Children

Disclaimer: Naruto hanya punya Masashi Kishimoto, kalo panpik ini jelas punya gue, fufufu~/ditampar.

Warning: OOC, Typo, bahasa tidak baku, GaJe, Fic abal, author masih amatiran, alur ga jelas, dll.


Hujan deras membasahi damainya Konohagakure, hujan yang selama dua hari berturut-turut tidak mau berhenti. Ini jelas sedikit mengganggu sebagian aktivitas warga. Memangnya gara-gara siapa hujan turun selebat ini? Ini pasti doa jones untuk mengganggu mereka-mereka yang lagi pacaran. Jelas. Ah? Bohong? Tidak kok, ini kenyataan. Daripada memikirkan hal yang tidak-tidak, cewek ini lebih memilih membaca manga keluaran terbaru yang baru ia beli kemarin. Dengan susah payah menerjang hujan pastinya. Dengan tubuh menghadap samping, tangan kiri menumpu kepala dan tangan kanan yang sibuk membalik lembar demi lembar manga yang ia baca sekarang, lengkap dengan snack dan minuman kaleng yang tersebar di sudut-sudut ruangan.

Pemalas, cewek yang menjijikkan, anti sosial dan-

"Kaa-chan? Aku lapar,"

Tunggu, dia sudah punya anak. Dan entah darimana ia muncul.

"Hn," kata cewek itu singkat, diikuti suara kertas yang memecah keheningan ruangan.

"Kaa-chan? Aku lapar! Berikan aku sesuatu untuk dimakan!" rengek anak itu manja sambil menarik-narik kaos cewek yang telah ia sebut 'ibu' itu.

"Makanlah tumpukan tugas dan ulanganku di meja belajar itu, aku ikhlas."

Sadis.

Ibu yang sadis.

"KERTAS TIDAK BISA DIMAKAN KAA-CHAN!" teriak anak itu gemas. Cewek itu menghela napas berat. Lalu ia membalikkan badan dan membetulkan posisinya, menghadap ke arah anak imut yang sedang cemberut ini.

"Re-chon, kau mau apa? Memakan manga ini? Tidak bisa." jawabnya dengan tegas. Eh tunggu, Ren-chon? Bukan, ini bukan serial N*n N*n Biy*ri, sudah lihat disclaimer di atas kan? Jadi nggak mungkin kalau ada anime lain nyasar ke sini.

Btw, mata anak yang diketahui bernama Ren-chon itu berkaca-kaca.

Gaswat.

"Oke oke! Aku akan memasak telur dadar! Jangan menangis lagi, ok?" jawab cewek itu sambil menepuk-nepuk kepala anak kecil di hadapannya ini. Anak itu tersenyum manis, manis sekali, sampai-sampai author kena diabetes (halah). Cewek itu pun langsung berjalan menuju dapur dan mulai memasak, diikuti oleh Ren-chon yang imutnya amburegul emeseyu ini. Saat si ibu sedang fokus pada telur yang ia masak ini, tiba-tiba anak unyu itu memeluk kaki si ibu dengan erat.

"Kaa-chan~ Tou-chan di mana?"

JEDEEERRR

Bagaikan disambar petir, si ibu menghentikan acara memasaknya dengan tiba-tiba. Ha? Tou-chan katanya?

"Ren, kaa-chan tidak punya suami. Bahkan aku masih SMA lho! SMA!" katanya dengan nada yang penuh penekanan. Si anak kecil itu melepaskan pelukannya.

"Kaa-chan udah cerai?"

JEDEEERRR

Darimana anak sekecil ini belajar tentang perceraian hah?!

"Bukan cerai! Aduh Ren-chon, darimana kau belajar hal itu?!" kata si ibu dengan sedikit cemas. Iyalah cemas, masa anak sekecil biji cabe gini belajar tentang perceraian?

"Kau hamil diluar nikah, Ten?"

'Mati gue.' batin si cewek.

Dengan hati-hati, ia menoleh ke belakang, terdapat makhluk Tuhan yang paling ganteng sedang berdiri di ambang pintu. Buset, ni cowok nongol aja. Cowok berbadan tegap, dengan rambut jabrik dan tato segitiga terbalik di kedua pipinya. Inuzuka Kiba.

"Salah, bukan maksud gue! Ini salah paham! Beneran deh!" cewek itu bergegas menyusul cowok yang tadi ia lihat di ambang pintu dapur mencoba kabur dengan muka cengo tadi.

"Lu salah Kiba! Dia bukan anak gue! Sumpah!" teriak si cewek sambil berlari-lari kecil mengejar si cowok, Kiba.

Brak.

Pintu depan sudah tertutup. Terlambat. Kiba sudah kabur, membawa informasi yang bisa mengguncang dunia itu. Bagaimana reaksi teman-temannya nanti saat tiba di sekolah? Bagaimana kalau ia dikeluarkan dari sekolah? Bagaimana dia nanti jika bertemu dengan orang-orang? Apa yang akan dikatakan senpai yang ditaksirnya nanti?

Cewek itu duduk tertunduk, sambil mengumpat tidak jelas. Keringat dingin menjalari wajahnya, dia sudah kehilangan akal.

'Mati saja kau Ten!'

