Disclaimer : Naruto © Masashi Kisimoto

Summary : Sekelumit kisah perjalanan hidup Hinata sang perawan mesum dalam menapaki jalan kedewasaan, bersama Naruto si gigolo submisif, apakah mungkin akan tersemai benih-benih cinta? [AU setting][Yang masih bocah, Husss! Jauh-jauh sana gih!]

Genre : Romance, Humor.

Rate : M

Setting : Alternate Universe

Warning : Typo, OOC, Gaje, Menistakan banyak chara dll.

Senin, 2 Januari 2017

Happy reading . . . . .

Menuju Impian

Chapter 3. Hinata yang selalu sial.

.

Hari ini sangat kunanti-nantikan, hari dimana aku akan mengatakan selamat tinggal keperawanan dan selamat datang surga dunia. Sekarang aku sudah berada di Imperial Hotel, tempat janjianku dengan gigolo submisif yang kutemukan kemarin. Sengaja aku mereservasi kamar paling mewah di hotel ini demi mendapatkan 'pertamaku' yang sangat berkesan dan tak terlupakan.

Saking senangnya, aku tiba di hotel satu jam lebih awal. Sekarang sudah pukul setengah sepuluh malam.

Kalau diam menunggu saja, pasti bosan. Untung aku membawa beberapa referensi.

Re-fe-ren-si? Hihihiiii.

Bangkit dari kasur, aku beranjak mengambil tas yang kuletakkan di nakas lalu mengeluarkan isinya.

Sebuah keping CD. Selain gambar bugil, di covernya juga tertulis judul 'Air Terjun Perawan'.

Sesuai judulnya, tentu saja ini film 18+. Dan yang paling kusuka adalah, pemeran utama wanita di film ini artis JAV idolaku, Yamanaka Ino.

Hei, Ino itu kan tidak mungkin perawan lagi? Mana ada bintang porno yang perawan. Judulnya ngelantur nih. Tapi ah, lihat saja dulu isi filmnya.

Tak sabaran, langsung saja kuputar film itu di layar datar LED 55 inchi yang menempel pada dinding kamar. Aku menikmatinya sambil duduk di kasur.

Ketika filmnya sudah mulai, aku makin senang. Ternyata videonya berkualitas 4k UHD. Grafisnya bagus, gambarnya sangat tajam, dan soundnya jernih.

Aku jadi penasaran, Siapa sih lawan main Ino di film ini?

'Shimura Sai'

Begitu yang tertulis di cover bungkus CD.

Whoaaa, ternyata dia. Aktor panas berkulit putih pucat dari korea. Emm, lumayan lah. Meski aku lebih suka yang berkulit eksotik khas daerah tropis, tapi ini lebih baik dari yang hitam legam.

Aku menonton dengan khidmat film yang berlatar di negara Thailand itu. Sepuluh menit berlalu, aku langsung bosan. Filmnya tidak menarik.

Aku ambil remote, lalu menekan tombol forward.

Tentu saja yang paling ingin kulihat adalah ...

adegan ranjang.

Stoppp!

"KYAAAAA...!"

Aku langsung memekik tanpa sadar dengan mulut menganga lebar saat gambarnya berganti dengan adegan ketika Ino menindih Sai di atas sehelai kain di pinggir sungai dekat air terjun. Ooow, seks luar ruangan ternyata. Jika begini, adrenalinnya lebih banyak sehingga sensasi yang terasa lebih menegangkan.

Aku senyam-senyum tidak jelas saat adegannya dimulai. Ino melepaskan atasan bikini berwarna kuning yang ia kenakan. aaaa... ternyata dia memerankan karakter perawan mesum agresif, seperti diriku.

Payudaranya? Bulat sempurna.

Aku memegang payudaraku sendiri yang ada dibalik baju dan... emm, payudara Ino kurasa sedikit lebih kecil dari milikku. Pasti ukuran dia D. Aku patut berbangga karena milikku lebih besar.

Ahhh, pasti wajahku sudah memerah sekarang.

Seperti film-film pada umumnya, didahului dengan foreplay. Ternyata Ino yang lebih dulu menyerang dengan ciuman panas.

Woow, artis idolaku memang sangat lihai melakukannya.

Aku jadi malu-malu sendiri melihat mereka. Aku belum pernah berciuman. Apa saat aku sudah memiliki banyak partner sex, aku bisa berciuman sehebat itu ya?

Sepuluh menit untuk foreplay sudah lebih dari cukup.

Sekarang giliran Sai yang melepas pakaiannya. Karena sejak awal dia hanya mengenakan celana pendek, sekarang ia memperlihatkan semuanya.

"Euuuhh."

Macho, ototnya lumayan, dan rupa wajahnya jauh di atas rata-rata. Sayang sekali tampan begitu jadi pemain film porno.

Juniornya, tampak cukup besar tapi kupikir dalam industri porno masih tergolong ukuran biasa. Warnanya kemerahan, seperti sosis panggang. Hahahaaa. Masih untung tidak bengkok seperti pisang.

Aku tak sanggup melihat ini lama-lama, badanku bisa panas dingin.

Aku pun naik dan tiarap di kasur. Menyembunyikan wajahku di balik bantal. Sesekali mengintip dan memekik-mekik kecil.

Aku selalu begini, heboh sendiri kalau nonton film dewasa.

Tuh kan! Mereka ciuman lagi, makin panas pula. Ino memagut bibir Sai sambil mengusap-usap Sai junior yang sudah keras dan tegang.

Melihat itu, aku jadi mangap-mangap seperti ikan, sesekali kugigit pipi bagian dalam hingga lesung pipiku tercetak jelas. Dapat kurasakan gelenyar aneh yang merayap ke seluruh bagian tubuhku.

Sambil tetap berciuman, kedua tangan Sai bergerilnya melepas pakaian terakhir Ino. Kaki Ino bergerak kecil agar lebih mudah terlepas hingga ia benar-benar telanjang.

Aku jadi membanding-bandingkan diriku dengan Ino. Dia benar-benar seksi, tapi aku yakin tubuhku tak kalah indah darinya. Perutnya lebih langsing dariku. Tinggi badannya semampai, tidak sepertiku yang lebih pendek. Tapi dadaku lebih indah darinya, pinggulku lebih lebar, dan pahaku lebih ramping. Kualitas kulit kami kurasa sama. Kalau wajah, rambut, dan hal lainnya tak masalah. Kencantikanku dan dia memiliki ciri khas masing-masing.

Intinya, tak ada yang perlu kuirikan darinya. Kami sama-sama diberkahi oleh Dewi Kecantikan.

Adegan apa sekarang?

Oral seks, Yikkks.

Mataku menyipit. Aku tidak suka. Bagiku, itu sangat menjijikkan. Aku heran, kenapa ada perempuan yang mau melakukannya, menghisap benda kotor itu? Aku yang berlatar pendidikan kesehatan, cukup tahu dampak buruknya secara medis. Jadi aku skip bagian ini. Oh iya, satu lagi yang tak aku suka, Anal.

Adegan apa selanjutnya?

Aku duduk lagi di tepi kasur agar bisa fokus nonton.

"Whoaaaaaa."

Aku berteriak heboh. Sudah mulai penetrasi ternyata.

"Ayo masukkan, Sai!"

"..."

"..."

"Kau bisa! Kau harus yakin, Saaaai."

"Inoooo, siapkan dirimu!"

"Buka lebar-lebar!"

Aku melebarkan mata, tanpa berkedip melihat betapa menegangkannya yang terjadi sekarang.

"Majuuu!"

"Yak, teruuus!"

"Kekanan!"

"Ya! Ya ya YAAAAAA!"

"Yaaaaah... Ga masuk."

Aku membuang nafas lalu menariknya lagi, kembali fokus nonton.

"Mundur dulu! Ambil kiri dikit! Doroong!"

"Ayooooo...!"

Gh, sial! Aku merasa greget sendiri. Kedua tangan kugunakan untuk meninju udara kosong.

"Dorong sekuat tenagaaaaa!"

Dan...

Blessshhh.

"Kyaaaaa...!"

Priiiiiiiiiiiiiiiiittt!

"GOOOOOOOOOOAAALLL...!"

Whahahaaaa. Masuk ternyata. Horraaaa, banzaaaaaaiiii... :v

Tadi itu penalti atau tendangan jarak bebas ya? Ahahahaaa.

"Eh?" mataku menatap lekat layar TV, tepat di tempat 'pertemuan' dua insan. "Itu berdarah woi! Berdaraaah!"

Mataku melotot.

Kok bisa?

Haiissh, pasti cuma trik kamera saja nih, pikirku dengan bibir melengkung ke bawah.

Tadi, tubuhku bereaksi hebat ketika melihat betapa menegangkan adegannya. Badanku bergetar, kedua pahaku saling kugesekkan dengan tengan terjepit ditengahnya. Wajahku pasti makin memerah, keringat dingin mengucur deras dari pelipisku.

Sepuluh menit sudah terlewat sejak penetrasi. Ino dan Sai melakonkan adegan menu utama dengan penuh penjiwaan.

Glek.

Aku meneguk ludah melihat gerakan yang mereka lakukan.

Kenapa bisa secepat itu? Apa mereka mesin? Robot?

Tidak tahu ah, yang pasti aku ragu bisa melakukannya sehebat itu nanti jika punya partner.

Sai merintih berat, sedangkan Ino mendesah hebat dan menjerit-jerit kencang. Sempat melintas pertanyaan di otakku, Ino itu keenakan atau kesakitan ya? Memikirkan jawabannya membuatku sedikit ketakutan, jadi kulupakan saja. Aku tak akan pernah tahu jawabannya kalau tidak merasakannya sendiri.

Mataku terasa mulai berkaca-kaca. Kututup wajahku dengan telapak tangan. Tapi jarinya kurenggangkan agar aku masih bisa menonton. Hihiiii

Semakin lama, gelenyar aneh di tubuhku semakin kuat.

Sekarang posisi yang dilakukan Sai dan Ino berganti.

Yak, posisi itu!?

Aku pernah melihatnya di buku tua.

Itu kan?

Itu?

Hokake Chousou! Tidak salah lagi, itu kamasutra versi jepang.

Aku dibuat takjub dengan posisi akrobatik mereka. Aku perlu berlatih berbulan-bulan agar bisa melakukannya. Tapi apa mereka berdua tidak pegal melakukan posisi itu berlama-lama?

Sekarang sudah keenam kalinya Sai dan Ino mengganti posisi, bahkan dengan posisi akrobatik yang semakin mustahil kubayangkan.

Aku menutup mata rapat-rapat. Tidak lagi melihat gambarnya, tapi berkonsentrasi mendengarkan desahan-desahan indah yang dilantunkan Ino.

"Ahhhhnnn."

"Oh yes! Oh no! Oh yes! Oh no! Omegooot!"

"Uhhh ah ah ah..."

Waduh, bisa-bisanya aku ikut mendesah juga?

Langsung kututup mulutku, takut kalau ada yang mendengar. Ah iya, hampir lupa kalau kamar hotel ini kedap suara.

Aku jadi ingin menertawakan diriku sendiri.

"WOOOOOWWW!"

Mulutku menganga lebar. Ketika kubuka mata, yang terpampang dilayar TV adalah posisi paling spektakuler yang pernah kulihat selama aku hidup. Aku belum pernah melihat posisi hokake chousou yang seperti ini di buku.

Kugunakan kedua tangan untuk menutup mulutku, lalu menggeleng dan mengumamkan kata 'Tidak mungkin! Tidak mungkin!' berkali-kali.

