Title : Make me yours, Captain!

Disclaimer : Mine for the story. God's for the casts.

Rate : T

Pair : HaeHyuk, KangTeuk, SiBum, others will show up later~

.

.

.

09.12am - Seoul

Hyukjae telah tiba di Seoul. Dia ikut penerbangan pagi dari maskapai tempat ia bekerja. Hari ini jadwalnya jam 10.45am ke Thailand, masih ada waktu untuk menikmati sarapan pagi setelah itu pergi melaksanakan briefing bersama crew lainnya. Tapi pertama-tama Hyukjae harus ke ruang kerja appanya dulu. Dia harus mengganti pakaian-pakaian yang dia bawa. Niatnya Hyukjae sih mau pulang kerumah, namun sebelum berangkat ke Seoul, appanya menelepon Hyukjae untuk tidak perlu pulang kerumah. Kangin akan membawakan baju ganti untuk stok Hyukjae terbang nanti.

Sesampainya disana, Hyukjae berbicara dengan sekretaris yang berada di depan ruangan appanya.

"Permisi, aku ingin bertemu dengan Kangin sajangnim. Apakah bisa?" tanya Hyukjae lembut, tak lupa dengan senyuman manisnya. Sedangkan wanita yang diajak bicara sedikit terpaku dengan kemanisan pria didepannya, membuatnya merona dan hanya bisa memandangi pemuda didepannya intens tak berkedip.

"Umm.. excuse me? Is there something weird on my face?" Hyukjae bertanya heran seraya menunjuk kearah wajahnya sendiri.

Wanita itu akhirnya tersadar dari lamunannya. "A..ah nde, tunggu sebentar Tuan, saya akan sampaikan ke sajangnim. Silahkan duduk disana." ujar wanita itu. Hyukjae mengangguk dan menunggu di kursi seberang ruangan appanya.

Tak lama kemudian, sekretaris tadi menghampirinya dan menyuruh Hyukjae untuk masuk. Wanita itu masih berdiri di depan pintu, ia langsung terkaget ternyata pilot ini adalah anak dari bos besar disini.

"Appa!" teriak Hyukjae.

"Hyukkie! Anak appa sudah kembali." Kangin menghampiri anaknya dan langsung memeluk anaknya erat.

Kangin melihat sekretarisnya terkaget di depan pintu. Tidak ingin momen dengan anaknya terganggu, dia memberi sinyal untuk sekretarisnya meninggalkan ruangan yang langsung dilaksanakan oleh wanita itu setelah membungkuk sopan.

Sesudah acara peluk-pelukan, Kangin membawa anaknya duduk di sofa hangat ruangan itu. Kangin kembali ke meja kerjanya lalu kembali ke sofa dengan sepiring sandwich daging di tangan kanannya dan sekotak susu strawberry di tangan kirinya. Mata Hyukjae langsung berbinar melihatnya.

"Jaa.. makanlah sayang. Appa tahu kau pasti belum sarapan." ujar Kangin. Hyukjae mengangguk cepat dan langsung memakan sandwich itu dengan lahap, tak lupa beberapa kali ia menyesap minuman favoritnya itu.

Kangin terkekeh melihat putra semata wayangnya ini masih saja seperti 8 tahun yang lalu. Kangin sempat berpikir jika nanti anaknya pulang, dia tidak akan menyaksikan bagaimana tingkah Hyukjae kecilnya yang menggemaskan. Tapi ternyata Hyukkie-nya tidak berubah sedikitpun. Bukannya Kangin tidak ingin Hyukjae dewasa. Hanya saja Kangin ingin menikmati waktu untuk melihat kelakuan putra kecilnya, walaupun sebentar saja.

"Bagaimana penerbanganmu? Apakah sama dengan saat kau bekerja di Delta Airlines?" tanya Kangin memecah keheningan saat dilihatnya Hyukjae telah menghabiskan sarapannya.

"Tidak jauh beda, appa. Mau dimanapun, flying has a same concept." jawab Hyukjae. Kangin mengangguk mengerti.

"Syukurlah kalau begitu. Lalu bagaimana dengan Donghae? Apakah kau cocok dengannya?" Kangin sedikit terkekeh geli melihat perubahan ekspresi anaknya, wajah Hyukjae sedikit merona.

'Aigoo, anakku sudah mulai dewasa.' batin Kangin.

"Dia tutor yang baik, appa. Dalam kurun waktu sehari kami sudah bisa berteman baik. Aku tidak menyesal berkenalan dengannya." jelas Hyukjae, tak sadar ia tersenyum manis setelahnya, ia mengingat sekelebat momennya dengan Donghae kemarin.

Hyukjae tertawa geli mengingatnya, wajahnya pun memerah. Benar-benar aneh. Mereka baru saja bertemu kemarin namun mereka sudah seperti orang yang sudah mengenal lama satu sama lain. Hyukjae terlalu fokus dengan pikirannya sampai tidak dihiraukan Kangin yang daritadi menatapnya lucu.

Tiba-tiba Kangin teringat sesuatu. "Hyukkie, apa kau mau tahu siapa Donghae?" tawarnya.

Hyukjae terkejut. Dia menatap dalam appanya, mengisyaratkan appanya untuk berbicara lebih lanjut.

"Tapi appa minta padamu untuk tetap bersikap biasa saja saat bersamanya, janji?" Hyukjae ragu dan takut di saat bersamaan, memangnya ada apa dengan Tan Donghae? Hyukjae pun membalasnya dengan anggukan pelan, ia sedikit ragu sebenarnya.

"Tan Donghae, adalah anak yang dibuang keluarganya. Ia dibuang saat ia berumur 17 tahun."

