Fade into You
By KATE DAWES
Remake to ChangKyu Version
Previous Chap :
Dia menurunkan tubuhnya ketubuhku dan memelukku erat-erat. Aku menyukai berat tubuhnya berada di atas tubuhku, kelelahannya akibat nafsu yang kuat atas diriku.
Kami berbaring seperti itu selama beberapa saat, dan kemudian Changmin merubah posisinya sehingga aku berbaring di samping tubuhnya di sofa besar dan lebar, dengan lenganku melintang di dadanya dan kepalaku bersandar padanya, menatap kearah wajah pria yang begitu mendambakanku.
***CK***
Kami bersantai di sofa selama sekitar tiga puluh menit, memikirkan apa yang baru saja kami lakukan.
"Itu menakjubkan," kata Changmin.
"Yang terbaik."
Aku tidak berbohong. Itu memang seks terbaik yang pernah kumiliki, tidak diragukan lagi karena dia menjadi pria paling seksi yang pernah tidur denganku, dan cara dia melakukannya, mengambil kendali, menguasaiku.
Aku tak tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Aku benar-benar tidak mengharapkan apa-apa, tapi apa yang akhirnya terjadi adalah mengejutkan.
"Apakah kau siap?" Katanya.
Aku menatapnya dengan senyum di wajahku. "Itu tergantung. Aku harus membersihkan diri dari apa yang baru saja kita lakukan." aku tertawa, dan dalam beberapa detik, aku menyesalinya.
"Kau bisa istirahat di jalan. Aku akan memastikan kau akan baik-baik saja."
Apa? Dia akan mengantarku pulang. Aku tidak mau bertanya mengapa, dan merasa lebih dari kewalahan, aku mungkin tidak dalam kerangka berpikir yang benar untuk percakapan ini. Di atas semuanya, apa yang akan kulakukan? Memohon padanya untuk membiarkanku menginap?
Kami nyaris tidak bicara di dalam perjalanan kembali ke LA. Semakin lama kita berada di dalam mobil, semakin aku merasa sakit hati, dimanfaatkan, dan murahan. Aku bertanya-tanya di mana namaku akan berada di daftar nama wanita lain yang ia bawa pulang, begitu menggebu-gebu, dan kemudian dilupakan.
Ketika kami sampai ke tempatku dia berkata, "Aku akan mengantarmu sampai ke pintu."
"Tidak, kau tak perlu melakukannya. Sungguh." aku mengambil tasku dan meraih pegangan pintu.
"Kyu, tunggu sebentar." Dia meraih tanganku dan membawanya ke wajahnya. Dia mencium punggung tanganku dan berkata, "Terima kasih untuk malam yang luar biasa."
Aku berhasil mengeluarkan senyum palsu terbaikku yang ku bisa dan cepat keluar dari mobil tanpa berkata apa-apa. Aku berjalan di jalan setapak, sampai ke pintu, memasukkan kunci di lubangnya, tanpa berbalik untuk melihat dia duduk di sana didalam mobilnya. Butuh kemauan yang keras untuk melakukannya, aku tak tahu aku memilih untuk melakukan itu.
Aku melangkah masuk dan segera pergi ke kamar mandi. Aku memandang diriku di cermin dan air mata mulai mengalir.
Bagaimana aku bisa begitu bodoh? Begitu mudah tertipu? Kenapa aku membiarkan pertahananku bobol? Kenapa aku membiarkan seorang pria menggunakan dan mengontrolku seperti itu? Sial! Aku tahu aku bisa lebih baik dari itu!
Semua pikiran negatif yang dulu aku punya, setelah Siwon, datang bergemuruh kembali ke pikiranku. Aku menyalahkan diriku sendiri atas segala sesuatu yang telah terjadi malam itu, sama seperti aku menyalahkan diriku sendiri karena membiarkan diriku menjadi begitu rentan terhadap Choi Siwon.
