Title : Make me yours, Captain!

Disclaimer : Mine for the story. God's for the casts.

Rate : T

Pair : HaeHyuk, KangTeuk, others will show up later~

Satu jam ini mereka habiskan untuk menemui beberapa karyawan di ELF Airlines. Hyukjae sungguh merasa senang karena dirinya diterima baik disini, walaupun ada beberapa yang melihat tidak suka kepadanya. Antara tidak suka dengannya karena baru masuk langsung bisa menjadi co-pilot dengan 3 garis kuning di badgenya, atau karena ia yang anak baru ini sudah bisa berdekatan dengan Tan Donghae. Kenapa karena Tan Donghae? Karena Hyukjae menyadari, bahwa pria yang disampingnya ini sungguh populer. Hyukjae sudah beberapa kali melihat banyak karyawan yang berusaha untuk menarik perhatian Donghae. Tak sadar Hyukjae mengerecutkan bibirnya kesal. Apakah dia segitu terabaikannya sampai-sampai tidak ada yang menaruh perhatian lebih untuknya, 'aku kan tampan', batinnya.

"Hyukjae-ssi? Kau tidak apa-apa?" Ternyata sedaritadi Donghae memanggil Hyukjae namun tidak diindahkan. Donghae harus menepuk pundak lelaki manis ini baru dia tersadar.

"Ah, ya Donghae-ssi? Maaf aku tidak fokus tadi." Hyukjae menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia merasa rendah sebagai pilot terlalu mudah kehilangan fokus.

"Kupikir kau terkena suatu syndrome, Hyukjae-ssi. Kau membuatku takut. Syukurlah kau tidak apa-apa." Nada Donghae terdengar sangat khawatir, membuat Hyukjae sedikit merasa bersalah. Ia juga merasa gugup karena dilihat oleh para karyawan yang tadi mengobrol dengan Donghae.

"Maafkan aku Donghae-ssi.." sahut Hyukjae lirih. Melihat gelagat Hyukjae yang merasa bersalah, Donghae berinisiatif untuk menjauhkan diri mereka dari orang-orang lain. Donghae menarik pelan tangan Hyukjae menjauh dari orang-orang itu, lalu melingkarkan tangannya di pundak Hyukjae.

Hyukjae yang tidak siap akan keintiman ini sedikit menampilkan rona merah di pipinya, tapi ia tidak menolak sama sekali perlakuan Donghae. Hyukjae sedikit bingung dengan dirinya. Di Amerika dulu ia sering dirangkul, dipeluk, tapi tidak ada yang membuat dia berdebar sampai merona begini. 'Aku terdengar seperti uke, memalukan.'. batinnya.

"Hyukjae-ssi, umurmu 23 kan?" tanya Donghae setelah keheningan yang lumayan lama.

"Nde, kalau umurmu?" Hyukjae balik tanya. Donghae tersenyum lebar mendengarnya.

"Berarti kau harus memanggilku Donghae hyung karena aku berusia 27 tahun. Ingat itu." tegas Donghae namun tidak menghilangkan senyuman lebar di wajahnya, apalagi saat melihat ekspresi kaget Hyukjae, dia semakin tersenyum geli.

"Kau... 27 tahun? Kau pasti bohong." tanya Hyukjae tidak percaya, ia memicingkan matanya sinis ke arah Donghae.

"Apakah aku terlihat lebih muda?"

"Tidak, harusnya kau berusia 30 keatas karena kebanyakan captain berusia segitu." Jawab Hyukjae dengan muka polos.

Donghae merengut kesal. Ternyata dia dianggap lebih tua dari umurnya. Ah ingatkan Donghae untuk browsing bagaimana cara agar terlihat lebih muda dan tampan.

"Ah lupakan.. Pokoknya, kau harus panggil aku hyung. Arra?" Hyukjae mengangguk imut. Donghae yang gemas reflek mencubit pipi Hyukjae keras.

