Sick : Kebahagiaan
| all of iKON's member especially; Song Yunhyeong, Kim Jiwon, Goo Junhoe, Jung Chanwoo |
| Friendship, Life, opening-Romance? (becareful, sad ending)|
Jung Chanwoo
"Nanti Chanwoo kalau besar mau jadi apa heum?"
Kalau aku kecil tidak sedang fokus melakukan sesuatu, aku pasti akan menjawabnya apa saja;benar-benar apa saja yang pasti berhubungan dengan kegiatan yang sedang kutekuni misalnya bermain mobil tank, aku akan pasti akan bilang ingin menjadi tentara. Lalu membaa buku, tak jauh-jauh dari pendongeng atau penulis. Itu yang Ibu katakan tiap aku menanyakan balik mengapa orang-orang tampak keheranan dengan cita-citaku yang selalu berubah-ubah.
Ternyata itu salahku hehe.
"Hah~" Aku menghela nafas sebelum merapatkan jaketku, angin malam ini benar-benar menghajar kota Seoul.
Bibirku mengerucut. Kenapa pula pertemuan sepenting ini di adakan pagi-pagi sekali? Dan baru diberitahukan tadi malam, aku jadi belum ada persiapan sama sekali kalau-kalau nanti akan dijejali ajang unjuk bakat!
Musim panas rasa musim semi ini. Parah, musim swing.
Rajutan langkahku terhenti seketika ujung sepatuku sudah menyentuh lantai khas gedung ini, gedung YG.
Aku bukan tipe orang yang pesimis atau sangat percaya diri tetapi...
"Chanwoo yakin mau disini?"
Aku mengangguk yakin. Kenapa tidak? Itu saja yang dipikiranku.
"Jadi benar-benar ingin menjadi penyanyi ya..."
Aku mendongak, tak sengaja melemparkan ekspresi kecewa yang langsung mengalir.
Ayah tidak...
Ibu yang berada di sisi kananku langsung mengusak rambut.
"Maksud ayah bukan begitu," ujarnya hangat.
"Lalu ibu..."
Ayah menghela nafas sejenak sebelum menepuk bahuku pelan. "Penyanyi ya...hmm...harus berusaha keras."
Aku mengangguk kembali.
"Jadi cita-citamu sekarang penyanyi? Bukan tentara, dokter, guru, atau apapun yang dulu kamu umbar?" Kakak laki-lakiku muncul dari belakang, seperti biasa tersenyum mengejek.
Buru-buru kukepalkan tangan. Awas saja! Kalau bukan karena sekedar riset kesini, aku akan-
"Selama Chanwoo bahagia sih, pastinya kami semua mendukung."
Eh?
Ibu buru-buru menarik lengan Ayah. "Dia masih 16 tahun, apa tidak terlalu serius?"
"Tahun depan 17 tahun dan kita tidak tau dia akan debut cepat atau apa. Pastinya usia 17 tahun itu tidak dapat dihindari."
Ayah langsung melemparkan pandangannya kepadaku. "Kamu senang menyanyi? Seperti mencurahkan-"
"Tak semantap saat jadi aktor," yah tentu saja, aku kan masih TK waktu itu.
Kakak berhenti mengejekku tepat dia berada pas depan pagar –dasar.
"Benar kata Ayah! Selama kau bahagia, tak masalah! Bahagia melakukannya, berusaha keras untuk mempertahankan, mencurahkan hidupmu untuk itu!"
Meski sudah di hadapan gedung penuh harapan, sampai sebesar ini aku masih bingung mau jadi apa.
Bahkan aku tidak tau 'bahagia' itu apa
Masuk YG yang diidam-idamkan...apa benar bisa membuat bahagia? Apa bisa menciptakan perasaan 'aku ingin mencurahkan hidupku untuk itu' seperti kata kakak?
.
.
Bahagia itu sederhana.
Setidaknya itu yang aku rasakan selama ini.