Meski begitu, aku tetap setia menonton adegan demi adegan. Masih dengan duduk di tepi kasur.

Karena semakin gerah dan panas, kulepas atasan pakaianku tapi tanpa menanggalkan bra-ku.

Tubuhku semakin tak karuan rasa. Kadang merinding, kadang bergetar. Kakiku kram, jari-jariku bergetar kesemutan. Kedua betisku tak bisa berhenti bergerak. Kugigit bibirku sendiri sampai mataku terpejam, semoga saja tak sampai berdarah. Tanganku mencengkram kuat sprei kasur di sisi kiri dan kanan, menyalurkan segenap sensasi liar yang kurasakan.

Aku merasa geli-geli basah. Geli yang bercampur basah.

Glek.

Kuteguk ludah kasar, rasanya sesak dan kering.

Oke, aku haus.

Secepat kilat aku mengambil botol air minum yang kubawa di tas agar tak melewatkan adegan apapun.

Aku pun meminum isinya hingga habis. Gerah yang kurasa membuatku sangat kehausan. Mungkin tidak hanya haus air, tapi juga haus ingin mencicipi seks yang nyata.

Kali ini adegan yang dilakonkan Sai dan Ino dilakukan dengan tempo pelan. Aku mengerti, tujuannya agar tidak cepat-cepat mencapai puncak, tapi dengan gerakan pelan apalagi dengan posisi yang spektakuler begitu, aku mampu merasakan nilai seni tinggi dari setiap detailnya, harmonisasi gerak mereka begitu indah seakan itu adalah gerakan sakral ritual penyembahan pada dewa. Itu sungguh erotisme tingkat tinggi.

Aku sampai ikut terbuai oleh mereka. Lidahku bergerak sensual sendirinya, menjilat-jilat bibir hingga mengkilat basah, bahkan sedikit air liurku telah menetes dan jatuh di antara belahan dadaku.

Kuangkat botol di tanganku. Aku sadar kalau sudah kosong, tapi aku tidak bisa berhenti. Aku seperti orang gila, menantikan tetesan air terakhir dari mulut botol dengan wajah mendongak, mulut terbuka lebar dan lidah menjulur keluar.

Sesekali tanganku kugunakan untuk menyisir rambut agar tidak menganggu mataku, menyisirnya ke belakang dengan jari. Poni rambutku terasa basah dan lepek karena bercampur keringat.

Kulihat tempo gerakan Sai dan Ino semakin cepat, sangat cepat, dan terus lebih cepat lagi. Mengagumkan!

Kini tanganku bermain-main dengan tali bra. Kunaik-turunkan di bahu. Sesekali aku tarik sedikit agar tercipta sensasi hebat pada dadaku yang semakin kencang dan keras.

Aku pun mulai menjilat-jilat mulut botol sampai ke lehernya. Kujilat-jilat erotis seperti apa yang dilakukan Ino tadi. Memutar botol agar lidahku bisa merasakan setiap sisinya. Bahkan kini lidahku masuk ke dalamnya, berputar-putar berusaha menjangkau setiap sisi bagian dalam botol.

Aku mendongak lagi, sangat menginginkan adanya air yang mampu menuntaskan semua dahagaku.

Jet jet jet!

Ouuhhh, amunisi telah di tembakkan tiga kali. Lendir kental merembes keluar dan memercik kemana-mana

"Hiyyaaaaaaaahhhh!"

Aku melayang ke langit ketujuh.

Aku... gila.

Dan aku...

Aku... Akuuuuu merasa ingin pipis.

Pipis.

Pipis?

STOOOPPPP!.

Ku ambil remote dan kumatikan layar TV. Meski Ino dan Sai melanjutkan ke ronde dua, tapi aku harus berhenti. Aku tidak boleh lepas kendali lebih dari ini.

"Huuufffftt."

Aku melepaskan nafas panjang. Syukurlah, celana dalamku tidak basah.

Aku tidak membawa celana dalam cadangan. Jika nanti gigolo yang kubayar mengetahui kalau aku basah duluan, aku bisa malu. Mau ditaruh dimana mukaku?

Ahh, lebih baik aku ke kamar mandi saja. Sepertinya aku benar-benar ingin pipis, sekalian memakai bajuku lagi disana, dan membenarkan posisi bra-ku yang berantakan. Tapi di kamar mandi aku harus bisa menahan diri, tidak boleh ada teknik tangan dewa. Aku tidak ingin tenagaku habis duluan sebelum 'Say Goodbye Virginity'.

Setelah dari kamar mandi aku mendudukkan pantatku di kursi dekat jendela kaca yang ditutup gorden putih. Masih ada waktu sepuluh menit lagi sampai gigolo yang kubayar tiba di sini.

Waktu selama itu aku habiskan dengan membaca majalah dewasa. Walau aku tidak ingin lagi menonton film yang tadi, tapi aku tidak tahan untuk tidak menyentuh hal-hal erotis.

Beginilah kalau jadi perempuan mesum.

Karena terlalu asyik membaca, aku sampai tidak menyadari kalau laki-laki yang kutunggu sudah berada didalam di depanku.

Cepat-cepat kuletakkan majalah yang kubaca lalu berdiri, "Se-sejak kapan k-kau disitu?" tanyaku sambil menunjuk wajahnya. Apa aku kelihatan panik?

"Ah, bukannya tadi pintunya terbuka otomatis. Aku kira aku sudah dipersilahkan masuk, Hyuga-sama."

Whooa, dia memanggilku dengan sebutan Hyuga-sama. Seperti orang memanggil ayahku saja. Tapi baguslah, aku merasa seperti seorang ratu sekarang.

Aku ingat, nama gigolo yang kubayar ini adalah Uzumaki Naruto, seorang mahasiswa sepertiku. Sekampus namun beda fakultas.

"Oh, mungkin aku tadi lupa menutup pintunya rapat-rapat." kataku dengan tenang.

Karena dia orang yang baru kukenal, aku merasa canggung. Tidak tahu harus mengangkat topik apa untuk sekedar basa-basi, jadi...

"Hei kau, duduk disana!" perintahku dengan tegas menunjuk kearah kasur.

Kalau sudah begini, sekalian saja aku berlagak jadi ratu sedangkan dia jadi budak. Budak seksku, hahaaaa.

Ouuwh, kalimatku ampuh ternyata. Dia sampai tidak berani menatap wajahku, matanya tertuju pada kakiku.

Setelah ia duduk di kasur, aku pun langsung duduk juga, tepat disampingnya.

"Eh?"

Ekspresinya seperti orang terkejut.

Tanpa mempedulikan itu, kugenggam tangannya. Tanganku bergetar karena ini pertama kali bagiku bersentuhan dengan laki-laki yang bukan keluargaku.

Karena mengingat film tadi, aku jadi dikuasai nafsu.

Brukkk..

Aku berhasil menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, persis seperti Ino yang menjatuhkan Sai.

Hebat kan?

Ini baru pertama, dan aku sudah berhasil mengalahkan seorang laki-laki.

Naruto sama sekali tak melawan. Aku suka tipe laki-laki seperti dia, tak melawan, persis budak yang sangat penurut.

Memang begitulah yang aku inginkan, sesuai ekspektasiku kemarin terhadapnya

Jemari lentikku melepasnya kancing kemejanya satu persatu. Sedikit susah, selain karena yang kubuka adalah kancing baju orang lain, juga karena tanganku sedikit bergetar.

Kesal aku jadinya.

Sreeetttt...

Sisa kancing yang tak bisa kubuka, kutarik saja hingga kemejanya robek.

Kulihat wajahnya begitu terkejut.

"Kenapa?" tanyaku dengan tatapan lapar.

"Tidak. Teruskan saja, Hyuga-sama."

Dia menjawab dengan wajah menghadap kesamping.

Apa jangan-jangan dia masokis ya?

Tubuh bagian atasnya terpampang jelas di mataku tanpa tertutup apapun.

Oh my...

GOD!

Ini luar biasa.

Sungguh menakjubkan.

Baru pertama kali aku melihat tubuh laki-laki seindah ini. Otot-ototnya begitu pas disetiap bagian, kencang dan padat berisi. Artis-artis terkenal saja tidak ada yang memiliki tubuh seindah ini. Apalagi warna kulitnya yang sangat sesuai tipeku.

Oh tidak. Aku bisa buta kalau terlalu lama memandangnya.

Air liurku pasti sudah berlelehan sekarang.

Tanganku bergerak sendirinya. Jari-jariku mulai nakal menjamah setiap inchi tubuhnya, menelusuri setiap lekukan otot yang dia miliki.

Aku ingin lebih.

Ketika mataku semakin kebawah, seketika timbul rasa penasaran yang besar akan benda yang ada dibalik risleting celananya.

Aku belum pernah melihat penis secara langsung. Aku hanya melihat milik para aktor film panas dari layar kaca. Apa milik Naruto seperti milik Sai, atau lebih indah lagi.

Aku tak mampu membayangkannya, aku harus mendapatkan jawaban itu dengan melihatnya langsung.

Tanpa meminta ijin, langsung saja kuratik risleting celananya.

Loh, kok tak mau turun? Ku tarik lebih kuat.

"Kenapa ini sulit dibuka sih?" tanyaku dengan ekspresi kesal.

"A-aku juga ttidak tahu, Hyuga-sama." jawabnya takut-takut.

Kau pikir aku hantu huh? Sampai kau ketakutan begitu?

Greepp...

Batsss...

Reflek aku menepis tangannya ketika menyentuh tanganku.

Berani sekali menyentuh tanganku yang suci ini? Huh!

"Maaf."

"Hn." aku mendengus pelan.

Aku sudah menghabiskan waktu bermenit-menit untuk menurunkan risleting celananya, tapi belum menunjukkan hasil.

Tiba-tiba kudengar dia bertanya.

"Kau masih perawan, Hyuga-sama?"

Tanganku terhenti. Dia mengatakan apa tadi? Aku? Perawan?

"Hyuga-sama?"

"HUWAAAAAAAAA...!"

Aku terkejut, berteriak histeris, jatuh dari kasur dan berakhir menabrak sudut meja.

"Itteeiiiiiiiii..."

Sialan! Padahal kan belum mulai, tapi... kenapa gigolo ini bisa tahu aku masih perawan?

Setelah insiden heboh tadi, aku dan Naruto semakin dekat dalam artian sebagai teman. Ya, kami berteman sekarang, sahabat dadakan.

Awalnya aku ragu, tapi perhatian yang dia berikan membuatku percaya padanya sehingga akupun menceritakan semua masalahku.

Respon yang kudapat, dia malah menertawakanku. Tentu saja aku kesal. Tapi lenyap setelah dia bercerita bagaimana ia menjalani profesi sebagai gigolo. Aku dibuat tercengang, tak kusangka sehebat itu. Kupikir, gigolo kerjanya hanya memberi kepuasan saja, seperti pelacur, tapi nyatanya jauh lebih kompleks.

Setelah mendengar itu, aku meminta nomor rekeningnya. Kutransfer uang sepuluh kali lebih banyak dari yang kuberikan waktu di parkiran kampus. Aku juga ingin service plus seperti tante-tante girang langganannya.

Awalnya dia tidak percaya, kan ceritanya aku hanya ingin melepas keperawanan, bukan menjadi pelanggan tetap.

Laku kukatakan dengan tegas padanya, 'jika kau memberikanku layanan terbaik, kenapa tidak?'

Hidungku yang berdarah sudah dia bersihkan.

