Sick (pre-epilog) : Penyesalan

| all of iKON's member especially; Song Yunhyeong, Kim Jiwon, Goo Junhoe, Jung Chanwoo |

| Friendship, Life, opening-Romance? (becareful, sad ending)| alur maju mundur!


Kim Jiwon

"Eh eh eh, tadi siapa namanya? Ju-a? Kenapa tidak mirip nama ka-OUCH! KIM HANBIN!"

Hanbin nyengir tiga jari, terutama saat melihat mata Jiwon yang nyaris tak ada itu tetap dipaksa untuk sok melotot menyeramkan.

"Kalau bodoh lihat-lihat kondisi dong," ujar Hanbin hati-hati, Jiwon tak mungkin hanya karena hal kecil saja langsung menjotosnya begitu saja tapi tetap aja ngeri melihatnya. Apalagi melihat otot tubuh Jiwon yang makin terbentuk –request misterius dari manajer mereka–, rahangnya yang makin sharp, dan urat-uratnya yang bisa semudah itu menyembul hanya dengan sedikit tekanan emosi.

Ah, jangan bicarakan soal otot. Hanbin masih sakit hati mengingat kejadian WIN dulu, apalagi wajah cengengesan Yunhyeong yang baru pertama kalinya ditunjukkan olehnya dan cengiran malu Jinhwan-nya.

Kali ini Hanbin memiliki tekad bulat, Jiwon boleh saja telihat menganggumkan dengan otot perutnya sampai jadi Men of The Year 2014 maka tekad Hanbin tak muluk-muluk, otot lengannya saja dulu yang harus mengalahkan si Kimbab, rival sehidup sematinya itu.

"Terus apa?" dengus Bobby dongkol. Hari ini moodnya benar-benar buruk, entah mengapa. Akhirnya ia berhasil cerita panjang lebar sampai perasaannya lega-selega-leganya/? pada Yunhyeong –satu satunya yang ia percayai tapi respon Yunhyeong benar-benar tak terduga; datar saja, biasa saja, 'oh' 'ah' saja.

Menyebalkan. Jiwon jadi malu sendiri sudah curcol seperti anak gadis pada Yunhyeong yang sok seperti anak lelaki.

Jadi wajar saja Jiwon kali ini pakai jalan kedua, ikut blind date dan memaksa –tak memberitahukan sebenarnya– Yunhyeong ikut juga. Persetanan dengan Yunhyeong yang akan-

"Song Ju-ah lah! 3 tahun lebih di Korea tak mengubahmu sama sekali? Bagaimana bisa nanti kau menghadapi suneung ke-Pfft!"

"Berisik kau," Jiwon mengambil ahli mouse dengan tangan kirinya lalu menggerakkannya, kembali mencari informasi dengan 'benar'.

"Namanya Song Ju-ah seumuran denganmu Bin! Haha! Tapi dikenal dengan Song Eunji, ah kenapa tidak ada yang tau nama aslinya? Waktu WIN dulu kan Eunji sama sekali tak bicara, Yunhyeong saja yang seperti orang gila; tak ditanya tapi menjawab. Apa anak itu benar-benar takut adiknya jadi bulan-bulanan kita?" tanya Jiwon pada dirinya sendiri sambil nyengir aneh.

Hanbin yang kewalahan mulut dan akses oksigennya dibekap dahsyat oleh Jiwon langsung 'menelempeyeng' kepala Jiwon dengan anarkis lalu mengambil ahli mouse –beserta layar pc-nya juga.

"Gila, kau benar-benar mengincar adik Yunhyeong hyung? Kau masih waras, Bob? Bahkan Jinhwan-ie hyungku yang manis itu bisa garang hanya karena Yunhyeong menanyakan kabarnya apalagi Yu-"

"Kenapa kau jadi melindungi adik Yunhyeong begitu? Kau naksir? Ini kan adik Yunhyeong bukan Hanbyul-mu. Lebih baik kau berhati-hati pada Jun-"

"Kalian benar-benar mau mengencani adikku?"

Kepala Jiwon dan Hanbin refleks menoleh ke belakang dan mendapati Yunhyeong tengah tidur telentang di sofa tak berlengan ataupun berpunggung/? yang sering jadi ranjang dua bocah Kim ini. Salah satu tangannya berkulai lemas memegang soda rasa strawberry yang sudah terbuka.