Perasaan menggebu-gebu, ambisius, bergemuruh...
Apa itu pantas untuk disebut bahagia ya?
"YA YA YA!"
Lamunanku buyar, seiringan dengan rasa basah-basah dingin di-
"ASTAGA!"
Seketika tubuhku langsung ditarik mundur dan beberapa pemuda yang lebih pendek dariku menerjang –menggantikan posisiku.
Aku meringis.
Aku saja tidak bisa menghadapinya apalagi-
"Kau kenapa sih?" tanya seseorang yang tadi menyadarkanku dengan wajah tertekuk. Kim Donghyuk namanya.
"Maaf hyung," Aku meringis pelan. "Melamun."
"Penyakit lama itu," Hanbin hyung muncul dengan membawa...tabung pemadam?-_-
"Kirain kebakaran seperti kemarin," jawabnya ringan saat kulempar tatapan aneh.
"Nyaris," ralat seseorang bak malaikat di antara kami bertujuh disini. Aku tak bisa untuk tidak bernafas seberisik mungkin menyadari kehadirannya.
"Tapi tetap saja melamun itu bukan hal baik sih," Ia meringis pelan sebelum menarik tangan kananku yang menimbul kebingungan.
"Tidak ada luka serius, syukur-"
"Hoksi uri Song Yunhyeong!"
"Waih jinjja!"
"Udah woi udah! Beres-beres!"
"Dasar tukang nyuruh."
"Junhoe muncul waktu nyuruh-nyuruhan doang:("
Aku kembali meringis.
Mereka semua disini...yang membuatku bahagia.
Senang, sedih kami sama-sama berjuang disini. Menunggu hal yang tak pasti, saling bersaling, saling berjuang sehingga bisa memahami perasaan satu sama lain.
Itulah yang membuatku bahagia, fakta bahwa aku tidak berjuang sendirian. Fakta berkat keberadaan mereka, aku semakin bersemangat untuk mengejar 'cita-cita'ku yang masih dalam ujicoba, apakah bisa disebut cita-cita.
Sebenarnya bukan mereka saja sih...
Pemuda manis di hadapanku mencibir. "Dasar bermulut wanita. Pergi saja yuk?"
Siapa yang berani menolak ajakkan Yunhyeong hyung yang manis sih?
Siapa yang berani menolak hyung yang satu-satunya tertawa saat perkenalan dan berkata 'wajah kita mirip satu sama lain'?
Siapa yang berani menolak uluran tangannya yang kehangatannya tak pernah berubah?
Aku sih tidak=))
Karena Yunhyeong hyung-lah yang membuatku yakin bahwa menyanyi memang impianku. Yang membuatku bertahan sejauh ini.
Apa sebenarnya Yunhyeong hyung-lah bahagiaku?
Kalau ya, aku tetap ingin melihat senyumnya. Tetap ingin mendengar suara tawanya. Tetap ingin merasakan kasih sayangnya.
Demi kebahagiaannya yang terasa seperti kebahagiaanku juga.
.
.
Misiku sekarang adalah membuat semua member bahagia, terutama Yunhyeong hyung.
Agar aku dapat merasakan lebih lama dan harus menggali lebih dalam kebahagiaan yang katanya menyenangkan hati dan menggelitik itu.
Agar penyanyi sebagai cita-citaku tergapai.
Jadi saat melihat Donghyuk hyung berlari secepat kilat setelah berjongkok di hadapan sepatu kets milik kami, keningku berkerut.
Ini bukan pertama kalinya aku melihatnya bertingkah aneh.
Dan tidak butuh waktu lama bagiku untuk mengejarnya.
Manik matanya bergerak tak karuan, menghindari sepasang manikku yang terus menatapnya.
"Ada apa?"
Ada yang disembunyikan.
"Bu-bukan apa-apa," Donghyuk hyung mulai bergerak tak nyaman, aku sudah menghimpitnya di sudut ruangan.
