Fade into You

By KATE DAWES

Remake to ChangKyu Version

Thanks to : ressalini, Guest, ChangkyuShipper, chwangkyu, hyunnie02

Previous Chap :

Ini adalah bagian di mana kupikir Jaejoong akan memberi isyarat halus - atau mungkin tidak begitu halus - petunjuk bahwa ia adalah seorang aktris, tapi itu tidak dia lakukan.

Jadi aku yang melakukannya. Tapi dia menghentikanku sebelum aku terlalu jauh. "Aku akan meninggalkan kalian berdua," katanya tiba-tiba. "Mr. Shim, senang rasanya benar-benar bertemu Anda." Ketika dia menatapku, aku melihat bahwa dia benar-benar seperti tidak nyaman. "Aku akan menunggu dikamar. Atau ... terserah.

"Selamat bersenang-senang!"

Dan dengan itu, ia pergi ke tempat lain di kasino, meninggalkanku berdiri bersama Changmin, bertanya-tanya apa yang harus aku lakukan sekarang.

*** CK ***

Changmin dan aku akhirnya berada di area bar kecil yang dikelilingi oleh kaca. Ruangan itu penuh dengan musik piano live. Ketenangan ini memberi jeda yang bagus dari pengaruh energi tak henti-henti lantai kasino.

Ini gelas kelima dari anggur yang ku minum. Aku bukan seorang peminum, mungkin harus berhenti di gelas ke empat. Mungkin ketiga. Tapi disinilah aku, meminum lima gelas anggur dalam hitungan hanya dua jam, sementara Changmin menikmati White Russian-nya.

Sial, apa yang sebenarnya sudah kulakukan, aku tak tahu. Aku sudah melebihi batasku menghabiskan waktu sendirian dengan seorang pria seperti ini. Kupikir akan ada banyak pembicaraan bisnis, tetapi dalam waktu kurang dari sepuluh menit ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak akan kusangka–sangka.

"Kenapa kau single, Kyu?"

"Mungkin aku tidak single." Aku memutuskan untuk bersikap main-main, daripada mengatakan yang sebenarnya: Oh, pacarku satu-satunya berselingkuh tiga kali dan kemudian membuatku ketakutan sampai aku harus pindah ke luar kota, pada dasarnya mengusirku keluar dari kota, dan sejak itu aku belum pernah berkencan, dan ngomong-ngomong di setiap tidurku aku bertanya-tanya apakah aku akan pernah benar-benar percaya pada seorang pria lagi karena Siwon telah menyembunyikan jati dirinya yang gelap dengan begitu baik, meskipun kupikir aku mengenal jiwanya. Masih tertarik?

Dia tersenyum tipis. "Kau tidak memakai cincin di jarimu." Dia mengambil tanganku dan ibu jarinya membelai tempat kosong di mana cincin itu akan berada. "Dan kau datang ke sini tidak dengan seorang pria."

Aku mendongak dan membalas tatapannya. "Ini adalah weekend khusus wanita. Menjauh dari pacar masing-masing selama beberapa hari."

"Benar." Matanya mengungkapkan rasa gelinya. Dia bisa melihat jauh kedalam diriku.

"Dan kau ke sini dengan siapa?"

Dia memandang sekeliling bar, lalu kembali menatapku. "Kau."

Changmin menyentuhku, dan cara dia berkata "Kau," sarafku langsung kesemutan. Aku menyilangkan satu kaki ke kaki lainnya, dan tekanan di antara kedua kakiku memicu riak kegairahan. Aku belum pernah merasa begitu bergairah hanya karena duduk dengan seorang pria. Dan sekali lagi, aku belum pernah duduk berdekatan dengan pria manapun yang bisa menyaingi daya tarik seksual seorang Shim Changmin.

Ini adalah ide yang buruk. Aku perlu untuk mengubah subyek pembicaraan atau keluar dari sana. Terlibat hubungan dengan Changmin adalah sesuatu yang bisa menjadi bisnis yang buruk. Dan bahkan mungkin lebih buruk untuk membiarkan dia terus merayuku dan kemudian menolaknya. Aku tidak hanya harus melindungi diri, tapi juga harus melindungi pekerjaanku.