Apa yang Siwn lakukan adalah jauh dari apa yang Changmin baru saja lakukan padaku, tapi itu semua karena aku membiarkan diriku menjadi rentan terhadap sesuatu yang selalu penuh dengan bahaya, yang membuatnya seperti tindakan yang kuat, tapi sesuatu yang aku tidak siap untuk melakukannya lagi, dan melihat apa yang terjadi.
Aku begitu emosional dan meninggalkan kamar mandi. Mungkin Jaejong masih terjaga, dan dia akan membiarkanku melampiaskan frustrasiku. Dan mungkin akan menjadi "Aku bilang juga apa" untuk kuhadapinya, tapi pada saat itu aku tak peduli. Aku hanya tidak ingin sendirian.
Ketika aku sampai ke kamarnya, aku menemukan bahwa dia tidak ada di sana.
Bagus. Aku sendirian.
Aku berpikir untuk menelpon Jungsoo, tapi sekarang sudah hampir pukul satu pagi di L.A, dan benar-benar larut malam di Ohio. Tidak mungkin aku akan meneleponnya. Mungkin itu pilihan terbaik bahwa aku tidak bisa bicara dengan kakakku sekarang.
Akibat kelelahan fisik dan emosional aku tertidur dengan cepat, terima kasih Tuhan. Aku butuh istirahat.
Apa yang aku tidak butuh adalah mimpi: Aku berdiri dengan punggung menempel ke dinding, dan dia telah menyudutkanku. Dia memunggungiku, dan yang aku bisa lihat adalah siluet tubuhnya, berdiri sekitar dua meter di depanku. Aku tak punya jalan keluar. Tubuhku bergetar dengan rasa takut. Adrenalin mengalir melalui pembuluh darahku. Aku bisa mencoba untuk berlari, tapi aku tahu dia akan menangkapku. Aku melihat siluet bahu kanannya naik dan ditarik kembali. Kemudian hal yang lebih menakutkan yang pernah kulihat, lengannya telah mengepal siap menghantam, sejajar dengan wajahku.
Aku terbangun, bersyukur bahwa itu hanya mimpi, bahwa aku belum terkena pukulan, dan kerusakan yang dilakukannya adalah saat aku berbaring di sana berendam dalam keringat dingin.
Sialan Changmin. Tidak, aku yang sialan karena membiarkan kewaspadaanku turun dan membiarkan orang lain masuk ke zona amanku.
Orang-orang mengatakan aku telah memasang dinding pembatas setelah insiden dengan Siwon. Tapi apa yang mereka tidak tahu adalah bahwa itu lebih dari dinding. Ini sebuah benteng. Ada parit di sekitarnya, dan air bawahnya diisi dengan buaya. Ada jembatan dengan kabel yang akan menyala dengan semburan api besar jika seorang pria mencoba untuk menyeberanginya.
Jadi bagaimana Shim Changmin bisa masuk ke dalam benteng pertahananku?
Aku melepaskan sprei tempat tidur yang basah, dan menanggalkan pakaianku. Aku berbaring kembali, telanjang, telanjang di tempat tidur, dan untungnya kantuk datang sekali lagi, kali ini tanpa mimpi.
Ketika aku bangun di pagi hari, masih belum ada tanda-tanda adanya Jaejoong, tapi mobilku ada di sana. Aku sudah berharap dia akan membiarkanku meluapkan semua pada dirinya.
Aku tidak melihatnya selama sisa akhir pekan. Aku mengirim sms padanya beberapa kali, tetapi tidak mendapat balasan. Aku tahu aku tidak bisa menelepon Jungsoo dan menceritakan semuanya. Dan ketika Minggu bergulir aku selalu menelepon orang tuaku - aku tidak merasa butuh bicara dengan mereka. Aku mengirim email sebagai gantinya, pura-pura flu dan sakit tenggorokan, dan meminta maaf karena tidak bisa bicara. Ayahku menulis kembali dalam waktu tiga puluh menit, menyampaikan pesan ibuku tentang resep obat untuk sakit tenggorokan. Aku merasa bersalah karena berbohong pada mereka, tapi aku tidak bisa bicara dengan mereka saat itu. Aku tidak punya pilihan.