"Arigatou, Naruto-kun."

"Hm, douittashimashite."

Antara aku dan dia, tidak canggung lagi seperti tadi. Dengan paket service plus, dia berperan sebagai sahabat dekat yang pengertian hingga keperawananku pergi.

"Jadi kau menyewaku hanya untuk mengambil keperawananmu, begitu?" Tanya Naruto padaku sekali lagi.

Aku mengangguk.

"Terus, kenapa kau memilihku?"

"Karena kau gigolo submisif, jadi kurasa tak menakutkan untuk yang pertama."

Kukatakan dengan yakin, pendapatku pasti benar. Hahahaaaa.

Karena ucapanku, ekspresi Naruto seperti orang mendengar berita bulan jatuh ke bumi. Hei, apa kau tidak percaya padaku huh?

"Ya sudah. Apa yang tadi kita lanjutkan?"

"Tentu saja." jawabku bersemangat. "Aku ingin segera mengakhiri penderitaan ini tahu, kau pikir menyandang titel perawan itu enak?"

Naruto menatapku lekat, "Baiklah. Begini, Hinata."

Dia memanggil nama depanku, begitu pula aku padanya, karena sekarang kami sahabat.

"Selama ini aku belum pernah melayani perawan, pelangganku sudah bolong semua. Jadi kuharap kita bisa bekerja sama, kau tentu ingin yang terbaik kan?"

Aku mengangguk cepat saking bersemangatnya. Tidak berpengalaman melayani perawan ya? 'Tidak berpengalaman', Ufufufuuuu. Kuanggap dia masih perjaka.

"Kita mulai sekarang?"

"Tahun depan." ucapku ketus.

"Ha?"

"Ya sekarang lah!"

Sejak tadi kami mengobrol dengan posisi berhadapan duduk di atas kasur.

Pukkk...

"Untuk apa kau meletakkan tanganmu di bahuku?"

"Loh, katanya mau mulai sekarang?"

"Bukannya kau gigolo submisif? Biarkan aku yang mengendalikan permainan."

"Memangnya kau bisa?" tanyanya dengan nada mengejek setelah menarik tangan dari bahuku.

Tentu saja aku kesal karena ucapannya.

"Hei, asal kau tahu ya, Na-ru-to-kunnn! Aku ini sudah kenyang makan referensi teknik bercinta. Seandainya itu makanan, aku pasti sudah mati obesitas."

"Kau pikir teori dan praktek itu sama? Dasar perawan."

"Berhentiiii! Jangan mengejekku perawan lagi!"

"Nah kalau bergitu, biarkan aku memulainya. Biar kau tak perawan lagi. Jadi tidak akan ada yang mengejekmu."

"Tidak, aku yang memulai. Katamu tadi, kau belum pernah melayani perawan kan? Aku ragu kau bisa melayaniku dengan baik."

"Ya sudah kalau itu maumu."

Naruto merebahkan diri di kasur.

Kutatap dia, tepat di kedua bola matanya. "Kau mau tidur? Pekerjaanmu mengambil keperawananku belum kau lakukan tahu."

"Ya ampun Hinata. Kau mau jadi yang mengendalikan permainan kan? Nah sekarang aku memasrahkan tubuhku dalam kuasamu, aku jadi pihak submisif seperti kau kau mau."

Opps, aku lupa. Bodoh sekali aku.

"Oh, heheheeee..." aku tertawa cengengesan.

Hup!

Duaakk...

"Awww, tolong jangan duduk di perutku tiba-tiba! Kau mengerti kan Hinata, kalau tubuhku ini sangat berharga untuk mencari uang?"

"Iya iya ah. Bawel.!"

Aku tidak peduli kalau dia kesal. Sekali lagi aku bermain-main dengan tubuh seksi miliknya.

Tiba-tiba,

Tuk.

Seekor laba-laba kecil jatuh mendarat di dadanya, bersentuhan tepat dengan jari telunjukku.

Aku diam.

Dia juga diam.

Wajahku memerah takut dan kututup dengan kedua telapak tangan, telingaku serasa berasap, lalu...

"KYAAAAAAA..."

Aku berteriak kencang sambil melompat-lompat di atas kasur.

"Singkirkan makhluk menjijikkan itu!"

Cukup lama aku berteriak-teriak.

Saat aku merasa tak ada bahaya lagi, kubuka mataku. Tak ada laba-laba lagi, entah kemana Naruto membuangnya, aku tak peduli.

Sejak kecil, aku memang phobia laba-laba. Melihat makhluk menjijikkan itu saja aku akan berteriak, apalagi kalau menyentuhnya, aku bisa pingsan di tempat.

"Hiiieeee, awas saja kalau aku melihat makhluk itu lagi, hotel ini akan kubakar!"

"Sudah lah Hinata, lebih baik lupakan saja. Laba-labanya sudah tidak ada lagi."

"Hmmp, mana bisa!"

Aku mendengus kesal sambil bersidekap dada, masih berdiri di kasur. Sedangkan Naruto duduk di tepi kasur tidak jauh dariku.

"Daripada memikirkan itu, lebih baik kau urus keperawananmu."

"Oh iya ya, betul. Ahahhaaaaa..."

Sekejap, aku melupakan tentang laba-laba tadi.

Aku tertawa hingga tanpa kusadari, tubuhku tiba-tiba terasa oleng dan akhirnya...

"Kyaaaaaaaaaaaaaaa..."

... akupun mendapatkan takdir pesakitan yang sama untuk kedua kalinya.

Seperti sebelumnya, Naruto-kun yang mengurus luka memar di hidungku. Kini dia sedang mengusapkan kapas yang telah dibasahi etanol di bagian yang luka.

"Itteeeiiii, pelan-pelan Naruto-kun!"

"Ini sudah pelan."

"Apaan? Sakit tahu."

Dia terdiam, tapi wajahnya seperti sedang mengejekku.

Meski begitu, senyum di bibirnya tampak mengembang, seperti senyum tulus yang tak pernah kutemukan dimanapun. Dan aku yakin, itu bukan karena dia memberikan service plus sebagai gigolo padaku. Aku tahu bedanya yang asli dan yang palsu.

Hampir saja aku terpesona.

Tidak boleh! Aku sama sekali tidak mengenal siapa dia sebenarnya. Hubungan kami bukan karena hati, tapi hanya untuk kesenangan.

Jika dia mampu bekerja profesional, maka aku harus tahu sampai mana batasanku.

"Tertawa, kujahit bibirmu!" ancamku, demi mengenyahkan pemikiran sentimentil yang melintasi otakku.

Bukannya takut setelah kuancam, dia malah memeletkan lidah. Kurang ajar!

Drrrrrrttttt...

Tiba-tiba ponselku di atas nakas bergetar. Sebuah panggilan, aku langsung menjawab segera setelah mengambil ponselnya.

"Hallo Hanabi-chan."

"Nee-sama, kau dimana sekarang?"

"Kenapa kau terdengar panik adikku yang manis? Ada sesuatu yang terjadi di rumah?" tanyaku lembut.

Aku berbicara di telepon menghadap Naruto. Mau dia mendengar percakapanku, tak masalah.

"Bisa tidak Nee-sama pulang?"

"Aku tidak bisa pulang sekarang, Hanabi-chan. Ada tugas yang memaksaku menginap di rumah teman."

"Aduh, Nee-sama lupa kah? Sebentar lagi keluarga calon istri Neji-nii sampai di rumah kita. Tou-sama bisa marah besar kalau kau tak ada saat acara makan malam dengan calon besan yang datang jauh-jauuh dari daratan China."

"Emmm, begitu ya. Baiklah, aku akan pulang."

Tuuutttt...

Panggilan kuputus. Kutatap Naruto lekat. "Kita lanjutkan lain kali saja.!"

"Baiklah."

"Ingat, aku masih perawan. Sampai pekerjaanmu selesai, kau milikku!"

"Iya, hime-samaaaaaaa..." jawabnya cuek.

Dengan cepat, kubereskan barang-barangku.

Sebelum melangkah melewati pintu, aku memutar kepala dan menatapku gigoloku sejenak, "Naruto-kun, aku suka senyum jujurmu yang hangat saat kau merawat lukaku dan saat aku menelpon tadi. Sering-sering begitu ya."

Blammm...

.

.

.

Sekarang sudah hampir sore, perkuliahan sudah selesai. Waktunya pulang, namun ...

Hujan.

Tak masalah kalau aku pulang dijemput supir, tapi aku ada urusan dan tidak ingin langsung pulang ke rumah.

Yep, urusan pribadi. Khukhukhuuuu.

Tiga malam yang lalu kan aku gagal 'Say goodbye virginity...' gara-gara telpon dari Hanabi untuk langsung pulang? Jadi projek melepas keperawanan aku lanjutkan hari ini.

Aku membuka payung lalu berjalan melenggang menuju kampus Fakultas Teknik. Aku ingin menjemput Naruto-kun. Aku sudah mengirimkan dia pesan kalau yang gagal kemarin dilanjutkan hari ini, dan dia punya waktu free sore ini sampai jam 10 malam. Aku yang menjemputnya karena jadwal kuliahnya setengah jam lebih lambat selesainya dari kuliahku.

Ugghh, memikirkan kalau aku akan melepas keperawanan sebentar lagi, hatiku jadi panas dingin, jantungku pun berdebar dagdigdug doki-doki tak karuan. Apalagi cuacanya dingin-dingin karena hujan begini, momen yang benar-benar pas.

Uuuh yeaaah, tubuhku butuh kehangatan.

Aku mengkhayal akan begini dan begitu nanti. Kyaaaaaa, apa wajah mesumku kelihatan orang lain? Semoga saja tidak. Aku kan putri bangsawan, bisa rusak reputasiku.

Keasyikan mengkhayal, tanpa sadar aku sudah sampai di gedung Fakultas Teknik, tempat Naruto-kun kuliah. Aku masuk sedikit agar tak kehujanan. Menunggu di dekat pintu keluar yang mengarah ke tempat parkir.

Baru saja aku menutup payung, ketika aku mendongak ...

"Naruto-kun!?"

"Hinata?!"

Pekikan kecil menghambur karena kami saling panggil bersamaan. Ekspresi Naruto tampak terkejut ketika menemukanku disini. Ya, wajar sih karena aku tidak berkata kalau aku akan menunggu di depan kampusnya.

"Ngapain kamu disini huh?"

Naruto bertanya padaku dengan nada tinggi.

"Habisnya kalau aku menunggu di kampusku, aku bisa mati kebosanan tahu."

Sigap, Naruto menarikku ke pojok yang sepi lalu memakaikanku jaket, menutup kepalaku dengan hodie-nya. Dari aromanya, aku yakin ini jaket miliknya.

Sedikit raut muka marah kudapat ketika aku menatap wajah Naruto.

"Kau itu ya, bodoh atau apa sih? Profesiku sebagai gigolo sudah banyak diketahui oleh penghuni fakultas ini. Kalau ada yang mengenali wajahmu saat kau berbicara denganku, orang-orang akan berpikir yang tidak-tidak tentangmu, bisa saja reputasimu dan reputasi keluargamu tercoreng."

Euh, segitu perhatiannya ya dia padaku. Memang benar sih apa katanya, aku saja tidak terpikir sampai kesana tadi. Ah, paling-paling karena dia mengkhawatirkan aku sebagai pelanggan, itu saja.

"Ya ya yaaa. Kalau begitu, ayo kita pergi sebelum ada orang menyadari keberadaanku disini." ucapku sambil menyerahkan payungku kepadanya.