"A..a...akh! Donghae hyung sakit!" sontak Donghae melepaskan tangannya, lalu beralih mengusap pelan pipi Hyukjae sambil menatap intens ke mata Hyukjae. Pipi Hyukjae merona, ntah karena sentuhan Donghae atau gara-gara cubitan tadi.

"Apa masih sakit? Maafkan Hyung, ne." ucap Donghae lembut. Hyukjae menggeleng cepat sampai topinya hampir saja jatuh kalau tidak langsung dipegangi.

"Gwaenchana, Hae hyung.." gumam Hyukjae. Donghae tersenyum manis sekali saat mendengar panggilan Hyukjae untuknya. Ia terus mengusap pipi Hyukjae, menghiraukan tatapan-tatapan dari para karyawan. Seakan-akan mereka berada di sebuah ruangan kosong sekarang. Tapi tak lama momen ini berjalan, ada sebuah suara mengintrupsi, lebih tepatnya bentakan.

"YAK IKAN MOKPO!" sontak Hyukjae melepaskan kedua tangan Donghae dari pipinya. Ugh dia malu sekali. Hyukjae pun hanya bisa menundukkan kepalanya, ia malu.

Donghae yang merasa kesal karena acara menyentuh-pipi-lembut Hyukjae terganggu langsung memberi deathglare ke orang yang tega meneriakinya ikan didepan Hyukjae, walaupun tidak mempan, karena si pengganggu adalah iblis sejati.

"Apa kau lupa kau harus terbang, hah?! Sekarang adalah waktunya team kalian untuk briefing, bodoh! Aku bahkan harus menghentikan waktu pacaran dengan PSP-ku gara-gara Pak Tua Yesung yang terus memaksaku untuk mencarimu dan ternyata kau malah disini bermesraan dengan kekasihmu! Sedangkan aku yang baru mempunyai waktu untuk berkencan dengan pacarku malah harus disia-siakan untuk mencarimu! Ya Tuhan bolehkah aku membunuhmu sekarang juga?! Shit!" umpat pria itu panjang-lebar tanpa henti. Seluruh karyawan disitu hanya bisa bergidik ngeri sedangkan Donghae hanya menutup telinganya santai.

Pria manis di samping Donghae menggigit bibir bawahnya, ia menahan tangis sejak awal bentakan pria yang mengomel tadi. Hyukjae benar-benar tidak bisa dibentak. Ia lebih baik dimarahi dengan kalimat pedas nan datar daripada kalimat yang tidak begitu menyakitkan namun dengan bentakan.

Hyukjae yang juga merasa bersalah langsung mengangkat wajahnya. Matanya yang sedikit berair menatap pria didepannya yang balik menatapnya intens. Dengan keberanian yang tertinggal, Hyukjae membela Donghae. Bagaimanapun ini bukan kesalahan Donghae semata.

"Mi-mianhamnida, Tuan. Donghae hyung menemaniku berkeliling tadi, sampai terlupa kalau kami ada jadwal terbang ke Beijing. Aku juga lalai, Tuan. Maafkan aku dan Donghae hyung." Hyukjae membungkuk dalam ke pria itu, karena Hyukjae tadi melihat badge yang sama dengan Donghae, pria ini juga seorang captain.

"Nugu...seyo? Kau anak baru?" pria itu melirik ke badge yang dipake Hyukjae. Dia menghampiri Hyukjae, menegakkan badan pria manis itu, lalu membuka topinya.

"Wah.. Cute blondie.." gumam pria itu mengagumi paras Hyukjae.

Donghae ntah kenapa merasa marah karena pria itu seenaknya menyentuh Hyukjae. Dengan kasar ia menepis tangan pria itu lalu mengambil topi Hyukjae paksa dan memasangkannya kembali ke Hyukjae. Pria itu terkekeh geli melihat kelakuan Donghae.

"Aigoo.. kemana uri Donghae yang tidak pernah peduli akan sekitar itu?" sindiran dari pria itu menimbulkan perempatan di dahi Donghae. Donghae tak segan langsung merangkulkan tangannya di leher pria itu lalu menjepitnya.