"E-eh hyung," Diam-diam Hanbin facepalm. Sial, kenapa jadi dia yang panik?! Kan yang salah itu Jiwon, dia tak ikut-ikutan –lagipula dia tau bagaimana yang Yunhyeong rasakan sekarang– hanya saja terpaksa terli-

"Ya, Kim Jiwon. Adikku kan sudah punya pacar, masih mau kau embat juga?" Di luar ekspetasi, Yunhyeong sama sekali tak marah –dan memang tak pernah atau tak bisa marah. Bocah Song satu ini hanya sok galak –mari salahkan si sialan Kim Jiwon– karena, Yunhyeong...he's seriously pure warm-kindest hearth man in the world more than Kim Jinhwan –Hanbin akui itu sendiri.

"Yaaaa maka dari itu, Song Yunhyeong~!" Belum cukup keterkejutan Hanbin soal ketenangan hyungnya yang kalau dipikir-pikir lebih dari kata wajar, sekarang malah Kim Jiwon garis miring Bobby, teman satu perjuangannya yang baru beberapa menit lalu terlihat seperti ingin memakannya hidup-hidup tiba-tiba sekarang sudah merengek dan menggoyang-goyangkan tubuhnya –sok manja– di hadapan Yunhyeong yang terlihat memandangnya rendah karena mata sayunya.

Ew.

Hanbin kembali memikirkan ulang hipotesisnya bahwa Kim Jiwon si Playboy kelas teri kali ini sudah tersadar dan menemukan cinta sejatinya, Song Yunhyeong namun jelas-jelas dia habis ditolak parah, terlihat dari ekspresi cemberut coretyang sama sekali bukan gaya semecoret Bobby dan ekspresi datar separuh mengantuk Yunhyeong begitu mereka keluar dari kamar –yang awalnya malah dikira Junhoe coretsi super idiotcoret bahwa mereka habis making out pendek.

Hanbin mendengus pelan, salahkan Kim Jiwon menyatakan –atau mungkin berbicara penting– pada Yunhyeong hyung yang benar-benar tak bisa diajak bicara kalau matanya yang sudah agak terlihat sayu makin terlihat sayu karena mengantuk.

"Apaan sih, Kimbab," respon Yunhyeong masih acuh tak acuh, tak merubah posisinya yang sebenarnya –ehem– agak menodai pikiran Hanbin di tengah malam begini.

"Aku ikut blind date, kau juga dan besok acaranya. Jangan menolak oke?"

"Blind date? Dada-"

"Halah, tak usah dipercaya hyung," potong Hanbin memprovokasi dan hasilnya, kali ini seluruh wajahnya 'diremas' penuh oleh tangan Jiwon yang entah habis menyentuh apa, baunya benar-benar tidak sedap.

"Kim Ji-pfft! Bob-pfft!"

"Oke ya hyung? Ayolah~ Kau ini terlihat lebih mengenaskan daripada unbeatable man yang sialnya sudah punya pacar ini. Aku juga sama mengenaskannya nih hyung, masa kita kalah dari unbeatable ini? Bisa-bisa kita penggan-"

"Aku ngedate sama kamu, Kim?"

Hanbin melongo hebat lalu sedetik kemudian, tawanya hampir meledak sekencang-kencangnya –kalau pun ia bisa– coretmumpung gak ada jinan gak usah jaim coret waktu melihat Yunhyeong coretmenolakcoret mengatakannya dengan alis yang agak terangkat, benar-benar terlihat lelah sekaligus lebih seperti seme untuk Jiwon tak sebanding dengan wajah manisnya.

Kim Jiwon menjadi uke? Astaga, Hanbin rasanya mau jungkirbalik begitu saja.

Sementara Jiwon merasa harga dirinya seperti diremukkan, kenapa Yunhyeong sekarang terlihat seperti bukan Yunhyeong yang biasa ia lihat sampai mual? Kenapa teman seperjuangannya ini berubah jadi (agak) hot as f*ck nyaris melampaui dirinya?!

Oh astaga, Jiwon. Hentikan pikiran semerawutmu. Malam benar-benar sudah merengut kenormalan perbincanganya.

"Ya nggak lah!" elak Jiwon dengan ekspresi kelewat geli, benar-benar tak bisa membayangkan. Ngedate dengan sahabatnya sendiri? Dengan orang yang cuek saat mendengar curcolannya? Dengan-

"Biasa aja dong, Bob," Yunhyeong menyeringai –Hanbin makin yakin hyungnya ini antara salah minum atau benar-benar ngantuk– dan itu semakin melukai harga diri Jiwon sebagai ultimate seme –biasa makin malam makin baper/?