Aku menghabiskan akhir pekan sendirian saja, menonton hal-hal yang akan dimasukkan ke dalam daftar antrian Netflixku.
Di satu sisi, aku juga takut untuk menghadapi hari Senin. Kutahu aku tidak bisa bolos bekerja, tak peduli betapa aku ingin menghindarinya, tapi terlihat seperti ada sesuatu yang salah dan akan membuat Aiden bertanya padaku tentang hal itu. Dari sisi baiknya bahwa aku memiliki sesuatu selain dari streaming film yang harus aku fokuskan, dan tidak berpikir tentang betapa bodohnya aku telah melakukan hal sejauh itu dengan Changmin.
Aiden memanggilku tak lama setelah aku membuka kantor dan mengatakan bahwa dia akan keluar sepanjang hari. Aku menarik napas lega. Aku bisa kembali dengan mudah ke pekerjaanku selama satu hari.
Aku akhirnya bisa berhubungan dengan Jaejoong kembali ketika makan siang dengan menu salad di mejaku.
"Bagaimana akhir pekanmu?" Tanyanya.
"Oke."
"Apa yang terjadi dengan Changmin?"
Pintu air telah terbuka dan aku mengatakan padanya semua ceritanya.
Ketika aku selesai dia berkata, "Dasar bajingan, Lihat, ini apa yang sudah kubilang padamu agar kau waspada."
"Aku tahu, aku tahu." Aku tidak ingin dikuliahi.
"Dan dia tidak meneleponmu sepanjang akhir pekan?"
"Tidak."
"Ah, lupakan dia," katanya. "Aku tahu kau memiliki hubungan kerja dengan dia, tapi hanya sampai di situ saja."
Aku tidak mengatakan apa-apa.
Jaejoong bertanya, "Jadi, apakah itu nikmat?"
Aku menghela napas. "Terbaik malah."
Dia tertawa kecil. "Oke, jadi kau hanya mengingat itu sebagai seks terbaik yang pernah kau rasakan dan lupakan. Hidup harus terus berlanjut di kota ini."
"Omong-omong, apa yang kau lakukan sepanjang akhir pekan lalu?"
"Oh, Tuhan. Aku bertemu dua orang pria," Dia melanjutkan untuk menceritakan kisahnya menghabiskan akhir pekan dengan dua pria, lengkap dengan rincian cabul dari threesome pertamanya.
"Apa kau bercanda?" Ujarku.
"Tidak."
"Sialan. Dan kupikir kau sedang bekerja dan aku terus berpikir bahwa aku hanya tidak ketemu denganmu atau ada sesuatu yang lain." Itu tidak benar-benar apa yang aku pikir. Bagaimana aku tidak ketemu dia diantara jam kerjanya? Aku mulai tahu bahwa Jaejoong memiliki semacam gaya hidup liar dan cukup unik. Dan aku mulai bertanya-tanya bahwa gaya hidupnya tidak berhubungan dengan bekerja di sebuah restoran dan pergi ke audisi. Tapi aku tidak mau ikut campur. Belum saatnya.
Kami tidak bicara lagi tentang hal itu sepanjang sisa minggu. Aku hanya melihatnya pada Rabu malam, dan hanya beberapa menit ketika aku berangkat ke tempat tidur saat ia sampai di rumah.
Aku menelepon orang tuaku selama beberapa menit pada hari Selasa untuk membiarkan mereka tahu bahwa kondisiku lebih baik, bekerja, dan segala sesuatu akan baik-baik saja. Jungsoo kebetulan berada di sana ketika aku menelepon dan kami bicara selama beberapa menit.
Dia merendahkan suaranya pada satu saat dan berkata, "Aku bertemu Siwon di pom bensin."
Mendengar namanya disebut aku menggigil sampai ketulang dan membawaku kembali pada gambaran dari mimpiku yang kualami akhir pekan lalu.
"Aku bahkan tak ingin tahu."
"Well," katanya, "dia ingin tahu kabarmu."
"Apa yang kau katakan padanya?"
Ada jeda. kemudian hening.
"Jungsoo? Apa yang kau katakan padanya?" Aku bertanya, nada tegas dalam kata-kataku.