"Cho Kyuhyun! Kau benar-benar membuatku kesal! Mati saja kau setan!" teriak Donghae sambil mengencangkan jepitan tangannya di leher Kyuhyun-pria itu.

"Uhuk... Yak! Ikan Amis! Uhuk.. Lepas sialaaaann." teriak Kyuhyun tak mau kalah, dia terus berusaha melepas jepitan Donghae.

Hyukjae termenung melihat kelakuan dua pria dewasa itu. Mereka terlihat dekat, terlalu akrab malah. Hyukjae melihat sekitar, semua orang yang berada disitu hanya bisa tertawa maklum, sepertinya mereka sudah sering melihat adegan ini. Hyukjae pun tanpa sadar sudah menampilkan gusinya, ia tertawa, sangat keras.

Donghae dan Kyuhyun berhenti bergulat, mereka lebih fokus melihat pria manis itu. Hanya satu kata yang terlintas di benak mereka.

'Manisnya...'

Hyukjae tak mengindahkan alasan kenapa mereka berhenti. Yang jelas mereka itu lucu. Hyukjae meredakan tawanya namun sesekali masih terdengar suaranya. Hyukjae menarik lengan Donghae pelan, lalu ia membungkuk ke arah Kyuhyun. Dia ingin memperkenalkan dirinya.

"Annyeong Cho Kyuhyun-ssi. Lee Hyukjae imnida. Aku co-pilot baru disini. Kalau begitu, kami pamit dulu. Semoga kita bisa bertemu di lain waktu Kyuhyun-ssi." Hyukjae membungkuk sekali lagi. Setelah itu, ia menarik Donghae pergi, tak menghiraukan Kyuhyun yang cengo dan Donghae yang tercengang. Mereka harus cepat. Mereka harus mengikuti briefing bersama crew lainnya.

Donghae yang masih terpaku karena Hyukjae memegang lengannya hanya bisa diam dan melihat ke bagian belakang pria manis itu.

'Dari belakang pun manis.' batin Donghae.

Ah sebentar. Sepertinya Hyukjae melupakan sesuatu yang penting. Dia pun langsung menghentikan langkahnya lalu menengok Donghae yang dibelakangnya.

"Hyung..."

"Ya, Hyukkie?"

"Tempat briefing nya dimana ya? Hehe.." Hyukjae menggaruk dahi nya gugup. Rasanya malu sekali. Donghae pun terkekeh karenanya.

"Hahahaha kau ini. Kajja!"

Donghae merangkul Hyukjae erat lalu mereka berjalan santai ke tempat briefing.

.

.

.

"Baiklah, selamat bekerja semua." Donghae mengakhiri briefing pagi ini.

Donghae menggeret travel bag-nya memasuki pesawat diikuti Hyukjae dibelakang.

Sesampainya di kokpit, mereka menaruh travel bag di tempat yang telah disediakan lalu memulai prosedur sebelum keberangkatan. Donghae dan Hyukjae memakai aviation headset mereka lalu memulai check sebelum take off.

"All done, captain." ujar Hyukjae. Donghae menjawab dengan deheman, dia masih sibuk dengan bagiannya.

"Next, Hyuk."

"Okay."

Hyukjae paham dengan maksud Donghae dan langsung melaksanakannya.

"Clearance delivery, good morning. This is Elf Airlines boeing 737 requesting IFR clearance to Beijing." ternyata Hyukjae diminta untuk mengumumkan take-off oleh Donghae.

Mereka menunggu jawaban dari ATC. Setelah mendapatkan jawaban, Donghae memulai proses take-off dengan serius, sedangkan Hyukjae memerhatikan angka ketinggian untuk menaikkan landing gear. Hyukjae yang sering terlihat seperti anak kecil ternyata bisa juga seserius ini.

.

.

.

Pesawat mereka kini sudah ada di ketinggian yang aman. Mereka sedang bersantai sekarang ini. Tidak sepenuhnya bersantai sih, hanya saja jarak tempuh mereka masih aman untuk saat ini.