"Apa benda berkilau yang dimasukkan ke dalamnya itu bukan apa-apa?"
Langsung saja matanya menatap nyalang ke arahku.
"Sudah tau apa saja kau, anak baru?"
"Tidak banyak," jawabku ringan. "Setidaknya semuanya tetap tak akan terasa banyak jika hyung tidak menjelaskan alasannya, maksudku halo?" Aku berpura-pura memasang ekspresi heran. "Kita satu tim? Hyung mau bilang kalau bersaing secara tidak sehat tapi kurasa alasannya bukan itu sa-"
Tiba-tiba tatapannya melunak dan itu membuat bulu kudukku berdiri.
"Untuk apa kau melakukan semua ini? Hanya kepada Yunhyeong hyung...Karena satu tim? Kurasa tidak," Ia terkikik setelah berhasil mengulangi kata-kataku. "Jinhyeong yang nekat tak berlatih, akulah yang sudah mempengaruhinya," Bibirnya menjadi mengkilap saat lidahnya menyapu permukaannya. "Sayangnya sekarang tidak berguna lagi pengaruhku."
Tu-tunggu...apa? Jadi waktu itu Jinhyeong murung dan tidak mau diajak bicara setelah dimarahi Hanbin hyung bukan karena mulai malas berlatih saja...?
"Dugaanku benar, ada yang berbeda denganmu dan Yunhyeong hyung."
"Ada yang berbeda denganmu juga," sahutku tak mau kalah. Apa salah jika melindungi orang lain?
Donghyuk tertawa pelan sebelum melanjutkan, "Kita sama-sama 'ada yang berbeda' bukan? Aku baru saja mendapatkan ide...bagaimana kalau kita bekerja sama?"
"Jangan aneh," sahutku cukup kasar dan harus kuakui terlalu berani. "Memangnya hanya karena 'ada yang berbeda' itu bisa? Hyung saja tidak tau apa maksudku dan aku tidak tau maksud hyu-"
"Sederhana saja," Tatapan nyalangnya, alarm tubuhnya yang menandakan bahaya, dan matanya yang berusaha menghindar benar-benar sudah lenyap. Bagaimana bisa? Bahkan sekarang ia berani menatapku tajam!
"Kau suka dengan Yunhyeong hyung maka dari itu kau berusaha membuatnya bahagia, tak ada kesedihan. Aku?" Dia menunjuk dirinya sendiri sebelum tersenyum miring. "Jiwon hyung, tentu saja."
Keningku berkerut. Ada hubungan apa Jinhyeong dan Bobby hyung sampai Jinhyeong kena? Tidak-tidak, ada pertanyaan yang lebih penting lagi! Apa maksud dari kata...
"Su-suka?" tanyaku tak bisa menutupi kebingunganku. "Aku hanya ingin melihatnya-"
"Kau begitu naif."
Mataku menatapnya tajam.
"La-lagipula," Tiba-tiba saja aku merasa nafasku memburu. Aneh. Aku ini kenapa? "Ke-kenapa aku harus bekerja sama denganmu kalau tujuan hyung itu untuk melukai Yunhyeong hyung!"
...Kenapa harus Yunhyeong hyung jika itu berhubungan dengan Bobby hyung? Hanbin hyung bahkan lebih dekat dengan Bobby hyung...
Donghyuk hyung tersenyum sebelum mendorong pelan bahuku, aku yang tak siap agak mundur ke belakang mengakibatkan dirinya terbebas dariku.
"Kalau kita bekerja sama; kau harus berusaha agar Yunhyeong hyung terus berada di sampingmu. Maka aku akan menjauh dari Yunhyeong hyung karena sibuk menarik Jiwon hyung untuk ber-"
"Maksudmu...menjauhkan mereka berdua?" tanyaku berusaha menyimpulkan dan ya, Donghyuk hyung mengangguk pasti sembari tersenyum lebar. Wajahnya terlihat manis saat tersenyum ditimpa sinar matahari begitu tapi mengingat tindakkan buruk yang hendak ia lakukan pada Yunhyeong hyung...