"Aku mengatakan padanya bahwa kau pindah ke California."
"Uh huh. Dan?"
Aku mendengar pintu ditutup, dan kemudian terdengar seperti angin bertiup di telepon. Dia pergi keluar untuk menghindar dari jangkauan pendengaran orang tua kami.
"Maafkan aku," katanya. "Aku tahu itu bodoh. Aku hanya ingin dia tahu bahwa kau baik-baik saja, dan bahkan lebih baik, tanpa dia. Aku ingin membuatnya merasa seperti sampah."
Aku mengertakkan gigiku. "Jika ia menelpon ke sini-"
"Dia tak akan mencari tahu di mana kau bekerja. LA sangat besar, kan?"
Aku bersandar di kursiku. Aku tidak ingin berdebat tentang hal ini. "Kau seharusnya tidak mengatakan apa - apa padanya."
"Aku tahu. Maafkan aku."
"Tapi," kataku, "Aku ingin si brengsek itu tahu bahwa aku tidak hancur tanpa dia. Ini satu-satunya rasa, kemenanganku atau semacamnya, kau tahu?"
Kami melewatkan masalah itu dan dia menceritakan padaku tentang bayinya dan hal-hal lain yang terjadi di kota kecil kami. Untuk pertama kalinya, dan agak aneh, aku merasa sedikit bernostalgia. Tidak benar-benar rindu dengan rumah. Belum saatnya. Kupikir itu hanya sebuah fantasi pelarian yang mudah untuk menghadapi kenyataan bahwa aku belum benar-benar menyesuaikan dengan keramaian dan hiruk pikuk LA dan Hollywood. Hanya rindu kesederhanaan dan ketenangannya saja.
Tidak ada yang lambat atau sederhana tentang sisa akhir mingguku.
Ketika aku sampai di rumah Rabu, setelah bekerja, aku menemukan dua lusin mawar merah di depan pintu, bersama dengan kartu yang mengatakan:
Maaf Aku begitu sibuk. Memikirkanmu dan ingin bertemu lagi denganmu segera. Aku akan menelepon. - C
Pikiran pertamaku adalah rasa syukur bahwa ia tidak mengirimkannya ke kantorku.
Pikiran keduaku adalah bagaimana mengatakan padanya aku hanya tidak siap untuk sesuatu yang begitu kuat, terutama sesuatu yang penuh dengan kemungkinan begitu banyak kekecewaan.
Aku telah sampai pada kesimpulan bahwa aku tidak siap untuk berkencan. Aku juga tidak siap untuk partner seks. Dan aku benar - benar tidak - dan tidak pernah mungkin menjadi siap untuk hubungan dengan intensitas tinggi dengan orang seperti Changmin.
Hati kecilku terus mengatakan bahwa aku tidak cukup cantik, cukup kaya, atau cukup berkelas untuk seseorang seperti Changmin. Yang benar-benar menyedihkan adalah bahwa aku merasa seperti aku hanya cukup baik untuk orang seperti Choi Siwon. Dia telah membuktikan secara nyata padaku, dan sementara itu aku telah mampu melepaskan diri dari itu semuanya untuk sementara waktu dan menikmati rayuan dari Changmin, aku ditarik kembali pada keyakinan menyerah pada diri sendiri.
Sepertinya itu hal yang hampir mustahil untuk mengakui padanya, tapi ada bagian dari diriku yang tahu begitu ia mendengar bahkan hanya setengah cerita saja, dia mungkin akan pergi dalam sekejap mata.
Biarkan saja.
Dia menelepon sekitar jam 8:00 malam. Aku meletakkan beberapa pakaian di mesin cuci ketika teleponku berdering. Aku melihat ID pemanggil dan membiarkannya terekam masuk ke voicemail. Aku tidak mendengar ada peringatan voicemail, dan kemudian telepon berdering lagi.
Aku mengambil napas dalam-dalam dan menjawabnya.
Dia berkata, "Hei, sayang."