Terlalu hening, Donghae tidak suka itu. Menunggu Hyukjae yang membuka bicara pun sepertinya sampai landing juga dia tidak akan bicara. Akhirnya Donghae yang memulai.

"Hyukkie.."

"Ne, hyung?" baiklah, Hyukjae ternyata masih mau menjawab. Donghae pikir Hyukjae itu tipe yang paranoid sampai ia tidak akan meleng sedikitpun dari jendela depan.

"Apa alasanmu pindah kesini? Kudengar kau sudah sempat bekerja di Delta airlines. Dan itu bukanlah maskapai abal-abal, Hyuk." ujar Donghae sedikit gemas. Dia memang sempat kaget saat Kangin bilang Hyukjae lulusan mahasiswa terbaik di kampusnya dan bisa bekerja di Delta Airlines.

Hyukjae tersenyum sangat manis sebelum ia menjawabnya, Donghae sampai terpaku melihatnya.

"Aku hanya ingin pulang, hyung. Aku sudah terlalu lama melewatkan hariku tanpa keluargaku disekitarku. Aku rasa 8 tahun sudah sangat cukup untukku meninggalkan keluarga tercintaku."

Hyukjae tidak menghentikan senyumannya, namun Hyukjae tak sadar dengan raut muka Donghae yang berubah keruh, sedih, dan tersirat luka di matanya yang sudah memandang ke depan kembali.

Hening.

Tidak ada yang membuka suara. Hyukjae sedikit merasa tidak nyaman dengan kediaman Donghae. Ia merasa sepertinya ia salah bicara.

"Hyung.."

Tidak ada sahutan. Donghae masih melamun ternyata.

"Hae hyung.." panggilan Hyukjae tetap tidak digubris.

Hyukjae yang merasa kesal sekaligus khawatir itu langsung memegang wajah Donghae dan menghadapkannya ke dirinya.

Donghae terkaget saat melihat jarak wajah Hyukjae yang lumayan dekat kearahnya.

"Hyung, kau sakit? Kenapa kau melamun begitu?" tanya Hyukjae khawatir. Ia melepas tangannya yang tadi memegang wajah Donghae.

Pria tampan itu tersenyum manis kearah Hyukjae. Donghae sangat senang diperhatikan oleh Hyukjae, ntah kenapa sangat menyenangkan.

"Dan sekarang kau senyum-senyum tidak jelas. Kau membuatku takut, hyung.." lirih Hyukjae. Donghae tertawa terbahak-bahak, Hyukjae benar-benar membuatnya senang. Ekspresi serta cara dia berbicara itu hiburan buat Donghae.

"Aku tidak apa-apa, Hyukkie. Jangan takut." Donghae mengusap kepala Hyukjae lembut. Hyukjae tersenyum sebagai balasan.

Tak ingin berlama-lama dengan posisi seperti ini, Donghae pun menjauhkan tangannya lalu mulai sibuk dengan pengaturan pilot nya.

Bagi Donghae, terlalu lama menatap Hyukjae bisa berbahaya untuk fokus pikirannya…. karena Hyukjae terlalu indah.

'Cih, kau terlalu cheesy, Donghae.' batin Donghae.

.

.

.

.

Mereka telah sampai di Beijing. Semua para crew sudah keluar dari pesawat, begitupun Donghae dan Hyukjae. Mereka berdua tadi sepakat untuk makan siang bersama.

Dan disinilah mereka, di kantin bandara. Mereka memesan makanan masing-masing lalu duduk di pojok dekat jendela.

"Itadakimasu~" ucap Hyukjae riang dan langsung menyumpit makanannya.

"Kau bisa bahasa Jepang?" Donghae penasaran.

"Anni, aku hanya tau dasar-dasarnya saja." Hyukjae menjawab dengan mulut penuh makanan, ckckck kelakuan.