Tanpa basa-basi, kami pun melenggang pergi berjalan berdua dari gedung Fakultas Teknik.

Selama perjalanan, kami sempat mengobrol ringan.

"Nee, Hinata. Kita ini mau kemana sih?"

"Ke apartemen temanku."

"Ha?" Naruto menoleh ke arahku meminta kepastian akan ucapanku tadi.

"Kenapa memangnya?"

"Jangan bilang kalau kau mau memakai jasaku beramai-ramai dengan temanmu!"

"Ya enggak lah. Mana mungkin kan aku melepas keperawanan dilihat orang lain? Kan aku melakukan ini sembunyi-sembunyi."

"Iya sih, tapi ..."

"Tenang saja, apartemen temanku sedang kosong. Dia pergi berlibur dua hari ke luar kota bersama temannya. Jadi aku pinjam saja kuncinya tadi pagi sebelum dia berangkat."

"Oh."

Aku tak menyahut lagi. Kakiku melangkah melanjutkan perjalanan. Aku berjalan di sebelah kirinya dalam satu payung bersama. Kami berjalan dalam diam hingga ...

tuk!

"Awww!"

tuk!

Gagang payung berbahan logam yang digenggam Naruto mengenai kepalaku.

"Itteeeiii, kau kenapa sih? Yang benar dong megang payungnya, sakit tahu!"

"Maaf."

Aku menatapnya kesal, dia memalingkan wajah begitu saja, menatap lurus ke depan tanpa berekspresi. Saat mataku turun sedikit, ku lihat separuh pakaiannya yang sebelah kanan basah, terutama bahu hingga menampakkan warna kulit eksotiknya dari balik kemeja putih bergaris yang dia kenakan.

Are? Aku menyadari sesuatu sekarang. Saat mataku melihat ke atas, payung yang dia pegang condong ke arahku. Aku tidak basah sama sekali, sedangkan dia? Tubuhnya cukup besar, jadi payung milikku tidak cukup untuk berdua. Apalagi jaket miliknya sekarang membungkus tubuhku

'Mungkin lain kali, aku tidak boleh pulang bersamanya lagi saat hujan.' Ucapku dalam hati sembari aku menggeser sedikit payung agar posisinya lebih ke tengah.

Hmm, ternyata Naruto orang baik.

Waktu terus bergulir dan kami pun sudah berada di apartemen temanku. Hujan hanya tinggal gerimis ketika kami sampai.

Karena basah, Naruto langsung kusuruh memakai baju ganti. Di apartemen ini ada baju laki-laki sebab temanku sering membawa pacarnya menginap. Naruto memakai kaos oblong tipis dan jeans pendek, sedangkan aku tak mengganti pakaian, masih mengenakan baju terusan berlengan pendek dan celana selutut yang kugunakan untuk kuliah. Jaket milik Naruto kulipat dan kuletakkan di atas meja.

Kami sedang duduk bersisian di sofa. Sama-sama meluruskan kaki tanpa bicara, penat sehabis berjalan dari kampus ke apartemen.

Ah, sigh. Hampir saja aku melupakan tujuanku ke apartemen ini. Melepas keperawanan, hahahaaa.

Aku menoleh pada Naruto, "A-..."

"Kau yakin?" tanya Naruto memotong ucapanku.

"Eh?" aku menatapnya heran, apa maksudnya?

"Kau yakin ingin melepas keperawananmu?"

"Ya iya lah. Kau tidak lihat huh tekad api membara yang tergambar di wajahku?" kataku sambil menunjuk wajahku sendiri.

Naruto menatapku sebentar lalu menggendikkan bahu acuh. Sialan, ini orang maunya apa sih?

"Hinata, kurasa kau harus memikirkan lagi keinginanmu itu."

"Apa katamu?"

"Kau ingin membuang sesuatu yang berharga, yang banyak perempuan menangis setelah kehilangannya."

"Tch. Tak usah menceramahiku! Kau kubayar mahal-mahal untuk melepaskanku dari hinaan titel perawan."

"Huuuh, pikiran perawan mesum memang rumit." kata Naruto sambil mendongakkan wajahnya, memandang lampu yang tergantung di langit-langit apartemen. Tampak seperti orang frustasi.

Sepuluh menit selanjutnya Naruto habiskan untuk melamun, entah merenungi apa. Sedangkan aku, tentu saja melakukan peregangan kecil sebagai pemanasan. Lalu ...

Hupp...!

"Aww, hoi jangan tiba-tiba menyerangku begitu dong!" Naruto menatapku tajam.

"Tehe. Maaf." aku mengukir senyum tak bersalah. Kini aku sudah duduk diatas pinggang Naruto yang duduk bersandar di sofa.

Naruto mendesahkan nafas, "Dasar perawan mesum gila!"

Ctaakkk.

"Itteeeiiiii! Apa sih maumu?"

"Sekali lagi kau sebut aku perawan mesum gila, bukan jidatmu lagi yang kujitak tapi penismu yang kugorok."

"Ah, ampun. Jangan itu. Aku tidak bisa mencari uang lagi kalau kau melakukannya."

"Makanya, nurut apa kataku."

"Iya iya deh."

Setelahnya, akupun melucuti pakaian Naruto tanpa mendapat protesan. Aku lah rajanya, dia budak seksku.

Kaos oblong pun tanggal dari badannya. Tanganku terlalu gatal untuk melewatkan setiap pahatan mahakarya Tuhan yang menampakkan diri sebagai tubuhnya, elok menawan nan eksotik. Setiap bagiannya disusun ideal dan proporsional, berisi namun tak berlebihan. Sungguh, tubuh laki-laki asli di depan mataku ini tak tertandingi, bahkan aktor-aktor yang sering lewat di layar bioskop maupun layar JAV tak ada apa-apanya.

Glekk...

Aku meneguk ludah sesak, ini lebih manggairahkan dibanding saat aku melihatnya di kamar hotel. Mungkin karena otak mesumku yang makin menjadi.

Jari-jemariku menghabiskan waktu bermenit-menit menari disetiap inchi kulitnya. Begini saja membuat badanku gemetar.

Mataku menoleh ke arah wajahnya. Melihat ekspresinya...

Doonngg!

Urat kesal tercetak di dahiku.

Apa-apaan dia? Sudah kubelai-belai begini, massa ekspresinya datar begitu? Setidaknya dia kan mendesah, mengerang, melenguh, wajahnya memerah dan berkeringat, sekalian pula matanya merem melek keenakan. Oke, aku akui aku masih amatir, ditambah lagi dia gigolo yang selalu mendapat perlakuan ini setiap saat dari berpuluh-puluh perempuan yang menginginkan jasanya.

Tapi hei! Hargai perasaanku sebagai perempuan, Baka!

Aku menyeringai ketika ide kecil hinggap di otakku

Gyuuutt!

"AAAAAAAAAAAAAARRRRRRRKKKKHHH...! Itteeeiii, apa yang kau lakukan, Brengsek?"

Naruto meringis kesakitan sembari wajahnya menatap garang padaku, sedangkan aku tersenyum penuh kemenangan. Rasain, emang enak puting susumu kupelintir? Hahahahaaaa.

"Salahmu sendiri, Baka."

"Aku mau pulang."

"Eiit, jangan sembarangan ngomong. Kembalikan uangku tiga kali lipat kalau kau berani pulang!"

"Whaaattt!"

Aku nyengir puas kearah lain. Saat kulirikkan mataku padanya, kulihat dia mengerang pasrah bersandar di sofa. Aku gitu loh, mana ada yang berani melawan seorang putri bangsawan kaya raya sepertiku.

Tanpa mempedulikan kekesalannya, aku menaikkan pantatku sedikit, bertumpu pada lututku yang mengapit pinggulnya. Setelah melemaskan jari-jemari, aku menurunkan risleting celananya. Dia tak protes sama sekali. Lalu melepas pengaitnya.

Sebentar saja, celana jeans pendek yang ia kenakan sudah turun sampai ke mata kaki.

Melongo, aku menatap tubuh bagian bawahnya. Andai saja dia tak memakai boxer, sekarang aku sudah pasti bisa melihat penis pria dewasa untuk pertama kali.

Penis.

Errrr... Penis?

Peniiisss...

Aah, aku merasa melupakan sesuatu tentang penis.

Kutatap wajah Naruto yang memasang ekspresi heran, pasti dia bingung kenapa aku tiba-tiba berhenti.

"Naruto-kun, kau bawa kondom tidak?"

"Eh?"

"Pasti tidak." kataku menebak.

"Memang tidak. Aku hampir tak pernah membawa kondom saat melayani pelanggan. Biasanya mereka yang bawa sendiri, sesuai selera mereka sukanya kondom yang seperti apa."

"Ck."

Aku bangkit berdiri, meninggalkan Naruto yang masih duduk di sofa. Kalau tak pakai kondom, aku bisa hamil saat spermanya muncrat didalam vaginaku. Akan panjang urusannya kalau hal itu terjadi.

Aku berjalan menuju laci meja tempat meletakkan televisi. Aku sudah sering ke apartemen temanku ini, sehingga tahu dimana dia menyimpan stok kondom untuk dipakai saat pacarnya menginap.

Kubuka laci itu, ada kotak bergambar iblis didalamnya. Ohooo, denger-denger dari kata orang, kondom cap iblis ini kualitasnya terbaik di Jepang.

Setelah kubuka kotak kondom itu, aku menghela nafas.

Kosong!

Stok kondom temanku habis.

Aku pun kembali ke sofa dengan wajah masam.

"Kau kenapa, Hinata?"

"Stok kondom milik penghuni apartemen ini habis." jawabku datar sambil mengambil tasku yang ada di atas meja.

"Terus?" tanya Naruto. Duduk tegap sambil terus memperhatikanku.

"Di depan kompleks ada apotek. Aku akan membelinya, Naruto-kun."

"Aku saja. Lebih baik kau tunggu disini."

"Tidak. Aku ingin memilih sesuai seleraku."

"Oh, ya sudah."

Pakaian yang kukenakan masih lengkap, jadi tanpa basa-basi aku pun melenggang pergi.

Aku berhenti sebelum memegang knop pintu, kupalingkan wajah menatap Naruto tanpa berbalik badan.

"Tidak jadi?" Naruto menatapku dengan wajah heran.

"Enggak kok. Kau, tetap seperti itu! Jangan pakai baju lagi, aku tidak mau melucuti pakaianmu dua kali."

"Ha? Kau mau aku kedinginan?"

"Apartemen temanku ini punya penghangat ruangan. Pengatur termostatnya ada di dekat sakelar lampu. Hidupkan saja sendiri."

"Ooohh. Terima kasih."

"Ya."

Tapi baru saja memegang knop pintu, aku berhenti lagi.

"Naruto-kun. Kau pakai kondom ukuran apa?"

"Snugger fit, tapi yang sizenya paling besar."

Aku berbalik, terkejut. Berarti penis Naruto besar dong ukurannya?

Kudapati Naruto terkekeh melihat tingkahku.

"Haish, kau ini Hinata. Tenang saja, jangan takut! Punyaku besar normal kok, bukan besar ekstra seperti aktor panas yang sering kau tonton. Dasar perawan mesum."

Kurang ajar. Bisa-bisanya dia mengejekku.