Sayang? Aku mungkin pernah menganggap kata sayang sebagaiistilah yang manis jika situasinya berbeda, dan seandainya aku tidak mengatakan pada diriku sendiri dalam hiruk-pikuk keraguan karena aku hanyalah menjadi petualangan terbarunya.
"Min,-"
"Sebelum kau mengatakan apapun, aku dalam perjalanan ke tempatmu."
"Apa?"
"Aku sekitar sepuluh menit dari tempatmu. Kupikir aku akan mampir."
"Seharusnya kau menelpon terlebih dulu," kataku.
"Aku sudah melakukannya, tapi kau tidak menjawab."
"Kau tahu apa yang ku maksud."
Persetan. Aku mungkin tidak siap untuk bicara, tapi cepat atau lambat ini pasti terjadi. Dan karena ia sedang dalam perjalanan kemari, itu tampaknya akan terjadi lebih cepat.
Changmin mengetuk pintu apartemenku, tepat sepuluh menit yang ia janjikan.
Ketika aku membukanya, entah bagaimana ia tampak lebih baik daripada dia sebelumnya. Atau mungkin itu hanya alam bawah sadarku yang mengingatkan apa yang akan aku lakukan, memberitahu pria tampan dan kaya ini bahwa ia harus menjauh dariku, karena aku tidak bisa menghadapi rasa cemburu, ketidakpercayaan, dan keraguan.
Dia mengenakan celana panjang hitam, dengan kemeja biru berkancing. Sederhana. Bersahaja. Tapi sialan, pakaiannya begitu seksi padanya. Satu tangannya di kusen pintu, yang lain di belakang punggungnya, posisinya terlihat santai.
Setelah dia menelpon, aku bergegas ke kamarku dan mengganti celana olahraga usang dan t-shirtku, kembali ke pakaian yang kukenakan untuk bekerja hari itu. Ini mungkin terlihat konyol, berusaha untuk tampil sebaik mungkin dan tidak ingin dia melihatku begitu santai, saat ini akan menjadi yang terakhir kalinya kami berdekatan satu sama lain dan santai. Mulai saat ini, semuanya hanyalah tentang bisnis. Dan itulah mengapa aku memakai pakaian profesionalku.
"Siap untuk bekerja?" Katanya dengan riang.
Aku memaksa tersenyum. "Kita perlu bicara."
Aku bergeser ke samping dan ia melangkah di ambang pintu. "Kata-kata itu tidak pernah berarti baik."
Saat ia bergerak melewatiku, Dibelakang punggungnya, Changmin membawa sebotol anggur. Bagus. Dia datang ke sini berpikir bahwa kita akan minum beberapa gelas anggur, jadi lepas kendali, dan melakukan hubungan seks.
"Kesukaanmu," katanya.
Aku menatap winenya untuk beberapa detik tapi tidak bergerak untuk mengambilnya.
"Apa yang salah, Kyu?"
Aku menatap lantai. "Mari kita duduk."
Dia mengikutiku ke dalam ruangan. Aku duduk di kursi dan Changmin mengambil tempat duduk di sofa. Ia meletakkan botol anggur di atas sebuah majalah di meja tamu. "Bahkan tidak mau duduk di sampingku?"
"Min, Maafkan aku. Aku tidak bisa melakukan ini."
"Jika itu adalah waktu yang tidak tepat-"
"Tidak." desahku, menjatuhkan kepalaku ke tanganku. Bernapaslah, Kyuhyun. Kumpulkan kekuatan dan selesaikan ini. "Aku tidak bisamelakukan ini. Kita. Apa yang kita lakukan. Maafkan aku." kata-kataku keluar seperti gerutuan yang terbata-bata.
"Apakah ini tentang malam itu?"
Aku mengangguk. "Tapi bukan tentang seksnya. Itu tentang pengusiranmu."
"Aku tidak mengusirmu pergi."
"Min, kumohon. Biarkan aku selesaikan."
"Maaf. Teruskan."