Ia tidak menghiraukan anak kecil yang terus-terusan memanggil namanya dari dapur. Ia harus bagaimana? Bunuh diri? Tidak, masa depannya masih panjang. Panjang banget malah.

"Gue harus ngapain? Hueee!" jeritnya dengan memukul-mukul lantai rumahnya dengan kasar. Ia berdiri sejenak, lalu duduk bersandar di sofa dengan kepala yang mau hancur. Ia mencoba menenangkan diri dan tanpa sadar ia sudah tertidur lelap di sofa.

-Keesokan Harinya-

Pagi sudah tiba, cuaca juga sudah membaik, Konohagakure sudah kembali cerah, meninggalkan embun-embun segar di sepanjang jalan. Orang-orang sudah mulai menjalankan aktivitas rutinnya dengan lancar lagi, tak terkecuali dengan murid SMA ini, Tenten. Si cewek ini sudah bersiap untuk pergi ke sekolah dengan anak kecil yang terduduk manis sambil mencoba memasang sepatunya sendiri.

"Ren-chon? Kau sudah siap?" kata si cewek nyaring, disusul dengan anggukan mantap Ren-chon di ambang pintu.

"Nanti kujemput pukul empat sore, ok?" kata si cewek sambil jongkok di hadapan anak kecil itu. anak kecil itu mengangguk lagi. Tenten, si cewek nyentrik ini mengisyaratkan kepada Ren-chon untuk segera berangkat. Pertama, ia akan mengantar Ren-chon ke suatu tempat khusus dengan anak seusianya, Tentu saja ia akan mampir ke tempat penitipan anak dahulu.

Btw, langsung skip time di sekolahnya Tenten aja ya, author males ngetik :v /canda.

Iya benar, setelah Tenten mengantar Ren ke penitipan anak, dia bergegas menuju sekolah, mengingat pelajaran pertama adalah Danzo-sensei, guru PKN yang super duper galak. Dan inilah dia, SMA Konoha, namanya nggak terlalu elit memang, tapi sekolah ini termasuk sekolah internasional lho! Entah karena apa tapi Tenten bisa masuk ke sini. Oh iya lupa, Tenten berhasil masuk di sekolah ini melewati jalur prestasi, dia sangat berprestasi dibidang karate, bahkan sampai masuk nasional. Nggak heran dia bisa masuk ke sini. Oke, lanjut.

Saat ia memasuki halaman sekolah, dia merasakan hawa dingin yang luar biasa menusuk tulang. Yaiyalah, kan habis hujan selama dua hari berturut-turut! Tetapi Tenten tak menghiraukan hal itu dan terus berjalan santai menuju kelasnya. Saat ia membuka pintu kelas, suasana kelas yang awalanya terdengar ramai sampai luar kelas pun terhenti. Tenten cengo. Ia melihat sekeliling, tampak jelas kini teman-teman kelasnya sedang menatapnya aneh.

Jangan bilang soal itu.

"Ten, lu hamil diluar nikah?"

JDERRRR!

Hati Tenten sakit, seperti disambar petir. Suara yang tiba-tiba keluar dari mulut cewek blonde diikat itu membuat Tenten diam seribu bahasa. Kurang ajar banget, baru datang ke sekolah langsung dihujami fitnah seperti ini. Kelas masih hening, tatapan-tatapan itu masih tertuju padanya, seolah menagih jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan oleh saudari Yamanaka Ino itu.

"Ada apa ini?"

Suara bariton yang seksi itu memecah keheningan kelas. Sontak semuanya menoleh ke arah suara.

"Ji, Neji, Tenten hamil diluar nikah lho!" seru anak bernama Kiba itu nyaring. Sang pemilik suara bariton itu pun sedikit kaget. Mukanya tetap datar. Badannya tetap berdiri di belakang Tenten.

"Masa?" katanya singkat sambil melirik cewek di depannya. Melihat itu, Kiba mengangguk-angguk.

"Oh!? Apa jangan-jangan...kau itu...suaminya?"

BRAK!

"Brengsek! Cukup!"

.

.

.

.

.

.

.

Akhirnya =v=)a

Panpik yang saya buat ini jadi juga :'v chapter 1 maksudnya =w=) Gomen kalo alurnya GJ banget, Typo, Tidak sesuai EYD, bahasa tidak formal, dll. Saya masih nubi senpai :'v masih harus belajar banyak dari senpai-senpai di sini. Tapi jujur, saya baru pertama kali bikin FF, buat pembukaan juga saya tidak tau harus ngapain, serius. Saya asal buat aja begitu ide ini mengalir deras, nanti kalau ditunda bikinnya, saya bisa lupa ._.)v hal penting lainnya, saya ngga sempat membaca ulang panpik ini, dan sudah jelas kalau nanti ada typo atau kalimat yang nggak nyambung, saya aja terburu-buru ngetiknya :'v /alibi. Tapi beneran lho :'v

Dan juga, maaf kalau terlalu sedikit, saya usahakan chap 2 banyak ^w^) itu pun kalau saya bener-bener ada waktu luang untuk membuat chap 2 :'v

Ah iya, jangan lupa RnR (kalau minat *w*)

Akhir kata, makasih buat yang sudah membaca ini ^w^)/

Arigatou Gozaimasu m(_ _)m