Ah, aku lupa. Tadi dia bilang snugger fit, meski sizenya yang paling besar, tapi sedikit lebih langsing dari yang reguler pada ukuran sama. Dipakai bukan pada penis ukuran kecil saja, tapi yang ukuran biasa pun memakainya karena lebih nge-pas, dan lebih aman serta nyaman digunakan. Hahhh, ini seperti membedakan kemeja laki-laki ukuran reguler dan slim fit.

Blam...!

Aku pun pergi meninggalkan apartemen temanku, pergi menuju apotek terdekat.

~Skip setengah jam~

Kini aku di lift menuju lantai apartemenku berada. Naruto bisa kesal kalau kelamaan menunggu.

Habisnya ada banyak jenis kondom, dan aku baru pertama kali membelinya. Jadi aku bingung memilih yang mana. Biasanya kalau pria dewasa, paling menghabiskan waktu 7 detik untuk memilih kondom karena urusan membeli ini agak memalukan dilihat banyak orang. Tapi aku perlu waktu sampai 10 menit. Pegawai apotek saja sampai heran karenaku. Hahaaa. Syukur aku membawa jaket Naruto yang ada hodienya, kuharap tidak ada yang mengenaliku sebagai Hinata Hyuga.

Pintu lift terbuka, aku berjalan di koridor yang sepi dan temaram menuju pintu apartemen temanmu.

Selama berjalan, tidak henti-hentinya aku tersenyum sendiri. Di tanganku ada banyak jenis kondom, mulai yang paling tipis yang katanya terasa seperti tak pakai kondom, ada juga yang warna warni dengan berbagai rasa. Bahkan aku juga membeli yang bergerigi untuk sensasi lebih.

Ada lebih dari selusin kondom yang kubeli. Yaa, karena saking bingungnya memilih, jadi kubeli saja semua jenisnya. Sesuai ukuran yang Naruto minta, snugger fit XL.

Sampai didepan pintu, aku pun membukanya begitu saja. Tak dikunci, lagipula ada orang didalam.

Ketika aku masuk, tak terlihat si gigolo pirang di ruang tamu.

Aku meletakkan kondom-kondom yang kubeli di meja.

Sayup-sayup kumendengar suara desahan nafas. Desahan sensual dan menggairahkan dari mulut perempuan.

Kupikir itu suara desahan dari apartemen tetangga, tapi pikiran itu langsung kutepis saat kusadari sumbernya dari kamar temanku.

Aku mendekat perlahan, rasa penasaran memenuhi ruang otakku.

Ketika didepan pintu kamar, kutempelkan kupingku.

Benar, suaranya benar-benar berasal dari dalam kamar.

Aneh. Padahal hanya ada Naruto di apartemen ini. Tapi kenapa bisa ada suara desahan perempuan? Apa dia sedang menonton film porno, tapi kenapa sampai masuk kamar segala?

Krriiieeeeettt.

Pintu berderit pelan ketika kubuka perlahan.

Agak gelap, mataku tidak bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi. Lampu kamar tidak meyala.

Dengan jatung dagdigdug berdebar tak karuan bercampur takut, aku masuk ke dalam kamar.

Di atas kasur, tampak dua siluet tubuh yang dari rambut dan lekukannya kuyakini sebagai perempuan. Kedua siluet itu bergoyang harmonis seperti menunggangi sesuatu dengan berboncengan. Wajahnya yang belum bisa kukenali, mendongak dengan mulut terbuka. Desahan mereka mampu menggambarkan kenikmatan duniawi yang luar biasa tiada tara.

Tidak mungkin, siapa mereka?

Perampok?

Ketakutan mulai menjalari seluruh permukaan kulitku.

Sungguh, aku sangat takut. Apa mereka bener-benar perampok? Tapi mana mungkin ada perampok yang melakukan hal tak masuk akal seperti ini. Motifnya apa? Jika benar perampok, ini lebih mengerikan daripada perampok sadis yang menyekap sebelas korbannya di kamar mandi kecil hingga menewaskan enam orang di antaranya.

Otakku blank, yang ku pikirkan hanyalah secepatnya kabur dari sini.

Na-naruto...?

Tadi kutinggalkan disini. Mana dia?

Apa disekap di kamar mandi? Atau dia sudah tewas?

Auuuh, tapi yang lebih penting aku harus kabur sekarang. Aku harus bisa menyelamatkan diri. Mencari bantuan baru menyelamatkan dia.

Aku bergerak sesenyap mungkin, seolah merayap di dinding agar tak ada suara yang mengganggu desahan-desahan keenakan dari mulut orang-orang yang kupikir perampok itu.

Klik.

Bodoh!

Aku sungguh merutuki kecerobohanku. Bisa-bisanya tanganku tak sengaja memencet sakelar lampu. Kamar yang tadinya gelap kini terang benderang.

Aku menutup mata, sedikitpun tak berani melihat. Semoga saja aku langsung dibunuh oleh para perampok itu. Tembak saja kepalaku, agar aku langsung mati tanpa berlama-lama merasakan sekarat.

Ini situasi terburuk yang pernah ku alami selama aku hidup.

Namun...

Hampir semenit menutup mata, aku tak merasakan apa-apa. Nafasku masih ada, jantungku masih berdetak.

Dan...

Suara-suara desahan itu tak berhenti sama sekali. Apa mereka tidak sadar kalau lampu kamar menyala.

Setelah menarik nafas dalam, aku memberanikan diri membuka mata.

Perlahan kelopak mataku terangkat seraya wajahku menengok ke atas kasur. Hingga mataku terbuka lebar, selebar-lebarnya.

Sekarang aku bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi. Dua orang perempuan telanjang bulat.

Ada perempuan berambut sebahu berwarna coklat, dibelakangnya perempuan berambut sebahu pula, hanya saja berwarna pink. Posisinya sama persis seperti siluet saat gelap tadi, bergoyang berbocengan. Ditambah sekarang aku bisa melihat jelas bagaimana mereka mengalami mind break, seperti orang yang kehilangan akal sehat dan haus akan seks. Pantas saja tak menyadari lampu kamar yang kini telah menyala.

Kedua perempuan itu bergoyang sangat liar. Mulut terbuka dan air liur berlelehan dari kedua sudut bibir hingga mencapai dada, lidah menjulur, matanya yang berkaca-kaca tampak memutih karena pupilnya menghilang. Itu ekspresi Ahegao perempuan yang sedang orgasme seperti yang kubaca di manga hentai.

Aku pasti akan segera pergi jika saja tidak mengenali kedua perempuan itu.

Tapi...

Tapi yang kulihat sekarang?

Mereka berdua sahabatku.

Matsuri dan Sakura.

Mereka bergoyang menunggang sesuatu seperti bermain banana boat, Matsuri yang didepan.

Dan yang jadi tunggangannya?

"...!?"

Aku tak bisa berkata apa-apa. Ituu... laki-laki telanjang dalam kondisi kedua tangan dan kaki terikat pinggiran ranjang. Matanya ditutup kain hitam.

Matsuri menduduki kepala laki-laki itu, tepat diatas mulut. Pantas saja dari tadi aku tidak mendengar suara rintihan laki-laki. Sedangkan Sakura duduk bergoyang di bagian pinggulnya.

Dan laki-laki itu,

Rambutnya...!?

Pirang.

Na-

Na-

Na-naru-

Narutooooooooo!

God! Apa yang kulihat iniiiiiii?

"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAA..."

Aku berteriak kencang sehingga kesadaran dua perempuan itu kembali dan kini mereka menatapku dengan wajah terkejut.

"HENTAII! BEJAT! TAK BERMORAL! MENJIJIKKAAAAAAAAAANN...!"

Duuaaakk.

Pyyyaarrrr. Pyaarrr...

KABOOOOMMMM...

Aku melempar benda apapun yang bisa kujangkau di dalam kamar.

Tak peduli apapun akibatnya, aku harus melampiaskan emosiku.

Oh iya, apa dari awal aku lupa mengatakan kalau apartemen teman yang kumaksud ini adalah apartemen Sakura?

-Skip-

Kini setengah jam telah berlalu setelah kejadian menghebohkan tadi.

Sungguh, itu sama sekali tak terduga.

Dan sekarang, dalam kondisi pakaian lengkap, kami berempat duduk di sofa, di ruang tamu.

Suasana hening, saking heningnya bahkan suara tetesan air di washtafel dan detak jarum jam dinding saja sampai ke telingaku.

Kubuka mulutku pertama kali.

"Jadi, Sakura-chan, Matsuri-chan. Bisa jelaskan padaku kenapa kalian berdua bisa ada disini?" tanyaku dengan suara tegas. Tak ada lagi ekspresi malu-malu imut bak putri bangsawan seperti yang biasa kutunjukkan pada dua sahabatku karib ini.

"Errr, etto..." Hanya Sakura yang berani bicara, itupun dengan suara putus-putus. "Se-sebenarnya kami tidak jadi berangkat liburan ke luar kota. Yah, ka-karena cuaca buruk."

Iya juga ya, tadi kan hujan.

"Terus, kenapa kalian bisa melakukan hal tadi, melakukan threesome?"

"Ha-habisnya saat kami masuk keapartemen, ada laki-laki hot yang hanya mengenakan boxer ketat duduk di sofa. J-jadi kami tidak tahan untuk tidak menyerang." dengan jujur Matsuri menjawab..

Kualihkan tatapanku pada Naruto. "Kau, kenapa tak melawan?"

"A-"

"Kau tidak lupa kan, Hinata? Aku menguasai seni tinju Muay Thai tingkat menengah." Sakura bicara lebih dulu saat Naruto baru membuka mulutnya.

"Dan aku cukup mahir taekwondo." sambung Matsuri.

Ya, aku masih ingat. Dua sahabatku ini dikenal sebagai wanita tangguh di kampus. Tak ada laki-laki yang berani macam-macam dengan mereka.

Pantas saja dengan mudah mereka menaklukkan Naruto, lalu memperkosanya.

Tapi aku merasa aneh,

Kutatap Naruto yang intens, dia duduk di sofa tak jauh dariku sambil sesekali menguap bosan.

"Naruto-kun, kau tidak marah diperkosa oleh mereka berdua?" tanyaku dengan jari telunjuk mengarah pada Sakura dan Matsuri bergantian.

Naruto menggendikkan bahu acuh, "Aku sudah sering diperlakukan mereka seperti tadi."

"Hah?" keningku mengkerut.

"Mereka pelangganku. Meski hanya pelanggan biasa, bukan pelanggan kelas atas yang meminta service plus, tapi Sakura-san dan Matsuri-san cukup sering menyewa jasaku. Kami biasanya bermain di hotel, makanya aku tak menyangka kalau apartemen ini ternyata milik Sakura-san."

"Whaattt?" mulutku menganga.

Saat aku menatap Sakura, ia tertawa renyah.

"Yah, kau kan sudah sering mendengar ceritaku, Hinata-chan. Pacarku Sasuke-kun memang perkasa dan penisnya besar, tapi kadang aku jenuh bercinta dengannya. Dia hanya mementingkan kepuasan diri sendiri dan selalu membangga-banggakan ukuran penisnya tanpa peduli kalau aku juga ingin mendomisi. Apalagi Sasuke-kun sedikit mengalami penyimpangan seksual yang membuatku risih, exhibitionism. Kadang dia suka mempertontonkan penis besarnya pada orang lain, bahkan ditempat umum. Bukan malu, dia malah bangga kalau orang yang melihatnya tercengang."

"Aku juga, kadang jenuh bermain mommy-baby diatas ranjang dengan Gaara-kun. Tingkah kekanakannya akhir-akhir ini semakin menjadi."

Yah, aku juga sering mendengar curhatan Matsuri tentang fetish aneh Gaara.