Aku menarik napas, pelan dan dalam. "Aku seharusnya tidak membiarkan hal itu terjadi sejauh itu. Ini salahku. Aku seharusnya percaya pada naluriku." Aku menatap tanganku seolah-olah memeriksa kukuku. Kemudian menatap kembali padanya. "Ada sesuatu yang kau tidak tahu tentang aku. Aku punya beberapa, masalah di masa lalu, sebut saja begitu. Hal-hal yang terjadi sebelum aku pindah ke sini. Aku belum siap untuk sebuah hubungan, atau berkencan, atau semua ini."
Changmin bersandar di sofa dan meletakkan tangan di belakang kepala. "Katakan padaku."
"Aku baru saja bilang padamu."
"Ceritakan apa yang terjadi," pintanya.
"Aku tidak mau kau masuk ke dalamnya. Rincian tidaklah penting."
Dia mencondongkan posisi duduknya dengan cepat, kemudian berjongkok dengan satu lututnya. Itu terlalu mirip seperti sebuah lamaran.
"Jangan," kataku, menggeser kembali ke kursiku.
Dia meletakkan tangannya di lututku. "Kita semua punya masalah di masa lalu, Kyu. Kau pikir aku pulang malam itu tanpa alasan?"
"Apa maksudmu?"
"Masalah di masa lalu. Aku memilikinya juga."
Aku menatapnya melalui air mata yang menggenang di mataku.
"Katakan padaku."
Dia memberiku setengah-senyum. "Aku bertanya duluan."
Aku tertawa.
"Aku akan memberitahumu," katanya. "Dan aku akan mengatakannya dulu. Aku akan berbagi denganmu jika kau berbagi denganku."
"Oke."
Dia duduk di lantai, kakinya yang panjang diselonjorkan, dan bersandar di tangannya. "Aku tidak akan berbohong, aku mempunyai banyak teman kencan. Semua urusan klise omong kosong di Hollywood. Semua itu. Kadang-kadang aku bertanya-tanya apakah ada orang di kota ini yang asli. Kurasa itu seharusnya tidak mengejutkanku bahwa semua orang di sini memainkan film mereka sendiri dikehidupan mereka. Apakah kau tahu sudah berapa lama aku tidak melakukan percakapan yang bermakna dengan seorang wanita?"
Aku menggeleng.
"Aku juga," katanya. "Aku menyerah mencoba mengingat terakhir kali aku melakukannya. Bagian terburuknya adalah semua orang mengejar sesuatu. Peran dalam film. Uang. Terlihat tampil di atas karpet merah. Tidak peduli apapun itu, jika aku memilikinya, seseorang pasti menginginkannya, dan ada banyak wanita yang akan melakukan apa saja untuk mendapatkannya. Aku telah memainkan permainan cukup lama. Ini tidak menarik lagi. Tidak ada tantangan, misteri, tidak ada asmara."
"Wow."
Dia bicara dengan penuh keyakinan seperti itu, ia hampir tampak marah tentang hal itu.
"Aku bahkan tidak melakukan apa yang aku sukai lagi," katanya.
"Membuat film? Tapi kau berada di puncak sekarang."
Ia mendongakkan kepalanya ke belakang, dan aku merasa sedikit tolol, seperti aku melewatkan sesuatu, padahal aku punya.
"Itu adalah masalah yang sama sekali berbeda untuk lain waktu. Aku seharusnya tidak mengatakannya."
"Tapi aku ingin tahu," kataku, sambil duduk di lantai di sampingnya. Ya Tuhan, aku ingin tahu. Apa yang ada di dalam pikiran dan hati pria ini?
Dia menggelengkan kepalanya. "Itu tidak penting sekarang. Yang penting adalah bahwa sekarang kau tahu mengapa aku tidak membiarkan kau terlalu dekat denganku. Apa kau melihat ini seperti yang aku lihat? Apa yang kita lakukan sangat menakjubkan. Luar biasa sebenarnya. Tapi ada sesuatu yang lebih untuk bisa memiliki seseorang tinggal di tempat tidurmu untuk menginap."