Aku harusnya berhati-hati. Mulutnya sangat manis.
"Sama-sama menguntungkan bukan?" Lesung pipinya mulai nampak. "Kau mendapatkan Yunhyeong dan aku mendapatkan Jiwon. Kita berdua sama-sama mendapatkan kebahagiaan yang kita cari bukan?"
"Tu-tunggu dulu," Aku mengambil langkah untuk mendekatinya. Tindakkan nekat tetapi Donghyuk yang masih merasa di bawah ancamanku mulai melangkah mundur, masih dengan senyum di bibirnya.
"Bagaimana hyung bisa tau kalau aku mencari kebaha-"
"Kita seumuran ingat?" Sepasang bahunya terangkat ringan dan ekspresinya terlihat santai sekali. "Masa remaja, mencari jati diri, mencari arti kebahagiaan sesungguhnya. Yeah, itu biasa yang kita alami."
Sepasang manik mataku menyipit. "Aku tidak percaya padamu. Dan apa tindakkan seperti tadi terlihat seperti 'mencari jati diri'? Mencari kebahagiaan? Tidak, kau menyeram-"
"TAU APA KAU TENTANG AKU?!"
"Setidaknya aku tau, baik Jiwon hyung, Yunhyeong hyung, apalagi Hanbin hyung tidak akan menyukai tindakanmu kalau mereka tau!" Aku membalas dengan jeritan pula. Belum pernah aku seberani ini dan jujur aku terkejut akan diriku yang sekarang.
Wajah Donghyuk hyung masih memerah padam saat ia menarik nafas sebanyak yang ia bisa sebelum mendesis keras.
"Kalau bukan karena aku membutuhkan bantuanmu dan mau membantumu, aku sudah meninjumu sampai babak belur karena itu sungguh-" Donghyuk hyung menghela nafas lalu mengibaskan tangannya di depan wajah. "Lupakan saja apa kataku. Emosi seorang remaja masih sangat labil tapi..." Aku baru sadar bahwa Donghyuk hyung sudah berjalan mundur sampai mencapai pintu ruang latihan.
"Tawaranku masih berlaku untukmu dan akan terus berlaku," Ia berkedip sejenak sebelum menutup pintu. "Kutunggu perubahan pikiranmu, aku tau kau tidak bisa menolak!"
Dasar gila! Tidak waras!
Aku hendak menendang kuat-kuat pintu latihan saat menyadari satu hal.
Emosi tidak terkendali dan berteriak tak jelas sama saja seperti Donghyuk hyung.
Tidak, aku tidak mau dianggap sama. Tetapi...bagaimana orang berwajah manis dan tampak berhati baik seperti itu?!
Aku harus cepat-cepat menceritakannya ke Yunhyeong hyung!
.
.
Tungkaiku sudah mencapai dapur saat siluet tubuh seseorang terlihat baru keluar dari salah satu pintu kamar yang sempat kulewati.
"Ah! Yunhyeong-"
"Hiks!"
DEG!
Sesuatu dalam diriku terenyuh saat melihat sebulir airmata mengalir melewati pipi berisinya.
Owh, owh. Ini tidak baik, aku harus-
Goo Junhoe?
Keningku berkerut dalam, bersamaan dengan itu pula tungkaiku benar-benar mengambil langkah mundur untuk kembali saat Junhoe sudah memegang kedua pundak Yunhyeong hyung, memaksanya untuk menatapnya balik dan menyebabkan isakkan menyayat hati berubah menjadi tangisan sendu.