What?

Hyukjae terdiam. Dia shock mendengarnya. Dibuang? Karena apa? Seakan tahu apa pikiran Hyukjae, Kangin menjelaskannya lebih detil.

"Dia mengakui soal orientasi seksualnya kepada orang tuanya, bahwa dia menyukai laki-laki. Dia tak ada hasrat untuk perempuan. Semua itu disadari bagaimana dia memandang sesamanya sangat berbeda saat dia memandang perempuan. Orang tua nya marah besar. Keluarga Tan adalah keluarga yang terpandang. Ayah dari Donghae adalah keturunan langsung bangsawan kerajaan di China dan mempunyai perusahaan terbesar nomor 2 se-Asia, sedangkan Ibunya adalah anak dari konglomerat ternama di Seoul. Dengan orientasi Donghae yang menurut mereka bermasalah, pasti akan sangat memalukan keluarga mereka. Padahal, kau tahu sendiri Hyukkie bahwa hubungan sesama jenis itu sudah lumrah dimana-mana sejak puluhan tahun yang lalu."

"Karena cinta tidak pernah salah memilih.." celetuk Hyukjae tanpa sadar, matanya sudah berkaca-kaca karena Tan Donghae.

Kangin duduk di samping Hyukjae, dia merangkul pundak anaknya yang lumayan bergetar. Hyukjae memang cengeng untuk hal-hal yang berbau seperti ini. Kangin pun melanjutkan ceritanya.

"Donghae yang sudah siap akan segala keputusan orang tuanya itu hanya bisa pasrah. Tanpa perlawanan apapun dia meninggalkan rumah itu, hanya sekedar membawa baju yang melekat di tubuhnya. Dia tidak merasa menyesal ataupun jijik akan orientasi seksualnya yang tidak wajar bagi orang tuanya itu. Dia bahkan tak mau repot-repot meyakinkan orang tuanya untuk berubah. Karena bagi Donghae, itu bukanlah hal yang harus disingkirkan, itu adalah hak nya. Lalu, dia hidup bersama sahabat baiknya, Cho Kyuhyun. Apakah kau sudah bertemu dengannya?"

Hyukjae mengangguk. Kangin melanjutkan lagi.

"Donghae tinggal bersama Kyuhyun karena Kyuhyun tinggal di apartemen sendirian. Kebetulan mereka berdua juga punya impian yang sama, mereka pun mengejar mimpi itu secara bersama-sama. Bahkan Donghae bisa mendapatkan beasiswa penuh untuk sekolah pilot, sepertimu, Hyukkie."

Hyukjae sedikit membulatkan matanya. Dia kagum dengan kemauan Donghae yang begitu tinggi. Padahal dia sedang dalam kondisi yang sangat buruk, namun sama sekali tidak mengganggu keinginannya untuk menjadi pilot.

"Kyuhyun berpisah dengan Donghae karena orang tua Kyuhyun akan menyekolahkan Kyuhyun di luar negeri. Alhasil Donghae sendiri saat itu, tapi dia tetap gigih meraih keinginannya. Dan ia menjadi lulusan terbaik lalu bekerja disini sampai sekarang dia bisa menjadi seorang captain."

"Apakah orang-orang tahu dia adalah putra keluarga Tan yang itu?" tanya Hyukjae.

Kangin mengangguk sekilas. "Ya. Maka dari itu selama hidupnya dia selalu mendapat sinisan dan juga belas kasihan. Namun itu semua tak membuat Donghae lumpuh. Baginya itu hanyalah rintangan yang harus dia lewati. Bahkan ia masih bangga dengan nama keluarganya yang terus tersemat disana. Dan sekarang dia membuktikkan ke seluruh dunia, termasuk orang tuanya. Bahwa Donghae bisa berdiri dengan kakinya sendiri."

Hyukjae tidak bisa menahan tangisnya lagi. Airmatanya tidak mau berhenti sejak tadi. Tan Donghae benar-benar hebat menjalani hidup dengan susah payah seperti itu, belum siksaan batin yang diterimanya. Rasanya sakit kau mempunyai orang tua namun tidak mendukungmu sama sekali malah menjatuhkanmu sangat dalam ke dalam jurang keputus-asaan. Namun Tan Donghae, melewati itu dengan sempurna.

"Sst.. Sudah jangan menangis, sayang. Kau harus bersikap normal saja ya. Orang-orang disini pun memaklumi hal itu dan mendukungnya." jelas Kangin dan diangguki semangat oleh Hyukjae.

Hyukjae sudah bertekad akan membuat Donghae bahagia. Apapun caranya. Karena Tan Donghae, berhak bahagia.

"Appa, kalau aku menyukai sesama jenis juga bagaimana?" tanya Hyukjae gugup. Ntahlah, dia ingin tahu. Dan jawaban Kangin membuatnya terdiam.

"Apakah itu Donghae?" Kangin bertanya balik dengan kekehan geli.

Hyukjae merona.

.

.

.

Hyukjae selesai mengikuti briefing. Pasangannya kali ini adalah Pilot Kim Kibum. Kim Kibum tipe orang yang tidak banyak bicara. Hyukjae jadi harus lebih mandiri menjalankan tugasnya tanpa harus diperintah sebelumnya.

Hyukjae, Kibum, serta crew lainnya mulai memasuki pesawat. Hyukjae dan Kibum langsung masuk ke dalam kokpit lalu memeriksa sistem dan bahan bakar. 10 menit kemudian Kibum memasang aviation headset-nya diikuti oleh Hyukjae dan mereka mulai menyalakan sistem-sistem yang diperlukan.