"Jadi siapa mate-nya? Wanita? Lelaki?"

"Yang pastinya wanita, hyung," jawab Hanbin cepat, terutama saat melihat ekspresi terluka Jiwon dan wajah Yunhyeong yang manis tiba-tiba berubah jadi tampan –eh apa. "Curi-curi ikut blind date saja sudah susah apalagi yang cari pasangan sesama jenis?"

Alis Hanbin naik-turun, berniat untuk menggoda Yunhyeong yang masih terus telentang –thanks god ekspresi sok tampan Yunhyeong dengan posisi tidur begitu membuat Hanbin tidak berpikir untuk menyelingkuhi kekasihnya –what.

"Hyung sedang mendeklarasikan bahwa hyung gay begitu?"

"Nope," Jiwon diam-diam menghela nafas, pantas saja semalam teman segarisnya itu benar-benar malas mendengarnya karena ia straight, meskipun grup mereka bukan tipe mendiskriminasi HAM tetap saja pasti rasanya aneh mendengar cerita gay teman seperjuanganmu.

"Tapi aku biseksual."

"WHAT?" Dahi pemuda Song itu berkerut, akhirnya ia memutuskan untuk mengubah posisinya menjadi duduk, berhadapan dengan double B itu. Jiwon sendiri pun memandang Hanbin yang kelewat norak dengan tatapan menjijikan.

"HYUNG KAU MARUK! SEPERTI JIWO-ARGH!" Yunhyeong tertawa cukup keras, terutama saat melihat Jiwon yang barusan main-main menjitak tepat di ubun-ubun Hanbin langsung panik menahan Hanbin yang sudah melayangkan tinjunya dengan mata melotot.

Tapi diam-diam Yunhyeong merasa sedikit kaget juga mengetahui fakta Jiwon biseksual, benar-benar tipe Playboy –image Jiwon sekali. Mungkin nanti dia gampang naksir pasangan datenya karena sudah patah hati soal Hanbin.

Pemuda berambut coklat itu berdeham pelan. Meskipun responnya atas curhatan Jiwon benar-benar buruk –salahkan matanya yang mudah mengantuk–, tapi ia masih mendengarkannya. Memangnya ia sama dengan Jiwon yang mau didengarkan tapi tidak mau mendeng-

"Jadi gimana hyung? Ikut ya? Mau ya? Oke? Aku tidak mungkin mengajak June yang terlihat tidak tertarik untuk mencari pasangan atau Donghyuk yang bisa-bisa lebih manis daripada matenya nanti,"

Yunhyeong mengangguk-angguk, untuk ajakkan Jiwon yang sebenarnya no problemo untuknya –tak untung tak rugi dan dia bosan juga– maupun pemikirannya soal betapa jerknya seorang Kim Jiwon.

"Beneran hyung? For real? Haha! Finally!" Hanbin menggeleng-gelengkan kepala –setelah melonggarkan kepalan tangannya yang nyaris diplintir Jiwon– melihat kelakuan hyper anarkis Jiwon sampai kursi plastik yang ia duduki terus mengeluarkan bunyi decitan.

Pemuda berwajah kuyu itu –menginap disini selama 2 hari benar-benar mau membunuhnya– jadi bingung sendiri kenapa bisa-bisanya Jiwon ini berkoar-koar sebagai ultimate seme setelah Jun. Padahal jelas-jelas dari segimana pun dirinya lebih manly.

Sementara Yunhyeong ikut menggeleng-gelengkan kepalanya, sepertinya 3 tahun menjomblo, tak pacaran dengan wanita membuat Jiwon menggila. Apalagi waktu ia melihat Jiwon langsung mencomot snapbacknya dari kepala Hanbin, menarik jaketnya yang bertengger di kursi, dan berlari keluar dari studio –yang mulai berbau mereka– setelah mengecek keberadaan uang, bolpoint, dan ponselnya.

"Hyung," Yunhyeong menoleh dan mendapatkan tatapan blank dari penghuni lain di studio kecil ini.

"Kenapa bocah gigi itu bisa mengakui dirinya sebagai seme? Aku seperti melihat hyung baru menerima pernyataan cintanya yang semalam baru saja ditolak."