Ya! Kau malah membuatnya semakin menangis! Goo Junhoe, sedang apa kau dengan Yun-
Sepasang mataku membola saat melihat Yunhyeong hyung sudah menangis di pelukkan Junhoe –Junhoe-lah yang merekuhnya dan tentu saja Yunhyeong hyung yang sedang terluka dengan senang hati bersandar disana.
Pertanyaannya, kenapa Yunhyeong hyung menangis? Apa yang salah dari kamar Bobby hyu-
Kim Donghyuk!
Apa dia sudah melakukan tindakkan lain? Atau rencana untuk mencelakai sudah menimpa Yunhyeong hyung atau hanya terdengar kabar olehnya?
Tidak tidak ti-
"Tenang saja hyung, tenang saja. Aku ada disini, tenanglah."
Tubuhku membatu.
Perlahan-lahan Yunhyeong hyung mengangguk. Airmatanya sudah berhenti mengalir dan suara isakkannya mulai menghilang. Suara isakkan benar-benar lenyap saat Junhoe menuntun bahu Yunhyoeng hyung untuk keluar dari dorm –beruntungnya aku bersembunyi karena sama sekali tak lucu ketahuan menguping.
Seharusnya aku mengejar mereka.
Seharusnya aku yang berada di posisi Junhoe untuk menenangkan hyung.
Seharusnya aku...
Mengapa Yunhyeong hyung menangis?
Semua pemikiranku langsung menguap begitu pintu kamar yang merupakan asal muasal Yunhyeong hyung muncul terbuka; Bobby hyung keluar dengan ekspresi bingung bercampur kesal.
Huh? Kesal?
"Bobby hyung!" Bobby –atau Jiwon, aku belum terbiasa untuk memanggilnya seakrab itu menoleh dan ekspresi tak menyenangkannya tersebut langsung lenyap, tergantikan oleh ekspresi riang setelah mendengar aduhanku berkat tepukkan keras di punggung.
"Eih! Jung Chanwoo! Kemana saja kau? Diperbudak Hanbin untuk pringles huh? Kenapa tidak ajak-ajak? Ah! Atau ajak Hongseok hyung saja, dia tampak seperti suka nye-"
"Habis dari ruang latihan, aduh..." Setelah tepukkan di punggung sekarang lengan berototnya melingkar di leherku!
"Tetap saja tidak ajak-ajak! Hei...semangat berlatih sekali kau! Tidak mau kena semprot ya? Tenang saja, kau tidak akan kena. Jinhyeong pernah sekelompok denganku dan saat itu jadi bulan-bulanan tapi kau kan belum satu kelompok denganku jadi Hanbin tidak seidkitpun menaruh dendam-"
Tiba-tiba aku tersadar.
Jinhyeong...ya, dia pernah satu kelompok dengan Bobby hyung dan tidak ada Donghyuk hyung disana. Baru battle kedua ini saja Bobby hyung sekelompok dengan Donghyuk hyung dan...Jinhyeong juga! Pantas saja Donghyuk hyung bilang Jinhyeong tidak dapat terpengaruh lagi! Dan alasannya bertindak seperti itu pada Jinhyeong karena...mereka pernah satu kelompok? Bagaimana dengan Yunhyeong hyung?!
"...Kalau mau maju jangan sendirian dong. Ya! Kau tidak mendengarkanku ya?"
Aku meringis pelan sebelum menahan lengannya untuk mencekikku.
"Maaf sebelumnya hyung, aku mau tanya. Yunhyeong hyung kemana ya?" Aku harus cepat. Jangan buang waktu disini dan hibur Yunhyeong hyung secepatnya!
Ekspresinya seketika berubah kembali. "Ah, anak itu...mentang-mentang dia teman terbaikku, bisa-bisanya dia diam saja dan memakiku 'kekanak-kanakkan' lalu pergi seenaknya setelah aku bercerita panjang lebar? Benar-benar menyebalkan!"