Hyukjae dengan cekatan mengecek semuanya sebelum take-off.

"All done, sir." ujar Hyukjae.

"ATC." Kibum menjawab singkat. Sangat singkat membuat Hyukjae lumayan kesal namun tetap menjalankannya.

"Clearance delivery, good morning. This is Elf Airlines boeing 777 requesting IFR clearance to Thailand."

Hyukjae mengfokuskan pendengarannya hingga ATC menyatakan rute mereka telah siap untuk dilewati. Kibum yang juga mendengar itu langsung memulai proses take-off.

"4000...5000.. Okay, landing gear up." ucap Hyukjae, Kibum menuruti.

Proses take-off berhasil. Mereka kini sudah diatas awan. Hyukjae menghela nafas lega. Dia memang sudah berkali-kali terbang namun tak dipungkiri kalau ia masih merasa takut.

Hyukjae melirik ke arah Kibum, pria es itu hanya diam dan membaca bukunya santai. Hyukjae mengambil buku kecil dari sakunya. Ia melihat jadwalnya.

'Hmm.. Aku akan pergi ke Singapore dengan... Captain Jung Yunho.' batinnya seraya mengangguk-anggukan kepalanya lalu memasukkan buku kecilnya kembali ke saku celananya.

Dia tiba-tiba teringat Donghae. Oiya, dia belum bertemu dengan Donghae hari ini. Dari ruangan appanya, ia langsung ke tempat briefing mengingat jam sudah mendekati waktu terbang.

'Apakah dia baik-baik saja?' Hyukjae mengingat pembicaraannya dengan Kangin tadi.

"Kau anak baru kan?" Kibum bertanya dengan nada serta wajah datar menatap lurus kearah Hyukjae.

Hyukjae terkaget. Manusia di sampingnya ini benar-benar menguji kesabarannya.

"Nde, Kibum-ssi. Waeyo?"

"Bagaimana kau bisa dekat dengan Tan Donghae?"

Huh?

Hyukjae memiringkan kepalanya tidak mengerti. Kenapa tiba-tiba dia membahas soal Donghae? Lalu, ada apa itu dengan raut wajahnya yang terlihat kesal?

"Kami tidak begitu dekat, Kibum-ssi. Tapi dia sudah kuanggap seperti hyung-ku sendiri karena pembawaannya yang hangat." jelas Hyukjae seadanya. Dia melirik Kibum kembali. Tapi kali ini yang dilihatnya adalah senyuman miris terpatri di wajah itu.

Baru saja Hyukjae ingin bertanya kenapa, terdengar alarm berbunyi. Alarm peringatan.

"Heavy Thunderstorms in 2kms away."

"Shit!" Kibum mengumpat. Pihak ATC tidak mengabari sama sekali sehingga ia dan Hyukjae tidak sadar ada awan mendung didepan sana.

"Tambah ketinggian."

Hyukjae mengangguk. Ia mulai menghitung seraya Kibum berusaha untuk menaikkan pesawat secara perlahan agar pesawat tidak berbalik fatal.

Mereka terus melalukannya hingga sampai pada titik teraman dan masih dalam ketinggian yang wajar. Mereka berdua menghela napas lega. Awan yang barusan memang harus mereka hindari karena kalau dipaksa terobos akan mengakibatkan turbulensi yang fatal.

"Boeing 777, apa kalian bisa mendengarku?" terdengar suara dari aviation headset milik mereka.

Kibum mendecak kesal sebelum menjawab panggilan di seberang sana.

"Sungmin-ah, kau terlambat! Bodoh!" Hyukjae sampai tersedak saat minum gara-gara mendengar Kibum mengumpat ke pihak ATC mereka. Biarpun mereka terdengar dekat, tapi tetap saja yang mendengar suara mereka disitu kan banyak. Eh iya, berarti obrolan mereka tadi juga terdengar dong?

"Galak sekali kau. Pesawat kalian tadi menghilang dari radar dan kami tidak bisa mengontak kalian. Untunglah kalian selamat." ujar Sungmin.

"Ada yang bermasalah berarti. Baiklah terima kasih atas info nya." jawab Kibum.

"Thankyou, Sungmin-ssi." ucap Hyukjae juga.

"Okay. Nikmati perjalanan kalian dan berhati-hatilah." Sungmin mengakhiri pembicaraan mereka.

Hening. Diantara Hyukjae dan Kibum tidak ada yang ingin membuka suara. Hingga mereka sampai ke tempat tujuan.

.

.

.

Hyukjae dan Kibum berjalan beriringan saa keluar dari pesawat. Beberapa cabin crew menyapa mereka saat berpapasan. Hyukjae menyapa balik dengan senyuman manisnya, sedangkan pria disebelahnya hanya memasang muka datar dan melenggang dengan santai.

Hyukjae mendelik kearah Kibum. Pria ini makan apa sih sampai sebeku ini? Tiba-tiba Kibum melihat kearahnya membuat Hyukjae berjengit kaget. Hyukjae sudah menyiapkan diri kalau-kalau Kibum akan mengomelinya karena memandanginya. Namun yang keluar dari mulut Kibum sangatlah mengejutkan.

"Ayo makan siang bersama. My treat." ajak Kibum santai sambil menggenggam tangan Hyukjae erat, mengabaikan Hyukjae yang menganga tidak percaya.

Dengan terpaksa Hyukjae mengikuti Kibum ntah kemana. Kibum sedari tadi berjalan dengan menarik dirinya seenaknya. Hyukjae mengerucutkan bibirnya kesal.