Sepasang bola mata besarnya memutar malas. Astaga, setelah tadi pagi Jinhwan mengintrogasinya sekarang kekasihnya juga ikut-ikutan berpikir miring?

"Playboy macamnya mana bisa bertahan dengan satu pasangan. Apalagi dengan mata-mata sajangnim dimana-mana," sahutnya agak kejam sebenarnya. Lalu matanya mengerjap cepat. "Kecuali untuk satu o-"

"Siapa, hyung?" sambar Hanbin cepat. "Chanwoo? Seminggu yang lalu aku baru saja melihat Jiwon mengelus-elus dahi maknae kita lama sekali. Astaga, anak kecil juga dia embat?!"

Yunhyeong tertawa kosong, entah kenapa. Biarlah curhatan Jiwon yang benar-benar jarang ini jadi rahasia kecil saja.

"Hyung jawab aku!"

Yang lebih tua justru sekarang berpikir, memutar balikkan pertanyaan pertama Hanbin tadi. Bagaimana bisa Hanbin menjadi seme dengan tingkahnya yang benar-benar manis? Wajar saja Jiwon naksir padanya.

"Kau tidak buru-buru kabur, Bin?" tanyanya mengalihkan topik. Salah satu tangan Hanbin yang sudah terangkat untuk mengguncang hyungnya itu langsung tertahan. Wajah tablonya (plis maaf papa haru) kembali ditunjukkan, nyaris membuat Yunhyeong terjungkal. "Buat apa hyung?"

"Aku kesini untuk menjemput kalian berdua tapi," Pemuda berambut agak gelombang itu menggoyangkan ponselnya yang sempat berbunyi waktu dua orang satu marga itu bertengkar. "Jinhwan hyung mengirim pesan dia sudah di tengah perjalanan kesini, untuk menjemputmu. Kau tidak dikabari, Bin? Romantis sekali loh, uke seperti Jinhwan hyung rela menjemputmu tengah malam begini."

"Oh shit," Tawa pemuda bersuara tasteful itu lepas, tak bisa ditahan lagi saat yang lebih muda langsung menarik resleting jaketnya, mengambil ponsel dari saku celana, dan keluar dari studio lewat jalan yang berbeda –ketimbang turun lewat lift, ia memilih tangga– dengan cepat. Saking buru-burunya, ia bahkan lupa menyimpan track ke-45 mereka –yang dibuat mati-matian– untuk menghadap Yang Sajangnim nanti.

Ah, ngomong-ngomong soal penolakkan berkali-kali rasanya tangan pemuda satu ini benar-benar sudah gatal untuk mendelete semua track yang ada disana atau langsung menghancurkan komputer itu.

"Hah, sudahlah," Yunhyeong kembali meluruskan tubuhnya, tidur lagi dengan posisi nyamannya, dan mulai mengerjapkan matanya berkali-kali. Ia malas kembali ke dorm, dan hari menjelang pagi. Tidak akan terdengar buruk bukan kalau kali ini dia yang tidak pulang?

.

.

.

"Aku sangat menyukai Yunhyeong!"

Aku memejamkan mata seerat mungkin, terutama ketika ujung mataku melihat siluet tubuh seseorang.

'Ayo, Kim Jiwon. Kau pasti bisa melewati hal ini. Ini hanya satu serpihan dari serpihan lainnya.'

Aku tersentak kaget dan membelakkan mata ketika merasakan rasa hangat menjalar di kedua tanganku.

Tangan kananku ditepuk-tepuk oleh Hanbin sementara yang kiri digenggam erat oleh Donghyuk.

Ah~ sungguh bukan sebuah kesalahan bahwa aku dulu sempat menyukai seorang Kim Hanbin.

Bukan sebuah penyesalan debut bersama mereka semua di bawah nama iKON meskipun kata 'disband' pasti akan ada suatu saat nanti.

Senang rasanya melihat 'adik-adik'ku ini sudah tumbuh dewasa tanpa sedikitpun berubah dan menjadi kacang lupa kulitnya.

"Ya, Kim Jiwon. Kau tidak mau membuka matamu? Ini hari berbahagia bagi Yunhyeong loh!"

–kepolosan Kim Hanbin juga tidak berubah sama sekali.

Donghyuk yang sudah menyandarkan kepalanya di bahuku langsung mencubit perut Hanbin, terlihat dari decihan yang keluar dari bibir tebalnya dan bisa kurasakan ada sebuah tangan yang bergerak di belakang punggungku –duel cubitan.