Meski aku masih terkejut, tapi alasan mereka untuk menyewa jasa gigolo submisif cukup masuk akal. Dan Naruto memenuhi semua kriteria mereka.

Aku membuang nafas panjang, punggungku kusandarkan di meja. Jemariku memijit pelan pelipisku karena sedikit pusing. Apa yang kualami hari ini, sama sekali tak terduga.

Prok prok prok.

Aku memicing ketika Sakura dan Matsuri bertepuk tangan sambil tersenyum aneh. Apa maksudnya?

"Sekarang gantian."

"Gantian apanya?" tanyaku pada Sakura.

"Gantia interogasi. Hihihiiii." tawa Matsuri terdengar menggelikan.

Oh shit, bedebah!

Sakura bersidekap dada, "Pagi-pagi sebelum berangkat, kau tiba-tiba berkata ingin meminjam apartemenku selama satu malam. Tahu-tahunya kau membawa gigolo ini?" tunjuknya pada Naruto dengan mata tertuju padaku.

Matsuri melanjutkan, "Ck ck ckkk,,, aku tak menyangka kau sebinal itu, Hinata-chan. Kukira kau itu adalah putri bangsawan polos dan pemalu, tapi ternyata..."

"Ti-tidak. Tidak, aku tidak seperti itu." bantahku keras.

"Terus yang sekarang ini apa?"

Sakura tersenyum simpul, "Kita bertiga ini sahabat, Hinata-chan. Tak usah malu-malu begitu. Jangan menyembunyikan sesuatu dari kami berdua."

"Iya, Hinata-chan. Katakan saja, dengan begitu kita bisa menyelami kesenangan dunia kebejatan bersama-sama."

"Hu'um, bener banget tuh."

"D-d-d-d-d-d-d-d-d-diaaaaaaammm!" teriakku.

Aku menunduk, malu sekali. Wajahku sudah pasti memerah dan ada asap-asap imajiner yang keluar dari kedua lubang telingaku.

"Biar aku saja yang cerita, tidak apa-apa kan Hinata?" ucap Naruto lembut seraya memegang bahuku.

Aku mengangguk. Aku sudah tak bisa menyembunyikan apa-apa lagi pada Sakura dan Matsuri. Dan aku juga tidak sanggup menceritakannya sendiri.

Selama sepuluh menit, Naruto menceritakan tentang sisi lain diriku, pribadiku yang mesum akut. Mulai dari impianku memiliki seratus partner sex selama seminggu, problemaku yang masih perawan, sampai aku yang memiliki ide menyewa gigolo submisif untuk 'yang pertama'. Bahkan kejadian memalukan saat di hotel kemarin malam pun juga Naruto ceritakan.

Sakura dan Matsuri mendengarkan dengan antusias, sambil tertawa terpingkal-pingkal tentunya.

Apa mereka anggap masalahku ini lucu? Lagipula mereka berdua yang paling sering menggejekku masih perawan, tapi saat aku ingin melepas keperawanan mereka malah semakin menertawakanku. Mereka itu sahabat atau bukan sih?

"Jadi Naruto, ini yang kedua kali kau gagal merobek segel si perawan mesum berdada besar ini?"

Apa-apaan julukan itu? Awas saja kau Sakura!

Naruto mengangguk. "Ya, begitulah. Karena dia sudah membayarku mahal, berarti sampai selaput daranya robek, aku terikat dengannya."

"Nyahahahaaaa." Masturi tertawa kencang hingga matanya menyipit. Dia menatapku, "Aku tidak menyangka kau bisa seperti itu, sahabatku tersayang. Kelakuanmu sungguh ajaib."

"Berisik!" aku memalingkan wajah.

Seterusnya, Naruto, Sakura, dan Matsuri terus mengobrol dengan menjadikan aku sebagai objek lelucon. Meski latar belakang kami berkumpul di sini teramat sangat aneh, tapi aku sedikit merasakan kehangatannya, seolah kami ini dekat dan bersahabat, berempat termasuk Naruto juga.

Suara tawa menghambur di udara, sampai suara yang Sakura keluarkan kali ini membuat kami terdiam.

"Naruto, kita lanjutkan yang tadi yaaa. Onegaaaaiiiii."

Sakura mengatakannya dengan wajah memelas dan mata berkaca-kaca.

"Iya, lanjutkan pliiis. Ayo, kita threesome lagi." sambung Matsuri.

Aku terperangah, yang tadi belum puas apa?

Sedangkan Naruto kebingungan harus menjawab apa.

"Ta-"

"Kau tahu, Naruto." Sakura langsung memotong begitu Naruto membuka mulut. "Tadi itu aku hampir saja klimaks, aku merasakan cairanku sudah di ujung tanduk. Jika saja Hinata tidak mengganggu, aku sudah pasti orgasme yang kelima kali."

"Aku juga, lidahmu di lubangku tadi membuat perasaanku bergejolak. Kalau diteruskan satu menit saja, pasti aku orgasme lagi." mata Matsuri berbinar-binar saat mengatakannya.

"Ti-"

"Tidak!" Naruto menolak tegas, lebih keras dari ucapanku hingga suaraku tenggelam begitu saja.

Hahaaa, rasain tuh Sakura, Matsuri. Aku juga tidak sudi adegan menjijikkan tadi dilanjutkan.

"Kenapa?"

"Karena hutang kalian masih belum lunas, Sakura-san, Matsuri-san. Tiga kali kalian memakai jasaku untuk threesome, tapi sampai sekarang belum dibayar. Lunasi itu dulu, baru aku akan melayani kalian lagi."

Pfffttt!

Aku menahan mulutku agar tidak tertawa keras.

Dua sahabatku ini ternyata jalang kere.

Ja-Lang Ke-Re.

Nyewa gigolo saja, pakai ngutang. Hahahahaaaa.

"Hinata-chaaaannnnn~~~~"

Tatapan memohon dari Matsuri dan Sakura tertuju padaku.

"Eh?"

"Kau kan sudah membayar Naruto? Pinjami kami dong. Ya ya yaaa, plisss. Malam ini saja, badanku butuh belaian hangat nih."

"Kalau tak punya uang, kalian berdua saling belai saja! Sama saja kan rasanya?"

"Kami bukan Yuri, kami butuh belaian laki-laki tahu. Ayolah, jangan kikir begitu dong. Kau kan orang kaya, Hinata-chan."

"Kita ini sahabat sejati kan?"

Aku dibuat kesal oleh rengekan Sakura dan Matsuri.

Kutekan hidungku keatas dengan jari telunjuk, "Emang gue pikirin!", lalu memeletkan lidah.

.

.

.

Dua hari sudah terlewati semenjak kejadian aneh di apartemen Sakura.

Kami bertiga sepakat untuk merahasiakannya karena kami sahabat. Mereka mengerti kalau reputasiku sebagai putri bangsawan yang bermartabat tidak boleh tercoreng sedikitpun. Dan mereka juga tidak ingin hubungannya dengan pacar masing-masing, Sasuke Uchiha dan Sabaku Gaara, rusak hanya karena ketahuan suka menyewa gigolo.

Apa gagal dua kali akan menghentikan keinginanku melepas keperawanan begitu saja?

Tentu tidak. Sekarang pun proyek itu masih berlanjut, dengan orang yang sama tentunya, si gigolo submisif yang sudah kubayar mahal, Uzumaki Naruto.

Dengan wajah ragu-ragu, Naruto bertanya padaku. "Errr, tidak salah nih Hinata. Kau yakin ingin kita melakukannya disini?"

"Memangnya dimana lagi hah?"

Ya, aku dan Naruto sedang disebuah ruangan sekarang. Ada ranjangnya juga. Ini bukan kamar hotel ataupun apartemen. Dua tempat itu sudah ku-blacklist. Ini ruang kesehatan di kampus Fakultas Farmasi, kampusku. Tidak ada bedanya dengan ruang UKS yang ada di sekolah menengah.

Meski ini masih siang, tapi agak gelap karena tirai jendelanya kututup. Lampunya pun tak kunyalakan.

"Tapi kan ini di kampus Hinata, bagaimana kalau ada orang yang memergoki kita."

"Tidak mungkin! Mahasiswa farmasi jarang ada yang sakit dan tidak ada yang bisa masuk karena kuncinya aku yang megang, sudah kukunci dari dalam."

"Iya, ta-..."

"Sudah ah, jangan protes lagi, Naruto-kun! Kau kubayar untuk kerja, bukan untuk bicara."

Naruto mendesah pasrah, "Tch, sesukamu saja lah."

"Bagus, jadilah budak seksku yang penurut. Hihihiii." Aku tersenyum senang. "Sekarang kau berbaring di ranjang, Naruto-kun."

Tanpa bicara, orang yang kubayar ini mematuhi ucapanku.

"Lepas pakaianmu juga!"

"Eh? Kau tidak ingin melepasnya?"

"Tidak, aku sudah dua kali melakukan itu. Jadi loncat ke tahapan selanjutnya saja."

"Ya sudah."

Kulihat Naruto dengan cepat melepas pakaiannya, hanya kemeja abu-abu cerah, lalu kaos dalaman.

"Celanamu, sekalian!"

Ia pun menurut saja. Ufufufuuuu, aku merasa seperti ratu.

ckreekk creekkk...

Naruto yang hanya menyisakan boxer terdiam, menatap kearah pintu yang berusaha dibuka oleh seseorang dari luar. Aku juga sama. Pintunya tidak kelihatan karena terhalang oleh lemari obat berukuran besar dari posisi kami.

Lalu kami saling pandang.

"Tenang saja, Naruto-kun!, pintunya kan kukunci dari dalam, sebentar lagi dia pasti pergi."

Jdooor jdoorrr.

Namun bukan seperti yang kupikirkan, sekarang pintunya malah digedor kencang.

"Siapa sih? Mengganggu saja" umpatku kesal.

Ckleek.

Seketika aku panik. Pintunya sudah terbuka. Siapa dia? Kenapa bisa memiliki kunci ruang kesehatan ini?

Aku menatap Naruto yang sama paniknya denganku.

"Ayo kita sembunyi."

"Dimana?"

"Tidak tahu." jawabku.

"Bodoh! Bersembunyi dibalik horden sana!"

Aku langsung mengikuti instruksi Naruto. Tapi dia malah masih anteng berbaring di ranjang.

"Kenapa kau tidak sembunyi, Naruto-kun?"

"Berbahaya kalau kita berdua sama-sama sembunyi. Cukup kau sendiri saja, biarkan aku mengatasi orang yang masuk itu."

Benar apa yang dikatakan Naruto.

Karena suara derap langkah semakin mendekat, segera saja aku menyembunyikan seluruh tubuhku dibalik horden. kebetulan hordennya menyentuh lantai, jadi sepatuku tidak kelihatan.

Huuuft, kebetulan yang menguntungkan.

Aku tidak bisa melihat apa-apa lagi. Entah apa yang akan Naruto lakukan?

"Shizune-sensei!"

"Naru-kun!"

Suara pekikan dari manusia berbeda gender terdengar bersamaan.

Apa? Jadi yang masuk itu Shizune-sensei yang mengurus ruangan ini? Pantas saja dia punya kuncinya.

Dan mereka saling panggil nama masing-masing? Apa mungkin mereka saling kenal?

Karena penasaran, aku memfokuskan pendengaranku. Lagipula aku takut melihat walaupun sedikit, aku takut ketahuan dan reputasiku hancur.

"Shizune-sensei bekerja di sini?"