Eh? Lalu bukannya menunjukkan ekspresi kesal, kenapa Yunhyeong hyung justru menangis? Dan ah, aku baru ingat. Yunhyeong hyung dan Bobby hyung dekat hampir menyamai Double B karena seumuran. Pantas Donghyuk hyung mengincarnya tetapi...
"Memangnya apa yang hyung ceritakan?" tanyaku polos namun berhasil mengubah warna wajahnya.
"Bu-bukan apa-apa! Anak kecil mau tau saja!"
"Hyung memerah," sahutku tak kalah polosnya. "Hyung yang mulai menceritakannya, wajar dong aku berta-"
"Sudah sana pergi! Sibuk mengurusi urusan orang saja! Bilang pada Yunhyeong hyung-mu kalau aku tak mau berbicara dengannya lagi!"
Aku terdorong keluar dan pintu kamar Bobby tertutup begitu saja.
Hah, nanti juga saat makan malam pasti Bobby hyung sudah tak tahan untuk berdiam diri dan memulai percakapan.
Oh! Yunhyeong hyung!
Buru-buru aku keluar secepat mungkin dari dalam dorm.
.
.
"Yunhyeong hyu-"
Bukannya menemukan hyung kesayanganku, justru yang kulihat adalah orang yang paling kuhindari karena keanehannya yang tiba-tiba.
Tidak ada satupun yang akan menyangka Donghyuk hyung seperti itu; sekalipun Bobby atau Junhoe melihatnya secara langsung.
Rasanya seperti itu hanya kepura-puraan, hanya sekedar ke-
"Hiks!"
Oh tidak, jangan lagi. Apa salahku sampai harus melihat orang manis menangis?
Seperti kejadian tadi, aku bersembunyi juga. Aku baru mencapai pintu balkon karena mencari sampai keluar tidak ada saat siluet tubuh Donghyuk hyung yang duduk meringkuk di pojokkan ada disana.
Setidaknya aku tahu bahwa Donghyuk hyung aslinya tidak seperti itu dan berubah karena satu hal.
Tekanan; seperti biasa penyakit remaja. Hanya saja lebih akut dan salah arah.
Seseorang harus menghentikkannya menonton film thriller saat aku mendengar suara tangisannya makin mengeras.
Mungkin Donghyuk hyung takut kehilangan.
Semua orang jelas sudah melihat betapa Donghyuk hyung bergantung pada Bobby hyung. Donghyuk hyung sendiri 'failed maknae' disini tapi sepertinya sampai kapanpun, semua orang akan tetap menganggapnya sebagai seorang adik yang perlu dilindungi.
Hatinya juga sangat lembut –yang membuatku mati-matian mau debut karena menonton interview nangisnya di WIN dan ketakutan akan disband– dan dia yang masuk ke dalam team paling terakhir sebelum aku, Jinhyeong, dan Hongseok hyung serta –ehem- dalam keluarganya, semua bergantung pada Donghyuk hyung yang terus memasang imej anak kecil ini karena lelaki dalam keluarganya hanya tinggal ia seorang.
Terlalu banyak beban, aku ta-
"A-aku hanya hiks! menyukainya, apa itu salah jika berusaha mendapatkannya? Aku juga tidak mau menggunakan cara ini tetapi hiks! Yunhyeong hyung...sudah terlalu sempurna, dia...dia...selalu mendapatkan apa yang dia inginkan atau tidak ia inginkan tanpa perlu usaha! Bahkan semua orang nampak mengingkan keberadaannya meskipun ia tidak...Yunhyeong hyung tak pernah sedikitpun terlihat bersyukur dan berhenti menyia-yiakan yang ia punya! Apa salah jika aku...iri padanya? Aku lebih berbakat tetapi mengapa...mengapa..."
Aku tak dapat berkata apa-apa dan memutuskan untuk pergi.
Aku...tidak mengerti.