'Apakah aku tidak mempunyai hak atas kakiku sendiri sekarang?' batin Hyukjae miris. Kau terlalu lebay, Hyukkie sayang.

"Sampai." Kibum akhirnya bersuara. Hyukjae menatap tempat didepannya. Restoran Prancis. Mata Hyukjae berbinar, restoran favoritnya! Ia langsung melayangkan tatapan terima kasih ke Kibum. Kibum meliriknya sekilas. Lalu menarik Hyukjae kedalam restoran tersebut. Kibum menghampiri pria berbadan kekar dengan setelan jas yang terlihat sangat mahal, duduk di tempat paling pojok restoran.

"Siwonnie~" panggil Kibum lembut, Hyukjae hampir terjatuh karena perubahan drastis Kibum.

"Oh Kibummie~ kau datang. Duduklah, sayang." jawab Siwon seraya mengecup pipi Kibum lalu menarik kursi untuk Kibum, setelah itu ia duduk di kursi sebelah Kibum. Siwon belum menyadari keberadaan Hyukjae rupanya.

Hyukjae tersenyum kecut. Sepertinya ia akan menjadi obat nyamuk disini. Hahh..

"Hyukjae, duduk disini." Kibum menyuruh Hyukjae duduk disampingnya, Hyukjae menurut.

Setelah duduk dengan nyaman, ia membuka topi pilot nya dan menaruhnya di atas travel bag.

"Nuguseyo?" tanya Siwon. Saat Kibum menyuruh Hyukjae untuk duduk barulah Siwon menyadari ada pria lain yang ikut dalam makan siang ini.

"Ah.. Maaf aku lupa memperkenalkan diri. Lee Hyukjae imnida." jelas Hyukjae sembari mengulurkan tangan ke Siwon yang disambut dengan ramah.

"Choi Siwon imnida. Senang berkenalan denganmu. Kibum-ku jarang sekali membawa temannya ikut makan bersama. Kau hebat."

Hyukjae mengernyit heran. Seingatnya Kibum bahkan tidak memberi sinyal pertemanan sama sekali dari awal mereka bertemu-kecuali ajakan makan siang ini.

"Thankyou for the compliment, Siwon-ssi." Hyukjae membungkukkan sedikit badannya.

"Tidak perlu terlalu formal, Hyukjae-ssi. Yasudah, mari kita pesan makanan."

Kibum yang sedari tadi diam ternyata sedang mencari makanan yang mau ia pesan. Dia memanggil waitress terdekat lalu mengucapkan pesanannya, lalu Siwon dan Hyukjae yang terakhir.

Siwon mengobrol dengan Kibum. Mereka menceritakan kegiatan yang telah mereka lalui dengan ceria. Bahkan Hyukjae terlalu betah melihat ekspresi Kibum yang berubah-ubah. Beda sekali dengan Kibum pada umumnya/?.

"Kau pilot baru di ELF Airlines? Aku baru melihatmu." Siwon bertanya dan diangguki oleh Hyukjae.

"Aku baru bekerja 2 hari. Aku pindahan dari Amerika."

"Wah, apakah kau Lee Hyukjae itu? anak Kangin sajangnim yang mendapat beasiswa penuh di Amerika dan sempat bekerja di Delta Airlines? Dia pernah bercerita tentangmu." tanya Siwon antusias, Kibum pun sampai menatap kaget kearahnya. Hyukjae mengangguk malu, ia bangga karena ada orang selain orangtuanya yang mengagumi kemampuannya, sama saat Donghae memujinya kemarin.

Kenapa jadi tiba-tiba ingat Donghae?

Hyukjae mengalihkan pikirannya dengan menjawab pertanyaan Siwon.

"Aku hanya belajar dan terus belajar, hingga keberuntungan menghampiriku." Hyukjae terkekeh.

"Itu bukan keberuntungan, Hyukjae-ssi. Itu memang hasil dari usahamu. Kau hebat." Kibum memuji Hyukjae, dengan senyuman manis. Siwon juga menimpali dengan anggukan seraya tersenyum kearah Hyukjae. Hyukjae sedikit terpana dengan senyuman Kibum.

'Pantas saja dia jarang tersenyum. Mungkin dia sadar senyumannya terlalu indah.' batin Hyukjae.

"Gomawo, Kibum-ssi, Siwon-ssi." ucap Hyukjae tulus.

"Ah aku lupa. Siwonnie, anak ini, di hari pertama sudah bisa dekat dengan si ikan cucut itu." adu Kibum.

Siwon membelalakkan matanya. "Mwo?! Bagaimana bisa?" tutur Siwon tidak percaya. Dia melihat Hyukjae, meminta penjelasan. Pria manis itu tiba-tiba gelisah saat merasa dirinya sedang diinterogasi.

"Umm.. A-" baru saja akan menjawab, ponselnya bergetar. Ada telepon masuk. Mata Hyukjae berbinar cerah saat melihat nama kontaknya dan langsung mengangkatnya.

"Yeobseyo, Donghae hyung." semua yang ada di meja itu terkaget bukan main, kecuali Hyukjae. Hyukjae memanggil Donghae dengan embel Hyung? Bahkan mereka baru saja berkenalan! Begitulah kira-kira pikir Siwon dan Kibum.

"Kau sudah sampai di Thailand? Syukurlah." ujar Donghae bernapas lega. Donghae tadi mendengar dari temannya yang seorang karyawan di ATC mengatakan pesawat yang sedang berangkat ke Thailand sempat menghilang dari radar. Darimana Donghae tahu kalau Hyukjae terbang ke Thailand? Ah manager yang mengatur penerbangan adalah teman Donghae, jadi tidak susah untuk mendapatkan informasi.