Haish, ingatkan Donghae untuk membawa karung lain waktu. Karena anak manis jangan dibiarkan sering main diluar /nahloh.

Mereka makan sambil bertukar cerita masing-masing dan terkadang ada ejekan disana. Mereka akrab hanya dalam waktu beberapa jam. Itu adalah hal ajaib untuk orang seperti Donghae dan Hyukjae. Karena Donghae dan Hyukjae itu termasuk kategori susah mencari teman yang cocok.

"Jadwalmu jam berapa lagi, Hyukkie?" Donghae bertanya. Mereka kini sedang menikmati minuman dingin.

"Hmm.. Aku akan ke Jepang jam 3 nanti dengan..." Hyukjae menjeda kalimatnya, ia membuka buku catatan kecilnya yang berisi salinan jadwalnya.

"Ah, bersama Captain Nickhun." Hyukjae melanjutkan.

Hyukjae sedikit bingung saat melihat wajah Donghae yang terlihat tidak suka dengan ucapannya barusan.

"Hyukkie, kau hati-hati dengan Nickhun itu."

"Wae?"

"Dia itu genit."

"Lalu apa hubungannya denganku?"

"Kau itu kelewat manis, Lee Hyukjae."

Blush..

Donghae sekarang sudah pintar membuat Hyukjae merona malu. Hyukjae hanya bisa melihat kearah luar jendela sambil meminum susu stroberinya sekaligus menutupi wajahnya yang lumayan merah karena dipuji. Donghae tahu kalua pria manis didepannya ini sedang malu-malu karena dipuji oleh Donghae. Ah Dongha benar-benar ingin membawa pria ini pulang, dikurung di kamar, berada di dalam selimut yang sama, saling berbagi kehangatan dengan pelukan, berbagi ciuman da—tunggu.

'Kenapa jadi aku memikirkan hal-hal mesum?' Donghae membatin, memukul kepalanya lumayan keras.

"Hyung, kau kenapa lagi?" tanya Hyukjae, dia benar-benar heran sekaligus khawatir dengan kelakuan Donghae yang ajaib menurutnya.

Donghae hanya bisa nyengir, ia merasa tidak enak melihat Hyukjae yang terlihat khawatir karena Donghae aneh seperti ini karena berpikir jorok soal Hyukjae. Dasar ikan mesum.

"Bagaimana dengan jadwalmu setelah ini, hyung?"

"Hm.. 1 setengah jam lagi aku ikut penerbangan kembali ke Seoul. Lalu aku dan pilot Kim Kibum akan terbang ke Busan."

Ntah kenapa Hyukjae sedikit kecewa saat mendengar Donghae akan pergi duluan meninggalkannya. Hyukjae hanya mengangguk saja mendengar penjelasan Donghae.

Hening lagi.

Sepertinya mereka terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing. Ntah apa author juga tidak tahu. Mungkin saja mereka sedang berusaha mencari topik baru, meminta nomor handphone misalnya. Donghae berdehem sebentar sebelum menyampaikan kemauannya.

"Ehem.. Hyukkie, boleh hyung minta sesuatu?" Hyukjae mengangguk.

"Hyung minta…. nomor handphone-mu… apa boleh?" Ayolah Donghae. Hanya meminta nomor handphone saja kau gugup begitu.

Hyukjae menganggukan kepalanya cepat, sampai rambutnya ikut bergerak. Hyukjae menjulurkan tangan ke Donghae, seperti meminta sesuatu. Donghae yang masih lambat tidak mengerti.

"Apa?" tanya Donghae polos. Hyukjae mengerucutkan bibirnya kesal.

"Smartphone-mu, hyung ikan."

"Ya! Jangan panggil hyung ikan, arra?" kesal Donghae, namun tetap memberikan smartphone-nya ke Hyukjae.

Hyukjae tidak menggubris gerutuan Donghae, ia mengambil smartphone Donghae dan mengetikkan nomornya disana. Lalu dikembalikan ke Donghae.

"Ini, hyung. Terserah kau ingin namakan apa kontak untuk nomorku."