Disatu sisi Donghyuk hyung tidak salah; menyukai atau mencintai siapapun adalah haknya tetapi caranya...salah. Yunhyeong hyung juga tidak bersalah kecuali tindakkannya yang suka tidak sadar bahwa semua orang begitu memperhatikannya dan keberuntungannya tersebut.
Donghyuk pantas berbahagia, pantas untuk mendapatkan lebih tapi bukan berarti Yunhyeong harus tersakiti bukan?
Tidak bisakah...keduanya sama-sama berbahagia? Ah tidak, kami bersembilan berbahagia? Kami semua sudah bersama-sama, dalam satu grup, satu atap, satu naungan...apa itu tidak cukup untuk menghasilkan perasaan bahagia?
Aku...bingung.
Jika Donghyuk bertindak sejauh itu karena menyukai Bobby maka aku...menyukai Yunhyeong hyung?
.
.
Aku bernafas lega begitu Junhoe memilih untuk bersama Yunhyeong hyung dan Yunhyeong hyung memilihku.
Meskipun kita berakhir bertiga dan kisah kami bertujuh jelas sudah tamat, setidaknya tidak ada nama Jiwon atau Donghyuk di dalamnya.
Maka dari itulah, aku menyetujui tawaran Donghyuk tepat setelah acara menangisnya selesai –tidak tidak, tetapi sebelum waktu jam tidur dulu.
Karena tujuanku hanyalah membuat Yunhyeong hyung bahagia; tak peduli ia bahagia dengan siapa. Setelah kejadian itu, aku sadar bahwa Yunhyeong hyung tidak bahagia bersama Jiwon hyung karena tangisannya dan pura-pura kuatnya dan sampai saat ini, aku tidak tau siapa yang membuat Yunhyeong hyung bahagia.
Intinya, aku harus menjauhi Yunhyeong hyung dari Jiwon hyung saja. Selain untuk kebahagiaannya, juga untuk keselamatannya.
Maka dari itu, semenjak kejadian itu aku 'menjodohkan' Junhoe dengan Yunhyeong hyung karena keberhasilannya untuk menghibur hyung manisku.
Lalu bagaimana dengan diriku sendiri? Wow, aku tidak berani menilai diri sendiri karena egois namanya, intinya selama bersamaku Yunhyeong hyung tak pernah menangis.
Tapi apa dengan bersama Junhoe...Yunhyeong hyung bahagia?
Kami tinggal bertiga tetapi berbeda kamar; Junhoe mengambil apartement lebih luas sementara aku tetangga seberang. Setelah tak sengaja melihat Junhoe menekan rahang Yunhyeong hyung hanya karena Jiwon hyung datang, aku sadar akan sesuatu.
Junhoe juga bukanlah kebahagiaan Yunhyeong hyung.
Lalu siapa?
Saat aku mendesaknya untuk bercerita, Yunhyeong hyung hanya mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja tetapi airmatanya terus mengalir.
Seseorang yang kujanjikan kebahagiaannya menangis...
Dulu aku menyerah akan perasaan ini dan memilih melepaskan Yunhyeong hyung bersama Junhoe karena mengira Yunhyeong hyung akan berbahagia dengannya tetapi...Ingin rasanya aku merekuh tubuh hyungku ini namun aku juga sadar diri.
Selama ini aku tak pernah membuatnya menangis, tapi apa itu patokkan bahwa ia bahagia bersamaku?
Aku hanya seorang anak kecil, jika dibandingkan dengan Donghyuk yang sekarang berhenti bergantung pada hasil penjualan lagu Jiwon hyung untuk menghidupi keluarganya dan memilih untuk menjadi penyanyi cafe atau Junhoe yang merintis perusahaan dari nol dan sekarang sukses besar, aku bukanlah apa-apa.
Aku masih bergantung hidup pada Junhoe dan Yunhyeong hyung.
Aku belum pantas untuk disebut membahagiaan Yunhyeong hyung meskipun Yunhyeong hyung tak pernah menangis karena diriku.