"Nde, aku sedang makan siang sekarang. Bagaimana dengan hyung?" Siwon dan Kibum mengisyaratkan Hyukjae untuk mengaktifkan loudspeaker ponselnya. Dan Hyukjae yang terlalu polos hanya mengikuti tanpa banyak tanya.

"Aku sekarang sedang siap-siap untuk terbang ke Singapore. Apakah kau sedang makan sendirian?" tanya Donghae.

Kibum mengisyaratkan Hyukjae lagi untuk mengiyakan pertanyaan Donghae. Hyukjae ragu beberapa saat, namun akhirnya tetap ia turuti.

"Yes, I'm alone right now." Hyukjae menggigit bibir bawahnya, ia merasa tak enak telah membohongi Donghae.

"Aigoo~ jangan sedih ya. Kau juga nanti akan terbang ke Singapore kan? Aku akan menjemputmu lalu kita jalan-jalan. Bagaimana?" ajakan Donghae membuat Siwon dan Kibum terkaget lagi. Apakah begini Tan Donghae yang mereka kenal?

Saking senangnya Hyukjae mendengar kata "jalan-jalan", ia tidak menyadari 2 orang yg makan bersamanya itu sedang betah melongo ria.

"Aku mau, hyung! Baiklah, sampai jumpa disana." jawab Hyukjae riang. Donghae terkekeh di seberang sana karena mendengar Hyukjae yang sangat semangat.

"Sampai jumpa nanti, Hyukkie. Ah iya aku melupakan sesuatu.."

"Apa hyung?" tanya Hyukjae polos.

"Aku sangat merindukanmu, Hyukkie. Sangat." ujar Donghae mantap, setelah itu terdengar suara yang menandakan bahwa telepon telah terputus, meninggalkan Hyukjae yang merona merah karena dirindukan oleh Donghae, dan 2 orang lainnya yang masih betah melongo kaget. Astaga, yang tadi beneran Tan Donghae?

'Donghae mulai gila..' batin Siwon dan Kibum.

Sedangkan Hyukjae, otaknya me-recall kembali ucapan Donghae. Sudah terhitung dua kali Donghae meneleponnya dan mengucapkan kata rindu. Astaga padahal mereka baru saja bertemu tapi reaksi Hyukjae terlalu berlebihan, menurutnya sendiri.

Hyukjae yang sudah memerah seperti tomat menidurkan kepalanya di meja sembari menutup mukanya dengan telapak tangan. Otaknya terus mengulang kata-kata Donghae.

'Donghae hyung memang benar-benar...' pikir Hyukjae.

'Anak ini memang manis..' Siwon dan Kibum menyetujui dalam hati.

"Hyukkie, aku juga boleh tidak memanggilmu Hyukkie?" pertanyaan Kibum membuat Hyukjae kaget dan menegakkan kepalanya.

Hyukjae sih tidak masalah, jadi ia menganggukkan kepalanya seraya menampilkan senyum gusi termanisnya.

Kibum dan Siwon ikut tersenyum karenanya. Hyukjae memang membawa keceriaan yang menular.

"Uhm.. kalau begitu.. apakah aku juga boleh memanggil kalian hyung? Ah aku tidak bermaksud mengatai kalian tua, tapi aku ingin menghormati kalian! Eung.. jika kalian tidak keberatan.." tanya Hyukjae malu-malu, ia menundukkan kepalanya, sedikit merutuki ucapannya yang tidak jelas.

Kibum dan Siwon saling menatap seakan menyampaikan 'Lain kali kita siapkan karung.' Hyukjae terlalu manis memang. Dan seketika mereka tertawa.

"Boleh sekali, Hyukkie. Kami senang jika kau mau." ujar Siwon sembari tersenyum hangat. Kibum pun mengusap lembut kepala Hyukjae. Bahkan Kibum yang dingin saja bisa hangat karena Hyukjae. /emang Kibum termometer/

"Gomawo.." Hyukjae tersenyum, manis sekali.

Tak tahan, Kibum mencubit pipi Hyukjae kuat membuat Hyukjae berteriak kesakitan. Setelah itu ia mengerucutkan bibirnya dan mengeluarkan beberapa sumpah serapah dengan suara lirih. Kibum mendengarnya, tentu saja. Tapi bukannya marah dia malah tertawa terbahak-bahak, Hyukjae semakin bertambah kesal.

Dan makan siang itu diwarnai kegemasan dan keceriaan serta pem-bully-an Hyukjae oleh Kibum dan Siwon. Hyukjae pun sampai lupa menanyakan tentang apa hubungan antara Siwon, Kibum, dan Donghae. Dan bagaimana Siwon mengenal ayahnya?

.

.

.

.

.

03.20pm

Hyukjae telah sampai di tempat briefing untuk penerbangan selanjutnya. Ia melihat seorang pria tinggi dengan seragam yang sama dengannya, serta badge Captainnya. Hyukjae menghampiri orang itu. Setelah bertatap muka, Hyukjae tersenyum khas dirinya lalu membungkukkan badannya dan memperkenalkan diri setelah itu.

"Annyeong, Captain Jung Yunho. Lee Hyukjae imnida. Aku akan menjadi co-pilot dalam penerbangan ini. Mohon bimbingannya."

Jung Yunho yang mendapatkan perlakuan sopan dari rekannya membuatnya tersenyum senang.

"Ah.. Hyukjae-ssi annyeong. Jung Yunho imnida. Aku harap kita menjadi rekan yang baik." Hyukjae mengangguk mantap dan tak melepas senyum gusi nya yang menggemaskan.