Dewasa umur tapi bukan sifat tentu saja.

"Aw aw aw! Sudah dong! Ah! Jiwon, kenapa kau diam sekali hari ini? Saat pernikahan kakakmu saja kau sangat antusi-"

"Ish! Berisik sekali sih kau! Ini acara khidmat tau! Sana urusi Jinhwan hyung saja! Dia pasti iri ingin cepat menikah juga!"

Ekspresi Hanbin langsung menggelap begitu saja dan itu cukup membuat tawaku tertahan di ujung lidah.

"Memangnya Jinhwan hyung mana?"

Donghyuk mengedikkan dagunya. "Itu, di barisan terdepan. Sepertinya dia menangis penuh haru di pelukkan Chan-"

"Ah, sialan anak itu!"

Aku dan Donghyuk menahan tawa kami dengan saling mencubit lengan satu sama lain.

"Dasar! Padahal kan aku menyuruh Jinhwan hyung menghibur Chanwoo yang patah hati! Kenapa jadi seperti Jinhwan yang patah hati sih?"

Ah, Donghyuk is the best! Dia sangat mengerti diriku haha!

Aku mengangguk-angguk mengerti seraya mengusap ujung mataku yang basah karena tawa kami.

Yah, akhir yang bahagia. Masalah antara Jinhwan hyung dengan Junhoe setidaknya sudah cukup mereda –Junhoe hari ini resmi memiliki Yunhyeong jadi tak ada alasan lagi baginya untuk bersama Jinhwan hyung maka dari itu, pasangan Binhwan ini bisa kembali ke Korea dengan hati yang ringan.

Kudengar-dengar hari ini Hanbin ingin melamar Jinhwan juga setelah aksi melempar bunga –oleh karena itu, bocah tengil ini dari pagi sudah standby untuk berdoa di gereja agar buket bunga nanti jatuh ke tangan kekasihnya saja jadi jelas mereka sebentar lagi akan menikah juga.

Lalu bagaimana dengan kami? Ah, hubungan seperti ini terasa jauh lebih nyaman ketimbang masa-masa pacaran kami yang berkabut karena berbarengan dengan vakumnya iKON serta petunangan JunHyeong. Beberapa minggu setelah Jinhwan hyung berhasil sohib Songku ini keluarkan dari penjara istana seorang Goo Junhoe, akhirnya Donghyuk dengan mata sembabnya memutuskan hubungan kami karena dia tidak mau memaksakan hatiku yang berkata 'tidak' untuk bersamanya tetapi aku harus berjanji untuk tidak melupakan kenangan selama 2 tahun masa pacaran kami dan tidak melupakannya.

Jadilah kami datang ke gereja dengan status 'jomblo bahagia'. Donghyuk sedang fokus dengan karir penyanyi cafe dan pengiring pernikahan sementara aku lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluargaku. Kami masih sering bertemu, nongkrong di cafe, atau jalan-jalan berduaan keliling Korea layaknya anak muda tak ingat usia.

Ini jauh lebih baik daripada saat kami berpacaran dulu, begitu menyiksa seperti terika-

"Ya! Song Yunhyeong! Kau harus banyak berlatih untuk bisa debut bersama kami tau?"

"I-iya maaf."

Keringat sebiji jagung mengalir deras melewati keningku.

Mimpi buruk itu datang kembali.

"Do-donghyuk-ah."

Kaitan Donghyuk pada lenganku semakin erat. Ia menoleh ke arahku dengan raut wajah semanis mungkin.

"Nde?"

"Apa...Yunhyeong meninggalkanku –ah tidak kita semua karena aku terlalu jahat padanya saat training du-dulu?"

"Ti-tidak! Tidak seperti itu! Saat hyung sakit saja, Yunhyeong yang mengurus hyung!"

"Lalu kenapa-"

"Kepada para hadirin, dipersilahkan untuk berdiri."

Saat itu juga, degup jantungku berhenti berdetak.

Lalu senyum miris tak sengaja kuulaskan.

Sekeras apapun aku mencoba, rasa penyesalan tak akan pernah hilang di benakku tiap kali melihat Yunhyeong. Penyesalan tak menolongnya, penyesalan tak mengungkapkan lebih dahulu, penyesalan tak memikirkan dirinya.

Terlalu banyak dan kuharap setelah ini, beban penyesalanku ini akan berkurang.