"Hm.. apaya…" Donghae memasang pose berpikir sambil melihat intens kearah Hyukjae. Ntah kenapa Hyukjae merasa tertantang untuk menatap Donghae, ia sekarang menumpu wajahnya di kedua telapak tangannya, ia menatap intens Donghae balik.

Jadilah acara tatap-tatapan disana. Masing-masing dari mereka seakan terserap oleh bola mata lawannya. Donghae yang tenggelam didalam onyx kelam Hyukjae sedangkan Hyukjae yang tenggelam didalam hazel Donghae. Mereka berkedip, tentu saja. Tapi kedipan demi kedipan tidak menghentikan mereka untuk tetap menyelami mata masing-masing.

"Aku tahu nama yang cocok." Ujar Donghae tiba-tiba. Dia langsung mengetikkan nama yang dipikirkannya, tersenyum sebentar, lalu menyimpan smartphone-nya kembali ke saku celananya.

Hyukjae sedikit tersentak kaget, ia baru sadar dengan apa yang dilakukannya tadi. Astaga, untuk apa dia menatap Donghae sampai seperti itu? Hyukjae menggerutu dalam hati, mengatakan dirinya sangatlah memalukan. Ia tatap lagi Donghae sekilas, ia tak berani melihat Donghae lama-lama sekarang. Sedangkan Donghae merasa itu tak masalah, malah membuat hatinya seakan semakin gencar ingin mendekati Hyukjae. Hyukjae pun berinisiatif untuk mengalihkan suasana.

"Hyung, gantian. Aku tidak tahu nomormu." Hyukjae berkata sambil menunduk, mengaduk minumannya. Dia belum siap menatap Donghae.

"Nanti saja. Saat aku rindu padamu, aku akan langsung meneleponmu. Jadi tunggulah."

Blush..

'Ugh.. aku benar-benar seperti uke. Menyebalkan..' batin Hyukjae.

Hening lagi.

Donghae dan Hyukjae kini sedang sibuk dengan smartphone mereka. Donghae sedang sibuk membaca sebuah pesan yang membuat mukanya berubah ekspresi beberapa kali. Sedangkan Hyukjae membalas pesan-pesan temannya di Amerika. Teman Hyukjae tidak banyak sih, namun bagi Hyukjae mereka saja sudah cukup karena mereka yang paling peduli dengan Hyukjae.

"Good afternoon passengers. This is the pre-boarding announcement for flight to Seoul. We are now inviting those passengers with small children, and any passengers requiring special assistance, to begin boarding at this time. Please have your boarding pass and identification ready. Regular boarding will begin in approximately ten minutes time. Thank you."

Terdengar suara panggilan untuk penumpang pesawat ke Seoul. Hyukjae dan Donghae mendongakkan kepala mereka lalu saling menatap. Donghae tersenyum lembut sembari menegakkan badannya. Hyukjae mengikutinya.

"Jja… Hyung berangkat dulu ne, Hyukkie. Kau hati-hati nanti. Tetap jaga fokusmu, arra?" Hyukjae mengangguk dan reflek menutup matanya saat Donghae mengelus kepalanya lembut.

"Ah dan juga jangan terlalu dekat dengan Nickhun, kau terlalu manis untuknya."

Alasan apa itu zzz -_-

"Ne, hyung. Hyung juga hati-hati ya. Sampai jumpa di Seoul." Ujar Hyukjae sambal tersenyum khas dirinya.

Donghae gemas akan Hyukjae, kemanisan Hyukjae. Dengan reflek Donghae memajukan badannya, menarik Hyukjae sedikit dan mencium dahi Hyukjae cukup lama.

Deg…deg..deg..

Jantung mereka berdetak cepat. Donghae tak ingin menghentikannya walaupun ini salah, karena mereka bukan siapa-siapa. Hyukjae? Dia juga tidak menolak. Dia malah menutup matanya, menikmati sentuhan hangat di dahinya.