'Wah.. anak ini manis sekali.' Yunho memuji Hyukjae dalam hati.

Mereka pun melakukan briefing sebelum penerbangan dilakukan.

Setelah selesai, mereka mulai memasuki pesawat dan menyiapkan seluruhnya. Hyukjae sangat senang, karena selama penerbangannya, tidak ada yang telat sama sekali. Mungkin belum. Tapi itu urusan nanti, menurut Hyukjae paling tidak sekarang semua rekannya bekerja sangat profesional.

Hyukjae dan Yunho sudah di kokpit sekarang ini, Yunho juga sudah siap-siap untuk proses take-off. Namun sebelum itu, Yunho membuka ponselnya yang menampilkan gambar seorang pria cantik yang sedang tersenyum lebar. Yunho mengusapnya sekilas lalu berbisik perlahan "Doakan aku selalu, Boo." dan mencium gambar itu. Setelah itu ia masukkan kembali ponselnya ke saku.

"Kekasihmu, Sunbae?" tanya Hyukjae penasaran.

"Mendiang istriku." jawab Yunho seraya tersenyum hangat kearah Hyukjae.

Hyukjae terkesiap. Ia melihat Yunho, tak ada raut kesedihan sama sekali disana saat mengatakan bahwa pasangan hidupnya telah tiada, Hyukjae jadi merasa bersalah karena menanyakan hal pribadi yang menyedihkan.

"Maafkan aku, sunbae.. Aku tidak bermaksud.." Hyukjae menggigit bibir bawahnya saat Yunho malah tertawa kecil menjawabnya. Namun kata-kata selanjutnya membuat Hyukjae tenang dan takjub akan pria ini.

"Dia sudah tenang disana, Hyukjae. Tuhan menjemputnya duluan karena Tuhan sayang padanya. Aku bahkan tidak keberatan akan keputusan Tuhan, karena aku juga tidak kuat melihat istriku terus menahan sakit. Dan aku yakin, ia tersenyum disana dan selalu menjagaku disini. Dia juga selalu akan ada di hatiku. Jadi untuk apa bersedih?" Yunho tersenyum sangat tenang dan hangat, Hyukjae pun mengangguk mengerti dan membalas senyuman Yunho.

.

.

.

05.00pm

Seorang pria manis berpakaian pilot sedang menggeret travel bag-nya ke pintu kedatangan. Tadi dia mendapat telepon bahwa seorang pilot tampan telah menunggunya diluar. Si manis ini pun dengan semangat mencari seorang pria tampan yang akan membawa ia jalan-jalan ntah kemana.

"Hyukkie~"

"Astaga! Kau mengagetkanku, hyung!" Hyukjae terkaget karena Donghae berbisik tepat ditelinganya. Dia memanyunkan bibirnya, kesal karena telah dikerjai.

Donghae terkikik geli. "Kau susah sekali mencariku, tak lihat kah kalau aku paling tampan disini?"

Hyukjae mendengus. Donghae kepedean sekali. Memang tampan sih, tapi tetap saja dia kepedean.

"Salah sendiri hyung pendek."

Jleb.

Kali ini Donghae yang memanyunkan bibirnya karena kesal. Dia paling benci kalau ada yang membahas tinggi badan. Bukannya Donghae tidak mau tinggi, hanya saja pertumbuhannya berhenti begitu saja. Menyedihkan.

"Hyukkie-ya.. Itu menyakitkan bagi hyung, kau tau?" Donghae ingin mengerjai Hyukjae sekarang. Dia memasang muka sedih dan marah saat menatap Hyukjae, mata Donghae sudah memerah, menambah kesan bahwa yang Donghae lakukan bukanlah sebuah acting. Hyukjae kelabakan karena ditatap seperti itu.

'Yaampun, apakah bercandaku kelewatan?' batin Hyukjae kalut.

"Donghae hyung.. Maafkan aku, ne? Aku tidak bermaksud menyinggungmu. Mianhae.." bujuk Hyukjae sambil mengusap pundak Donghae lembut.

Donghae menepis tangan Hyukjae. Alhasil, Hyukjae yang cengeng itu sudah mengeluarkan air matanya karena tangannya ditepis oleh Donghae.

"Hiks… Hae hyung maafkan aku.. Hyukkie tidak bermaksud menghina Hae hyung.." Hyukjae terisak pelan. Sekarang Donghae yang kelabakan.

"Astaga Hyukkie! Tolong jangan menangis.. Hyung tadi hanya bercanda, sumpah." Donghae mengaku. Hyukjae menatap Donghae dengan mata berkaca-kaca.

"Benarkah? Hyung tidak tersinggung dengan kata-kataku?" tanya Hyukjae memastikan.

Donghae mengangguk cepat lalu meminta maaf ke Hyukjae. Donghae menyeka air mata Hyukjae, membuat Hyukjae melihat kearah lain karena malu. Seketika ia sadar bahwa mereka sedang di tempat umum. Reflek Hyukjae melepas tangan Donghae dari wajahnya lalu berlalu pergi sambil mengipasi wajahnya.

Donghae mengernyit heran. Ia berpikir Hyukjae marah padanya, namun saat ia melihat sekelilingnya, ternyata banyak orang-orang yang memandang ke arahnya.

Senyuman lebar terpatri di wajah tampan Donghae. Ternyata Hyukjae malu, aigoo~ Donghae menarik travel bag-nya dan langsung mengejar Hyukjae.

"Hyukkieee tungguuu!" teriak Donghae. Tapi pria manis itu terus saja berjalan, ia terlalu malu untuk bertatapan dengan Donghae. Donghae terkikik geli.

