kutanyakan dan Jiwon nampak terkejut. "Kenapa baru...sekarang?"
Jiwon terkekeh. "Aku hanya mau menjadi jujur saja sih, lega rasanya. Kalau aku dulu bilang, kau akan menerimaku begitu? Menyesal ya? hey, kau dan jinny hyung sudah mabuk asmara tau," Seharusnya aku bernafas lega mendengar suara tawanya tetapi kondisi tidak memungkinkan.
Jadi selama ini dia menderita. Jiwon selalu mendukung aksiku bersama Jinhwan hyung tetapi ternyata...
Mungkin benar, aku terlalu egois. Aku, Kim Hanbin tetap seorang egois seperti aku yang dulu saat mendengar kedatangan Jiwon sebagai trainee. Mau seberapa banyak umurku bertambah, aku sama saja. Aku tidak berubah atau melakukan suatu progress.
"Kau berbohong."
Jiwon kembali terkejut tapi ia buru-buru menutupinya. "Soal dirimu? Kau tau aku tidak bisa berbohong! Tentu saja ti-"
"Soal Donghyuk," Kepalaku menggeleng pelan, tak habis pikir. "Kukira...2 tahun yang lalu kau hanya ragu semata karena memilih untuk memperjuangkan Donghyuk ternyata memang dari awal tidak," Senyumku terulas manis. "Justru karena kau tidak bisa berbohong aku bisa mene-"
"Jangan sok tahu," Nada suaranya berubah menjadi dingin dan aku menyukainya. Sekarang tidak ada kepura-puraan lagi. Kami sudah cukup dewasa untuk berkelahi sampai babak belur sekarang –meskipun di dekat tempat suci begini.
Aku menghela nafas. Pernyatan bahwa dia menyukaiku yang bukan bohong belakang memang mengejutkan karena itu menjelaskan bahwa dia sudah terluka terlalu lama selama ini tetapi mengetahui Jiwon membohongi perasaannya sendiri...
"Pokoknya aku sangat suka Yunhyeong. Neomu joah! Aish, aku bisa gila kalau memikiran apa saja yang membuatku menyukainya!"
Itu perkataan Jiwon (tak sengaja kudengar) beberapa minggu setelah ketidaksukaannya atas kehadiran seorang Song Yunhyeong sebagai anggota grup kami.
Dan ternyata dia tidak main-main.
"Jika ini menyangkut Yunhyeong hyung," Kubiarkan ada jeda sejenak. Beruntungnya kami sudah agak jauh dari gereja. "Relakan saja. Kau baru mencintai Yunhyeong saja, belum merasakan cinta yang lain. Hidupmu tidak akan berakhir disi-"
"Tau apa kau tentangku?" Ucapan yang menusuk tapi aku tidak takut. 2 tahun lepas dari kilatan blitz kamera membuatku lebih kebal karena aku melindungi diriku sendiri, tak ada agensi yang akan menutup-nutupi.
"Ah~Atau lebih tepatnya...tau apa kau tentang Yunhyeong sampai membuat kesimpulan seperti itu?"
DEG!
Aku..tidak pernah mendengar pendapat Yunhyeong hyung dari sisinya. Ia selalu diam saja.
Benar juga, bagaimana kalau...Yunhyeong hyung justru tidak mencintai Junhoe? bagaimana kalau ini...hanya keterpaksaan karena suatu ha-
DEG!
Genggaman tanganku semakin menguat pada jari-jari tangan mungil seorang Kim Jinhwan. Tetapi fokusku tidak terpecahkan. Ekspresi sedih semua orang benar-benar menyakiti hatiku, wajah-wajah mereka akan terus terngiang-
Keningku berkerut dalam. Jiwon nampak ragu saat tangannya digenggam oleh Donghyuk yang masih tak berhenti menangis, pandangannya tidak tentu arah antara Yunhyeong dengan Jun-
Kenapa harus mereka? Yunhyeong hyung juga terlihat kecewa dan ketakutan, semua menjadi satu sementara Junhoe...tampak berbangga diri?
Ada apa ini sebenarnya? Ada apa dengan mereka...bertiga? apa yang berusaha disembunyikan dan tidak kuketahui selaku leader pada saat itu? jelas kerumitan mereka terjadi tidak dalam jangka waktu sebulan dua bulan tetapi bertahun-tahun!
Bagaimana kalau itu benar? Kalau Yunhyeong tak mencintai Junhoe? kalau Junhoe memaksakan kehendaknya? Kalau Yunhyeong dan Jiwon...
...saling mencintai?
Lalu kenapa Yunhyeong harus menerima pertunangan ini? tidak enak hati pada Donghyuk atau tidak mengetahui perasaan Jiwon padanya?
Aku tertawa miris.
"Kau benar," tawaku semakin mengeras. "Aku tidak tau apa-apa. Aku hanya orang bodoh yang terlihat depresi disini tetapi kalian semua lebih menanggung banyak beban. Aku tidak becus. Lebih baik aku menutup mulut dan telingaku, bertingkah bahwa aku paling menderita disini seperti dulu...benar?"
Jiwon tak memberi respon. Wajahnya tetap datar.
Benar, dari awal aku bukan leader yang baik. Pengorbananku sia-sia. Semua hal yang kulakukan selama ini tidak berguna.
Aku hanya sampah yang bertingkah seperti paling menderita disini dan tampak mengenal mereka semua.
.
.
-tbc
.
.
tak bisa berkata-kata...saya baper waktu bikin ini. maaf:( jadi panjang gak berfaedah gini:( binhwan moment disini gak ada? ada kok nanti, keluarin dulu tokoh pendukungnya ehe. yang enak ya /apaan terus project binhwan baru? tunggu, buku bahasa mandarin saia ilang:") semua ada disana (buku bahasa inggris juga huhu padahal kerangka jinhoon ada disana, how careless i am) jadi gatel mau publish binhwan alias gatot jadi penutup atau nyari ide cadangan jinhoon ya?
dengan otak buntu, jung