Karena Song Yunhyeong sejak awal bukanlah tanggung jawabku. Bukan milikku. Aku hanya orang pengecut yang tak menyatakan perasaan padanya.

Karena untuk beberapa menit kemudian, Goo Junhoe akan bertanggung jawab penuh kepada Song Yunhyeong dan aku akan mempunyai alasan untuk tidak menyesal, ikut campur, atau mengkhawatirkannya lagi.

Karena dia sudah ada yang punya.

.

.

.

Aku masih ingat pertama kalinya aku menyukai pemuda Song ini.

"Ya! Song Yunhyeong!"

Hari masihlah pagi –kelewat pagi untuk jadwal bangun para trainee atau beberapa artis yang baru saja tidur sekejap berkedip– tapi gedung trainee sudah terguncang oleh suara dan langkah kaki membahana dari Kim Jiwon.

Masa bodo dengan mengganggu trainee lain, toh iKON satu-satunya trainee laki-laki disini –dan hanya mereka yang gila mau datang atau pulang sepagi ini maupun semalam kemarin.

Salahkan yang namanya bersangkutan tidak Jiwon temukan dimana-mana saat ia mengitari dorm. Masa iya, hari dimana mereka berdua mau ikut blind date bukannya tidur tampan, memilih baju, dan lain-lain malah dihabiskan seorang Song Yunhyeong menginap di studio yang tak layak.

Jiwon mendengus pelan seraya memainkan kunci tiap ruangan di gedung trainee ini –staff disini sudah menyerah melihat dirinya dengan Hanbin suka bolak balik dan menginap disini. Jiwon tahu betul bahwa kawan lebih tua 10 bulan darinya ini tampan, tak perlu bersiap banyak seperti dirinya tapi 2 tahun bersama pemuda ini –dan 3 member yang lain– membuatnya tau Yunhyeong sebenarnya tipe orang perfeksionis.

Keningnya berkerut. Apa dia benar-benar berniat untuk main-main saja? Tentu saja sih mereka tidak mungkin memacari 'mate' masing-masing, ketahuan saja sudah habis riwayat apalagi paca-

"Sedang apa kau, Jiwon?"

"Menjemputmu lah, bo-" Jiwon berbalik dan terkejut melihat Yunhyeong sudah ada di sampingnya dengan salah satu tangan memegang bahunya.

Bukan, bukan itu yang membuat Jiwon benar-benar terkejut. Yang membuatnya terkejut adalah...sejak kapan tubuhnya jadi lebih bagus daripada waktu WIN dulu? Bahkan ia sama sekali tak pernah melihat Yunhyeong workout sedikitpun.

Memang bentuk tubuh Yunhyeong belum sebagus dirinya –yah, Jiwon menyombongkan diri– tapi kenapa wajah tampan tapi manis juga, manik mata yang kelewat adorable, senyum cerah, bibir cukup tebal dan mengkilap, dan suara tasteful ini bisa mempunyai tubuh yang bagus? Sama sekali tidak cocok!

"Bob?" Yunhyeong menyeringai kecil saat melihat Jiwon melotot penuh ke arahnya. Apa anak ini terkejut? Iri? Kagum? Atau jangan-jangan...tawa kosong terdengar nyaring di telinga Yunhyeong yang membuat si empu menggeleng-gelengkan kepalanya, kelewat impossible.

"Kau tidak naksir padaku kan?"

"E-eh! Tidak!" Jiwon mengelak penuh meskipun telinganya sudah agak memerah. "Kau mau siap-siap kan? Ayo kita bisa terlambat," Yunhyeong mengangguk kecil, tak bisa menutupi tawa gelinya saat pemuda yang lebih muda itu terlihat gelagapan bahkan sekarang menariknya untuk masuk ke dalam ruang studio –yang Jiwon bingung kan sejak kapan dia sudah ada di ujung lorong– dengan tangan Jiwon terkait dengan tangan-

Ah? Jiwon? Tangan?

Dan endingnya, Jiwon dengan telinga dan wajahnya memerah menarik Yunhyeong –yang pipinya sudah bersemu ke dalam studio/?

...gantung? iya jung tau. ini sengaja dipotong gengs

jd tuh povnya awal akhir normal sisanya bobby. awal sih plesbek akhir masih nyambung sama awal jadi plesbek uga. tengah? tengah pas junhyeong dah nikah, futurenya HEHEHEHE hanbin dsr gk peka, ibob kan blom bs mup on:(