Kudengar suara Naruto yang bertanya pertama kali.

"Hu'um, aku pernah mengatakannya padamu kan kalau aku ini dokter penanggung jawab fasilitas kesehatan kampus?"

"Iya, aku ingat. Hanya saja aku tak menyangka anda bekerja di kampus farmasi."

"Oooh. Maaf kalau aku tidak pernah mengatakannya padamu."

"Salahku juga tidak pernah menanyakannya padamu, Sensei. Hehee."

Hmmm, aku heran. Kenapa Naruto dan Shizune-sensei sangat akrab begitu ya?

"Kalau kau, Naru-kun? Kenapa bisa ada di sini?"

"Aku tiba-tiba jatuh pingsan saat kuliah. Ruang kesehatan di kampus Fakultas Teknik kebetulan sedang penuh, makanya teman sekelasku berinisiatif membawaku ke sini karena paling dekat jaraknya."

Woow, alasan yang bagus Naruto. Otakmu ternyata encer juga ya, pandai pula berbohong.

"Astagaaaa, Naru-kun. Kau sakit apa sampai pingsan?"

"Bukan sakit, hanya terlalu kelelahan saja, juga kurang tidur."

"Sini biar kuperiksa."

"T-tidak usah, terima kasih. Aku sudah diperiksa dokter di sana. Katanya aku tidak apa-apa lagi kok, cukup istirahat saja. Buktinya wajahku sudah segar seperti anda lihat sekarang."

"Eeeee, sayang sekali ya. Padahal kalau aku memeriksamu, kita bisa main dokter-dokteran, Naru-kun."

Heh? Dokter-dokteran? Apa sih maksud ucapan Shizune-sensei?

"Eh?"

Naruto juga kebingungan, tergambar jelas dari suaranya.

"Ck ck ck, Naru-kun. Kau pikir aku ini apa, sampai kau berpikir bisa membodohiku seperti tadi huh? Aku tau kau tidak sakit. Tapi..."

"Tapi kenapa, Sensei?"

"Tapi aku tak peduli apapun alasannya sehingga kau bisa berada di ruanganku. Yang jelas, kau sekarang tersaji siap santap dihadapanku."

"Sensei! Tolong, jangan sekarang. Kumohon."

Sungguh, aku tidak mengerti bagaimana hubungan Naruto dan Shizune-sensei.

"Ti-dak! Aku membutuhkanmu sekarang, Na-ru-kun."

Aneh. Kenapa tiba-tiba ucapan Shizune sensei terdengar sensual dan erotis begitu?

"Tapi, kita kan sudah janji melakukannya besok malam?" Naruto terdengar berusaha keras menyuarakan penolakan.

"Kalau kau ada dihadapanku sekarang, kenapa mesti menunggu besok malam?"

"Baiklah kalau itu maumu, Sensei. Tapi aku tidak bisa lama-lama. Kalau kau mau besok malam sesuai kesepakatan, maka semalamam tubuhku jadi milikmu."

"Se-ka-rang! Apalagi melihatmu hanya memakai boxer begitu, mana mungkin aku tahan untuk tidak menyerangmu. Ufufufufuuuu..."

Blitzzz...

Sinyal otakku langsung tersambung, aku mengerti sekarang. Kesimpulannya pasti, Shizune-sensei juga salah satu pelanggan Naruto-kun.

Demi sempak kesayangan Hiashi yang dicuci sebulan sekali, kenapa aku bisa kena sial begini?

Ah, kenapa pula aku sampai mengolok-olok ayahku sendiri?

Aku sungguh kesal.

Ckiiittt.

Baru saja kudengar suara derit ranjang. Pasti Shizune-sensei sudah menunggangi Naruto-kun yang seharusnya milikku. Dasar papan cucian keparat!

"Sensei, rok-mu terangkat."

"Biar saja, lagipula aku ingin cepat-cepat melepas celana dalamku."

"Uggghh, jangan meremas terlalu kuat. Kumohon, jangan menyiksaku." suara Naruto terdengar berat di telingaku.

Aku tak habis pikir, sudah sampai tahap mana mereka melakukannya?

"Wuihh, tak kusangka vaginaku basah secepat ini, banyak lagi cairannya. Mungkin karena yang di hadapanku ini adalah kau, Naru-kun."

"Uggh, hyaaahh." Naruto melenguh kencang.

"Penismu juga sudah keras, kumasukkan yaa. Aku sudah tidak tahan lagi."

What the F**k? Mana mungkin tahap penetrasi bisa secepat ini. Apa Shizune sensei itu binatang?

Ini tidak boleh terjadi.

Tidak.

Tidaaakkkk.

"BERHENTIIIIII...!"

"..."

"..."

"..."

Oppss, apa barusan aku berteriak? Oh God!, sekarang aku harus bagaimana? Seseorang, tolong bunuh akuuuuuuuuu... T.T

.

Sekarang sudah sore hari. Langit di ufuk barat sudah menjingga. Kejadian tadi siang empat jam lalu di ruang kesehatan membuat jumlah orang yang tahu rahasiaku semakin banyak. Yaa, di tambah Shizune-sensei sekarang, setelah Sakura dan Matsuri.

Hubunganku dengan sensei berdada rata itu cukup akrab. Aku seringkali berurusan dengannya saat ada tugas penelitian karena selain penganggung jawab fasilitas kesehatan kampus, dia juga salah satu dosen meski jadwal mengajarnya tidak sebanyak dosen lain.

Setelah kejadian itu, kami bicara dan sepakat merahasiakan apa yang terjadi. Sebagai sesama pelanggan Naruto-kun, kami harus saling menjaga aib, tidak boleh saling menjatuhkan. Intinya aku dan dia saling tahu rahasia masing-masing.

Tapi hebatnya, tidak lama setelah Naruto-kun kusuruh pergi. Aku dan Shizune sensei malah semakin akrab. Dia tidak segan berceloteh tentang aktifitas seksualnya.

Dari ceritanya, baru kuketahui kalau Shizune sensei adalah pengidap Necrophilia, berhubungan seks dengan mayat. Dia berhasil melakukan eksperimen untuk membuat penis mayat ereksi menggunakan semacam krim khusus dan alat kejut listrik. Kalau saat menyewa jasa Naruto, itu berarti dia dalam kondisi normal dan melakukan seks dengan lawan main yang hidup. Tapi dia senang bermain dokter-dokteran saat melakukannya, tentu saja Naruto sebagai pasien.

Sungguh, tak kusangka Shizune sensei perempuan yang segila itu.

Ternyata yang namanya kepuasan seks itu sangat luas.

Lupakan hal itu, sekarang aku bersama Naruto lagi. Setelah jadwal kuliah siang dia selesai. Aku memintanya untuk melanjutkan proyek melepas keperawanan yang tertunda di gudang penyimpanan alat olahraga Fakultas Teknik.

Aku yakin tidak akan ada yang menggangguku lagi. Kata Naruto, gudang ini sangat sepi, apalagi sekarang sudah senja.

Aku dan Naruto-kun masih berpakaian lengkap, tanpa basa-basi karena tak sabaran, langsung saja kujatuhkan laki-laki dihadapanku ini keatas matras.

Kududuki perutnya.

Kriiiieeetttt.

Arrrrh, sialan! Baru saja aku hendak mengelus pipi budakku, sudah ada yang menganggu lagi.

Suara nyaring dari derit pintu gudang membuatku langsung menyembunyikan diri.

Seperti sebelumnya, hanya aku yang sembunyi. Kubiarkan Naruto-kun mengurus orang itu, lagipula ini kampusnya.

Aku mengintip dari balik rak tempat meletakkan peralatan olahraga atletik.

"Tsunade-sama? Anda?"

Kulihat ekspresi wajah Naruto sangat kebingungan. Dia pasti sangat tidak menyangka siapa orang yang datang, aku juga begitu.

Ada angin apa sampai-sampai Ibu Rektor yang luar biasa sibuk bisa berada di gudang penyimpanan alat olahraga?

Universitas Todai yang memiliki belasan fakultas dan lebih dari seratus jurusan di pimpin oleh wanita itu, Senju Tsunade, satu-satunya wanita yang pernah menjabat sebagai rektor sejak kampus ini didirikan.

Mataku fokus untuk melihat apa yang terjadi.

Aku terkejut.

Tanpa basa-basi, wanita berumur yang masih kelihatan sangat cantik itu melepas atasan setelan kerja yang dia kenakan. Melemparnya asal, sehingga menyisakan bra hitam berenda ukuran F-cup.

Baik aku yang bersembunyi dan mengintip, maupun Naruto-kun yang terduduk di atas matras, cengo dibuatnya.

Lalu sekarang bra itu juga telah tanggal. Penampilan topless Tsunade-sama terpampang jelas dimataku.

Oh myyyy... Besar sekali payudaranya, bombastis. Pantas saja bra F-cup yang dia pakai tadi kelihatan sesak, padahal itu sudah ukuran paling besar.

Ukurannya lebih besar dari payudaraku sendiri. Baru dua bulan ini aku naik level memakai bra E-cup. Tapi sejak kelas satu sekolah memengah atas, aku sudah memakai ukuran D. Karena ukuranku inilah, banyak teman perempuan yang iri padaku. Tapi kalau dibandingkan dengan Tsunade-sama, aku merasa belum ada apa-apanya.

Huufft.

Aisshh, bodoh. Kenapa aku malah terkagum-kagum. Aku tak punya waktu untuk itu.

Karena melamun sebentar, aku tak melihat apa yang terjadi sesaat lalu.

Sekarang mataku benar-benar melotot. Bagaimana tidak?

Naruto-kun meronta-ronta minta pertolongan karena tak bisa bernafas akibat kepalanya tenggelam diantara dada jumbo Tsunade-sama.

Kapan nenek binal sok muda itu menarik Naruto-kun kepelukannya?

Tidak.

Tidaaaakkkk.!

Kalau kubiarkan, Naruto bisa mati.

"HENTIKAAANNNN! JANGAN BUNUH NARUTO-KUUUUUUNNNN!"

Aku berteriak dan keluar dari tempat persembunyianku.

Disana, kulihat Tsunade-sama tersenyum menyeringai, kearahku.

Oh tidak!

~Skip~

"Ahahahaaa, ternyata kau itu lucu sekali, Hina-chan."

Tsunade-sama tertawa keras dan mengejekku.

Nenek tua ini sudah mendengar semua ceritanya dari Naruto-kun.

"Anda juga ternyata nenek-nenek bejat, Tsunade-sama." balasku.

Naruto juga bercerita padaku kalau Tsunade-sama adalah pelanggan tetap kelas atas dengan layanan service plus. Sama seperti dua jalang dari keluarga pengusaha klan Uchiha dan artis JAV Yamanaka Ino.

Kebetulan macam apa ini Ya Tuhaaannn? Kenapa orang-orang yang kukenal dan dekat denganku jadi pelanggan Naruto-kun semua? Selain kejam, realita ini juga sangat aneh.

Aku kenal dekat dengan Tsunade-sama karena beliau wanita terpandang dari Keluarga Bangsawan Senju yang memiliki hubungan erat dengan keluarga Bangsawan Hyuga. Bahkan beliau seringkali berkunjung ke rumahku. Saat aku kecil, beliau selalu mengelus-ngelus rambutku penuh kasih setelah ibuku wafat, aku sudah dia anggap seperti cucunya, dia pun kuanggap nenekku. Selain karena penyayang, beliau sebenarnya juga ingin punya cucu. Tapi sayang, suaminya meninggal dunia saat saat pernikahan mereka baru seumur jagung tanpa memberikan satupun keturunan.