Dengan sopan aku mengucapkan terima kasih untuk segelas anggur dan berdiri.

"Punya kencan panas yang lain?" Tanyanya.

"Bukankah ini kencan yang panas?"

"Bisa saja."

"Senang berjumpa denganmu, Changmin. Tapi aku benar-benar harus pergi. Aku lelah setelah menempuh perjalanan berjam-jam..." Aku melangkah ke lantai kasino.

"Setidaknya biarkan aku mengantarmu kembali ke kamar."

"Baiklah," kataku.

Kami berjalan ke arah lift dan aku tidak bisa berhenti berpikir bahwa ia mungkin mencoba melakukan sesuatu. Untungnya, lift penuh sesak. Sayangnya, kami berdesak-desakan bersama-sama, dengan Changmin yang ada dibelakangku. Aku bisa merasakan kejantanannya keras di atas pantatku.

Ketika membuka pintu kamar hotel, aku berkata, "Jaejoong mungkin ada di sini. Jadi, sekali lagi terima kasih."

Dia menahan pintu tetap terbuka dan melihat ke dalam kamar dari atas kepalaku. "Dia tidak di sini. Bagaimana kalau sedikit kecupan untuk selamat malam?"

Aku menggeleng. "Maafkan aku-"

Sebelum aku bisa menyelesaikan kalimatnya, ia mencondongkan tubuh ke arahku, dengan cepat, menekan mulutnya ke arah mulutku. Lidahnya memisahkan bibirku dan meluncur ke dalam mulutku. Dia terasa samar-samar seperti minuman Kahlua. Janggut dua hari tak di cukur terasa kasar dan maskulin, perasaan yang sudah lama tidak aku dapatkan. Changmin berbau cologne mahal dan itu membuat aku ingin mengubur wajahku di lehernya dan menghirup aromanya.

Aku tahu aku tak sepantasnya seperti itu, tapi aku membiarkan dia terus menciumku. Dan membiarkan dia masuk ke kamar, dan semua pertahananku lepas sudah. Pintu tertutup di belakangnya dengan sekejap, dan dia mendorongku mundur sambil lidahnya menjelajahi mulutku.

Bagian belakang kakiku menyentuh tempat tidur dan aku hampir terjatuh. Dengan gesit lengannya menahanku, dan menurunkanku dengan lembut ke tempat tidur.

Kakiku terpisah dan gaun hitamku naik ke atas, memperlihatkan pahaku padahal malam ini aku tidak berencana memperlihatkannya kepada siapapun. Tangan Changmin melilit bagian belakang salah satu pahaku dan dia menetap di antara kedua kakiku. Melalui celanaku, dan melalui kain celananya, aku merasakan ereksinya terhadapku.

"Tunggu," kataku, menarik mulutku menjauh darinya. "Kita tidak bisa melakukan ini."

"Tidak biasa bercumbu di tempat tidurmu?" Dia menciumku lagi.

Aku meletakkan tanganku di lengannya untuk mendorongnya. Tapi begitu aku merasakan otot bisepnya, aku meremasnya. Dia mengerang. "Kau menyukainya?"

Ya, aku suka, tapi aku tak akan mengatakannya dengan lantang.

"Changmin, aku serius."

Dia berhenti menciumku, berhenti menggosokkan dirinya terhadapku. Tapi disinilah dia. "Aku juga. Aku ingin kau, Kyuhyun. Di sini. Sekarang."

Dia menundukkan kepalanya dan lidahnya dalam mulutku, menjilati lidahku.

Aku menutup mataku dan kemudian jariku membelai rambutnya. Aku bisa mendengar jantungku berdetak di telingaku dan udara yang semakin panas yang berasal dari napas Changmin yang berat yang membuat ciuman kami semakin panas. Tangannya mengelus pahaku dengan posesif, jari-jarinya membelai tepi celanaku. Ia menarik diri dari ciuman dan menunduk saat ia mengangkat ujung gaunku lebih tinggi, mengekspos kaki telanjang dan celana dalam sutra, yang kini sudah mulai basah.