'Manisnya~' batin Donghae.

Yah, mereka terlalu mencolok sih. Badan mereka masih terbalut seragam pilot, topi yang diapit di lengan, rambut hitam kebiruan dan blonde, serta wajah yang tampan dan manis. Tak ayal mereka dipandangi kagum oleh sekitar. Dan satu lagi, penampakan pilot di pintu keluar memang jarang sekali terjadi.

.

.

.

Donghae dan Hyukjae kini sudah berada di salah satu tempat wisata di Singapore, Tiger Sky Tower.

Sebelumnya mereka sudah berganti baju biasa di hotel. Ya, mereka akan bermalam di Singapore lalu akan berangkat besok pagi-pagi sekali.

Apakah mereka sekamar? Lihat saja nanti kkk~

"Hyung, ayo kita naik!" seru Hyukjae semangat seraya menarik-narik tangan Donghae. Donghae tertawa gemas.

"Aigoo~ ingat umurmu Hyukkie-ya~" ejek Donghae, namun ia tetap membayar uang masuk untuk naik ke tower.

Hyukjae mempoutkan bibirnya. Dia kan hanya terlalu semangat, biar saja.

"Kajja." Donghae menarik tangan Hyukjae lalu masuk kedalam tower. Hyukjae menurut saja.

Sesampainya di puncak, Hyukjae tidak henti-hentinya mengagumi kota dibawah sana. Hyukjae menyadari, bahwa selama ini ia kurang menikmati lingkungan disekitarnya. Hanya belajar dan belajar. Bahkan di Amerika pun ia tak sempat untuk kemana-mana. Setelah sekian tahun baru ini lah ia menikmati liburannya.

"Aku juga baru pertama kali kesini. Kau suka?" tanya Donghae. Dalam hati ia sangat senang karena sudah membuat Hyukjae menggangguk cepat dengan senyuman gusinya. Ahh Donghae rela tunduk untuk Hyukjae seorang.

Sesudah dari Tiger Tower, mereka berkeliling mengelilingi Singapore. Berjalan sana-sini, berfoto-foto, dll. Sebenernya sih tidak foto-foto, hanya saja Donghae tidak bisa menahan tangannya untuk terus memfoto Hyukjae. Hyukjae yang sedang jalan, Hyukjae makan ice cream, Hyukjae makan gulali, Hyukjae memeluk badut, semuanya. Donghae tak melewatkan sedikitpun kemanisan Hyukjae untuk diabadikannya sendiri. Apakah Hyukjae tahu? Dia bahkan sudah merajuk untuk tidak difoto. Tapi Donghae yang keras kepala terus saja melaksanakan aksinya. Hyukjae jadinya pasrah saja.

.

.

20.15pm

Donghae mengajak Hyukjae ke tempat terakhir. Singapore flyer, bianglala dengan capsul besar yang bisa menampung banyak orang didalamnya. Karena ini sudah malam, orang-orang tidak terlalu banyak kesini. Lagipula, ini juga bukan musim liburan.

"Wah.. Indah sekali." Hyukjae terpukau dengan pemandangan Marina Bay dari atas. Rasanya ia benar-benar memanjakan dirinya saat ini.

Pria tampan yang berada disampingnya, Donghae, lebih memilih memandangi Hyukjae. Pemandangan dibawah sana baginya tidak seindah Hyukjae yang sedang tersenyum begitu cantik.

Donghae mendekati Hyukjae, ia memajukan wajahnya lalu mengecup pipi Hyukjae lama. Awalnya Hyukjae membelalak kaget karena merasakan ada yang mencium pipinya. Namun saat tangan hangat Donghae memegang tangannya, Hyukjae menutup matanya. Meresapi kehangatan dari Donghae saat pria tampan itu mulai menciumi keningnya, kedua matanya, hidungnya, dan terakhir...sudut bibirnya.

Sudut bibir, Donghae menciumnya disana, bukan bibir Hyukjae. Saat Hyukjae membuka matanya, ia menemukan pria itu berada pas didepan wajahnya, sedang tersenyum seraya memandanginya lembut dengan sepasang mata sendu miliknya. Hyukjae merasa tenggelam dalam hazel pria tampan ini. Bagi Hyukjae, ini pertama kalinya ia merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta. Ia akui, ia telah jatuh cinta. Dan rasanya sungguh menyenangkan.

Terlalu singkat memang. Tapi maunya hati tidak ada yang tahu. Donghae dan Hyukjae yang terkenal selalu sendiri pun malah jatuh akan pesona masing-masing.

.

.

.

.

Mereka sudah kembali ke hotel. Suasana dalam perjalanan pulang tadi sedikit canggung. Jadi mereka langsung masuk kekamar masing-masing setelah mengucapkan "Jaljayo.".

Donghae mengganti bajunya dengan piyama. Setelah itu, ia merebahkan badannya di kasur. Ia menutup wajahnya dengan lengannya. Kejadian tadi, di kapsul bianglala benar-benar diluar kendalinya.

"Kau benar-benar membuatku gila, Lee Hyukjae.." lirih Donghae.

Donghae berpikir kebelakang. Tidak ada pacar-pacarnya dulu yang membuat ia merasa sangat ingin untuk memiliki, menyentuh, dan melindungi sebesar ini. Lee Hyukjae adalah yang pertama merusak pertahanan dirinya.

Ingatkah saat pesawat Hyukjae hilang dari radar? Donghae yang mendengarnya langsung merasa kosong dan linglung tiba-tiba. Untung saja temannya langsung memberitahu bahwa pesawat Hyukjae baik-baik saja. Jadinya ia tidak perlu melakukan hal gila, hanya karena Hyukjae.