"Aku melihatnya seperti itu. Tapi-"
"Tunggu. Aku tahu apa yang akan kau katakan. Kau tidak seperti gadis yang baru saja aku gambarkan. Aku tahu itu sekarang. Sialan, aku tahu saat itu. Tapi itu hampir menjadi suatu tindakan refleks sekarang. Aku seharusnya tidak melakukan itu. Dan aku minta maaf aku menghadapimu dengan cara seperti itu."
Kami terdiam beberapa saat. Aku ingin menciumnya, tapi lebih dari itu, aku ingin dia menciumku. Dia tidak melakukannya.
"Sekarang," katanya. "Bongkar masalahmu. Kita sudah sepakat."
"Aku tahu." Aku mengambil napas. "Aku pernah punya hubungan dengan seorang pria selama tiga tahun, di Ohio. Aku menuju ke jalan yang sama seperti ibuku dan kakakku - mencari pria yang tepat, menikah, punya anak. Aku menemukan orang itu, tapi ternyata ia menemukan gadis-gadis yang lain juga."
Changmin mengerutkan dahi.
"Lebih tepat ketiga-tiganya," kataku. "Aku tahu tentang dua gadis yang pertama pada waktu yang sama. Sebelumnya aku membangun keberanian untuk berhadapan dengannya, aku menemukan tentang yang ketiga. Saat itulah aku bilang ini sudah selesai, semua sudah berakhir."
"Itu tidak berjalan dengan baik," kata Changmin, seolah-olah ia sudah tahu, tapi tidak mungkin dia bisa tahu. Dia hanya menduga-duga.
Aku menghela napas dalam-dalam. "Tidak baik sama sekali. Aku belum pernah melihat dia begitu marah. Aku tidak takut padanya, tapi aku tidak ingin melihat dia lagi. Aku berhenti pergi keluar dengan teman-temanku karena kupikir aku pasti akan bertemu dengannya. Aku pergi ke mall dan gugup bahwa ia akan berada di sana dan kami akan beradu argumen. Dia menelponku sepanjang waktu, meninggalkan pesan, SMS, cukup banyak memintaku untuk memaafkannya. Satu malam Dia datang ke rumah kami, aku tinggal di rumah - dan ayahku harus memanggil polisi untuk menyingkirkannya. Ini menjadi semakin menakutkan."
"Penguntit."
"Yep, dia pun muncul di hari pertama aku di rumah ketika orang tuaku tidak ada. Aku di meja dapur membuat resume dan membaca surat. Seperti hari–hari biasanya. Dan kemudian ia berjalan masuk ke dapur. Langsung masuk ke dapur melalui pintu yang mengarah ke halaman belakang."
Changmin duduk ke depan, lebih dekat kepadaku. "Ya Tuhan, Kyu."
Akupun sedikit tersendat bicara tentang hal itu lagi. Changmin meletakkan tangannya di kakiku dan memberikan sedikit kekuatan, menghiburku dengan meremasnya.
"Jadi," kataku, berjuang menahan air mata, "ia mengatakan ia hanya ingin bicara dan aku menyuruhnya pergi. Dia menolak. Aku berdiri dan berteriak padanya untuk pergi, mengatakan padanya aku akan menelepon polisi. Saat itulah dia bergerak sekitar meja sebelum aku bahkan bisa memproses apa yang terjadi. Dia mendorongku kedinding dan berkata - aku tidak akan pernah melupakan kata-katanya, "Aku tidak akan pernah membiarkan kau mencintai orang lain." Aku berkata, 'Aku tidak mencintaimu.' "
Alis Changmin naik. Untuk sepersekian detik, aku berpikir betapa mengejutkannya. Dia adalah seorang penulis, seorang pencerita, pembuat film sukses, terpaku oleh ceritaku.
Aku ingin menyelesaikan cerita ini. Aku benci memikirkan hal itu, apalagi bicara tentang hal itu. "Saat itulah ia mengepalkan tangannya, seperti ia akan memukul wajahku. Ya Tuhan, aku melihat kemarahan di matanya, itu menakutkan. Aku belum pernah melihat dia seperti itu sebelumnya. Aku belum pernah melihat siapa pun seperti itu."
"Apakah dia memukulmu, Kyu?"