Itu sebabnya, meskipun Junhoe sudah menyakiti Yunhyeong hyung aku tidak berani maju.
Yang kuherankan hanya satu; mengapa masih bertahan?
Kadang-kadang aku tidak mengerti tentang cinta. Kau bisa menjadi gila karenanya –seperti Donghyuk, kuharap setelah mencoba tak bergantung perlahan-lahan ia berubah dan tak berpikiran jernih sampai terus melukai –Junhoe dan Yunhyeong.
Tiba-tiba satu nama terbesit dalam ingatanku.
"Jiwon hyung?"
Suara isakkan Yunhyeong hyung perlahan memelan.
Ternyata benar.
Aku tersenyum pahit.
Keputusanku untuk menyetujui tawaran Donghyuk terasa seperti sebuah penyesalan sepanjang masa.
"Ke-kenapa?" Jujur saja, semenjak Yunhyeong hyung menangis setelah berbincang dengan Jiwon hyung, mereka berdua masih tampak dekat. Masih mengobrol biasa seakan-akan tidak terjadi apapun. Aku tidak pernah melihat Yunhyeong hyung menangis lagi semenjak hari itu.
Lalu kenapa waktu itu ia menangis padahal setelahnya...
Helaan nafas memecah konsentrasiku.
"Ada saatnya kita harus mengalah. Ada saatnya dimana tidak semua yang kita sukai itu harus kita milikki. Aku tidak mau merebut sesuatu yang sudah diperjuangkan seseorang lebih lama daripada apapun, aku sudah mempunyai semuanya sedangkan dia tidak, aku egois tetapi aku tidak seegois itu untuk merebut oksigennya," Airmatanya yang leleh dengan cepat ia hapus.
"Semua orang di dunia ini menginginkan Junhoe karena kesempurnaannya tetapi dia ada untukku, aku tidak mau jadi orang bodoh lagi dengan membuang atau tidak menghargai keberadaan orang-orang yang selalu ada di sisiku. Kenapa aku tidak menerimanya sebagai tanda rasa syukur sekaligus merasakan penderitaan yang seharusnya kualami karena menolak orang-orang tersebut? Terkadang aku merasa sangat tidak pantas untuk dicintai karena aku tidak pernah menyadari keberadaan mereka."
Aku sama sekali tidak mengerti.
Bibirku sudah separuh terbuka untuk membantah ucapannya saat aku menyadari sesuatu.
Yunhyeong hyung jelas tidak tau bahwa Jiwon hyung sudah menyadari perasaannya dan berbalik menyukainya.
Hanya saja Yunhyeong hyung tak mau melukai Donghyuk hyung karena Donghyuk hyung sudah memperjuangkannya sejak lama.
Kenapa orang-orang di dunia ini harus terlalu baik? Apa hyung tidak tau bahwa bukan hanya dirinya yang terluka tetapi Jiwon hyung dan aku juga?
"Hyung, dengarkan baik-baik," Aku sudah berjongkok di hadapannya yang duduk di tepi ranjang dengan raut wajah kebingungan. "Apapun yang terjadi, lalui saja semua dengan senyuman. Karena senyuman adalah jalan menuju kebahagiaan dan aku..." Kuremas perlahan kedua tangannya yang berada di genggamanku.
"Aku...aku akan memastikan kebahagiaan hyung. Aku menjanjikan kebahagiaan untuk hyung karena kebahagiaan hyung adalah kebahagiaanku juga jadi tenang saja, meskipun aku lemah, meskipun aku bukan apa-apa, dan meskipun ini sudah terlambat, aku akan melindungi hyung sebisaku karena...bahagia itu sederhana."
Tangisannya kembali pecah dan aku berharap itu adalah tangisan bahagia.
Ya, karena bahagia itu sederhana hyung.
.
.
needyunhyeongpovagain;;;;;; atau bikin normal pov lagi ya?huhuh -jung yang mulai galau