"Hahaha..." Donghae tertawa, menertawakan dirinya sendiri lebih tepatnya. Dia yang dulu tidak pernah peduli dengan orang lain termasuk mantan-mantannya, kini dengan mudahnya Lee Hyukjae menarik Donghae berlutut di kakinya. Donghae benar-benar dibuat gila akan Hyukjae.

"Aku akan mendapatkanmu. Ah tidak, aku akan menunjukkan bahwa aku layak menjadi kekasihmu." ujar Donghae mantap. Mulai besok dia akan semakin gencar untuk mendekati Hyukjae.

Dengan seringaian yang tercetak di wajahnya, kini ia mencoba tidur karena dia benar-benar tidak sabar menunggu hari esok.

Bagaimana dengan pria manis kita?

Hyukjae dengan piyama kuningnya sedang tidur terlentang di kasur. Matanya menerawang ke langit-langit kamar.

Ia mengingat-ngingat saat dengan Donghae. Pria tampan itu begitu hangat, lembut, dan perhatian. Hyukjae suka dengan orang seperti itu. Bahkan pipinya tidak berhenti merona dan senyuman tak hilang dari wajah manisnya saat Donghae memperlakukannya sangat berharga. Bahkan Donghae tidak mau mencium bibirnya, itu pertanda bahwa ia masih menghargai Hyukjae karena status mereka bukanlah kekasih. Setidaknya belum.

'KAU MILIKKU, HYUKJAE!'

Hah!

Hyukjae langsung terduduk di kasurnya, matanya tak bisa tenang melirik sana sini dan dirinya berkeringat dingin tiba-tiba. Nafasnya pun terengah-engah seperti orang yang habis maraton.

Suara itu, suara pria yang benar-benar Hyukjae benci. Suara seseorang yang pernah menyiksa Hyukjae, bahkan Hyukjae hampir mati karenanya, tiba-tiba muncul di pikirannya.

"Tidak... Kumohon jangan muncul lagi.." ucap Hyukjae pelan. Hyukjae sudah menitikkan air mata karena masa lalunya dulu yang kelam di luar negeri sana berputar layaknya potongan film. Kejadiannya memang sudah lama, namun tetap saja itu masih menakutkan.

Apakah Donghae akan seperti itu?

Seketika Hyukjae menjadi ragu. Apakah Donghae akan memperlakukannya buruk sama seperti orang itu memperlakukan Hyukjae?

"Tidak, Hyukjae.. Kau tidak boleh menilai orang seperti itu. Kau harus tenang dan berpikir positif. Ya, positif.." ujar Hyukjae untuk dirinya sendiri.

Dia meminum segelas air putih dari meja nakas dalam sekali teguk, lumayan membuatnya kembali bernafas normal.

Dia menutup matanya sebentar, mencerna baik-baik suasana sekarang. Hening dan damai. Hyukjae menghela napas sekali lagi setelah itu ia merebahkan badannya di kasur. Tak lama kemudian ia pun tertidur dengan lelap.

.

.

.

07.45am

Cahaya matahari sudah muncul dari sela-sela tirai. Burung-burung mulai menyanyi di luar sana.

Seorang pria tampan sedang asik memandangi pria manis yang masih tertidur di hadapannya. Bahkan cahaya matahari yang menerpa wajahnya pun tak mengusiknya sedikitpun.

Pria itu terus tersenyum tanpa henti. Ia sangat senang, sungguh. Matanya tak henti-henti memandang si manis didepannya. Tangannya pun juga ikut andil mengelus wajah si manis.

Merasa ada sesuatu yang mengelus pipinya, tidurnya si manis mulai terganggu. Dan cahaya matahari pun sudah mulai menganggu juga. Ia menggeliat gelisah, lalu merentangkan tangannya khas orang bangun tidur.

Puk.

Hyukjae mengernyit heran masih dalam mata tertutup. Tangan kanannya seperti menyentuh sesuatu. Ia mulai meraba apa yang disentuhnya.

"Hmm.. kotak-kotak.. apa ini?" gumam Hyukjae dengan suara parau, karena baru bangun tidur.

Pria tampan yang disampingnya terkikik geli karena kelakuan Hyukjae yang sangat lucu.

Mendengar ada suara tawa disampingnya, Hyukjae perlahan membuka matanya dan...

"Donghae...hyung?" tanya Hyukjae ragu akan penglihatannya sendiri.

Pria tampan itu menyeringai, sangat tampan, dan jangan lupa, ia tak memakai atasan.

"Pagi, manis. Puas meraba abs-ku?" ujar Donghae masih dengan seringaian tampannya.

Reflek Hyukjae menjauhkan tangannya dari benda yang ia anggap kotak-kotak tadi. Otaknya masih memproses kejadian tiba-tiba ini. Ia melirik tangannya, lalu Donghae, dan ruangannya.

1detik..

5detik...

30detik...

.

.

.

.

.

"KYAAAAAAAAAAAAAA!"

Dan diakhiri dengan Hyukjae yang berteriak.

Tbc

.

.

.

Hai hai semua. Maaf update nya telat banget huhuhu tapi ini 5k buat kalian :** maaf kalau membosankan :') selamat menikmati!

oh iya makasih juga buat isroie106 yang nyempetin buat nge-pm karena dia gagal terus comment di kolom review hehehehe.

Sekali lagi gomawo buat apresiasinya. :) Tinggalkan jejak yang mendukung biar aku makin semangat ngelanjutin. hihihi~ see youuuu

Always love HaeHyuk! 3333