"Good afternoon passengers. This is the pre-boarding announcement for flight to Seoul. We are now inviting those passengers with small children, and any passengers requiring special assistance, to begin boarding at this time. Please have your boarding pass and identification ready. Regular boarding will begin in approximately ten minutes time. Thank you."

Panggilan untuk penerbangan ke Seoul terdengar kembali. Donghae akhirnya melepas ciumannya. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena gugup. Donghae sedikit merasa bersalah, karena ia kurang ajar. Namun dirinya yang lain mengatakan kalau mengambil kesempatan saat ada peluang tidak apa kan?

Hyukjae pun hanya bisa menunduk, tak berani memandang Donghae. Ntah sudah berapa kali hari ini dia seperti orang yang memalukan, menurutnya.

"Hyung pergi ya. Bye, Hyukkie." Donghae menggeret travel bag-nya, berjalan melewati Hyukjae tanpa menunggu balasan dari Hyukjae.

Set.

Hyukjae menarik baju Donghae, pria manis ini sempat menggerutu karena saraf tubuhnya yang bekerja duluan daripada otaknya. Donghae menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang dengan Hyukjae yang masih menundukkan kepalanya.

"Jangan katakan bye, hyung.." lirih Hyukjae, "…tapi katakan see you, karena kita akan berjumpa lagi. Benar kan?" lanjutnya. Pria manis ini memberanikan diri untuk menatap Donghae dengan senyum yang terpatri manis di wajahnya.

Lelaki tampan berambut kebiruan ini terpaku sesaat. Tak lama ia mengamit tangan Hyukjae yang memegang bajunya dan mencium tangan Hyukjae, lalu berkata..

"See you again, Hyukkie. If you can't meet me first, than I'll come to find you."

Donghae melepas tangan Hyukjae perlahan, ia berlalu kembali kearah dimana penerbangan Seoul dilakukan, meninggalkan Hyukjae yang masih terpaku di tempat. Hyukjae sibuk dengan pikirannya, sibuk dengan hatinya yang berdebar kencang, dan sibuk mengembalikan warna wajahnya seperti semula.

Tanpa mereka sadari sepenuhnya sebenarnya mereka sudah jatuh sangat dalam hingga tidak bisa melihat kearah lain lagi.

.

.

.

08.55pm

Hyukjae sekarang berada disebuah kamar hotel. Dia baru saja sampai di Hiroshima, Jepang. Besok ia harus kembali ke Seoul pagi-pagi sekali dan melanjutkan jadwalnya. Dia sudah mengabari eomma-nya bahwa ia akan bermalam di Jepang. Walaupun mungkin eomma-nya sudah tau dari appa-nya, namun tidak ada salahnya sekalian mengobrol dengan eomma-nya.

Hyukjae menukar seragamnya dengan piyama berwarna biru muda motif teddy bear. Malu dengan umur? Hyukjae tidak perduli selama barang itu lucu dan imut, dia akan masa bodoh dengan perkataan orang lain.

Hyukjae menidurkan badannya di kasur. Dia tidak berniat untuk mandi malam ini. Dia mandi besok pagi saja, pikirnya. Hyukjae tidur dengan posisi tengkurap dan tangan kanannya memeluk guling. Baru saja dia menutup matanya, suara smatphone berbunyi keras.

Pria manis itu mengumpat keras, ia kesal. Hyukjae mendiamkannya, dia terlalu lelah untuk meladeni orang lain sekarang.

Geuraedo neoneun namankeum deo apeuji anhgil
Maeil barae su eopsido
Neoneun namankeum gieokhaji anhgil
Naboda gwaenchanhgil barae
Oh oneul naeildo

"ARGH BAIKLAH AKU MENYERAH!" teriak Hyukjae marah. Dengan kesal dia mengambil smartphonenya yang tadi diletakkannya di meja nakas disamping kasur. Tanpa ba-bi-bu Hyukjae mengangkatnya tanpa memberi salam atau mengucap halo.