Aku menggeleng. "Tidak. Aku hanya merosot jatuh tepat di depannya. Jatuh tepat ke lantai, menangis histeris. Aku tidak tahu apakah itu yang menghentikannya atau apa. Aku hanya terdiam di lantai dan setelah satu menit atau lebih, aku melihat sepatunya berbalik kemudian ia pergi. Hanya berjalan keluar. Tidak mengatakan apapun."
Changmin mendekat dan melingkarkan lengannya di tubuhku.
Aku berkata, "Kau adalah orang kedua yang mendengar ceritaku."
Dia menundukkan kepala ke bahuku dan menciumnya. Lalu ia mendongak, menaruh jari di bawah daguku dan memalingkan wajahku mendekati wajahnya. "Maafkan aku, Kyu."
"Ini bukan salahmu."
"Tidak, ini tentang bagaimana aku bersikap malam itu."
"Oh, well, itu salahmu." Aku tersenyum.
Untungnya, Changmin memiliki rasa humor dan menanggapi sarkasmeku dengan tenang.
Kami terdiam untuk beberapa saat dan kemudian ia memiliki ide terbaik yang aku dengar dalam waktu yang lama.
"Aku tidak akan memintamu agar aku bisa tinggal di sini, atau meminta kau pulang denganku. Aku akan pergi, dan besok aku akan menjemputmu, kita akan pergi kencan, kencan sesungguhnya, kencan pertama kita dan kita akan melakukan semuanya dengan benar. Seperti semuanya baru. Bagaimana menurutmu?"
Aku menautkan lenganku di lehernya dan menariknya mendekat. "Sempurna."
"Baik. Apakah kau baik-baik saja setelah pembicaraan itu? Tidak apa-apa kalau kau sendiri?"
Aku mengangguk. "Aku baik-baik saja."
Kami berjalan ke pintu. Meskipun itu agak sedikit aneh dengan dia meninggalkanku, setelah kami telah terbuka satu sama lain pada suatu tingkat yang sangat pribadi, itu juga mendebarkan. Rencana kencan nyata dengan Shim Changmin mengambil alih kesedihan yang kurasakan karena sudah menceritakan kisahku. Entah bagaimana, Changmin tahu hal yang tepat bagi kita untuk dilakukan selanjutnya jika kita akan bergerak maju.
Dia berhenti di depan pintu, menarikku ke dalam pelukannya dan menciumku dengan manis.
"Satu lagi," kataku. "Setelah apa yang kita lakukan di sofamu pada malam itu, aku tidak yakin semuanya akan begitu baru."
Changmin tersenyum untuk membalas ekspresi wajah menggodaku. Dalam nada paling seksi dia berkata, "Oh, kau tunggu saja." Dan dengan itu, dia membuka pintu dan pergi.
Aku tidak yakin aku ingin menunggu. Aku punya perasaan lebih dengan dia setelah percakapan kami, dan ingin menjadi lebih dekat dengannya. Aku ingin dia dalam diriku, mengisiku.
Aku butuh pengalihan, jadi aku memilih hal yang paling aku benci dan mulai mencuci. Aku membiarkannya menumpuk terlalu lama dan tugas ini menjadi alternatif terbaik dari pada duduk-duduk dan mengulang semua yang telah terjadi.
Tapi aku berharap Changmin ada di sana.
Dan sepuluh menit kemudian hatiku sedikit berdebar ketika aku mendengar ketukan di pintu. Apakah aku menghendaki dia untuk berbalik dan kembali? Apakah aku berharap melihat dia berdiri di ambang pintu, mengatakan dia ingin menginap malam ini?
Aku sampai ke pintu dan tidak bisa membukanya cukup cepat. Aku berhenti tepat sebelum membukanya, memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, tapi tidak bisa menghentikan senyum lebar di wajahku.
Aku membuka pintu dan debaran di hatiku berubah menjadi debar-debar menakutkan di telinga dan tenggorokan, tubuhku secara instan melawan dan bereaksi melihat Siwon yang berdiri di sana.
*** TBC ***