"Ya Tuhan, Kyuhyun. Kau begitu seksi." Suaranya begitu rendah hingga hampir berupa getaran pada saat itu, tubuh kita begitu dekat hingga seolah-olah aku bisa menyerap suara yang dia buat.

Situasi ini benar–benar panas.

Dia mendorongku, membiarkanku merasakan betapa keras kejantanannya. Aku mengangkat pinggulku untuk bertemu dengannya. Aku menatap matanya dan melihat keinginannya. Pikiranku berenang berfantasi, membayangkan menjadi obyek yang dia inginkan.

Changmin meraba bahuku. Satu jarinya membuat tali gaunku tergelincir kebawah.

Ini dia. Ia akan membuatku telanjang. Keadaan tak akan bisa kembali lagi setelah itu. Bukan hanya karena ia tidak ingin berhenti, tapi karena aku juga tak ingin.

Ini buruk, berita buruk. Itu penuh dengan potensi untuk merusak hubungan bisnis kami. Ini bisa menghancurkan segalanya. Ini bisa menghancurkanku, secara profesional dan emosional.

Di atas semua itu, ada risiko besar tentang gaya hidup Hollywood-nya yang terbiasa dalam situasi seperti ini sepanjang waktu. Saat benih keraguan dan ketakutan yang tidak menguntungkan memasuki pikiranku, aku tak bisa membuangnya. Aku tidak ingin masuk dalam daftar wanita petualangannya.

Aku harus menghentikan, sebelum semuanya jadi terlalu jauh.

Ketika aku mendengar pintu terbuka, aku mendongak dan mataku bertemu dengan mata Changmin. Dia berkata, "Persetan," dan menarik dirinya dariku, pindah ke posisi duduk di tempat tidur.

Jaejoong muncul di kamar sebelum aku bisa merapikan diriku. Aku baru saja bangkit dari tempat tidur, gaunku masih naik sampai pinggulku. Memalukan, ya, tapi itu cara yang paling mudah keluar dari situasi ini.

Jaejoong terhenti. "Ups. Maaf. Aku akan pergi."

Changmin tidak mengatakan apa-apa.

"Tidak, tidak, tidak apa-apa," kataku, menarik kembali gaunku menutupi kakiku agar lebih terhormat.

Changmin menatapku. "Benarkah?"

Aku mengangguk dan menatap Jaejoong. "Changmin baru saja akan pergi."

Changmin berdiri.

Aku berkata, "Aku akan mengantarmu keluar."

Jaejoong melangkah ke kamar mandi. "Guys, serius, jika kalian ingin aku pergi..."

"Kau baik sekali," kataku.

Ketika kami keluar ke lorong, Changmin mendorongku ke dinding dan menciumku, lidahnya menjilat dengan nikmat melalui mulutku.

"Hampir saja," katanya.

"Ya. Syukurlah dia datang."

"Tidak, tidak bagus sama sekali. Aku tidak akan menyerah. Aku tidak akan menyerah padamu, Kyu."

Aku menyilangkan tangan di depan dada. Mungkin lebih defensif daripada yang aku butuhkan. "Ini mungkin akan menjadi ide yang baik jika kau melakukannya."

Changmin membungkuk, wajahnya hampir dua inci dari wajahku. "Apakah aku tampak seperti tipe orang yang tidak akan berusaha mendapatkan apa yang dia inginkan?" Dia menciumku lagi untuk satu menit penuh, kemudian melangkah mundur, mengamatiku dari atas kebawah, dan berkata, "Kau sempurna."

Lalu ia berjalan menyusuri lorong, tidak menengok lagi. Aku berdiri di sana dengan diam, terkejut dengan apa yang baru saja terjadi padaku selama beberapa jam terakhir.

Ketika Changmin berbelok menyusuri lorong aku bersandar ke dinding dan berkata pelan: "Begitu. Juga. Kau."

***TBC***