"Bisakah menghubungiku besok?! Aku lelah! Kau mengganggu tidurku! Idi-" umpatan Hyukjae terpotong oleh suara di seberang sana.

"Hyukkie? Ini hyung, apakah hyung mengganggumu? Yaampun maafkan hyung." Suara di seberang terdengar sangat khawatir dan ada nada bersalah. Membuat pria manis itu tersadar dan reflek membulatkan matanya.

"Ini Donghae hyung? Astaga maafkan aku, aku sudah marah-marah tidak jelas. Maafkan aku." Hyukjae berujar sambal membungkukkan badannya sedikit berkali-kali, padahal tidak akan terlihat dari sana.-_-

"Gwenchana, Hyukkie. Hyung yang salah karena mengganggumu. Ya sudah lanjutkan istirahatmu, Hyukkie. Hyung hanya ingin tahu kabarmu."

"Nde, hyung. Sekali lagi maaf.."

"Sudah, sudah. Tidurlah yang nyenyak, Hyukkie. Have a sweet dreams."

"You too, hyung. Goodnight."

Baru ingin menjauhkan smartphone dari telinganya, tangan Hyukjae terhenti saat Donghae memanggilnya.

"Ne, hyung? Apa ada yang lupa kau sampaikan?"

"Ada. Aku merindukanmu. Cepatlah kembali."

Pip

Sambungan terputus, diputus sepihak dari Donghae lebih tepatnya.

Hyukjae?

Pikiran pria manis ini sedang me-recall ucapan Donghae tadi. Mukanya sudah semerah tomat. Pengaruh Donghae sepertinya akan semakin besar untuk hidup seorang Lee Hyukjae.

Hyukjae menaruh smartphone-nya kembali ke meja nakas. Dia menutupi dirinya dengan selimut sampai kepala. Misinya malam ini adalah tidur dengan tenang tanpa bayang-bayang Donghae. Termasuk di mimpinya, kalau bisa jangan ada Donghae. Kenapa? Karena Hyukjae akan semakin susah untuk menata hatinya besok saat bertemu Donghae.

.

.

.

Sementara Donghae..

.

.

.

"Astaga kau terlalu berani, Donghae! Bagaiamana nanti kalau dia menjauh darimu? Bodoh!"

Pria yang mengumpat itu, Donghae, ternyata mengumpat untuk dirinya sendiri. Ia sedikit menyesal akan perbuatan serta perkataannya hari ini. Kenapa dia baru memikirkan kemungkinan bahwa Hyukjae mungkin akan menjauh darinya? Hyukjae itu terlalu lembut, bisa saja dia berpikir Donghae terlalu seram karena terlalu intim di kali pertama mereka bertemu.

"ARGH!"

Donghae merebahkan badannya ke satu-satunya kasur dikamar apartemennya. Lengannya ia pakai untuk menutup matanya. Hati dan pikirannya masih bergejolak kesal, namun saat mengingat ekspresi Hyukjae hari ini, ia kembali senang. Dan kekesalannya tadi pun ntah menguap kemana karena pikirannya sekarang hanya penuh dengan wajah-wajah Hyukjae serta suara merdu pria manis itu.

Sepertinya Donghae akan bermimpi indah malam ini..

.

.

.

.

.

.

TBC

Haloooo~

Aku balik lagi bawa update nya hehehe. Maaf kalau kurang memuaskan, karena aku rasa tulisan aku juga masih agak kaku (maklum udah lama ga nulis huhu). By the way, aku seneng baca review kalian. Walaupun reviewnya dikit, tapi isi dari review kalian yang antusias itu buat aku makin semangat untuk mendalami konsep cerita yang aku ambil. Berhubung karena ini tentang pilot dan penerbangan, aku juga harus mempelajari beberapa yang perlu. Jadi, informasi yang kalian terima pun tidak salah, hehehe.

Semoga ceritanya cocok dengan kalian yah. Satu pesan lagi dari aku. Keep loving our HaeHyuk Couple! Kkkk~ see ya, guys!