Karena sangat mencintai mendiang suaminya, Dan Kato, beliau tidak menikah lagi.

Tapi aku sungguh heran, bisa-bisanya diumur yang sudah hampir kepala enam dia melakukan perbuatan bejat seperti itu, memiliki gigolo tetap. Tidak ada yang lebih mencengangkan bagiku daripada hal ini.

Dan alasan kenapa dia bisa muncul mengangguku di tempat ini tidak lain karena dia melihatku bersama Naruto-kun berjalan menuju gudang. Lalu dia berpikir untuk mengerjaiku.

Dia hanya ingin mengerjaiku.

Dasar, nenek-nenek binal! sapi perah!

"Ahahahaaa." Tsunade-sama tertawa renyah lalu mengusap pucuk kepalaku. Terasa hangat, seperti ketika aku kecil. "Sudahlah, jangan kesal begitu. Terima saja kenyataan ini. Lagipula ini membuat kita semakin dekat dan saling memahami, benar kan?"

Kami duduk di atas matras berdampingan.

"Ya ya ya yaaa." ucapku bosan dengan bibir melengkung ke bawah.

"Hufft, tak kusangka Hina-chan yang dulunya kecil, imut dan selalu bersembunyi dibelakang pantatku, sekarang sudah dewasa."

"Memuji atau menyindir nih?"

Entah mengapa, aku merasa semakin dekat dengan Tsunade-sama. Kupikir ini karena Naruto-kun, dia seperti memiliki kharisma kuat yang mampu membuat orang-orang di sekitarnya saling mengerti.

"Tapi kau menemukan partner yang tepat."

"Eh? Maksudmu, Tsunade-sama?"

Pukk.

"Awww, jangan menepuk kepalaku sembarangan dong."

"Hahahaaaa. Lupakan apa kataku barusan."

"Mana bisa!"

"Aku harus pergi sekarang, pekerjaanku masih banyak." Tsunade-sama berdiri lalu berteriak. "Naruto, cepat kemari!"

Naruto yang berjaga didekat pintu berjalan mendekati kami. "Ada apa, Tsunade-sama?" tanyanya penuh hormat.

"Selesaikan pekerjaanmu, dan tolong buat cucuku ini senang!"

"Ha'i. Akan saya lakukan sebaik-baiknya."

Kambing! Apa-apaan maksud ucapan mereka?

Tsunade-sama berdiri, "Aku pergi ya, Hinata. Selamat bersenang-senang."

"Aarrh, pergi sana. Jangan mengganggu aku dan Naruto-kun lagi! Hush hussh shuuu...!"

"Ahahahahaaaaa."

Setelah Tsunade pergi, Naruto duduk di matras, berdampingan denganku.

Laki-laki ini tertawa jahil ke arahku.

"Apa huh?"

"Tidak ada. Hanya saja kau terlihat imut dan lucu kalau cemberut begitu."

"Tch, gombal."

"Hihiii, ayo kita selesaikan."

"Hn."

"..."

"..."

"..."

"..."

"Kapan kita mulai nih?"

"Sekarang lah!" jawabku ketus.

"Aku sudah siap dari tadi, kenapa kau diam saja?"

"Kau saja yang mulai, Naruto-kun."

"Loh? Kau tidak ingin menguasai permaian seperti biasa."

"Aku bete, sejak kemarin gagal terus. Kau saja lah yang mulai."

"Yakin?"

Aku mengangguk.

Tak terdengar suara lagi, tiba-tiba aku merasakan elusan hangat dari pinggul hingga ke perutku.

Tangan Naruto-kun sudah mulai beraksi.

Tiba-tiba saja badanku terasa aneh, getaran-getaran yang belum pernah kurasakan sebelumnya mulai muncul. Ini berbeda dengan ketika aku menonton film porno atau membaca manga hentai.

Rasa geli luar biasa mengguncang tengkukku. Kurasakan nafas hangat dan suara endusan dari hidung Naruto-kun disana.

Uggh, ahhhn.

Aku mendesah dalam hati.

Jadi begini kah sensasi seks yang benar-benar nyata? Padahal baru saja mulai, tapi aku sudah mabuk begini.

Kurasakan pantatku diremas-remas.

Kancing tengah dari kemejaku terlepas, tangan Naruto-kun yang satunya masuk kedalamnya. Kulit perutku bisa merasakan langsung belaian hangat dari tangan kekarnya.

Kurasakan wajahku memanas, pasti banyak darah yang berkumpul disana sehingga membuat kulitnya memerah.

Ahhnn hiyyaaahhh.

Kupejamkan mata demi menyesapi semua kenikmatan ini.

Aku wanita suci, tapi hari ini aku merasa menjadi wanita paling kotor sedunia. Membiarkan tubuhku dijamah oleh lelaki yang tak ada ikatan apapun denganku.

Tapi tak apa, demi bebas dari penjara keperawanan akan kulakukan apapun.

Tangan di balik bajuku perlahan naik keatas. Dadaku yang masih tertutup bra ditangkup dengan pas oleh tangannya yang besar. Remasannya menciptakan kejutan-kejutan listrik yang meluluh lantakkan kesadaranku.

Aku... akuuuu... tak merasakan apapun lagi sekarang.

Tangan Naruto-kun masuk kedalam bra. Kulit kami bersentuhan langsung.

Aku seperti kehilangan akal?

Bagaimana mungkin sensasinya semengerikan ini?

Oh tuhaaannn.

Aku ingin lebihhh.

Lalu ketika puncak dadaku yang mengeras ditekan oleh jarinya...

Aku...

Aku...

Aku...

Zonnkk!

Otakku blank.

PLAAKKKK!

Tanpa sadar aku menampar keras pipi Naruto-kun.

Refleks aku menjauh, membenarkan pakaianku yang berantakan dan memeluk erat tubuhku sendiri.

Aku... Aku merasa takut, sekaligus kotor, hina, jijik.

Perasaan macam apa ini?

Entahlah? Aku sendiri bingung.

Perlahan kuangkat wajahku yang memerah dan berkeringat.

Dapat kulihat Naruto-kun menghela nafas panjang. Lalu tersenyum tipis.

Apa dia tidak marah karena perbuatanku tadi?

"Sudah kuduga, kau belum siap Hinata."

Aku memalingkan wajah, tidak bisa untuk tidak mengakuinya meski tak kujawab.

Melewati menit demi menit dalam diam.

Tak tahan lagi, kukeluarkan suaraku. "Maaf."

"Tidak, tidak perlu."

"Go-gomen, A-arigatou."

"Hn." Naruto memejamkan matanya lalu membukanya lagi dan menatapku lembut, "Jadi, lebih baik kita hentikan saja ini. Akan kukembalikan uangmu."

"Tidak!" tanpa sadar aku meneriakkannya. Aku sendiri tidak mengerti kenapa aku mengatakan itu.

"Hah?"

"Lima hari lagi, datanglah ke rumahku, mansion Hyuga. Aku janji, aku pasti sudah siap saat itu."

"Ck, kau keras kepala ya, Hinata."

"Hn!" aku mendengus acuh.

Karena tak ada hal lain lagi, kami pun beres-beres dan bersiap pulang.

"Hei, Hinata!"

Naruto memanggil namaku ketika kami sudah keluar dari dalam gudang dan menutup pintunya.

"Nande?"

"Kalau kuingat-ingat sejak kejadian di apartemen Sakura-san, aku merasa kau posesif terhadapku."

Aku tercengang, keningku mengkerut menatapnya. "Ya, i-iya sih. Aku kan sudah membayarmu mahal, jadi kau milikku sampai selesai."

Naruto-kun mengibaskan tangannya didepan wajah, "Bukan itu maksudku. Posesif... Ya, posesif 'itu' yang kumaksud."

"A-"

Mulutku yang terbuka kututup kembali. Aku paham maksudnya, dan entah kenapa ucapannya membuatku sedikit malu. Ada perasaan aneh yang sama sekali tak kumengerti dalam diriku.

"Hinata?"

"Eh?" Aku tersadar dari lamunan. "Kau! Kau berpikir aku posesif dan cemburu karena pelangganmu yang lain?"

Naruto-kun mengangguk pelan, sangat pelan, sekali.

"JANGAN BERMIMPI...!"

Aku berteriak di depan wajahnya, lalu kutinggalkan dia lari. Aku mau pulaaaanng, cape, bete! Bye bye!

.

...TBC

.

Note :

Ekhkhemmm, aku tidak akan minta maaf untuk chapter 3 ini yang update super ngaret. Butuh waktu lama untuk mendapatkan feel humor. :v

Lalu untuk adegan awal pada chapter ini, adegan Hinata sedang menonton *****, deskripsinya dibuat sereal mungkin walau telah didramatisir sebab aku membuatnya dari data-data yang aku kumpulkan dengan mengobservasi dan mewawancarai beberapa teman cewe yang tak mungkin kusebutkan namanya disini. Jadi, terima kasih untuk kalian teman-teman yang membantuku merilis chapter ini.

Oke, chapter depan kembali ke sudut pandang Naruto, gilirannya keluarga Hyuga yang bakal di nistain.

Dan update TTEOTW, menyusul besok atau lusa ya.

...

Omake:

Pagi yang indah, teringat lagi akan kejadian kemarin di gudang kampus. Badanku pun jadi panas.

Dadaku tak pernah terasa senyaman ini sejak disentuh Naruto. Aku senang, tubuhku mengalami kemajuan sejak saat itu. Rasa senang ini berbeda dengan senang ketika mendapat hadiah, ini seperti rasa khusus yang tak bisa kujelaskan.

Pusing kumemikirkannya. Yang penting sekarang levelku telah naik. Ya, aku sudah menaiki anak tangga pertama menuju kedesawaan. Ahahahahaaa.

Ahhhnn...

Gawat, aku tak bisa berhenti memikirkan tangan Naruto-kun. Membuatku duduk gelisah di ruang kelas ini, bahkan tanpa sadar aku mulai menggesek-gesekkan kedua pahaku. Dalam imajinasiku, ada puluhan tangan Naruto-kun yang dengan liar menjamah setiap inchi badanku, menekan setiap titik penggoncang birahiku.

Kemarin aku sudah dapat dada, maka targetku selanjutnya adalah bibir.

Uggh. Pagi-pagi aku sudah bergairan begini.

Puuukkk

"Memikirkan apa eh, Hinata-chan?"

"Astaga, jangan menepuk bahuku tiba-tiba begitu dong, Matsuri-chan. Aku kaget tahu!"

Tahu-tahunya, dua sahabatku ini sudah duduk di dekatku. Mereka menatapku lekat, lalu mengulas senyum tidak jelas.

Satu alisku naik, keheranan.

Mereka malah mengedip-ngedipkan mata.

Apa maksud mereka coba?

Lalu Sakura dan Matsuri membuka mulutnya bersamaan.

"Ecieeeee ciye ciye ciyeeeeee, yang mau lepas keperawanan pakai bayar. Mwahahahahaaaa."

Mulutku menganga. Seharusnya yang di ciye-ciyein itu orang lagi pedekate atau baru jadian. Lah ini?

ANJRRRIIITTT.

"Kemari Sakura-chan, Matsuri-chan! Kurobek mulut kaliaaaaannn!"

"Waaaaaa!"

"Lariiiiii!"

Keparat! Gara-gara dua jalang kere ini, pagiku yang indah jadi kacau.

.

.

.